Tampilkan postingan dengan label adab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label adab. Tampilkan semua postingan

Bulan Rajab tidak ada amalan khusus

Bismillahirrohmanirrohim. 
Lama tak mampir ke lapak saya sendiri. hem...
Kemarin baca status teman Facebook membahas atau share tentang bulan Rajab. 

Gak masalah kalau memang kurang pemahaman bulan Rajab, tapi sebaiknya kita cari bukti yang kuat sebelum share. 
Jika sebagai seorang teman, pasti inginnya memperbaiki dan meluruskan pemahaman yang salah.
Eh, pas lihat komentarnya waduh. Galak banget nih uztad. Saya gak tahu sih uztad siapa?

Tapi si uztad udah kayak kebakaran jenggot.
Teman-teman bisa lihat sendiri, tanggapannya bagaimana jika ada orang bertanya tentang status hadist yang kita share, hadistnya dhoif gak? 
eh malah dijawab dengan marah-marah.
Kan tinggal dijawab saja, cara halus. setahu saya uztad yang berpengalaman juga akan bijak dalam menanggapi ini. Eh malah disuruh ketemuan!

Mungkin biasa ya, orang komentar saling salah paham. Saya tergelitik saja bacanya, ingin share dan memberi masukkan terbaik. Agar kita hati-hati jangan gampang emosi jika ada pertanyaan baik atau menyudutkan.

Uztad kan guru, ditiru lan digugu.

Yuk, mari kita kaji sebentar

Mengkhususkan Berpuasa di Bulan Rajab

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

”Adapun mengkhususkan bulan Rajab dan Sya’ban untuk berpuasa pada seluruh harinya atau beri’tikaf pada waktu tersebut, maka tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabat mengenai hal ini. Juga hal ini tidaklah dianjurkan oleh para ulama kaum muslimin. Bahkan yang terdapat dalam hadits yang shahih (riwayat Bukhari dan Muslim) dijelaskan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam biasa banyak berpuasa di bulan Sya’ban. Dan beliau dalam setahun tidaklah pernah banyak berpuasa dalam satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban, jika hal ini dibandingkan dengan bulan Ramadhan.

Adapun melakukan puasa khusus di bulan Rajab, maka sebenarnya itu semua adalah berdasarkan hadits yang seluruhnya lemah (dho’if) bahkan maudhu’ (palsu). Para ulama tidaklah pernah menjadikan hadits-hadits ini sebagai sandaran. Bahkan hadits-hadits yang menjelaskan keutamaannya adalah hadits yang maudhu’ (palsu) dan dusta.” (Majmu’ Al Fatawa, 25/290-291)

Bahkan telah dicontohkan oleh para sahabat bahwa mereka melarang berpuasa pada seluruh hari bulan Rajab karena ditakutkan akan sama dengan puasa di bulan Ramadhan, sebagaimana hal ini pernah dicontohkan oleh ’Umar bin Khottob. Ketika bulan Rajab, ’Umar pernah memaksa seseorang untuk makan (tidak berpuasa), lalu beliau katakan,

”Janganlah engkau menyamakan puasa di bulan ini (bulan Rajab) dengan bulan Ramadhan.” (Riwayat ini dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al Fatawa, 25/290 dan beliau mengatakannya shahih. Begitu pula riwayat ini dikatakan bahwa sanadnya shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil)

Adapun perintah Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam untuk berpuasa di bulan-bulan haram yaitu bulan Rajab, Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, maka ini adalah perintah untuk berpuasa pada empat bulan tersebut dan beliau tidak mengkhususkan untuk berpuasa pada bulan Rajab saja. (Lihat Majmu’ Al Fatawa, 25/291)

Imam Ahmad mengatakan, ”Sebaiknya seseorang tidak berpuasa (pada bulan Rajab) satu atau dua hari.” Imam Asy Syafi’i mengatakan, ”Aku tidak suka jika ada orang yang menjadikan menyempurnakan puasa satu bulan penuh sebagaimana puasa di bulan Ramadhan.” Beliau berdalil dengan hadits ’Aisyah yaitu ’Aisyah tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh pada bulan-bulan lainnya sebagaimana beliau menyempurnakan berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan. (Latho-if Ma’arif, 215)

Ringkasnya, berpuasa penuh di bulan Rajab itu terlarang jika memenuhi tiga point berikut.

  1. Jika dikhususkan berpuasa penuh pada bulan tersebut, tidak seperti bulan lainnya sehingga orang-orang awam dapat menganggapnya sama seperti puasa Ramadhan.
  2. Jika dianggap bahwa puasa di bulan tersebut adalah puasa yang dikhususkan oleh Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sebagaimana sunnah rawatib (sunnah yang mengiringi amalan yang wajib).
  3. Jika dianggap bahwa puasa di bulan tersebut memiliki keutamaan pahala yang lebih dari puasa di bulan-bulan lainnya. (Lihat Al Hawadits wal Bida’, hal. 130-131. Dinukil dari Al Bida’ Al Hawliyah, 235-236
Perayaan Isro’ Mi’roj

Sebelum kita menilai apakah merayakan Isro’ Mi’roj ada tuntunan dalam agama ini ataukah tidak, perlu kita tinjau terlebih dahulu, apakah Isro’ Mi’roj betul terjadi pada bulan Rajab?

Perlu diketahui bahwa para ulama berselisih pendapat kapan terjadinya Isro’ Mi’roj. Ada ulama yang mengatakan pada bulan Rajab. Ada pula yang mengatakan pada bulan Ramadhan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, ”Tidak ada dalil yang tegas yang menyatakan terjadinya Isro’ Mi’roj pada bulan tertentu atau sepuluh hari tertentu atau ditegaskan pada tanggal tertentu. Bahkan sebenarnya para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini, tidak ada yang bisa menegaskan waktu pastinya.” (Zaadul Ma’ad, 1/54)

Ibnu Rajab mengatakan, ”Telah diriwayatkan bahwa di bulan Rajab ada kejadian-kejadian yang luar biasa. Namun sebenarnya riwayat tentang hal tersebut tidak ada satu pun yang shahih. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau dilahirkan pada awal malam bulan tersebut. Ada pula yang menyatakan bahwa beliau diutus pada 27 Rajab. Ada pula yang mengatakan bahwa itu terjadi pada 25 Rajab. Namun itu semua tidaklah shahih.”

Abu Syamah mengatakan, ”Sebagian orang menceritakan bahwa Isro’ Mi’roj terjadi di bulan Rajab. Namun para pakar Jarh wa Ta’dil (pengkritik perowi hadits) menyatakan bahwa klaim tersebut adalah suatu kedustaan.” (Al Bida’ Al Hawliyah, 274)

Setelah kita mengetahui bahwa penetapan Isro’ Mi’roj sendiri masih diperselisihkan, lalu bagaimanakah hukum merayakannya?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, ”Tidak dikenal dari seorang dari ulama kaum muslimin yang menjadikan malam Isro’ memiliki keutamaan dari malam lainnya, lebih-lebih dari malam Lailatul Qadr. Begitu pula para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik tidak pernah mengkhususkan malam Isro’ untuk perayaan-perayaan tertentu dan mereka pun tidak menyebutkannya. Oleh karena itu, tidak diketahui tanggal pasti dari malam Isro’ tersebut.” (Zaadul Ma’ad, 1/54)

Begitu pula Syaikhul Islam mengatakan,

“Adapun melaksanakan perayaan tertentu selain dari hari raya yang disyari’atkan (yaitu idul fithri dan idul adha, pen) seperti perayaan pada sebagian malam dari bulan Rabi’ul Awwal (yang disebut dengan malam Maulid Nabi), perayaan pada sebagian malam Rojab (perayaan Isro’ Mi’roj), hari ke-8 Dzulhijjah, awal Jum’at dari bulan Rojab atau perayaan hari ke-8 Syawal -yang dinamakan orang yang sok pintar (alias bodoh) dengan Idul Abror (ketupat lebaran)-; ini semua adalah bid’ah yang tidak dianjurkan oleh para salaf (sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini) dan mereka juga tidak pernah melaksanakannya.” (Majmu’ Fatawa, 25/298)

Ibnul Haaj mengatakan, ”Di antara ajaran yang tidak ada tuntunan yang diada-adakan di bulan Rajab adalah perayaan malam Isro’ Mi’roj pada tanggal 27 Rajab.” (Al Bida’ Al Hawliyah, 275)

Catatan penting:

Banyak tersebar di tengah-tengah kaum muslimin sebuah riwayat dari Anas bin Malik. Beliau mengatakan, ”Ketika tiba bulan Rajab, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam biasa mengucapkan,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَارِكْ لَنَا فِى رَمَضَانَ

”Allahumma baarik lanaa fii Rojab wa Sya’ban wa ballignaa Romadhon [Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan perjumpakanlah kami dengan bulan Ramadhan].” Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad dalam musnadnya, Ibnu Suniy dalam ’Amalul Yaum wal Lailah. Namun perlu diketahui bahwa hadits ini adalah hadits yang lemah (hadits dho’if) karena di dalamnya ada perowi yang bernama Zaidah bin Abi Ar Ruqod. Zaidah adalah munkarul hadits (banyak keliru dalam meriwayatkan hadits) sehingga hadits ini termasuk hadits dho’if. Hadits ini dikatakan dho’if (lemah) oleh Ibnu Rajab dalam Lathoif Ma’arif (218), Syaikh Al Albani dalam tahqiq Misykatul Mashobih (1369), dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam takhrij Musnad Imam Ahmad.

Demikian pembahasan kami mengenai amalan-amalan di bulan Rajab dan beberapa amalan yang keliru yang dilakukan di bulan tersebut. Semoga Allah senantiasa memberi taufik dan hidayah kepada kaum muslimin. Semoga Allah menunjuki kita ke jalan kebenaran.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Allahumma sholli ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. [Muhammad Abduh Tuasikal]

Kalau ingin lebih penasaran lagi, cari di sini http://yufid.com/ 
CARI KATA KUNCINYA, insya Allah terjawab sesuai dengan ajaran Rosul, jauh dari bid'ah.

sumber : http://buletin.muslim.or.id/fiqih/amalan-di-bulan-rajab



Mampir ke sini juga silahkan https://plus.google.com/+FelixSiauw1453/posts/YEEjzanGYqY

klik gambar lalu di zoom, akan terlihat dengan jelas. Insya Allah

Bismillahirrohmanirrohim. 
Lama tak mampir ke lapak saya sendiri. hem...
Kemarin baca status teman Facebook membahas atau share tentang bulan Rajab. 

Gak masalah kalau memang kurang pemahaman bulan Rajab, tapi sebaiknya kita cari bukti yang kuat sebelum share. 
Jika sebagai seorang teman, pasti inginnya memperbaiki dan meluruskan pemahaman yang salah.
Eh, pas lihat komentarnya waduh. Galak banget nih uztad. Saya gak tahu sih uztad siapa?

Tapi si uztad udah kayak kebakaran jenggot.
Teman-teman bisa lihat sendiri, tanggapannya bagaimana jika ada orang bertanya tentang status hadist yang kita share, hadistnya dhoif gak? 
eh malah dijawab dengan marah-marah.
Kan tinggal dijawab saja, cara halus. setahu saya uztad yang berpengalaman juga akan bijak dalam menanggapi ini. Eh malah disuruh ketemuan!

Mungkin biasa ya, orang komentar saling salah paham. Saya tergelitik saja bacanya, ingin share dan memberi masukkan terbaik. Agar kita hati-hati jangan gampang emosi jika ada pertanyaan baik atau menyudutkan.

Uztad kan guru, ditiru lan digugu.

Yuk, mari kita kaji sebentar

Mengkhususkan Berpuasa di Bulan Rajab

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

”Adapun mengkhususkan bulan Rajab dan Sya’ban untuk berpuasa pada seluruh harinya atau beri’tikaf pada waktu tersebut, maka tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabat mengenai hal ini. Juga hal ini tidaklah dianjurkan oleh para ulama kaum muslimin. Bahkan yang terdapat dalam hadits yang shahih (riwayat Bukhari dan Muslim) dijelaskan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam biasa banyak berpuasa di bulan Sya’ban. Dan beliau dalam setahun tidaklah pernah banyak berpuasa dalam satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban, jika hal ini dibandingkan dengan bulan Ramadhan.

Adapun melakukan puasa khusus di bulan Rajab, maka sebenarnya itu semua adalah berdasarkan hadits yang seluruhnya lemah (dho’if) bahkan maudhu’ (palsu). Para ulama tidaklah pernah menjadikan hadits-hadits ini sebagai sandaran. Bahkan hadits-hadits yang menjelaskan keutamaannya adalah hadits yang maudhu’ (palsu) dan dusta.” (Majmu’ Al Fatawa, 25/290-291)

Bahkan telah dicontohkan oleh para sahabat bahwa mereka melarang berpuasa pada seluruh hari bulan Rajab karena ditakutkan akan sama dengan puasa di bulan Ramadhan, sebagaimana hal ini pernah dicontohkan oleh ’Umar bin Khottob. Ketika bulan Rajab, ’Umar pernah memaksa seseorang untuk makan (tidak berpuasa), lalu beliau katakan,

”Janganlah engkau menyamakan puasa di bulan ini (bulan Rajab) dengan bulan Ramadhan.” (Riwayat ini dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al Fatawa, 25/290 dan beliau mengatakannya shahih. Begitu pula riwayat ini dikatakan bahwa sanadnya shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil)

Adapun perintah Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam untuk berpuasa di bulan-bulan haram yaitu bulan Rajab, Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, maka ini adalah perintah untuk berpuasa pada empat bulan tersebut dan beliau tidak mengkhususkan untuk berpuasa pada bulan Rajab saja. (Lihat Majmu’ Al Fatawa, 25/291)

Imam Ahmad mengatakan, ”Sebaiknya seseorang tidak berpuasa (pada bulan Rajab) satu atau dua hari.” Imam Asy Syafi’i mengatakan, ”Aku tidak suka jika ada orang yang menjadikan menyempurnakan puasa satu bulan penuh sebagaimana puasa di bulan Ramadhan.” Beliau berdalil dengan hadits ’Aisyah yaitu ’Aisyah tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh pada bulan-bulan lainnya sebagaimana beliau menyempurnakan berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan. (Latho-if Ma’arif, 215)

Ringkasnya, berpuasa penuh di bulan Rajab itu terlarang jika memenuhi tiga point berikut.

  1. Jika dikhususkan berpuasa penuh pada bulan tersebut, tidak seperti bulan lainnya sehingga orang-orang awam dapat menganggapnya sama seperti puasa Ramadhan.
  2. Jika dianggap bahwa puasa di bulan tersebut adalah puasa yang dikhususkan oleh Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sebagaimana sunnah rawatib (sunnah yang mengiringi amalan yang wajib).
  3. Jika dianggap bahwa puasa di bulan tersebut memiliki keutamaan pahala yang lebih dari puasa di bulan-bulan lainnya. (Lihat Al Hawadits wal Bida’, hal. 130-131. Dinukil dari Al Bida’ Al Hawliyah, 235-236
Perayaan Isro’ Mi’roj

Sebelum kita menilai apakah merayakan Isro’ Mi’roj ada tuntunan dalam agama ini ataukah tidak, perlu kita tinjau terlebih dahulu, apakah Isro’ Mi’roj betul terjadi pada bulan Rajab?

