Tampilkan postingan dengan label kisah nyata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah nyata. Tampilkan semua postingan

Anak-anak Negeri Yaman

Bismillahirrohmanirrohim..
 
Sumber gambar 1



Kisah nyata yang masyaAllah.

Apakah kalian pernah mengalami?

ketika masih sibuk membuka mushaf al quran di masjid tiba-tiba meluncur sebuah benda ke arah kalian. benda ini bukan sebuah peluru 7,62 mm dari senjata AK 47, bukan juga sebuah granat yang telah lepas kait pengamannya,akan tetapi sebuah sandal.

sandal milik seorang anak Yaman yang sedang bermain lempar-lemparan di masjid ketika mereka sedang ada dars.

kesal? marah? ingin membalas melempar mereka? sepertinya kalian harus mengurungkan niat itu,istighfar,sambil ngelus dada atau mereka akan menjadi jadi.

Apakah kalian pernah mengalami?

Ketika masih dikamar mandi umum, tiba-tiba mendarat sebuah gayung kaleng berisi air berasal dari kamar mandi sebelah,apesnya, air dalam gayung tumpah semua kebaju yang kalian pakai,tak lama setelah itu terdengar suara ketawa cekikikan anak-anak yaman.

kesal? marah? mau membalas melempar mereka? yang ada hanyalah ngedumel sendiri di kamar mandi atau mereka akan menjadi jadi.

Itu hanya sedikit kisah nyata yang pernah di alami ikhwah indonesia di Ma'bar Yaman, dan masih banyak kisah kenakalan dan "kebrutalan" anak-anak Yaman, mulai dari berkelahi ketika dars Syaikh sedang berlangsung hingga memanjat atap sakan yang terbuat dari seng sambil berlari-larian layaknya selebrasi mencetak gol,terbayang sudah,betapa gaduhnya suasana yang tinggal didalam sakan.

Hukuman untuk mereka sepertinya juga tidak ringan, sebuah 'asho yaitu tongkat kayu sebesar jempol orang dewasa yang selalu dipegang oleh mursyid.

'asho bisa mendarat di tangan, badan dan kaki mereka, tapi tidak pernah di bagian kepala.

itu kalau mereka tertangkap, kalau tidak, ya paling kejar2an sama mursyid. jangan salah,anak anak itu lebih gesit dan lincah. otomatis mereka lolos dengan mudahnya.

Pernah sekali aku merasakan 'asho, pas itu mursyid tidak sengaja memukul, terkena telapak kakiku, rasanya...hmmm lumayan. cukuplah bikin pincang berjalan beberapa detik. entah terbuat dari kayu apa itu.

Tapi semua itu hanyalah kenakalan anak-anak, tak lebih dari perbuatan seorang manusia yang belum baligh.

Yang tak ubahnya anak-anak pada umumnya,walaupun sudah berkelahi,jotos-jotosan,tendang-tendangan, kalo udah selesai ya selesai, tak terselip dendam dalam hatinya.

besoknya lagi kita lihat sudah saling bercanda kembali.

Memang, mendidik anak-anak yaman perlu perlakuan "spesial" dengan sedikit ayunan 'asho.

tapi jangan heran, anak-anak yaman juga di beri kelebihan spesial, ini merupakan fadhilah dari Allah Azza wa Jalla berupa kekuatan hafalan dan kecerdasan yang luar biasa,membuat kita berdecak kagum sambil berucap "Masyaa Allaah".

Akan banyak kalian temui anak-anak hafal al qur'an dalam waktu hitungan bulan saja. Asy Syaikh Al Imam sendiri menyelesaikan hafalan Al Quran dalam waktu 4 bulan saja,ada yang menyebutkan 6 bulan.

Hanya dengan sekali berdiri, mereka bisa menyetor puluhan hadits kepada syaikh ketika dars,lengkap dengan sanadnya.

Ingin mencoba mengetes hafalan ribuan syair Alfiyyah Ibnu Malik? mereka bisa membolak balik dari belakang ke depan.

mumtaz !
sumber gambar 2

Disebabkan keutamaan yang Allah berikan kepada Ahlul Yaman,Allah lembutkan qolbu mereka menerima kebenaran,di negeri dimana prinsip-prinsip ahlussunnah ditegakkan.

Dari Abu huroiroh beliau berkata : Rosulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda : penduduk negeri Yaman telah datang kepada kalian, mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya, Iman itu ada pada yaman, dan hikmah ada pada yaman.[ HR. Bukhari-Muslim]

Sedikit mengulang kembali kisah shahabat Rasulullah, Abu Hurairah Abdurrahman Ibnu Shakhar,beliau berasal dari kabilah Ad Daus di Yaman yang hanya bertemu dengan Rasulullah selama 4 tahun akan tetapi beliau yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah.

Dan satu hal yang tidak terlepas dari mereka sebagai seorang anak adalah fitrah. fitrah mereka yang terjaga dan masih bersih menjadi faktor pendukung yang kuat.

Mata mereka terjaga dari penglihatan yang mengundang syahwat.bagaimana tidak,jika disini seorang wanita keluar rumah tanpa cadar saja sudah dianggap aib, aib bagi agama dan kabilahnya.

Telinga mereka terjaga dari musik dan lagu-lagu ,yang sejatinya hanya melalaikan,walaupun bersyairkan islami.

mereka lebih memilih hape cina dengan soundnya yang keras agar bisa mereka tenteng kemana-kemana sambil mendengarkan murottal Maher, Ghomidy, atau Sudais.

Itulah fitrah…masih bersih.

