Tampilkan postingan dengan label kisah sejati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah sejati. Tampilkan semua postingan

Bukan Titik Henti



Judul tulisanku kok berasa menjanggal hehee...
Hari gini bekerja tanpa syarat? huuuhhu... mungkin ada bagi seorang buruh lepas, wirausahawan? tapi ini bekerja dengan perusahaan pasti dan harus membutuhkan syarat.

Sebelum peristiwa pahit itu, kutahu ia sempat bercerita tentang kondisi pekerjaannya. Semula memang baik-baik saja, tapi endingnya ia dipecat. Gugur tugas dan harus mencari nafkah di tempat lain.
Aku sempat tidak pernah mengerti dengan para atasan. Entah itu majikan, bos, manager dan direktur. Tapi yang pasti rasa kehadiran mereka adalah memegang amanat yang cukup kuat dalam pekerjaan.
Awalnya teman adikku bernama A** sering bercerita bosnya yang sudah mulai mengajak untuk taklim/ kajian. Respon positif dong kalau ada atasan mengajak kebaikan. Tapi satu hal yang aneh sebelum mengajaknya adalah membicarakan sesuatu yang menyeramkan. Membandingkan-bandingkan golongan islam lain dan islam lainnya. Ya, sampai sekarang kita tahu Negara Indonesia banyak sekali menganut agama islam yang dilandasi dengan pilihannnya masing-masing. Berbeda harakoh itu wajar, yang tidak wajar adalah mengkafirkan dan merasa sok benar ini dan ini.

Kuyakin semua tidak lain dari upaya mengajak (dakwah). 
Tapi anehnya, sikap bosnya yang mengaku pengajiannya yang baik tidak dilandasi dengan ahlakul karimah. Melainkan sikap yang terkesan egois. 
Mendadak memecat karyawannya usai lebaran. Alasannya klise, kamu pendidikan SMA, kita butuh yang D3. 
Oh? Begitukah? Bukankah dari dulu dia sudah lama menjadi karyawan di situ? Dengan pendidikan yang sesuai standar yang diharapkan?
mmm.. mungkin ada alasan lain, tapi ya sudahlah. 
Padahal pekerjaannya itu tidak seberat pikiran orang kuliah yang harus mengejar title D3, dan bisa dikerjakan oleh lulusan SMA.
Finally, sadar ambil pikiran positif saja. Tidak semua orang yang memiliki kekuasaan itu berhati mulia. 
Kisah ini membuatnya sedih, dan menyadari kalau pekerjaan harus dicari cepat.
Belum terlambat, daftar lowongan kerja tertera pada Koran lokal. Memilah dan memilih dengan baik dan mencoba datang langsung ke TKP. Tapi Allah belum berkehendak, alamat yang dituju nihil tak ada di tempat alias palsu. Alamat palsu.
Belum lagi kabar ayahmu sakit keras dan harus dilarikan ke rumah sakit lagi karena penyakitnya kambuh.

Bersabarlah hati, 
Saat kamu mengalami keputusaan itu jauh lebih menakutkan.  
Ketika Allah sedang mengujimu dengan pemecatan dan ditipu orang ini belum seberapa yang lebih sulit. Ambil hikmahnya kawan.
Ini bukan soal kegagalan dan kekalahan tapi ini soal awal. Awal dan mengawali sebuah cerita baru lagi.
Perjuangan baru akan dimulai, bukalah kelopak matamu, lihat awan yang cerah. Di sana masih ada harapan yang tak sia-sia. 

Ini bukan titik henti, barangkali ada kesempatan yang sedang menunggumu mengawali dan mengakhiri ini semua dengan senyuman. 




Judul tulisanku kok berasa menjanggal hehee...
Hari gini bekerja tanpa syarat? huuuhhu... mungkin ada bagi seorang buruh lepas, wirausahawan? tapi ini bekerja dengan perusahaan pasti dan harus membutuhkan syarat.

Sebelum peristiwa pahit itu, kutahu ia sempat bercerita tentang kondisi pekerjaannya. Semula memang baik-baik saja, tapi endingnya ia dipecat. Gugur tugas dan harus mencari nafkah di tempat lain.
Aku sempat tidak pernah mengerti dengan para atasan. Entah itu majikan, bos, manager dan direktur. Tapi yang pasti rasa kehadiran mereka adalah memegang amanat yang cukup kuat dalam pekerjaan.
Awalnya teman adikku bernama A** sering bercerita bosnya yang sudah mulai mengajak untuk taklim/ kajian. Respon positif dong kalau ada atasan mengajak kebaikan. Tapi satu hal yang aneh sebelum mengajaknya adalah membicarakan sesuatu yang menyeramkan. Membandingkan-bandingkan golongan islam lain dan islam lainnya. Ya, sampai sekarang kita tahu Negara Indonesia banyak sekali menganut agama islam yang dilandasi dengan pilihannnya masing-masing. Berbeda harakoh itu wajar, yang tidak wajar adalah mengkafirkan dan merasa sok benar ini dan ini.

Kuyakin semua tidak lain dari upaya mengajak (dakwah). 
Tapi anehnya, sikap bosnya yang mengaku pengajiannya yang baik tidak dilandasi dengan ahlakul karimah. Melainkan sikap yang terkesan egois. 
Mendadak memecat karyawannya usai lebaran. Alasannya klise, kamu pendidikan SMA, kita butuh yang D3. 
Oh? Begitukah? Bukankah dari dulu dia sudah lama menjadi karyawan di situ? Dengan pendidikan yang sesuai standar yang diharapkan?
mmm.. mungkin ada alasan lain, tapi ya sudahlah. 
Padahal pekerjaannya itu tidak seberat pikiran orang kuliah yang harus mengejar title D3, dan bisa dikerjakan oleh lulusan SMA.
Finally, sadar ambil pikiran positif saja. Tidak semua orang yang memiliki kekuasaan itu berhati mulia. 
Kisah ini membuatnya sedih, dan menyadari kalau pekerjaan harus dicari cepat.
Belum terlambat, daftar lowongan kerja tertera pada Koran lokal. Memilah dan memilih dengan baik dan mencoba datang langsung ke TKP. Tapi Allah belum berkehendak, alamat yang dituju nihil tak ada di tempat alias palsu. Alamat palsu.
Belum lagi kabar ayahmu sakit keras dan harus dilarikan ke rumah sakit lagi karena penyakitnya kambuh.

Bersabarlah hati, 
Saat kamu mengalami keputusaan itu jauh lebih menakutkan.  
Ketika Allah sedang mengujimu dengan pemecatan dan ditipu orang ini belum seberapa yang lebih sulit. Ambil hikmahnya kawan.
Ini bukan soal kegagalan dan kekalahan tapi ini soal awal. Awal dan mengawali sebuah cerita baru lagi.
Perjuangan baru akan dimulai, bukalah kelopak matamu, lihat awan yang cerah. Di sana masih ada harapan yang tak sia-sia. 

Ini bukan titik henti, barangkali ada kesempatan yang sedang menunggumu mengawali dan mengakhiri ini semua dengan senyuman. 


”Wanita Pemegang Bara Api”

”Wanita Pemegang Bara Api” 
Oleh : Ustadz Abu Zubair Al-Hawaary,Lc

Di zaman sekarang ini, banyak wanita, kaum Muslimah, yang kehilangan suri tauladan. Betapa banyak diantara kita yang menjadikan orang-orang fasik sebagai contoh dalam kehidupan, atau paling tidak yang paling sering kita baca dan dengar kisahnya, menyebut mereka sebagai bintang. Padahal dari kisah-kisah Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, ada banyak tokoh wanita yang patut dijadikan suri tauladan. Merekalah bintang yang sesungguhnya.

MASYITHA wanita tukang sisir puteri Raja Fir’aun dan ASIYAH isteri Raja Fir’aun.  

Saat sedang menyisiri rambut putrinya Raja Fir’aun, sisirnya terjatuh. Saat MASYITA mulai mengambil sisir itu ia mengucapkan kalimat basmalah “Bismillah”
Tatkala Masyitoh mengucapkan bismillah, maka puteri Fir’aun terkejut lalu ia bertanya, “Apa yang kau maksud Allah itu ayahku?” rupanya ia hanya tahu bahwa Ttuhan itu adalah Fir’aun yang mengaku sebagai Tuhan. Maka Masyitoh menjawab, ” Tidak! tetapi Allah adalah rabbku (Tuhanku) rabb kamu dan rabb ayah kamu,” Puteri Fir’aun terheran karena ada tuhan selain ayahnya. Lalu ia mengancam Masyitoh, “Aku akan sampaikan hal ini kepada ayahku.” Maka Masyitoh tanpa gentar berkata, “Silahkan.”

Saat Masyitoh menghadap Fir’aun, pertanyaan pertama yang diajukan kepadanya adalah : “Apa betul kau telah mengucapkan kata-kata penghinaan terhadapku, sebagaimana penuturan anakku. Dan siapakah Tuhan yang engkau sembah selama ini ?” “Betul, Baginda Raja yang lalim. Rabbku dan Rabbmu adalah Allah. Dan Tiada Tuhan selain Allah yang sesungguhnya menguasai segala alam dan isinya.”jawab Masyitoh dengan berani.

Mendengar jawaban Masyitoh, Fir’aun menjadi teramat marah, sehingga memerintahkan pengawalnya untuk memanaskan minyak sekuali besar. Dan saat minyak itu mendidih, pengawal kerajaan memanggil orang ramai untuk menyaksikan hukuman yang telah dijatuhkan pada Masyitoh. Sekali lagi Masyitoh dipanggil dan dipersilahkan untuk memilih : jika ingin selamat bersama anak-anaknya, Masyitoh harus mengingkari Allah. Masyitoh harus mengaku bahwa Fir’aun adalah Tuhan yang patut disembah. Jika Masyitoh tetap tak mau mengakui Fir’aun sebagai Tuhannya, Masyitoh akan dimasukkan ke dalam kuali, lengkap bersama anak-anaknya.

Masyitoh tetap pada pendiriannya untuk beriman kepada Allah SWT. Masyitoh kemudian membawa anak-anaknya menuju ke atas kuali tersebut.
Anak yang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya telah di lempar ke dalam kuali, dengan tegar Masyitoh menyaksikan semua itu, hingga tibalah giliran anaknya yang masih bayi akan dilempar, menghadapi hal ini Masyitoh sempat ragu. Namun karena kehendak Allah, maka anak yang masih kecil itu dapat berkata, “Wahai ibu bersabarlah engkau berada di atas kebenaran, sesungguhnya itu adalah sakit yang sedikit dan sebentar. Sesungguhnya azab akhirat lebih keras dan dahsyat.” Maka demi mempertahankan keimanannya kepada Allah masuklah Masyitoh dan anaknya ke dalam kuali yang mendidih.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah salallahu alaihi wa salam berkata, “Tatkala saya diangkat naik ke langit lalu saya melewati bau yg semerbak, kemudian saya bertanya: ” Bau apa ini yang wangi?” Maka jibril menjwab “Ini adalah wanita tukang sisir di istana Fir’aun dan anak-anaknya”

Kemudian dengan congkaknya Fir’aun memberitahukan kepada isterinya Asiah, wanita yang salihah, apa yang telah diperbuatnya kepada Masyitoh dan anak-anaknya. Mendengar hal itu lalu Asiyah berteriak dan berkata kepadanya, “Celaka engkau Fir’aun alangkah lancangnya engkau kepada Allah,” Lalu Asiah bersyahadat menyatakan keimananya kepada Allah di hadapan Fir’aun, kemudian Fir’aun memanggil bala tentaranya dan memerintahkan agar isterinya disiksa Lalu Asiah disiksa dan dicambuk.

Ketika siksaan semakin pedih, darah mengalir deras, Asiah menatap ke langit dan berkata sebagaimana yang disebutkan oleh Allah di dalam ayat Al-Qur’an: “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisiMu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” (Q.S. At-Tahrim [66] : 11)

Lalu naiklah doanya membumbung tinggi dan menembus pintu-pintu langit didengar oleh Allah tabaroka wa ta’ala. Ibnu Katsir berkata dalam kitab tafsirnya “Lalu Allah singkapkan langit dan Allah memperlihatkan rumahnya di surga,” Hingga ketika siksa semakin keras dan azab semakin pedih maka Asiyah malah tersenyum sehingga Fir’aun menjadi semakin marah.Mengapa ia tersenyum? Karena ia melihat rumahnya di surga, setelah itu berhembuslah nafas Asiah yg terakhir.
Demikian kisah Asiah dan Masyitoh. Semoga muslimah sekalian bisa mengambil hikmah dan mengikuti jejak keduanya, meninggal dalam keadaan teguh menggenggam “Tauhid.”

\Cerita ini didengar begitu mengilu hati saya. Wanita seperti mereka adalah wanita-wanita yang tak pernah menggadaikan agamanya untuk dunia.

Tapi wanita sekarang? Lebih mementingkan dunianya daripada agama. Lihat saja tayangan televisi sekarang. Banyak para muslimah dadakan tak dibekali ilmu syar’i. ilmu yang pasti senantiasa harusnya mendarah daging, yang lidah dan lisannya selalu basah karena lantunan dzikir kepadaNYA. Ketika menjatuhkan sesuatu atau terjatuh, bahkan menyenggol orang atau tak sengaja tersenggol dengan ungkapan kaget yang dahsyat disertai kalimat suci. 

Bukan malah marah-marah, latah tak jelas berurai membuat hati malah menjadi runyam. Terkadang malah kesal memaki-maki orang lain. Apalagi jaman sudah Lebay sekarang ini. OH MY GOD. Itu malah sering terjadi dan keluar dari bibir manusia sekarang.