Perlu diketahui bahwa para ulama berselisih pendapat kapan terjadinya Isro’ Mi’roj. Ada ulama yang mengatakan pada bulan Rajab. Ada pula yang mengatakan pada bulan Ramadhan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, ”Tidak ada dalil yang tegas yang menyatakan terjadinya Isro’ Mi’roj pada bulan tertentu atau sepuluh hari tertentu atau ditegaskan pada tanggal tertentu. Bahkan sebenarnya para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini, tidak ada yang bisa menegaskan waktu pastinya.” (Zaadul Ma’ad, 1/54)

Ibnu Rajab mengatakan, ”Telah diriwayatkan bahwa di bulan Rajab ada kejadian-kejadian yang luar biasa. Namun sebenarnya riwayat tentang hal tersebut tidak ada satu pun yang shahih. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau dilahirkan pada awal malam bulan tersebut. Ada pula yang menyatakan bahwa beliau diutus pada 27 Rajab. Ada pula yang mengatakan bahwa itu terjadi pada 25 Rajab. Namun itu semua tidaklah shahih.”

Abu Syamah mengatakan, ”Sebagian orang menceritakan bahwa Isro’ Mi’roj terjadi di bulan Rajab. Namun para pakar Jarh wa Ta’dil (pengkritik perowi hadits) menyatakan bahwa klaim tersebut adalah suatu kedustaan.” (Al Bida’ Al Hawliyah, 274)

Setelah kita mengetahui bahwa penetapan Isro’ Mi’roj sendiri masih diperselisihkan, lalu bagaimanakah hukum merayakannya?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, ”Tidak dikenal dari seorang dari ulama kaum muslimin yang menjadikan malam Isro’ memiliki keutamaan dari malam lainnya, lebih-lebih dari malam Lailatul Qadr. Begitu pula para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik tidak pernah mengkhususkan malam Isro’ untuk perayaan-perayaan tertentu dan mereka pun tidak menyebutkannya. Oleh karena itu, tidak diketahui tanggal pasti dari malam Isro’ tersebut.” (Zaadul Ma’ad, 1/54)

Begitu pula Syaikhul Islam mengatakan,

“Adapun melaksanakan perayaan tertentu selain dari hari raya yang disyari’atkan (yaitu idul fithri dan idul adha, pen) seperti perayaan pada sebagian malam dari bulan Rabi’ul Awwal (yang disebut dengan malam Maulid Nabi), perayaan pada sebagian malam Rojab (perayaan Isro’ Mi’roj), hari ke-8 Dzulhijjah, awal Jum’at dari bulan Rojab atau perayaan hari ke-8 Syawal -yang dinamakan orang yang sok pintar (alias bodoh) dengan Idul Abror (ketupat lebaran)-; ini semua adalah bid’ah yang tidak dianjurkan oleh para salaf (sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini) dan mereka juga tidak pernah melaksanakannya.” (Majmu’ Fatawa, 25/298)

Ibnul Haaj mengatakan, ”Di antara ajaran yang tidak ada tuntunan yang diada-adakan di bulan Rajab adalah perayaan malam Isro’ Mi’roj pada tanggal 27 Rajab.” (Al Bida’ Al Hawliyah, 275)

Catatan penting:

Banyak tersebar di tengah-tengah kaum muslimin sebuah riwayat dari Anas bin Malik. Beliau mengatakan, ”Ketika tiba bulan Rajab, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam biasa mengucapkan,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَارِكْ لَنَا فِى رَمَضَانَ

”Allahumma baarik lanaa fii Rojab wa Sya’ban wa ballignaa Romadhon [Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan perjumpakanlah kami dengan bulan Ramadhan].” Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad dalam musnadnya, Ibnu Suniy dalam ’Amalul Yaum wal Lailah. Namun perlu diketahui bahwa hadits ini adalah hadits yang lemah (hadits dho’if) karena di dalamnya ada perowi yang bernama Zaidah bin Abi Ar Ruqod. Zaidah adalah munkarul hadits (banyak keliru dalam meriwayatkan hadits) sehingga hadits ini termasuk hadits dho’if. Hadits ini dikatakan dho’if (lemah) oleh Ibnu Rajab dalam Lathoif Ma’arif (218), Syaikh Al Albani dalam tahqiq Misykatul Mashobih (1369), dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam takhrij Musnad Imam Ahmad.

Demikian pembahasan kami mengenai amalan-amalan di bulan Rajab dan beberapa amalan yang keliru yang dilakukan di bulan tersebut. Semoga Allah senantiasa memberi taufik dan hidayah kepada kaum muslimin. Semoga Allah menunjuki kita ke jalan kebenaran.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Allahumma sholli ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. [Muhammad Abduh Tuasikal]

Kalau ingin lebih penasaran lagi, cari di sini http://yufid.com/ 
CARI KATA KUNCINYA, insya Allah terjawab sesuai dengan ajaran Rosul, jauh dari bid'ah.

sumber : http://buletin.muslim.or.id/fiqih/amalan-di-bulan-rajab



Mampir ke sini juga silahkan https://plus.google.com/+FelixSiauw1453/posts/YEEjzanGYqY

klik gambar lalu di zoom, akan terlihat dengan jelas. Insya Allah

Berkumpul, yang tak penting



Semalam, rasa sesalku benar-benar terjadi. Awalnya aku akan melintasi jalan raya, tapi entah mengapa ingin berbelok melewati rute jalanan perumahan. Padahal jalan pemukiman penduduk lebih cepat. Lurus saja lalu sampai rumah, tak perlu berkelok.

Tapi apa daya, aku sudah melaju cepat dengan sepeda miniku. Eh, tiba-tiba setelah mataku benar-benar melihat nyata di depanku ada gerombolan  bapak-bapak berdiri. Bahkan berdiri tepat di tengah, tidak mau minggir. Giliran dekat Ia baru minggir. Ku laju lagi ternyata di belakangnya ada beberapa kursi dan meja di tengah jalan. O.Oh... rem sepedaku blong, ini orang malah baru menyingkirkan saat aku hampir menabraknya.

Kesalku. Ini orang pikir jalan mbah buyutnya yah? #Tepokjidad. 

Entahlah, beberapa kali aku sesalkan sikap manusia yang sering memanfaatkan waktu malam untuk duduk santai dengan obrolan ditemani catur dan kopi. 
Para bapak-bapak ini seharusnya malah duduk dimajlis taklim atau membaca buku daripada begitu. 
EH, setiap manusia Islam memang harusnya begitu. Tapi ini justru sebaliknya.

Ngobrol-ngobrol tak penting, merusak pemandangan, membuat laju kendaraan menjadi parah. Saya harus berkoar. "AMIIT, PERMISI YA PAK" 

Begadang dengan sesuatu yang tidak bermanfaat. Padahal Nabi shallallahu alaihi wasallam membenci tidur sebelum Isya' dan bercengkerama (ngobrol) setelahnya kecuali dalam hal kebaikan. Dalam hadits riwayat Ahmad, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Tidak boleh bercengkerama kecuali bagi orang yang shalat atau bepergian." (As-Suyuthi berkata, hadits ini hasan).

Gambar : Google. 


Semalam, rasa sesalku benar-benar terjadi. Awalnya aku akan melintasi jalan raya, tapi entah mengapa ingin berbelok melewati rute jalanan perumahan. Padahal jalan pemukiman penduduk lebih cepat. Lurus saja lalu sampai rumah, tak perlu berkelok.

Tapi apa daya, aku sudah melaju cepat dengan sepeda miniku. Eh, tiba-tiba setelah mataku benar-benar melihat nyata di depanku ada gerombolan  bapak-bapak berdiri. Bahkan berdiri tepat di tengah, tidak mau minggir. Giliran dekat Ia baru minggir. Ku laju lagi ternyata di belakangnya ada beberapa kursi dan meja di tengah jalan. O.Oh... rem sepedaku blong, ini orang malah baru menyingkirkan saat aku hampir menabraknya.

Kesalku. Ini orang pikir jalan mbah buyutnya yah? #Tepokjidad. 

Entahlah, beberapa kali aku sesalkan sikap manusia yang sering memanfaatkan waktu malam untuk duduk santai dengan obrolan ditemani catur dan kopi. 
Para bapak-bapak ini seharusnya malah duduk dimajlis taklim atau membaca buku daripada begitu. 
EH, setiap manusia Islam memang harusnya begitu. Tapi ini justru sebaliknya.

Ngobrol-ngobrol tak penting, merusak pemandangan, membuat laju kendaraan menjadi parah. Saya harus berkoar. "AMIIT, PERMISI YA PAK" 

Begadang dengan sesuatu yang tidak bermanfaat. Padahal Nabi shallallahu alaihi wasallam membenci tidur sebelum Isya' dan bercengkerama (ngobrol) setelahnya kecuali dalam hal kebaikan. Dalam hadits riwayat Ahmad, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Tidak boleh bercengkerama kecuali bagi orang yang shalat atau bepergian." (As-Suyuthi berkata, hadits ini hasan).

Gambar : Google. 

Ilmu, Rezeki dan Amal

Sumber :Tumblr

Hem, aku sempat ketawa meringis, agaknya memang cerita ini cukup menarik perhatianku. 
Jadi tetanggaku seorang ibu-ibu setengah baya bercerita kepada ibuku, dia bilang kalau sedang berdo'a meminta rezeki yang banyak eh malah dikasih cicak jatuh.
(O.o)
Lagian sih, ngapain minta rezeki banyak-banyak kalau mubazir? Yak gak Plend. hehe...
Padahal kalau kita baca do'a sesudah sholat yang wajib pasti gak pengen ketinggalan sama do'a ini deh, do'a yang sering aku baca habis sholat fardu, maupun sunnah.

Sebuah doa yang berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dari salah seorang isteri Nabi Ummu Salamah radhiyallahu anha

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً.

Allohumma innii as-aluka ‘ilman naafi’aa, wa rizqon thoyyibaa, wa ‘amalan mutaqobbalaa.

“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rezki yang halal dan amal yang diterima.”

Nah, doanya aman dan pas sesuai kadar yang berlaku, cuma minta rezeki gak minta ilmu sama saja bohong, kalau pun 2 saja juga kurang harus 3. Jadi bisa menjadi amalan yang baik, mau punya rezeki gak ada ilmunya bodong kan. 

Awas, kejatuhan cicak. Eh salah-salah tokek... aduh...
Allah SWT, akan selalu mendengar do'a kita, tapi masalah dikabulkannya cepat atau lama / bahkan sama sekali tidak terkabulkan semua rencana Tuhan, yang penting kita berusaha dengan ilmu. :) Smile

ETIKA BERDOA YANG BAIK :

  1. Menghindari do`a buruk terhadap diri sendiri, anak & harta. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Jangan sekali-kali kamu mendo`akan buruk terhadap diri kamu & juga terhadap anak-anak kamu & pula terhadap harta kamu, karena khawatir do`a kamu bertepatan dgn waktu dimana Allah mengabulkan do`amu”. (Hadis Riwayat: Muslim).
  2. Merendahkan suara di saat berdo`a. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Wahai sekalian manusia, kasihanilah diri kamu, karena sesungguhnya kamu tdk berdo`a kpd yg tuli & tdk pula ghaib, sesungguhnya kamu berdo`a (memohon) kpd Yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat & Dia selalu menyertai kamu”. (Hadis Riwayat: Al-Bukhari).
  3. Berkonsentrasi di saat berdo`a. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Berdo`alah kamu kpd Allah sedangkan kamu dalam keadaan yakin dikabulkan, & ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah tdk mengabulkan do`a dari hati yg lalai”. (Hadis Riwayat: At-Turmudzi & dihasankan oleh Al-Albani).
  4. Benar-benar (meminta sangat) di dalam berdo`a & berbulat tekad di dalam memohon. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila kamu berdo`a kpd Allah, maka bersungguh-sungguhlah di dalam berdo`a, & jangan ada seorang kamu yg mengatakan :Jika Engkau menghendaki, maka berilah aku”, karena sesungguhnya Allah itu tdk ada yg dpt memaksanya”. Dan di dalam satu riwayat disebutkan: “Akan tetapi hendaknya ia bersungguh- sungguh dalam memohon & membesarkan harapan, karena sesungguhnya Allah tdk merasa berat karena sesuatu yg Dia berikan”. (Muttafaq’alaih).
  5. Tidak memaksa bersajak di dalam berdo`a. Ibnu Abbas pernah berkata kpd `Ikrimah: “Lihatlah sajak dari do`amu, lalu hindarilah ia, karena sesungguhnya aku memperhatikan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam & para shahabatnya tdk melakukan hal tersebut”.(Hadis Riwayat: Al-Bukhari)
  6. Terlebih dahulu sebelum berdo`a hendaknya memuji kpd Allah kemudian bershalawat kpd Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam pernah mendengar seorang lelaki sedang berdo`a di dalam shalatnya, namun ia tdk memuji kpd Allah & tdk bershalawat kpd Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: “Kamu telah tergesa-gesa wahai orang yg sedang shalat. Apabila anda selesai shalat, lalu kamu duduk, maka memujilah kpd Allah dgn pujian yg layak bagi-Nya, & bershalawatlah kepadaku, kemudian berdo`alah”. (Hadis Riwayat: At-Turmudzi, & dishahihkan oleh Al-Albani).
  7. Mengakui dosa-dosa, mengakui kekurangan (keteledoran diri) & merendahkan diri, khusyu’, penuh harapan & rasa takut kpd Allah di saat anda berdo`a. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yg artinya: “Sesungguhnya mereka adl orang-orang yg selalu bersegera di dalam (mengerjakan) perbuatan- perbuatan yg baik & mereka berdo`a kpd Kami dgn harap & cemas. Dan mereka adl orang-orang yg khusyu` kpd Kami”. (Al- Anbiya’: 90).
  8. Berwudhu’ sebelum berdo`a, menghadap Kiblat & mengangkat kedua tangan di saat berdo`a. Di dalam hadits Abu Musa Al-Asy`ari Radhiallaahu anhu disebutkan bahwa setelah Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam selesai melakukan perang Hunain :” Beliau minta air lalu berwudhu, kemudian mengangkat kedua tangannya; & aku melihat putih kulit ketiak beliau“. (Muttafaq’alaih).


Sumber :Tumblr

Hem, aku sempat ketawa meringis, agaknya memang cerita ini cukup menarik perhatianku. 
Jadi tetanggaku seorang ibu-ibu setengah baya bercerita kepada ibuku, dia bilang kalau sedang berdo'a meminta rezeki yang banyak eh malah dikasih cicak jatuh.
(O.o)
Lagian sih, ngapain minta rezeki banyak-banyak kalau mubazir? Yak gak Plend. hehe...
Padahal kalau kita baca do'a sesudah sholat yang wajib pasti gak pengen ketinggalan sama do'a ini deh, do'a yang sering aku baca habis sholat fardu, maupun sunnah.

Sebuah doa yang berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dari salah seorang isteri Nabi Ummu Salamah radhiyallahu anha

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً.

Allohumma innii as-aluka ‘ilman naafi’aa, wa rizqon thoyyibaa, wa ‘amalan mutaqobbalaa.

“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rezki yang halal dan amal yang diterima.”

Nah, doanya aman dan pas sesuai kadar yang berlaku, cuma minta rezeki gak minta ilmu sama saja bohong, kalau pun 2 saja juga kurang harus 3. Jadi bisa menjadi amalan yang baik, mau punya rezeki gak ada ilmunya bodong kan. 

