Tampilkan postingan dengan label Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hidup. Tampilkan semua postingan

Anak-anak Negeri Yaman

Bismillahirrohmanirrohim..
 
Sumber gambar 1



Kisah nyata yang masyaAllah.

Apakah kalian pernah mengalami?

ketika masih sibuk membuka mushaf al quran di masjid tiba-tiba meluncur sebuah benda ke arah kalian. benda ini bukan sebuah peluru 7,62 mm dari senjata AK 47, bukan juga sebuah granat yang telah lepas kait pengamannya,akan tetapi sebuah sandal.

sandal milik seorang anak Yaman yang sedang bermain lempar-lemparan di masjid ketika mereka sedang ada dars.

kesal? marah? ingin membalas melempar mereka? sepertinya kalian harus mengurungkan niat itu,istighfar,sambil ngelus dada atau mereka akan menjadi jadi.

Apakah kalian pernah mengalami?

Ketika masih dikamar mandi umum, tiba-tiba mendarat sebuah gayung kaleng berisi air berasal dari kamar mandi sebelah,apesnya, air dalam gayung tumpah semua kebaju yang kalian pakai,tak lama setelah itu terdengar suara ketawa cekikikan anak-anak yaman.

kesal? marah? mau membalas melempar mereka? yang ada hanyalah ngedumel sendiri di kamar mandi atau mereka akan menjadi jadi.

Itu hanya sedikit kisah nyata yang pernah di alami ikhwah indonesia di Ma'bar Yaman, dan masih banyak kisah kenakalan dan "kebrutalan" anak-anak Yaman, mulai dari berkelahi ketika dars Syaikh sedang berlangsung hingga memanjat atap sakan yang terbuat dari seng sambil berlari-larian layaknya selebrasi mencetak gol,terbayang sudah,betapa gaduhnya suasana yang tinggal didalam sakan.

Hukuman untuk mereka sepertinya juga tidak ringan, sebuah 'asho yaitu tongkat kayu sebesar jempol orang dewasa yang selalu dipegang oleh mursyid.

'asho bisa mendarat di tangan, badan dan kaki mereka, tapi tidak pernah di bagian kepala.

itu kalau mereka tertangkap, kalau tidak, ya paling kejar2an sama mursyid. jangan salah,anak anak itu lebih gesit dan lincah. otomatis mereka lolos dengan mudahnya.

Pernah sekali aku merasakan 'asho, pas itu mursyid tidak sengaja memukul, terkena telapak kakiku, rasanya...hmmm lumayan. cukuplah bikin pincang berjalan beberapa detik. entah terbuat dari kayu apa itu.

Tapi semua itu hanyalah kenakalan anak-anak, tak lebih dari perbuatan seorang manusia yang belum baligh.

Yang tak ubahnya anak-anak pada umumnya,walaupun sudah berkelahi,jotos-jotosan,tendang-tendangan, kalo udah selesai ya selesai, tak terselip dendam dalam hatinya.

besoknya lagi kita lihat sudah saling bercanda kembali.

Memang, mendidik anak-anak yaman perlu perlakuan "spesial" dengan sedikit ayunan 'asho.

tapi jangan heran, anak-anak yaman juga di beri kelebihan spesial, ini merupakan fadhilah dari Allah Azza wa Jalla berupa kekuatan hafalan dan kecerdasan yang luar biasa,membuat kita berdecak kagum sambil berucap "Masyaa Allaah".

Akan banyak kalian temui anak-anak hafal al qur'an dalam waktu hitungan bulan saja. Asy Syaikh Al Imam sendiri menyelesaikan hafalan Al Quran dalam waktu 4 bulan saja,ada yang menyebutkan 6 bulan.

Hanya dengan sekali berdiri, mereka bisa menyetor puluhan hadits kepada syaikh ketika dars,lengkap dengan sanadnya.

Ingin mencoba mengetes hafalan ribuan syair Alfiyyah Ibnu Malik? mereka bisa membolak balik dari belakang ke depan.

mumtaz !
sumber gambar 2

Disebabkan keutamaan yang Allah berikan kepada Ahlul Yaman,Allah lembutkan qolbu mereka menerima kebenaran,di negeri dimana prinsip-prinsip ahlussunnah ditegakkan.

Dari Abu huroiroh beliau berkata : Rosulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda : penduduk negeri Yaman telah datang kepada kalian, mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya, Iman itu ada pada yaman, dan hikmah ada pada yaman.[ HR. Bukhari-Muslim]

Sedikit mengulang kembali kisah shahabat Rasulullah, Abu Hurairah Abdurrahman Ibnu Shakhar,beliau berasal dari kabilah Ad Daus di Yaman yang hanya bertemu dengan Rasulullah selama 4 tahun akan tetapi beliau yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah.

Dan satu hal yang tidak terlepas dari mereka sebagai seorang anak adalah fitrah. fitrah mereka yang terjaga dan masih bersih menjadi faktor pendukung yang kuat.

Mata mereka terjaga dari penglihatan yang mengundang syahwat.bagaimana tidak,jika disini seorang wanita keluar rumah tanpa cadar saja sudah dianggap aib, aib bagi agama dan kabilahnya.

Telinga mereka terjaga dari musik dan lagu-lagu ,yang sejatinya hanya melalaikan,walaupun bersyairkan islami.

mereka lebih memilih hape cina dengan soundnya yang keras agar bisa mereka tenteng kemana-kemana sambil mendengarkan murottal Maher, Ghomidy, atau Sudais.

Itulah fitrah…masih bersih.

Fitrah mereka tak teracuni dengan dongeng fiktif penuh kebohongan. Dongeng khayalan yang hanya membuat anak-anak berandai-andai bisa menghilang,bisa terbang,dan bisa melakukan hal-hal ajaib lainnya. juga cerita-cerita yang tidak jelas kebenarannya.

Mereka lebih tahu kisah tentang kepemimpinan Rasulullah, kisah tentang kesetiaan Shahabat Tholhah bin Ubaidillah yang rela menerima 90 tusukan dan sasaran panah demi melindungi Rosulullah pada waktu perang Uhud.