Menjadi wanita muslimah yang senantiasa mengingat Allah, bukan hanya fisik saja islami. Tapi hati juga islami, meneladani, mengikuti seruan Allah SWT.
Apalagi kita miris melihat para BMI Hongkong di sana menjadi pusat misionaris yang mengincar para pekerja Indonesia di Hongkong untuk murka kepada Allah. Astaghfirullah.

Allaahu Akbar.  Mari, senantiasa menguatkan keimanan kita di bulan ramadhan yang penuh ampunan ini dan bulan selanjutnya. Aaamiiin.

”Wanita Pemegang Bara Api” 
Oleh : Ustadz Abu Zubair Al-Hawaary,Lc

Di zaman sekarang ini, banyak wanita, kaum Muslimah, yang kehilangan suri tauladan. Betapa banyak diantara kita yang menjadikan orang-orang fasik sebagai contoh dalam kehidupan, atau paling tidak yang paling sering kita baca dan dengar kisahnya, menyebut mereka sebagai bintang. Padahal dari kisah-kisah Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, ada banyak tokoh wanita yang patut dijadikan suri tauladan. Merekalah bintang yang sesungguhnya.

MASYITHA wanita tukang sisir puteri Raja Fir’aun dan ASIYAH isteri Raja Fir’aun.  

Saat sedang menyisiri rambut putrinya Raja Fir’aun, sisirnya terjatuh. Saat MASYITA mulai mengambil sisir itu ia mengucapkan kalimat basmalah “Bismillah”
Tatkala Masyitoh mengucapkan bismillah, maka puteri Fir’aun terkejut lalu ia bertanya, “Apa yang kau maksud Allah itu ayahku?” rupanya ia hanya tahu bahwa Ttuhan itu adalah Fir’aun yang mengaku sebagai Tuhan. Maka Masyitoh menjawab, ” Tidak! tetapi Allah adalah rabbku (Tuhanku) rabb kamu dan rabb ayah kamu,” Puteri Fir’aun terheran karena ada tuhan selain ayahnya. Lalu ia mengancam Masyitoh, “Aku akan sampaikan hal ini kepada ayahku.” Maka Masyitoh tanpa gentar berkata, “Silahkan.”

Saat Masyitoh menghadap Fir’aun, pertanyaan pertama yang diajukan kepadanya adalah : “Apa betul kau telah mengucapkan kata-kata penghinaan terhadapku, sebagaimana penuturan anakku. Dan siapakah Tuhan yang engkau sembah selama ini ?” “Betul, Baginda Raja yang lalim. Rabbku dan Rabbmu adalah Allah. Dan Tiada Tuhan selain Allah yang sesungguhnya menguasai segala alam dan isinya.”jawab Masyitoh dengan berani.

Mendengar jawaban Masyitoh, Fir’aun menjadi teramat marah, sehingga memerintahkan pengawalnya untuk memanaskan minyak sekuali besar. Dan saat minyak itu mendidih, pengawal kerajaan memanggil orang ramai untuk menyaksikan hukuman yang telah dijatuhkan pada Masyitoh. Sekali lagi Masyitoh dipanggil dan dipersilahkan untuk memilih : jika ingin selamat bersama anak-anaknya, Masyitoh harus mengingkari Allah. Masyitoh harus mengaku bahwa Fir’aun adalah Tuhan yang patut disembah. Jika Masyitoh tetap tak mau mengakui Fir’aun sebagai Tuhannya, Masyitoh akan dimasukkan ke dalam kuali, lengkap bersama anak-anaknya.

Masyitoh tetap pada pendiriannya untuk beriman kepada Allah SWT. Masyitoh kemudian membawa anak-anaknya menuju ke atas kuali tersebut.
Anak yang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya telah di lempar ke dalam kuali, dengan tegar Masyitoh menyaksikan semua itu, hingga tibalah giliran anaknya yang masih bayi akan dilempar, menghadapi hal ini Masyitoh sempat ragu. Namun karena kehendak Allah, maka anak yang masih kecil itu dapat berkata, “Wahai ibu bersabarlah engkau berada di atas kebenaran, sesungguhnya itu adalah sakit yang sedikit dan sebentar. Sesungguhnya azab akhirat lebih keras dan dahsyat.” Maka demi mempertahankan keimanannya kepada Allah masuklah Masyitoh dan anaknya ke dalam kuali yang mendidih.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah salallahu alaihi wa salam berkata, “Tatkala saya diangkat naik ke langit lalu saya melewati bau yg semerbak, kemudian saya bertanya: ” Bau apa ini yang wangi?” Maka jibril menjwab “Ini adalah wanita tukang sisir di istana Fir’aun dan anak-anaknya”

Kemudian dengan congkaknya Fir’aun memberitahukan kepada isterinya Asiah, wanita yang salihah, apa yang telah diperbuatnya kepada Masyitoh dan anak-anaknya. Mendengar hal itu lalu Asiyah berteriak dan berkata kepadanya, “Celaka engkau Fir’aun alangkah lancangnya engkau kepada Allah,” Lalu Asiah bersyahadat menyatakan keimananya kepada Allah di hadapan Fir’aun, kemudian Fir’aun memanggil bala tentaranya dan memerintahkan agar isterinya disiksa Lalu Asiah disiksa dan dicambuk.

Ketika siksaan semakin pedih, darah mengalir deras, Asiah menatap ke langit dan berkata sebagaimana yang disebutkan oleh Allah di dalam ayat Al-Qur’an: “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisiMu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” (Q.S. At-Tahrim [66] : 11)

Lalu naiklah doanya membumbung tinggi dan menembus pintu-pintu langit didengar oleh Allah tabaroka wa ta’ala. Ibnu Katsir berkata dalam kitab tafsirnya “Lalu Allah singkapkan langit dan Allah memperlihatkan rumahnya di surga,” Hingga ketika siksa semakin keras dan azab semakin pedih maka Asiyah malah tersenyum sehingga Fir’aun menjadi semakin marah.Mengapa ia tersenyum? Karena ia melihat rumahnya di surga, setelah itu berhembuslah nafas Asiah yg terakhir.
Demikian kisah Asiah dan Masyitoh. Semoga muslimah sekalian bisa mengambil hikmah dan mengikuti jejak keduanya, meninggal dalam keadaan teguh menggenggam “Tauhid.”

\Cerita ini didengar begitu mengilu hati saya. Wanita seperti mereka adalah wanita-wanita yang tak pernah menggadaikan agamanya untuk dunia.

Tapi wanita sekarang? Lebih mementingkan dunianya daripada agama. Lihat saja tayangan televisi sekarang. Banyak para muslimah dadakan tak dibekali ilmu syar’i. ilmu yang pasti senantiasa harusnya mendarah daging, yang lidah dan lisannya selalu basah karena lantunan dzikir kepadaNYA. Ketika menjatuhkan sesuatu atau terjatuh, bahkan menyenggol orang atau tak sengaja tersenggol dengan ungkapan kaget yang dahsyat disertai kalimat suci. 

Bukan malah marah-marah, latah tak jelas berurai membuat hati malah menjadi runyam. Terkadang malah kesal memaki-maki orang lain. Apalagi jaman sudah Lebay sekarang ini. OH MY GOD. Itu malah sering terjadi dan keluar dari bibir manusia sekarang.

Menjadi wanita muslimah yang senantiasa mengingat Allah, bukan hanya fisik saja islami. Tapi hati juga islami, meneladani, mengikuti seruan Allah SWT.
Apalagi kita miris melihat para BMI Hongkong di sana menjadi pusat misionaris yang mengincar para pekerja Indonesia di Hongkong untuk murka kepada Allah. Astaghfirullah.

Allaahu Akbar.  Mari, senantiasa menguatkan keimanan kita di bulan ramadhan yang penuh ampunan ini dan bulan selanjutnya. Aaamiiin.

Jaga Lisanmu

Lisan yang terjaga 
Adalah lisannya orang-orang yang bertaqwa
Sebaliknya
Lisan yang ternoda
Adalah lisannya orang yang durhaka





Durhaka kepada siapakah? 
Ah, seandainya Ilmu itu menjadi ukuran segalanya, maka akan luar biasa hidup ini. Cobalah sesekali tengok apa yang sudah kita perbuat dan orang lain perbuat untuk kita.
Entahlah, apa penyebabnya menjadi tetangga yang berjauhan namun seperti ditampar sebuah balok. Mungkinkah terjadi di saat sebuah penantian sedang terjadi. 

Aku paling tidak suka ketika ada orang lain mencampuri urusan orang lain yang sama sekali kita tidak tahu menahu apa yang terjadi bahkan sebenarnya tidak terjadi apa-apa. 
Dukaku tiba-tiba seolah sedikit mereda saat sudah berdoa untuk warga Islam di Negara asing sana terutama Mesir usai dipanjatkan. Tapi, tiba-tiba suatu musibah atau fitnah datang bertubi-tubi.
Hidup dalam kehidupan bersosialisasi begitu indah, namun jika tak bisa toleransi pun akan musnah.

“Anaknya Ibu … perawan tua, lihat saja belum pada nikah.”

Makjleb, ibu mendengar ini dari mulut tetangga sebelah yang notabennya ibu-ibu. Ibu sebelah ditegur dengan ibu yang rumahnya berbeda RT dariku. 

Wah, ibuku baru tahu dan sadar, kalau mulutnya terlalu berlebihan dalam mengambil tindakan. 
Dan hatiku merasa makjleb, seperti ada duri yang terinjak. Tapi setelah itu ku sadar seraya beristighfar. Kekuatan kita berada dalam kekuatan Allah. Siapa menghina, mencaci maki, memusuhi bahkan menghianati. Doakan saja yang baik-baik.

Aku sadar, usia aku belum genap 25 Tahun, tapi apakah pantas disebut PERAWAN TUA?
Adik aku  masih baru lulus SMA, dan paling bungsu masih 16 tahun. Bisakah disebut perawan tua?
Oh no, keusilan lisannya begitu tajam. 

Aku sadar lisan kotor itu bukan sekali dua kali menyebut nama keluargaku yang jadi bahan perbincangan. Aku adalah muslimah yang selalu saja disindir bahkan sering kali dianggap dipingitlah, menutupi aiblah karena sekarang berpakaian rapat menutup aurat. 

Paradigma penantian kembali lagi pada diriku, saat tersadari teman-teman yang dulu akrab apalagi tetanggan sudah menikah semua, apalagi semuanya mengalami kecelakaan terlebih dahulu sebelum menikah dan sudah memiliki buah hati. 
Ini bertambah kehati-hatian aku dan memilih untuk menjadi seorang muslimah yang menjaga auratnya dan perhiasannya. 

Kembali tersadar saat lebaran tiba, meski saudara sering menanyakan kapan menikah?
Jawaban senyum sederhana ku pasang dengan ikhlas. “Allah berkehendak lebih cepat nantinya, aamiinkan saja” ucapku dalam batin yang memang tak pernah marah ditanya kapan menikah.

Karena bagiku, ini urusan kehati-hatianku, aku sadar pernah menolak lamaran seorang pria bahkan jika ku ingin menikah lebih cepat kenapa tidak? Aku pernah menolak bukan karena tanpa alasan. Tapi karena Allah belum mengijinkan, aku selalu menenamkan diri untuk melakukan Sholat Istikharah untuk hal yang satu ini. Tahun kemarin atau lulus sekolah aku bisa saja mengambil keputusan untuk menikah. Tapi itu tidak mudah bagiku segera menjadi seorang isteri. Bagiku selektif adalah pilihan terbaik, bukan masalah modal atau sebuah ketakutan, melainkan ketetapan Allah belum terjadi. 


Justru semakin tuaku menjalani hari, maka semakin lebih pandai ku menjadi orang yang lebih baik dari hari kemarin. Jika tidak? Ini merugi seumur hidupku. Dan aku tak ingin menjadi wanita yang seperti Raithah digambarkan dalam Al-quran.

Dalam al-Quran, ALLAH s.w.t telah berfirman: 
       Terjemahan:
“Dan janganlah kamu menjadi seperti perempuan yang telah merombak satu persatu benda yang dipintalnya,

sesudah ia selesai memintalnya kuat teguh dengan kamu menjadikan sumpah kamu sebagai tipu daya (untuk mencabuli perjanjian yang telah dimeteraikan) sesama kamu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih ramai dari golongan lain. Sesungguhnya ALLAH hanya mahu menguji kamu dengan yang demikian itu dan Dia sudah tentu akan menerangkan kepada kamu pada hari kiamat, apa yang kamu berselisihan padanya.”
(Surah An-Nahl 16:92)


Dalam al-Quran ada disebutkan kisah Raithah. Di sini ALLAH mengingatkan kepada hamba-hamba-Nya agar tidak menggagalkan usaha sendiri, dan tidak mensia-siakan kemampuan tenaga yang dikurniakan-Nya. Kisah Raithah adalah salah satu contoh kegagalan dalam mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Dalam keadaan yang menyedihkan, kurus, lemah dan tidak bersemangat, Raithah meninggal dunia.
Lisan yang kotor berasal dari hati yang keruh, sebaliknya. 

Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Pada pagi hari, seluruh anggota tubuh anak Adam semuanya tunduk pada lisan, dan berkata: (wahai lisan), bertakwalah kamu kepada Alloh atas (keselamatan) kami. Karena keadaan kami tergantung engkau. Jika engkau istiqomah, kami akan istiqomah. Jika engkau menyimpang, kami (juga) menyimpang”.
[HR. at Tirmidzi dari Abu Said al-Khudry, al-Munawy menyatakan bahwa sanadnya shohih dalam Faydhul Qodiir)

-Ahnaf bin Qois –seorang tabi’i- menyatakan:
 “Mengucapkan kalimat yang baik lebih baik dari diam, dan diam lebih baik dari ucapan yang sia-sia dan batil. Duduk bersama orang sholih lebih baik dari menyendiri. Menyendiri lebih baik dari duduk bersama orang yang jahat"
[disebutkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitab ‘At-Tamhiid’ juz 17 hal 447]

“Kak Lais kan bukan barang dagangan yang bisa ditawarkan ke sana-kemari?” Ucapan kritis orang terdidik yang tidak suka perjodohan. TERE LIYE BIDADARI SURGA.

