Tampilkan postingan dengan label Diary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diary. Tampilkan semua postingan

Emosi Rindu


Manusia memang sekali pandai mengolah rasa, apalagi emosi rindunya. Seakan lupa ada yang perlu disisakan, sebuah cinta kepada sesama bukan kegoisan hati yang selalu tertata, semata.

Kamu hanya mampu berdo’a
Meminta bulir-bulir hujan 
Dan menengadah, harapan

#Ramah
Rindu itu terlalu ramah, 
datangnya dengan senyuman 
hilangangnya dengan kenangan
Kau pun terkadang marah?

Uh...Uh...
Nostalgia dengan irama rindu menghujan dan menghujam.

Kutipanku di hari Jum'at.

Manusia memang sekali pandai mengolah rasa, apalagi emosi rindunya. Seakan lupa ada yang perlu disisakan, sebuah cinta kepada sesama bukan kegoisan hati yang selalu tertata, semata.

Kamu hanya mampu berdo’a
Meminta bulir-bulir hujan 
Dan menengadah, harapan

#Ramah
Rindu itu terlalu ramah, 
datangnya dengan senyuman 
hilangangnya dengan kenangan
Kau pun terkadang marah?

Uh...Uh...
Nostalgia dengan irama rindu menghujan dan menghujam.

Kutipanku di hari Jum'at.

Berharap RidhoMU





Jodoh itu antara rezeki dan usaha. Aku beranggapan seperti itu. Entah apakah orang lain sama?
Ya, ketika kita mampu berdoa kenapa tidak? Yang pasti diiringi dengan usaha. Banyak yang berusaha mencari sendiri dan banyak juga yang minta ditaarufkan melalui perantara teman. Atau bahkan tak ingin dicari tapi datang sendiri. Wallahu’alam.


Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik bagi putra-putrinya. Ada yang beranggapan status pekerjaan jauh lebih baik, ada yang derajat keluarga bahkan tak banyak beranggapan agama jauh lebih baik.
Aku tak pernah meragukan tentang ini. Karena belajar dari pengalaman dan kajian yang sering kudengar. Agama adalah sumber utama, meski begitu ada beberapa factor lainnya.
Tapi kenapa orang menikah takut miskin? Sedangkan miskin datang tak mungkin begitu saja tanpa sebab. Bukankah kehendakNya jauh lebih ajaib? Ya, ketakutan inilah yang mendera semua orang tua. Mungkin.

Jika, kita sudah berharap lelaki terbaik adalah dia, tapi ibu bapakmu tak pernah menyetujui apa daya. Ridho Allah tergantung ridho orang tua.
Percayalah, bahagia itu selalu ada. Dengan bersyukur dan bagaimana kita mau menyadari setiap pemberiannya meski sedikit. Secara sederhana kita mendefinisikan cinta adalah urusan hati. Tapi bagiku, cinta adalah rasa yang berserak terbagi-bagi dalam jumlah tak terhitung. Mencintai bukanlah satu ditambah satu sama dengan dua.
Mencintai adalah satu dibagi satu juta jiwa. Meski mencintai sejatinya 1 dibanding 1. Allah dan Allah. Maka akan terjadi cinta yang besar tak terhingga.
Perasaanmu dan perasaanku mungkin sama. Tapi takdir berkata beda, kita pun tak lagi sama. Kita berbeda. Dalam hati yang tegar.

Lalu, apakah harus menujumu? Mempercayaimu? Meninggalkan ridho terbaik Mu?
Kita tak boleh menyalahkan takdir, meski harapan yang datang nun jauh di sana berjuang mendatangi kita dengan segenap hati. Dengan tangan terbuka memberi harapan indah. Dengan memikul jawaban yang kelak dipertanggungjawabkan.

Hanya ada sabar. Bukan benci terhadap seseorang yang tak menyetujui keputusan.
Dan aku sadar, otakku bukanlah wadah angan-angan tempat menabung masa depan. Hingga aku tak mampu merengkuh semua harapan. Ini hanya ekspetasiku saja yang terlalu berlebihan menyikapi sebuah rasa yang hadir tiba-tiba.
Biarlah resah ini tergusar, tak berserak dan akulah yang jadi pemenangnya. Memenangkan atas KuasaMu bukan mengelukan resah yang tak berpenghuni.

Kekuatan doa adalah yang paling mujarab. Meski tidak semua do’a selalu dikabulkan.
Busana yang tertutup melindungi diriku, adalah bentuk kepatuhanku kepada Tuhan dan kedua orang tuaku. Orang tua adalah pintu utama menuju ridhoMu. Menjaga kehormatan diriku sendiri, bahkan keluarga. Bukan sebuah pencitraan untuk menutupi kekurangan. Tetapi menutupi kesempurnaan yang telah diberikan.
Aku yakin, setiap keyakinan yang kuharapkan bukan semata-mata berujung akal pendek. Melainkan proses menuju kebaikan. Kita memang tak boleh terlalu berharap pada manusia. Tetapi kita diwajibkan berharap kepada Allah meski kita tinggal menunggu KuasaNya.

Sabarlah, saat langkah semakin jauh dari jerih payahmu itu bukanlah titik henti, melainkan perhentian yang tertunda.
Selamat datang di negeri yang penuh kelapangan hati. Semoga ikhtiar dan keistiqomahan kita menjadi jalan terbaik menuju masa depan.
Ridho ALLAH tergantung kepada ridho orang tua, sesuai sabda Rosululloh: "Ridho ALLAH tergantung kepada keridhoan orang tua dan murka ALLAH tergantung kepada kemurkaan orang tua" (HR Bukhori, Ibnu Hibban, Tirmidzi, Hakim)
“ Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:2

"Ketika banyak orang mengidolakan ibu karena kasih sayangnya yang tiada tara, saya justru mengagumi ibu saya karena beberapa kekurangan dan kelebihan padanya yang membuatku selalu ON FIRE" <-- searchgoogle.="" span="">

@AnnurShah
Sedang menunggu.... ^_^ uhuhuhuhu






Jodoh itu antara rezeki dan usaha. Aku beranggapan seperti itu. Entah apakah orang lain sama?
Ya, ketika kita mampu berdoa kenapa tidak? Yang pasti diiringi dengan usaha. Banyak yang berusaha mencari sendiri dan banyak juga yang minta ditaarufkan melalui perantara teman. Atau bahkan tak ingin dicari tapi datang sendiri. Wallahu’alam.


Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik bagi putra-putrinya. Ada yang beranggapan status pekerjaan jauh lebih baik, ada yang derajat keluarga bahkan tak banyak beranggapan agama jauh lebih baik.
Aku tak pernah meragukan tentang ini. Karena belajar dari pengalaman dan kajian yang sering kudengar. Agama adalah sumber utama, meski begitu ada beberapa factor lainnya.
Tapi kenapa orang menikah takut miskin? Sedangkan miskin datang tak mungkin begitu saja tanpa sebab. Bukankah kehendakNya jauh lebih ajaib? Ya, ketakutan inilah yang mendera semua orang tua. Mungkin.

Jika, kita sudah berharap lelaki terbaik adalah dia, tapi ibu bapakmu tak pernah menyetujui apa daya. Ridho Allah tergantung ridho orang tua.
Percayalah, bahagia itu selalu ada. Dengan bersyukur dan bagaimana kita mau menyadari setiap pemberiannya meski sedikit. Secara sederhana kita mendefinisikan cinta adalah urusan hati. Tapi bagiku, cinta adalah rasa yang berserak terbagi-bagi dalam jumlah tak terhitung. Mencintai bukanlah satu ditambah satu sama dengan dua.
Mencintai adalah satu dibagi satu juta jiwa. Meski mencintai sejatinya 1 dibanding 1. Allah dan Allah. Maka akan terjadi cinta yang besar tak terhingga.
Perasaanmu dan perasaanku mungkin sama. Tapi takdir berkata beda, kita pun tak lagi sama. Kita berbeda. Dalam hati yang tegar.

Lalu, apakah harus menujumu? Mempercayaimu? Meninggalkan ridho terbaik Mu?
Kita tak boleh menyalahkan takdir, meski harapan yang datang nun jauh di sana berjuang mendatangi kita dengan segenap hati. Dengan tangan terbuka memberi harapan indah. Dengan memikul jawaban yang kelak dipertanggungjawabkan.

Hanya ada sabar. Bukan benci terhadap seseorang yang tak menyetujui keputusan.
Dan aku sadar, otakku bukanlah wadah angan-angan tempat menabung masa depan. Hingga aku tak mampu merengkuh semua harapan. Ini hanya ekspetasiku saja yang terlalu berlebihan menyikapi sebuah rasa yang hadir tiba-tiba.
Biarlah resah ini tergusar, tak berserak dan akulah yang jadi pemenangnya. Memenangkan atas KuasaMu bukan mengelukan resah yang tak berpenghuni.

Kekuatan doa adalah yang paling mujarab. Meski tidak semua do’a selalu dikabulkan.
Busana yang tertutup melindungi diriku, adalah bentuk kepatuhanku kepada Tuhan dan kedua orang tuaku. Orang tua adalah pintu utama menuju ridhoMu. Menjaga kehormatan diriku sendiri, bahkan keluarga. Bukan sebuah pencitraan untuk menutupi kekurangan. Tetapi menutupi kesempurnaan yang telah diberikan.
Aku yakin, setiap keyakinan yang kuharapkan bukan semata-mata berujung akal pendek. Melainkan proses menuju kebaikan. Kita memang tak boleh terlalu berharap pada manusia. Tetapi kita diwajibkan berharap kepada Allah meski kita tinggal menunggu KuasaNya.

Sabarlah, saat langkah semakin jauh dari jerih payahmu itu bukanlah titik henti, melainkan perhentian yang tertunda.
Selamat datang di negeri yang penuh kelapangan hati. Semoga ikhtiar dan keistiqomahan kita menjadi jalan terbaik menuju masa depan.
Ridho ALLAH tergantung kepada ridho orang tua, sesuai sabda Rosululloh: "Ridho ALLAH tergantung kepada keridhoan orang tua dan murka ALLAH tergantung kepada kemurkaan orang tua" (HR Bukhori, Ibnu Hibban, Tirmidzi, Hakim)
“ Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:2

"Ketika banyak orang mengidolakan ibu karena kasih sayangnya yang tiada tara, saya justru mengagumi ibu saya karena beberapa kekurangan dan kelebihan padanya yang membuatku selalu ON FIRE" <-- searchgoogle.="" span="">

@AnnurShah
Sedang menunggu.... ^_^ uhuhuhuhu


Tenang, sayang

Wahai sekalian manusia, bersikaplah tenang karena kebaikan tidak datang dari sikap tergesa-gesa (HR. Bukhari No. 1671)


Kurasa tenang, tapi apa daya, sudah terlihat ceroboh. Kupikir niatanku benar. Tapi karena aku tergesa-gesa berakhirlah situasi genting.
Belum lama ini aku seperti disadarkan kembali pada masa lalu. Meski ada yang mengatakan masa lalu biarlah berlalu, masa kini biarlah melaju dengan senang hati.
Ya, benar jika masa lalu yang berlalu harus menghilang. Tapi tidak mungkin menghilang dari ingatan kita. Apalagi masa lalu yang menghadirkan sebuah pembelajaran besar. Tentang arti kehidupan, tentang sebuah rasa penyesalan yang sering kali terungkap lewat lamunan bahkan kesendirian disaat semua masalah justru membaru dimasa kini.

Sepintas aku kehilangan masa kecilku, bukankah aku merasa tidak baik?
Ah, sudahlah bukankah harus ikhlas? Ya, tapi jika aku duduk terdiam sendiri mengintip masa laluku. Bukankah harusnya aku menjadi lebih baik? Bukankah yang sekarang harusnya tertata baik?
Lidah boleh bicara sesuatu. Tapi perbuatanlah yang menghantarkan kita pada masa kini.
Tentang tindak tandukku yang ceroboh mengambil keputusan! Ya, aku merasa pernah salah langkah bahkan sampai sekarang masih menyesali meski dijalani. Tentang pekerjaan yang tak move on. OOchh..Memilukan saja, tapi kuanggap ini sebuah keikhlasan dan penghargaan. 
Meski kusadar, aku jauh dari sebuah silaturahim. Rasanya, aku ingin merengkuh masa-masa dulu. Tapi bukan dengan mereka yang menyesatkan jalan ketidakadilan. 
Aku juga berpikir, untuk menuju perjalanan panjang tidak harus tergesa-gesa. Tapi merasa istikharoh dan tenang itu perlu. Tapi jangan dengarkan kata hati sendiri, bisa jadi keputusan kita adalah yang terlalu tergesa-gesa oleh bisikan syeitan. 


Kutipan hari ini :
 Kenanglah masa lalu yang membuatmu bangkit, bukan membuatmu semakin sakit! Annur Karimah. 