Coba tanya ke mereka siapa panglima perang termuda?mereka akan menjawab Usamah bin Zaid,yang usianya belum melebihi dua puluh tahun pada waktu itu.

juga mereka lebih suka kisah tentang kesabaran dan semangat ulama Baqi bin Makhlad yang rela menempuh perjalanan ke negeri Hijaz selama 20 tahun dengan berjalan kaki demi mencari ilmu syar'i.

Fitrah mereka tak terkotori dengan cerita horor dan menyeramkan yang sejatinya hanya membuat ketakutan yang dibuat-buat sendiri,yang hanya membuat paranoid kemudian menjelma menjadi bermacam-macam pikiran absurd.

kejadian seseorang yang kesurupan jin disini menjadi semacam tontonan asyik buat mereka,sampai sampai Mursyid harus turun tangan untuk membubarkan mereka.

setiap ada jenazah yang selesai dimandikan dan dikafani,mereka sudah menunggu diluar dan tak sabar untuk melihatnya.

mereka melewati jalan ke arah markiz ratusan meter di malam gelap gulita tanpa penerangan sama sekali tanpa ada rasa takut sedikitpun.

Begitulah,hingga akhirnya mereka tumbuh dewasa dengan fitrah yang masih bersih dengan bimbingan agama yang kuat.

kenakalan yang dulu ada menjadi sebuah kematangan jiwa dan keberanian. kebrutalan yang dulu ada menjadi kesetiaan dan kesabaran.

Seperti tidak berlebihan ketika ada seorang ikhwah indonesia yang saking jengkelnya dengan tingkah laku anak-anak berkata dengan guyon " biarin aja,kecil-kecil nakal,besarnya jadi 'Ulama itu...hehee "

Itulah FITRAH....

- Nas alullaha assalamah wal tsabaat 'ala rosyad.
25 Ramadhan 1434H, Ba'da Shubuh di ghurfah atas masjid, Ma'bar Yaman.
 
Satu lagi yang baru saya lihat cukup menakjubkan Masya Allah, melihat video ini. 
 
 


 
 
Sumber : Facebook dan Youtube.

Pelajaran Berharga lagi bagi kita, para penerus generasi terbaik aamiin. 
 
Annur El Karimah
Bismillahirrohmanirrohim..
 
Sumber gambar 1



Kisah nyata yang masyaAllah.

Apakah kalian pernah mengalami?

ketika masih sibuk membuka mushaf al quran di masjid tiba-tiba meluncur sebuah benda ke arah kalian. benda ini bukan sebuah peluru 7,62 mm dari senjata AK 47, bukan juga sebuah granat yang telah lepas kait pengamannya,akan tetapi sebuah sandal.

sandal milik seorang anak Yaman yang sedang bermain lempar-lemparan di masjid ketika mereka sedang ada dars.

kesal? marah? ingin membalas melempar mereka? sepertinya kalian harus mengurungkan niat itu,istighfar,sambil ngelus dada atau mereka akan menjadi jadi.

Apakah kalian pernah mengalami?

Ketika masih dikamar mandi umum, tiba-tiba mendarat sebuah gayung kaleng berisi air berasal dari kamar mandi sebelah,apesnya, air dalam gayung tumpah semua kebaju yang kalian pakai,tak lama setelah itu terdengar suara ketawa cekikikan anak-anak yaman.

kesal? marah? mau membalas melempar mereka? yang ada hanyalah ngedumel sendiri di kamar mandi atau mereka akan menjadi jadi.

Itu hanya sedikit kisah nyata yang pernah di alami ikhwah indonesia di Ma'bar Yaman, dan masih banyak kisah kenakalan dan "kebrutalan" anak-anak Yaman, mulai dari berkelahi ketika dars Syaikh sedang berlangsung hingga memanjat atap sakan yang terbuat dari seng sambil berlari-larian layaknya selebrasi mencetak gol,terbayang sudah,betapa gaduhnya suasana yang tinggal didalam sakan.

Hukuman untuk mereka sepertinya juga tidak ringan, sebuah 'asho yaitu tongkat kayu sebesar jempol orang dewasa yang selalu dipegang oleh mursyid.

'asho bisa mendarat di tangan, badan dan kaki mereka, tapi tidak pernah di bagian kepala.

itu kalau mereka tertangkap, kalau tidak, ya paling kejar2an sama mursyid. jangan salah,anak anak itu lebih gesit dan lincah. otomatis mereka lolos dengan mudahnya.

Pernah sekali aku merasakan 'asho, pas itu mursyid tidak sengaja memukul, terkena telapak kakiku, rasanya...hmmm lumayan. cukuplah bikin pincang berjalan beberapa detik. entah terbuat dari kayu apa itu.

Tapi semua itu hanyalah kenakalan anak-anak, tak lebih dari perbuatan seorang manusia yang belum baligh.

Yang tak ubahnya anak-anak pada umumnya,walaupun sudah berkelahi,jotos-jotosan,tendang-tendangan, kalo udah selesai ya selesai, tak terselip dendam dalam hatinya.

besoknya lagi kita lihat sudah saling bercanda kembali.

Memang, mendidik anak-anak yaman perlu perlakuan "spesial" dengan sedikit ayunan 'asho.

tapi jangan heran, anak-anak yaman juga di beri kelebihan spesial, ini merupakan fadhilah dari Allah Azza wa Jalla berupa kekuatan hafalan dan kecerdasan yang luar biasa,membuat kita berdecak kagum sambil berucap "Masyaa Allaah".

Akan banyak kalian temui anak-anak hafal al qur'an dalam waktu hitungan bulan saja. Asy Syaikh Al Imam sendiri menyelesaikan hafalan Al Quran dalam waktu 4 bulan saja,ada yang menyebutkan 6 bulan.

Hanya dengan sekali berdiri, mereka bisa menyetor puluhan hadits kepada syaikh ketika dars,lengkap dengan sanadnya.

Ingin mencoba mengetes hafalan ribuan syair Alfiyyah Ibnu Malik? mereka bisa membolak balik dari belakang ke depan.

mumtaz !
sumber gambar 2

Disebabkan keutamaan yang Allah berikan kepada Ahlul Yaman,Allah lembutkan qolbu mereka menerima kebenaran,di negeri dimana prinsip-prinsip ahlussunnah ditegakkan.