Ibu yang baik tahu siapa anak gadisnya, Ia tidak akan pernah meridoi anaknya dibeli bahkan ditawar dengan harga rendah. 

Yang terbaik ketika dalam masa penantian adalah istiqomah, diriku yakin setan memang selalu mengusik melalui kerikil kecil seperti orang lain yang padahal muslim.

Semoga kita mampu menjaga lisan-lisan kita, agar tak menyakiti orang-orang yang ada di sekitar kita, termasuk orang-orang yang dapat menjaga lisan-lisan ini agar tidak melukai saudara kita sendiri.

Terima kasih sudah menjadikan saya lebih kuat, meski mendengarnya sedikit menggores luka. Saya akan tetap tersenyum hangat menyapa anda yang telah berbuat lisan tak baik. Karena bagiku, hanya Allah yang wajib mengadili semua perbuatan kita. Meski begitu tetap menyerukan kebaikan.  

Wajar setiap insan merindukan pasangan dalam hidupnya, yang tidak wajar adalah orang yang selalu mengusik ketenangannya. Annur E.K

Imam Ahmad dan para penyusun kitab as-Sunan meriwayatkan sebuah hadits panjang bahwa Mu'adz bin Jabal menemui Nabi saw. dan berkata, 
"Tunjukkan kepadaku suatu perbuatan yang  akan mem¬buatku masuk surga." Rasulullah saw menjawab, "...Engkau harus menjaga ini sambil menunjuk ke arah lidahnya." Mu'adz  mengulangi lagi pertanyaan yang sama, maka Rasulullah saw. bersabda, "Celaka engkau  Mu'adz, bukan¬kah manusia itu tersungkur di dalam neraka hanya karena akibat dari ucapan  mereka. Tirmidzi berkata, "Hadits ini adalah  hadits hasan shahih. 


8 DOSA LISAN
Lisan ibarat pisau bermata dua,bisa mendatangkan kemaslahatan (kebaikan). dan kemudhratan.
Berikut diantaranya penyakit lisan yang harus dihindari:

1. Pembicaraan yang tidak Bermanfaat

2. Perdebatan dan Pertengkaran

3. Suka Melaknat

4. Bercanda yang Berlebihan

5. Mengejek dan Mencemoohkan orang lain

6. Ghibah (gosip)

7. Namimah (mengadu domba)

8. Memuji berlebihan

^_^
Lisan yang terjaga 
Adalah lisannya orang-orang yang bertaqwa
Sebaliknya
Lisan yang ternoda
Adalah lisannya orang yang durhaka





Durhaka kepada siapakah? 
Ah, seandainya Ilmu itu menjadi ukuran segalanya, maka akan luar biasa hidup ini. Cobalah sesekali tengok apa yang sudah kita perbuat dan orang lain perbuat untuk kita.
Entahlah, apa penyebabnya menjadi tetangga yang berjauhan namun seperti ditampar sebuah balok. Mungkinkah terjadi di saat sebuah penantian sedang terjadi. 

Aku paling tidak suka ketika ada orang lain mencampuri urusan orang lain yang sama sekali kita tidak tahu menahu apa yang terjadi bahkan sebenarnya tidak terjadi apa-apa. 
Dukaku tiba-tiba seolah sedikit mereda saat sudah berdoa untuk warga Islam di Negara asing sana terutama Mesir usai dipanjatkan. Tapi, tiba-tiba suatu musibah atau fitnah datang bertubi-tubi.
Hidup dalam kehidupan bersosialisasi begitu indah, namun jika tak bisa toleransi pun akan musnah.

“Anaknya Ibu … perawan tua, lihat saja belum pada nikah.”

Makjleb, ibu mendengar ini dari mulut tetangga sebelah yang notabennya ibu-ibu. Ibu sebelah ditegur dengan ibu yang rumahnya berbeda RT dariku. 

Wah, ibuku baru tahu dan sadar, kalau mulutnya terlalu berlebihan dalam mengambil tindakan. 
Dan hatiku merasa makjleb, seperti ada duri yang terinjak. Tapi setelah itu ku sadar seraya beristighfar. Kekuatan kita berada dalam kekuatan Allah. Siapa menghina, mencaci maki, memusuhi bahkan menghianati. Doakan saja yang baik-baik.

Aku sadar, usia aku belum genap 25 Tahun, tapi apakah pantas disebut PERAWAN TUA?
Adik aku  masih baru lulus SMA, dan paling bungsu masih 16 tahun. Bisakah disebut perawan tua?
Oh no, keusilan lisannya begitu tajam. 

Aku sadar lisan kotor itu bukan sekali dua kali menyebut nama keluargaku yang jadi bahan perbincangan. Aku adalah muslimah yang selalu saja disindir bahkan sering kali dianggap dipingitlah, menutupi aiblah karena sekarang berpakaian rapat menutup aurat. 

Paradigma penantian kembali lagi pada diriku, saat tersadari teman-teman yang dulu akrab apalagi tetanggan sudah menikah semua, apalagi semuanya mengalami kecelakaan terlebih dahulu sebelum menikah dan sudah memiliki buah hati. 
Ini bertambah kehati-hatian aku dan memilih untuk menjadi seorang muslimah yang menjaga auratnya dan perhiasannya. 

Kembali tersadar saat lebaran tiba, meski saudara sering menanyakan kapan menikah?
Jawaban senyum sederhana ku pasang dengan ikhlas. “Allah berkehendak lebih cepat nantinya, aamiinkan saja” ucapku dalam batin yang memang tak pernah marah ditanya kapan menikah.

Karena bagiku, ini urusan kehati-hatianku, aku sadar pernah menolak lamaran seorang pria bahkan jika ku ingin menikah lebih cepat kenapa tidak? Aku pernah menolak bukan karena tanpa alasan. Tapi karena Allah belum mengijinkan, aku selalu menenamkan diri untuk melakukan Sholat Istikharah untuk hal yang satu ini. Tahun kemarin atau lulus sekolah aku bisa saja mengambil keputusan untuk menikah. Tapi itu tidak mudah bagiku segera menjadi seorang isteri. Bagiku selektif adalah pilihan terbaik, bukan masalah modal atau sebuah ketakutan, melainkan ketetapan Allah belum terjadi. 


Justru semakin tuaku menjalani hari, maka semakin lebih pandai ku menjadi orang yang lebih baik dari hari kemarin. Jika tidak? Ini merugi seumur hidupku. Dan aku tak ingin menjadi wanita yang seperti Raithah digambarkan dalam Al-quran.

Dalam al-Quran, ALLAH s.w.t telah berfirman: 
       Terjemahan:
“Dan janganlah kamu menjadi seperti perempuan yang telah merombak satu persatu benda yang dipintalnya,

sesudah ia selesai memintalnya kuat teguh dengan kamu menjadikan sumpah kamu sebagai tipu daya (untuk mencabuli perjanjian yang telah dimeteraikan) sesama kamu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih ramai dari golongan lain. Sesungguhnya ALLAH hanya mahu menguji kamu dengan yang demikian itu dan Dia sudah tentu akan menerangkan kepada kamu pada hari kiamat, apa yang kamu berselisihan padanya.”
(Surah An-Nahl 16:92)


Dalam al-Quran ada disebutkan kisah Raithah. Di sini ALLAH mengingatkan kepada hamba-hamba-Nya agar tidak menggagalkan usaha sendiri, dan tidak mensia-siakan kemampuan tenaga yang dikurniakan-Nya. Kisah Raithah adalah salah satu contoh kegagalan dalam mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Dalam keadaan yang menyedihkan, kurus, lemah dan tidak bersemangat, Raithah meninggal dunia.
Lisan yang kotor berasal dari hati yang keruh, sebaliknya. 

Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Pada pagi hari, seluruh anggota tubuh anak Adam semuanya tunduk pada lisan, dan berkata: (wahai lisan), bertakwalah kamu kepada Alloh atas (keselamatan) kami. Karena keadaan kami tergantung engkau. Jika engkau istiqomah, kami akan istiqomah. Jika engkau menyimpang, kami (juga) menyimpang”.
[HR. at Tirmidzi dari Abu Said al-Khudry, al-Munawy menyatakan bahwa sanadnya shohih dalam Faydhul Qodiir)

-Ahnaf bin Qois –seorang tabi’i- menyatakan:
 “Mengucapkan kalimat yang baik lebih baik dari diam, dan diam lebih baik dari ucapan yang sia-sia dan batil. Duduk bersama orang sholih lebih baik dari menyendiri. Menyendiri lebih baik dari duduk bersama orang yang jahat"
[disebutkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitab ‘At-Tamhiid’ juz 17 hal 447]

“Kak Lais kan bukan barang dagangan yang bisa ditawarkan ke sana-kemari?” Ucapan kritis orang terdidik yang tidak suka perjodohan. TERE LIYE BIDADARI SURGA.

Ibu yang baik tahu siapa anak gadisnya, Ia tidak akan pernah meridoi anaknya dibeli bahkan ditawar dengan harga rendah. 

Yang terbaik ketika dalam masa penantian adalah istiqomah, diriku yakin setan memang selalu mengusik melalui kerikil kecil seperti orang lain yang padahal muslim.

Semoga kita mampu menjaga lisan-lisan kita, agar tak menyakiti orang-orang yang ada di sekitar kita, termasuk orang-orang yang dapat menjaga lisan-lisan ini agar tidak melukai saudara kita sendiri.

Terima kasih sudah menjadikan saya lebih kuat, meski mendengarnya sedikit menggores luka. Saya akan tetap tersenyum hangat menyapa anda yang telah berbuat lisan tak baik. Karena bagiku, hanya Allah yang wajib mengadili semua perbuatan kita. Meski begitu tetap menyerukan kebaikan.  

Wajar setiap insan merindukan pasangan dalam hidupnya, yang tidak wajar adalah orang yang selalu mengusik ketenangannya. Annur E.K

Imam Ahmad dan para penyusun kitab as-Sunan meriwayatkan sebuah hadits panjang bahwa Mu'adz bin Jabal menemui Nabi saw. dan berkata, 
"Tunjukkan kepadaku suatu perbuatan yang  akan mem¬buatku masuk surga." Rasulullah saw menjawab, "...Engkau harus menjaga ini sambil menunjuk ke arah lidahnya." Mu'adz  mengulangi lagi pertanyaan yang sama, maka Rasulullah saw. bersabda, "Celaka engkau  Mu'adz, bukan¬kah manusia itu tersungkur di dalam neraka hanya karena akibat dari ucapan  mereka. Tirmidzi berkata, "Hadits ini adalah  hadits hasan shahih. 


8 DOSA LISAN
Lisan ibarat pisau bermata dua,bisa mendatangkan kemaslahatan (kebaikan). dan kemudhratan.
Berikut diantaranya penyakit lisan yang harus dihindari:

1. Pembicaraan yang tidak Bermanfaat

2. Perdebatan dan Pertengkaran

3. Suka Melaknat

4. Bercanda yang Berlebihan

5. Mengejek dan Mencemoohkan orang lain

6. Ghibah (gosip)

7. Namimah (mengadu domba)

8. Memuji berlebihan

^_^

Senja takkan menghilang

Masih ingat saat kebersamaan kita terlukis indah? Layaknya pelangi yang merona disaat senja?
Mengulum senyuman ikhlas dengan perasaan bahagia? Pertemanan kita yang berakhir dengan bentuk keridloaan Ilahi?

Cinta
Aku tahu kau mencintaiku? begitu sebaliknya. Tapi saat usia mulai menapaki rindu penantian Surga ku tahu kau akan mengawaliku lebih dulu. Usia kita yang berbeda 1 tahun bisa jadi membuatnya merasa aku lebih dulu.
Kau tahu anugerah terindah saat ku dengar kamu mengatakan yang sesungguhnya?
Kebahagiaan mulai merasuki sel-sel tubuhku. Urat sarafku bertalu-talu menyemarakan kemenanganmu yang hampir saja.
Dan kau tawarkan sebuah kebahagiaan lewat jalinan yang begitu berharga.

Hai bidadari bertubuh lebih besar dariku. Tahukah kamu aku menanti kita yang duduk bersama dalam sileut senja? Saat itu aku masih menganggapmu bak diary yang bisa ku isi bulpen berwarna-warni. Nyatanya tidak.

Ku sadari saat kalimatmu mencuat untuk menghentikan langkahku terlalu jauh. Mengambil posisi seperti dulu. Sekarang kamu bungkam seribu bahasa. Sedangkan saat itu merasa seperti merengkuh menderita.
Bayangkan saja, hanya beberapa hari kita pernah terlibat baku hantam sebuah untaian kata.
Aku yang selalu mengambil tindakan tak seindah dirimu bidadari. 
Kau tahu kenapa? aku merasa serba salah. Karena aku seperti salah melangkah. 

Ku tahu kau kini lebih tahu segalanya. Bahkan aku tertinggal jauh, kau masih rendah hati tapi terkadang kau enggan berbicara tentang ini.

Hem, aku tidak membicarakanmu tentang keburukanmu.
Aku sangat mencintaimu meski selangkah lagi ada nuansa indah yang akan meninggalkan seklumit kebersamaan diantara kita. 
Aku tahu ini masih sebuah rahasia lagi Nona. 
Bersabarlah untukku, meski kamu belum memberitahu kapan.