#MOVE ON, JALAN KEBAIKAN 

Wahai sekalian manusia, bersikaplah tenang karena kebaikan tidak datang dari sikap tergesa-gesa (HR. Bukhari No. 1671)


Kurasa tenang, tapi apa daya, sudah terlihat ceroboh. Kupikir niatanku benar. Tapi karena aku tergesa-gesa berakhirlah situasi genting.
Belum lama ini aku seperti disadarkan kembali pada masa lalu. Meski ada yang mengatakan masa lalu biarlah berlalu, masa kini biarlah melaju dengan senang hati.
Ya, benar jika masa lalu yang berlalu harus menghilang. Tapi tidak mungkin menghilang dari ingatan kita. Apalagi masa lalu yang menghadirkan sebuah pembelajaran besar. Tentang arti kehidupan, tentang sebuah rasa penyesalan yang sering kali terungkap lewat lamunan bahkan kesendirian disaat semua masalah justru membaru dimasa kini.

Sepintas aku kehilangan masa kecilku, bukankah aku merasa tidak baik?
Ah, sudahlah bukankah harus ikhlas? Ya, tapi jika aku duduk terdiam sendiri mengintip masa laluku. Bukankah harusnya aku menjadi lebih baik? Bukankah yang sekarang harusnya tertata baik?
Lidah boleh bicara sesuatu. Tapi perbuatanlah yang menghantarkan kita pada masa kini.
Tentang tindak tandukku yang ceroboh mengambil keputusan! Ya, aku merasa pernah salah langkah bahkan sampai sekarang masih menyesali meski dijalani. Tentang pekerjaan yang tak move on. OOchh..Memilukan saja, tapi kuanggap ini sebuah keikhlasan dan penghargaan. 
Meski kusadar, aku jauh dari sebuah silaturahim. Rasanya, aku ingin merengkuh masa-masa dulu. Tapi bukan dengan mereka yang menyesatkan jalan ketidakadilan. 
Aku juga berpikir, untuk menuju perjalanan panjang tidak harus tergesa-gesa. Tapi merasa istikharoh dan tenang itu perlu. Tapi jangan dengarkan kata hati sendiri, bisa jadi keputusan kita adalah yang terlalu tergesa-gesa oleh bisikan syeitan. 


Kutipan hari ini :
 Kenanglah masa lalu yang membuatmu bangkit, bukan membuatmu semakin sakit! Annur Karimah. 


#MOVE ON, JALAN KEBAIKAN 

Harapan Baru

Duhai Hati 
Biar Sendiri, tetaplah berteguh hati. Tetap Berdiri.
Kita atau aku,
Begini saja ku katakan aku.

Hari ini aku sedang berharap menjadi lebih baik
Aku bukan orang baik-baik
jadi hati-hatilah mengenalku, jangan asal baik
ya, cuma sedang berusaha menjadi lebih baik
meski belum sempat menjadi yang terbaik.
Tapi
bagaimana akan menjadi lebih baik kalau diriku tak baik-baik?
Asal hatiku baik-baik dan berusaha membaik
moga akhirnya baik-baik saja,
Allooh itu Maha Baik
dan semoga mendapatkan yang baik paling terbaik
Insya Allooh.

Antara do'a yang baik maka Allooh akan berikan yang baik, lebih baik lagi.
berulang-ulang lebih asik.
Yuk, kawanku yang baik


Terbayang betapa bahagianya bila kita menjadi orang yang baik hati,
 yang benar-benar baik sampai kelubuk hati terdalam. (AA. GYM)


Hello September 
My Sweetheart 


Duhai Hati 
Biar Sendiri, tetaplah berteguh hati. Tetap Berdiri.
Kita atau aku,
Begini saja ku katakan aku.

Hari ini aku sedang berharap menjadi lebih baik
Aku bukan orang baik-baik
jadi hati-hatilah mengenalku, jangan asal baik
ya, cuma sedang berusaha menjadi lebih baik
meski belum sempat menjadi yang terbaik.
Tapi
bagaimana akan menjadi lebih baik kalau diriku tak baik-baik?
Asal hatiku baik-baik dan berusaha membaik
moga akhirnya baik-baik saja,
Allooh itu Maha Baik
dan semoga mendapatkan yang baik paling terbaik
Insya Allooh.

Antara do'a yang baik maka Allooh akan berikan yang baik, lebih baik lagi.
berulang-ulang lebih asik.
Yuk, kawanku yang baik


Terbayang betapa bahagianya bila kita menjadi orang yang baik hati,
 yang benar-benar baik sampai kelubuk hati terdalam. (AA. GYM)


Hello September 
My Sweetheart 


Kesalahan Terindah

Gbr

Siapa dia? Datang tanpa permisi pula!
Tanpa cacat ia bercerita tentang rasa
Tanpa berpikir ia memberi asa

Di puncak harapan dan tujuan kau sebut itu aku
Disisi lain aku tersenyum menggetir rindu

Perlahan ini mengerikan sekali, bagiku
Sebuah nama dari seberang samudera menghampiriku
Menyentuh alam bawah sadarku, kau hadir dalam urat lamunku
Yang saat itu ku kemas dalam bentuk doa serta harapan dalam mimpiku

Sajak demi sajak berjibaku dalam ingatanku
Tersadar episode demi episode menjejak
Memangkas namamu dari kenangan masa lalu
Setengah diriku seperti menghilang, sesak

Cinta sederhana tanpa tatap muka
Lalu kau menyuruhku bergegas lebih dulu
Berbelit-belit bahasa rendah hati sebagai tafsir pengungkap rindu
Dan sesederhana itu kau mengusir rinduku, yang sudah menunggu


Maaf aku begitu membenci diriku sendiri
Berat sekali berpesan singkat tuk pergi
Seperti pukulan dari langit, lagi
Memahamimu, seperti rindu tak berpenghuni 

Lagi! Mimpi berkali-kali 
Tanpa kesengajaan kita karena ruang ini selalu sepi
Dan ku torehkan rasa maaf menjadi pengobat hati
Bukan kepada dirimu yang berjarak selamat pagi 
Tapi pada Tuhan Semesta yang memayungi diri ini
Allooh Maha Memberi

GBR
“kesalahan terindah adalah saat kau cepat menyadarinya, bukan berlarut-larut dalam kehinaan” Annur El Karimah




Lagi senang menyadari saja, semoga  memberi pelajaran berharga atas ingatanku yang cepat pulih.