Dari Abu huroiroh beliau berkata : Rosulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda : penduduk negeri Yaman telah datang kepada kalian, mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya, Iman itu ada pada yaman, dan hikmah ada pada yaman.[ HR. Bukhari-Muslim]

Sedikit mengulang kembali kisah shahabat Rasulullah, Abu Hurairah Abdurrahman Ibnu Shakhar,beliau berasal dari kabilah Ad Daus di Yaman yang hanya bertemu dengan Rasulullah selama 4 tahun akan tetapi beliau yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah.

Dan satu hal yang tidak terlepas dari mereka sebagai seorang anak adalah fitrah. fitrah mereka yang terjaga dan masih bersih menjadi faktor pendukung yang kuat.

Mata mereka terjaga dari penglihatan yang mengundang syahwat.bagaimana tidak,jika disini seorang wanita keluar rumah tanpa cadar saja sudah dianggap aib, aib bagi agama dan kabilahnya.

Telinga mereka terjaga dari musik dan lagu-lagu ,yang sejatinya hanya melalaikan,walaupun bersyairkan islami.

mereka lebih memilih hape cina dengan soundnya yang keras agar bisa mereka tenteng kemana-kemana sambil mendengarkan murottal Maher, Ghomidy, atau Sudais.

Itulah fitrah…masih bersih.

Fitrah mereka tak teracuni dengan dongeng fiktif penuh kebohongan. Dongeng khayalan yang hanya membuat anak-anak berandai-andai bisa menghilang,bisa terbang,dan bisa melakukan hal-hal ajaib lainnya. juga cerita-cerita yang tidak jelas kebenarannya.

Mereka lebih tahu kisah tentang kepemimpinan Rasulullah, kisah tentang kesetiaan Shahabat Tholhah bin Ubaidillah yang rela menerima 90 tusukan dan sasaran panah demi melindungi Rosulullah pada waktu perang Uhud.

Coba tanya ke mereka siapa panglima perang termuda?mereka akan menjawab Usamah bin Zaid,yang usianya belum melebihi dua puluh tahun pada waktu itu.

juga mereka lebih suka kisah tentang kesabaran dan semangat ulama Baqi bin Makhlad yang rela menempuh perjalanan ke negeri Hijaz selama 20 tahun dengan berjalan kaki demi mencari ilmu syar'i.

Fitrah mereka tak terkotori dengan cerita horor dan menyeramkan yang sejatinya hanya membuat ketakutan yang dibuat-buat sendiri,yang hanya membuat paranoid kemudian menjelma menjadi bermacam-macam pikiran absurd.

kejadian seseorang yang kesurupan jin disini menjadi semacam tontonan asyik buat mereka,sampai sampai Mursyid harus turun tangan untuk membubarkan mereka.

setiap ada jenazah yang selesai dimandikan dan dikafani,mereka sudah menunggu diluar dan tak sabar untuk melihatnya.

mereka melewati jalan ke arah markiz ratusan meter di malam gelap gulita tanpa penerangan sama sekali tanpa ada rasa takut sedikitpun.

Begitulah,hingga akhirnya mereka tumbuh dewasa dengan fitrah yang masih bersih dengan bimbingan agama yang kuat.

kenakalan yang dulu ada menjadi sebuah kematangan jiwa dan keberanian. kebrutalan yang dulu ada menjadi kesetiaan dan kesabaran.

Seperti tidak berlebihan ketika ada seorang ikhwah indonesia yang saking jengkelnya dengan tingkah laku anak-anak berkata dengan guyon " biarin aja,kecil-kecil nakal,besarnya jadi 'Ulama itu...hehee "

Itulah FITRAH....

- Nas alullaha assalamah wal tsabaat 'ala rosyad.
25 Ramadhan 1434H, Ba'da Shubuh di ghurfah atas masjid, Ma'bar Yaman.
 
Satu lagi yang baru saya lihat cukup menakjubkan Masya Allah, melihat video ini. 
 
 


 
 
Sumber : Facebook dan Youtube.

Pelajaran Berharga lagi bagi kita, para penerus generasi terbaik aamiin. 
 
Annur El Karimah

Hikmah Minoritas Muslim

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ


Memandang negeri seberang, lalu menyeberangi lagi. Lalu menyisiri lagi. Mencari keberadaan wajah-wajah Islam di negeri mayoritas non muslim sudah menyedot perhatianku. Tayangan di TV "JAZIRAH ISLAM" ini membuatku tersenyum bahkan begitu bangga menjadi warga INDONESIA MUSLIM. 

Jika kita melihat dari negara satu ke negara lain, pasti ada yang berbeda. Bahkan kita bisa melihat ada beberapa daerah yang benar-benar muslimah sudah berhijab namun terpaksa kembali mengurai rambut dengan memakai kepala. Karena mereka dianggap berbahaya bagi daerah Mayoritas Nonis. 

Bahkan yang menarik perhatianku adalah lagi-lagi seorang jurnalis wanita nonis yang akhirnya ia menjadi mualaf dan berhijab. 
Ya, seperti kita tahu, hijab yang mereka kenakan hanya kerudung biasa yang di peniti lalu di lilit saja. Saya tetap salut, karena bagaimanapun Ia sudah berusaha menutup aurat dan tidak bersikap berlebihan dalam berpakaian. Karena tugasnya sebagai jurnalis meliput beberapa orang yang justru bukan muslim, itu bukan menjadi kendala. Bahkan ia sempat dicurigai beberapa orang hingga diintrogasi dari ujung kaki ke ujung kepala. Dan alhamdulillah, Islam selalu mengajarkan ilmu kepada manusia yang selalu mencari ilmu. Dia bebas untuk melanjutkan pekerjaannya kembali. Dan Allah bersama hamba2Nya yang taat.