Ah, aku jadi ingat tentang sesuatu yang tak tersentuh oleh diary mungilku.
Bahagia itu mudah saja, mengenal arti toleransi yang mencakup mengerti, memahami dan menjaga sikap menjadi lebih berarti. 
So beautiful, untukku dan dirimu

Hem, tak terasa cantik, kamu akan segera menuju pelaminan. Jarak diantara kita akan tetap terjaga meski tidak bisa ku mencuri waktumu. Aku bahagia mendengarnya, kau telah menemukan pangeranmu.
Berharap kau temukan hari terindah, dimana aku bisa hadir untuk turut menyemai indahnya cinta diantara yang berserak.


Senja.
Hangatnya senja,
Senja menyelimuti
Senja menghilang
Ah, Senja semu memerah.
pipimu saat inikah? karena aku sedang tak memujimu. Tapi menghargaimu 






Sahabat Seperjuanganku, UHIBBUKI FILLAH

Meski nantinya kami semua terpisah karenaMu Allah.
Semoga kami menjadi umat yang bersyukur dan senantiasa terjaga jalinan ukhuwah ini. Hingga bertemu dalam sebuah kebahagiaan sejatiMu. Jannatun naim.

Annur El Karimah #menyapamu lewat untaian kata.

sumber gambar : tumblr


Masih ingat saat kebersamaan kita terlukis indah? Layaknya pelangi yang merona disaat senja?
Mengulum senyuman ikhlas dengan perasaan bahagia? Pertemanan kita yang berakhir dengan bentuk keridloaan Ilahi?

Cinta
Aku tahu kau mencintaiku? begitu sebaliknya. Tapi saat usia mulai menapaki rindu penantian Surga ku tahu kau akan mengawaliku lebih dulu. Usia kita yang berbeda 1 tahun bisa jadi membuatnya merasa aku lebih dulu.
Kau tahu anugerah terindah saat ku dengar kamu mengatakan yang sesungguhnya?
Kebahagiaan mulai merasuki sel-sel tubuhku. Urat sarafku bertalu-talu menyemarakan kemenanganmu yang hampir saja.
Dan kau tawarkan sebuah kebahagiaan lewat jalinan yang begitu berharga.

Hai bidadari bertubuh lebih besar dariku. Tahukah kamu aku menanti kita yang duduk bersama dalam sileut senja? Saat itu aku masih menganggapmu bak diary yang bisa ku isi bulpen berwarna-warni. Nyatanya tidak.

Ku sadari saat kalimatmu mencuat untuk menghentikan langkahku terlalu jauh. Mengambil posisi seperti dulu. Sekarang kamu bungkam seribu bahasa. Sedangkan saat itu merasa seperti merengkuh menderita.
Bayangkan saja, hanya beberapa hari kita pernah terlibat baku hantam sebuah untaian kata.
Aku yang selalu mengambil tindakan tak seindah dirimu bidadari. 
Kau tahu kenapa? aku merasa serba salah. Karena aku seperti salah melangkah. 

Ku tahu kau kini lebih tahu segalanya. Bahkan aku tertinggal jauh, kau masih rendah hati tapi terkadang kau enggan berbicara tentang ini.

Hem, aku tidak membicarakanmu tentang keburukanmu.
Aku sangat mencintaimu meski selangkah lagi ada nuansa indah yang akan meninggalkan seklumit kebersamaan diantara kita. 
Aku tahu ini masih sebuah rahasia lagi Nona. 
Bersabarlah untukku, meski kamu belum memberitahu kapan.

Ah, aku jadi ingat tentang sesuatu yang tak tersentuh oleh diary mungilku.
Bahagia itu mudah saja, mengenal arti toleransi yang mencakup mengerti, memahami dan menjaga sikap menjadi lebih berarti. 
So beautiful, untukku dan dirimu

Hem, tak terasa cantik, kamu akan segera menuju pelaminan. Jarak diantara kita akan tetap terjaga meski tidak bisa ku mencuri waktumu. Aku bahagia mendengarnya, kau telah menemukan pangeranmu.
Berharap kau temukan hari terindah, dimana aku bisa hadir untuk turut menyemai indahnya cinta diantara yang berserak.


Senja.
Hangatnya senja,
Senja menyelimuti
Senja menghilang
Ah, Senja semu memerah.
pipimu saat inikah? karena aku sedang tak memujimu. Tapi menghargaimu 






Sahabat Seperjuanganku, UHIBBUKI FILLAH

Meski nantinya kami semua terpisah karenaMu Allah.
Semoga kami menjadi umat yang bersyukur dan senantiasa terjaga jalinan ukhuwah ini. Hingga bertemu dalam sebuah kebahagiaan sejatiMu. Jannatun naim.

Annur El Karimah #menyapamu lewat untaian kata.

sumber gambar : tumblr


Siapa bilang pria tak bisa banyak menangis?

Siapa bilang pria tak bisa banyak menangis?


Tahukah engkau, kaum pria sesungguhnya jauh lebih sering “menangis”
Namun mereka menyembunyikan tangisnya di dalam kekuatan akalnya,
Itulah mengapa Tuhan menyebutkan pada pria terdapat dua kali lipat akal seorang wanita, 
Dan itulah sebabnya mengapa tiada yang kau lihat melainkan ketegarannya.

Pria menangis karena tanggung jawabnya di hadapan Tuhannya,
Ia menjadi tonggak penyangga rumah tangga,
Menjadi pengawal Tuhan bagi Ibu, saudara perempuan, istri dan anak-anaknya.

Maka tangisnya tak pernah nampak di bening matanya,
Tangis pria adalah pada keringat yang bercucuran demi menafkahi keluarganya.

Tak bisa kau lihat tangisnya pada keluh kesah di lisannya,
Pria “menangis” dalam letih dan lelahnya menjaga keluarganya dari kelaparan.

Tak dapat kau dengar tangisnya pada omelan-omelan di bibirnya,
Pria “menangis” dalam tegak dan teguhnya dalam melindungi keluarganya dari terik matahari, deras hujan dan dinginnnya angin malam.

Tak nampak tangisnya pada peristiwa-peristiwa kecil dan sepele,
Pria “menangis” dalam kemarahannya jika kehormatan diri dan keluarganya digugat.

Pria “menangis” dengan sigap bangunnya di kegelapan dini hari,
Pria “menangis” dengan bercucuran peluhnya dalam menjemput rezeky,
Pria “menangis” dengan menjaga dan melindungi orang tua, anak dan istri,
Pria “menangis” dengan tenaga dan darahnya menjadi garda bagi agamanya,

Namun…Pria pun sungguh-sungguh menangis dengan air matanya,
di kesendiriannya menyadari tanggung jawabnya yang besar di hadapan Tuhannya,
Sungguh tiada yang pantas mendampingi pria berharga seperti itu melainkan wanita mulia yang memahami nilainya.

Indah jalan menuju Tuhan jika wanita shalehah yang menjadi teman.
Pandanglah Ayah …..
Pandanglah Suami …..
Sesungguhnya syurga Allah di dalam keridha’an mereka ..

Semoga bermanfaat dan Penuh Kebarokahan dari Allah ...
Silahkan DICOPAS atau DI SHARE jika menurut sahabat note ini bermanfaat ....

sumber gambar : LINK disini
Sumber tulisan :Facebook 

Salam Silaturahim 
Annur El Karimah. Jangan lupa follow El Karimah Shop Online
Siapa bilang pria tak bisa banyak menangis?


Tahukah engkau, kaum pria sesungguhnya jauh lebih sering “menangis”
Namun mereka menyembunyikan tangisnya di dalam kekuatan akalnya,
Itulah mengapa Tuhan menyebutkan pada pria terdapat dua kali lipat akal seorang wanita, 
Dan itulah sebabnya mengapa tiada yang kau lihat melainkan ketegarannya.

Pria menangis karena tanggung jawabnya di hadapan Tuhannya,
Ia menjadi tonggak penyangga rumah tangga,
Menjadi pengawal Tuhan bagi Ibu, saudara perempuan, istri dan anak-anaknya.

Maka tangisnya tak pernah nampak di bening matanya,
Tangis pria adalah pada keringat yang bercucuran demi menafkahi keluarganya.

Tak bisa kau lihat tangisnya pada keluh kesah di lisannya,
Pria “menangis” dalam letih dan lelahnya menjaga keluarganya dari kelaparan.

Tak dapat kau dengar tangisnya pada omelan-omelan di bibirnya,
Pria “menangis” dalam tegak dan teguhnya dalam melindungi keluarganya dari terik matahari, deras hujan dan dinginnnya angin malam.

Tak nampak tangisnya pada peristiwa-peristiwa kecil dan sepele,
Pria “menangis” dalam kemarahannya jika kehormatan diri dan keluarganya digugat.

Pria “menangis” dengan sigap bangunnya di kegelapan dini hari,
Pria “menangis” dengan bercucuran peluhnya dalam menjemput rezeky,
Pria “menangis” dengan menjaga dan melindungi orang tua, anak dan istri,
Pria “menangis” dengan tenaga dan darahnya menjadi garda bagi agamanya,

Namun…Pria pun sungguh-sungguh menangis dengan air matanya,
di kesendiriannya menyadari tanggung jawabnya yang besar di hadapan Tuhannya,
Sungguh tiada yang pantas mendampingi pria berharga seperti itu melainkan wanita mulia yang memahami nilainya.

Indah jalan menuju Tuhan jika wanita shalehah yang menjadi teman.
Pandanglah Ayah …..
Pandanglah Suami …..
Sesungguhnya syurga Allah di dalam keridha’an mereka ..

Semoga bermanfaat dan Penuh Kebarokahan dari Allah ...
Silahkan DICOPAS atau DI SHARE jika menurut sahabat note ini bermanfaat ....

sumber gambar : LINK disini
Sumber tulisan :Facebook 

Salam Silaturahim 
Annur El Karimah. Jangan lupa follow El Karimah Shop Online

Kesempatan Kedua

Resah dan gelisah sedang menemaniku pagi ini. Embun belum terlihat namun panas sudah menghadang. Ku rasakan untuk kesekian kalinya mengawali hari dengan rasa kecewa. Rasanya hatiku berduyun-duyun menggiring pada sebuah kebijakan pemikiran matang. Aku harus bisa mengawali semua dengan bismillah dan usaha. Namun apa daya kali ini ku ketinggalan kereta api. 

Harusnya aku datang jam 4 pagi. Tapi karena aku tidak ingin meninggalkan sholat subuh ku pikir bisa sampai tepat waktu saat  kereta berangkat. Ternyata salah. Terlewat 15 menit. 
Setidaknya aku masih bisa sholat dengan tayamum di kereta tapi aku tak memikirkan ke hal itu. 
Menyesak dadaku. Bahkan bergemuruh dahsyat tentang penyesalan.

Dan tiket yang sudah ku pesan melayang. Masih tersimpan rapi namun tak bisa dipakai. Bagiku ini seperti membuah uang di tong sampah. Seharusnya ku masukkan pada kotak yatim. Oh Allah dosaku setumpuk gunung. Mungkin ini belum saatnya. 

Allohu Akbar,
Aku melemas, tubuhku terasa tak berdaya menahan kecewa. Aku harus interview kerja hari ini. Bagaimana kesempatan ini bisa ku sia-siakan? Perubahan rasa itu menderaku bertubi-tubi. Hingga akhirnya ku pikir untuk menaiki bus. Tapi perasaanku gundah gula lagi. Tiba-tiba aku tak ingin memenuhi panggilan tes interview. Entah mengapa dorongan rasa malas dan sungkan menggelayuti pikiranku. Dan akhirnya migrain ku kambuh.

Maju mundur, mundur maju. Aku menyerah dan tergolek lemas ditempat tidur.
Sahabatku sedikit kecewa. Serta keluarga sahabatku merasa ingin sekali aku bisa hadir di tengah-tengah mereka. Aku ingin pekerjaan ini, tapi sepertinya abang mulai melarangku lagi. Kemarin tak pernah ia bersuara untuk mengekang apa yang ku inginkan. Sekarang berbanding terbalik.

Aku pun terus menggerutu tak jelas. Bahkan sahabatku lagi dan lagi menasehatiku kali ini ia memasang status sengaja di kirim untukku. 

Ibarat Ujian Nasional, 
walaupun kita terlambat datang, kita msh bisa menyelesaikan Ujian Nasional dengan waktu yg tersisa. Tergantung niat dan tekad. bismillah...

Aku tersenyum walau hatiku masih belum bisa padam karena api yang kecil masih menyala. Rasanya entahlah seperti motivasi yang membaik di hari ini. Aku ingin sekali bangkit dengan niat dan tekadku. 
Aku pun percaya jika ternyata masih di ijinkan untuk datang interview. Kesempatan kedua kali ini harus ku pergunakan dengan baik. Tapi akunya masih merasa lesu, lemas, lunglai meninggalkan jejak kotaku yang panas ini.
Iya kembali lagi ke tekad dan niat. Temanku ini benar sekali. Seharusnya aku bisa berlaku adil. Memberikan kesempatan kedua atau mundur dari kesempatan kedua. Jika memang kesempatan kedua ini belum beruntung berarti memang Allah belum menginginkan ku berhijrah. 
Semoga kalimat itu membangkitkanku. Walau aku menyadarinya dengan benar. Setidaknya aku sudah merasa nyaman dan tenang untuk memperlajari kesempatan kedua. 
Syukron. Bersabar dalam kesempatan kedua. Inilah yang terbaik bagiku. 

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5)

Motivasi ini benar-benar baik bagiku. Maju dengan kesempatan kedua.  