Awas, kejatuhan cicak. Eh salah-salah tokek... aduh...
Allah SWT, akan selalu mendengar do'a kita, tapi masalah dikabulkannya cepat atau lama / bahkan sama sekali tidak terkabulkan semua rencana Tuhan, yang penting kita berusaha dengan ilmu. :) Smile

ETIKA BERDOA YANG BAIK :

  1. Menghindari do`a buruk terhadap diri sendiri, anak & harta. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Jangan sekali-kali kamu mendo`akan buruk terhadap diri kamu & juga terhadap anak-anak kamu & pula terhadap harta kamu, karena khawatir do`a kamu bertepatan dgn waktu dimana Allah mengabulkan do`amu”. (Hadis Riwayat: Muslim).
  2. Merendahkan suara di saat berdo`a. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Wahai sekalian manusia, kasihanilah diri kamu, karena sesungguhnya kamu tdk berdo`a kpd yg tuli & tdk pula ghaib, sesungguhnya kamu berdo`a (memohon) kpd Yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat & Dia selalu menyertai kamu”. (Hadis Riwayat: Al-Bukhari).
  3. Berkonsentrasi di saat berdo`a. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Berdo`alah kamu kpd Allah sedangkan kamu dalam keadaan yakin dikabulkan, & ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah tdk mengabulkan do`a dari hati yg lalai”. (Hadis Riwayat: At-Turmudzi & dihasankan oleh Al-Albani).
  4. Benar-benar (meminta sangat) di dalam berdo`a & berbulat tekad di dalam memohon. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila kamu berdo`a kpd Allah, maka bersungguh-sungguhlah di dalam berdo`a, & jangan ada seorang kamu yg mengatakan :Jika Engkau menghendaki, maka berilah aku”, karena sesungguhnya Allah itu tdk ada yg dpt memaksanya”. Dan di dalam satu riwayat disebutkan: “Akan tetapi hendaknya ia bersungguh- sungguh dalam memohon & membesarkan harapan, karena sesungguhnya Allah tdk merasa berat karena sesuatu yg Dia berikan”. (Muttafaq’alaih).
  5. Tidak memaksa bersajak di dalam berdo`a. Ibnu Abbas pernah berkata kpd `Ikrimah: “Lihatlah sajak dari do`amu, lalu hindarilah ia, karena sesungguhnya aku memperhatikan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam & para shahabatnya tdk melakukan hal tersebut”.(Hadis Riwayat: Al-Bukhari)
  6. Terlebih dahulu sebelum berdo`a hendaknya memuji kpd Allah kemudian bershalawat kpd Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam pernah mendengar seorang lelaki sedang berdo`a di dalam shalatnya, namun ia tdk memuji kpd Allah & tdk bershalawat kpd Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: “Kamu telah tergesa-gesa wahai orang yg sedang shalat. Apabila anda selesai shalat, lalu kamu duduk, maka memujilah kpd Allah dgn pujian yg layak bagi-Nya, & bershalawatlah kepadaku, kemudian berdo`alah”. (Hadis Riwayat: At-Turmudzi, & dishahihkan oleh Al-Albani).
  7. Mengakui dosa-dosa, mengakui kekurangan (keteledoran diri) & merendahkan diri, khusyu’, penuh harapan & rasa takut kpd Allah di saat anda berdo`a. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yg artinya: “Sesungguhnya mereka adl orang-orang yg selalu bersegera di dalam (mengerjakan) perbuatan- perbuatan yg baik & mereka berdo`a kpd Kami dgn harap & cemas. Dan mereka adl orang-orang yg khusyu` kpd Kami”. (Al- Anbiya’: 90).
  8. Berwudhu’ sebelum berdo`a, menghadap Kiblat & mengangkat kedua tangan di saat berdo`a. Di dalam hadits Abu Musa Al-Asy`ari Radhiallaahu anhu disebutkan bahwa setelah Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam selesai melakukan perang Hunain :” Beliau minta air lalu berwudhu, kemudian mengangkat kedua tangannya; & aku melihat putih kulit ketiak beliau“. (Muttafaq’alaih).


Si cantik & Si Buruk Rupa


Mungkin lebih dari 6 akhwat yang telah di-nazhar Aa. Tapi tak satu pun yang sesuai dengan pilihan hatinya. Padahal mayoritas dari mereka adalah akhwat yang aktif di lingkungan taklim dan pondok pesantren. Kurang apalagi? “Kurang cantik…” pengakuan polos si Aa. Kontan ia pun mendapat julukan ikhwan pilih-pilih plus tukang nazhar!

“Afwan, ukhti bisa kirimkan foto terbaru?” pinta seorang ikhwan. Pikirnya karena jarak mereka cukup jauh ia ingin melihat sekilas gambaran wajah sang akhwat. “Saya takut udah jauh-jauh ternyata enggak cocok wajah dan fisiknya….” demikianlah kilahnya.

Sang akhwat yang tak pede dengan wajah dan fisiknya pun menjawab, “Afwan juga, saya tak bisa melakukan, saya enggak suka cara antum! Akhi termasuk laki-laki yang hanya mempertimbangkan fisik!” Akhirnya sang akhwat pun memutuskan proses taarufnya karena merasa tersinggung.

KRITERIA  CANTIK

Ada dua kubu yang berbeda pendapat. Wanita biasa menyatakan bahwa cantik itu relatif. Namun tidak dengan laki-laki yang suka menyatakan cantik itu absolut. Jalan tengahnya? Cantik itu bisa secara fisik atau bisa juga dari sisi lain?

Cantik secara fisik memang sudah standar. Parameter umum adalah adanya keseimbangan, misalnya antara mata, hidung, bibir dan bentuk wajahnya. Tinggi dan berat badan juga kadang menjadi bumbu penilaian seorang wanita itu cantik atau tidak. Bintang iklan sabun mandi – nastaghfirullah, sering terlihat baik sengaja maupun tidak sengaja- adalah salah satu manisfestasi kecantikan wanita secara fisik.

Lalu bagaimana cantik dalam arti relatif? Adalah penilaian cantik berdasarkan nilai keseluruhan meliputi kepribadian atau akhlak, adab, akidah dan manhaj yang lurus. Kadang wajah sekadar bumbu untuk menambah nilai kecantikan seorang wanita. Seorang wanita yang tidak berjilbab walaupun wajahnya bak bintang iklan sabun tentu tak bernilai cantik. Namun seorang wanita yang akidah dan manhajnya lurus, akhlaknya mulia ditambah lagi wajah yang cantik adalah wanita ideal dambaan laki-laki. Masalahnya, kebanyakan wanita berwajah tidak cantik. Umumnya biasa dan sebagian diberi wajah oleh Allah kurang dari rata-rata.

FENOMENA BURUK RUPA

Semuanya adalah anugerah Allah. Setiap manusia harus bersyukur dengan pemberian-Nya. Siapa yang bersyukur pasti Allah akan tambah anugerah-Nya.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim : 7)

Seorang wanita memang tidak perlu merasa rendah diri karena wajah dan penampilannya yang kurang menarik. Jika itu di kalangan umum (masyarakat yang tak berjilbab) biasanya mereka merasa khawatir. Selain jumlah wanitanya jauh lebih banyak, para laki-lakinya pun amat mementingkan kecantikan fisik daripada akhlak. Sehingga banyak wanita yang secara fisik tidak menarik amat sulit mendapatkan jodoh.

Sedikit berbeda di kalangan yang lebih islami, karena tarbiyah islam menempatkan kecantikan agama sebagai kuncinya, faktor kekurangmenarikan pada wajah bisa ditutupi. Selain itu perbandingan jumlah wanita dan laki-laki cukup relatif. Jama’ah satu majelis taklim kadang lebih banyak ikhwannya dari akhwatnya. Sehingga bisa jadi dua orang ikhwan saling berebut seorang wanita. Sebagaimana sebuah kasus di sebuah kota di Jawa Timur, seorang laki-laki dengan gagah berani mengkhianati sebuah perjanjian dengan saudaranya demi mendapatkan wanita incarannya.

APAKAH SALAH JIKA LAKI-LAKI INGIN YANG CANTIK?

Dalam sebuah hadist dijelaskan, ada empat hal yang biasa menjadi pertimbangan seorang laki-laki untuk menetapkan pilihannya atas seorang wanita yang ingin ia nikahi. Orang Jawa mungkin biasa merangkumnya dalam istilah “bibit, bebet, bobot”. Pertimbangan keturunan atau nasab, hartanya, kecantikannya atau karena agamanya.

Sebagaimana sabda Rasulullah:

“Wanita dinikahi karena empat hal. Karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya, maka carilah agamanya (kalau tidak) engkau akan celaka.” (Hadist riwayat Bukhari dan Muslim)

Imam Nawawi di dalam syarah Muslim menjelaskan bahwa barangsiapa yang lebih memilih karena pertimbangan agama, maka akan mendapatkan kebaikan dan barakah serta terlindung dari berbagai mafsadat. Ini sebagai buah dari mulianya akhlak dan kebaikan wanita pilihannya.

Seorang laki-laki memang punya hak untuk memilih wanita dan cantik. Dan dalam satu kondisi masalah selera ini bisa menjadi bibit konflik di belakang hari karena adanya keterpaksaan dikala memilihnya. Seorang istri yang kebetulan wajahnya kurang menarik dan tak pandai berdandan guna memenuhi kesenangan suaminya, mampu menyebabkan sang suami hilang sakinahnya. Namun bagaimanapun juga harus disadari bahwa seorang wanita yang cantik wajahnya dan baik agamanya adalah hal yang amat jarang ditemui.

Pernah seorang laki-laki mengeluh kepada Rasulullah bahwa istrinya adalah seorang yang tak mampu menahan tangan laki-laki lain. Kemudian Rasulullah menyuruh untuk menceraikan saja. Namun laki-laki tadi berkata, bahwa ia masih suka dn cinta kepada istrinya. Lalu Rasulullah pun memutuskan untuk kembali kepada istrinya untuk sekadar mencari kesenangan.

Dalam kisah tersebut tersirat keterangan bahwa seorang wanita yang tidak baik agamanya bisa saja masih mampu untuk memberi manfaat dalam satu sisi dan sakinah dalam bercengkrama. Namun tidak dalam hal lain, terbukti laki-laki tadi mengadukan permasalahannya kepada Rasulullah.

Tinggal mana pilihan yang akan diambil, punya istri cantik namun kurang agamanya? Atau istri tidak cantik namun baik agamanya? Jika cantik dan juga baik agamanya tentu siapa pun akan mau! Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak akan melihat pada jasad dan penampilan kalian, akan tetapi Dia akan melihat pada hati kalian.” (Hadist riwayat Muslim)

INNER BEAUTY



Kecantikan hati merupakan cermin dari bersihnya hati dan kekotoran yang menutupi keindahannya. Agak beda dengan wajah, kecantikan hati ini bisa diupayakan melalui tips dan trik tertentu. Semakin baik melaksanakan tips dan trik itu maka hati akan terus bertambah cantik. Dan yang menarik , kecantikan ini tak akan lekang oleh zaman. Nah bagaimana kiatnya? Secara ringkas ada beberapa tips yang bis dipraktekkan.

Smart dengan Ilmu Agama

Seorang wanita akan bertambah cantik dengan kepintarannya dalam beragama. Realita menunjukkan semakin umat ini paham dengan agama maka bergeser pula pertimbangannya dalam memilih wanita idamannya. Jika dahulu karena cantik fisik maka pintar dalam agama kini juga banyak dijadikan pertimbangan. Yang jelas pintar dalam beragama harus disertai niat ikhlas dalam beribadah hanya kepada-Nya. Sebab bisa saja wanita memoles dirinya dengan kecantikan agama, namun hanya ingin sekadar mendapatkan jodoh.

Menjalankan Fardhu dan Sunnah

Ini merupakan tips utama mempercantik hati. Bahkan tips sisanya tak banyak berguna bila yang fardhu tak ditunaikan. Shalat yang 5 waktu misalnya. Boleh jadi seseorang menjalankan berbagai amal kebajikan namun bila ia meninggalkan shalat, maka amalan yang lain tak akan memperindah hati.

Tilawah Al-Quran

Tips ini sangat ampuh untk menghilangkan penyakit yang memperburuk penampilan hati. Bagaimana tidak, Allah sendiri berfirman tentang Al-Quran.

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabb-mu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit  (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)

Dzikrullah

Bibir yang terawat dengan baik akan menambah kecantikan. Bibir yang diberi resp khusus pun akan semakin mempercantik hati. Caranya adalah membasahi bibir dengan dzikir kepada Allah. Termasuk juga menghindarkan diri dari hal-hal yang menyebabkan kekotoran, seperti menggunjing, berkata kotor, dusta dan ingkar janji.

Shalat Lail

Shalat malam adalah amalan utama yang menjadi kebiasaan orang-orang shalih terdahulu. Karena perbuatan ini dicinta Allah maka hati yang indah pun bisa diraih dengannya.

Menjaga Pergaulan

Seorang wanita yang jauh dari sentuhan tangan lelaki asing tentu lebih terhormat kedudukannya. Demikian pula wanita yang terjaga lisannya dari banyak berbicara dengan kaum laki-laki yang bukan mahramnya. Wanita cantik tentu mahal kehormatannya, tak ternilai dengan dunia dan seisinya. Kemurnian kehormatan akan menambah kecantikannya.

Taubat dan Istighfar

Taubat dan istighfar ibarat pembersih wajah yang mengangkat kotoran. Debu, asap, atau daki dosa kemaksiatan yang menempel insyaallah akan segera lenyap dengan taubat yang nasuha. Kekotoran hati sebenarnya terbentuk dari dosa dan maksiat.

“Sesungguhnya jika seorang mukmin mengerjakan dosa, maka ada noda hitam di hatinya. Jika ia bertaubat, berhenti dari dosa tersebut dan beristighfar maka hatinya kembali bersih. Jika dosanya bertambah maka bertambah pula noda hitamnya hingga menutup hatinya.” (Hadist riwayat An-Nasai dan At-Tirmidzi)

Ingatkan diri untuk tidak menunda taubat. Karena hal ini akan menambah keras dan karat hati. Rasulullah, teladan kita dan orang yang paling bersih hatinya tak pernah berhenti dari bertaubat dan beristighfar kepada Allah Ta’ala.

“Wahai manusia bertaubatlah kalian kepada Allah, karena aku bertaubat dalam sehari sebanyak seratus kali.” (Hadist riwayat Muslim)

Berdoa

Allah Ta’ala yang mampu mengubah hati para hamba-Nya. Hati yang semula buruk bisa berubah indah karena perlongongan-Nya. Maka jangan lewatkan setiap kesempatan waktu-waktu mustajab untuk berdoa memohon kepada Allah Ta’ala agar dikaruniai hati yang cantik.

Jangan Remehkan Setiap Kebaikan

Kebaikan sekecil apapun adalah pembersih yang menyebabkan hati putih dan cantik.  Maka kerjakanlah kebajikan sekecil apapun walah sekadar berwajah ceria ketika bertemu dengan saudara muslimah. Sebaliknya hindari setiap kejahatan, karena sekecil apapun merupakan kotoran yang memburukkan hati. Tinggalkan kejelekan dan harapkan pahala dari Allah. InsyaAllah hati ini akan putih, cantik dan cemerlang.


Sumber tulisan Journal of the journeys

Mungkin lebih dari 6 akhwat yang telah di-nazhar Aa. Tapi tak satu pun yang sesuai dengan pilihan hatinya. Padahal mayoritas dari mereka adalah akhwat yang aktif di lingkungan taklim dan pondok pesantren. Kurang apalagi? “Kurang cantik…” pengakuan polos si Aa. Kontan ia pun mendapat julukan ikhwan pilih-pilih plus tukang nazhar!