Lantas bagaimana dengan Indonesia yang mayoritas muslim? berhijab itu bukanlah halangan bahkan sudah dibebaskan, dari mulai yang berkerudung biasa hingga cadar, Subhanallah ini menjadi hal yang luar biasa. Kita bebas memerankan diri ini sebagai hamba yang taat semata-mata karena kewajiban. 

Namun nyatanya? ini menjadi kendala bagi mereka yang justru muslim sejak kecil. Mereka yang minoritas berani mengambil resiko hijab jika ia dibenci. Lantas kita yang diberikan kebebasan? masih tak sanggup atau malu untuk menutup aurat?

Kalaupun tidak menutup aurat setidaknya kemajuan pada ilmu agama bisakah? tidak seimbang memang, tapi nyata di negeri Meksiko sana ibu-ibu modern meski mereka tidak menutup kepalanya, mereka masih berusaha meluangkan waktunya belajar Al-qur'an rutin, hingga mampu mengajarkannya pada anak-anak mereka. 

Bahkan di negeri sana, ada seornag jurnalis non muslim yang mengoleksi Al-qur'an hingga mengajak tetangga berbuka puasa bersama di rumahnya. Persis kayak kisahnya #Ayat-ayat cinta karya Habiburrahman E.Z. lho.

Lantas tetangga kita, adik kita, kakak kita, saudara-saudara kita? nutup aurat ogah, ngaji katanya malas. Asikan nonton TV. hem...

TV Indonesia di tonton terus capek, banyak sinetron para pemainnya kan berkiblat barat.  Ikhtilat otomatis, ya sudah kita berkiblatnya nanti TV terus. 
Yuk kawan saudara-saudariku, kumpul sama orang islam belajar ilmu agama, saling melengkapi, saling menyayangi. 

Islam itu bukan agama saja, tapi sistem yang mengatur kehidupan kita di dunia untuk menuju kehidupan sesungguhnya di akhirat. Negeri Islam akan tegak, karena umatnya juga menegakkan bukan melumpuhkan. 

Yuk, semangat hijab yah. Mumpung masih di bumi Indonesia lho. 

Teman-teman nonton jazirah Islam juga ya. Semoga kalian bisa memetik hikmah Islam yang minoritas di negeri mayoritas non muslim. 

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. Q.S Fussilat ayat 30


Masih dalam bulan Ramadhan. 
Memetik hikmah dari tayangan yang baik, bukan yang tidak baik. Insha Allah.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ


Memandang negeri seberang, lalu menyeberangi lagi. Lalu menyisiri lagi. Mencari keberadaan wajah-wajah Islam di negeri mayoritas non muslim sudah menyedot perhatianku. Tayangan di TV "JAZIRAH ISLAM" ini membuatku tersenyum bahkan begitu bangga menjadi warga INDONESIA MUSLIM. 

Jika kita melihat dari negara satu ke negara lain, pasti ada yang berbeda. Bahkan kita bisa melihat ada beberapa daerah yang benar-benar muslimah sudah berhijab namun terpaksa kembali mengurai rambut dengan memakai kepala. Karena mereka dianggap berbahaya bagi daerah Mayoritas Nonis. 

Bahkan yang menarik perhatianku adalah lagi-lagi seorang jurnalis wanita nonis yang akhirnya ia menjadi mualaf dan berhijab. 
Ya, seperti kita tahu, hijab yang mereka kenakan hanya kerudung biasa yang di peniti lalu di lilit saja. Saya tetap salut, karena bagaimanapun Ia sudah berusaha menutup aurat dan tidak bersikap berlebihan dalam berpakaian. Karena tugasnya sebagai jurnalis meliput beberapa orang yang justru bukan muslim, itu bukan menjadi kendala. Bahkan ia sempat dicurigai beberapa orang hingga diintrogasi dari ujung kaki ke ujung kepala. Dan alhamdulillah, Islam selalu mengajarkan ilmu kepada manusia yang selalu mencari ilmu. Dia bebas untuk melanjutkan pekerjaannya kembali. Dan Allah bersama hamba2Nya yang taat.

Lantas bagaimana dengan Indonesia yang mayoritas muslim? berhijab itu bukanlah halangan bahkan sudah dibebaskan, dari mulai yang berkerudung biasa hingga cadar, Subhanallah ini menjadi hal yang luar biasa. Kita bebas memerankan diri ini sebagai hamba yang taat semata-mata karena kewajiban. 

Namun nyatanya? ini menjadi kendala bagi mereka yang justru muslim sejak kecil. Mereka yang minoritas berani mengambil resiko hijab jika ia dibenci. Lantas kita yang diberikan kebebasan? masih tak sanggup atau malu untuk menutup aurat?

Kalaupun tidak menutup aurat setidaknya kemajuan pada ilmu agama bisakah? tidak seimbang memang, tapi nyata di negeri Meksiko sana ibu-ibu modern meski mereka tidak menutup kepalanya, mereka masih berusaha meluangkan waktunya belajar Al-qur'an rutin, hingga mampu mengajarkannya pada anak-anak mereka. 

Bahkan di negeri sana, ada seornag jurnalis non muslim yang mengoleksi Al-qur'an hingga mengajak tetangga berbuka puasa bersama di rumahnya. Persis kayak kisahnya #Ayat-ayat cinta karya Habiburrahman E.Z. lho.

Lantas tetangga kita, adik kita, kakak kita, saudara-saudara kita? nutup aurat ogah, ngaji katanya malas. Asikan nonton TV. hem...

TV Indonesia di tonton terus capek, banyak sinetron para pemainnya kan berkiblat barat.  Ikhtilat otomatis, ya sudah kita berkiblatnya nanti TV terus. 
Yuk kawan saudara-saudariku, kumpul sama orang islam belajar ilmu agama, saling melengkapi, saling menyayangi. 

Islam itu bukan agama saja, tapi sistem yang mengatur kehidupan kita di dunia untuk menuju kehidupan sesungguhnya di akhirat. Negeri Islam akan tegak, karena umatnya juga menegakkan bukan melumpuhkan. 

Yuk, semangat hijab yah. Mumpung masih di bumi Indonesia lho. 

Teman-teman nonton jazirah Islam juga ya. Semoga kalian bisa memetik hikmah Islam yang minoritas di negeri mayoritas non muslim. 