Beginilah caraku mencerna ucapan mereka. Benar sekali bukan? Ungkapan kecil yang bermakna bermilyaran bahkan tak tehingga di rasakan kebenarannya. 

Sebuah kata membuatku bangkit. Sebuah kalimat membuatku kuat. Sebuah rangkaian kalimat tersusun rapi membuatku semangat.

Terima kasih kawan dan terutama yang membuat jagad Raya ini sempurna yakni Allah.

"Posting ini diikutsertakan pada Give Away Perdana Dellafirayama, seorang ibu labil yang tidak suka warna hijau dan hitam"

Resah dan gelisah sedang menemaniku pagi ini. Embun belum terlihat namun panas sudah menghadang. Ku rasakan untuk kesekian kalinya mengawali hari dengan rasa kecewa. Rasanya hatiku berduyun-duyun menggiring pada sebuah kebijakan pemikiran matang. Aku harus bisa mengawali semua dengan bismillah dan usaha. Namun apa daya kali ini ku ketinggalan kereta api. 

Harusnya aku datang jam 4 pagi. Tapi karena aku tidak ingin meninggalkan sholat subuh ku pikir bisa sampai tepat waktu saat  kereta berangkat. Ternyata salah. Terlewat 15 menit. 
Setidaknya aku masih bisa sholat dengan tayamum di kereta tapi aku tak memikirkan ke hal itu. 
Menyesak dadaku. Bahkan bergemuruh dahsyat tentang penyesalan.

Dan tiket yang sudah ku pesan melayang. Masih tersimpan rapi namun tak bisa dipakai. Bagiku ini seperti membuah uang di tong sampah. Seharusnya ku masukkan pada kotak yatim. Oh Allah dosaku setumpuk gunung. Mungkin ini belum saatnya. 

Allohu Akbar,
Aku melemas, tubuhku terasa tak berdaya menahan kecewa. Aku harus interview kerja hari ini. Bagaimana kesempatan ini bisa ku sia-siakan? Perubahan rasa itu menderaku bertubi-tubi. Hingga akhirnya ku pikir untuk menaiki bus. Tapi perasaanku gundah gula lagi. Tiba-tiba aku tak ingin memenuhi panggilan tes interview. Entah mengapa dorongan rasa malas dan sungkan menggelayuti pikiranku. Dan akhirnya migrain ku kambuh.

Maju mundur, mundur maju. Aku menyerah dan tergolek lemas ditempat tidur.
Sahabatku sedikit kecewa. Serta keluarga sahabatku merasa ingin sekali aku bisa hadir di tengah-tengah mereka. Aku ingin pekerjaan ini, tapi sepertinya abang mulai melarangku lagi. Kemarin tak pernah ia bersuara untuk mengekang apa yang ku inginkan. Sekarang berbanding terbalik.

Aku pun terus menggerutu tak jelas. Bahkan sahabatku lagi dan lagi menasehatiku kali ini ia memasang status sengaja di kirim untukku. 

Ibarat Ujian Nasional, 
walaupun kita terlambat datang, kita msh bisa menyelesaikan Ujian Nasional dengan waktu yg tersisa. Tergantung niat dan tekad. bismillah...

Aku tersenyum walau hatiku masih belum bisa padam karena api yang kecil masih menyala. Rasanya entahlah seperti motivasi yang membaik di hari ini. Aku ingin sekali bangkit dengan niat dan tekadku. 
Aku pun percaya jika ternyata masih di ijinkan untuk datang interview. Kesempatan kedua kali ini harus ku pergunakan dengan baik. Tapi akunya masih merasa lesu, lemas, lunglai meninggalkan jejak kotaku yang panas ini.
Iya kembali lagi ke tekad dan niat. Temanku ini benar sekali. Seharusnya aku bisa berlaku adil. Memberikan kesempatan kedua atau mundur dari kesempatan kedua. Jika memang kesempatan kedua ini belum beruntung berarti memang Allah belum menginginkan ku berhijrah. 
Semoga kalimat itu membangkitkanku. Walau aku menyadarinya dengan benar. Setidaknya aku sudah merasa nyaman dan tenang untuk memperlajari kesempatan kedua. 
Syukron. Bersabar dalam kesempatan kedua. Inilah yang terbaik bagiku. 

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5)

Motivasi ini benar-benar baik bagiku. Maju dengan kesempatan kedua.  

Beginilah caraku mencerna ucapan mereka. Benar sekali bukan? Ungkapan kecil yang bermakna bermilyaran bahkan tak tehingga di rasakan kebenarannya. 

Sebuah kata membuatku bangkit. Sebuah kalimat membuatku kuat. Sebuah rangkaian kalimat tersusun rapi membuatku semangat.

Terima kasih kawan dan terutama yang membuat jagad Raya ini sempurna yakni Allah.

"Posting ini diikutsertakan pada Give Away Perdana Dellafirayama, seorang ibu labil yang tidak suka warna hijau dan hitam"

Ayat-Ayat Jilbab

  Sebelum ku menceritakan mozaik-mozaik kehidupan berjilbab. Dan akhirnya jilbabku berlabuh dengan indah. Mungkin aku tak sanggup menceritakan penggalan kisah masa laluku kepada siapapun selain dalam penggalan masa silam melalui cerita ini.

         Jujur jilbab bukanlah hal asing di mataku. Saat aku kelas 4 SD aku harus berpisah dengan ibuku karena aku menjalani kehidupan baru di sebuah pesantren di daerah Gunung Putri Bogor. Namun aku lupa nama pesantrennya apa, karena hanya beberapa bulan saja keberadaanku disana. Merasa seperti penjara bagi gadis belia umur 9 tahun sepertiku.
         Dimana air mataku tak berhenti setiap harinya, karena di pesantren tidak menyediakan sekolah khusus SD atau yang biasa di kenal madrasah ibtidaiyah. Pesantren yang ku sambangi dan ku tinggal itu hanya menyediakan fasilitas untuk itngkat SMP dan SMA.
        Entah mengapa aku menjadi berderaian air mata setiap harus mengenakan kerudung menuju sekolah dasar. Terang saja, tahun itu tepatnya tahun 1999 tak ada siswi yang mengenakan kerudung. Dan di kelas 4 hanya ada aku. Teman pesantrenku yang duduk di kelas 3 dan 5 pun merasakan demikian. Namun Aku pun harus menerima peraturan dari pesantren untuk bersedia di sekolahkan di sekolah dasar yang jaraknya hampir mencapai ratusan meter dari pesantren.

"Kita buka saja kerudungnya saat di tengah jalan. Yang terpenting tidak terlihat dari pesantren. nanti kalau pulang sekolah kita melakukan hal yang sama bagaimana?" ajak temanku yang saat itu duduk di kelas 5.
"hem... ide yang sip" ujarku kala itu.

Ku tahu ini tidak mudah ketika aku dan teman-teman pesantren untuk mengenakan kerudung saat sekolah.  Aku dan 3 teman lainnya yang masih duduk di sekolah dasar pun sepakat untuk melepas kerudung  saat jarak dari pesantren menuju sekolah dasar sudah tak bisa di jangkau oleh mata-mata dari pesantren. Ini karena aku tak mau menjadi pemandangan yang berbeda. Dan terasa kampungan sekali jika ku berada bersama anak-anak lainnya. Terlihat lebih tua dan mungkin lebih merasa tak nyaman.

Namun usahaku gagal saat mempertahankan rambut indahku terlihat agar tidak merasakan perbedaan. Kami di nasehati oleh uztad dan uztadah pengajar di pesantren, karena kami terlihat sedang berjalan menuju pulang tidak dalam keadaan mengenakan kerudung. Aku pun merasa tak betah sehingga belum ada setahun aku memutuskan untuk kembali ke Jakarta bersama nenekku. Di sana aku pun tidak mengenakan kerudung.
                                                                          ****

        Berlajut saat aku duduk di bangku SMP, mau tak mau mengharuskanku mengenakan jilbab karena sekolahku di sekolah islam. Tapi itu hanya sebatas sekolah, di rumah aku masih terbiasa buka-bukaan aurat bahkan membiarkan rambut indah hitam legamku terurai.

        Hingga pada suatu hari, tepat usiaku menginjak 16 tahun. Saat aku berjalan kaki bersama temanku menuju sebuah bioskop untuk menonton film horor pantatku di colek oleh seorang pria yang saat itu tengah berjalan berlawanan arah denganku. Menjijikan sekali. Ini sebuah pelecehan. Aku ingin marah, bahkan ingin sekali menghantam wajah lelaki tersebut. Tapi aku tak bisa berbuat banyak hanya bisa diam tertunduk lesu dan merasa tersiksa dengan baju yang begitu pendek yang tak bisa menutupi bagian yang paling menonjol.

Di bangku SMA aku pun melanjutkan berjilbab tapi hanya pada saat sekolah. namun  muslimah sebutan sudah melekat pada diriku di mata teman-teman.  Bahkan temanku tak mengenaliku saat aku tidak berjilbab. Nyatanya setelah lulus SMA aku masih belum bisa meyakinkan tentang memakai jilbab dengan sempurna.
                                                                         ****

       Saat menetapi angka 21. Di usiaku yang semakin dewasa. Tepatnya di siang hari aku sedang berfacebook ria. Saat itu aku sedang membaca sebuah ayat-ayat jilbab .
Ini petikan yang membuatku merasa kembali meraih hidayah itu.

Jilbab adalah identitas seorang Muslimah.

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59) 

Sekarang ini kita telah susah membedakan antara perempuan kafir dengan perempuan yang beriman.Karena banyak muslimah yang tidak memakai jilbab.

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya…” (QS. An Nuur: 31).

Saat membaca kata-kata kafir bulu romaku merinding.
Sepertinya urat nadiku bertalu-talu. Dan hatiku tak bisa meredam dentuman ayat-ayat jilbab yang membuatku begitu terpesona. Bagaimana bisa aku mengingkari satu ayat saja. Sedangkan aku adalah seorang wanita Islam yang biasa disebut muslimah. Dan muslimah identik dengan ketaatan pada Allah. Dan berpedoman pada ayat-ayat Allah yang begitu indah.

          Dan ada hadist lagi yang membuatku kian tak kuasa menahan deraian air mata yang sudah membumbung di pelupuk mataku. 
 “Wahai anakku Fatimah! Adapun perempuan-perempuan yang akan digantung rambutnya hingga mendidih otaknya dalam neraka adalah mereka itu di dunia tidak mau menutup rambutnya daripada dilihat laki-laki yang bukan mahramnya” (HR. Bukhari & Muslim).

Wajahku memucat pasi sesaat. Lidah kelu membela diri tentang alasan yang selalu muncul secara rasional. Dan aku selalu mengaitkan wanita yang berjilbab belum tentu lebih baik daripada wanita yang tidak berjilbab.
            Saat itu Irama denyut jantungku pun berdentum semakin mendengung beriringan dengan suara hardisk menemani. Jari jemari ku lincah diatas papan qwerty kemudian  mengarahkan mouse untuk membaca satu demi satu artikel untuk menguatkan rasa penasaranku untuk menuju jalan jilbab.

                                                                            ****

     Debaran hatiku mulai berkicau tentang jilbab yang harus ku pakai hari minggu kala itu. Aku pun bersemangat walaupun masih terlihat malu-malu mencoba memakai jilbab. Saat itu aku berjalan menuju tempat kerjaku. Dalam perjalanan ada seorang pria menyapaku dari arah berlawanan.
“Assalaamu’alaikum”
Ku jawab “wa’alaikumussalam”
Walaupun ku tak tahu maksud dia memberi salam padaku. Apakah hanya untuk menggoda atau mendengar suaraku. Setidaknya hari itu ada angin segar ku rasakan.
Di sini aku mulai tersadar betapa hebatnya sapaan yang indah di tujukkan kepada diriku. Karena saat itu aku belum pernah mendapati sapaan salam yang indah. Biasanya wanita sepertiku ini jika berjalan atau bepergian seorang diri selalu di beri siulan kasar. Bahkan di lecehkan. Dan itu membuatku merasa berada dalam jajaran wanita yang genit.

                                                         
“Bismillahirrohmaniirohim” Tekadku bulat, semakin kuat untuk membuktikan bahwa aku bisa sejajar dengan wanita muslimah. Seandainya waktu itu aku tak mencobanya, bagaimana bisa aku akan berjilbab sedangkan aku belum mencoba dan memaksakannya. Mungkin hidayah takkan pernah ada dalam hidupku sebelum aku mencobanya sendiri.
Perlahan aku menemukan jiwaku yang sesungguhnya. Rasa sesalku yang sudah tak menyesak di dada itu kembali bernaung. Walau awalnya aku masih belum bisa menerima kenyataan. Karena mata-mata tajam menatap Jibab syar’i ku ini seperti sebuah sensasi belaka.

Walaupun awalnya jilbab ku anggap kuno. Bahkan seribu kali aku berpikir tentang jilbab. Dan kenyataannya saat pertama kali ku mengenakan jilbab syar'i ku berprasangka buruk tentang keadaanku sendiri.
Apakah dengan berjilbab ada lelaki yang mau denganku? atau tidak?
Apakah wajahku semakin kelihatan jelek / menua? bahkan tidak terlihat sisi asli kecantikanku??!!
Apakah aku bisa bekerja di tempat yang ku inginkan?
Apakah aku bisa mendapatkan teman yang banyak?
semua rasa penuh tanda tanya itu membuncah berdebar-debar di hatiku.
Tapinya nyatanya ku mendapatkan sebuah perlindungan luar biasa. Yang membuatku nyaman.
Selalu dan selalu. "tidak! ini tidak boleh terjadi! aku menyebut diriku kafir! apa sekarang tetap sama? bagaimana ibadahku selama ini?"
Muslimah adalah wanita yang baik. Wanita Islam sesungguhnya. aku pun mengawalinya dengan senyuman dan mulai tak berani berontak dengan berkeluh kesah memahat sebuah pendustaan diri.