Jumu’ah Mubarak 
23 Syawal 1434 H



Gbr

Siapa dia? Datang tanpa permisi pula!
Tanpa cacat ia bercerita tentang rasa
Tanpa berpikir ia memberi asa

Di puncak harapan dan tujuan kau sebut itu aku
Disisi lain aku tersenyum menggetir rindu

Perlahan ini mengerikan sekali, bagiku
Sebuah nama dari seberang samudera menghampiriku
Menyentuh alam bawah sadarku, kau hadir dalam urat lamunku
Yang saat itu ku kemas dalam bentuk doa serta harapan dalam mimpiku

Sajak demi sajak berjibaku dalam ingatanku
Tersadar episode demi episode menjejak
Memangkas namamu dari kenangan masa lalu
Setengah diriku seperti menghilang, sesak

Cinta sederhana tanpa tatap muka
Lalu kau menyuruhku bergegas lebih dulu
Berbelit-belit bahasa rendah hati sebagai tafsir pengungkap rindu
Dan sesederhana itu kau mengusir rinduku, yang sudah menunggu


Maaf aku begitu membenci diriku sendiri
Berat sekali berpesan singkat tuk pergi
Seperti pukulan dari langit, lagi
Memahamimu, seperti rindu tak berpenghuni 

Lagi! Mimpi berkali-kali 
Tanpa kesengajaan kita karena ruang ini selalu sepi
Dan ku torehkan rasa maaf menjadi pengobat hati
Bukan kepada dirimu yang berjarak selamat pagi 
Tapi pada Tuhan Semesta yang memayungi diri ini
Allooh Maha Memberi

GBR
“kesalahan terindah adalah saat kau cepat menyadarinya, bukan berlarut-larut dalam kehinaan” Annur El Karimah




Lagi senang menyadari saja, semoga  memberi pelajaran berharga atas ingatanku yang cepat pulih.

Jumu’ah Mubarak 
23 Syawal 1434 H



Senja takkan menghilang

Masih ingat saat kebersamaan kita terlukis indah? Layaknya pelangi yang merona disaat senja?
Mengulum senyuman ikhlas dengan perasaan bahagia? Pertemanan kita yang berakhir dengan bentuk keridloaan Ilahi?

Cinta
Aku tahu kau mencintaiku? begitu sebaliknya. Tapi saat usia mulai menapaki rindu penantian Surga ku tahu kau akan mengawaliku lebih dulu. Usia kita yang berbeda 1 tahun bisa jadi membuatnya merasa aku lebih dulu.
Kau tahu anugerah terindah saat ku dengar kamu mengatakan yang sesungguhnya?
Kebahagiaan mulai merasuki sel-sel tubuhku. Urat sarafku bertalu-talu menyemarakan kemenanganmu yang hampir saja.
Dan kau tawarkan sebuah kebahagiaan lewat jalinan yang begitu berharga.

Hai bidadari bertubuh lebih besar dariku. Tahukah kamu aku menanti kita yang duduk bersama dalam sileut senja? Saat itu aku masih menganggapmu bak diary yang bisa ku isi bulpen berwarna-warni. Nyatanya tidak.

Ku sadari saat kalimatmu mencuat untuk menghentikan langkahku terlalu jauh. Mengambil posisi seperti dulu. Sekarang kamu bungkam seribu bahasa. Sedangkan saat itu merasa seperti merengkuh menderita.
Bayangkan saja, hanya beberapa hari kita pernah terlibat baku hantam sebuah untaian kata.
Aku yang selalu mengambil tindakan tak seindah dirimu bidadari. 
Kau tahu kenapa? aku merasa serba salah. Karena aku seperti salah melangkah. 

Ku tahu kau kini lebih tahu segalanya. Bahkan aku tertinggal jauh, kau masih rendah hati tapi terkadang kau enggan berbicara tentang ini.

Hem, aku tidak membicarakanmu tentang keburukanmu.
Aku sangat mencintaimu meski selangkah lagi ada nuansa indah yang akan meninggalkan seklumit kebersamaan diantara kita. 
Aku tahu ini masih sebuah rahasia lagi Nona. 
Bersabarlah untukku, meski kamu belum memberitahu kapan.

Ah, aku jadi ingat tentang sesuatu yang tak tersentuh oleh diary mungilku.
Bahagia itu mudah saja, mengenal arti toleransi yang mencakup mengerti, memahami dan menjaga sikap menjadi lebih berarti. 
So beautiful, untukku dan dirimu

Hem, tak terasa cantik, kamu akan segera menuju pelaminan. Jarak diantara kita akan tetap terjaga meski tidak bisa ku mencuri waktumu. Aku bahagia mendengarnya, kau telah menemukan pangeranmu.
Berharap kau temukan hari terindah, dimana aku bisa hadir untuk turut menyemai indahnya cinta diantara yang berserak.


Senja.
Hangatnya senja,
Senja menyelimuti
Senja menghilang
Ah, Senja semu memerah.
pipimu saat inikah? karena aku sedang tak memujimu. Tapi menghargaimu 






Sahabat Seperjuanganku, UHIBBUKI FILLAH

Meski nantinya kami semua terpisah karenaMu Allah.
Semoga kami menjadi umat yang bersyukur dan senantiasa terjaga jalinan ukhuwah ini. Hingga bertemu dalam sebuah kebahagiaan sejatiMu. Jannatun naim.

Annur El Karimah #menyapamu lewat untaian kata.

sumber gambar : tumblr


Masih ingat saat kebersamaan kita terlukis indah? Layaknya pelangi yang merona disaat senja?
Mengulum senyuman ikhlas dengan perasaan bahagia? Pertemanan kita yang berakhir dengan bentuk keridloaan Ilahi?

Cinta
Aku tahu kau mencintaiku? begitu sebaliknya. Tapi saat usia mulai menapaki rindu penantian Surga ku tahu kau akan mengawaliku lebih dulu. Usia kita yang berbeda 1 tahun bisa jadi membuatnya merasa aku lebih dulu.
Kau tahu anugerah terindah saat ku dengar kamu mengatakan yang sesungguhnya?
Kebahagiaan mulai merasuki sel-sel tubuhku. Urat sarafku bertalu-talu menyemarakan kemenanganmu yang hampir saja.
Dan kau tawarkan sebuah kebahagiaan lewat jalinan yang begitu berharga.

Hai bidadari bertubuh lebih besar dariku. Tahukah kamu aku menanti kita yang duduk bersama dalam sileut senja? Saat itu aku masih menganggapmu bak diary yang bisa ku isi bulpen berwarna-warni. Nyatanya tidak.