Fitrah mereka tak teracuni dengan dongeng fiktif penuh kebohongan. Dongeng khayalan yang hanya membuat anak-anak berandai-andai bisa menghilang,bisa terbang,dan bisa melakukan hal-hal ajaib lainnya. juga cerita-cerita yang tidak jelas kebenarannya.

Mereka lebih tahu kisah tentang kepemimpinan Rasulullah, kisah tentang kesetiaan Shahabat Tholhah bin Ubaidillah yang rela menerima 90 tusukan dan sasaran panah demi melindungi Rosulullah pada waktu perang Uhud.

Coba tanya ke mereka siapa panglima perang termuda?mereka akan menjawab Usamah bin Zaid,yang usianya belum melebihi dua puluh tahun pada waktu itu.

juga mereka lebih suka kisah tentang kesabaran dan semangat ulama Baqi bin Makhlad yang rela menempuh perjalanan ke negeri Hijaz selama 20 tahun dengan berjalan kaki demi mencari ilmu syar'i.

Fitrah mereka tak terkotori dengan cerita horor dan menyeramkan yang sejatinya hanya membuat ketakutan yang dibuat-buat sendiri,yang hanya membuat paranoid kemudian menjelma menjadi bermacam-macam pikiran absurd.

kejadian seseorang yang kesurupan jin disini menjadi semacam tontonan asyik buat mereka,sampai sampai Mursyid harus turun tangan untuk membubarkan mereka.

setiap ada jenazah yang selesai dimandikan dan dikafani,mereka sudah menunggu diluar dan tak sabar untuk melihatnya.

mereka melewati jalan ke arah markiz ratusan meter di malam gelap gulita tanpa penerangan sama sekali tanpa ada rasa takut sedikitpun.

Begitulah,hingga akhirnya mereka tumbuh dewasa dengan fitrah yang masih bersih dengan bimbingan agama yang kuat.

kenakalan yang dulu ada menjadi sebuah kematangan jiwa dan keberanian. kebrutalan yang dulu ada menjadi kesetiaan dan kesabaran.

Seperti tidak berlebihan ketika ada seorang ikhwah indonesia yang saking jengkelnya dengan tingkah laku anak-anak berkata dengan guyon " biarin aja,kecil-kecil nakal,besarnya jadi 'Ulama itu...hehee "

Itulah FITRAH....

- Nas alullaha assalamah wal tsabaat 'ala rosyad.
25 Ramadhan 1434H, Ba'da Shubuh di ghurfah atas masjid, Ma'bar Yaman.
 
Satu lagi yang baru saya lihat cukup menakjubkan Masya Allah, melihat video ini. 
 
 


 
 
Sumber : Facebook dan Youtube.

Pelajaran Berharga lagi bagi kita, para penerus generasi terbaik aamiin. 
 
Annur El Karimah
Bismillahirrohmanirrohim..
 
Sumber gambar 1



Kisah nyata yang masyaAllah.

Apakah kalian pernah mengalami?

ketika masih sibuk membuka mushaf al quran di masjid tiba-tiba meluncur sebuah benda ke arah kalian. benda ini bukan sebuah peluru 7,62 mm dari senjata AK 47, bukan juga sebuah granat yang telah lepas kait pengamannya,akan tetapi sebuah sandal.

sandal milik seorang anak Yaman yang sedang bermain lempar-lemparan di masjid ketika mereka sedang ada dars.

kesal? marah? ingin membalas melempar mereka? sepertinya kalian harus mengurungkan niat itu,istighfar,sambil ngelus dada atau mereka akan menjadi jadi.

Apakah kalian pernah mengalami?

Ketika masih dikamar mandi umum, tiba-tiba mendarat sebuah gayung kaleng berisi air berasal dari kamar mandi sebelah,apesnya, air dalam gayung tumpah semua kebaju yang kalian pakai,tak lama setelah itu terdengar suara ketawa cekikikan anak-anak yaman.

kesal? marah? mau membalas melempar mereka? yang ada hanyalah ngedumel sendiri di kamar mandi atau mereka akan menjadi jadi.

Itu hanya sedikit kisah nyata yang pernah di alami ikhwah indonesia di Ma'bar Yaman, dan masih banyak kisah kenakalan dan "kebrutalan" anak-anak Yaman, mulai dari berkelahi ketika dars Syaikh sedang berlangsung hingga memanjat atap sakan yang terbuat dari seng sambil berlari-larian layaknya selebrasi mencetak gol,terbayang sudah,betapa gaduhnya suasana yang tinggal didalam sakan.

Hukuman untuk mereka sepertinya juga tidak ringan, sebuah 'asho yaitu tongkat kayu sebesar jempol orang dewasa yang selalu dipegang oleh mursyid.

'asho bisa mendarat di tangan, badan dan kaki mereka, tapi tidak pernah di bagian kepala.

itu kalau mereka tertangkap, kalau tidak, ya paling kejar2an sama mursyid. jangan salah,anak anak itu lebih gesit dan lincah. otomatis mereka lolos dengan mudahnya.

Pernah sekali aku merasakan 'asho, pas itu mursyid tidak sengaja memukul, terkena telapak kakiku, rasanya...hmmm lumayan. cukuplah bikin pincang berjalan beberapa detik. entah terbuat dari kayu apa itu.

Tapi semua itu hanyalah kenakalan anak-anak, tak lebih dari perbuatan seorang manusia yang belum baligh.

Yang tak ubahnya anak-anak pada umumnya,walaupun sudah berkelahi,jotos-jotosan,tendang-tendangan, kalo udah selesai ya selesai, tak terselip dendam dalam hatinya.

besoknya lagi kita lihat sudah saling bercanda kembali.