                                                                           ***

       Hari demi hari ku lewati lembaran ujian dengan suka duka. Ku pastikan menyempurnakan jilbabku dengan serangkaian doa dan harapan. Namun ada saja yang sering meremehkanku. Setelah hampir satu bulan aku berhasil menyedot perhatian lewat gamis, rok panjang, baju lebar, jilbab syar’i,  kaos kaki bahkan jarang keluar rumah berinteraksi dengan sesama tetangga.

“anak situ kan kakinya banyak koreng jadi di tutupin rapat. Lihat anak gadis saya dia berani tampil memakai celana pendek karena mulus” ujar seorang ibu setengah baya kepada ibu kandungku.

Geram rasanya mendengar suara-suara yang tak membuatku betah menjadi tetangga sebelahnya. Namun kenyataannya jalan yang ku tempuh adalah benar, jadi aku tak perlu merisaukan ini

   Ada pula gunjingan tentang jilbabku yang kuno tidak modern sangatlah tidak pantas di pakai. Dan membuatku sulit untuk mencari pekerjaan. Terang saja itu tidak terbukti. Aku bisa mensiasatinya dengan bekerja yang sesuai dengan identitasku sebagai seorang muslimah.

Walau saat itu aku tersentak hebat. Di saat sedang aku menetapi sebuah ketataan dan merasakan barunya berjilbab. Benarkah ini sebuah mimpi ataukah sebuah kebencian tentang diriku atau karena penampilanku. Mata ini berkaca-kaca dan mulai membanjir buliran bening dari mata sayuku.

Aku bangkit mencoba menenangkan diri. Bersama deraian air mata, aku mulai tersadar. Tidak semua orang bisa berjilbab secara sempurna sedangkan aku, aku beruntung bisa mengenal jilbab dalam waktu masih muda. Apa jadinya aku mengaku muslimah sedangkan aku tak pantas di sebut muslimah karena aku berlum berjilbab. Aku jelas tak mau disejajarkan dengan wanita kafir. Sekali lagi aku tidak mau kata-kata kafir membentuk awan gemuk dan selalu berada diatas kepalaku. Membayang-bayangi sebuah kehidupan ini yang masih penuh dengan sebuah rahasia.
Karena jilbab bukan sekedar penutup kepala. Melainkan pakaian wanita muslimah yang menutup bagian kepala sampai dengan kaki dan tidak memperlihatkan lekukan tubuh. Hanya memperlihatkan bagian wajah dan telapak tangan. Itu adalah identitas muslimah. Sampai kapanpun tetap identitas.

    Teringat pula tentang awal mengenakan kaos kaki yang bagiku sudah seperti mendarah daging.
"Kenapa pakai kaos kaki kak?" tanya anak kecil itu begitu polos.
Mereka berseragam putih biru SMP.
Aku tersenyum sembari menjawabnya tenang.
"Suka baca Al-qur'an? Kalau baca ayat-ayat jilbab sudah pernah?"
Mereka menggeleng.
"Kalau ayat-ayat cinta pernah nonton" jawab mereka kompak sembari terkekeh.


Terang saja ini tidak mudah untuk menjelaskannya. Namun aku akan mengajaknya untuk menuju hidayah terindah. Seperti mengajak adik-adikku untuk melabuhkan jilbabnya.
Semoga. ^___^

                                                                                  ***

      Derap langkahku semakin teraraha dalam sebuah kikisan waktu yang berputar. Saat aku harus mengenal islam lebih jauh, Jilbabku bukan sekedar memakai jilbab sebagai suatu identitas muslimah atau aksesoris seorang muslimah. Jilbabku harus di sertai dengan amalan-amalan wanita muslimah sesungguhnya. Belajar ilmu agama walaupun satu ayat dalam sehari.
Aku pun yakin ketika aku harus menjawab pertanyaan tentang jilbabku. Maka aku akan menjawabnya dengan ayat-ayat jilbab. Dimana agar wanita kafir dan muslim mudah dikenali. Allah Maha Bijaksana dan Maha Adil. Memperlakukan umatNya sesuai dengan keindahan sesungguhnya.

          Menjadi wanita yang tangguh bukanlah perkara mudah. Namun jika semua diniati dan di ikhlasi karena Allah akan menjadi lebih mudah. Dan kini ku petik manisnya berjilbab. Letupan-letupan bara hati bercambuk emosi tak lagi terpatri dalam diri. Karena aku berpedoman pada Al-qur’an dan tersenyum di balik jilbab yang meneduhkan hatiku.

          Hadiah terindah yang pernah tak bisa ku beli dimanapun adalah teman-teman shalihah. Mereka mengajakku untuk mengaji, mengajariku untuk bersosialisasi mengenal islam. Mereka membawaku dalam sebuah dekapan kasih sayang. Dan mereka bukan sekedar teman permainan atau tempat curhat.

          Anna uhibbuki fillah ukhti. “Aku mencintaimu karena Allah ukhti” pesan itu terus mengingatkanku pada dekapan ukhuwah. Dekapan yang begitu indah. Dan tak pernah terlupakan. Mereka adalah orang-orang pilihan yang tercipta untuk menemani para wanita jilbab yang sholehah. Untuk melengkapi kekurangan dan kelebihan masing-masing yang berlandaskan cinta karena Allah. Masya Allah. Hatiku kian terenyuh. Berderailah air mata di sekitar wajahku.

          “Aku bisa, dan aku mampu” ujarku di semangat pagi yang bersinar matahari begitu terik.

                                                                           ***

     Kini langkahku kian terarah saat ku tahu ganjaran wanita berjilbab adalah sebuah surga. Surga yang tak pernah bisa dibeli dengan materi. Surga yang takkan pernah bisa di tawar dengan amalan yang belum terpenuhi. Iffah, (menahan rasa malu) kesucian tetap terjaga, takwa dan sebuah keimanan yang membentengi diriku untuk berterima kasih kepada Allah.
          Dengan jilbab ku bisa menjadi wanita muslimah, dengan jilbab ku bisa mendamba surga yang belum pernah tergambarkan oleh bayanganku. Namun ada dalam gambaran  ayat-ayat suciMu. Karena jilbab adalah beribadah, sebuah bukti ketaataan kepada Allah SWT. Sebuah pelindung terhebat diantara pakaian yang lainnya.



Wahai insan dunia penampilanmu tertutup rapat oleh kain-kain surga
Laksana kain sutera yang mahal di sekeliling tubuhmu memancarkan mutiara
Dan engkau begitu tegar menjalani kehidupan dunia
Semata-mata mencari rahasia terindah yakni Surga


    Aku bukan kafir dan tak ingin disebut Kafir. Allah begitu ingin mahluknya tak mau di samaratakan dengan kafir. Begitu pula dengan suara hatiku. Aku ingin menjadi wanita muslimah bukan kafir. Agar aku mudah dikenali sebagai seorang muslimah.

Lalu bagaimana dengan orang-orang di sekitar kita? Semoga mereka bisa mengerti ayat-ayat Jilbab yang mungkin bisa menguatkan identitas muslimah. Yakni cara berpakaiannya yang berbeda dan sopan. Itu adalah Muslimah.
Dengan Jilbab syar'i itu yang terbaik. Karena aku adalah muslimah. Muslimah is the best!

Terima kasih ayat-ayat Jilbab. Semoga ada yang terketuk hatinya setelah membaca ayat-ayat jilbab seperti penggalan kisah nyataku.

Puji Syukur atas semua sketsa-sketsa UjianMu yang menyapa kehidupanku. Dengan kehidupan dunia aku mengenal ayat-ayat jilbab.
Dan tanpa sebuah keyakinan aku takkan pernah menjemput hidayah terindah.
Terima kasih Allah, seorang hamba tidak memiliki daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah.

Allah Engkau begitu berarti untukku.

Dan Alhamdulillah tulisan ini pula yang akhirnya menjadi juara diantara 4 pemenang lainnya. Karena tulisan ini di nilai sangat baik jika di baca. Dan agar semua orang dapat memperoleh hidayah dan saling berlomba-lomba memperoleh kebaikan. Jangan Lupa di baca yah.  Semoga Bernilai dan berharga untuk kita di mata Allah.



  Sebelum ku menceritakan mozaik-mozaik kehidupan berjilbab. Dan akhirnya jilbabku berlabuh dengan indah. Mungkin aku tak sanggup menceritakan penggalan kisah masa laluku kepada siapapun selain dalam penggalan masa silam melalui cerita ini.

         Jujur jilbab bukanlah hal asing di mataku. Saat aku kelas 4 SD aku harus berpisah dengan ibuku karena aku menjalani kehidupan baru di sebuah pesantren di daerah Gunung Putri Bogor. Namun aku lupa nama pesantrennya apa, karena hanya beberapa bulan saja keberadaanku disana. Merasa seperti penjara bagi gadis belia umur 9 tahun sepertiku.
         Dimana air mataku tak berhenti setiap harinya, karena di pesantren tidak menyediakan sekolah khusus SD atau yang biasa di kenal madrasah ibtidaiyah. Pesantren yang ku sambangi dan ku tinggal itu hanya menyediakan fasilitas untuk itngkat SMP dan SMA.
        Entah mengapa aku menjadi berderaian air mata setiap harus mengenakan kerudung menuju sekolah dasar. Terang saja, tahun itu tepatnya tahun 1999 tak ada siswi yang mengenakan kerudung. Dan di kelas 4 hanya ada aku. Teman pesantrenku yang duduk di kelas 3 dan 5 pun merasakan demikian. Namun Aku pun harus menerima peraturan dari pesantren untuk bersedia di sekolahkan di sekolah dasar yang jaraknya hampir mencapai ratusan meter dari pesantren.

"Kita buka saja kerudungnya saat di tengah jalan. Yang terpenting tidak terlihat dari pesantren. nanti kalau pulang sekolah kita melakukan hal yang sama bagaimana?" ajak temanku yang saat itu duduk di kelas 5.
"hem... ide yang sip" ujarku kala itu.

Ku tahu ini tidak mudah ketika aku dan teman-teman pesantren untuk mengenakan kerudung saat sekolah.  Aku dan 3 teman lainnya yang masih duduk di sekolah dasar pun sepakat untuk melepas kerudung  saat jarak dari pesantren menuju sekolah dasar sudah tak bisa di jangkau oleh mata-mata dari pesantren. Ini karena aku tak mau menjadi pemandangan yang berbeda. Dan terasa kampungan sekali jika ku berada bersama anak-anak lainnya. Terlihat lebih tua dan mungkin lebih merasa tak nyaman.

Namun usahaku gagal saat mempertahankan rambut indahku terlihat agar tidak merasakan perbedaan. Kami di nasehati oleh uztad dan uztadah pengajar di pesantren, karena kami terlihat sedang berjalan menuju pulang tidak dalam keadaan mengenakan kerudung. Aku pun merasa tak betah sehingga belum ada setahun aku memutuskan untuk kembali ke Jakarta bersama nenekku. Di sana aku pun tidak mengenakan kerudung.
                                                                          ****

        Berlajut saat aku duduk di bangku SMP, mau tak mau mengharuskanku mengenakan jilbab karena sekolahku di sekolah islam. Tapi itu hanya sebatas sekolah, di rumah aku masih terbiasa buka-bukaan aurat bahkan membiarkan rambut indah hitam legamku terurai.

        Hingga pada suatu hari, tepat usiaku menginjak 16 tahun. Saat aku berjalan kaki bersama temanku menuju sebuah bioskop untuk menonton film horor pantatku di colek oleh seorang pria yang saat itu tengah berjalan berlawanan arah denganku. Menjijikan sekali. Ini sebuah pelecehan. Aku ingin marah, bahkan ingin sekali menghantam wajah lelaki tersebut. Tapi aku tak bisa berbuat banyak hanya bisa diam tertunduk lesu dan merasa tersiksa dengan baju yang begitu pendek yang tak bisa menutupi bagian yang paling menonjol.

Di bangku SMA aku pun melanjutkan berjilbab tapi hanya pada saat sekolah. namun  muslimah sebutan sudah melekat pada diriku di mata teman-teman.  Bahkan temanku tak mengenaliku saat aku tidak berjilbab. Nyatanya setelah lulus SMA aku masih belum bisa meyakinkan tentang memakai jilbab dengan sempurna.
                                                                         ****

       Saat menetapi angka 21. Di usiaku yang semakin dewasa. Tepatnya di siang hari aku sedang berfacebook ria. Saat itu aku sedang membaca sebuah ayat-ayat jilbab .
Ini petikan yang membuatku merasa kembali meraih hidayah itu.

Jilbab adalah identitas seorang Muslimah.

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59) 

Sekarang ini kita telah susah membedakan antara perempuan kafir dengan perempuan yang beriman.Karena banyak muslimah yang tidak memakai jilbab.

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya…” (QS. An Nuur: 31).

Saat membaca kata-kata kafir bulu romaku merinding.
Sepertinya urat nadiku bertalu-talu. Dan hatiku tak bisa meredam dentuman ayat-ayat jilbab yang membuatku begitu terpesona. Bagaimana bisa aku mengingkari satu ayat saja. Sedangkan aku adalah seorang wanita Islam yang biasa disebut muslimah. Dan muslimah identik dengan ketaatan pada Allah. Dan berpedoman pada ayat-ayat Allah yang begitu indah.