Ku sadari saat kalimatmu mencuat untuk menghentikan langkahku terlalu jauh. Mengambil posisi seperti dulu. Sekarang kamu bungkam seribu bahasa. Sedangkan saat itu merasa seperti merengkuh menderita.
Bayangkan saja, hanya beberapa hari kita pernah terlibat baku hantam sebuah untaian kata.
Aku yang selalu mengambil tindakan tak seindah dirimu bidadari. 
Kau tahu kenapa? aku merasa serba salah. Karena aku seperti salah melangkah. 

Ku tahu kau kini lebih tahu segalanya. Bahkan aku tertinggal jauh, kau masih rendah hati tapi terkadang kau enggan berbicara tentang ini.

Hem, aku tidak membicarakanmu tentang keburukanmu.
Aku sangat mencintaimu meski selangkah lagi ada nuansa indah yang akan meninggalkan seklumit kebersamaan diantara kita. 
Aku tahu ini masih sebuah rahasia lagi Nona. 
Bersabarlah untukku, meski kamu belum memberitahu kapan.

Ah, aku jadi ingat tentang sesuatu yang tak tersentuh oleh diary mungilku.
Bahagia itu mudah saja, mengenal arti toleransi yang mencakup mengerti, memahami dan menjaga sikap menjadi lebih berarti. 
So beautiful, untukku dan dirimu

Hem, tak terasa cantik, kamu akan segera menuju pelaminan. Jarak diantara kita akan tetap terjaga meski tidak bisa ku mencuri waktumu. Aku bahagia mendengarnya, kau telah menemukan pangeranmu.
Berharap kau temukan hari terindah, dimana aku bisa hadir untuk turut menyemai indahnya cinta diantara yang berserak.


Senja.
Hangatnya senja,
Senja menyelimuti
Senja menghilang
Ah, Senja semu memerah.
pipimu saat inikah? karena aku sedang tak memujimu. Tapi menghargaimu 






Sahabat Seperjuanganku, UHIBBUKI FILLAH

Meski nantinya kami semua terpisah karenaMu Allah.
Semoga kami menjadi umat yang bersyukur dan senantiasa terjaga jalinan ukhuwah ini. Hingga bertemu dalam sebuah kebahagiaan sejatiMu. Jannatun naim.

Annur El Karimah #menyapamu lewat untaian kata.

sumber gambar : tumblr


Pangeran tidurku

بِسْÙ…ِ اللهِ الرَّØ­ْمنِ الرَّØ­ِيمِ

Mimpiku 
Mungkinkah kaulah tulang rusukku?
Adakah nyata dalam menunggu
Yang ku tahu kau tercipta untukku.


6 Desember 2012

Ini tentang mimpi, rasanya masih terasa manis karena baru semalam aku merasakannya. Walau sekejap tapi tak pernah ku duga sebelumnya. Terang saja, mimpi tak bisa di rekayasa apalagi di binasakan begitu saja. 


#Mimpiku.
 Saat itu aku tengah duduk sembari menyaksikan anak-anak terjun bebas di sungai. Sungai yang indah dan jernih layaknya kolam renang. Tepat sekali di pinggir sebuah rumah. 
Ku dapati itu sebelumnya saat aku masih mengenakan celana hitam, berkerudung orange dan berbaju panjang orange. Warna kerudung kesayanganku saat ini. Hampir saja kakiku masuk ke dalam rumah, sedangkan di teras dan ruang tamu tampak terisi beberapa lelaki dengan mengenakan kopiah/peci dan berbaju koko. Kebanyakan memakai sarung. Akhirnya ku memilih duduk di halaman rumah tetanggaku. Entah rumah siapa, dan aku juga tak merasakan itu rumahku. 
Tiba-tiba saja ada lelaki datang menghampiriku. Ia duduk persis berjarak 30 cm dari tempat dudukku. Aku terkesiap, dan jantungku seakan berdenyut kencang. "Ini bukan jarak yang ku inginkan" desisku cepat menunduk saat mata lelaki itu sesat memperhatikanku.
"Sedang menunggu?" 
"iya"
"sudah menikah?" tanyanya begitu tak ragu.
Lelaki berkaos hitam bercelana tentara dan mengenakan topi tentara itu membuatku semakin penasaran. Ada janggut yang membuatnya semakin manis.
"Duhai hati, ampunilah aku Ya Rabb" seketika aku tersipu malu saat ingin menjawabnya.

Tiba-tiba hujan turun begitu deras. Dan semua panik karena sedang berada di luar. Kemudian aku berlari masuk ke rumah tetanggaku. Tapi malang, aku melihat api diatas genteng. Aku cepat keluar mencari aman. Tidak seperti yang ku duga, ku pikir api biasa. Nyatanya ada api yang menjalar bersama derasnya hujan. 
Api itu menjalar menghanguskan pagar tembok di sisi ruas sepanjang jalan.
Beberapa orang menghambur tampak ketakutan. Dan semakin menjerit tak tertahkan saat api membaur bersama awan yang menghitam. 
"Astaghfirullah, api ada di mana-mana" saat itu batinku mulai gelisah. 
Ku takuti ini adalah kiamat nyata yang akan terjadi dan aku mengalaminya. Kita terpisahkan disini, sedangkan keluargaku tak tahu entah dimana.
Seketika angin mendesau kencang. Api-api itu menghilang cepat. Gerimis mulai tampak tenang. Air mataku yang membaur bersama hujan rasanya sudah bisa terhapuskan.

Saat kaki ini melangkah kembali ada seorang pria menarik tanganku. Ia berhasil melingkarkan dan menghimpit tangan kiriku. Aku tak tahu siapa, karena lelaki itu benar-benar misterius mengenakan baju serba hitam.
Lalu kemanakah lelaki yang menanyakan statusku sebelum hujan membasahi tanah?


Aku bertabrakan dengan seorang wanita tapi keadaanku masih bergandengan dengan seorang pria yang kemudian mengajakku ke cafe. 
Tiba-tiba ia mengalungkan sebuah kalung rantai berbandul bentuk love. begitu cepat aku tersadar saat ku melihat kalung itu telah melingkar di leherku. Tercenung dan aku tak bisa menerima saat lelaki bercelana tentara hijau itu terbangun dari duduknya yang sedari tadi duduk di meja yang berbeda dan tak jauh dari aku duduk.

Ia tampak marah sambil berjalan menuju keluar, aku menyadari dengan cepat. Lelaki itu bermata agak sipit berpostur tubuh tinggi. Namun wajahnya tertupi jaket hitam itu membuatku semakin penasaran.
Ku mengejarnya cepat sesaat hujan menembus kulitku.

