بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Hari ini saya ingin mengajak kembali pada dunia sekolah. Dunia yang selalu ada karya wisata disetiap tahunnya, terutama untuk siswa-siswi SMA. SMP, SD, TK juga, tapi kita lihat untuk SMA dulu.
Saya ingat akan pesan status bang tere liye
Ketika Guru ikut wisata maka mereka akan mendapatkan tiket gratis. Karena keuntungan yang diperoleh dari banyaknya siswa/siswi yang ikut.
Perlu digaris bawahi memang jika ini ada unsur mengambil keuntungan. Oke secara manusia yang kaya raya mungkin tak masalah. Masalahnya adalah ketika unsur pemaksaan.
Contoh untuk adikku yang kini duduk di bangku kelas XI atau 2 SMA. Lagi-lagi setiap SMA di Kota Tegal selalu wisata ke BALI. Ada apa dengan BALI?
Dan kenyataannya ada pantai. Pantai maksiat yang terdapat BUGIL. Bukan begitu? Ya, kebanyakan dan itu menurut teman-temanku yang dulu juga ikut ke Bali. Bersyukur sekolahku dulu di SMA N 2 Tegal saat ke BALI itu tidak mewajibkan bahkan tidak memberikan tugas lain.
Sedangkan adikku nanti jika tidak ke BALI Wajib ke JOGYA jika tidak ke pabrik buat proposal. UUD ujung-ujungnya Dana/ Duit.
 |
Sumber gambar : link
|
Kenapa wajib? Mereka anak-anak kerjanya kan belajar dan menodong minta uang buat kebutuhan sekolah. Sekarang orang tua yang cape cari kerja aja boro-boro bisa jalan-jalan /rekreasi dengan mengeluarkan pengeluaran yang tak terduga. Bahkan tidak semua orang / siswa-siswi itu mampu untuk membayar.
Ada yang bilang BALI SURGANYA INDONESIA. Percaya? Bagi saya tidak, tapi sebaliknya.
Mungkin keindahan alam pantai selalu menjadi pilihan para artis luar negeri dll. Tapi satu hal meskipun saya orang Indonesia. Wisata terbaik adalah ketika anak-anak mampu mengambil pelajaran dari wisatanya tersebut.
Wisata ke museum, puncak tapi sekali lagi jangan memberatkan.
Berikut Postingan Tere Liye
Jika sekolah kalian tetap mengadakan karya wisata, maka pastikan:
1. Tidak wajib, murid berhak menolak ikut.
2. Guru2 membayar sendiri kalau ikut.
Guru2 itu punya kehormatan profesi. Jika kalian tetap merasa guru berhak ikut tanpa membayar, kita berbeda langit dan bumi memahami masalah ini. Tidak akan ketemu. Silahkan gigit pendapat kalian jika kalian merasa itu benar.
*Tere Lije
Tidak ada yang melarang sekolah melakukan karya wisata / study tour. Silahkan. Tapi pastikan tidak wajib, memaksa, bahkan mengancam murid2.
Jika sekolah kalian tidak melakukan pemaksaan itu, baik secara halus maupun secara kasar, maka itu keren sekali. Pertahankan.
Tidak ada alasan yg bisa membenarkan guru2 mewajibkan karya wisata kepada murid2nya. Tidak ada tapi, tapi, dan tapi. Pikirkanlah
"Guru adalah benteng terakhir ahklak mulia."
*Tere Lije
Apakah murid2 jadi dirugikan jika karya wisata dihapuskan?
Saya kira kalau dibatalkan malah lebih baik. Guru2 tidak perlu repot menyiapkannya, tidak perlu ngomel bilang capek, tidak perlu mengeluarkan uang utk ikut membayar karya wisata (asumsi menjaga kehormatan, memilih bayar sendiri). Orang tua murid tidak harus menyiapkan uang jauh2 hari. Mau hanya 100ribu (apalagi jutaan), tetap saja itu uang yang dipungut.
Dibatalkan saja. Bila perlu dihapus total. Sesimpel itu. Nah, kalau mau tetap karya wisata, ajak murid2nya jalan kaki biar sehat melihat sekitar sekolah sdh lebih dari cukup. Lihat pasar, lihat kebun, lihat hutan.
Atau memang karya wisata itu WAJIB sekali harus dilakukan? Jika tidak dilakukan maka ada kerugian besar? Murid2nya yg rugi? Atau guru2nya yang rugi? Coba dipikirkan.
*Tere Lije
Menulis kata2 motivasi di page ini mudah, semua orang suka. Tapi mengingatkan sesuatu, meluruskan sesuatu, sesopan apapun kalimatnya, tetap saja ada yang tersinggung.
Tidak boleh sekolah mewajibkan 'karya wisata/study tour' bagi seluruh murid2. Bahkan kalaupun itu disepakati oleh rapat guru, wali murid, dll.
Murid berhak menolak ikut jika tidak bersedia. Dan dia harus dilindungi dari 'sanksi sosial' (seperti ijasah ditahan, dll) jika menolak ikut.
*Tere Lije
**Secara massif sy akan terus mengguyur page ini dgn postingan tentang sekolah hingga beberapa hari ke depan. Kalian keliru paham jika merasa sy membenci guru2, saya bahkan menulis banyak buku ttg betapa mulianya seorang guru.
"Guru adalah benteng terakhir ahklak mulia."
Maaf jika ada kesalahan kata atau menyinggung, karena memang tidak ada unsur demikian.