“Afwan, ukhti bisa kirimkan foto terbaru?” pinta seorang ikhwan. Pikirnya karena jarak mereka cukup jauh ia ingin melihat sekilas gambaran wajah sang akhwat. “Saya takut udah jauh-jauh ternyata enggak cocok wajah dan fisiknya….” demikianlah kilahnya.

Sang akhwat yang tak pede dengan wajah dan fisiknya pun menjawab, “Afwan juga, saya tak bisa melakukan, saya enggak suka cara antum! Akhi termasuk laki-laki yang hanya mempertimbangkan fisik!” Akhirnya sang akhwat pun memutuskan proses taarufnya karena merasa tersinggung.

KRITERIA  CANTIK

Ada dua kubu yang berbeda pendapat. Wanita biasa menyatakan bahwa cantik itu relatif. Namun tidak dengan laki-laki yang suka menyatakan cantik itu absolut. Jalan tengahnya? Cantik itu bisa secara fisik atau bisa juga dari sisi lain?

Cantik secara fisik memang sudah standar. Parameter umum adalah adanya keseimbangan, misalnya antara mata, hidung, bibir dan bentuk wajahnya. Tinggi dan berat badan juga kadang menjadi bumbu penilaian seorang wanita itu cantik atau tidak. Bintang iklan sabun mandi – nastaghfirullah, sering terlihat baik sengaja maupun tidak sengaja- adalah salah satu manisfestasi kecantikan wanita secara fisik.

Lalu bagaimana cantik dalam arti relatif? Adalah penilaian cantik berdasarkan nilai keseluruhan meliputi kepribadian atau akhlak, adab, akidah dan manhaj yang lurus. Kadang wajah sekadar bumbu untuk menambah nilai kecantikan seorang wanita. Seorang wanita yang tidak berjilbab walaupun wajahnya bak bintang iklan sabun tentu tak bernilai cantik. Namun seorang wanita yang akidah dan manhajnya lurus, akhlaknya mulia ditambah lagi wajah yang cantik adalah wanita ideal dambaan laki-laki. Masalahnya, kebanyakan wanita berwajah tidak cantik. Umumnya biasa dan sebagian diberi wajah oleh Allah kurang dari rata-rata.

FENOMENA BURUK RUPA

Semuanya adalah anugerah Allah. Setiap manusia harus bersyukur dengan pemberian-Nya. Siapa yang bersyukur pasti Allah akan tambah anugerah-Nya.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim : 7)

Seorang wanita memang tidak perlu merasa rendah diri karena wajah dan penampilannya yang kurang menarik. Jika itu di kalangan umum (masyarakat yang tak berjilbab) biasanya mereka merasa khawatir. Selain jumlah wanitanya jauh lebih banyak, para laki-lakinya pun amat mementingkan kecantikan fisik daripada akhlak. Sehingga banyak wanita yang secara fisik tidak menarik amat sulit mendapatkan jodoh.

Sedikit berbeda di kalangan yang lebih islami, karena tarbiyah islam menempatkan kecantikan agama sebagai kuncinya, faktor kekurangmenarikan pada wajah bisa ditutupi. Selain itu perbandingan jumlah wanita dan laki-laki cukup relatif. Jama’ah satu majelis taklim kadang lebih banyak ikhwannya dari akhwatnya. Sehingga bisa jadi dua orang ikhwan saling berebut seorang wanita. Sebagaimana sebuah kasus di sebuah kota di Jawa Timur, seorang laki-laki dengan gagah berani mengkhianati sebuah perjanjian dengan saudaranya demi mendapatkan wanita incarannya.

APAKAH SALAH JIKA LAKI-LAKI INGIN YANG CANTIK?

Dalam sebuah hadist dijelaskan, ada empat hal yang biasa menjadi pertimbangan seorang laki-laki untuk menetapkan pilihannya atas seorang wanita yang ingin ia nikahi. Orang Jawa mungkin biasa merangkumnya dalam istilah “bibit, bebet, bobot”. Pertimbangan keturunan atau nasab, hartanya, kecantikannya atau karena agamanya.

Sebagaimana sabda Rasulullah:

“Wanita dinikahi karena empat hal. Karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya, maka carilah agamanya (kalau tidak) engkau akan celaka.” (Hadist riwayat Bukhari dan Muslim)

Imam Nawawi di dalam syarah Muslim menjelaskan bahwa barangsiapa yang lebih memilih karena pertimbangan agama, maka akan mendapatkan kebaikan dan barakah serta terlindung dari berbagai mafsadat. Ini sebagai buah dari mulianya akhlak dan kebaikan wanita pilihannya.

Seorang laki-laki memang punya hak untuk memilih wanita dan cantik. Dan dalam satu kondisi masalah selera ini bisa menjadi bibit konflik di belakang hari karena adanya keterpaksaan dikala memilihnya. Seorang istri yang kebetulan wajahnya kurang menarik dan tak pandai berdandan guna memenuhi kesenangan suaminya, mampu menyebabkan sang suami hilang sakinahnya. Namun bagaimanapun juga harus disadari bahwa seorang wanita yang cantik wajahnya dan baik agamanya adalah hal yang amat jarang ditemui.

Pernah seorang laki-laki mengeluh kepada Rasulullah bahwa istrinya adalah seorang yang tak mampu menahan tangan laki-laki lain. Kemudian Rasulullah menyuruh untuk menceraikan saja. Namun laki-laki tadi berkata, bahwa ia masih suka dn cinta kepada istrinya. Lalu Rasulullah pun memutuskan untuk kembali kepada istrinya untuk sekadar mencari kesenangan.

Dalam kisah tersebut tersirat keterangan bahwa seorang wanita yang tidak baik agamanya bisa saja masih mampu untuk memberi manfaat dalam satu sisi dan sakinah dalam bercengkrama. Namun tidak dalam hal lain, terbukti laki-laki tadi mengadukan permasalahannya kepada Rasulullah.

Tinggal mana pilihan yang akan diambil, punya istri cantik namun kurang agamanya? Atau istri tidak cantik namun baik agamanya? Jika cantik dan juga baik agamanya tentu siapa pun akan mau! Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak akan melihat pada jasad dan penampilan kalian, akan tetapi Dia akan melihat pada hati kalian.” (Hadist riwayat Muslim)

INNER BEAUTY



Kecantikan hati merupakan cermin dari bersihnya hati dan kekotoran yang menutupi keindahannya. Agak beda dengan wajah, kecantikan hati ini bisa diupayakan melalui tips dan trik tertentu. Semakin baik melaksanakan tips dan trik itu maka hati akan terus bertambah cantik. Dan yang menarik , kecantikan ini tak akan lekang oleh zaman. Nah bagaimana kiatnya? Secara ringkas ada beberapa tips yang bis dipraktekkan.

Smart dengan Ilmu Agama

Seorang wanita akan bertambah cantik dengan kepintarannya dalam beragama. Realita menunjukkan semakin umat ini paham dengan agama maka bergeser pula pertimbangannya dalam memilih wanita idamannya. Jika dahulu karena cantik fisik maka pintar dalam agama kini juga banyak dijadikan pertimbangan. Yang jelas pintar dalam beragama harus disertai niat ikhlas dalam beribadah hanya kepada-Nya. Sebab bisa saja wanita memoles dirinya dengan kecantikan agama, namun hanya ingin sekadar mendapatkan jodoh.

Menjalankan Fardhu dan Sunnah

Ini merupakan tips utama mempercantik hati. Bahkan tips sisanya tak banyak berguna bila yang fardhu tak ditunaikan. Shalat yang 5 waktu misalnya. Boleh jadi seseorang menjalankan berbagai amal kebajikan namun bila ia meninggalkan shalat, maka amalan yang lain tak akan memperindah hati.

Tilawah Al-Quran

Tips ini sangat ampuh untk menghilangkan penyakit yang memperburuk penampilan hati. Bagaimana tidak, Allah sendiri berfirman tentang Al-Quran.

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabb-mu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit  (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)

Dzikrullah

Bibir yang terawat dengan baik akan menambah kecantikan. Bibir yang diberi resp khusus pun akan semakin mempercantik hati. Caranya adalah membasahi bibir dengan dzikir kepada Allah. Termasuk juga menghindarkan diri dari hal-hal yang menyebabkan kekotoran, seperti menggunjing, berkata kotor, dusta dan ingkar janji.

Shalat Lail

Shalat malam adalah amalan utama yang menjadi kebiasaan orang-orang shalih terdahulu. Karena perbuatan ini dicinta Allah maka hati yang indah pun bisa diraih dengannya.

Menjaga Pergaulan

Seorang wanita yang jauh dari sentuhan tangan lelaki asing tentu lebih terhormat kedudukannya. Demikian pula wanita yang terjaga lisannya dari banyak berbicara dengan kaum laki-laki yang bukan mahramnya. Wanita cantik tentu mahal kehormatannya, tak ternilai dengan dunia dan seisinya. Kemurnian kehormatan akan menambah kecantikannya.

Taubat dan Istighfar

Taubat dan istighfar ibarat pembersih wajah yang mengangkat kotoran. Debu, asap, atau daki dosa kemaksiatan yang menempel insyaallah akan segera lenyap dengan taubat yang nasuha. Kekotoran hati sebenarnya terbentuk dari dosa dan maksiat.

“Sesungguhnya jika seorang mukmin mengerjakan dosa, maka ada noda hitam di hatinya. Jika ia bertaubat, berhenti dari dosa tersebut dan beristighfar maka hatinya kembali bersih. Jika dosanya bertambah maka bertambah pula noda hitamnya hingga menutup hatinya.” (Hadist riwayat An-Nasai dan At-Tirmidzi)

Ingatkan diri untuk tidak menunda taubat. Karena hal ini akan menambah keras dan karat hati. Rasulullah, teladan kita dan orang yang paling bersih hatinya tak pernah berhenti dari bertaubat dan beristighfar kepada Allah Ta’ala.

“Wahai manusia bertaubatlah kalian kepada Allah, karena aku bertaubat dalam sehari sebanyak seratus kali.” (Hadist riwayat Muslim)

Berdoa

Allah Ta’ala yang mampu mengubah hati para hamba-Nya. Hati yang semula buruk bisa berubah indah karena perlongongan-Nya. Maka jangan lewatkan setiap kesempatan waktu-waktu mustajab untuk berdoa memohon kepada Allah Ta’ala agar dikaruniai hati yang cantik.

Jangan Remehkan Setiap Kebaikan

Kebaikan sekecil apapun adalah pembersih yang menyebabkan hati putih dan cantik.  Maka kerjakanlah kebajikan sekecil apapun walah sekadar berwajah ceria ketika bertemu dengan saudara muslimah. Sebaliknya hindari setiap kejahatan, karena sekecil apapun merupakan kotoran yang memburukkan hati. Tinggalkan kejelekan dan harapkan pahala dari Allah. InsyaAllah hati ini akan putih, cantik dan cemerlang.


Sumber tulisan Journal of the journeys

Jaga Lisanmu

Lisan yang terjaga 
Adalah lisannya orang-orang yang bertaqwa
Sebaliknya
Lisan yang ternoda
Adalah lisannya orang yang durhaka





Durhaka kepada siapakah? 
Ah, seandainya Ilmu itu menjadi ukuran segalanya, maka akan luar biasa hidup ini. Cobalah sesekali tengok apa yang sudah kita perbuat dan orang lain perbuat untuk kita.
Entahlah, apa penyebabnya menjadi tetangga yang berjauhan namun seperti ditampar sebuah balok. Mungkinkah terjadi di saat sebuah penantian sedang terjadi. 

Aku paling tidak suka ketika ada orang lain mencampuri urusan orang lain yang sama sekali kita tidak tahu menahu apa yang terjadi bahkan sebenarnya tidak terjadi apa-apa. 
Dukaku tiba-tiba seolah sedikit mereda saat sudah berdoa untuk warga Islam di Negara asing sana terutama Mesir usai dipanjatkan. Tapi, tiba-tiba suatu musibah atau fitnah datang bertubi-tubi.
Hidup dalam kehidupan bersosialisasi begitu indah, namun jika tak bisa toleransi pun akan musnah.

“Anaknya Ibu … perawan tua, lihat saja belum pada nikah.”

Makjleb, ibu mendengar ini dari mulut tetangga sebelah yang notabennya ibu-ibu. Ibu sebelah ditegur dengan ibu yang rumahnya berbeda RT dariku. 

Wah, ibuku baru tahu dan sadar, kalau mulutnya terlalu berlebihan dalam mengambil tindakan. 
Dan hatiku merasa makjleb, seperti ada duri yang terinjak. Tapi setelah itu ku sadar seraya beristighfar. Kekuatan kita berada dalam kekuatan Allah. Siapa menghina, mencaci maki, memusuhi bahkan menghianati. Doakan saja yang baik-baik.

Aku sadar, usia aku belum genap 25 Tahun, tapi apakah pantas disebut PERAWAN TUA?
Adik aku  masih baru lulus SMA, dan paling bungsu masih 16 tahun. Bisakah disebut perawan tua?
Oh no, keusilan lisannya begitu tajam. 

Aku sadar lisan kotor itu bukan sekali dua kali menyebut nama keluargaku yang jadi bahan perbincangan. Aku adalah muslimah yang selalu saja disindir bahkan sering kali dianggap dipingitlah, menutupi aiblah karena sekarang berpakaian rapat menutup aurat. 

Paradigma penantian kembali lagi pada diriku, saat tersadari teman-teman yang dulu akrab apalagi tetanggan sudah menikah semua, apalagi semuanya mengalami kecelakaan terlebih dahulu sebelum menikah dan sudah memiliki buah hati. 
Ini bertambah kehati-hatian aku dan memilih untuk menjadi seorang muslimah yang menjaga auratnya dan perhiasannya. 

Kembali tersadar saat lebaran tiba, meski saudara sering menanyakan kapan menikah?
Jawaban senyum sederhana ku pasang dengan ikhlas. “Allah berkehendak lebih cepat nantinya, aamiinkan saja” ucapku dalam batin yang memang tak pernah marah ditanya kapan menikah.

Karena bagiku, ini urusan kehati-hatianku, aku sadar pernah menolak lamaran seorang pria bahkan jika ku ingin menikah lebih cepat kenapa tidak? Aku pernah menolak bukan karena tanpa alasan. Tapi karena Allah belum mengijinkan, aku selalu menenamkan diri untuk melakukan Sholat Istikharah untuk hal yang satu ini. Tahun kemarin atau lulus sekolah aku bisa saja mengambil keputusan untuk menikah. Tapi itu tidak mudah bagiku segera menjadi seorang isteri. Bagiku selektif adalah pilihan terbaik, bukan masalah modal atau sebuah ketakutan, melainkan ketetapan Allah belum terjadi. 


Justru semakin tuaku menjalani hari, maka semakin lebih pandai ku menjadi orang yang lebih baik dari hari kemarin. Jika tidak? Ini merugi seumur hidupku. Dan aku tak ingin menjadi wanita yang seperti Raithah digambarkan dalam Al-quran.

