Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Anak-anak Negeri Yaman

Bismillahirrohmanirrohim..
 
Sumber gambar 1



Kisah nyata yang masyaAllah.

Apakah kalian pernah mengalami?

ketika masih sibuk membuka mushaf al quran di masjid tiba-tiba meluncur sebuah benda ke arah kalian. benda ini bukan sebuah peluru 7,62 mm dari senjata AK 47, bukan juga sebuah granat yang telah lepas kait pengamannya,akan tetapi sebuah sandal.

sandal milik seorang anak Yaman yang sedang bermain lempar-lemparan di masjid ketika mereka sedang ada dars.

kesal? marah? ingin membalas melempar mereka? sepertinya kalian harus mengurungkan niat itu,istighfar,sambil ngelus dada atau mereka akan menjadi jadi.

Apakah kalian pernah mengalami?

Ketika masih dikamar mandi umum, tiba-tiba mendarat sebuah gayung kaleng berisi air berasal dari kamar mandi sebelah,apesnya, air dalam gayung tumpah semua kebaju yang kalian pakai,tak lama setelah itu terdengar suara ketawa cekikikan anak-anak yaman.

kesal? marah? mau membalas melempar mereka? yang ada hanyalah ngedumel sendiri di kamar mandi atau mereka akan menjadi jadi.

Itu hanya sedikit kisah nyata yang pernah di alami ikhwah indonesia di Ma'bar Yaman, dan masih banyak kisah kenakalan dan "kebrutalan" anak-anak Yaman, mulai dari berkelahi ketika dars Syaikh sedang berlangsung hingga memanjat atap sakan yang terbuat dari seng sambil berlari-larian layaknya selebrasi mencetak gol,terbayang sudah,betapa gaduhnya suasana yang tinggal didalam sakan.

Hukuman untuk mereka sepertinya juga tidak ringan, sebuah 'asho yaitu tongkat kayu sebesar jempol orang dewasa yang selalu dipegang oleh mursyid.

'asho bisa mendarat di tangan, badan dan kaki mereka, tapi tidak pernah di bagian kepala.

itu kalau mereka tertangkap, kalau tidak, ya paling kejar2an sama mursyid. jangan salah,anak anak itu lebih gesit dan lincah. otomatis mereka lolos dengan mudahnya.

Pernah sekali aku merasakan 'asho, pas itu mursyid tidak sengaja memukul, terkena telapak kakiku, rasanya...hmmm lumayan. cukuplah bikin pincang berjalan beberapa detik. entah terbuat dari kayu apa itu.

Tapi semua itu hanyalah kenakalan anak-anak, tak lebih dari perbuatan seorang manusia yang belum baligh.

Yang tak ubahnya anak-anak pada umumnya,walaupun sudah berkelahi,jotos-jotosan,tendang-tendangan, kalo udah selesai ya selesai, tak terselip dendam dalam hatinya.

besoknya lagi kita lihat sudah saling bercanda kembali.

Memang, mendidik anak-anak yaman perlu perlakuan "spesial" dengan sedikit ayunan 'asho.

tapi jangan heran, anak-anak yaman juga di beri kelebihan spesial, ini merupakan fadhilah dari Allah Azza wa Jalla berupa kekuatan hafalan dan kecerdasan yang luar biasa,membuat kita berdecak kagum sambil berucap "Masyaa Allaah".

Akan banyak kalian temui anak-anak hafal al qur'an dalam waktu hitungan bulan saja. Asy Syaikh Al Imam sendiri menyelesaikan hafalan Al Quran dalam waktu 4 bulan saja,ada yang menyebutkan 6 bulan.

Hanya dengan sekali berdiri, mereka bisa menyetor puluhan hadits kepada syaikh ketika dars,lengkap dengan sanadnya.

Ingin mencoba mengetes hafalan ribuan syair Alfiyyah Ibnu Malik? mereka bisa membolak balik dari belakang ke depan.

mumtaz !
sumber gambar 2

Disebabkan keutamaan yang Allah berikan kepada Ahlul Yaman,Allah lembutkan qolbu mereka menerima kebenaran,di negeri dimana prinsip-prinsip ahlussunnah ditegakkan.

Dari Abu huroiroh beliau berkata : Rosulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda : penduduk negeri Yaman telah datang kepada kalian, mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya, Iman itu ada pada yaman, dan hikmah ada pada yaman.[ HR. Bukhari-Muslim]

Sedikit mengulang kembali kisah shahabat Rasulullah, Abu Hurairah Abdurrahman Ibnu Shakhar,beliau berasal dari kabilah Ad Daus di Yaman yang hanya bertemu dengan Rasulullah selama 4 tahun akan tetapi beliau yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah.

Dan satu hal yang tidak terlepas dari mereka sebagai seorang anak adalah fitrah. fitrah mereka yang terjaga dan masih bersih menjadi faktor pendukung yang kuat.

Mata mereka terjaga dari penglihatan yang mengundang syahwat.bagaimana tidak,jika disini seorang wanita keluar rumah tanpa cadar saja sudah dianggap aib, aib bagi agama dan kabilahnya.

Telinga mereka terjaga dari musik dan lagu-lagu ,yang sejatinya hanya melalaikan,walaupun bersyairkan islami.

mereka lebih memilih hape cina dengan soundnya yang keras agar bisa mereka tenteng kemana-kemana sambil mendengarkan murottal Maher, Ghomidy, atau Sudais.

Itulah fitrah…masih bersih.

Fitrah mereka tak teracuni dengan dongeng fiktif penuh kebohongan. Dongeng khayalan yang hanya membuat anak-anak berandai-andai bisa menghilang,bisa terbang,dan bisa melakukan hal-hal ajaib lainnya. juga cerita-cerita yang tidak jelas kebenarannya.

Mereka lebih tahu kisah tentang kepemimpinan Rasulullah, kisah tentang kesetiaan Shahabat Tholhah bin Ubaidillah yang rela menerima 90 tusukan dan sasaran panah demi melindungi Rosulullah pada waktu perang Uhud.

Coba tanya ke mereka siapa panglima perang termuda?mereka akan menjawab Usamah bin Zaid,yang usianya belum melebihi dua puluh tahun pada waktu itu.

juga mereka lebih suka kisah tentang kesabaran dan semangat ulama Baqi bin Makhlad yang rela menempuh perjalanan ke negeri Hijaz selama 20 tahun dengan berjalan kaki demi mencari ilmu syar'i.

Fitrah mereka tak terkotori dengan cerita horor dan menyeramkan yang sejatinya hanya membuat ketakutan yang dibuat-buat sendiri,yang hanya membuat paranoid kemudian menjelma menjadi bermacam-macam pikiran absurd.

kejadian seseorang yang kesurupan jin disini menjadi semacam tontonan asyik buat mereka,sampai sampai Mursyid harus turun tangan untuk membubarkan mereka.

setiap ada jenazah yang selesai dimandikan dan dikafani,mereka sudah menunggu diluar dan tak sabar untuk melihatnya.

mereka melewati jalan ke arah markiz ratusan meter di malam gelap gulita tanpa penerangan sama sekali tanpa ada rasa takut sedikitpun.

Begitulah,hingga akhirnya mereka tumbuh dewasa dengan fitrah yang masih bersih dengan bimbingan agama yang kuat.

kenakalan yang dulu ada menjadi sebuah kematangan jiwa dan keberanian. kebrutalan yang dulu ada menjadi kesetiaan dan kesabaran.

Seperti tidak berlebihan ketika ada seorang ikhwah indonesia yang saking jengkelnya dengan tingkah laku anak-anak berkata dengan guyon " biarin aja,kecil-kecil nakal,besarnya jadi 'Ulama itu...hehee "

Itulah FITRAH....

- Nas alullaha assalamah wal tsabaat 'ala rosyad.
25 Ramadhan 1434H, Ba'da Shubuh di ghurfah atas masjid, Ma'bar Yaman.
 
Satu lagi yang baru saya lihat cukup menakjubkan Masya Allah, melihat video ini. 
 
 


 
 
Sumber : Facebook dan Youtube.

Pelajaran Berharga lagi bagi kita, para penerus generasi terbaik aamiin. 
 
Annur El Karimah
Bismillahirrohmanirrohim..
 
Sumber gambar 1



Kisah nyata yang masyaAllah.

Apakah kalian pernah mengalami?

ketika masih sibuk membuka mushaf al quran di masjid tiba-tiba meluncur sebuah benda ke arah kalian. benda ini bukan sebuah peluru 7,62 mm dari senjata AK 47, bukan juga sebuah granat yang telah lepas kait pengamannya,akan tetapi sebuah sandal.

sandal milik seorang anak Yaman yang sedang bermain lempar-lemparan di masjid ketika mereka sedang ada dars.

kesal? marah? ingin membalas melempar mereka? sepertinya kalian harus mengurungkan niat itu,istighfar,sambil ngelus dada atau mereka akan menjadi jadi.

Apakah kalian pernah mengalami?

Ketika masih dikamar mandi umum, tiba-tiba mendarat sebuah gayung kaleng berisi air berasal dari kamar mandi sebelah,apesnya, air dalam gayung tumpah semua kebaju yang kalian pakai,tak lama setelah itu terdengar suara ketawa cekikikan anak-anak yaman.

kesal? marah? mau membalas melempar mereka? yang ada hanyalah ngedumel sendiri di kamar mandi atau mereka akan menjadi jadi.

Itu hanya sedikit kisah nyata yang pernah di alami ikhwah indonesia di Ma'bar Yaman, dan masih banyak kisah kenakalan dan "kebrutalan" anak-anak Yaman, mulai dari berkelahi ketika dars Syaikh sedang berlangsung hingga memanjat atap sakan yang terbuat dari seng sambil berlari-larian layaknya selebrasi mencetak gol,terbayang sudah,betapa gaduhnya suasana yang tinggal didalam sakan.

Hukuman untuk mereka sepertinya juga tidak ringan, sebuah 'asho yaitu tongkat kayu sebesar jempol orang dewasa yang selalu dipegang oleh mursyid.

'asho bisa mendarat di tangan, badan dan kaki mereka, tapi tidak pernah di bagian kepala.

itu kalau mereka tertangkap, kalau tidak, ya paling kejar2an sama mursyid. jangan salah,anak anak itu lebih gesit dan lincah. otomatis mereka lolos dengan mudahnya.

Pernah sekali aku merasakan 'asho, pas itu mursyid tidak sengaja memukul, terkena telapak kakiku, rasanya...hmmm lumayan. cukuplah bikin pincang berjalan beberapa detik. entah terbuat dari kayu apa itu.