Tepat jam 4 suara azan subuh berkumandang di iringi nyanyian hujan. Menyeruak dalam keheningan tidurku. 
Sayang, ini hanya mimpi. Aku bangkit duduk sambil menyadarkan ingatanku.

Kemanakah akan berlabuh? akankah dalam waktu dekat kau benar-benar menemani nyata tidurku? Semoga. 


Annur El Karimah, sedang terlelap bersama mimpi

بِسْÙ…ِ اللهِ الرَّØ­ْمنِ الرَّØ­ِيمِ

Mimpiku 
Mungkinkah kaulah tulang rusukku?
Adakah nyata dalam menunggu
Yang ku tahu kau tercipta untukku.


6 Desember 2012

Ini tentang mimpi, rasanya masih terasa manis karena baru semalam aku merasakannya. Walau sekejap tapi tak pernah ku duga sebelumnya. Terang saja, mimpi tak bisa di rekayasa apalagi di binasakan begitu saja. 


#Mimpiku.
 Saat itu aku tengah duduk sembari menyaksikan anak-anak terjun bebas di sungai. Sungai yang indah dan jernih layaknya kolam renang. Tepat sekali di pinggir sebuah rumah. 
Ku dapati itu sebelumnya saat aku masih mengenakan celana hitam, berkerudung orange dan berbaju panjang orange. Warna kerudung kesayanganku saat ini. Hampir saja kakiku masuk ke dalam rumah, sedangkan di teras dan ruang tamu tampak terisi beberapa lelaki dengan mengenakan kopiah/peci dan berbaju koko. Kebanyakan memakai sarung. Akhirnya ku memilih duduk di halaman rumah tetanggaku. Entah rumah siapa, dan aku juga tak merasakan itu rumahku. 
Tiba-tiba saja ada lelaki datang menghampiriku. Ia duduk persis berjarak 30 cm dari tempat dudukku. Aku terkesiap, dan jantungku seakan berdenyut kencang. "Ini bukan jarak yang ku inginkan" desisku cepat menunduk saat mata lelaki itu sesat memperhatikanku.
"Sedang menunggu?" 
"iya"
"sudah menikah?" tanyanya begitu tak ragu.
Lelaki berkaos hitam bercelana tentara dan mengenakan topi tentara itu membuatku semakin penasaran. Ada janggut yang membuatnya semakin manis.
"Duhai hati, ampunilah aku Ya Rabb" seketika aku tersipu malu saat ingin menjawabnya.

Tiba-tiba hujan turun begitu deras. Dan semua panik karena sedang berada di luar. Kemudian aku berlari masuk ke rumah tetanggaku. Tapi malang, aku melihat api diatas genteng. Aku cepat keluar mencari aman. Tidak seperti yang ku duga, ku pikir api biasa. Nyatanya ada api yang menjalar bersama derasnya hujan. 
Api itu menjalar menghanguskan pagar tembok di sisi ruas sepanjang jalan.
Beberapa orang menghambur tampak ketakutan. Dan semakin menjerit tak tertahkan saat api membaur bersama awan yang menghitam. 
"Astaghfirullah, api ada di mana-mana" saat itu batinku mulai gelisah. 
Ku takuti ini adalah kiamat nyata yang akan terjadi dan aku mengalaminya. Kita terpisahkan disini, sedangkan keluargaku tak tahu entah dimana.
Seketika angin mendesau kencang. Api-api itu menghilang cepat. Gerimis mulai tampak tenang. Air mataku yang membaur bersama hujan rasanya sudah bisa terhapuskan.

Saat kaki ini melangkah kembali ada seorang pria menarik tanganku. Ia berhasil melingkarkan dan menghimpit tangan kiriku. Aku tak tahu siapa, karena lelaki itu benar-benar misterius mengenakan baju serba hitam.
Lalu kemanakah lelaki yang menanyakan statusku sebelum hujan membasahi tanah?


Aku bertabrakan dengan seorang wanita tapi keadaanku masih bergandengan dengan seorang pria yang kemudian mengajakku ke cafe. 
Tiba-tiba ia mengalungkan sebuah kalung rantai berbandul bentuk love. begitu cepat aku tersadar saat ku melihat kalung itu telah melingkar di leherku. Tercenung dan aku tak bisa menerima saat lelaki bercelana tentara hijau itu terbangun dari duduknya yang sedari tadi duduk di meja yang berbeda dan tak jauh dari aku duduk.

Ia tampak marah sambil berjalan menuju keluar, aku menyadari dengan cepat. Lelaki itu bermata agak sipit berpostur tubuh tinggi. Namun wajahnya tertupi jaket hitam itu membuatku semakin penasaran.
Ku mengejarnya cepat sesaat hujan menembus kulitku.

Tepat jam 4 suara azan subuh berkumandang di iringi nyanyian hujan. Menyeruak dalam keheningan tidurku. 
Sayang, ini hanya mimpi. Aku bangkit duduk sambil menyadarkan ingatanku.

Kemanakah akan berlabuh? akankah dalam waktu dekat kau benar-benar menemani nyata tidurku? Semoga. 


Annur El Karimah, sedang terlelap bersama mimpi

Alay sih?

Sesuai porsinya, jangan berlebihan  gambar di sini


Gak tahu mesti bahas apa tentang bahasa alay alias ULUY. Gak tahu aku kadang suka kelatahan karena adikku masih labil banget. 

Disana banyak pergaulan yang membuatnya mudah tak terdeteksi di mbah google, eh kok hehe...
Nada bicaranya itu lho, saya suka aneh.
Pernah saya dengar kata UNYU, saya pikir itu arti dari kata LUCU. Ternyata saya mencari di google artinya adalah anak penyu. Ada yang bilang bahasa kasar. Lha? selama ini saya mengartikan lucu?
Dijawab kepo banget sih. 
Lah, kan baru tahu. Kepo apa juga saya gak tahu. KEPO. KELAKUAN POLISI yang suka tanya kayak wartawan. Idih, gak setuju banget di sejajarin sama mereka! Kelakuan ya beda, tugasnya juga beda. Eh Ada polisi  lampu merah jangan gitu lho! hihi :P

Katanya juga berasal dari bahasa hokian
Ke = Bertanya, Po (Apo) = Nenek2. 
Jadi artinya nenek2 yg suka bertanya2. Pingin tau banget gitu..
Lha emang saya nenek-nenek? Jawab lagi kepo!? gue pitis

Tapi Kadang saya mikir, cari definis /persamaan bahasa alias sinonim aja mesti buka kamus. Lebih baik saya belajar bahasa sinonim dulu yah. 