Dalam al-Quran, ALLAH s.w.t telah berfirman: 
       Terjemahan:
“Dan janganlah kamu menjadi seperti perempuan yang telah merombak satu persatu benda yang dipintalnya,

sesudah ia selesai memintalnya kuat teguh dengan kamu menjadikan sumpah kamu sebagai tipu daya (untuk mencabuli perjanjian yang telah dimeteraikan) sesama kamu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih ramai dari golongan lain. Sesungguhnya ALLAH hanya mahu menguji kamu dengan yang demikian itu dan Dia sudah tentu akan menerangkan kepada kamu pada hari kiamat, apa yang kamu berselisihan padanya.”
(Surah An-Nahl 16:92)


Dalam al-Quran ada disebutkan kisah Raithah. Di sini ALLAH mengingatkan kepada hamba-hamba-Nya agar tidak menggagalkan usaha sendiri, dan tidak mensia-siakan kemampuan tenaga yang dikurniakan-Nya. Kisah Raithah adalah salah satu contoh kegagalan dalam mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Dalam keadaan yang menyedihkan, kurus, lemah dan tidak bersemangat, Raithah meninggal dunia.
Lisan yang kotor berasal dari hati yang keruh, sebaliknya. 

Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Pada pagi hari, seluruh anggota tubuh anak Adam semuanya tunduk pada lisan, dan berkata: (wahai lisan), bertakwalah kamu kepada Alloh atas (keselamatan) kami. Karena keadaan kami tergantung engkau. Jika engkau istiqomah, kami akan istiqomah. Jika engkau menyimpang, kami (juga) menyimpang”.
[HR. at Tirmidzi dari Abu Said al-Khudry, al-Munawy menyatakan bahwa sanadnya shohih dalam Faydhul Qodiir)

-Ahnaf bin Qois –seorang tabi’i- menyatakan:
 “Mengucapkan kalimat yang baik lebih baik dari diam, dan diam lebih baik dari ucapan yang sia-sia dan batil. Duduk bersama orang sholih lebih baik dari menyendiri. Menyendiri lebih baik dari duduk bersama orang yang jahat"
[disebutkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitab ‘At-Tamhiid’ juz 17 hal 447]

“Kak Lais kan bukan barang dagangan yang bisa ditawarkan ke sana-kemari?” Ucapan kritis orang terdidik yang tidak suka perjodohan. TERE LIYE BIDADARI SURGA.

Ibu yang baik tahu siapa anak gadisnya, Ia tidak akan pernah meridoi anaknya dibeli bahkan ditawar dengan harga rendah. 

Yang terbaik ketika dalam masa penantian adalah istiqomah, diriku yakin setan memang selalu mengusik melalui kerikil kecil seperti orang lain yang padahal muslim.

Semoga kita mampu menjaga lisan-lisan kita, agar tak menyakiti orang-orang yang ada di sekitar kita, termasuk orang-orang yang dapat menjaga lisan-lisan ini agar tidak melukai saudara kita sendiri.

Terima kasih sudah menjadikan saya lebih kuat, meski mendengarnya sedikit menggores luka. Saya akan tetap tersenyum hangat menyapa anda yang telah berbuat lisan tak baik. Karena bagiku, hanya Allah yang wajib mengadili semua perbuatan kita. Meski begitu tetap menyerukan kebaikan.  

Wajar setiap insan merindukan pasangan dalam hidupnya, yang tidak wajar adalah orang yang selalu mengusik ketenangannya. Annur E.K

Imam Ahmad dan para penyusun kitab as-Sunan meriwayatkan sebuah hadits panjang bahwa Mu'adz bin Jabal menemui Nabi saw. dan berkata, 
"Tunjukkan kepadaku suatu perbuatan yang  akan mem¬buatku masuk surga." Rasulullah saw menjawab, "...Engkau harus menjaga ini sambil menunjuk ke arah lidahnya." Mu'adz  mengulangi lagi pertanyaan yang sama, maka Rasulullah saw. bersabda, "Celaka engkau  Mu'adz, bukan¬kah manusia itu tersungkur di dalam neraka hanya karena akibat dari ucapan  mereka. Tirmidzi berkata, "Hadits ini adalah  hadits hasan shahih. 


8 DOSA LISAN
Lisan ibarat pisau bermata dua,bisa mendatangkan kemaslahatan (kebaikan). dan kemudhratan.
Berikut diantaranya penyakit lisan yang harus dihindari:

1. Pembicaraan yang tidak Bermanfaat

2. Perdebatan dan Pertengkaran

3. Suka Melaknat

4. Bercanda yang Berlebihan

5. Mengejek dan Mencemoohkan orang lain

6. Ghibah (gosip)

7. Namimah (mengadu domba)

8. Memuji berlebihan

^_^
Lisan yang terjaga 
Adalah lisannya orang-orang yang bertaqwa
Sebaliknya
Lisan yang ternoda
Adalah lisannya orang yang durhaka





Durhaka kepada siapakah? 
Ah, seandainya Ilmu itu menjadi ukuran segalanya, maka akan luar biasa hidup ini. Cobalah sesekali tengok apa yang sudah kita perbuat dan orang lain perbuat untuk kita.
Entahlah, apa penyebabnya menjadi tetangga yang berjauhan namun seperti ditampar sebuah balok. Mungkinkah terjadi di saat sebuah penantian sedang terjadi. 

Aku paling tidak suka ketika ada orang lain mencampuri urusan orang lain yang sama sekali kita tidak tahu menahu apa yang terjadi bahkan sebenarnya tidak terjadi apa-apa. 
Dukaku tiba-tiba seolah sedikit mereda saat sudah berdoa untuk warga Islam di Negara asing sana terutama Mesir usai dipanjatkan. Tapi, tiba-tiba suatu musibah atau fitnah datang bertubi-tubi.
Hidup dalam kehidupan bersosialisasi begitu indah, namun jika tak bisa toleransi pun akan musnah.

“Anaknya Ibu … perawan tua, lihat saja belum pada nikah.”

Makjleb, ibu mendengar ini dari mulut tetangga sebelah yang notabennya ibu-ibu. Ibu sebelah ditegur dengan ibu yang rumahnya berbeda RT dariku. 

Wah, ibuku baru tahu dan sadar, kalau mulutnya terlalu berlebihan dalam mengambil tindakan. 
Dan hatiku merasa makjleb, seperti ada duri yang terinjak. Tapi setelah itu ku sadar seraya beristighfar. Kekuatan kita berada dalam kekuatan Allah. Siapa menghina, mencaci maki, memusuhi bahkan menghianati. Doakan saja yang baik-baik.

Aku sadar, usia aku belum genap 25 Tahun, tapi apakah pantas disebut PERAWAN TUA?
Adik aku  masih baru lulus SMA, dan paling bungsu masih 16 tahun. Bisakah disebut perawan tua?
Oh no, keusilan lisannya begitu tajam. 

Aku sadar lisan kotor itu bukan sekali dua kali menyebut nama keluargaku yang jadi bahan perbincangan. Aku adalah muslimah yang selalu saja disindir bahkan sering kali dianggap dipingitlah, menutupi aiblah karena sekarang berpakaian rapat menutup aurat. 

Paradigma penantian kembali lagi pada diriku, saat tersadari teman-teman yang dulu akrab apalagi tetanggan sudah menikah semua, apalagi semuanya mengalami kecelakaan terlebih dahulu sebelum menikah dan sudah memiliki buah hati. 
Ini bertambah kehati-hatian aku dan memilih untuk menjadi seorang muslimah yang menjaga auratnya dan perhiasannya. 

Kembali tersadar saat lebaran tiba, meski saudara sering menanyakan kapan menikah?
Jawaban senyum sederhana ku pasang dengan ikhlas. “Allah berkehendak lebih cepat nantinya, aamiinkan saja” ucapku dalam batin yang memang tak pernah marah ditanya kapan menikah.

Karena bagiku, ini urusan kehati-hatianku, aku sadar pernah menolak lamaran seorang pria bahkan jika ku ingin menikah lebih cepat kenapa tidak? Aku pernah menolak bukan karena tanpa alasan. Tapi karena Allah belum mengijinkan, aku selalu menenamkan diri untuk melakukan Sholat Istikharah untuk hal yang satu ini. Tahun kemarin atau lulus sekolah aku bisa saja mengambil keputusan untuk menikah. Tapi itu tidak mudah bagiku segera menjadi seorang isteri. Bagiku selektif adalah pilihan terbaik, bukan masalah modal atau sebuah ketakutan, melainkan ketetapan Allah belum terjadi. 


Justru semakin tuaku menjalani hari, maka semakin lebih pandai ku menjadi orang yang lebih baik dari hari kemarin. Jika tidak? Ini merugi seumur hidupku. Dan aku tak ingin menjadi wanita yang seperti Raithah digambarkan dalam Al-quran.

Dalam al-Quran, ALLAH s.w.t telah berfirman: 
       Terjemahan:
“Dan janganlah kamu menjadi seperti perempuan yang telah merombak satu persatu benda yang dipintalnya,

sesudah ia selesai memintalnya kuat teguh dengan kamu menjadikan sumpah kamu sebagai tipu daya (untuk mencabuli perjanjian yang telah dimeteraikan) sesama kamu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih ramai dari golongan lain. Sesungguhnya ALLAH hanya mahu menguji kamu dengan yang demikian itu dan Dia sudah tentu akan menerangkan kepada kamu pada hari kiamat, apa yang kamu berselisihan padanya.”
(Surah An-Nahl 16:92)


Dalam al-Quran ada disebutkan kisah Raithah. Di sini ALLAH mengingatkan kepada hamba-hamba-Nya agar tidak menggagalkan usaha sendiri, dan tidak mensia-siakan kemampuan tenaga yang dikurniakan-Nya. Kisah Raithah adalah salah satu contoh kegagalan dalam mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Dalam keadaan yang menyedihkan, kurus, lemah dan tidak bersemangat, Raithah meninggal dunia.
Lisan yang kotor berasal dari hati yang keruh, sebaliknya. 

Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Pada pagi hari, seluruh anggota tubuh anak Adam semuanya tunduk pada lisan, dan berkata: (wahai lisan), bertakwalah kamu kepada Alloh atas (keselamatan) kami. Karena keadaan kami tergantung engkau. Jika engkau istiqomah, kami akan istiqomah. Jika engkau menyimpang, kami (juga) menyimpang”.
[HR. at Tirmidzi dari Abu Said al-Khudry, al-Munawy menyatakan bahwa sanadnya shohih dalam Faydhul Qodiir)

-Ahnaf bin Qois –seorang tabi’i- menyatakan:
 “Mengucapkan kalimat yang baik lebih baik dari diam, dan diam lebih baik dari ucapan yang sia-sia dan batil. Duduk bersama orang sholih lebih baik dari menyendiri. Menyendiri lebih baik dari duduk bersama orang yang jahat"
[disebutkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitab ‘At-Tamhiid’ juz 17 hal 447]

“Kak Lais kan bukan barang dagangan yang bisa ditawarkan ke sana-kemari?” Ucapan kritis orang terdidik yang tidak suka perjodohan. TERE LIYE BIDADARI SURGA.

Ibu yang baik tahu siapa anak gadisnya, Ia tidak akan pernah meridoi anaknya dibeli bahkan ditawar dengan harga rendah. 

Yang terbaik ketika dalam masa penantian adalah istiqomah, diriku yakin setan memang selalu mengusik melalui kerikil kecil seperti orang lain yang padahal muslim.

Semoga kita mampu menjaga lisan-lisan kita, agar tak menyakiti orang-orang yang ada di sekitar kita, termasuk orang-orang yang dapat menjaga lisan-lisan ini agar tidak melukai saudara kita sendiri.

Terima kasih sudah menjadikan saya lebih kuat, meski mendengarnya sedikit menggores luka. Saya akan tetap tersenyum hangat menyapa anda yang telah berbuat lisan tak baik. Karena bagiku, hanya Allah yang wajib mengadili semua perbuatan kita. Meski begitu tetap menyerukan kebaikan.  

Wajar setiap insan merindukan pasangan dalam hidupnya, yang tidak wajar adalah orang yang selalu mengusik ketenangannya. Annur E.K

Imam Ahmad dan para penyusun kitab as-Sunan meriwayatkan sebuah hadits panjang bahwa Mu'adz bin Jabal menemui Nabi saw. dan berkata, 
"Tunjukkan kepadaku suatu perbuatan yang  akan mem¬buatku masuk surga." Rasulullah saw menjawab, "...Engkau harus menjaga ini sambil menunjuk ke arah lidahnya." Mu'adz  mengulangi lagi pertanyaan yang sama, maka Rasulullah saw. bersabda, "Celaka engkau  Mu'adz, bukan¬kah manusia itu tersungkur di dalam neraka hanya karena akibat dari ucapan  mereka. Tirmidzi berkata, "Hadits ini adalah  hadits hasan shahih. 


8 DOSA LISAN
Lisan ibarat pisau bermata dua,bisa mendatangkan kemaslahatan (kebaikan). dan kemudhratan.
Berikut diantaranya penyakit lisan yang harus dihindari:

1. Pembicaraan yang tidak Bermanfaat

2. Perdebatan dan Pertengkaran

3. Suka Melaknat

4. Bercanda yang Berlebihan

5. Mengejek dan Mencemoohkan orang lain

6. Ghibah (gosip)

7. Namimah (mengadu domba)

8. Memuji berlebihan

^_^

Anak-anak Negeri Yaman

Bismillahirrohmanirrohim..
 
Sumber gambar 1



Kisah nyata yang masyaAllah.

Apakah kalian pernah mengalami?

ketika masih sibuk membuka mushaf al quran di masjid tiba-tiba meluncur sebuah benda ke arah kalian. benda ini bukan sebuah peluru 7,62 mm dari senjata AK 47, bukan juga sebuah granat yang telah lepas kait pengamannya,akan tetapi sebuah sandal.

sandal milik seorang anak Yaman yang sedang bermain lempar-lemparan di masjid ketika mereka sedang ada dars.

kesal? marah? ingin membalas melempar mereka? sepertinya kalian harus mengurungkan niat itu,istighfar,sambil ngelus dada atau mereka akan menjadi jadi.

Apakah kalian pernah mengalami?

Ketika masih dikamar mandi umum, tiba-tiba mendarat sebuah gayung kaleng berisi air berasal dari kamar mandi sebelah,apesnya, air dalam gayung tumpah semua kebaju yang kalian pakai,tak lama setelah itu terdengar suara ketawa cekikikan anak-anak yaman.

kesal? marah? mau membalas melempar mereka? yang ada hanyalah ngedumel sendiri di kamar mandi atau mereka akan menjadi jadi.

Itu hanya sedikit kisah nyata yang pernah di alami ikhwah indonesia di Ma'bar Yaman, dan masih banyak kisah kenakalan dan "kebrutalan" anak-anak Yaman, mulai dari berkelahi ketika dars Syaikh sedang berlangsung hingga memanjat atap sakan yang terbuat dari seng sambil berlari-larian layaknya selebrasi mencetak gol,terbayang sudah,betapa gaduhnya suasana yang tinggal didalam sakan.

Hukuman untuk mereka sepertinya juga tidak ringan, sebuah 'asho yaitu tongkat kayu sebesar jempol orang dewasa yang selalu dipegang oleh mursyid.

'asho bisa mendarat di tangan, badan dan kaki mereka, tapi tidak pernah di bagian kepala.

itu kalau mereka tertangkap, kalau tidak, ya paling kejar2an sama mursyid. jangan salah,anak anak itu lebih gesit dan lincah. otomatis mereka lolos dengan mudahnya.

Pernah sekali aku merasakan 'asho, pas itu mursyid tidak sengaja memukul, terkena telapak kakiku, rasanya...hmmm lumayan. cukuplah bikin pincang berjalan beberapa detik. entah terbuat dari kayu apa itu.