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. Q.S Fussilat ayat 30


Masih dalam bulan Ramadhan. 
Memetik hikmah dari tayangan yang baik, bukan yang tidak baik. Insha Allah.

Ambilah Kesempatan


sumber : Google

Dalam sebuah kelas pelatihan, saya mengambil selembar kertas polos kemudian menggunting-guntingnya menjadi beberapa bagian. Ada guntingan besar ada juga yang kecil. Tapi jumlahnya sengaja saya buat tak sama dengan jumlah peserta dalam kelas itu, dua puluh orang. 

Kemudian saya meminta kepada peserta untuk mengambil masing-masing satu guntingan kertas yang tersedia di meja depan. "Silahkan ambil satu!" demikian instruksi yang saya berikan.
Dapat diduga, ada yang antusias maju dengan gerak cepat dan mengambil bagiannya, ada yang berjalan santai, ada juga yang meminta bantuan temannya untuk mengambilkan. Dua tiga orang bahkan terlihat bermalasan untuk mengambil, mereka berpikir toh semuanya kebagian guntingan kertas tersebut. 

Hasilnya? Empat orang terakhir tak mendapatkan guntingan kertas. Delapan orang pertama ke depan mendapatkan guntingan besar-besar, yang berjalan santai dan yang meminta diambilkan harus rela mendapatkan yang kecil.

Lalu saya katakan kepada mereka, "Inilah hidup! Kamu ambil kesempatan yang tersedia atau kamu akan kehilangan kesempatan itu. Jika kamu tak melakukannya, akan banyak orang lain yang melakukannya."

Pagi ini di kereta saya mendapati seorang wanita hamil yang berdiri agak jauh. Saya sempat berpikir bahwa orang yang paling dekat lah yang `wajib' memberinya tempat duduk. Tapi sedetik kemudian saya bangun dan segera memanggil ibu itu untuk duduk. Ini perbuatan baik, jika saya tak mengambil kesempatan ini orang lainlah yang melakukannya. Dan belum tentu esok hari saya masih memiliki kesempatan seperti ini.

Soal rezeki misalnya, saya percaya ia tak pernah datang sendiri menghampiri orang-orang yang lelap tertidur meski matahari sudah terik. "Bangun pagi, rezekinya dipatok ayam tuh!" Orang tua dulu sering berucap seperti itu. Dan entah kenapa hingga detik ini saya tak pernah bisa menyanggah ucapan orangtua perihal rezeki itu. Saya percaya bahwa orang-orang yang lebih cepat berupaya meraihnya lah yang memiliki kesempatan untuk mendapatkan rezeki yang lebih banyak. Sementara mereka yang bersantai-santai atau bahkan bermalas-malasan, ada kemungkinan kehabisan rezeki.

Saya sering mendengar teman saya berkomentar negatif tentang apa yang dikerjakan orang lain, "Ah, kalau cuma tulisan begini sih saya juga bisa melakukannya" atau "Saya bisa melakukan yang lebih baik dari orang itu". Kepadanya saya katakan, saya yakin kamu bisa melakukannya. Masalahnya, sejak tadi saya hanya melihat kamu terus berbicara dan tak melakukan apa pun.

Sementara orang-orang di luar sana langsung berbuat tanpa perlu banyak bicara. Buktikan, jika kita sanggup! Terus berbicara dan mengomentari hasil kerja orang lain tidak akan membuat kita diakui keberadaannya. Hanya orang-orang yang berbuatlah yang diakui keberadaannya. 

Kepada peserta di kelas pelatihan tersebut saya jelaskan, simulasi tadi juga berlaku untuk urusan ibadah. Saya tidak berhak mengatakan bahwa orang yang lebih tepat waktu akan mendapatkan pahala lebih besar, karena itu hak Allah dan juga tergantung dengan kualitas ibadahnya itu sendiri.

Tapi bukankah setiap orang tua akan lebih menyukai anaknya yang tanggap dan cepat menghampiri ketika dipanggil ketimbang anak lainnya yang menunda-nunda? Jika demikian, buatlah Allah suka kepada kita dengan kesigapan. Bisa jadi, suka menjadi awal dari cinta-Nya untuk kita. Semoga.


Sumber : ->> artikelmotivasi.blogspot.com/ 

Saat membaca ini, kayaknya wajib share hehe... 
Hari gini gak ambil kesempatan positif, duh pasti rugi banget. 
Belajar dari cerita diatas yuk. 


sumber : Google

Dalam sebuah kelas pelatihan, saya mengambil selembar kertas polos kemudian menggunting-guntingnya menjadi beberapa bagian. Ada guntingan besar ada juga yang kecil. Tapi jumlahnya sengaja saya buat tak sama dengan jumlah peserta dalam kelas itu, dua puluh orang. 

Kemudian saya meminta kepada peserta untuk mengambil masing-masing satu guntingan kertas yang tersedia di meja depan. "Silahkan ambil satu!" demikian instruksi yang saya berikan.
Dapat diduga, ada yang antusias maju dengan gerak cepat dan mengambil bagiannya, ada yang berjalan santai, ada juga yang meminta bantuan temannya untuk mengambilkan. Dua tiga orang bahkan terlihat bermalasan untuk mengambil, mereka berpikir toh semuanya kebagian guntingan kertas tersebut. 

Hasilnya? Empat orang terakhir tak mendapatkan guntingan kertas. Delapan orang pertama ke depan mendapatkan guntingan besar-besar, yang berjalan santai dan yang meminta diambilkan harus rela mendapatkan yang kecil.

Lalu saya katakan kepada mereka, "Inilah hidup! Kamu ambil kesempatan yang tersedia atau kamu akan kehilangan kesempatan itu. Jika kamu tak melakukannya, akan banyak orang lain yang melakukannya."

Pagi ini di kereta saya mendapati seorang wanita hamil yang berdiri agak jauh. Saya sempat berpikir bahwa orang yang paling dekat lah yang `wajib' memberinya tempat duduk. Tapi sedetik kemudian saya bangun dan segera memanggil ibu itu untuk duduk. Ini perbuatan baik, jika saya tak mengambil kesempatan ini orang lainlah yang melakukannya. Dan belum tentu esok hari saya masih memiliki kesempatan seperti ini.