Memang, mendidik anak-anak yaman perlu perlakuan "spesial" dengan sedikit ayunan 'asho.

tapi jangan heran, anak-anak yaman juga di beri kelebihan spesial, ini merupakan fadhilah dari Allah Azza wa Jalla berupa kekuatan hafalan dan kecerdasan yang luar biasa,membuat kita berdecak kagum sambil berucap "Masyaa Allaah".

Akan banyak kalian temui anak-anak hafal al qur'an dalam waktu hitungan bulan saja. Asy Syaikh Al Imam sendiri menyelesaikan hafalan Al Quran dalam waktu 4 bulan saja,ada yang menyebutkan 6 bulan.

Hanya dengan sekali berdiri, mereka bisa menyetor puluhan hadits kepada syaikh ketika dars,lengkap dengan sanadnya.

Ingin mencoba mengetes hafalan ribuan syair Alfiyyah Ibnu Malik? mereka bisa membolak balik dari belakang ke depan.

mumtaz !
sumber gambar 2

Disebabkan keutamaan yang Allah berikan kepada Ahlul Yaman,Allah lembutkan qolbu mereka menerima kebenaran,di negeri dimana prinsip-prinsip ahlussunnah ditegakkan.

Dari Abu huroiroh beliau berkata : Rosulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda : penduduk negeri Yaman telah datang kepada kalian, mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya, Iman itu ada pada yaman, dan hikmah ada pada yaman.[ HR. Bukhari-Muslim]

Sedikit mengulang kembali kisah shahabat Rasulullah, Abu Hurairah Abdurrahman Ibnu Shakhar,beliau berasal dari kabilah Ad Daus di Yaman yang hanya bertemu dengan Rasulullah selama 4 tahun akan tetapi beliau yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah.

Dan satu hal yang tidak terlepas dari mereka sebagai seorang anak adalah fitrah. fitrah mereka yang terjaga dan masih bersih menjadi faktor pendukung yang kuat.

Mata mereka terjaga dari penglihatan yang mengundang syahwat.bagaimana tidak,jika disini seorang wanita keluar rumah tanpa cadar saja sudah dianggap aib, aib bagi agama dan kabilahnya.

Telinga mereka terjaga dari musik dan lagu-lagu ,yang sejatinya hanya melalaikan,walaupun bersyairkan islami.

mereka lebih memilih hape cina dengan soundnya yang keras agar bisa mereka tenteng kemana-kemana sambil mendengarkan murottal Maher, Ghomidy, atau Sudais.

Itulah fitrah…masih bersih.

Fitrah mereka tak teracuni dengan dongeng fiktif penuh kebohongan. Dongeng khayalan yang hanya membuat anak-anak berandai-andai bisa menghilang,bisa terbang,dan bisa melakukan hal-hal ajaib lainnya. juga cerita-cerita yang tidak jelas kebenarannya.

Mereka lebih tahu kisah tentang kepemimpinan Rasulullah, kisah tentang kesetiaan Shahabat Tholhah bin Ubaidillah yang rela menerima 90 tusukan dan sasaran panah demi melindungi Rosulullah pada waktu perang Uhud.

Coba tanya ke mereka siapa panglima perang termuda?mereka akan menjawab Usamah bin Zaid,yang usianya belum melebihi dua puluh tahun pada waktu itu.

juga mereka lebih suka kisah tentang kesabaran dan semangat ulama Baqi bin Makhlad yang rela menempuh perjalanan ke negeri Hijaz selama 20 tahun dengan berjalan kaki demi mencari ilmu syar'i.

Fitrah mereka tak terkotori dengan cerita horor dan menyeramkan yang sejatinya hanya membuat ketakutan yang dibuat-buat sendiri,yang hanya membuat paranoid kemudian menjelma menjadi bermacam-macam pikiran absurd.

kejadian seseorang yang kesurupan jin disini menjadi semacam tontonan asyik buat mereka,sampai sampai Mursyid harus turun tangan untuk membubarkan mereka.

setiap ada jenazah yang selesai dimandikan dan dikafani,mereka sudah menunggu diluar dan tak sabar untuk melihatnya.

mereka melewati jalan ke arah markiz ratusan meter di malam gelap gulita tanpa penerangan sama sekali tanpa ada rasa takut sedikitpun.

Begitulah,hingga akhirnya mereka tumbuh dewasa dengan fitrah yang masih bersih dengan bimbingan agama yang kuat.

kenakalan yang dulu ada menjadi sebuah kematangan jiwa dan keberanian. kebrutalan yang dulu ada menjadi kesetiaan dan kesabaran.

Seperti tidak berlebihan ketika ada seorang ikhwah indonesia yang saking jengkelnya dengan tingkah laku anak-anak berkata dengan guyon " biarin aja,kecil-kecil nakal,besarnya jadi 'Ulama itu...hehee "

Itulah FITRAH....

- Nas alullaha assalamah wal tsabaat 'ala rosyad.
25 Ramadhan 1434H, Ba'da Shubuh di ghurfah atas masjid, Ma'bar Yaman.
 
Satu lagi yang baru saya lihat cukup menakjubkan Masya Allah, melihat video ini. 
 
 


 
 
Sumber : Facebook dan Youtube.

Pelajaran Berharga lagi bagi kita, para penerus generasi terbaik aamiin. 
 
Annur El Karimah

* MENCARI JODOH...

*Mencari jodoh

gambar disini

Saya punya teman baik saat kuliah, belasan tahun lalu. Dan hingga hari ini tetap jadi teman baik. Di antara banyak teman lainnya, saya amat menghormatinya. Bukan karena dia paling sukses, paling kaya, paling ngetop. Tapi karena dia punya sebuah 'rahasia', yang tidak banyak orang bisa melakukannya--bicara sih mudah, prakteknya susah.