Tapi semua itu hanyalah kenakalan anak-anak, tak lebih dari perbuatan seorang manusia yang belum baligh.

Yang tak ubahnya anak-anak pada umumnya,walaupun sudah berkelahi,jotos-jotosan,tendang-tendangan, kalo udah selesai ya selesai, tak terselip dendam dalam hatinya.

besoknya lagi kita lihat sudah saling bercanda kembali.

Memang, mendidik anak-anak yaman perlu perlakuan "spesial" dengan sedikit ayunan 'asho.

tapi jangan heran, anak-anak yaman juga di beri kelebihan spesial, ini merupakan fadhilah dari Allah Azza wa Jalla berupa kekuatan hafalan dan kecerdasan yang luar biasa,membuat kita berdecak kagum sambil berucap "Masyaa Allaah".

Akan banyak kalian temui anak-anak hafal al qur'an dalam waktu hitungan bulan saja. Asy Syaikh Al Imam sendiri menyelesaikan hafalan Al Quran dalam waktu 4 bulan saja,ada yang menyebutkan 6 bulan.

Hanya dengan sekali berdiri, mereka bisa menyetor puluhan hadits kepada syaikh ketika dars,lengkap dengan sanadnya.

Ingin mencoba mengetes hafalan ribuan syair Alfiyyah Ibnu Malik? mereka bisa membolak balik dari belakang ke depan.

mumtaz !
sumber gambar 2

Disebabkan keutamaan yang Allah berikan kepada Ahlul Yaman,Allah lembutkan qolbu mereka menerima kebenaran,di negeri dimana prinsip-prinsip ahlussunnah ditegakkan.

Dari Abu huroiroh beliau berkata : Rosulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda : penduduk negeri Yaman telah datang kepada kalian, mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya, Iman itu ada pada yaman, dan hikmah ada pada yaman.[ HR. Bukhari-Muslim]

Sedikit mengulang kembali kisah shahabat Rasulullah, Abu Hurairah Abdurrahman Ibnu Shakhar,beliau berasal dari kabilah Ad Daus di Yaman yang hanya bertemu dengan Rasulullah selama 4 tahun akan tetapi beliau yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah.

Dan satu hal yang tidak terlepas dari mereka sebagai seorang anak adalah fitrah. fitrah mereka yang terjaga dan masih bersih menjadi faktor pendukung yang kuat.

Mata mereka terjaga dari penglihatan yang mengundang syahwat.bagaimana tidak,jika disini seorang wanita keluar rumah tanpa cadar saja sudah dianggap aib, aib bagi agama dan kabilahnya.

Telinga mereka terjaga dari musik dan lagu-lagu ,yang sejatinya hanya melalaikan,walaupun bersyairkan islami.

mereka lebih memilih hape cina dengan soundnya yang keras agar bisa mereka tenteng kemana-kemana sambil mendengarkan murottal Maher, Ghomidy, atau Sudais.

Itulah fitrah…masih bersih.

Fitrah mereka tak teracuni dengan dongeng fiktif penuh kebohongan. Dongeng khayalan yang hanya membuat anak-anak berandai-andai bisa menghilang,bisa terbang,dan bisa melakukan hal-hal ajaib lainnya. juga cerita-cerita yang tidak jelas kebenarannya.

Mereka lebih tahu kisah tentang kepemimpinan Rasulullah, kisah tentang kesetiaan Shahabat Tholhah bin Ubaidillah yang rela menerima 90 tusukan dan sasaran panah demi melindungi Rosulullah pada waktu perang Uhud.

Coba tanya ke mereka siapa panglima perang termuda?mereka akan menjawab Usamah bin Zaid,yang usianya belum melebihi dua puluh tahun pada waktu itu.

juga mereka lebih suka kisah tentang kesabaran dan semangat ulama Baqi bin Makhlad yang rela menempuh perjalanan ke negeri Hijaz selama 20 tahun dengan berjalan kaki demi mencari ilmu syar'i.

Fitrah mereka tak terkotori dengan cerita horor dan menyeramkan yang sejatinya hanya membuat ketakutan yang dibuat-buat sendiri,yang hanya membuat paranoid kemudian menjelma menjadi bermacam-macam pikiran absurd.

kejadian seseorang yang kesurupan jin disini menjadi semacam tontonan asyik buat mereka,sampai sampai Mursyid harus turun tangan untuk membubarkan mereka.

setiap ada jenazah yang selesai dimandikan dan dikafani,mereka sudah menunggu diluar dan tak sabar untuk melihatnya.

mereka melewati jalan ke arah markiz ratusan meter di malam gelap gulita tanpa penerangan sama sekali tanpa ada rasa takut sedikitpun.

Begitulah,hingga akhirnya mereka tumbuh dewasa dengan fitrah yang masih bersih dengan bimbingan agama yang kuat.

kenakalan yang dulu ada menjadi sebuah kematangan jiwa dan keberanian. kebrutalan yang dulu ada menjadi kesetiaan dan kesabaran.

Seperti tidak berlebihan ketika ada seorang ikhwah indonesia yang saking jengkelnya dengan tingkah laku anak-anak berkata dengan guyon " biarin aja,kecil-kecil nakal,besarnya jadi 'Ulama itu...hehee "

Itulah FITRAH....

- Nas alullaha assalamah wal tsabaat 'ala rosyad.
25 Ramadhan 1434H, Ba'da Shubuh di ghurfah atas masjid, Ma'bar Yaman.
 
Satu lagi yang baru saya lihat cukup menakjubkan Masya Allah, melihat video ini. 
 
 


 
 
Sumber : Facebook dan Youtube.

Pelajaran Berharga lagi bagi kita, para penerus generasi terbaik aamiin. 
 
Annur El Karimah

Hikmah Minoritas Muslim

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ


Memandang negeri seberang, lalu menyeberangi lagi. Lalu menyisiri lagi. Mencari keberadaan wajah-wajah Islam di negeri mayoritas non muslim sudah menyedot perhatianku. Tayangan di TV "JAZIRAH ISLAM" ini membuatku tersenyum bahkan begitu bangga menjadi warga INDONESIA MUSLIM. 

Jika kita melihat dari negara satu ke negara lain, pasti ada yang berbeda. Bahkan kita bisa melihat ada beberapa daerah yang benar-benar muslimah sudah berhijab namun terpaksa kembali mengurai rambut dengan memakai kepala. Karena mereka dianggap berbahaya bagi daerah Mayoritas Nonis. 

Bahkan yang menarik perhatianku adalah lagi-lagi seorang jurnalis wanita nonis yang akhirnya ia menjadi mualaf dan berhijab. 
Ya, seperti kita tahu, hijab yang mereka kenakan hanya kerudung biasa yang di peniti lalu di lilit saja. Saya tetap salut, karena bagaimanapun Ia sudah berusaha menutup aurat dan tidak bersikap berlebihan dalam berpakaian. Karena tugasnya sebagai jurnalis meliput beberapa orang yang justru bukan muslim, itu bukan menjadi kendala. Bahkan ia sempat dicurigai beberapa orang hingga diintrogasi dari ujung kaki ke ujung kepala. Dan alhamdulillah, Islam selalu mengajarkan ilmu kepada manusia yang selalu mencari ilmu. Dia bebas untuk melanjutkan pekerjaannya kembali. Dan Allah bersama hamba2Nya yang taat.

Lantas bagaimana dengan Indonesia yang mayoritas muslim? berhijab itu bukanlah halangan bahkan sudah dibebaskan, dari mulai yang berkerudung biasa hingga cadar, Subhanallah ini menjadi hal yang luar biasa. Kita bebas memerankan diri ini sebagai hamba yang taat semata-mata karena kewajiban. 

Namun nyatanya? ini menjadi kendala bagi mereka yang justru muslim sejak kecil. Mereka yang minoritas berani mengambil resiko hijab jika ia dibenci. Lantas kita yang diberikan kebebasan? masih tak sanggup atau malu untuk menutup aurat?

Kalaupun tidak menutup aurat setidaknya kemajuan pada ilmu agama bisakah? tidak seimbang memang, tapi nyata di negeri Meksiko sana ibu-ibu modern meski mereka tidak menutup kepalanya, mereka masih berusaha meluangkan waktunya belajar Al-qur'an rutin, hingga mampu mengajarkannya pada anak-anak mereka. 

Bahkan di negeri sana, ada seornag jurnalis non muslim yang mengoleksi Al-qur'an hingga mengajak tetangga berbuka puasa bersama di rumahnya. Persis kayak kisahnya #Ayat-ayat cinta karya Habiburrahman E.Z. lho.

Lantas tetangga kita, adik kita, kakak kita, saudara-saudara kita? nutup aurat ogah, ngaji katanya malas. Asikan nonton TV. hem...

TV Indonesia di tonton terus capek, banyak sinetron para pemainnya kan berkiblat barat.  Ikhtilat otomatis, ya sudah kita berkiblatnya nanti TV terus. 
Yuk kawan saudara-saudariku, kumpul sama orang islam belajar ilmu agama, saling melengkapi, saling menyayangi. 

Islam itu bukan agama saja, tapi sistem yang mengatur kehidupan kita di dunia untuk menuju kehidupan sesungguhnya di akhirat. Negeri Islam akan tegak, karena umatnya juga menegakkan bukan melumpuhkan. 

Yuk, semangat hijab yah. Mumpung masih di bumi Indonesia lho. 

Teman-teman nonton jazirah Islam juga ya. Semoga kalian bisa memetik hikmah Islam yang minoritas di negeri mayoritas non muslim. 

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. Q.S Fussilat ayat 30


Masih dalam bulan Ramadhan. 
Memetik hikmah dari tayangan yang baik, bukan yang tidak baik. Insha Allah.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ


Memandang negeri seberang, lalu menyeberangi lagi. Lalu menyisiri lagi. Mencari keberadaan wajah-wajah Islam di negeri mayoritas non muslim sudah menyedot perhatianku. Tayangan di TV "JAZIRAH ISLAM" ini membuatku tersenyum bahkan begitu bangga menjadi warga INDONESIA MUSLIM. 

Jika kita melihat dari negara satu ke negara lain, pasti ada yang berbeda. Bahkan kita bisa melihat ada beberapa daerah yang benar-benar muslimah sudah berhijab namun terpaksa kembali mengurai rambut dengan memakai kepala. Karena mereka dianggap berbahaya bagi daerah Mayoritas Nonis. 