          Dan ada hadist lagi yang membuatku kian tak kuasa menahan deraian air mata yang sudah membumbung di pelupuk mataku. 
 “Wahai anakku Fatimah! Adapun perempuan-perempuan yang akan digantung rambutnya hingga mendidih otaknya dalam neraka adalah mereka itu di dunia tidak mau menutup rambutnya daripada dilihat laki-laki yang bukan mahramnya” (HR. Bukhari & Muslim).

Wajahku memucat pasi sesaat. Lidah kelu membela diri tentang alasan yang selalu muncul secara rasional. Dan aku selalu mengaitkan wanita yang berjilbab belum tentu lebih baik daripada wanita yang tidak berjilbab.
            Saat itu Irama denyut jantungku pun berdentum semakin mendengung beriringan dengan suara hardisk menemani. Jari jemari ku lincah diatas papan qwerty kemudian  mengarahkan mouse untuk membaca satu demi satu artikel untuk menguatkan rasa penasaranku untuk menuju jalan jilbab.

                                                                            ****

     Debaran hatiku mulai berkicau tentang jilbab yang harus ku pakai hari minggu kala itu. Aku pun bersemangat walaupun masih terlihat malu-malu mencoba memakai jilbab. Saat itu aku berjalan menuju tempat kerjaku. Dalam perjalanan ada seorang pria menyapaku dari arah berlawanan.
“Assalaamu’alaikum”
Ku jawab “wa’alaikumussalam”
Walaupun ku tak tahu maksud dia memberi salam padaku. Apakah hanya untuk menggoda atau mendengar suaraku. Setidaknya hari itu ada angin segar ku rasakan.
Di sini aku mulai tersadar betapa hebatnya sapaan yang indah di tujukkan kepada diriku. Karena saat itu aku belum pernah mendapati sapaan salam yang indah. Biasanya wanita sepertiku ini jika berjalan atau bepergian seorang diri selalu di beri siulan kasar. Bahkan di lecehkan. Dan itu membuatku merasa berada dalam jajaran wanita yang genit.

                                                         
“Bismillahirrohmaniirohim” Tekadku bulat, semakin kuat untuk membuktikan bahwa aku bisa sejajar dengan wanita muslimah. Seandainya waktu itu aku tak mencobanya, bagaimana bisa aku akan berjilbab sedangkan aku belum mencoba dan memaksakannya. Mungkin hidayah takkan pernah ada dalam hidupku sebelum aku mencobanya sendiri.
Perlahan aku menemukan jiwaku yang sesungguhnya. Rasa sesalku yang sudah tak menyesak di dada itu kembali bernaung. Walau awalnya aku masih belum bisa menerima kenyataan. Karena mata-mata tajam menatap Jibab syar’i ku ini seperti sebuah sensasi belaka.

Walaupun awalnya jilbab ku anggap kuno. Bahkan seribu kali aku berpikir tentang jilbab. Dan kenyataannya saat pertama kali ku mengenakan jilbab syar'i ku berprasangka buruk tentang keadaanku sendiri.
Apakah dengan berjilbab ada lelaki yang mau denganku? atau tidak?
Apakah wajahku semakin kelihatan jelek / menua? bahkan tidak terlihat sisi asli kecantikanku??!!
Apakah aku bisa bekerja di tempat yang ku inginkan?
Apakah aku bisa mendapatkan teman yang banyak?
semua rasa penuh tanda tanya itu membuncah berdebar-debar di hatiku.
Tapinya nyatanya ku mendapatkan sebuah perlindungan luar biasa. Yang membuatku nyaman.
Selalu dan selalu. "tidak! ini tidak boleh terjadi! aku menyebut diriku kafir! apa sekarang tetap sama? bagaimana ibadahku selama ini?"
Muslimah adalah wanita yang baik. Wanita Islam sesungguhnya. aku pun mengawalinya dengan senyuman dan mulai tak berani berontak dengan berkeluh kesah memahat sebuah pendustaan diri.

                                                                           ***

       Hari demi hari ku lewati lembaran ujian dengan suka duka. Ku pastikan menyempurnakan jilbabku dengan serangkaian doa dan harapan. Namun ada saja yang sering meremehkanku. Setelah hampir satu bulan aku berhasil menyedot perhatian lewat gamis, rok panjang, baju lebar, jilbab syar’i,  kaos kaki bahkan jarang keluar rumah berinteraksi dengan sesama tetangga.

“anak situ kan kakinya banyak koreng jadi di tutupin rapat. Lihat anak gadis saya dia berani tampil memakai celana pendek karena mulus” ujar seorang ibu setengah baya kepada ibu kandungku.

Geram rasanya mendengar suara-suara yang tak membuatku betah menjadi tetangga sebelahnya. Namun kenyataannya jalan yang ku tempuh adalah benar, jadi aku tak perlu merisaukan ini

   Ada pula gunjingan tentang jilbabku yang kuno tidak modern sangatlah tidak pantas di pakai. Dan membuatku sulit untuk mencari pekerjaan. Terang saja itu tidak terbukti. Aku bisa mensiasatinya dengan bekerja yang sesuai dengan identitasku sebagai seorang muslimah.

Walau saat itu aku tersentak hebat. Di saat sedang aku menetapi sebuah ketataan dan merasakan barunya berjilbab. Benarkah ini sebuah mimpi ataukah sebuah kebencian tentang diriku atau karena penampilanku. Mata ini berkaca-kaca dan mulai membanjir buliran bening dari mata sayuku.

Aku bangkit mencoba menenangkan diri. Bersama deraian air mata, aku mulai tersadar. Tidak semua orang bisa berjilbab secara sempurna sedangkan aku, aku beruntung bisa mengenal jilbab dalam waktu masih muda. Apa jadinya aku mengaku muslimah sedangkan aku tak pantas di sebut muslimah karena aku berlum berjilbab. Aku jelas tak mau disejajarkan dengan wanita kafir. Sekali lagi aku tidak mau kata-kata kafir membentuk awan gemuk dan selalu berada diatas kepalaku. Membayang-bayangi sebuah kehidupan ini yang masih penuh dengan sebuah rahasia.
Karena jilbab bukan sekedar penutup kepala. Melainkan pakaian wanita muslimah yang menutup bagian kepala sampai dengan kaki dan tidak memperlihatkan lekukan tubuh. Hanya memperlihatkan bagian wajah dan telapak tangan. Itu adalah identitas muslimah. Sampai kapanpun tetap identitas.

    Teringat pula tentang awal mengenakan kaos kaki yang bagiku sudah seperti mendarah daging.
"Kenapa pakai kaos kaki kak?" tanya anak kecil itu begitu polos.
Mereka berseragam putih biru SMP.
Aku tersenyum sembari menjawabnya tenang.
"Suka baca Al-qur'an? Kalau baca ayat-ayat jilbab sudah pernah?"
Mereka menggeleng.
"Kalau ayat-ayat cinta pernah nonton" jawab mereka kompak sembari terkekeh.


Terang saja ini tidak mudah untuk menjelaskannya. Namun aku akan mengajaknya untuk menuju hidayah terindah. Seperti mengajak adik-adikku untuk melabuhkan jilbabnya.
Semoga. ^___^

                                                                                  ***

      Derap langkahku semakin teraraha dalam sebuah kikisan waktu yang berputar. Saat aku harus mengenal islam lebih jauh, Jilbabku bukan sekedar memakai jilbab sebagai suatu identitas muslimah atau aksesoris seorang muslimah. Jilbabku harus di sertai dengan amalan-amalan wanita muslimah sesungguhnya. Belajar ilmu agama walaupun satu ayat dalam sehari.
Aku pun yakin ketika aku harus menjawab pertanyaan tentang jilbabku. Maka aku akan menjawabnya dengan ayat-ayat jilbab. Dimana agar wanita kafir dan muslim mudah dikenali. Allah Maha Bijaksana dan Maha Adil. Memperlakukan umatNya sesuai dengan keindahan sesungguhnya.

          Menjadi wanita yang tangguh bukanlah perkara mudah. Namun jika semua diniati dan di ikhlasi karena Allah akan menjadi lebih mudah. Dan kini ku petik manisnya berjilbab. Letupan-letupan bara hati bercambuk emosi tak lagi terpatri dalam diri. Karena aku berpedoman pada Al-qur’an dan tersenyum di balik jilbab yang meneduhkan hatiku.

          Hadiah terindah yang pernah tak bisa ku beli dimanapun adalah teman-teman shalihah. Mereka mengajakku untuk mengaji, mengajariku untuk bersosialisasi mengenal islam. Mereka membawaku dalam sebuah dekapan kasih sayang. Dan mereka bukan sekedar teman permainan atau tempat curhat.

          Anna uhibbuki fillah ukhti. “Aku mencintaimu karena Allah ukhti” pesan itu terus mengingatkanku pada dekapan ukhuwah. Dekapan yang begitu indah. Dan tak pernah terlupakan. Mereka adalah orang-orang pilihan yang tercipta untuk menemani para wanita jilbab yang sholehah. Untuk melengkapi kekurangan dan kelebihan masing-masing yang berlandaskan cinta karena Allah. Masya Allah. Hatiku kian terenyuh. Berderailah air mata di sekitar wajahku.

          “Aku bisa, dan aku mampu” ujarku di semangat pagi yang bersinar matahari begitu terik.

                                                                           ***

     Kini langkahku kian terarah saat ku tahu ganjaran wanita berjilbab adalah sebuah surga. Surga yang tak pernah bisa dibeli dengan materi. Surga yang takkan pernah bisa di tawar dengan amalan yang belum terpenuhi. Iffah, (menahan rasa malu) kesucian tetap terjaga, takwa dan sebuah keimanan yang membentengi diriku untuk berterima kasih kepada Allah.
          Dengan jilbab ku bisa menjadi wanita muslimah, dengan jilbab ku bisa mendamba surga yang belum pernah tergambarkan oleh bayanganku. Namun ada dalam gambaran  ayat-ayat suciMu. Karena jilbab adalah beribadah, sebuah bukti ketaataan kepada Allah SWT. Sebuah pelindung terhebat diantara pakaian yang lainnya.



Wahai insan dunia penampilanmu tertutup rapat oleh kain-kain surga
Laksana kain sutera yang mahal di sekeliling tubuhmu memancarkan mutiara
Dan engkau begitu tegar menjalani kehidupan dunia
Semata-mata mencari rahasia terindah yakni Surga


    Aku bukan kafir dan tak ingin disebut Kafir. Allah begitu ingin mahluknya tak mau di samaratakan dengan kafir. Begitu pula dengan suara hatiku. Aku ingin menjadi wanita muslimah bukan kafir. Agar aku mudah dikenali sebagai seorang muslimah.

Lalu bagaimana dengan orang-orang di sekitar kita? Semoga mereka bisa mengerti ayat-ayat Jilbab yang mungkin bisa menguatkan identitas muslimah. Yakni cara berpakaiannya yang berbeda dan sopan. Itu adalah Muslimah.
Dengan Jilbab syar'i itu yang terbaik. Karena aku adalah muslimah. Muslimah is the best!

Terima kasih ayat-ayat Jilbab. Semoga ada yang terketuk hatinya setelah membaca ayat-ayat jilbab seperti penggalan kisah nyataku.

Puji Syukur atas semua sketsa-sketsa UjianMu yang menyapa kehidupanku. Dengan kehidupan dunia aku mengenal ayat-ayat jilbab.
Dan tanpa sebuah keyakinan aku takkan pernah menjemput hidayah terindah.
Terima kasih Allah, seorang hamba tidak memiliki daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah.

Allah Engkau begitu berarti untukku.

Dan Alhamdulillah tulisan ini pula yang akhirnya menjadi juara diantara 4 pemenang lainnya. Karena tulisan ini di nilai sangat baik jika di baca. Dan agar semua orang dapat memperoleh hidayah dan saling berlomba-lomba memperoleh kebaikan. Jangan Lupa di baca yah.  Semoga Bernilai dan berharga untuk kita di mata Allah.



Cinta bukan milik kita





















Selama daun itu masih berguguran 
Selama itu pula angin masih terus berhembus


Masih terngiang dalam ingatanku. Aku memikirkan cerita yang begitu syahdu penuh haru. Bagaimana tidak, jika ku bicarakan pada semua yang memiliki rasa yang sama sepertiku pasti akan berceloteh dengan hati yang sama. 


Ini kisah tentang teman, kisah yang begitu tak pernah ku pikirkan sebelumnya disaat perjumpaan baru selama 4 tahun kita tak bertatap muka bahkan hanya beberapa tulisan yang mengiringi perjalanan kita melalui pesan singkat. 
Jam berputar begitu cepat. Waktu yang dirasa cukup untuk berbicara itu tak bisa kurasakan untuk menanyakan apa yang terjadi dalam hatinya hingga peristiwa ini terjadi. 

“Melepas masa lajang begitu indahnya kawan, jadi ingin cepat-cepat seperti dia”

Sms itu ku terima begitu cepat saat kami sedang berjanjian akan bertemu di lokasi utama sebelum meluncur ke acara pernikahan seorang teman SMA. 

“iya, insya Allah ada jalannya”
Ku balas dengan singkat saja.

Kemudian waktu mempertemukan kita dengan cepat. 

   Aku bersalaman dengannya, tangannya begitu dingin wajahnya yang berbeda ku pandang begitu teduh ku rasakan dalam indera perasaku. 
     Kacamata yang selalu menempel pada kulit matanya dan terjepit kedua telinga itu masih ada. Namun tidak seperti dulu yang ku anggap kutu buku bahkan seperti orang yang kurang pergaulan. 
    Rambut pendek dan kacamata itu kini merubah penampilannya menjadi wanita yang pemalu, malu dengan auratnya yang sesumbar seperti dulu. Kini lebih merapat menutup yang diharuskan. Aku senang rasanya karena tak semua orang sama dan selalu buruk dimata kita. 