Soal rezeki misalnya, saya percaya ia tak pernah datang sendiri menghampiri orang-orang yang lelap tertidur meski matahari sudah terik. "Bangun pagi, rezekinya dipatok ayam tuh!" Orang tua dulu sering berucap seperti itu. Dan entah kenapa hingga detik ini saya tak pernah bisa menyanggah ucapan orangtua perihal rezeki itu. Saya percaya bahwa orang-orang yang lebih cepat berupaya meraihnya lah yang memiliki kesempatan untuk mendapatkan rezeki yang lebih banyak. Sementara mereka yang bersantai-santai atau bahkan bermalas-malasan, ada kemungkinan kehabisan rezeki.

Saya sering mendengar teman saya berkomentar negatif tentang apa yang dikerjakan orang lain, "Ah, kalau cuma tulisan begini sih saya juga bisa melakukannya" atau "Saya bisa melakukan yang lebih baik dari orang itu". Kepadanya saya katakan, saya yakin kamu bisa melakukannya. Masalahnya, sejak tadi saya hanya melihat kamu terus berbicara dan tak melakukan apa pun.

Sementara orang-orang di luar sana langsung berbuat tanpa perlu banyak bicara. Buktikan, jika kita sanggup! Terus berbicara dan mengomentari hasil kerja orang lain tidak akan membuat kita diakui keberadaannya. Hanya orang-orang yang berbuatlah yang diakui keberadaannya. 

Kepada peserta di kelas pelatihan tersebut saya jelaskan, simulasi tadi juga berlaku untuk urusan ibadah. Saya tidak berhak mengatakan bahwa orang yang lebih tepat waktu akan mendapatkan pahala lebih besar, karena itu hak Allah dan juga tergantung dengan kualitas ibadahnya itu sendiri.

Tapi bukankah setiap orang tua akan lebih menyukai anaknya yang tanggap dan cepat menghampiri ketika dipanggil ketimbang anak lainnya yang menunda-nunda? Jika demikian, buatlah Allah suka kepada kita dengan kesigapan. Bisa jadi, suka menjadi awal dari cinta-Nya untuk kita. Semoga.


Sumber : ->> artikelmotivasi.blogspot.com/ 

Saat membaca ini, kayaknya wajib share hehe... 
Hari gini gak ambil kesempatan positif, duh pasti rugi banget. 
Belajar dari cerita diatas yuk. 

Cinta bukan milik kita





















Selama daun itu masih berguguran 
Selama itu pula angin masih terus berhembus


Masih terngiang dalam ingatanku. Aku memikirkan cerita yang begitu syahdu penuh haru. Bagaimana tidak, jika ku bicarakan pada semua yang memiliki rasa yang sama sepertiku pasti akan berceloteh dengan hati yang sama. 


Ini kisah tentang teman, kisah yang begitu tak pernah ku pikirkan sebelumnya disaat perjumpaan baru selama 4 tahun kita tak bertatap muka bahkan hanya beberapa tulisan yang mengiringi perjalanan kita melalui pesan singkat. 
Jam berputar begitu cepat. Waktu yang dirasa cukup untuk berbicara itu tak bisa kurasakan untuk menanyakan apa yang terjadi dalam hatinya hingga peristiwa ini terjadi. 

“Melepas masa lajang begitu indahnya kawan, jadi ingin cepat-cepat seperti dia”

Sms itu ku terima begitu cepat saat kami sedang berjanjian akan bertemu di lokasi utama sebelum meluncur ke acara pernikahan seorang teman SMA. 

“iya, insya Allah ada jalannya”
Ku balas dengan singkat saja.

Kemudian waktu mempertemukan kita dengan cepat. 

   Aku bersalaman dengannya, tangannya begitu dingin wajahnya yang berbeda ku pandang begitu teduh ku rasakan dalam indera perasaku. 
     Kacamata yang selalu menempel pada kulit matanya dan terjepit kedua telinga itu masih ada. Namun tidak seperti dulu yang ku anggap kutu buku bahkan seperti orang yang kurang pergaulan. 
    Rambut pendek dan kacamata itu kini merubah penampilannya menjadi wanita yang pemalu, malu dengan auratnya yang sesumbar seperti dulu. Kini lebih merapat menutup yang diharuskan. Aku senang rasanya karena tak semua orang sama dan selalu buruk dimata kita. 

Perbincangan dimulai saat aku menunggu teman yang akan bersamaan berangkat ke tempat yang dituju. 

“dia begitu mudah mendapatkannya yah, padahal terlalu ekstrim juga mendapatkan jodoh lewat facebook”

“iyalah, bagiku tidak mudah juga untuk menyatakan siap”

“tapi mau bagaimana lagi, jalannya mungkin seperti itu yah Mi”

“benar sekali, ku rasa sepertinya unik. Rahasia takkan pernah terbongkar”

“kalau aku sebenarnya sudah ada yang melamar tapi….”

“tapi kenapa? Lho kok?” 
Aku mencari-cari sesuatu dimatanya. Matanya sekilas sendu itu mulai meredup perlahan menghujam ke tanah kering. 

“yah jodoh tak bisa ditebak”

“ya memang kan? Bukannya seperti itu?” aku semakin penasaran lalu berusaha mendengar suara batinnya yang mulai berkicau kebenaran tanpa ragu. 

“kalau ibuku tak merestui hubunganku. Padahal ada yang melamarku”

“kenapa? Ada alas an tersendiri?” 

“dia hanya lulusan SMA. Padahal aku sih oke-oke saja” jawabnya singkat.

“ya, kalau oke kenapa tidak mendapat restu? Jalan kan sudah terang tinggal bawa lampu bohlan yang terang 20 watt” ledekku menghibur dirinya.