Tapi semua itu hanyalah kenakalan anak-anak, tak lebih dari perbuatan seorang manusia yang belum baligh.

Yang tak ubahnya anak-anak pada umumnya,walaupun sudah berkelahi,jotos-jotosan,tendang-tendangan, kalo udah selesai ya selesai, tak terselip dendam dalam hatinya.

besoknya lagi kita lihat sudah saling bercanda kembali.

Memang, mendidik anak-anak yaman perlu perlakuan "spesial" dengan sedikit ayunan 'asho.

tapi jangan heran, anak-anak yaman juga di beri kelebihan spesial, ini merupakan fadhilah dari Allah Azza wa Jalla berupa kekuatan hafalan dan kecerdasan yang luar biasa,membuat kita berdecak kagum sambil berucap "Masyaa Allaah".

Akan banyak kalian temui anak-anak hafal al qur'an dalam waktu hitungan bulan saja. Asy Syaikh Al Imam sendiri menyelesaikan hafalan Al Quran dalam waktu 4 bulan saja,ada yang menyebutkan 6 bulan.

Hanya dengan sekali berdiri, mereka bisa menyetor puluhan hadits kepada syaikh ketika dars,lengkap dengan sanadnya.

Ingin mencoba mengetes hafalan ribuan syair Alfiyyah Ibnu Malik? mereka bisa membolak balik dari belakang ke depan.

mumtaz !
sumber gambar 2

Disebabkan keutamaan yang Allah berikan kepada Ahlul Yaman,Allah lembutkan qolbu mereka menerima kebenaran,di negeri dimana prinsip-prinsip ahlussunnah ditegakkan.

Dari Abu huroiroh beliau berkata : Rosulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda : penduduk negeri Yaman telah datang kepada kalian, mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya, Iman itu ada pada yaman, dan hikmah ada pada yaman.[ HR. Bukhari-Muslim]

Sedikit mengulang kembali kisah shahabat Rasulullah, Abu Hurairah Abdurrahman Ibnu Shakhar,beliau berasal dari kabilah Ad Daus di Yaman yang hanya bertemu dengan Rasulullah selama 4 tahun akan tetapi beliau yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah.

Dan satu hal yang tidak terlepas dari mereka sebagai seorang anak adalah fitrah. fitrah mereka yang terjaga dan masih bersih menjadi faktor pendukung yang kuat.

Mata mereka terjaga dari penglihatan yang mengundang syahwat.bagaimana tidak,jika disini seorang wanita keluar rumah tanpa cadar saja sudah dianggap aib, aib bagi agama dan kabilahnya.

Telinga mereka terjaga dari musik dan lagu-lagu ,yang sejatinya hanya melalaikan,walaupun bersyairkan islami.

mereka lebih memilih hape cina dengan soundnya yang keras agar bisa mereka tenteng kemana-kemana sambil mendengarkan murottal Maher, Ghomidy, atau Sudais.

Itulah fitrah…masih bersih.

Fitrah mereka tak teracuni dengan dongeng fiktif penuh kebohongan. Dongeng khayalan yang hanya membuat anak-anak berandai-andai bisa menghilang,bisa terbang,dan bisa melakukan hal-hal ajaib lainnya. juga cerita-cerita yang tidak jelas kebenarannya.

Mereka lebih tahu kisah tentang kepemimpinan Rasulullah, kisah tentang kesetiaan Shahabat Tholhah bin Ubaidillah yang rela menerima 90 tusukan dan sasaran panah demi melindungi Rosulullah pada waktu perang Uhud.

Coba tanya ke mereka siapa panglima perang termuda?mereka akan menjawab Usamah bin Zaid,yang usianya belum melebihi dua puluh tahun pada waktu itu.

juga mereka lebih suka kisah tentang kesabaran dan semangat ulama Baqi bin Makhlad yang rela menempuh perjalanan ke negeri Hijaz selama 20 tahun dengan berjalan kaki demi mencari ilmu syar'i.

Fitrah mereka tak terkotori dengan cerita horor dan menyeramkan yang sejatinya hanya membuat ketakutan yang dibuat-buat sendiri,yang hanya membuat paranoid kemudian menjelma menjadi bermacam-macam pikiran absurd.

kejadian seseorang yang kesurupan jin disini menjadi semacam tontonan asyik buat mereka,sampai sampai Mursyid harus turun tangan untuk membubarkan mereka.

setiap ada jenazah yang selesai dimandikan dan dikafani,mereka sudah menunggu diluar dan tak sabar untuk melihatnya.

mereka melewati jalan ke arah markiz ratusan meter di malam gelap gulita tanpa penerangan sama sekali tanpa ada rasa takut sedikitpun.

Begitulah,hingga akhirnya mereka tumbuh dewasa dengan fitrah yang masih bersih dengan bimbingan agama yang kuat.

kenakalan yang dulu ada menjadi sebuah kematangan jiwa dan keberanian. kebrutalan yang dulu ada menjadi kesetiaan dan kesabaran.

Seperti tidak berlebihan ketika ada seorang ikhwah indonesia yang saking jengkelnya dengan tingkah laku anak-anak berkata dengan guyon " biarin aja,kecil-kecil nakal,besarnya jadi 'Ulama itu...hehee "

Itulah FITRAH....

- Nas alullaha assalamah wal tsabaat 'ala rosyad.
25 Ramadhan 1434H, Ba'da Shubuh di ghurfah atas masjid, Ma'bar Yaman.
 
Satu lagi yang baru saya lihat cukup menakjubkan Masya Allah, melihat video ini. 
 
 


 
 
Sumber : Facebook dan Youtube.

Pelajaran Berharga lagi bagi kita, para penerus generasi terbaik aamiin. 
 
Annur El Karimah
Bismillahirrohmanirrohim..
 
Sumber gambar 1



Kisah nyata yang masyaAllah.

Apakah kalian pernah mengalami?

ketika masih sibuk membuka mushaf al quran di masjid tiba-tiba meluncur sebuah benda ke arah kalian. benda ini bukan sebuah peluru 7,62 mm dari senjata AK 47, bukan juga sebuah granat yang telah lepas kait pengamannya,akan tetapi sebuah sandal.

sandal milik seorang anak Yaman yang sedang bermain lempar-lemparan di masjid ketika mereka sedang ada dars.

kesal? marah? ingin membalas melempar mereka? sepertinya kalian harus mengurungkan niat itu,istighfar,sambil ngelus dada atau mereka akan menjadi jadi.

Apakah kalian pernah mengalami?

Ketika masih dikamar mandi umum, tiba-tiba mendarat sebuah gayung kaleng berisi air berasal dari kamar mandi sebelah,apesnya, air dalam gayung tumpah semua kebaju yang kalian pakai,tak lama setelah itu terdengar suara ketawa cekikikan anak-anak yaman.

kesal? marah? mau membalas melempar mereka? yang ada hanyalah ngedumel sendiri di kamar mandi atau mereka akan menjadi jadi.

Itu hanya sedikit kisah nyata yang pernah di alami ikhwah indonesia di Ma'bar Yaman, dan masih banyak kisah kenakalan dan "kebrutalan" anak-anak Yaman, mulai dari berkelahi ketika dars Syaikh sedang berlangsung hingga memanjat atap sakan yang terbuat dari seng sambil berlari-larian layaknya selebrasi mencetak gol,terbayang sudah,betapa gaduhnya suasana yang tinggal didalam sakan.

Hukuman untuk mereka sepertinya juga tidak ringan, sebuah 'asho yaitu tongkat kayu sebesar jempol orang dewasa yang selalu dipegang oleh mursyid.

'asho bisa mendarat di tangan, badan dan kaki mereka, tapi tidak pernah di bagian kepala.

itu kalau mereka tertangkap, kalau tidak, ya paling kejar2an sama mursyid. jangan salah,anak anak itu lebih gesit dan lincah. otomatis mereka lolos dengan mudahnya.

Pernah sekali aku merasakan 'asho, pas itu mursyid tidak sengaja memukul, terkena telapak kakiku, rasanya...hmmm lumayan. cukuplah bikin pincang berjalan beberapa detik. entah terbuat dari kayu apa itu.

Tapi semua itu hanyalah kenakalan anak-anak, tak lebih dari perbuatan seorang manusia yang belum baligh.

Yang tak ubahnya anak-anak pada umumnya,walaupun sudah berkelahi,jotos-jotosan,tendang-tendangan, kalo udah selesai ya selesai, tak terselip dendam dalam hatinya.

besoknya lagi kita lihat sudah saling bercanda kembali.

Memang, mendidik anak-anak yaman perlu perlakuan "spesial" dengan sedikit ayunan 'asho.

tapi jangan heran, anak-anak yaman juga di beri kelebihan spesial, ini merupakan fadhilah dari Allah Azza wa Jalla berupa kekuatan hafalan dan kecerdasan yang luar biasa,membuat kita berdecak kagum sambil berucap "Masyaa Allaah".

Akan banyak kalian temui anak-anak hafal al qur'an dalam waktu hitungan bulan saja. Asy Syaikh Al Imam sendiri menyelesaikan hafalan Al Quran dalam waktu 4 bulan saja,ada yang menyebutkan 6 bulan.

Hanya dengan sekali berdiri, mereka bisa menyetor puluhan hadits kepada syaikh ketika dars,lengkap dengan sanadnya.

Ingin mencoba mengetes hafalan ribuan syair Alfiyyah Ibnu Malik? mereka bisa membolak balik dari belakang ke depan.

mumtaz !
sumber gambar 2

Disebabkan keutamaan yang Allah berikan kepada Ahlul Yaman,Allah lembutkan qolbu mereka menerima kebenaran,di negeri dimana prinsip-prinsip ahlussunnah ditegakkan.

Dari Abu huroiroh beliau berkata : Rosulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda : penduduk negeri Yaman telah datang kepada kalian, mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya, Iman itu ada pada yaman, dan hikmah ada pada yaman.[ HR. Bukhari-Muslim]

Sedikit mengulang kembali kisah shahabat Rasulullah, Abu Hurairah Abdurrahman Ibnu Shakhar,beliau berasal dari kabilah Ad Daus di Yaman yang hanya bertemu dengan Rasulullah selama 4 tahun akan tetapi beliau yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah.

Dan satu hal yang tidak terlepas dari mereka sebagai seorang anak adalah fitrah. fitrah mereka yang terjaga dan masih bersih menjadi faktor pendukung yang kuat.

Mata mereka terjaga dari penglihatan yang mengundang syahwat.bagaimana tidak,jika disini seorang wanita keluar rumah tanpa cadar saja sudah dianggap aib, aib bagi agama dan kabilahnya.

Telinga mereka terjaga dari musik dan lagu-lagu ,yang sejatinya hanya melalaikan,walaupun bersyairkan islami.

mereka lebih memilih hape cina dengan soundnya yang keras agar bisa mereka tenteng kemana-kemana sambil mendengarkan murottal Maher, Ghomidy, atau Sudais.

Itulah fitrah…masih bersih.

Fitrah mereka tak teracuni dengan dongeng fiktif penuh kebohongan. Dongeng khayalan yang hanya membuat anak-anak berandai-andai bisa menghilang,bisa terbang,dan bisa melakukan hal-hal ajaib lainnya. juga cerita-cerita yang tidak jelas kebenarannya.

Mereka lebih tahu kisah tentang kepemimpinan Rasulullah, kisah tentang kesetiaan Shahabat Tholhah bin Ubaidillah yang rela menerima 90 tusukan dan sasaran panah demi melindungi Rosulullah pada waktu perang Uhud.

Coba tanya ke mereka siapa panglima perang termuda?mereka akan menjawab Usamah bin Zaid,yang usianya belum melebihi dua puluh tahun pada waktu itu.

juga mereka lebih suka kisah tentang kesabaran dan semangat ulama Baqi bin Makhlad yang rela menempuh perjalanan ke negeri Hijaz selama 20 tahun dengan berjalan kaki demi mencari ilmu syar'i.

Fitrah mereka tak terkotori dengan cerita horor dan menyeramkan yang sejatinya hanya membuat ketakutan yang dibuat-buat sendiri,yang hanya membuat paranoid kemudian menjelma menjadi bermacam-macam pikiran absurd.

kejadian seseorang yang kesurupan jin disini menjadi semacam tontonan asyik buat mereka,sampai sampai Mursyid harus turun tangan untuk membubarkan mereka.

setiap ada jenazah yang selesai dimandikan dan dikafani,mereka sudah menunggu diluar dan tak sabar untuk melihatnya.

mereka melewati jalan ke arah markiz ratusan meter di malam gelap gulita tanpa penerangan sama sekali tanpa ada rasa takut sedikitpun.

Begitulah,hingga akhirnya mereka tumbuh dewasa dengan fitrah yang masih bersih dengan bimbingan agama yang kuat.

kenakalan yang dulu ada menjadi sebuah kematangan jiwa dan keberanian. kebrutalan yang dulu ada menjadi kesetiaan dan kesabaran.

Seperti tidak berlebihan ketika ada seorang ikhwah indonesia yang saking jengkelnya dengan tingkah laku anak-anak berkata dengan guyon " biarin aja,kecil-kecil nakal,besarnya jadi 'Ulama itu...hehee "

Itulah FITRAH....

- Nas alullaha assalamah wal tsabaat 'ala rosyad.
25 Ramadhan 1434H, Ba'da Shubuh di ghurfah atas masjid, Ma'bar Yaman.
 
Satu lagi yang baru saya lihat cukup menakjubkan Masya Allah, melihat video ini. 
 
 


 
 
Sumber : Facebook dan Youtube.

Pelajaran Berharga lagi bagi kita, para penerus generasi terbaik aamiin. 
 
Annur El Karimah

Merasa Nyaman

Terkadang aku lebih suka dan cocok bermain dengan orang yang lebih dewasa. Sebabnya dia bisa memberikanku pengarahan terbaik, bahkan saat2 silaturahim. Ah, senyumanku tak bisa menghilang begitu saja. Bahkan ketika kita harus berpisah untuk melanjutkan waktu-waktu yang sudah menunggu di sana. Berat sekali.
Ada harapan, senyuman yang indah dan sebuah kelegaan tersendiri. Nilai plusnya dia lebih banyak ilmu agamanya. Masya Allah.

Syukron atas nasehat yang memang harus terjalin  meski cuma sebulan sekali ketemunya, meski tak ada satu jam lamanya.






Terkadang aku lebih suka dan cocok bermain dengan orang yang lebih dewasa. Sebabnya dia bisa memberikanku pengarahan terbaik, bahkan saat2 silaturahim. Ah, senyumanku tak bisa menghilang begitu saja. Bahkan ketika kita harus berpisah untuk melanjutkan waktu-waktu yang sudah menunggu di sana. Berat sekali.
Ada harapan, senyuman yang indah dan sebuah kelegaan tersendiri. Nilai plusnya dia lebih banyak ilmu agamanya. Masya Allah.

Syukron atas nasehat yang memang harus terjalin  meski cuma sebulan sekali ketemunya, meski tak ada satu jam lamanya.