Saya ingat sekali, waktu itu, kami baru lulus kuliah, masing-masing mulai bekerja, meniti karir masa depan. Satu persatu teman kuliah mengabarkan telah menikah, hingga akhirnya, teman yang satu ini bilang dia akan menikah, segera. Wow, itu sungguh kabar spesial.

Saya segera bertanya penuh antusiasme, dengan siapa? Dia menyebut nama seorang gadis. Sudah pernah bertemu? Menggeleng. Oke, saya segera paham, mereka mencari jodoh dengan proses berkenalan, tidak pacaran, jadi tentu belum pernah bertemu. Apakah anaknya cantik? Saya bertanya, menggoda. Dia tersenyum, menggeleng. Eh? berarti jelek, dong? Dia tertawa lepas. 

Nah, inilah rahasia besarnya. Teman saya ini 'amat keterlaluan' mempercayai bahwa jodoh yg baik, akan dikirimkan Tuhan, tanpa tertukar, tanpa tersesat. Teman saya ini 'begitu keterlaluan' mempercayai bahwa laki-laki yg baik adalah utk wanita yg baik, dan sebaliknya, wanita yg baik utk laki-laki yg baik. Itu jelas tertulis di dalam kitab suci, mana mungkin dusta, dan dia memegangnya teguh2 tanpa keraguan sedikit pun.

Jadi, saat dia merasa sudah mulai mapan, bekerja, sudah saatnya menikah, maka dia mencari jodoh dgn kelapangan hati begitu besar. Bayangkan, dia hanya melihat selembar kertas, bertuliskan biodata gadis itu. Tidak melihat foto sama sekali, lantas mengangguk, dia bersedia.

"Serius? Tidak melihat fotonya sama sekali?"
Teman saya menggeleng, "Dengan melihat foto, saya khawatir malah berubah pikiran. Rasa mantap di hati jadi berkurang."
"Aduh, bagaimana kalau gadis jerawatan?" --maaf kalau ada anggota page ini yg jerawatan--
Teman saya tertawa. Untuk level dia, dengan melihat gesture tawanya, itu jelas bukan masalah.
"Aduh, bagaimana nanti kalau ternyata gadis itu panu-an? Bisul-an?" Saya mulai cemas--lagi2 maaf kalau ada anggota page ini yg panu-an, bisul-an.
Teman saya ini lagi2 hanya tertawa kecil. 
Tahun-tahun itu, sy sungguh mengasihani betapa jauhnya perbedaan pemahaman di kepala sy dengan kepala teman sy itu. Di kepala saya, hanya dangkal, penuh ukuran duniawi. Di kepala dia, berserah diri dalam urusan jodoh, mengkristal menjadi langkah kongkret, bukan cuma bermanis2.

Maka, mereka menikah. 

Hari ini, pasangan teman sy ini sudah punya empat anak. Apakah mereka bahagia? Sy tdk tahu. Yg saya lihat, mereka bisa mengatasi banyak pasang-surut keluarga mereka. Apakah pasangan ini akan langgeng hingga maut menjemput? Sy tdk tahu. Dunia terus berubah, dan orang2 boleh jadi berubah tabiat. Tapi jelas sekali, bukan itu poin pentingnya. Poinnya, saya menyaksikan hal ini dengan mata kepala sendiri. Dekat sekali. 

Apakah ini cara menikah terbaik? Belum tentu. Apakah hal seperti ini menjamin masuk surga? Lagi2 belum tentu. Toh, di dunia ini, karena kasih sayang Tuhan, banyak saja yg aneh2, ngaco2, terlihat baik2 saja, kaya raya, dan mengaku bahagia. Lihatlah, pasangan tanpa menikah, artsi2 top itu, bangga sekali memamerkannya, memangnya pernah disambar petir? Tidak, kan.

Apakah kita boleh menolak lamaran gara-gara karena hal fisik dan alasan duniawi lainnya? Ya boleh-boleh saja. Apakah kita boleh mencari pasangan paling oke? Selektif, penuh kriteria? Ya boleh-boleh saja. Tidak ada larangan. Saya tdk menemukan di dalam kitab suci dan riwayat hadis, ada ancaman masuk neraka orang-orang yg melakukan hal seperti ini. 

Tetapi dengan mendengarkan cerita teman saya ini, maka patut sekali dipikirkan, urusan ini lebih mudah dikatakan, tapi selalu lebih sulit saat dipraktekkan. Maka, sekarang, silahkan dipahami masing-masing. Bagi yg belum menikah, maka pikirkan baik-baik, akan seperti apa kalian menatap urusan perjodohan itu. Penuh ukuran duniawi, boleh. Berserah diri karena percaya itu takdir Tuhan, terus berdoa, memegang janji Tuhan dgn kokoh, juga amat boleh.

Yang tidak boleh itu, menjadi munafik. Membawa-bawa alasan agama untuk keinginan duniawi pribadi. Karena urusan perjodohan ini kadang banyak sekali kelokan-kelokan hipokrasinya. Saya tidak akan membahasnya lebih detail. Silahkan pikirkan saja. Saat kalian menjalaninya, kalian akan menemukan sendiri kelokan-kelokan tersebut. Dan buat yg masih remaja, terlalu muda, belum mengerti, ingat saja tulisan saya ini, beberapa tahun lagi, boleh jadi masih relevan, dan kalian memahaminya.


UJAR BANG TERE LIYE : karena penghormatan itu, saya menulis nama anak pertama pasangan teman saya ini di halaman persembahan salah satu novel.