Tapi mau gak mau harus tahu, walau kita gak maksud buat mengucapkan biar bisa hati-hati gak malu-maluin pas kita dikatain.

Cuma iklan Ciuz itu bikin aku dongkol gak tahu kenapa yah?
Gak suka aja, jadi trensetter banget kan? Nanti kalau ngomong sama orang tua jawab begitu?
Ih, kalau anak ku udah saya nasehatin deh. 

Oh iya, kadang saya selalu lupa dengan bahasa yang sering saya sebut ULUY ini. Karena saya ngikut gak jelas. Cuma sekarang sih berusaha tahu dan cari tahu, biar hati-hati kamu???

Eh paling sebel, aku nerima sms pakai bahasa alay. EYD itu lho, gak jelas banget. Sampai saya ingin gak membalas. Pas balas sms si A, Pasti harus tanya itu singkatannya apa? artinya apa? 
Nanti tungguin balasan penjelasan. Baru saya balas. Gak deh, di bilang alay gak mau. 

Tapi kenyataan KaMU ALay Bgdth tyuzs mztix Ngap NuiCh?

Seandainya semua kartu SMSnya bayarnya per karakter. Mungkin gak ada orang lebay deh. SMS Sesingkat-singkatnya tapi PAHAM BIN BENER. 

Mengetik kata banget saja harus ada T dan H. Bikin mata saya merem melek deh. Iya kalau sekali aja, itu hampir setiap kata kadang dibuat aneh, tanda tanya kebaliklah. Bolehlah lucu sedikit gak perlu banyak titik!


Ibu guru almarhumahku pernah cerita malas balas sms anak-anak (murid) kadang di singkat gak jelas  :D

Menurut kamu bagaimana nih?? Ayolah minta pendapat terbaik, apalagi saya takutkan akan ada bahasa alay terbaru edisi 2013. 

Ibu saya gak tahu apa-apa masalah bahasa alay. Saya juga tak pernah kasih tahu. Kasian, untungnya jarang ngobrol sama anak alay. 



>_< Annur Edisi memikirkan kesalahan yang pernah saya ucapkan tidak tahu artinya malu. 

Apakah kamu termasuk  4 L 4 Y  

Repot deh,


Sesuai porsinya, jangan berlebihan  gambar di sini


Gak tahu mesti bahas apa tentang bahasa alay alias ULUY. Gak tahu aku kadang suka kelatahan karena adikku masih labil banget. 

Disana banyak pergaulan yang membuatnya mudah tak terdeteksi di mbah google, eh kok hehe...
Nada bicaranya itu lho, saya suka aneh.
Pernah saya dengar kata UNYU, saya pikir itu arti dari kata LUCU. Ternyata saya mencari di google artinya adalah anak penyu. Ada yang bilang bahasa kasar. Lha? selama ini saya mengartikan lucu?
Dijawab kepo banget sih. 
Lah, kan baru tahu. Kepo apa juga saya gak tahu. KEPO. KELAKUAN POLISI yang suka tanya kayak wartawan. Idih, gak setuju banget di sejajarin sama mereka! Kelakuan ya beda, tugasnya juga beda. Eh Ada polisi  lampu merah jangan gitu lho! hihi :P

Katanya juga berasal dari bahasa hokian
Ke = Bertanya, Po (Apo) = Nenek2. 
Jadi artinya nenek2 yg suka bertanya2. Pingin tau banget gitu..
Lha emang saya nenek-nenek? Jawab lagi kepo!? gue pitis

Tapi Kadang saya mikir, cari definis /persamaan bahasa alias sinonim aja mesti buka kamus. Lebih baik saya belajar bahasa sinonim dulu yah. 

Tapi mau gak mau harus tahu, walau kita gak maksud buat mengucapkan biar bisa hati-hati gak malu-maluin pas kita dikatain.

Cuma iklan Ciuz itu bikin aku dongkol gak tahu kenapa yah?
Gak suka aja, jadi trensetter banget kan? Nanti kalau ngomong sama orang tua jawab begitu?
Ih, kalau anak ku udah saya nasehatin deh. 

Oh iya, kadang saya selalu lupa dengan bahasa yang sering saya sebut ULUY ini. Karena saya ngikut gak jelas. Cuma sekarang sih berusaha tahu dan cari tahu, biar hati-hati kamu???

Eh paling sebel, aku nerima sms pakai bahasa alay. EYD itu lho, gak jelas banget. Sampai saya ingin gak membalas. Pas balas sms si A, Pasti harus tanya itu singkatannya apa? artinya apa? 
Nanti tungguin balasan penjelasan. Baru saya balas. Gak deh, di bilang alay gak mau. 

Tapi kenyataan KaMU ALay Bgdth tyuzs mztix Ngap NuiCh?

Seandainya semua kartu SMSnya bayarnya per karakter. Mungkin gak ada orang lebay deh. SMS Sesingkat-singkatnya tapi PAHAM BIN BENER. 

Mengetik kata banget saja harus ada T dan H. Bikin mata saya merem melek deh. Iya kalau sekali aja, itu hampir setiap kata kadang dibuat aneh, tanda tanya kebaliklah. Bolehlah lucu sedikit gak perlu banyak titik!


Ibu guru almarhumahku pernah cerita malas balas sms anak-anak (murid) kadang di singkat gak jelas  :D

Menurut kamu bagaimana nih?? Ayolah minta pendapat terbaik, apalagi saya takutkan akan ada bahasa alay terbaru edisi 2013. 

Ibu saya gak tahu apa-apa masalah bahasa alay. Saya juga tak pernah kasih tahu. Kasian, untungnya jarang ngobrol sama anak alay. 



>_< Annur Edisi memikirkan kesalahan yang pernah saya ucapkan tidak tahu artinya malu. 

Apakah kamu termasuk  4 L 4 Y  

Repot deh,


ATURAN yang tak Penting


Keterangan ini masih berlaku harap baca: :P


Sesaat mengenang kejadian kehidupan yang saya alami di sebuah desa di sebuah komplek. Hidup di komplek yang ternyata masyarakatnya berbeda dengan komplek tetangganya yang satunya (acuh tak acuh). Kalau di komplek saya acuh kadang tak acuh. 

Usianya kira-kira saya hidup sudah mencapai 20 tahun lebih dan semenjak usia saya yang ke sekarang saya merasakan pikiran saya semakin dewasa untuk mengenal sebuah "ATURAN".

Prediksi saya kembali seperti tahun lalu, 2011. Saya kehilangan bendera merah putih saat ibu sedang mencari-cari bendera itu. Bendera yang telah lama dengan warna yang sudah memudar itu ku simpan entah dimana, karena terlalu banyak barang dan benda-benda yang mengerumuni lemari kamarku.