“tapi kan aku S1 Mi, dia Cuma SMA. Padahal ya aku tak masalah fine saja. Tapi ibuku tak boleh lalu harus bagaimana lagi”

“astaghfirullah batinku merajam, seperti aku yang tertusuk duri. Padahal orang lain. Kurasakan bagaimana perasaan lelaki tersebut jika memang kebenaran itu terdengar begitu jelas dalam indera pendengarannya” batinku sambil tersenyum memandang kendaraan yang lalu lalang.

“yah, dia orang tuamu pastinya hormati keputusan ibumu. Daripada harus bertengkar yah? Namun tak ada salahnya jika semua keputusan berharap padaNya”

“iya dia kan ibuku, masa aku mau durhaka padanya?” jawabnya masih dengan mata menghujam menatap tanah kering.

***


    Percakapanku singkat hanya saja menuai kritik dari ku. Seingatku bukan jaman siti nurbaya saja yang menuai kritik. 
Hatinya pasti mulai dalam kegamangan, jika suatu hari ada lelaki yang berpendidikan sama melamar lagi, atau bahkan lebih rendah dari dugaannya. 
Jika berontak itu ada, tak mungkin Ukhti yang shalihah itu berusaha sekuat baja setegar karang menghadapi jalan yang terjal. 

Islam telah berkembang pesat. Wanita mana yang tak mau dinikahi lelaki sholeh. Bahkan sebaliknya lelaki yang sholeh itu segera ingin mendapatkan wanita shalehah.

Apakah pengharapan yang ada pada jantung hati seorang ibu? 
Apakah yang berperan besar dihadapan mata sang ibu?
Sekejap angin berlalu, aku benar-benar tak percaya. Sampai kapan ia berjalan diatas Cahaya yang begitu indah diatas CahayaNya. Jika masih sulit menerangi cahaya kecil yang senantiasa membuat hatinya tenang bersemanyam dalam istana kecilNya. Rumah kecil itu perlu diberikan cahaya yang indah, rumah itu bukan hanya saja atap, kasur, dan perabotan yang serba lengkap dan mewah. Tapi hati yang berada dalam hunian tersebut. 

Hati ibu yang masih terbawa arus gelombang dunia nyata. 
Hati ibu yang masih memegang teguh pendirian yang salah
Hati ibu yang masih bermuara pada egois semata. 

Padahal hati ibu yang masih ingin dipeluk buah hatinya dengan penuh kasih sayang.
Pelajaran berharga untuk kita terutama diriku sendiri, menghadapi kasus seperti ini. Jika belum bisa ibuku menghargai keputusanku seperti dia bagaimana?
Jalan dakwah ini memang masih panjang. Terutama kepada keluarga yang benar-benar membesarkan kita dengan penuh kasih sayang. Kepada merekalah jalan cinta itu harus ditegakkan.

Cinta ini memang bukan milik kita
Karena itu tak perlu hadir sebelah hati dengan perasaan sedih
Takdir tak akan mengubah kepahitan melainkan hikmah dalam suatu pernghargaan besar.
“Saat HARAPAN tidak sesuai dengan KENYATAAN”. Karena Allah tahu, bahwa itu bukanlah yang terbaik untuk kita, kemudian Ia mengganti rencana kita dengan rencanaNya yang jauh lebih sempurna. 

Allah pun berfirman: Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. 
(QS Al Baqarah 216).

Banyak pelajaran yang saya petik darinya. Antara berusaha sekuat tenaga meyakinkan orangtua atau menghancurkan kepercayaan padaNya. 
Sulit benar-benar sulit bagiku. 

Semoga ukhti yang baik hati sepertimu selalu mendo’kan Ibunya agar ia mudah mengerti, memahami dan merasakan rasa yang sama sepertimu. 
Do’aku menyertaimu ukht…..



Cinta bukan milik kita
Cinta itu sudah kehendakNya
Cinta itu milik Penguasa Alam Semesta
Hari ini esok dan seterusnya tak ada yang tahu 
Setiap perjumpaan pasti ada perpisahan



Kata Saiyidina Umar: “...waspadalah jangan terpijak atau memijak onak dan duri…” Jangan kau kutip lagi serpihan kaca. Sabarlah hingga kau temukan permata…?

Lihatlah takdir sebagai waktu terindah, jika kelak kita berjumpa dengan masa sulit maka pikirkanlah cinta itu bukan milik kita ya akhi ya ukhti 
Allah Sang Pencipta mendengar serpihan rindumu padaNya. 


 “Tulisan ini diikutsertakan pada Monilando’s First Giveaway 





















Selama daun itu masih berguguran 
Selama itu pula angin masih terus berhembus


Masih terngiang dalam ingatanku. Aku memikirkan cerita yang begitu syahdu penuh haru. Bagaimana tidak, jika ku bicarakan pada semua yang memiliki rasa yang sama sepertiku pasti akan berceloteh dengan hati yang sama. 


Ini kisah tentang teman, kisah yang begitu tak pernah ku pikirkan sebelumnya disaat perjumpaan baru selama 4 tahun kita tak bertatap muka bahkan hanya beberapa tulisan yang mengiringi perjalanan kita melalui pesan singkat. 
Jam berputar begitu cepat. Waktu yang dirasa cukup untuk berbicara itu tak bisa kurasakan untuk menanyakan apa yang terjadi dalam hatinya hingga peristiwa ini terjadi. 

“Melepas masa lajang begitu indahnya kawan, jadi ingin cepat-cepat seperti dia”

Sms itu ku terima begitu cepat saat kami sedang berjanjian akan bertemu di lokasi utama sebelum meluncur ke acara pernikahan seorang teman SMA. 

“iya, insya Allah ada jalannya”
Ku balas dengan singkat saja.

Kemudian waktu mempertemukan kita dengan cepat. 

   Aku bersalaman dengannya, tangannya begitu dingin wajahnya yang berbeda ku pandang begitu teduh ku rasakan dalam indera perasaku. 
     Kacamata yang selalu menempel pada kulit matanya dan terjepit kedua telinga itu masih ada. Namun tidak seperti dulu yang ku anggap kutu buku bahkan seperti orang yang kurang pergaulan. 
    Rambut pendek dan kacamata itu kini merubah penampilannya menjadi wanita yang pemalu, malu dengan auratnya yang sesumbar seperti dulu. Kini lebih merapat menutup yang diharuskan. Aku senang rasanya karena tak semua orang sama dan selalu buruk dimata kita. 