SUMBER : FB BANG TERE LIYE 
Saya senang sekali dengan tulisan beliau, semoga membangun dan menjadi renungan berharga bagi kita semua aamiin. (^_^)
Terima kasih, aku begitu mengerti. 
TERE LIYE Penulis terbaik yang pernah ku kenal.

*Mencari jodoh

gambar disini

Saya punya teman baik saat kuliah, belasan tahun lalu. Dan hingga hari ini tetap jadi teman baik. Di antara banyak teman lainnya, saya amat menghormatinya. Bukan karena dia paling sukses, paling kaya, paling ngetop. Tapi karena dia punya sebuah 'rahasia', yang tidak banyak orang bisa melakukannya--bicara sih mudah, prakteknya susah.

Saya ingat sekali, waktu itu, kami baru lulus kuliah, masing-masing mulai bekerja, meniti karir masa depan. Satu persatu teman kuliah mengabarkan telah menikah, hingga akhirnya, teman yang satu ini bilang dia akan menikah, segera. Wow, itu sungguh kabar spesial.

Saya segera bertanya penuh antusiasme, dengan siapa? Dia menyebut nama seorang gadis. Sudah pernah bertemu? Menggeleng. Oke, saya segera paham, mereka mencari jodoh dengan proses berkenalan, tidak pacaran, jadi tentu belum pernah bertemu. Apakah anaknya cantik? Saya bertanya, menggoda. Dia tersenyum, menggeleng. Eh? berarti jelek, dong? Dia tertawa lepas. 

Nah, inilah rahasia besarnya. Teman saya ini 'amat keterlaluan' mempercayai bahwa jodoh yg baik, akan dikirimkan Tuhan, tanpa tertukar, tanpa tersesat. Teman saya ini 'begitu keterlaluan' mempercayai bahwa laki-laki yg baik adalah utk wanita yg baik, dan sebaliknya, wanita yg baik utk laki-laki yg baik. Itu jelas tertulis di dalam kitab suci, mana mungkin dusta, dan dia memegangnya teguh2 tanpa keraguan sedikit pun.

Jadi, saat dia merasa sudah mulai mapan, bekerja, sudah saatnya menikah, maka dia mencari jodoh dgn kelapangan hati begitu besar. Bayangkan, dia hanya melihat selembar kertas, bertuliskan biodata gadis itu. Tidak melihat foto sama sekali, lantas mengangguk, dia bersedia.

"Serius? Tidak melihat fotonya sama sekali?"
Teman saya menggeleng, "Dengan melihat foto, saya khawatir malah berubah pikiran. Rasa mantap di hati jadi berkurang."
"Aduh, bagaimana kalau gadis jerawatan?" --maaf kalau ada anggota page ini yg jerawatan--
Teman saya tertawa. Untuk level dia, dengan melihat gesture tawanya, itu jelas bukan masalah.
"Aduh, bagaimana nanti kalau ternyata gadis itu panu-an? Bisul-an?" Saya mulai cemas--lagi2 maaf kalau ada anggota page ini yg panu-an, bisul-an.
Teman saya ini lagi2 hanya tertawa kecil. 
Tahun-tahun itu, sy sungguh mengasihani betapa jauhnya perbedaan pemahaman di kepala sy dengan kepala teman sy itu. Di kepala saya, hanya dangkal, penuh ukuran duniawi. Di kepala dia, berserah diri dalam urusan jodoh, mengkristal menjadi langkah kongkret, bukan cuma bermanis2.

Maka, mereka menikah. 

Hari ini, pasangan teman sy ini sudah punya empat anak. Apakah mereka bahagia? Sy tdk tahu. Yg saya lihat, mereka bisa mengatasi banyak pasang-surut keluarga mereka. Apakah pasangan ini akan langgeng hingga maut menjemput? Sy tdk tahu. Dunia terus berubah, dan orang2 boleh jadi berubah tabiat. Tapi jelas sekali, bukan itu poin pentingnya. Poinnya, saya menyaksikan hal ini dengan mata kepala sendiri. Dekat sekali. 

Apakah ini cara menikah terbaik? Belum tentu. Apakah hal seperti ini menjamin masuk surga? Lagi2 belum tentu. Toh, di dunia ini, karena kasih sayang Tuhan, banyak saja yg aneh2, ngaco2, terlihat baik2 saja, kaya raya, dan mengaku bahagia. Lihatlah, pasangan tanpa menikah, artsi2 top itu, bangga sekali memamerkannya, memangnya pernah disambar petir? Tidak, kan.

Apakah kita boleh menolak lamaran gara-gara karena hal fisik dan alasan duniawi lainnya? Ya boleh-boleh saja. Apakah kita boleh mencari pasangan paling oke? Selektif, penuh kriteria? Ya boleh-boleh saja. Tidak ada larangan. Saya tdk menemukan di dalam kitab suci dan riwayat hadis, ada ancaman masuk neraka orang-orang yg melakukan hal seperti ini. 

Tetapi dengan mendengarkan cerita teman saya ini, maka patut sekali dipikirkan, urusan ini lebih mudah dikatakan, tapi selalu lebih sulit saat dipraktekkan. Maka, sekarang, silahkan dipahami masing-masing. Bagi yg belum menikah, maka pikirkan baik-baik, akan seperti apa kalian menatap urusan perjodohan itu. Penuh ukuran duniawi, boleh. Berserah diri karena percaya itu takdir Tuhan, terus berdoa, memegang janji Tuhan dgn kokoh, juga amat boleh.