Bahkan yang menarik perhatianku adalah lagi-lagi seorang jurnalis wanita nonis yang akhirnya ia menjadi mualaf dan berhijab. 
Ya, seperti kita tahu, hijab yang mereka kenakan hanya kerudung biasa yang di peniti lalu di lilit saja. Saya tetap salut, karena bagaimanapun Ia sudah berusaha menutup aurat dan tidak bersikap berlebihan dalam berpakaian. Karena tugasnya sebagai jurnalis meliput beberapa orang yang justru bukan muslim, itu bukan menjadi kendala. Bahkan ia sempat dicurigai beberapa orang hingga diintrogasi dari ujung kaki ke ujung kepala. Dan alhamdulillah, Islam selalu mengajarkan ilmu kepada manusia yang selalu mencari ilmu. Dia bebas untuk melanjutkan pekerjaannya kembali. Dan Allah bersama hamba2Nya yang taat.

Lantas bagaimana dengan Indonesia yang mayoritas muslim? berhijab itu bukanlah halangan bahkan sudah dibebaskan, dari mulai yang berkerudung biasa hingga cadar, Subhanallah ini menjadi hal yang luar biasa. Kita bebas memerankan diri ini sebagai hamba yang taat semata-mata karena kewajiban. 

Namun nyatanya? ini menjadi kendala bagi mereka yang justru muslim sejak kecil. Mereka yang minoritas berani mengambil resiko hijab jika ia dibenci. Lantas kita yang diberikan kebebasan? masih tak sanggup atau malu untuk menutup aurat?

Kalaupun tidak menutup aurat setidaknya kemajuan pada ilmu agama bisakah? tidak seimbang memang, tapi nyata di negeri Meksiko sana ibu-ibu modern meski mereka tidak menutup kepalanya, mereka masih berusaha meluangkan waktunya belajar Al-qur'an rutin, hingga mampu mengajarkannya pada anak-anak mereka. 

Bahkan di negeri sana, ada seornag jurnalis non muslim yang mengoleksi Al-qur'an hingga mengajak tetangga berbuka puasa bersama di rumahnya. Persis kayak kisahnya #Ayat-ayat cinta karya Habiburrahman E.Z. lho.

Lantas tetangga kita, adik kita, kakak kita, saudara-saudara kita? nutup aurat ogah, ngaji katanya malas. Asikan nonton TV. hem...

TV Indonesia di tonton terus capek, banyak sinetron para pemainnya kan berkiblat barat.  Ikhtilat otomatis, ya sudah kita berkiblatnya nanti TV terus. 
Yuk kawan saudara-saudariku, kumpul sama orang islam belajar ilmu agama, saling melengkapi, saling menyayangi. 

Islam itu bukan agama saja, tapi sistem yang mengatur kehidupan kita di dunia untuk menuju kehidupan sesungguhnya di akhirat. Negeri Islam akan tegak, karena umatnya juga menegakkan bukan melumpuhkan. 

Yuk, semangat hijab yah. Mumpung masih di bumi Indonesia lho. 

Teman-teman nonton jazirah Islam juga ya. Semoga kalian bisa memetik hikmah Islam yang minoritas di negeri mayoritas non muslim. 

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. Q.S Fussilat ayat 30


Masih dalam bulan Ramadhan. 
Memetik hikmah dari tayangan yang baik, bukan yang tidak baik. Insha Allah.

Sifat-sifat manusia di dalam Al-qur'an

Tabiat Manusia

Manusia dilahirkan dalam pelbagai bangsa, agama, persekitaran dan budaya. Tetapi manusia sebenarnya mempunyai beberapa sifat yang sama yang disebutkan dalam Al-Quran yang perlu kita teliti untuk dijadikan pedoman. Adapun sifat-sifat yang tercatat pada lembaran kitab suci itu, kebanyakan bersifat negatif yang menggambarkan bahwa manusia itu lemah. Mengapa?

Seperti yang disebutkan oleh Allah s.w.t:

“Wahai umat manusia, kamulah yang sentiasa berhajat kepada Allah (dalam segala perkara), sedang Allah Dia lah sahaja Yang Maha Kaya, lagi Maha Terpuji.” (Fatir:15)

Tiada ruang penafian bahwa Allah berkuasa atas segalanya sama ada di langit atau di dunia. Justeru itu, Allah jadikan manusia bersifat lemah supaya manusia bisa kembali kepada-Nya dalam apa jua keadaan. Namun, dengan rahmat-Nya, Dia tidak membiarkan manusia tanpa pergantungan dan jalan keluar. Lantaran itu, Allah utuskan nabi dan turunkan Al-Quran bagi memberi peringatan.


sumber gbr

Sifat-sifat manusia

1.  Lemah

Allah (senantiasa) hendak meringankan (beban hukumnya) daripada kamu, kerana manusia itu dijadikan berkeadaan lemah. (An-Nisaa:28)

2.  Tidak Bersyukur

Dan Dia lah yang menghidupkan kamu, kemudian Ia mematikan kamu, kemudian Ia menghidupkan kamu semula. Sesungguhnya manusia sangatlah tidak bersyukur. (Al-Hajj:66)

Dan apabila Kami kurniakan nikmat kepada manusia, berpalinglah dia serta menjauhkan diri (dari bersyukur) dan apabila ia ditimpa kesusahan, maka ia berdoa merayu dengan panjang lebar. (Fussilat:51)

Sesungguhnya manusia sangat tidak bersyukur akan nikmat Tuhannya. (AL-‘Adiyat:6)

3.   Berputus asa

Dan demi sesungguhnya! Jika Kami rasakan manusia sesuatu pemberian rahmat dari Kami kemudian Kami tarik balik pemberian itu daripadanya, mendapati dia amat berputus asa, lagi amat tidak bersyukur. (Hud:9)

Dan apabila Kami kurniakan nikmat kepada manusia, berpalinglah ia serta menjauhkan diri  dan apabila ia merasai kesusahan, jadilah ia berputus asa. (Al-Israa’:83)

Manusia tidak jemu-jemu memohon kebaikan. Dan kalau ia ditimpa kesusahan maka menjadilah ia seorang yang sangat berputus asa, lagi sangat nyata kesan putus harapnya (dari rahmat pertolongan Allah). (Fussilat:49)

4.  Tidak menghargai nikmat Allah

Sesungguhnya manusia (yang ingkar) sangat suka menempatkan sesuatu pada bukan tempatnya lagi sangat tidak menghargai nikmat Tuhannya. (Ibrahim:34)

5.  Suka membantah

Ia menciptakan manusia dari air benih, (setelah sempurna kejadiannya), tiba-tiba menjadilah ia seorang pembantah yang terang jelas bantahannya. (Al-Nahl:4)

Dan demi sesungguhnya Kami telah huraikan dengan berbagai-bagai cara di dalam Al-Quran ini untuk umat manusia, dari segala jenis contoh bandingan dan sememangnya manusia itu, sejenis makhluk yang banyak sekali bantahannya. (Al-Kahfi:54)

6.  Terburu-buru

Dan manusia berdoa dengan (memohon supaya ia ditimpa) kejahatan sebagaimana ia berdoa dengan memohon kebaikan, dan sememangnya manusia itu (bertabiat) terburu-buru. (Al-Israa’:11)

Jenis manusia dijadikan bertabiat terburu-buru dalam segala halnya, Aku (Allah) akan perlihatkan kepada kamu tanda-tanda kekuasaanKu, maka janganlah kamu meminta disegerakan (kedatangannya). (Al-Anbiyaa’:37)

7.  Kufur nikmat

Dan apabila kamu terkena bahaya di laut, (pada saat itu) hilang lenyaplah (dari ingatan kamu) makhluk-makhluk yang kamu seru selain dari Allah, maka apabila Allah selamatkan kamu ke darat, kamu berpaling tadah (tidak mengingatiNya); dan memanglah manusia itu sentiasa kufur (akan nikmat-nikmat Allah). (Al-Israa’:67)

8.  Bakhil dan Kikir

Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya". Dan adalah manusia itu sangat kikir. (Al-Israa’:100)

9.  Zalim

sesungguhnya tabiat kebanyakan manusia adalah suka melakukan kezaliman dan suka pula membuat perkara-perkara yang tidak patut dikerjakan. (Al-Ahzab:72)

10.  Sombong

Maka apabila manusia disentuh oleh sesuatu bahaya, ia segera berdoa kepada Kami, kemudian apabila Kami memberikannya sesuatu nikmat (sebagai kurnia) dari Kami, berkatalah ia (dengan sombongnya): “Aku diberikan nikmat ini hanyalah disebabkan pengetahuan dan kepandaian yang ada padaku”. (Tidaklah benar apa yang dikatakannya itu) bahkan pemberian nikmat yang tersebut adalah ujian (adakah ia bersyukur atau sebaliknya), akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (hakikat itu) (Az-Zumar:49)

11.  Tidak mengenang budi

Dan mereka (yang musyrik mempersekutukan Allah dengan) menjadikan sebahagian dari hamba-hamba Allah sebagai anak bagiNya. Sesungguhnya manusia (yang demikian sesatnya) sangat tidak mengenang budi, lagi nyata kufurnya. (Az-Zukhruf:15)

12.  Resah dan Gelisah

“ Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” [Al-Maarij:19]

Disebutkan seterusnya bahwa manusia yang resah gelisah itu mempunyai dua ciri yang utama iaitu:

1. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, [Al-Maarij:20]
2. dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, [Al-Maarij:21]

13.  Mudah terpedaya

Wahai manusia! Apakah yang memperdayakanmu – (berlaku derhaka) kepada Tuhanmu yang Maha Pemurah ? (Al-Infitar:6)

14.  Melampaui batas

 Sesungguhnya jenis manusia tetap melampaui batas (yang sepatutnya atau yang sewajibnya), (Al-‘Alaq:6)

15.  Kerugian

Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian. (Al-‘Asr:2)

Solusi Sikap?

Kita melihat begitu banyak sifat manusia yang disebutkan oleh Allah. Adapun, ia sebenarnya lebih banyak dari apa yang dikemukakan secara tidak langsung dari lafaz (إنسان). Tetapi adakah sifat-sifat ini berbentuk konkrit yang tidak bisa diruntuhkan dari jiwa-jiwa manusia?

Justeru itu, sebenarnya Allah jualah yang memberi solusi bagaimana untuk merobek sifat-sifat ini dari terus bersarang dalam jiwa manusia. Mungkin terdapat lebih banyak solusi yang lain. Cuma beberapa solusi yang saya rasa amat penting untuk sama-sama kita usahakan untuk menghapuskan sifat ini dari kamus kehidupan.