Perbincangan dimulai saat aku menunggu teman yang akan bersamaan berangkat ke tempat yang dituju. 

“dia begitu mudah mendapatkannya yah, padahal terlalu ekstrim juga mendapatkan jodoh lewat facebook”

“iyalah, bagiku tidak mudah juga untuk menyatakan siap”

“tapi mau bagaimana lagi, jalannya mungkin seperti itu yah Mi”

“benar sekali, ku rasa sepertinya unik. Rahasia takkan pernah terbongkar”

“kalau aku sebenarnya sudah ada yang melamar tapi….”

“tapi kenapa? Lho kok?” 
Aku mencari-cari sesuatu dimatanya. Matanya sekilas sendu itu mulai meredup perlahan menghujam ke tanah kering. 

“yah jodoh tak bisa ditebak”

“ya memang kan? Bukannya seperti itu?” aku semakin penasaran lalu berusaha mendengar suara batinnya yang mulai berkicau kebenaran tanpa ragu. 

“kalau ibuku tak merestui hubunganku. Padahal ada yang melamarku”

“kenapa? Ada alas an tersendiri?” 

“dia hanya lulusan SMA. Padahal aku sih oke-oke saja” jawabnya singkat.

“ya, kalau oke kenapa tidak mendapat restu? Jalan kan sudah terang tinggal bawa lampu bohlan yang terang 20 watt” ledekku menghibur dirinya.

“tapi kan aku S1 Mi, dia Cuma SMA. Padahal ya aku tak masalah fine saja. Tapi ibuku tak boleh lalu harus bagaimana lagi”

“astaghfirullah batinku merajam, seperti aku yang tertusuk duri. Padahal orang lain. Kurasakan bagaimana perasaan lelaki tersebut jika memang kebenaran itu terdengar begitu jelas dalam indera pendengarannya” batinku sambil tersenyum memandang kendaraan yang lalu lalang.

“yah, dia orang tuamu pastinya hormati keputusan ibumu. Daripada harus bertengkar yah? Namun tak ada salahnya jika semua keputusan berharap padaNya”

“iya dia kan ibuku, masa aku mau durhaka padanya?” jawabnya masih dengan mata menghujam menatap tanah kering.

***


    Percakapanku singkat hanya saja menuai kritik dari ku. Seingatku bukan jaman siti nurbaya saja yang menuai kritik. 
Hatinya pasti mulai dalam kegamangan, jika suatu hari ada lelaki yang berpendidikan sama melamar lagi, atau bahkan lebih rendah dari dugaannya. 
Jika berontak itu ada, tak mungkin Ukhti yang shalihah itu berusaha sekuat baja setegar karang menghadapi jalan yang terjal. 

Islam telah berkembang pesat. Wanita mana yang tak mau dinikahi lelaki sholeh. Bahkan sebaliknya lelaki yang sholeh itu segera ingin mendapatkan wanita shalehah.

Apakah pengharapan yang ada pada jantung hati seorang ibu? 
Apakah yang berperan besar dihadapan mata sang ibu?
Sekejap angin berlalu, aku benar-benar tak percaya. Sampai kapan ia berjalan diatas Cahaya yang begitu indah diatas CahayaNya. Jika masih sulit menerangi cahaya kecil yang senantiasa membuat hatinya tenang bersemanyam dalam istana kecilNya. Rumah kecil itu perlu diberikan cahaya yang indah, rumah itu bukan hanya saja atap, kasur, dan perabotan yang serba lengkap dan mewah. Tapi hati yang berada dalam hunian tersebut. 

Hati ibu yang masih terbawa arus gelombang dunia nyata. 
Hati ibu yang masih memegang teguh pendirian yang salah
Hati ibu yang masih bermuara pada egois semata. 

Padahal hati ibu yang masih ingin dipeluk buah hatinya dengan penuh kasih sayang.
Pelajaran berharga untuk kita terutama diriku sendiri, menghadapi kasus seperti ini. Jika belum bisa ibuku menghargai keputusanku seperti dia bagaimana?
Jalan dakwah ini memang masih panjang. Terutama kepada keluarga yang benar-benar membesarkan kita dengan penuh kasih sayang. Kepada merekalah jalan cinta itu harus ditegakkan.

Cinta ini memang bukan milik kita
Karena itu tak perlu hadir sebelah hati dengan perasaan sedih
Takdir tak akan mengubah kepahitan melainkan hikmah dalam suatu pernghargaan besar.
“Saat HARAPAN tidak sesuai dengan KENYATAAN”. Karena Allah tahu, bahwa itu bukanlah yang terbaik untuk kita, kemudian Ia mengganti rencana kita dengan rencanaNya yang jauh lebih sempurna. 

Allah pun berfirman: Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. 
(QS Al Baqarah 216).

Banyak pelajaran yang saya petik darinya. Antara berusaha sekuat tenaga meyakinkan orangtua atau menghancurkan kepercayaan padaNya. 
Sulit benar-benar sulit bagiku. 

Semoga ukhti yang baik hati sepertimu selalu mendo’kan Ibunya agar ia mudah mengerti, memahami dan merasakan rasa yang sama sepertimu. 
Do’aku menyertaimu ukht…..



Cinta bukan milik kita
Cinta itu sudah kehendakNya
Cinta itu milik Penguasa Alam Semesta
Hari ini esok dan seterusnya tak ada yang tahu 
Setiap perjumpaan pasti ada perpisahan



Kata Saiyidina Umar: “...waspadalah jangan terpijak atau memijak onak dan duri…” Jangan kau kutip lagi serpihan kaca. Sabarlah hingga kau temukan permata…?

Lihatlah takdir sebagai waktu terindah, jika kelak kita berjumpa dengan masa sulit maka pikirkanlah cinta itu bukan milik kita ya akhi ya ukhti 
Allah Sang Pencipta mendengar serpihan rindumu padaNya. 


 “Tulisan ini diikutsertakan pada Monilando’s First Giveaway 

 
Catatan Annurshah Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template