Ketika Berhijab Dimaknai "Cantik Religius"


Ketika Berhijab Dimaknai "Cantik Religius"

For some muslim women, life is never that simple. 
Ya, semua terasa (atau sengaja dibikin) complicated. Rumit! 
Saya ingat duluuuuu… jaman belum pakai Kerudung versi pribadi sebelum mengenakan Kerudung, dibujuk oleh teman-teman dengan banyak alasan. Salah satunya dari sisi praktis, rambut tidak perlu didandani habis ketika hendak keluar rumah, ke pesta khususnya. Tidak seperti kebanyakan wanita yang tidak mengenakan kerudung, kalau ke pesta semprotan hair spray bisa sampai ke mana-mana, belum jepitan di sana-sini, bahkan terkadang harus duduk bersabar didandani penata rambut di salon selama beberapa jam. Dengan kerudung, kita tidak butuh semua itu.

Itu ke pesta. Untuk kebutuhan harian, termasuk bersekolah atau bekerja, rambut pun ditata dengan hati-hati. Kan katanya rambut adalah mahkota wanita.

Itu dulu… Sekarang…?

Bahkan memakai Kerudung pun hampir sama rumitnya dengan menyanggul rambut. Butuh tutorial! Butuh sekian peniti dan jarum pentul beserta berbagai variasi aksesoris menarik! Kalau dulu sebagian besar wanita mendandani rambutnya dan mengenakan aksesoris untuk acara khusus, sekarang kepala wanita didandani dengan kerudung trendi berbagai model untuk berbagai kesempatan. Walhasil, sebelum dan sesudah berkerudung tabarruj alias berhias jalan terus. kerudung yang semestinya sangat praktis pun menjadi rumit dengan berbagai jepitan. Memang benar, bagi sebagian kaum perempuan, hidup tidak pernah sesederhana itu.

Saya teringat pernah berdiskusi dengan seorang kawan yang lama tidak pulang ke tanah air. Dia bilang, “Tetanggaku orang Pakistan bilang, ‘Indonesian is too advance muslim’.” Katanya, muslim Indonesia itu sangat (atau tepatnya terlalu) maju. 
Dari yang tidak ada diada-adakan. Sepanjang sesuatu itu diberi label ‘Islami’, maka sesuatu itu dianggap benar menurut ajaran Islam normatif. Ya… patut diakui sebagian muslim Indonesia memang sangat kreatif dan inovatif, hingga sesuatu yang sudah baku, dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menjadi sesuatu yang sama sekali baru, atau berbeda jauh dari aslinya. Seperti kerudung yang kini masuk ke dalam industri mode. Hingga kata-kata dijalin, dililit, diputar, disematkan atau yang semisalnya, bisa anda dapatkan di antara tutotial hijab yang bertebaran di internet.

Setan memang selalu punya cara. Ketika dia tidak mampu membendung semangat wanita muslimah untuk mengenakan jilbab, dihembuskannya ide ‘tampil cantik dengan berkerudung . ‘Pakai kerudung juga harus tetap terlihat modis dan menarik…’, atau ‘ Apa salahnya? Toh Rambut tetap tertutup…’, dan sekian bisikan lainnya. Akibatnya jilbab/hijab kehilangan esensinya. Alih-alih dari perintah berhijab agar wanita tidak menampakkan perhiasannya, kerudung malah menjadi perhiasan bagi wanita zaman sekarang, untuk memberi kesan ‘cantik religious’.

Tidak ada yang salah dengan semangat wanita muslimah mengenakan jilbab sekarang ini. Keasadaran akan kewajiban menutup aurat merupakan sesuatu yang harus disyukuri. Yang perlu diluruskan ada kekeliruan pehaman akan kerudung itu sendiri. Jilbab adalah pakaian takwa, tidak dapat dinilai dengan timbangan mode dan trend. kerudung bukan sekedar kain yang ditutupkan di kepala dan membalut seluruh tubuh. kerudung tidak dimaksudkan untuk menimbulkan kesan ‘cantik yang religius’. Maaf, bukan seperti itu. Mengenakan kerudung syar’i tidak membutuhkan tutorial rumit dengan kata-kata dililit, dijalin, disematkan dan seterusnya. Yang kita butuhkan adalah pengetahuan mengenai syarat-syarat kerudung syar’i, yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Maka dari itu perlu diketahui pengertian kerudung itu sendiri

Kerudung/Khimar: KAin yang menutupi kepala wanita dan diulirkan kainnya tutupi dada.

Jilbab/Jubah/Abaya/GAmis: Baju Luar yang longgar dan lapang yang tutupi seluruh tubuh.

Syaikh al-Albani rahimahullah, salah seorang ahli hadits abad ini, berdasarkan hasil penelitiannya terhadap nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah menulis dalam bukunya – Jilbab Wanita Muslimah menurut al-Qur’an dan As-Sunnah – syarat-syarat jilbab syar’i itu sebagai berikut:

*Menutupi seluruh tubuh, selain bagian yang dikecualikan,

*Bukan untuk berhias,

*Tebal, tidak tipis,

*Longgar, tidak ketat,

*Tidak diberi wangi-wangian,

*Tidak menyerupai pakaian laki-laki,

*Tidak menyerupai wanita kafir,

* Bukan pakaian untuk kemasyhuran

Setiap poin diatas dijelaskan berdasarkan dalil-dalil yang sah, dan tidak ada tempat bagi jilbab-Kerudung berhias sebagaimana yang umum dipakai sebagian wanita muslimah saat ini. Ketika membahas mengenai poin kedua di atas, Syaikh Albani rahimahullah menukilkan ayat berikut:

“Janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka…”
(QS an-Nur : 31)


Perhiasan yang dimaksud ada 3 :
1. Pakaian berlebihan, 
2. Penggunaan emas dll, 
3. Perhiasan untuk muka, kuku dan badan berlebihan. 

…dan beberapa dalil lainnya. Beliau menjelaskan bahwa secara umum ayat di atas mengandung larangan menghiasi pakaian yang dipakainya sehingga menarik perhatian laki-laki. Lebih lanjut beliau berkata bahwa perintah mengenakan jilbab adalah perintah untuk menutup perhiasan wanita. Dengan demikian tidaklah masuk akal bila jilbab yang berfungsi untuk menutup perhiasan wanita itu malah menjadi pakaian untuk berhias.

Saudariku, mari berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri. Apa arti jilbab buat kita dan untuk apa kita mengenakannya? Cukuplah jawaban itu pada diri masing-masing. Sungguh, keputusan untuk merubah penampilan secara total bukan seusatu yang mudah. Terlebih lagi jika lingkungan di sekitar kita tidak mendukung hal itu. Akan tetapi Allah akan memberikan pertolongan bagi orang yang bersungguh-sungguh untuk melaksanakan ketaatan. Segala puji bagi Allah yang telah mendatangkan hidayah berupa kesadaran pada diri kita untuk mengenakan jilbab sebagai wujud ketaatan terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya. Semoga Allah menambahkan hidayah-Nya bagi kita dan memudahkan kita menguatkan tekad untuk melaksanakan perintah berhijab, dengan hijab yang sempurna.

Wallahua'lam


Sumber: 
Tumblr dengan disunting beberapa kalimatnya oleh JIC dan ditambahkan beberapa kata oleh Annur.

Salam semangat Ramadhan, mari menuju jalan cahaya yang bermandikan surga. 
Agar setelah ramadhan pergi kita menjadi pribadi yang lebih baik. Tak akan terlaksana tanpa usaha dan tekad yang kuat. Biidznillah.

Annur El Karimah



Ketika Berhijab Dimaknai "Cantik Religius"

For some muslim women, life is never that simple. 
Ya, semua terasa (atau sengaja dibikin) complicated. Rumit! 
Saya ingat duluuuuu… jaman belum pakai Kerudung versi pribadi sebelum mengenakan Kerudung, dibujuk oleh teman-teman dengan banyak alasan. Salah satunya dari sisi praktis, rambut tidak perlu didandani habis ketika hendak keluar rumah, ke pesta khususnya. Tidak seperti kebanyakan wanita yang tidak mengenakan kerudung, kalau ke pesta semprotan hair spray bisa sampai ke mana-mana, belum jepitan di sana-sini, bahkan terkadang harus duduk bersabar didandani penata rambut di salon selama beberapa jam. Dengan kerudung, kita tidak butuh semua itu.

Itu ke pesta. Untuk kebutuhan harian, termasuk bersekolah atau bekerja, rambut pun ditata dengan hati-hati. Kan katanya rambut adalah mahkota wanita.

Itu dulu… Sekarang…?

Bahkan memakai Kerudung pun hampir sama rumitnya dengan menyanggul rambut. Butuh tutorial! Butuh sekian peniti dan jarum pentul beserta berbagai variasi aksesoris menarik! Kalau dulu sebagian besar wanita mendandani rambutnya dan mengenakan aksesoris untuk acara khusus, sekarang kepala wanita didandani dengan kerudung trendi berbagai model untuk berbagai kesempatan. Walhasil, sebelum dan sesudah berkerudung tabarruj alias berhias jalan terus. kerudung yang semestinya sangat praktis pun menjadi rumit dengan berbagai jepitan. Memang benar, bagi sebagian kaum perempuan, hidup tidak pernah sesederhana itu.

Saya teringat pernah berdiskusi dengan seorang kawan yang lama tidak pulang ke tanah air. Dia bilang, “Tetanggaku orang Pakistan bilang, ‘Indonesian is too advance muslim’.” Katanya, muslim Indonesia itu sangat (atau tepatnya terlalu) maju. 
Dari yang tidak ada diada-adakan. Sepanjang sesuatu itu diberi label ‘Islami’, maka sesuatu itu dianggap benar menurut ajaran Islam normatif. Ya… patut diakui sebagian muslim Indonesia memang sangat kreatif dan inovatif, hingga sesuatu yang sudah baku, dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menjadi sesuatu yang sama sekali baru, atau berbeda jauh dari aslinya. Seperti kerudung yang kini masuk ke dalam industri mode. Hingga kata-kata dijalin, dililit, diputar, disematkan atau yang semisalnya, bisa anda dapatkan di antara tutotial hijab yang bertebaran di internet.

Setan memang selalu punya cara. Ketika dia tidak mampu membendung semangat wanita muslimah untuk mengenakan jilbab, dihembuskannya ide ‘tampil cantik dengan berkerudung . ‘Pakai kerudung juga harus tetap terlihat modis dan menarik…’, atau ‘ Apa salahnya? Toh Rambut tetap tertutup…’, dan sekian bisikan lainnya. Akibatnya jilbab/hijab kehilangan esensinya. Alih-alih dari perintah berhijab agar wanita tidak menampakkan perhiasannya, kerudung malah menjadi perhiasan bagi wanita zaman sekarang, untuk memberi kesan ‘cantik religious’.

Tidak ada yang salah dengan semangat wanita muslimah mengenakan jilbab sekarang ini. Keasadaran akan kewajiban menutup aurat merupakan sesuatu yang harus disyukuri. Yang perlu diluruskan ada kekeliruan pehaman akan kerudung itu sendiri. Jilbab adalah pakaian takwa, tidak dapat dinilai dengan timbangan mode dan trend. kerudung bukan sekedar kain yang ditutupkan di kepala dan membalut seluruh tubuh. kerudung tidak dimaksudkan untuk menimbulkan kesan ‘cantik yang religius’. Maaf, bukan seperti itu. Mengenakan kerudung syar’i tidak membutuhkan tutorial rumit dengan kata-kata dililit, dijalin, disematkan dan seterusnya. Yang kita butuhkan adalah pengetahuan mengenai syarat-syarat kerudung syar’i, yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Maka dari itu perlu diketahui pengertian kerudung itu sendiri

Kerudung/Khimar: KAin yang menutupi kepala wanita dan diulirkan kainnya tutupi dada.

Jilbab/Jubah/Abaya/GAmis: Baju Luar yang longgar dan lapang yang tutupi seluruh tubuh.

Syaikh al-Albani rahimahullah, salah seorang ahli hadits abad ini, berdasarkan hasil penelitiannya terhadap nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah menulis dalam bukunya – Jilbab Wanita Muslimah menurut al-Qur’an dan As-Sunnah – syarat-syarat jilbab syar’i itu sebagai berikut:

*Menutupi seluruh tubuh, selain bagian yang dikecualikan,

*Bukan untuk berhias,

*Tebal, tidak tipis,

*Longgar, tidak ketat,

*Tidak diberi wangi-wangian,

*Tidak menyerupai pakaian laki-laki,

*Tidak menyerupai wanita kafir,

* Bukan pakaian untuk kemasyhuran

Setiap poin diatas dijelaskan berdasarkan dalil-dalil yang sah, dan tidak ada tempat bagi jilbab-Kerudung berhias sebagaimana yang umum dipakai sebagian wanita muslimah saat ini. Ketika membahas mengenai poin kedua di atas, Syaikh Albani rahimahullah menukilkan ayat berikut:

“Janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka…”
(QS an-Nur : 31)


Perhiasan yang dimaksud ada 3 :
1. Pakaian berlebihan, 
2. Penggunaan emas dll, 
3. Perhiasan untuk muka, kuku dan badan berlebihan. 

…dan beberapa dalil lainnya. Beliau menjelaskan bahwa secara umum ayat di atas mengandung larangan menghiasi pakaian yang dipakainya sehingga menarik perhatian laki-laki. Lebih lanjut beliau berkata bahwa perintah mengenakan jilbab adalah perintah untuk menutup perhiasan wanita. Dengan demikian tidaklah masuk akal bila jilbab yang berfungsi untuk menutup perhiasan wanita itu malah menjadi pakaian untuk berhias.

Saudariku, mari berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri. Apa arti jilbab buat kita dan untuk apa kita mengenakannya? Cukuplah jawaban itu pada diri masing-masing. Sungguh, keputusan untuk merubah penampilan secara total bukan seusatu yang mudah. Terlebih lagi jika lingkungan di sekitar kita tidak mendukung hal itu. Akan tetapi Allah akan memberikan pertolongan bagi orang yang bersungguh-sungguh untuk melaksanakan ketaatan. Segala puji bagi Allah yang telah mendatangkan hidayah berupa kesadaran pada diri kita untuk mengenakan jilbab sebagai wujud ketaatan terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya. Semoga Allah menambahkan hidayah-Nya bagi kita dan memudahkan kita menguatkan tekad untuk melaksanakan perintah berhijab, dengan hijab yang sempurna.

Wallahua'lam


Sumber: 
Tumblr dengan disunting beberapa kalimatnya oleh JIC dan ditambahkan beberapa kata oleh Annur.

Salam semangat Ramadhan, mari menuju jalan cahaya yang bermandikan surga. 
Agar setelah ramadhan pergi kita menjadi pribadi yang lebih baik. Tak akan terlaksana tanpa usaha dan tekad yang kuat. Biidznillah.

Annur El Karimah


Nasehat Menawan





Ucapan-Ucapan Ringan Nan Bermakna

Ucapan-Ucapan Ringan Nan Bermakna
sumber disini LINK

1. Jika seseorang melihat sesuatu yang menakjubkan dari hartanya, maka hendaklah ia mengatakan :

ما شاء الله لا قوة إلا بالله

“Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah” 
[Lihat surah al Kahfi : 39]

Ini adalah yang diucapkan ketika melihat sesuatu yang menakjubkan dari hartanya. Dengan kalimat tersebut engkau mengingatkan dirimu dan orang lain bahwa bahwa nikmat dan kebaikan yang ada di dalamnya, berasal dari Allah, dan agar tidak menipu dirinya sendiri serta menyangka bahwa dialah yang memberikan kebaikan tersebut pada dirinya sendiri. 