Pertama: Menjaga solat dengan baik

“Iaitu mereka yang tetap mengerjakan sembahyangnya”(Al-Ma’arij:23)

Dalam menyebutkan sifat resah dan gelisah yang disebutkan di atas beserta ciri-cirinya, Allah merakamkan pengecualian selepas itu berkenaan sifat ini terhadap orang yang-yang solat dan tetap melazimi solatnya. Namun, solat ini bukan sahaja dalam rangka perlaksanaannya tetapi penjagaan terhadap solat dari segi ketepatan waktu dan kekhusyukannya. Hal ini kerana dalam ayat lain Allah menyifatkan orang-orang mukmin itu mengambil berat akan hal demikian.

Di samping itu, solat juga disifatkan sebagai suatu  amalan yang bisa membersihkan manusia dari segala yang buruk dan memotivasikan diri dalam rangka berterusan ke atas kebaikan.

Kedua:  Mengeluarkan sedekah

“Dan mereka (yang menentukan bahagian) pada harta-hartanya, menjadi hak yang termaklum”(Al-Ma’arij:24)

Selain menjaga solat, Allah juga menyebutkan berkenaan tentang pengeluaran wang pada bukan kegunaan kita yaitu sedekah. Sedekah sebenarnya boleh menjatuhkan dinding ego dan kesombongan seorang itu daripada terus bermahkota perasaan besar diri terutama bagi golongan bangsawan. Selain daripada memberi ketenangan kepada si penerima, bersedekah membolehkan manusia merasai kesusahan orang lain disamping tidak berlaku zalim kepada mereka yang memerlukannya.

Ketiga: Berpesan kepada kebenaran dan kesabaran

Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh, dan mereka pula berpesan-pesan dengan kebenaran serta berpesan-pesan kepada kesabaran. (Al-Asr:3)

Allah mempotretkan manusia senantiasa dalam keadaan rugi kecuali mereka yang berusaha beriman dengan sebenar-benar keimanan dengan melakukan amal kebaikan disamping turut sama berpesan kepada orang lain tentang kebenaran dan menjauhi kemaksiatan. Justeru, dalam membasmi sifat-sifat buruk yang ada dalam diri manusia, perkara yang penting adalah kita saling menasihati sesama kita kearah kebaikan supaya manusia sentiasa kembali ingat tentang hari pembalasan.


Tabiat Manusia

Manusia dilahirkan dalam pelbagai bangsa, agama, persekitaran dan budaya. Tetapi manusia sebenarnya mempunyai beberapa sifat yang sama yang disebutkan dalam Al-Quran yang perlu kita teliti untuk dijadikan pedoman. Adapun sifat-sifat yang tercatat pada lembaran kitab suci itu, kebanyakan bersifat negatif yang menggambarkan bahwa manusia itu lemah. Mengapa?

Seperti yang disebutkan oleh Allah s.w.t:

“Wahai umat manusia, kamulah yang sentiasa berhajat kepada Allah (dalam segala perkara), sedang Allah Dia lah sahaja Yang Maha Kaya, lagi Maha Terpuji.” (Fatir:15)

Tiada ruang penafian bahwa Allah berkuasa atas segalanya sama ada di langit atau di dunia. Justeru itu, Allah jadikan manusia bersifat lemah supaya manusia bisa kembali kepada-Nya dalam apa jua keadaan. Namun, dengan rahmat-Nya, Dia tidak membiarkan manusia tanpa pergantungan dan jalan keluar. Lantaran itu, Allah utuskan nabi dan turunkan Al-Quran bagi memberi peringatan.


sumber gbr

Sifat-sifat manusia

1.  Lemah

Allah (senantiasa) hendak meringankan (beban hukumnya) daripada kamu, kerana manusia itu dijadikan berkeadaan lemah. (An-Nisaa:28)

2.  Tidak Bersyukur

Dan Dia lah yang menghidupkan kamu, kemudian Ia mematikan kamu, kemudian Ia menghidupkan kamu semula. Sesungguhnya manusia sangatlah tidak bersyukur. (Al-Hajj:66)

Dan apabila Kami kurniakan nikmat kepada manusia, berpalinglah dia serta menjauhkan diri (dari bersyukur) dan apabila ia ditimpa kesusahan, maka ia berdoa merayu dengan panjang lebar. (Fussilat:51)

Sesungguhnya manusia sangat tidak bersyukur akan nikmat Tuhannya. (AL-‘Adiyat:6)

3.   Berputus asa

Dan demi sesungguhnya! Jika Kami rasakan manusia sesuatu pemberian rahmat dari Kami kemudian Kami tarik balik pemberian itu daripadanya, mendapati dia amat berputus asa, lagi amat tidak bersyukur. (Hud:9)

Dan apabila Kami kurniakan nikmat kepada manusia, berpalinglah ia serta menjauhkan diri  dan apabila ia merasai kesusahan, jadilah ia berputus asa. (Al-Israa’:83)

Manusia tidak jemu-jemu memohon kebaikan. Dan kalau ia ditimpa kesusahan maka menjadilah ia seorang yang sangat berputus asa, lagi sangat nyata kesan putus harapnya (dari rahmat pertolongan Allah). (Fussilat:49)

4.  Tidak menghargai nikmat Allah

Sesungguhnya manusia (yang ingkar) sangat suka menempatkan sesuatu pada bukan tempatnya lagi sangat tidak menghargai nikmat Tuhannya. (Ibrahim:34)

5.  Suka membantah

Ia menciptakan manusia dari air benih, (setelah sempurna kejadiannya), tiba-tiba menjadilah ia seorang pembantah yang terang jelas bantahannya. (Al-Nahl:4)

Dan demi sesungguhnya Kami telah huraikan dengan berbagai-bagai cara di dalam Al-Quran ini untuk umat manusia, dari segala jenis contoh bandingan dan sememangnya manusia itu, sejenis makhluk yang banyak sekali bantahannya. (Al-Kahfi:54)

6.  Terburu-buru

Dan manusia berdoa dengan (memohon supaya ia ditimpa) kejahatan sebagaimana ia berdoa dengan memohon kebaikan, dan sememangnya manusia itu (bertabiat) terburu-buru. (Al-Israa’:11)

Jenis manusia dijadikan bertabiat terburu-buru dalam segala halnya, Aku (Allah) akan perlihatkan kepada kamu tanda-tanda kekuasaanKu, maka janganlah kamu meminta disegerakan (kedatangannya). (Al-Anbiyaa’:37)

7.  Kufur nikmat

Dan apabila kamu terkena bahaya di laut, (pada saat itu) hilang lenyaplah (dari ingatan kamu) makhluk-makhluk yang kamu seru selain dari Allah, maka apabila Allah selamatkan kamu ke darat, kamu berpaling tadah (tidak mengingatiNya); dan memanglah manusia itu sentiasa kufur (akan nikmat-nikmat Allah). (Al-Israa’:67)

8.  Bakhil dan Kikir

Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya". Dan adalah manusia itu sangat kikir. (Al-Israa’:100)

9.  Zalim

sesungguhnya tabiat kebanyakan manusia adalah suka melakukan kezaliman dan suka pula membuat perkara-perkara yang tidak patut dikerjakan. (Al-Ahzab:72)

10.  Sombong

Maka apabila manusia disentuh oleh sesuatu bahaya, ia segera berdoa kepada Kami, kemudian apabila Kami memberikannya sesuatu nikmat (sebagai kurnia) dari Kami, berkatalah ia (dengan sombongnya): “Aku diberikan nikmat ini hanyalah disebabkan pengetahuan dan kepandaian yang ada padaku”. (Tidaklah benar apa yang dikatakannya itu) bahkan pemberian nikmat yang tersebut adalah ujian (adakah ia bersyukur atau sebaliknya), akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (hakikat itu) (Az-Zumar:49)

11.  Tidak mengenang budi

Dan mereka (yang musyrik mempersekutukan Allah dengan) menjadikan sebahagian dari hamba-hamba Allah sebagai anak bagiNya. Sesungguhnya manusia (yang demikian sesatnya) sangat tidak mengenang budi, lagi nyata kufurnya. (Az-Zukhruf:15)

12.  Resah dan Gelisah

“ Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” [Al-Maarij:19]

Disebutkan seterusnya bahwa manusia yang resah gelisah itu mempunyai dua ciri yang utama iaitu:

1. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, [Al-Maarij:20]
2. dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, [Al-Maarij:21]

13.  Mudah terpedaya

Wahai manusia! Apakah yang memperdayakanmu – (berlaku derhaka) kepada Tuhanmu yang Maha Pemurah ? (Al-Infitar:6)

14.  Melampaui batas

 Sesungguhnya jenis manusia tetap melampaui batas (yang sepatutnya atau yang sewajibnya), (Al-‘Alaq:6)

15.  Kerugian

Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian. (Al-‘Asr:2)

Solusi Sikap?

Kita melihat begitu banyak sifat manusia yang disebutkan oleh Allah. Adapun, ia sebenarnya lebih banyak dari apa yang dikemukakan secara tidak langsung dari lafaz (إنسان). Tetapi adakah sifat-sifat ini berbentuk konkrit yang tidak bisa diruntuhkan dari jiwa-jiwa manusia?

Justeru itu, sebenarnya Allah jualah yang memberi solusi bagaimana untuk merobek sifat-sifat ini dari terus bersarang dalam jiwa manusia. Mungkin terdapat lebih banyak solusi yang lain. Cuma beberapa solusi yang saya rasa amat penting untuk sama-sama kita usahakan untuk menghapuskan sifat ini dari kamus kehidupan.



Pertama: Menjaga solat dengan baik

“Iaitu mereka yang tetap mengerjakan sembahyangnya”(Al-Ma’arij:23)

Dalam menyebutkan sifat resah dan gelisah yang disebutkan di atas beserta ciri-cirinya, Allah merakamkan pengecualian selepas itu berkenaan sifat ini terhadap orang yang-yang solat dan tetap melazimi solatnya. Namun, solat ini bukan sahaja dalam rangka perlaksanaannya tetapi penjagaan terhadap solat dari segi ketepatan waktu dan kekhusyukannya. Hal ini kerana dalam ayat lain Allah menyifatkan orang-orang mukmin itu mengambil berat akan hal demikian.

Di samping itu, solat juga disifatkan sebagai suatu  amalan yang bisa membersihkan manusia dari segala yang buruk dan memotivasikan diri dalam rangka berterusan ke atas kebaikan.