Perbincangan dimulai saat aku menunggu teman yang akan bersamaan berangkat ke tempat yang dituju. 

“dia begitu mudah mendapatkannya yah, padahal terlalu ekstrim juga mendapatkan jodoh lewat facebook”

“iyalah, bagiku tidak mudah juga untuk menyatakan siap”

“tapi mau bagaimana lagi, jalannya mungkin seperti itu yah Mi”

“benar sekali, ku rasa sepertinya unik. Rahasia takkan pernah terbongkar”

“kalau aku sebenarnya sudah ada yang melamar tapi….”

“tapi kenapa? Lho kok?” 
Aku mencari-cari sesuatu dimatanya. Matanya sekilas sendu itu mulai meredup perlahan menghujam ke tanah kering. 

“yah jodoh tak bisa ditebak”

“ya memang kan? Bukannya seperti itu?” aku semakin penasaran lalu berusaha mendengar suara batinnya yang mulai berkicau kebenaran tanpa ragu. 

“kalau ibuku tak merestui hubunganku. Padahal ada yang melamarku”

“kenapa? Ada alas an tersendiri?” 

“dia hanya lulusan SMA. Padahal aku sih oke-oke saja” jawabnya singkat.

“ya, kalau oke kenapa tidak mendapat restu? Jalan kan sudah terang tinggal bawa lampu bohlan yang terang 20 watt” ledekku menghibur dirinya.

“tapi kan aku S1 Mi, dia Cuma SMA. Padahal ya aku tak masalah fine saja. Tapi ibuku tak boleh lalu harus bagaimana lagi”

“astaghfirullah batinku merajam, seperti aku yang tertusuk duri. Padahal orang lain. Kurasakan bagaimana perasaan lelaki tersebut jika memang kebenaran itu terdengar begitu jelas dalam indera pendengarannya” batinku sambil tersenyum memandang kendaraan yang lalu lalang.

“yah, dia orang tuamu pastinya hormati keputusan ibumu. Daripada harus bertengkar yah? Namun tak ada salahnya jika semua keputusan berharap padaNya”

“iya dia kan ibuku, masa aku mau durhaka padanya?” jawabnya masih dengan mata menghujam menatap tanah kering.

***


    Percakapanku singkat hanya saja menuai kritik dari ku. Seingatku bukan jaman siti nurbaya saja yang menuai kritik. 
Hatinya pasti mulai dalam kegamangan, jika suatu hari ada lelaki yang berpendidikan sama melamar lagi, atau bahkan lebih rendah dari dugaannya. 
Jika berontak itu ada, tak mungkin Ukhti yang shalihah itu berusaha sekuat baja setegar karang menghadapi jalan yang terjal. 

Islam telah berkembang pesat. Wanita mana yang tak mau dinikahi lelaki sholeh. Bahkan sebaliknya lelaki yang sholeh itu segera ingin mendapatkan wanita shalehah.

Apakah pengharapan yang ada pada jantung hati seorang ibu? 
Apakah yang berperan besar dihadapan mata sang ibu?
Sekejap angin berlalu, aku benar-benar tak percaya. Sampai kapan ia berjalan diatas Cahaya yang begitu indah diatas CahayaNya. Jika masih sulit menerangi cahaya kecil yang senantiasa membuat hatinya tenang bersemanyam dalam istana kecilNya. Rumah kecil itu perlu diberikan cahaya yang indah, rumah itu bukan hanya saja atap, kasur, dan perabotan yang serba lengkap dan mewah. Tapi hati yang berada dalam hunian tersebut. 

Hati ibu yang masih terbawa arus gelombang dunia nyata. 
Hati ibu yang masih memegang teguh pendirian yang salah
Hati ibu yang masih bermuara pada egois semata. 

Padahal hati ibu yang masih ingin dipeluk buah hatinya dengan penuh kasih sayang.
Pelajaran berharga untuk kita terutama diriku sendiri, menghadapi kasus seperti ini. Jika belum bisa ibuku menghargai keputusanku seperti dia bagaimana?
Jalan dakwah ini memang masih panjang. Terutama kepada keluarga yang benar-benar membesarkan kita dengan penuh kasih sayang. Kepada merekalah jalan cinta itu harus ditegakkan.

Cinta ini memang bukan milik kita
Karena itu tak perlu hadir sebelah hati dengan perasaan sedih
Takdir tak akan mengubah kepahitan melainkan hikmah dalam suatu pernghargaan besar.
“Saat HARAPAN tidak sesuai dengan KENYATAAN”. Karena Allah tahu, bahwa itu bukanlah yang terbaik untuk kita, kemudian Ia mengganti rencana kita dengan rencanaNya yang jauh lebih sempurna. 

Allah pun berfirman: Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. 
(QS Al Baqarah 216).

Banyak pelajaran yang saya petik darinya. Antara berusaha sekuat tenaga meyakinkan orangtua atau menghancurkan kepercayaan padaNya. 
Sulit benar-benar sulit bagiku. 

Semoga ukhti yang baik hati sepertimu selalu mendo’kan Ibunya agar ia mudah mengerti, memahami dan merasakan rasa yang sama sepertimu. 
Do’aku menyertaimu ukht…..



Cinta bukan milik kita
Cinta itu sudah kehendakNya
Cinta itu milik Penguasa Alam Semesta
Hari ini esok dan seterusnya tak ada yang tahu 
Setiap perjumpaan pasti ada perpisahan



Kata Saiyidina Umar: “...waspadalah jangan terpijak atau memijak onak dan duri…” Jangan kau kutip lagi serpihan kaca. Sabarlah hingga kau temukan permata…?

Lihatlah takdir sebagai waktu terindah, jika kelak kita berjumpa dengan masa sulit maka pikirkanlah cinta itu bukan milik kita ya akhi ya ukhti 
Allah Sang Pencipta mendengar serpihan rindumu padaNya. 


 “Tulisan ini diikutsertakan pada Monilando’s First Giveaway 





















Selama daun itu masih berguguran 
Selama itu pula angin masih terus berhembus


Masih terngiang dalam ingatanku. Aku memikirkan cerita yang begitu syahdu penuh haru. Bagaimana tidak, jika ku bicarakan pada semua yang memiliki rasa yang sama sepertiku pasti akan berceloteh dengan hati yang sama. 


Ini kisah tentang teman, kisah yang begitu tak pernah ku pikirkan sebelumnya disaat perjumpaan baru selama 4 tahun kita tak bertatap muka bahkan hanya beberapa tulisan yang mengiringi perjalanan kita melalui pesan singkat. 
Jam berputar begitu cepat. Waktu yang dirasa cukup untuk berbicara itu tak bisa kurasakan untuk menanyakan apa yang terjadi dalam hatinya hingga peristiwa ini terjadi. 

“Melepas masa lajang begitu indahnya kawan, jadi ingin cepat-cepat seperti dia”

Sms itu ku terima begitu cepat saat kami sedang berjanjian akan bertemu di lokasi utama sebelum meluncur ke acara pernikahan seorang teman SMA. 

“iya, insya Allah ada jalannya”
Ku balas dengan singkat saja.

Kemudian waktu mempertemukan kita dengan cepat. 

   Aku bersalaman dengannya, tangannya begitu dingin wajahnya yang berbeda ku pandang begitu teduh ku rasakan dalam indera perasaku. 
     Kacamata yang selalu menempel pada kulit matanya dan terjepit kedua telinga itu masih ada. Namun tidak seperti dulu yang ku anggap kutu buku bahkan seperti orang yang kurang pergaulan. 
    Rambut pendek dan kacamata itu kini merubah penampilannya menjadi wanita yang pemalu, malu dengan auratnya yang sesumbar seperti dulu. Kini lebih merapat menutup yang diharuskan. Aku senang rasanya karena tak semua orang sama dan selalu buruk dimata kita. 

Perbincangan dimulai saat aku menunggu teman yang akan bersamaan berangkat ke tempat yang dituju. 

“dia begitu mudah mendapatkannya yah, padahal terlalu ekstrim juga mendapatkan jodoh lewat facebook”

“iyalah, bagiku tidak mudah juga untuk menyatakan siap”

“tapi mau bagaimana lagi, jalannya mungkin seperti itu yah Mi”

“benar sekali, ku rasa sepertinya unik. Rahasia takkan pernah terbongkar”

“kalau aku sebenarnya sudah ada yang melamar tapi….”

“tapi kenapa? Lho kok?” 
Aku mencari-cari sesuatu dimatanya. Matanya sekilas sendu itu mulai meredup perlahan menghujam ke tanah kering. 

“yah jodoh tak bisa ditebak”

“ya memang kan? Bukannya seperti itu?” aku semakin penasaran lalu berusaha mendengar suara batinnya yang mulai berkicau kebenaran tanpa ragu. 

“kalau ibuku tak merestui hubunganku. Padahal ada yang melamarku”

“kenapa? Ada alas an tersendiri?” 

“dia hanya lulusan SMA. Padahal aku sih oke-oke saja” jawabnya singkat.

“ya, kalau oke kenapa tidak mendapat restu? Jalan kan sudah terang tinggal bawa lampu bohlan yang terang 20 watt” ledekku menghibur dirinya.

“tapi kan aku S1 Mi, dia Cuma SMA. Padahal ya aku tak masalah fine saja. Tapi ibuku tak boleh lalu harus bagaimana lagi”

“astaghfirullah batinku merajam, seperti aku yang tertusuk duri. Padahal orang lain. Kurasakan bagaimana perasaan lelaki tersebut jika memang kebenaran itu terdengar begitu jelas dalam indera pendengarannya” batinku sambil tersenyum memandang kendaraan yang lalu lalang.

“yah, dia orang tuamu pastinya hormati keputusan ibumu. Daripada harus bertengkar yah? Namun tak ada salahnya jika semua keputusan berharap padaNya”

“iya dia kan ibuku, masa aku mau durhaka padanya?” jawabnya masih dengan mata menghujam menatap tanah kering.

***


    Percakapanku singkat hanya saja menuai kritik dari ku. Seingatku bukan jaman siti nurbaya saja yang menuai kritik. 
Hatinya pasti mulai dalam kegamangan, jika suatu hari ada lelaki yang berpendidikan sama melamar lagi, atau bahkan lebih rendah dari dugaannya. 
Jika berontak itu ada, tak mungkin Ukhti yang shalihah itu berusaha sekuat baja setegar karang menghadapi jalan yang terjal. 

Islam telah berkembang pesat. Wanita mana yang tak mau dinikahi lelaki sholeh. Bahkan sebaliknya lelaki yang sholeh itu segera ingin mendapatkan wanita shalehah.

Apakah pengharapan yang ada pada jantung hati seorang ibu? 
Apakah yang berperan besar dihadapan mata sang ibu?
Sekejap angin berlalu, aku benar-benar tak percaya. Sampai kapan ia berjalan diatas Cahaya yang begitu indah diatas CahayaNya. Jika masih sulit menerangi cahaya kecil yang senantiasa membuat hatinya tenang bersemanyam dalam istana kecilNya. Rumah kecil itu perlu diberikan cahaya yang indah, rumah itu bukan hanya saja atap, kasur, dan perabotan yang serba lengkap dan mewah. Tapi hati yang berada dalam hunian tersebut. 

Hati ibu yang masih terbawa arus gelombang dunia nyata. 
Hati ibu yang masih memegang teguh pendirian yang salah
Hati ibu yang masih bermuara pada egois semata. 

Padahal hati ibu yang masih ingin dipeluk buah hatinya dengan penuh kasih sayang.
Pelajaran berharga untuk kita terutama diriku sendiri, menghadapi kasus seperti ini. Jika belum bisa ibuku menghargai keputusanku seperti dia bagaimana?
Jalan dakwah ini memang masih panjang. Terutama kepada keluarga yang benar-benar membesarkan kita dengan penuh kasih sayang. Kepada merekalah jalan cinta itu harus ditegakkan.

Cinta ini memang bukan milik kita
Karena itu tak perlu hadir sebelah hati dengan perasaan sedih
Takdir tak akan mengubah kepahitan melainkan hikmah dalam suatu pernghargaan besar.
“Saat HARAPAN tidak sesuai dengan KENYATAAN”. Karena Allah tahu, bahwa itu bukanlah yang terbaik untuk kita, kemudian Ia mengganti rencana kita dengan rencanaNya yang jauh lebih sempurna. 

Allah pun berfirman: Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. 
(QS Al Baqarah 216).

Banyak pelajaran yang saya petik darinya. Antara berusaha sekuat tenaga meyakinkan orangtua atau menghancurkan kepercayaan padaNya. 
Sulit benar-benar sulit bagiku. 

Semoga ukhti yang baik hati sepertimu selalu mendo’kan Ibunya agar ia mudah mengerti, memahami dan merasakan rasa yang sama sepertimu. 
Do’aku menyertaimu ukht…..



Cinta bukan milik kita
Cinta itu sudah kehendakNya
Cinta itu milik Penguasa Alam Semesta
Hari ini esok dan seterusnya tak ada yang tahu 
Setiap perjumpaan pasti ada perpisahan



Kata Saiyidina Umar: “...waspadalah jangan terpijak atau memijak onak dan duri…” Jangan kau kutip lagi serpihan kaca. Sabarlah hingga kau temukan permata…?

Lihatlah takdir sebagai waktu terindah, jika kelak kita berjumpa dengan masa sulit maka pikirkanlah cinta itu bukan milik kita ya akhi ya ukhti 
Allah Sang Pencipta mendengar serpihan rindumu padaNya. 


 “Tulisan ini diikutsertakan pada Monilando’s First Giveaway 

 
Catatan Annurshah Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template