Yang tidak boleh itu, menjadi munafik. Membawa-bawa alasan agama untuk keinginan duniawi pribadi. Karena urusan perjodohan ini kadang banyak sekali kelokan-kelokan hipokrasinya. Saya tidak akan membahasnya lebih detail. Silahkan pikirkan saja. Saat kalian menjalaninya, kalian akan menemukan sendiri kelokan-kelokan tersebut. Dan buat yg masih remaja, terlalu muda, belum mengerti, ingat saja tulisan saya ini, beberapa tahun lagi, boleh jadi masih relevan, dan kalian memahaminya.


UJAR BANG TERE LIYE : karena penghormatan itu, saya menulis nama anak pertama pasangan teman saya ini di halaman persembahan salah satu novel.

SUMBER : FB BANG TERE LIYE 
Saya senang sekali dengan tulisan beliau, semoga membangun dan menjadi renungan berharga bagi kita semua aamiin. (^_^)
Terima kasih, aku begitu mengerti. 
TERE LIYE Penulis terbaik yang pernah ku kenal.

ATURAN yang tak Penting


Keterangan ini masih berlaku harap baca: :P


Sesaat mengenang kejadian kehidupan yang saya alami di sebuah desa di sebuah komplek. Hidup di komplek yang ternyata masyarakatnya berbeda dengan komplek tetangganya yang satunya (acuh tak acuh). Kalau di komplek saya acuh kadang tak acuh. 

Usianya kira-kira saya hidup sudah mencapai 20 tahun lebih dan semenjak usia saya yang ke sekarang saya merasakan pikiran saya semakin dewasa untuk mengenal sebuah "ATURAN".

Prediksi saya kembali seperti tahun lalu, 2011. Saya kehilangan bendera merah putih saat ibu sedang mencari-cari bendera itu. Bendera yang telah lama dengan warna yang sudah memudar itu ku simpan entah dimana, karena terlalu banyak barang dan benda-benda yang mengerumuni lemari kamarku.

"Kenapa ibu nyari sampai segitunya? sudahlah tak usah pasang" jawabku dengan nada sedikit meninggi.
"sudahlah tak usah begitu, daripada kita kena tegur seperti tahun kemarin karena lupa. Ikuti saja aturan mainnya, yang penting kita tak menunduk serunduk-runduk dan serendah-redahnya" Ibuku ngotot.

Aku cuma berdesah kesah, menahan rasa kesal. 

Kebiasaan ini memang selalu dicanangkan oleh Pemerintah melalui pemerintah pusat kemudian melanjut ke pemerintah daerah termasuk ke kelurahan lalu di order ke susunan terkecil yakni RT. 

Malam tasyakuran pun sekarang ini menjadi barang wajib yang layaknya tak semestinya terjadi. 
Dulu, saya ingat sekali ketika setiap KK dimintai uang untuk acara tasyakuran. Ketika itu menu andalannya soto tauco. 
Tetangga saya yang biasa membuat konsumsi itu langsung menuju sasaran untuk segera meminta ia sendiri yang memasakannya. Namun apa yang terjadi, saat itu beberapa RT dikumpulkan menjadi satu di lapangan belakang masjid. 
Disitu yang rajin berkumpul adalah ibu-ibu dan bapak-bapaknya. Terlihat jelas cara menyusun sauto/ soto itu sangat tidak adil, seperti orang berjualan. Dan banyak yang komplen masalah rasa. Kemudian ada sebagian ibu-ibu yang mulai berbisik tak jelas dan mulai GHIBAH. 
Oh No... acara ini memang seperti acara mencari sesuatu yang tak jelas hasilnya. 
memperingati atau malah menyemarakan dengan makanan itu sendiri?
Saat itu saya tak mau menampakkan diri lagi, hanya ibu saya saja untuk menghindari gunjingan dan ibu-ibu yang suka usil dan sindir-menyindir.

Untuk acara besok menjelang malam tasyakuran sendiri saya dan keluarga tak peduli dan tak ikutan rapat. 
Jujur perlakuan Pemerintah yang selalu mewajibkan apalagi membuat sesuatu yang tak penting menjadi penting terasa kurang begitu bermanfaat. 
Memasang bendera wajib, menyanyikan lagu-lagu PKK wajib di arisan, Menyanyikan lagu kebangsaan sudah terdengar gosip akan diberlakukan ketika pergi mengurusi sesuatu di Kelurahan. Oh NO... duniaku Indonesiaku??? 

Acara ini penting atau mementingkan diri sendiri?
Tegurlah yang memang berbuat salah, 
Mana yang selalu membawa nama orang islam harus DAKWAH??
Mana acungkan tangan yang tak setuju!!!! jangan tinggi-tinggi. 

Aturan yang tak penting begitu di penting-pentingkan???
INDONESIA Masih di hatiku kok, gak bakalan lupa kecuali Amnesia.
Pembenaran lagu Indonesia Raya dibaca Endonesia raya saja masih banyak yang salah. 
Koreksi yang penting dulu. Pusatkan sebarkan yang terbaik, bukan yang mengatakan untuk terbaik. 

Indonesia Muslim terbesar, mari cerdaskan pikiran pemerintah. eh....


Keterangan ini masih berlaku harap baca: :P


Sesaat mengenang kejadian kehidupan yang saya alami di sebuah desa di sebuah komplek. Hidup di komplek yang ternyata masyarakatnya berbeda dengan komplek tetangganya yang satunya (acuh tak acuh). Kalau di komplek saya acuh kadang tak acuh. 

Usianya kira-kira saya hidup sudah mencapai 20 tahun lebih dan semenjak usia saya yang ke sekarang saya merasakan pikiran saya semakin dewasa untuk mengenal sebuah "ATURAN".