Kedua:  Mengeluarkan sedekah

“Dan mereka (yang menentukan bahagian) pada harta-hartanya, menjadi hak yang termaklum”(Al-Ma’arij:24)

Selain menjaga solat, Allah juga menyebutkan berkenaan tentang pengeluaran wang pada bukan kegunaan kita yaitu sedekah. Sedekah sebenarnya boleh menjatuhkan dinding ego dan kesombongan seorang itu daripada terus bermahkota perasaan besar diri terutama bagi golongan bangsawan. Selain daripada memberi ketenangan kepada si penerima, bersedekah membolehkan manusia merasai kesusahan orang lain disamping tidak berlaku zalim kepada mereka yang memerlukannya.

Ketiga: Berpesan kepada kebenaran dan kesabaran

Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh, dan mereka pula berpesan-pesan dengan kebenaran serta berpesan-pesan kepada kesabaran. (Al-Asr:3)

Allah mempotretkan manusia senantiasa dalam keadaan rugi kecuali mereka yang berusaha beriman dengan sebenar-benar keimanan dengan melakukan amal kebaikan disamping turut sama berpesan kepada orang lain tentang kebenaran dan menjauhi kemaksiatan. Justeru, dalam membasmi sifat-sifat buruk yang ada dalam diri manusia, perkara yang penting adalah kita saling menasihati sesama kita kearah kebaikan supaya manusia sentiasa kembali ingat tentang hari pembalasan.


Ucapan-Ucapan Ringan Nan Bermakna

Ucapan-Ucapan Ringan Nan Bermakna
sumber disini LINK

1. Jika seseorang melihat sesuatu yang menakjubkan dari hartanya, maka hendaklah ia mengatakan :

ما شاء الله لا قوة إلا بالله

“Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah” 
[Lihat surah al Kahfi : 39]

Ini adalah yang diucapkan ketika melihat sesuatu yang menakjubkan dari hartanya. Dengan kalimat tersebut engkau mengingatkan dirimu dan orang lain bahwa bahwa nikmat dan kebaikan yang ada di dalamnya, berasal dari Allah, dan agar tidak menipu dirinya sendiri serta menyangka bahwa dialah yang memberikan kebaikan tersebut pada dirinya sendiri. 

Berkata Al-Imaam Al Qurthuubiy rahimahullah :

لا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ" أي ما اجتمع لك من المال فهو بقدرة الله تعالى وقوته لا بقدرتك وقوتك

“Laa quwwata illaa billah, maksudnya : semua harta yang terkumpul padamu, maka hal tersebut karena kekuasaan dan kekuatan Allah ta’ala. Bukan karena kekuasaan dan kekuatanmu”. 

2. Jika ia melihat sesuatu yang menakjubkan pada orang lain, maka hendaklah ia mengucapkan :

بارك الله عليه

“Semoga Allah memberkahinya”

Atau kata-kata yang sejenisnya.

Rasulullah shallallahu álaihi wa sallam bersabda:

إذا رأى أحدكم من أخيه و من نفسه و من ماله ما يعجبه فليبركه ، فإن العين حق

“Jika salah seorang dari kalian melihat sesuatu yang menakjubkan pada saudaranya atau pada dirinya atau pada hartanya, hendaknya ia mendoakan keberkahan, karena sesungguhnya pengaruh ‘ain itu benar-benar ada.” [HR. Ahmad 3/447, al-Hakim 4/215 dan dishahihkan Syaikh al-Albani rahimahullah dalam ash-Shahihah no. 2572] 

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam memberikan arahan pada siapa saja yang melihat sesuatu yang membuatnya takjub agar mendoakan baginya keberkahan. Al-Munaawiy berkata :

بأن يقول اللهم بارك فيه

“Yaitu agar berkata : Allaahumma baarik fiih (Ya Allah berikanlah keberkahan padanya)”. 

3. Jika ia melihat sesuatu yang menakjubkannya dari perkara dunia, maka hendaklah ia mengatakan :

لبيك إن العيش عيش الآخرة

“Labbaika, innal ‘aisy ‘aisyul Aakhiroh”

“Kupenuhi panggilan-Mu (yaa Alloh), Sesungguhnya kehidupan yang hakiki adalah kehidupan akhirat” 

[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 4/107, al-Baihaqi 7/48 dan al-Hakim 1/465, dishahihkan al-Hakim rahimahullah dan disepakati adz-Dzahabi rahimahullah.]

Sebagaimana Nabi shallallahu álaihi wa sallam mengucapkannya. Beliau berkata : “labbaika” maknanya “Kupenuhi panggilan-Mu (yaa Allah)”.

Kemudian berkata :

إن العيش عيش الآخرة

“Sesungguhnya kehidupan yang hakiki adalah kehidupan akhirat”

Untuk mengingatkan dirinya bahwasanya kehidupan dunia bagaimanapun juga akan hilang dan tidak ada kehidupan yang hakiki di sana, dan kehidupan yang hakiki adalah di akhirat nanti.

4. Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda melalui sahabat ‘Usamah bin Zaid rodhiyallahu ‘anhu,

مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِى الثَّنَاءِ

“Barangsiapa yang telah mendapatkan perbuatan yang baik makan hendaklah ia mengatakan kepada orang yang telah berbuat baik kepadanya dengan ucapan, “(جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا) Jazakallah Khoir. Maka apabila telah mengatakan hal tersebut sungguh ia telah melakukan bentuk syukur (terima kasih) secara lisan yang sangat baik” 
[ HR. Tirmidzi no. 2035. syaikh Al Albani rahimahullah mengatakan, “Shahih”.]

penjelasan ;

Maksud dari kalimat Jazakallah khoir (جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا) adalah (semoga Allah membalasmu) dengan balasan berupa kebaikan, (semoga Allah membalasmu) dengan memberikan balasan baik dalam hal dunia dan akhirat [Syarh Hisnul Muslim oleh Majdi bin Abdul Wahab Ahmad hal. 284 terbitan Mu’asasah Al Juraisy, Riyadh, KSA].

catatan : Untuk seorang akhwat, lafadznya; Jazakillah khoir. Untuk orang banyak, lafadznya Jazakumullah khoir (semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan)

5. Dari Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anha,

أُهْدِيَتْ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ شَاةٌ فَقَالَ : اقْسِمَيْهَا وَكَانَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا إِذَا رَجَعَتِ الْخَادِمُ تَقُوْلُ : مَا قَالُوْا ؟ تَقُوْلُ الْخَادِمُ قَالُوْا : بَارَكَ اللهُ فِيْكُمْ تَقُوْلُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا : وَفِيْهِمْ بَارَكَ اللهُ نَرُدُّ عَلَيْهِمْ مِثْلَ مَا قَالُوْا وَيَبْقَى أَجْرُنَا لَنَا

“Aku menghadiahkan seekor domba kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam. Kemudian Beliau mengatakan, “Bagi dualah domba tersebut”. Suatu kebiasaan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha jika pembantunya telah pulang dari melakukan hal yang semisal maka ia akan menanyakan, “Apa yang mereka katakan?” Pelayanannya menjawab, “Barakallah Fikum (بَارَكَ اللهُ فِيْكُم) (semoga Allah memberkahi kalian)”. ‘Aisyah mengatakan, “Wa Fihim Barakallah (وَفِيْهِمْ بَارَكَ اللهُ) (dan bagi mereka semoga Allah memberkahi) ...
[lihat HR. An Nasa’i dalam ‘Amalul Yaumi wal Lailah no. 303.].

Dari Atsar ini maka jawaban para salaf jika mereka dido’akan dengan do’a Barakallah Fik (بَارَكَ اللهُ فِيْك) (semoga Allah memberkahi mu)

Maka jawabannya adalah Wa Fika Barakallah (وَفِيْكَ بَارَكَ اللهُ).
(dan bagimu semoga Allah memberkahi)

===========
===========

Ref. : 
1. Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, bagian awal kaset no : 321a. Syaikh Ibn al-Utsaimin rahimahullah. via http://ummushofi.wordpress.com/2010/02/08/ucapan-ketika-melihat-sesuatu-yang-menakjubkan/ 
2. http://www.4salaf.com/vb/showthread.php?t=19302 via http://abul-jauzaa.blogspot.com/2012/01/yang-seharusnya-diucapkan-ketika.html
3. http://alhijroh.com/adab-akhlak/bentuk-perkataan-yang-baik-kepada-saudara-kita/

Tambahan faidah :

Makna barokah (berkah) dalam Al Qur’an dan As Sunnah adalah langgengnya kebaikan, kadang pula bermakna bertambahnya kebaikan dan bahkan bisa bermakna kedua-duanya 
[Dr. Nashir Al Judai’ dalam At Tabaruk, hal. 39. via http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/3155-cara-mudah-meraih-berkah.html]

ُاَلْبَرَكَة Al Barakah (keberkahan) adalah kebaikan yang banyak dan tetap pada sesuatu, baik harta, anak maupun ilmu.

Segala sesuatu yang Allah berikan kepadamu, maka engkau memohon kepada-Nya agar dikaruniakan keberkahan di dalamnya. Karena jika Allah tidak memberikan keberkahan pada hal-hal yang telah Dia berikan kepadamu, maka engkau akan terhalang untuk memperoleh banyak kebaikan. (Maroji’ dari Kitabul ‘Ilmi Karya Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah, edisi Indonesia Tuntunan Ulama Salaf dalam Menuntut Ilmu Syar’i penerbit Pustaka Sumayyah. via http://farisna.wordpress.com/2011/06/04/pengertian-kata-البركة-al-barokah/ )

Sumber : 
http://ummushofi.wordpress.com/2010/02/08/ucapan-ketika-melihat-sesuatu-yang-menakjubkan/
Ucapan-Ucapan Ringan Nan Bermakna
sumber disini LINK

1. Jika seseorang melihat sesuatu yang menakjubkan dari hartanya, maka hendaklah ia mengatakan :

ما شاء الله لا قوة إلا بالله

“Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah” 
[Lihat surah al Kahfi : 39]

Ini adalah yang diucapkan ketika melihat sesuatu yang menakjubkan dari hartanya. Dengan kalimat tersebut engkau mengingatkan dirimu dan orang lain bahwa bahwa nikmat dan kebaikan yang ada di dalamnya, berasal dari Allah, dan agar tidak menipu dirinya sendiri serta menyangka bahwa dialah yang memberikan kebaikan tersebut pada dirinya sendiri. 