Berkata Al-Imaam Al Qurthuubiy rahimahullah :

لا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ" أي ما اجتمع لك من المال فهو بقدرة الله تعالى وقوته لا بقدرتك وقوتك

“Laa quwwata illaa billah, maksudnya : semua harta yang terkumpul padamu, maka hal tersebut karena kekuasaan dan kekuatan Allah ta’ala. Bukan karena kekuasaan dan kekuatanmu”. 

2. Jika ia melihat sesuatu yang menakjubkan pada orang lain, maka hendaklah ia mengucapkan :

بارك الله عليه

“Semoga Allah memberkahinya”

Atau kata-kata yang sejenisnya.

Rasulullah shallallahu álaihi wa sallam bersabda:

إذا رأى أحدكم من أخيه و من نفسه و من ماله ما يعجبه فليبركه ، فإن العين حق

“Jika salah seorang dari kalian melihat sesuatu yang menakjubkan pada saudaranya atau pada dirinya atau pada hartanya, hendaknya ia mendoakan keberkahan, karena sesungguhnya pengaruh ‘ain itu benar-benar ada.” [HR. Ahmad 3/447, al-Hakim 4/215 dan dishahihkan Syaikh al-Albani rahimahullah dalam ash-Shahihah no. 2572] 

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam memberikan arahan pada siapa saja yang melihat sesuatu yang membuatnya takjub agar mendoakan baginya keberkahan. Al-Munaawiy berkata :

بأن يقول اللهم بارك فيه

“Yaitu agar berkata : Allaahumma baarik fiih (Ya Allah berikanlah keberkahan padanya)”. 

3. Jika ia melihat sesuatu yang menakjubkannya dari perkara dunia, maka hendaklah ia mengatakan :

لبيك إن العيش عيش الآخرة

“Labbaika, innal ‘aisy ‘aisyul Aakhiroh”

“Kupenuhi panggilan-Mu (yaa Alloh), Sesungguhnya kehidupan yang hakiki adalah kehidupan akhirat” 

[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 4/107, al-Baihaqi 7/48 dan al-Hakim 1/465, dishahihkan al-Hakim rahimahullah dan disepakati adz-Dzahabi rahimahullah.]

Sebagaimana Nabi shallallahu álaihi wa sallam mengucapkannya. Beliau berkata : “labbaika” maknanya “Kupenuhi panggilan-Mu (yaa Allah)”.

Kemudian berkata :

إن العيش عيش الآخرة

“Sesungguhnya kehidupan yang hakiki adalah kehidupan akhirat”

Untuk mengingatkan dirinya bahwasanya kehidupan dunia bagaimanapun juga akan hilang dan tidak ada kehidupan yang hakiki di sana, dan kehidupan yang hakiki adalah di akhirat nanti.

4. Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda melalui sahabat ‘Usamah bin Zaid rodhiyallahu ‘anhu,

مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِى الثَّنَاءِ

“Barangsiapa yang telah mendapatkan perbuatan yang baik makan hendaklah ia mengatakan kepada orang yang telah berbuat baik kepadanya dengan ucapan, “(جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا) Jazakallah Khoir. Maka apabila telah mengatakan hal tersebut sungguh ia telah melakukan bentuk syukur (terima kasih) secara lisan yang sangat baik” 
[ HR. Tirmidzi no. 2035. syaikh Al Albani rahimahullah mengatakan, “Shahih”.]

penjelasan ;

Maksud dari kalimat Jazakallah khoir (جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا) adalah (semoga Allah membalasmu) dengan balasan berupa kebaikan, (semoga Allah membalasmu) dengan memberikan balasan baik dalam hal dunia dan akhirat [Syarh Hisnul Muslim oleh Majdi bin Abdul Wahab Ahmad hal. 284 terbitan Mu’asasah Al Juraisy, Riyadh, KSA].

catatan : Untuk seorang akhwat, lafadznya; Jazakillah khoir. Untuk orang banyak, lafadznya Jazakumullah khoir (semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan)

5. Dari Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anha,

أُهْدِيَتْ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ شَاةٌ فَقَالَ : اقْسِمَيْهَا وَكَانَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا إِذَا رَجَعَتِ الْخَادِمُ تَقُوْلُ : مَا قَالُوْا ؟ تَقُوْلُ الْخَادِمُ قَالُوْا : بَارَكَ اللهُ فِيْكُمْ تَقُوْلُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا : وَفِيْهِمْ بَارَكَ اللهُ نَرُدُّ عَلَيْهِمْ مِثْلَ مَا قَالُوْا وَيَبْقَى أَجْرُنَا لَنَا

“Aku menghadiahkan seekor domba kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam. Kemudian Beliau mengatakan, “Bagi dualah domba tersebut”. Suatu kebiasaan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha jika pembantunya telah pulang dari melakukan hal yang semisal maka ia akan menanyakan, “Apa yang mereka katakan?” Pelayanannya menjawab, “Barakallah Fikum (بَارَكَ اللهُ فِيْكُم) (semoga Allah memberkahi kalian)”. ‘Aisyah mengatakan, “Wa Fihim Barakallah (وَفِيْهِمْ بَارَكَ اللهُ) (dan bagi mereka semoga Allah memberkahi) ...
[lihat HR. An Nasa’i dalam ‘Amalul Yaumi wal Lailah no. 303.].

Dari Atsar ini maka jawaban para salaf jika mereka dido’akan dengan do’a Barakallah Fik (بَارَكَ اللهُ فِيْك) (semoga Allah memberkahi mu)

Maka jawabannya adalah Wa Fika Barakallah (وَفِيْكَ بَارَكَ اللهُ).
(dan bagimu semoga Allah memberkahi)

===========
===========

Ref. : 
1. Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, bagian awal kaset no : 321a. Syaikh Ibn al-Utsaimin rahimahullah. via http://ummushofi.wordpress.com/2010/02/08/ucapan-ketika-melihat-sesuatu-yang-menakjubkan/ 
2. http://www.4salaf.com/vb/showthread.php?t=19302 via http://abul-jauzaa.blogspot.com/2012/01/yang-seharusnya-diucapkan-ketika.html
3. http://alhijroh.com/adab-akhlak/bentuk-perkataan-yang-baik-kepada-saudara-kita/

Tambahan faidah :

Makna barokah (berkah) dalam Al Qur’an dan As Sunnah adalah langgengnya kebaikan, kadang pula bermakna bertambahnya kebaikan dan bahkan bisa bermakna kedua-duanya 
[Dr. Nashir Al Judai’ dalam At Tabaruk, hal. 39. via http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/3155-cara-mudah-meraih-berkah.html]

ُاَلْبَرَكَة Al Barakah (keberkahan) adalah kebaikan yang banyak dan tetap pada sesuatu, baik harta, anak maupun ilmu.

Segala sesuatu yang Allah berikan kepadamu, maka engkau memohon kepada-Nya agar dikaruniakan keberkahan di dalamnya. Karena jika Allah tidak memberikan keberkahan pada hal-hal yang telah Dia berikan kepadamu, maka engkau akan terhalang untuk memperoleh banyak kebaikan. (Maroji’ dari Kitabul ‘Ilmi Karya Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah, edisi Indonesia Tuntunan Ulama Salaf dalam Menuntut Ilmu Syar’i penerbit Pustaka Sumayyah. via http://farisna.wordpress.com/2011/06/04/pengertian-kata-البركة-al-barokah/ )

Sumber : 
http://ummushofi.wordpress.com/2010/02/08/ucapan-ketika-melihat-sesuatu-yang-menakjubkan/
Ucapan-Ucapan Ringan Nan Bermakna
sumber disini LINK

1. Jika seseorang melihat sesuatu yang menakjubkan dari hartanya, maka hendaklah ia mengatakan :

ما شاء الله لا قوة إلا بالله

“Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah” 
[Lihat surah al Kahfi : 39]

Ini adalah yang diucapkan ketika melihat sesuatu yang menakjubkan dari hartanya. Dengan kalimat tersebut engkau mengingatkan dirimu dan orang lain bahwa bahwa nikmat dan kebaikan yang ada di dalamnya, berasal dari Allah, dan agar tidak menipu dirinya sendiri serta menyangka bahwa dialah yang memberikan kebaikan tersebut pada dirinya sendiri. 

Berkata Al-Imaam Al Qurthuubiy rahimahullah :

لا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ" أي ما اجتمع لك من المال فهو بقدرة الله تعالى وقوته لا بقدرتك وقوتك

“Laa quwwata illaa billah, maksudnya : semua harta yang terkumpul padamu, maka hal tersebut karena kekuasaan dan kekuatan Allah ta’ala. Bukan karena kekuasaan dan kekuatanmu”. 

2. Jika ia melihat sesuatu yang menakjubkan pada orang lain, maka hendaklah ia mengucapkan :

بارك الله عليه

“Semoga Allah memberkahinya”

Atau kata-kata yang sejenisnya.

Rasulullah shallallahu álaihi wa sallam bersabda:

إذا رأى أحدكم من أخيه و من نفسه و من ماله ما يعجبه فليبركه ، فإن العين حق

“Jika salah seorang dari kalian melihat sesuatu yang menakjubkan pada saudaranya atau pada dirinya atau pada hartanya, hendaknya ia mendoakan keberkahan, karena sesungguhnya pengaruh ‘ain itu benar-benar ada.” [HR. Ahmad 3/447, al-Hakim 4/215 dan dishahihkan Syaikh al-Albani rahimahullah dalam ash-Shahihah no. 2572] 

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam memberikan arahan pada siapa saja yang melihat sesuatu yang membuatnya takjub agar mendoakan baginya keberkahan. Al-Munaawiy berkata :

بأن يقول اللهم بارك فيه

“Yaitu agar berkata : Allaahumma baarik fiih (Ya Allah berikanlah keberkahan padanya)”. 

3. Jika ia melihat sesuatu yang menakjubkannya dari perkara dunia, maka hendaklah ia mengatakan :

لبيك إن العيش عيش الآخرة

“Labbaika, innal ‘aisy ‘aisyul Aakhiroh”

“Kupenuhi panggilan-Mu (yaa Alloh), Sesungguhnya kehidupan yang hakiki adalah kehidupan akhirat” 

[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 4/107, al-Baihaqi 7/48 dan al-Hakim 1/465, dishahihkan al-Hakim rahimahullah dan disepakati adz-Dzahabi rahimahullah.]

Sebagaimana Nabi shallallahu álaihi wa sallam mengucapkannya. Beliau berkata : “labbaika” maknanya “Kupenuhi panggilan-Mu (yaa Allah)”.

Kemudian berkata :

إن العيش عيش الآخرة

“Sesungguhnya kehidupan yang hakiki adalah kehidupan akhirat”

Untuk mengingatkan dirinya bahwasanya kehidupan dunia bagaimanapun juga akan hilang dan tidak ada kehidupan yang hakiki di sana, dan kehidupan yang hakiki adalah di akhirat nanti.

4. Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda melalui sahabat ‘Usamah bin Zaid rodhiyallahu ‘anhu,

مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِى الثَّنَاءِ

“Barangsiapa yang telah mendapatkan perbuatan yang baik makan hendaklah ia mengatakan kepada orang yang telah berbuat baik kepadanya dengan ucapan, “(جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا) Jazakallah Khoir. Maka apabila telah mengatakan hal tersebut sungguh ia telah melakukan bentuk syukur (terima kasih) secara lisan yang sangat baik” 
[ HR. Tirmidzi no. 2035. syaikh Al Albani rahimahullah mengatakan, “Shahih”.]

penjelasan ;

Maksud dari kalimat Jazakallah khoir (جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا) adalah (semoga Allah membalasmu) dengan balasan berupa kebaikan, (semoga Allah membalasmu) dengan memberikan balasan baik dalam hal dunia dan akhirat [Syarh Hisnul Muslim oleh Majdi bin Abdul Wahab Ahmad hal. 284 terbitan Mu’asasah Al Juraisy, Riyadh, KSA].

catatan : Untuk seorang akhwat, lafadznya; Jazakillah khoir. Untuk orang banyak, lafadznya Jazakumullah khoir (semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan)

5. Dari Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anha,

أُهْدِيَتْ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ شَاةٌ فَقَالَ : اقْسِمَيْهَا وَكَانَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا إِذَا رَجَعَتِ الْخَادِمُ تَقُوْلُ : مَا قَالُوْا ؟ تَقُوْلُ الْخَادِمُ قَالُوْا : بَارَكَ اللهُ فِيْكُمْ تَقُوْلُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا : وَفِيْهِمْ بَارَكَ اللهُ نَرُدُّ عَلَيْهِمْ مِثْلَ مَا قَالُوْا وَيَبْقَى أَجْرُنَا لَنَا

“Aku menghadiahkan seekor domba kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam. Kemudian Beliau mengatakan, “Bagi dualah domba tersebut”. Suatu kebiasaan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha jika pembantunya telah pulang dari melakukan hal yang semisal maka ia akan menanyakan, “Apa yang mereka katakan?” Pelayanannya menjawab, “Barakallah Fikum (بَارَكَ اللهُ فِيْكُم) (semoga Allah memberkahi kalian)”. ‘Aisyah mengatakan, “Wa Fihim Barakallah (وَفِيْهِمْ بَارَكَ اللهُ) (dan bagi mereka semoga Allah memberkahi) ...
[lihat HR. An Nasa’i dalam ‘Amalul Yaumi wal Lailah no. 303.].

Dari Atsar ini maka jawaban para salaf jika mereka dido’akan dengan do’a Barakallah Fik (بَارَكَ اللهُ فِيْك) (semoga Allah memberkahi mu)

Maka jawabannya adalah Wa Fika Barakallah (وَفِيْكَ بَارَكَ اللهُ).
(dan bagimu semoga Allah memberkahi)

===========
===========

Ref. : 
1. Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, bagian awal kaset no : 321a. Syaikh Ibn al-Utsaimin rahimahullah. via http://ummushofi.wordpress.com/2010/02/08/ucapan-ketika-melihat-sesuatu-yang-menakjubkan/ 
2. http://www.4salaf.com/vb/showthread.php?t=19302 via http://abul-jauzaa.blogspot.com/2012/01/yang-seharusnya-diucapkan-ketika.html
3. http://alhijroh.com/adab-akhlak/bentuk-perkataan-yang-baik-kepada-saudara-kita/

Tambahan faidah :

Makna barokah (berkah) dalam Al Qur’an dan As Sunnah adalah langgengnya kebaikan, kadang pula bermakna bertambahnya kebaikan dan bahkan bisa bermakna kedua-duanya 
[Dr. Nashir Al Judai’ dalam At Tabaruk, hal. 39. via http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/3155-cara-mudah-meraih-berkah.html]

ُاَلْبَرَكَة Al Barakah (keberkahan) adalah kebaikan yang banyak dan tetap pada sesuatu, baik harta, anak maupun ilmu.

Segala sesuatu yang Allah berikan kepadamu, maka engkau memohon kepada-Nya agar dikaruniakan keberkahan di dalamnya. Karena jika Allah tidak memberikan keberkahan pada hal-hal yang telah Dia berikan kepadamu, maka engkau akan terhalang untuk memperoleh banyak kebaikan. (Maroji’ dari Kitabul ‘Ilmi Karya Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah, edisi Indonesia Tuntunan Ulama Salaf dalam Menuntut Ilmu Syar’i penerbit Pustaka Sumayyah. via http://farisna.wordpress.com/2011/06/04/pengertian-kata-البركة-al-barokah/ )

Sumber : 
http://ummushofi.wordpress.com/2010/02/08/ucapan-ketika-melihat-sesuatu-yang-menakjubkan/
 
Catatan Annurshah Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template