Prediksi saya kembali seperti tahun lalu, 2011. Saya kehilangan bendera merah putih saat ibu sedang mencari-cari bendera itu. Bendera yang telah lama dengan warna yang sudah memudar itu ku simpan entah dimana, karena terlalu banyak barang dan benda-benda yang mengerumuni lemari kamarku.

"Kenapa ibu nyari sampai segitunya? sudahlah tak usah pasang" jawabku dengan nada sedikit meninggi.
"sudahlah tak usah begitu, daripada kita kena tegur seperti tahun kemarin karena lupa. Ikuti saja aturan mainnya, yang penting kita tak menunduk serunduk-runduk dan serendah-redahnya" Ibuku ngotot.

Aku cuma berdesah kesah, menahan rasa kesal. 

Kebiasaan ini memang selalu dicanangkan oleh Pemerintah melalui pemerintah pusat kemudian melanjut ke pemerintah daerah termasuk ke kelurahan lalu di order ke susunan terkecil yakni RT. 

Malam tasyakuran pun sekarang ini menjadi barang wajib yang layaknya tak semestinya terjadi. 
Dulu, saya ingat sekali ketika setiap KK dimintai uang untuk acara tasyakuran. Ketika itu menu andalannya soto tauco. 
Tetangga saya yang biasa membuat konsumsi itu langsung menuju sasaran untuk segera meminta ia sendiri yang memasakannya. Namun apa yang terjadi, saat itu beberapa RT dikumpulkan menjadi satu di lapangan belakang masjid. 
Disitu yang rajin berkumpul adalah ibu-ibu dan bapak-bapaknya. Terlihat jelas cara menyusun sauto/ soto itu sangat tidak adil, seperti orang berjualan. Dan banyak yang komplen masalah rasa. Kemudian ada sebagian ibu-ibu yang mulai berbisik tak jelas dan mulai GHIBAH. 
Oh No... acara ini memang seperti acara mencari sesuatu yang tak jelas hasilnya. 
memperingati atau malah menyemarakan dengan makanan itu sendiri?
Saat itu saya tak mau menampakkan diri lagi, hanya ibu saya saja untuk menghindari gunjingan dan ibu-ibu yang suka usil dan sindir-menyindir.

Untuk acara besok menjelang malam tasyakuran sendiri saya dan keluarga tak peduli dan tak ikutan rapat. 
Jujur perlakuan Pemerintah yang selalu mewajibkan apalagi membuat sesuatu yang tak penting menjadi penting terasa kurang begitu bermanfaat. 
Memasang bendera wajib, menyanyikan lagu-lagu PKK wajib di arisan, Menyanyikan lagu kebangsaan sudah terdengar gosip akan diberlakukan ketika pergi mengurusi sesuatu di Kelurahan. Oh NO... duniaku Indonesiaku??? 

Acara ini penting atau mementingkan diri sendiri?
Tegurlah yang memang berbuat salah, 
Mana yang selalu membawa nama orang islam harus DAKWAH??
Mana acungkan tangan yang tak setuju!!!! jangan tinggi-tinggi. 

Aturan yang tak penting begitu di penting-pentingkan???
INDONESIA Masih di hatiku kok, gak bakalan lupa kecuali Amnesia.
Pembenaran lagu Indonesia Raya dibaca Endonesia raya saja masih banyak yang salah. 
Koreksi yang penting dulu. Pusatkan sebarkan yang terbaik, bukan yang mengatakan untuk terbaik. 

Indonesia Muslim terbesar, mari cerdaskan pikiran pemerintah. eh....

Musibah sebagai berkah



Kemarin aku mampir ke SINI di situ aku melihat sebuah postingan yang sangat mengharukan dan menyedihkan bila ku baca berulang-ulang walaupun akhirnya ia bahagia.

Tulisan "Berina itu berdosa" di perkosa itu berkah


hmmm kok bisa yah?? tapi inilah kenyataanya


Tulisan "berzina itu dosa, di Perkosa itu Berkah " Oleh Mesyha Lestari memberi saya keberanian untuk mengungkapkan tragedi yang saya alami 16 thn lalu. Semalaman saya berpikir, menimbang dan memutuskan untuk membuka pengalaman ini kepada dunia.

Saya di perkosa oleh suami tetangga. Seorang Insinyur Pertanian. Saya mengenal istrinya. Dia wanita yang cantik dan ramah. Meski saya tidak pernah bertegur sapa dan hanya sebatas melempar senyum saja, tapi saya tahu dia wanita yang baik. Ibu saya selalu memujinya.

Perkosaan itu terjadi pada hari minggu pagi tanggal 30 April 1995 jam sebelum jam 11 pagi. Dari hasil perbuatan itu saya hamil. Ayah saya seorang Imam masjid. Ibu saya seorang guru. Ayah sangat marah dan mencap saya sebagai perempuan tidak benar. Hanya ibu yang selalu melindungi saya dan memohon agar bayi itu di biarkan lahir. Agar saya tidak melalukan dosa lanjutan menjadi pembunuh.

Kedua orang tua saya tidak tahu kalau saya hamil akibat di perkosa. Mereka berdua menduga saya yang bergaul terlewat batas. Saya tidak mau mengatakannya krn tidak ingin ada tragedi lagi. Saya takut di paksa menikah dengan suami tetangga itu. Saya tidak menyukainya.

Anak saya laki2. Ibu saya yang merawat dan membesarkannya. Dia memanggil saya bibi, meski dia tahu saya ibunya. Dulu dia bilang dia malu memanggil saya ibu, krn saya masih muda.

Saya tidak lulus sekolah. Hanya sampai klas 3 sma saja. Saya menjadi TKW sejak usia 18 tahun. mula2 ke Singapura, lalu Arab saudi dan sekarang bekerja di Malaysia. Anak saya tidak tahu siapa ayahnya. Keluarga saya pun sudah melupakan kejadian itu dan tidak pernah bertanya lagi. Hanya bapak saya yang berpesan, sebelum meninggal agar saya memberitahu anak saya siapa ayahnya.