Berkata Al-Imaam Al Qurthuubiy rahimahullah :

لا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ" أي ما اجتمع لك من المال فهو بقدرة الله تعالى وقوته لا بقدرتك وقوتك

“Laa quwwata illaa billah, maksudnya : semua harta yang terkumpul padamu, maka hal tersebut karena kekuasaan dan kekuatan Allah ta’ala. Bukan karena kekuasaan dan kekuatanmu”. 

2. Jika ia melihat sesuatu yang menakjubkan pada orang lain, maka hendaklah ia mengucapkan :

بارك الله عليه

“Semoga Allah memberkahinya”

Atau kata-kata yang sejenisnya.

Rasulullah shallallahu álaihi wa sallam bersabda:

إذا رأى أحدكم من أخيه و من نفسه و من ماله ما يعجبه فليبركه ، فإن العين حق

“Jika salah seorang dari kalian melihat sesuatu yang menakjubkan pada saudaranya atau pada dirinya atau pada hartanya, hendaknya ia mendoakan keberkahan, karena sesungguhnya pengaruh ‘ain itu benar-benar ada.” [HR. Ahmad 3/447, al-Hakim 4/215 dan dishahihkan Syaikh al-Albani rahimahullah dalam ash-Shahihah no. 2572] 

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam memberikan arahan pada siapa saja yang melihat sesuatu yang membuatnya takjub agar mendoakan baginya keberkahan. Al-Munaawiy berkata :

بأن يقول اللهم بارك فيه

“Yaitu agar berkata : Allaahumma baarik fiih (Ya Allah berikanlah keberkahan padanya)”. 

3. Jika ia melihat sesuatu yang menakjubkannya dari perkara dunia, maka hendaklah ia mengatakan :

لبيك إن العيش عيش الآخرة

“Labbaika, innal ‘aisy ‘aisyul Aakhiroh”

“Kupenuhi panggilan-Mu (yaa Alloh), Sesungguhnya kehidupan yang hakiki adalah kehidupan akhirat” 

[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 4/107, al-Baihaqi 7/48 dan al-Hakim 1/465, dishahihkan al-Hakim rahimahullah dan disepakati adz-Dzahabi rahimahullah.]

Sebagaimana Nabi shallallahu álaihi wa sallam mengucapkannya. Beliau berkata : “labbaika” maknanya “Kupenuhi panggilan-Mu (yaa Allah)”.

Kemudian berkata :

إن العيش عيش الآخرة

“Sesungguhnya kehidupan yang hakiki adalah kehidupan akhirat”

Untuk mengingatkan dirinya bahwasanya kehidupan dunia bagaimanapun juga akan hilang dan tidak ada kehidupan yang hakiki di sana, dan kehidupan yang hakiki adalah di akhirat nanti.

4. Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda melalui sahabat ‘Usamah bin Zaid rodhiyallahu ‘anhu,

مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِى الثَّنَاءِ

“Barangsiapa yang telah mendapatkan perbuatan yang baik makan hendaklah ia mengatakan kepada orang yang telah berbuat baik kepadanya dengan ucapan, “(جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا) Jazakallah Khoir. Maka apabila telah mengatakan hal tersebut sungguh ia telah melakukan bentuk syukur (terima kasih) secara lisan yang sangat baik” 
[ HR. Tirmidzi no. 2035. syaikh Al Albani rahimahullah mengatakan, “Shahih”.]

penjelasan ;

Maksud dari kalimat Jazakallah khoir (جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا) adalah (semoga Allah membalasmu) dengan balasan berupa kebaikan, (semoga Allah membalasmu) dengan memberikan balasan baik dalam hal dunia dan akhirat [Syarh Hisnul Muslim oleh Majdi bin Abdul Wahab Ahmad hal. 284 terbitan Mu’asasah Al Juraisy, Riyadh, KSA].

catatan : Untuk seorang akhwat, lafadznya; Jazakillah khoir. Untuk orang banyak, lafadznya Jazakumullah khoir (semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan)

5. Dari Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anha,

أُهْدِيَتْ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ شَاةٌ فَقَالَ : اقْسِمَيْهَا وَكَانَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا إِذَا رَجَعَتِ الْخَادِمُ تَقُوْلُ : مَا قَالُوْا ؟ تَقُوْلُ الْخَادِمُ قَالُوْا : بَارَكَ اللهُ فِيْكُمْ تَقُوْلُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا : وَفِيْهِمْ بَارَكَ اللهُ نَرُدُّ عَلَيْهِمْ مِثْلَ مَا قَالُوْا وَيَبْقَى أَجْرُنَا لَنَا

“Aku menghadiahkan seekor domba kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam. Kemudian Beliau mengatakan, “Bagi dualah domba tersebut”. Suatu kebiasaan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha jika pembantunya telah pulang dari melakukan hal yang semisal maka ia akan menanyakan, “Apa yang mereka katakan?” Pelayanannya menjawab, “Barakallah Fikum (بَارَكَ اللهُ فِيْكُم) (semoga Allah memberkahi kalian)”. ‘Aisyah mengatakan, “Wa Fihim Barakallah (وَفِيْهِمْ بَارَكَ اللهُ) (dan bagi mereka semoga Allah memberkahi) ...
[lihat HR. An Nasa’i dalam ‘Amalul Yaumi wal Lailah no. 303.].

Dari Atsar ini maka jawaban para salaf jika mereka dido’akan dengan do’a Barakallah Fik (بَارَكَ اللهُ فِيْك) (semoga Allah memberkahi mu)

Maka jawabannya adalah Wa Fika Barakallah (وَفِيْكَ بَارَكَ اللهُ).
(dan bagimu semoga Allah memberkahi)

===========
===========

Ref. : 
1. Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, bagian awal kaset no : 321a. Syaikh Ibn al-Utsaimin rahimahullah. via http://ummushofi.wordpress.com/2010/02/08/ucapan-ketika-melihat-sesuatu-yang-menakjubkan/ 
2. http://www.4salaf.com/vb/showthread.php?t=19302 via http://abul-jauzaa.blogspot.com/2012/01/yang-seharusnya-diucapkan-ketika.html
3. http://alhijroh.com/adab-akhlak/bentuk-perkataan-yang-baik-kepada-saudara-kita/

Tambahan faidah :

Makna barokah (berkah) dalam Al Qur’an dan As Sunnah adalah langgengnya kebaikan, kadang pula bermakna bertambahnya kebaikan dan bahkan bisa bermakna kedua-duanya 
[Dr. Nashir Al Judai’ dalam At Tabaruk, hal. 39. via http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/3155-cara-mudah-meraih-berkah.html]

ُاَلْبَرَكَة Al Barakah (keberkahan) adalah kebaikan yang banyak dan tetap pada sesuatu, baik harta, anak maupun ilmu.

Segala sesuatu yang Allah berikan kepadamu, maka engkau memohon kepada-Nya agar dikaruniakan keberkahan di dalamnya. Karena jika Allah tidak memberikan keberkahan pada hal-hal yang telah Dia berikan kepadamu, maka engkau akan terhalang untuk memperoleh banyak kebaikan. (Maroji’ dari Kitabul ‘Ilmi Karya Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah, edisi Indonesia Tuntunan Ulama Salaf dalam Menuntut Ilmu Syar’i penerbit Pustaka Sumayyah. via http://farisna.wordpress.com/2011/06/04/pengertian-kata-البركة-al-barokah/ )

Sumber : 
http://ummushofi.wordpress.com/2010/02/08/ucapan-ketika-melihat-sesuatu-yang-menakjubkan/

Aurat Wanita

Assalaamu'alaikum wr.wb. 

Bismillahirohmanirohim, salam ukhuwah semua. lama tak menyapa dalam blog saya yang sunyi senyap. 

Awalnya saya bingung dengan tulisan terbaru saya, karena beberapa yang saya rasakan ingin saya tuangkan dalam bentuk tulisan, namun harus begitu yakin. Saat ini hanya beberapa bacaan yang saya kutip dan semoga nilai ilmu ini bisa diamalkan di praktekan aamin. 

Sekali jangan tanyakan saya untuk menjawab yang penting namun dirasa tak penting!  hemm....
Aurat wanita!???



Berasal dari bahasaArab: عورة yang artinya bagian dari tubuh manusia yang diharamkan untuk dilihat dan dipegang oleh lawan jenis. 
Haram hukumnya melihat, atau memperlihatkan aurat. Aurat bagi wanita adalah seluruh tubuhnya, kecuali kedua telapak tangan dan muka (QS An- Nuur( 24: 31) dan Al Ahzab(33: 59). Sedangkan aurat pria adalah bagian pusar (perut) ke bawah hingga lutut.



Namun ada juga hadist
"Hai Asma, sesungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haidh (akil baligh) maka tak ada yang layak terlihat kecuali ini, sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan." (HR. Abu Daud dan Baihaqi).

Derajad hadits tersebut diperselihan oleh para ulama..
Ulama yg mewajibkan cadar melemahkan hadits tersbut sedangkan Ulama yang tidak mewajibkan cadar men-Shohikan/meng-Hasankan hadits tersebut..


Ibu : Nai cepatan yah ke warung.
Nai : sebentar bu, pakai kaos kaki dulu.
Ibu : warungnya dekat palingan 6 meter sampai kok.
Nai : Ibu,.....aurat, lagian rok Nai kan hanya menutupi mata kaki, kalau ketemu yang bukan muhrim?
Ibu : hemmm... susah!
Nai : Ibu yang gak sabaran
Ibu : Cepat sana! malah jawab terus...

hehe... percakapan unyu...


Tanya: 
Lalu bagaimanana  tentang hadits dimana seorang shohabiyah menanyakan tentang cara perempuan menutup kakinya (tentag isbal)?

JAWAB : 
“Barangsiapa yang memanjangkan kainnya karena sombong maka Allah tidak akan melihatnya.” Ummu Salamah bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang harus dilakukan oleh para wanita dengan ujung pakaian mereka?” Beliau menjawab, “Kalian boleh memanjangkannya sejengkal.” Ummu Salamah bertanya lagi, “Jika begitu, maka kaki mereka akan terbuka!” Beliau menjawab, “Kalian boleh menambahkan satu hasta dan jangan lebih.” (HR. At-Tirmizi & An-Nasai).

Dalam hadits ini mengandung dalil, bahwa kedua kaki perempuan adalah aurat. & auratnya kaki sudah dikenal dikalangan wanita di masa kenabian, maka ketika Rasulullah bsabda: “Panjangkanlah satu jengkal.” Ummu Salamah berkata: “Jka demikian kaki kami akan tersingkap”, yang terpikir bahwa Ummu Salamah tahu bahwa kedua kaki adalah aurat yg tidak boleh terbuka & Nabi menyetujui hal ini. Oleh karena itu, Rasulullah menyuruh utuk menjulurkannya sehasta. Dalam al-Quran terdapat isyarat atas fakta ini, yaitu firman Allah:

“Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS An-Nuur:31)


Tanya :
lalu begitu jika jilbab/gamis perempuan sudah dipanjangkan sehasta dari lutut sehingga labuh sampai menutup mata kaki, apakah itu cukup?
zaman rasulullah para wanita menutup kakinya apa dengan cara ini? karena sepegetahuanku kaos kaki apa ada?

Jawab : 
Iya benar!, menutup hingga mata kaki atau pas sejajar dengan mata kaki itu sudah cukup..., bahkan lebih melewati mata kaki pun tidak masalah, hingga menutup seluruh kaki....

Di Zaman shohabiyah ada wanita yg mengeluhkan kepada nabi perihal gamisnya yang panjang hingga menyentuh tanah yg kotor, shohabiyah ini bertanya tentang cara membersihkan ujung gamisnya tersebut.

Dari seorang ibu putra Ibrahim bin Abdurrahman bin ‘Auf bahwa ia prnah btanya kpda Ummu Salamah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Sesungguhnya aku adalah seorang perempuan yang biasa memanjangkan (ukuran) pakaianku dan (kadang-kadang) aku berjalan di tempat kotor?’ maka Jawab Ummu Salamah, bhw Nabi pernah bsabda, “Tanah selanjutnya menjadi pembersihnya.” (HR. Ibnu Majah, Malik, Tirmidzi) 

soal kaus kaki apakah sudah ada dijaman Nabi atau belum ini saya tidak tau, yg pastinya hadits diatas (Ummu Salamah) tetap berlaku hingga kini walaupun jaman skrg sdh ada Kaus Kaki 

Tanya:
Begitu, ngomong-ngomong itu tempat yg kotoruntuk yang kering aja kak?
brati kalo wanita justru mata kaki iu batas yg harus tertutup, karena secara logika juga gelang kaki ada di pergelangan kaki, artinya tak boleh terlihat.
nah, trus kalo gamisnya pendek (misalanya sepergelangan kaki) apa lalu kaos kaki bisa dicukupkan untuk menutupi bagian kaki yang lain?

Jawab:
insya Allah kaus kaki sudah mencukupi.., wallahu a'lam

Tanya:
Itu yang termasuk tempat kotor apa yang kotornya kering? seperti tanah kering. kalau yang basah seperti tanah becek bagaimana? atau kalau ditempat wudhu ada genangan air, dll. Lalu kena ujung gamisnya,apa masih termasuk dibolehkan?

Jawab:
Yang disebutkan hadits di atas hanya berlaku untuk najis yg kering. Ketentuan ini tidak berlaku jika najisnya adalah najis yang basah atau cair.

Imam Malik berkata, “Sesungguhnya sebagian tanah membersihkan sebagian yang lain. Hal ini berlaku apabila kita menginjak tanah yang kotor, kemudian setelah itu menginjak tanah bersih dan kering, maka tanah yang bersih dan kering inilah yang akan menjadi pembersihnya. Adapun najis seperti air kencing dan semisalnya yang mengenai pakaian/ jasad maka harus dibersihkan dengan air

Imam Syafi’i menjelaskan, bahwa ketentuan berlaku apabila najis yang diinjak adalah najis yang kering sehingga tidak ada najis yang melekat padanya. Maksudnya, najis tidak terlihat jelas secara fisik melekat pada pakaian (tanah telah menyucikannya). Apabila najis yang di injak adalah najis yang basah, maka harus tetap dibersihkan dengan air hingga bersih.

Sumber (Tanya & Jawab) di Rohis Facebook. 


Semoga tulisan tersebut bermanfaat untuk kita semua.
Terutama bagi yang tidak tahu selalu bertanya mengapa?
Ada juga yang saya dengar langsung menuduh yang tidak-tidak. 
Kakinya mungkin jelek dan sebagainya. Semoga jangan asal menuduh yah, karena kita tidak tahu bukan berarti memberikan gambaran sesuka hati kita. 
Ingat hati mu bukan hatimu, hatimu pemberian Allah jadi jagalah hati ...
lanjut lagunya AA Gym hihi..

Jelaskan yuk kepada yang belum tahu, tebarkan kebaikan *smile  ^,^


Assalaamu'alaikum wr.wb. 

Bismillahirohmanirohim, salam ukhuwah semua. lama tak menyapa dalam blog saya yang sunyi senyap. 

Awalnya saya bingung dengan tulisan terbaru saya, karena beberapa yang saya rasakan ingin saya tuangkan dalam bentuk tulisan, namun harus begitu yakin. Saat ini hanya beberapa bacaan yang saya kutip dan semoga nilai ilmu ini bisa diamalkan di praktekan aamin. 

Sekali jangan tanyakan saya untuk menjawab yang penting namun dirasa tak penting!  hemm....
Aurat wanita!???



Berasal dari bahasaArab: عورة yang artinya bagian dari tubuh manusia yang diharamkan untuk dilihat dan dipegang oleh lawan jenis. 
Haram hukumnya melihat, atau memperlihatkan aurat. Aurat bagi wanita adalah seluruh tubuhnya, kecuali kedua telapak tangan dan muka (QS An- Nuur( 24: 31) dan Al Ahzab(33: 59). Sedangkan aurat pria adalah bagian pusar (perut) ke bawah hingga lutut.



Namun ada juga hadist
"Hai Asma, sesungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haidh (akil baligh) maka tak ada yang layak terlihat kecuali ini, sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan." (HR. Abu Daud dan Baihaqi).

Derajad hadits tersebut diperselihan oleh para ulama..
Ulama yg mewajibkan cadar melemahkan hadits tersbut sedangkan Ulama yang tidak mewajibkan cadar men-Shohikan/meng-Hasankan hadits tersebut..


Ibu : Nai cepatan yah ke warung.
Nai : sebentar bu, pakai kaos kaki dulu.
Ibu : warungnya dekat palingan 6 meter sampai kok.
Nai : Ibu,.....aurat, lagian rok Nai kan hanya menutupi mata kaki, kalau ketemu yang bukan muhrim?
Ibu : hemmm... susah!
Nai : Ibu yang gak sabaran
Ibu : Cepat sana! malah jawab terus...

hehe... percakapan unyu...


Tanya: 
Lalu bagaimanana  tentang hadits dimana seorang shohabiyah menanyakan tentang cara perempuan menutup kakinya (tentag isbal)?

JAWAB : 
“Barangsiapa yang memanjangkan kainnya karena sombong maka Allah tidak akan melihatnya.” Ummu Salamah bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang harus dilakukan oleh para wanita dengan ujung pakaian mereka?” Beliau menjawab, “Kalian boleh memanjangkannya sejengkal.” Ummu Salamah bertanya lagi, “Jika begitu, maka kaki mereka akan terbuka!” Beliau menjawab, “Kalian boleh menambahkan satu hasta dan jangan lebih.” (HR. At-Tirmizi & An-Nasai).

Dalam hadits ini mengandung dalil, bahwa kedua kaki perempuan adalah aurat. & auratnya kaki sudah dikenal dikalangan wanita di masa kenabian, maka ketika Rasulullah bsabda: “Panjangkanlah satu jengkal.” Ummu Salamah berkata: “Jka demikian kaki kami akan tersingkap”, yang terpikir bahwa Ummu Salamah tahu bahwa kedua kaki adalah aurat yg tidak boleh terbuka & Nabi menyetujui hal ini. Oleh karena itu, Rasulullah menyuruh utuk menjulurkannya sehasta. Dalam al-Quran terdapat isyarat atas fakta ini, yaitu firman Allah:

“Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS An-Nuur:31)


Tanya :
lalu begitu jika jilbab/gamis perempuan sudah dipanjangkan sehasta dari lutut sehingga labuh sampai menutup mata kaki, apakah itu cukup?
zaman rasulullah para wanita menutup kakinya apa dengan cara ini? karena sepegetahuanku kaos kaki apa ada?

Jawab : 
Iya benar!, menutup hingga mata kaki atau pas sejajar dengan mata kaki itu sudah cukup..., bahkan lebih melewati mata kaki pun tidak masalah, hingga menutup seluruh kaki....

Di Zaman shohabiyah ada wanita yg mengeluhkan kepada nabi perihal gamisnya yang panjang hingga menyentuh tanah yg kotor, shohabiyah ini bertanya tentang cara membersihkan ujung gamisnya tersebut.

Dari seorang ibu putra Ibrahim bin Abdurrahman bin ‘Auf bahwa ia prnah btanya kpda Ummu Salamah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Sesungguhnya aku adalah seorang perempuan yang biasa memanjangkan (ukuran) pakaianku dan (kadang-kadang) aku berjalan di tempat kotor?’ maka Jawab Ummu Salamah, bhw Nabi pernah bsabda, “Tanah selanjutnya menjadi pembersihnya.” (HR. Ibnu Majah, Malik, Tirmidzi) 

soal kaus kaki apakah sudah ada dijaman Nabi atau belum ini saya tidak tau, yg pastinya hadits diatas (Ummu Salamah) tetap berlaku hingga kini walaupun jaman skrg sdh ada Kaus Kaki 

Tanya:
Begitu, ngomong-ngomong itu tempat yg kotoruntuk yang kering aja kak?
brati kalo wanita justru mata kaki iu batas yg harus tertutup, karena secara logika juga gelang kaki ada di pergelangan kaki, artinya tak boleh terlihat.
nah, trus kalo gamisnya pendek (misalanya sepergelangan kaki) apa lalu kaos kaki bisa dicukupkan untuk menutupi bagian kaki yang lain?

Jawab:
insya Allah kaus kaki sudah mencukupi.., wallahu a'lam

Tanya:
Itu yang termasuk tempat kotor apa yang kotornya kering? seperti tanah kering. kalau yang basah seperti tanah becek bagaimana? atau kalau ditempat wudhu ada genangan air, dll. Lalu kena ujung gamisnya,apa masih termasuk dibolehkan?

Jawab:
Yang disebutkan hadits di atas hanya berlaku untuk najis yg kering. Ketentuan ini tidak berlaku jika najisnya adalah najis yang basah atau cair.