Suami tetangga itu sangat baik pada anak saya. Ibu saya bilang, dia sangat perhatian pada anak saya dan selalu memberinya uang. Dia sudah menjadi pegawai tinggi pemerintah sekarang.

Tahun lalu saya pulang ke Indonesia selama sebulan. Anak saya sangat baik, pandai dan alim. Melihatnya besar dan dewasa membuat saya bersyukur karena membiarkannya terlahir. Pengorbanan saya dulu waktu sedang hamil seperti sudah terbalaskan. Dulu semua orang memandang saya dengan jijik. Tetangga2 selalu berbisik dan bergunjing sehingga keluarga saya terpaksa mengucilkan diri demi menahan malu.

Sekarang semua sudah berlalu. Saya sudah hampir terlupakan kisah itu jika saja tidak terbaca tulisan meysha. Memang susah menerima musibah sebagai berkah. Memerlukan waktu yang panjang untuk mengakuinya.

Jika aku yang jadi dia pasti aku tak berani mengungkapkannya

itulah sebuah tulisan yang sangat mengerikan sekali jika aku baca, karena dia sendiri rela jika membuka aibnya sendiri.


dasar laki-laki jahat sudah di punya istri kok malah nafsu sama yang lain.!!!"dan inilah azab bagi mereka yang melakukannya"


Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.

Q.S Almaidah (5) ayat 45



Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan budak-budak yang kamu miliki yang memginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu. Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu.
An-Nur AyAT 33


Kemarin aku mampir ke SINI di situ aku melihat sebuah postingan yang sangat mengharukan dan menyedihkan bila ku baca berulang-ulang walaupun akhirnya ia bahagia.

Tulisan "Berina itu berdosa" di perkosa itu berkah


hmmm kok bisa yah?? tapi inilah kenyataanya


Tulisan "berzina itu dosa, di Perkosa itu Berkah " Oleh Mesyha Lestari memberi saya keberanian untuk mengungkapkan tragedi yang saya alami 16 thn lalu. Semalaman saya berpikir, menimbang dan memutuskan untuk membuka pengalaman ini kepada dunia.

Saya di perkosa oleh suami tetangga. Seorang Insinyur Pertanian. Saya mengenal istrinya. Dia wanita yang cantik dan ramah. Meski saya tidak pernah bertegur sapa dan hanya sebatas melempar senyum saja, tapi saya tahu dia wanita yang baik. Ibu saya selalu memujinya.

Perkosaan itu terjadi pada hari minggu pagi tanggal 30 April 1995 jam sebelum jam 11 pagi. Dari hasil perbuatan itu saya hamil. Ayah saya seorang Imam masjid. Ibu saya seorang guru. Ayah sangat marah dan mencap saya sebagai perempuan tidak benar. Hanya ibu yang selalu melindungi saya dan memohon agar bayi itu di biarkan lahir. Agar saya tidak melalukan dosa lanjutan menjadi pembunuh.

Kedua orang tua saya tidak tahu kalau saya hamil akibat di perkosa. Mereka berdua menduga saya yang bergaul terlewat batas. Saya tidak mau mengatakannya krn tidak ingin ada tragedi lagi. Saya takut di paksa menikah dengan suami tetangga itu. Saya tidak menyukainya.

Anak saya laki2. Ibu saya yang merawat dan membesarkannya. Dia memanggil saya bibi, meski dia tahu saya ibunya. Dulu dia bilang dia malu memanggil saya ibu, krn saya masih muda.

Saya tidak lulus sekolah. Hanya sampai klas 3 sma saja. Saya menjadi TKW sejak usia 18 tahun. mula2 ke Singapura, lalu Arab saudi dan sekarang bekerja di Malaysia. Anak saya tidak tahu siapa ayahnya. Keluarga saya pun sudah melupakan kejadian itu dan tidak pernah bertanya lagi. Hanya bapak saya yang berpesan, sebelum meninggal agar saya memberitahu anak saya siapa ayahnya.

Suami tetangga itu sangat baik pada anak saya. Ibu saya bilang, dia sangat perhatian pada anak saya dan selalu memberinya uang. Dia sudah menjadi pegawai tinggi pemerintah sekarang.

Tahun lalu saya pulang ke Indonesia selama sebulan. Anak saya sangat baik, pandai dan alim. Melihatnya besar dan dewasa membuat saya bersyukur karena membiarkannya terlahir. Pengorbanan saya dulu waktu sedang hamil seperti sudah terbalaskan. Dulu semua orang memandang saya dengan jijik. Tetangga2 selalu berbisik dan bergunjing sehingga keluarga saya terpaksa mengucilkan diri demi menahan malu.

Sekarang semua sudah berlalu. Saya sudah hampir terlupakan kisah itu jika saja tidak terbaca tulisan meysha. Memang susah menerima musibah sebagai berkah. Memerlukan waktu yang panjang untuk mengakuinya.

Jika aku yang jadi dia pasti aku tak berani mengungkapkannya

itulah sebuah tulisan yang sangat mengerikan sekali jika aku baca, karena dia sendiri rela jika membuka aibnya sendiri.


dasar laki-laki jahat sudah di punya istri kok malah nafsu sama yang lain.!!!"dan inilah azab bagi mereka yang melakukannya"


Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.

Q.S Almaidah (5) ayat 45



Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan budak-budak yang kamu miliki yang memginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu. Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu.
An-Nur AyAT 33
 
Catatan Annurshah Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template