Imam Malik berkata, “Sesungguhnya sebagian tanah membersihkan sebagian yang lain. Hal ini berlaku apabila kita menginjak tanah yang kotor, kemudian setelah itu menginjak tanah bersih dan kering, maka tanah yang bersih dan kering inilah yang akan menjadi pembersihnya. Adapun najis seperti air kencing dan semisalnya yang mengenai pakaian/ jasad maka harus dibersihkan dengan air

Imam Syafi’i menjelaskan, bahwa ketentuan berlaku apabila najis yang diinjak adalah najis yang kering sehingga tidak ada najis yang melekat padanya. Maksudnya, najis tidak terlihat jelas secara fisik melekat pada pakaian (tanah telah menyucikannya). Apabila najis yang di injak adalah najis yang basah, maka harus tetap dibersihkan dengan air hingga bersih.

Sumber (Tanya & Jawab) di Rohis Facebook. 


Semoga tulisan tersebut bermanfaat untuk kita semua.
Terutama bagi yang tidak tahu selalu bertanya mengapa?
Ada juga yang saya dengar langsung menuduh yang tidak-tidak. 
Kakinya mungkin jelek dan sebagainya. Semoga jangan asal menuduh yah, karena kita tidak tahu bukan berarti memberikan gambaran sesuka hati kita. 
Ingat hati mu bukan hatimu, hatimu pemberian Allah jadi jagalah hati ...
lanjut lagunya AA Gym hihi..

Jelaskan yuk kepada yang belum tahu, tebarkan kebaikan *smile  ^,^


Seandainya


Bawalah raga ini ke dalamnya…
Sekali saja
Buatku tersenyum merasakannya

Sekali saja

Aku ingin seperti mereka
Tapi….


Ach, andai, seandainya
kata itu
Mencuat terus seiring langkahku.
Stop Perandaian

Tak ada itu untuk ku

Tak membawa arti untuk rasa cintaku padaNYA

STOP SEANDAINYA

ANDAI ku kini ku kunci rapat

Syukur ku tak ada kata Andai.


Dalam hukum Islam,Sangat dilarang penggunaan kata2 "SEANDAINYA/ KEBETULAN ",sebab sangat rentan,yg dapat mendekatkan kita untuk menyalahi takdir Allah SWT.


Dengan menggunakan kata "kebetulan" ini, apakah kita secara tidak langsung dan tidak sadar meniadakan pengaruh Tuhan di dalam kehidupan kita? Karena seakan-akan "kebetulan-kebetulan" itu terjadi tanpa campur tangan Tuhan?

Hukum Menggunakan Kata "Seandainya.."
Tentang seorang yang mengatakan: Seandainya dahulu Anda dahulu melakukan begini, tentu tidak akan terjadi demikian."
Orang lain yang mendengarnya berujar: "Kata-kata semacam itu sudah dilarang oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Itu kata-kata yang dapat mengiring orang yang mengucapkannya kepada kekufuran."
Lalu ada lagi yang bilang: "Tetapi dalam kisah tentang Musa dan Khidir, Nabi pernah bersabda: "Semoga Allah memberi rahmat kepada Musa. Kalaulah beliau mau bersabar, tentu Allah akan menceritakan kepada kita lanjutan kisah mereka.."
Orang yang lain lagi berdalil dengan sabda Rasulullah: "Mukmin yang kuat itu lebih baik dari mukmin yang lemah," hingga ucapan: "…karena kata "seandainya" itu membuka amalan syetan." Apakah hukum dalam hadits ini menghapus hukum dalam kisah Musa di atas atau tidak?

Semua yang dikatakan oleh Allah dan Rasul-Nya itu benar. Kata 'seandainya' itu Apabila digunakan sebagai ungkapan kesedihan menyesali yang telah lampau dan kecewa terhadap takdir, itulah yang dilarang, sebagaimana dalam firman Allah:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang:"Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh". Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam di hati mereka.." (Ali Imraan : 156)


tulah yang dilarang oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau bersabda:
"Kalau engkau tertimpa musibah, janganlah engkau mengatakan: "Kalau tadi aku lakukan begini, tentu jadinya akan begini dan begini..". Tapi katakanlah: "Sudah takdir Allah, Allah melakukan apa saja yang Dia kehendaki. Karena kata "seandainya," itu membuka pintu amalan syetan (yakni akan membuka pintu kesedihan dan kekecewaan. Yang demikian itu hanya berbahaya dan tidak bermanfaat. Tapi ketahuilah, bahwa apa saja yang menimpamu tidak akan pernah meleset. Dan segala yang meleset tidak akan pernah menimpamu. Allah berfirman:

"Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali denga izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.." (At-Taghaabun : 11)

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dalam ayat itu adalah seseorang yang tertimpa satu musibah lalu ia menyadari bahwa musibah itu berasal dari Allah, sehingga ridha dan berserahdiri.

Yang kedua, penggunaan kata "seandainya," untuk menjelaskan satu pengetahuan yang bermanfaat. Seperti firman Allah:
"Sekiranya ada di langit dan di bumi ilah-ilah selain Allah, tentulah keduanya itu sudah rusak binasa.." (Al-Anbiya : 22)

Atau untuk menunjukkan kecintaan terhadap perbuatan baik dan keinginan melakukannya. Seperti ucapan:"Kalau saja aku memiliki apa yang dimiliki oleh Fulan, tentu aku akan melakukan apa yang dia lakukan.." dan sejenisnya. Ungkapan semacam itu boleh-boleh saja. Adapun sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam: "Kalaulah beliau mau bersabar, tentu Allah akan menceritakan kepada kita lanjutan kisah mereka.." Itu termasuk jenis yang kedua. Seperti juga firman Allah:

"Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu.." (Al-Qalam : 3)

Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam akan senang dapat mencerikan kisah kedua Nabi itu. Maka beliau mengutarakan dengan kata-kata itu untuk menjelaskan kesenangan beliau bila kesabaran yang seandainya dilakukan Musa kala itu. Beliau memberitahukan manfaat yang ada dalam kesabaran itu. Tak ada unsur kekecewaan dan kesedihan dalam unggkapan beliau, juga tidak meninggalkan kewajiban bersabar terhadap takdir..Wallahu A'lam.





Bawalah raga ini ke dalamnya…
Sekali saja
Buatku tersenyum merasakannya

Sekali saja

Aku ingin seperti mereka
Tapi….


Ach, andai, seandainya
kata itu
Mencuat terus seiring langkahku.
Stop Perandaian

Tak ada itu untuk ku

Tak membawa arti untuk rasa cintaku padaNYA

STOP SEANDAINYA

ANDAI ku kini ku kunci rapat

Syukur ku tak ada kata Andai.


Dalam hukum Islam,Sangat dilarang penggunaan kata2 "SEANDAINYA/ KEBETULAN ",sebab sangat rentan,yg dapat mendekatkan kita untuk menyalahi takdir Allah SWT.


Dengan menggunakan kata "kebetulan" ini, apakah kita secara tidak langsung dan tidak sadar meniadakan pengaruh Tuhan di dalam kehidupan kita? Karena seakan-akan "kebetulan-kebetulan" itu terjadi tanpa campur tangan Tuhan?

Hukum Menggunakan Kata "Seandainya.."
Tentang seorang yang mengatakan: Seandainya dahulu Anda dahulu melakukan begini, tentu tidak akan terjadi demikian."
Orang lain yang mendengarnya berujar: "Kata-kata semacam itu sudah dilarang oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Itu kata-kata yang dapat mengiring orang yang mengucapkannya kepada kekufuran."
Lalu ada lagi yang bilang: "Tetapi dalam kisah tentang Musa dan Khidir, Nabi pernah bersabda: "Semoga Allah memberi rahmat kepada Musa. Kalaulah beliau mau bersabar, tentu Allah akan menceritakan kepada kita lanjutan kisah mereka.."
Orang yang lain lagi berdalil dengan sabda Rasulullah: "Mukmin yang kuat itu lebih baik dari mukmin yang lemah," hingga ucapan: "…karena kata "seandainya" itu membuka amalan syetan." Apakah hukum dalam hadits ini menghapus hukum dalam kisah Musa di atas atau tidak?

Semua yang dikatakan oleh Allah dan Rasul-Nya itu benar. Kata 'seandainya' itu Apabila digunakan sebagai ungkapan kesedihan menyesali yang telah lampau dan kecewa terhadap takdir, itulah yang dilarang, sebagaimana dalam firman Allah:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang:"Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh". Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam di hati mereka.." (Ali Imraan : 156)


tulah yang dilarang oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau bersabda:
"Kalau engkau tertimpa musibah, janganlah engkau mengatakan: "Kalau tadi aku lakukan begini, tentu jadinya akan begini dan begini..". Tapi katakanlah: "Sudah takdir Allah, Allah melakukan apa saja yang Dia kehendaki. Karena kata "seandainya," itu membuka pintu amalan syetan (yakni akan membuka pintu kesedihan dan kekecewaan. Yang demikian itu hanya berbahaya dan tidak bermanfaat. Tapi ketahuilah, bahwa apa saja yang menimpamu tidak akan pernah meleset. Dan segala yang meleset tidak akan pernah menimpamu. Allah berfirman:

"Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali denga izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.." (At-Taghaabun : 11)

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dalam ayat itu adalah seseorang yang tertimpa satu musibah lalu ia menyadari bahwa musibah itu berasal dari Allah, sehingga ridha dan berserahdiri.

Yang kedua, penggunaan kata "seandainya," untuk menjelaskan satu pengetahuan yang bermanfaat. Seperti firman Allah:
"Sekiranya ada di langit dan di bumi ilah-ilah selain Allah, tentulah keduanya itu sudah rusak binasa.." (Al-Anbiya : 22)

Atau untuk menunjukkan kecintaan terhadap perbuatan baik dan keinginan melakukannya. Seperti ucapan:"Kalau saja aku memiliki apa yang dimiliki oleh Fulan, tentu aku akan melakukan apa yang dia lakukan.." dan sejenisnya. Ungkapan semacam itu boleh-boleh saja. Adapun sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam: "Kalaulah beliau mau bersabar, tentu Allah akan menceritakan kepada kita lanjutan kisah mereka.." Itu termasuk jenis yang kedua. Seperti juga firman Allah:

"Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu.." (Al-Qalam : 3)

Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam akan senang dapat mencerikan kisah kedua Nabi itu. Maka beliau mengutarakan dengan kata-kata itu untuk menjelaskan kesenangan beliau bila kesabaran yang seandainya dilakukan Musa kala itu. Beliau memberitahukan manfaat yang ada dalam kesabaran itu. Tak ada unsur kekecewaan dan kesedihan dalam unggkapan beliau, juga tidak meninggalkan kewajiban bersabar terhadap takdir..Wallahu A'lam.




 
Catatan Annurshah Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template