"Kenapa ibu nyari sampai segitunya? sudahlah tak usah pasang" jawabku dengan nada sedikit meninggi.
"sudahlah tak usah begitu, daripada kita kena tegur seperti tahun kemarin karena lupa. Ikuti saja aturan mainnya, yang penting kita tak menunduk serunduk-runduk dan serendah-redahnya" Ibuku ngotot.

Aku cuma berdesah kesah, menahan rasa kesal. 

Kebiasaan ini memang selalu dicanangkan oleh Pemerintah melalui pemerintah pusat kemudian melanjut ke pemerintah daerah termasuk ke kelurahan lalu di order ke susunan terkecil yakni RT. 

Malam tasyakuran pun sekarang ini menjadi barang wajib yang layaknya tak semestinya terjadi. 
Dulu, saya ingat sekali ketika setiap KK dimintai uang untuk acara tasyakuran. Ketika itu menu andalannya soto tauco. 
Tetangga saya yang biasa membuat konsumsi itu langsung menuju sasaran untuk segera meminta ia sendiri yang memasakannya. Namun apa yang terjadi, saat itu beberapa RT dikumpulkan menjadi satu di lapangan belakang masjid. 
Disitu yang rajin berkumpul adalah ibu-ibu dan bapak-bapaknya. Terlihat jelas cara menyusun sauto/ soto itu sangat tidak adil, seperti orang berjualan. Dan banyak yang komplen masalah rasa. Kemudian ada sebagian ibu-ibu yang mulai berbisik tak jelas dan mulai GHIBAH. 
Oh No... acara ini memang seperti acara mencari sesuatu yang tak jelas hasilnya. 
memperingati atau malah menyemarakan dengan makanan itu sendiri?
Saat itu saya tak mau menampakkan diri lagi, hanya ibu saya saja untuk menghindari gunjingan dan ibu-ibu yang suka usil dan sindir-menyindir.

Untuk acara besok menjelang malam tasyakuran sendiri saya dan keluarga tak peduli dan tak ikutan rapat. 
Jujur perlakuan Pemerintah yang selalu mewajibkan apalagi membuat sesuatu yang tak penting menjadi penting terasa kurang begitu bermanfaat. 
Memasang bendera wajib, menyanyikan lagu-lagu PKK wajib di arisan, Menyanyikan lagu kebangsaan sudah terdengar gosip akan diberlakukan ketika pergi mengurusi sesuatu di Kelurahan. Oh NO... duniaku Indonesiaku??? 

Acara ini penting atau mementingkan diri sendiri?
Tegurlah yang memang berbuat salah, 
Mana yang selalu membawa nama orang islam harus DAKWAH??
Mana acungkan tangan yang tak setuju!!!! jangan tinggi-tinggi. 

Aturan yang tak penting begitu di penting-pentingkan???
INDONESIA Masih di hatiku kok, gak bakalan lupa kecuali Amnesia.
Pembenaran lagu Indonesia Raya dibaca Endonesia raya saja masih banyak yang salah. 
Koreksi yang penting dulu. Pusatkan sebarkan yang terbaik, bukan yang mengatakan untuk terbaik. 

Indonesia Muslim terbesar, mari cerdaskan pikiran pemerintah. eh....


Keterangan ini masih berlaku harap baca: :P


Sesaat mengenang kejadian kehidupan yang saya alami di sebuah desa di sebuah komplek. Hidup di komplek yang ternyata masyarakatnya berbeda dengan komplek tetangganya yang satunya (acuh tak acuh). Kalau di komplek saya acuh kadang tak acuh. 

Usianya kira-kira saya hidup sudah mencapai 20 tahun lebih dan semenjak usia saya yang ke sekarang saya merasakan pikiran saya semakin dewasa untuk mengenal sebuah "ATURAN".

Prediksi saya kembali seperti tahun lalu, 2011. Saya kehilangan bendera merah putih saat ibu sedang mencari-cari bendera itu. Bendera yang telah lama dengan warna yang sudah memudar itu ku simpan entah dimana, karena terlalu banyak barang dan benda-benda yang mengerumuni lemari kamarku.

"Kenapa ibu nyari sampai segitunya? sudahlah tak usah pasang" jawabku dengan nada sedikit meninggi.
"sudahlah tak usah begitu, daripada kita kena tegur seperti tahun kemarin karena lupa. Ikuti saja aturan mainnya, yang penting kita tak menunduk serunduk-runduk dan serendah-redahnya" Ibuku ngotot.

Aku cuma berdesah kesah, menahan rasa kesal. 

Kebiasaan ini memang selalu dicanangkan oleh Pemerintah melalui pemerintah pusat kemudian melanjut ke pemerintah daerah termasuk ke kelurahan lalu di order ke susunan terkecil yakni RT. 

Malam tasyakuran pun sekarang ini menjadi barang wajib yang layaknya tak semestinya terjadi. 
Dulu, saya ingat sekali ketika setiap KK dimintai uang untuk acara tasyakuran. Ketika itu menu andalannya soto tauco. 
Tetangga saya yang biasa membuat konsumsi itu langsung menuju sasaran untuk segera meminta ia sendiri yang memasakannya. Namun apa yang terjadi, saat itu beberapa RT dikumpulkan menjadi satu di lapangan belakang masjid. 
Disitu yang rajin berkumpul adalah ibu-ibu dan bapak-bapaknya. Terlihat jelas cara menyusun sauto/ soto itu sangat tidak adil, seperti orang berjualan. Dan banyak yang komplen masalah rasa. Kemudian ada sebagian ibu-ibu yang mulai berbisik tak jelas dan mulai GHIBAH. 
Oh No... acara ini memang seperti acara mencari sesuatu yang tak jelas hasilnya. 
memperingati atau malah menyemarakan dengan makanan itu sendiri?
Saat itu saya tak mau menampakkan diri lagi, hanya ibu saya saja untuk menghindari gunjingan dan ibu-ibu yang suka usil dan sindir-menyindir.

Untuk acara besok menjelang malam tasyakuran sendiri saya dan keluarga tak peduli dan tak ikutan rapat. 
Jujur perlakuan Pemerintah yang selalu mewajibkan apalagi membuat sesuatu yang tak penting menjadi penting terasa kurang begitu bermanfaat. 
Memasang bendera wajib, menyanyikan lagu-lagu PKK wajib di arisan, Menyanyikan lagu kebangsaan sudah terdengar gosip akan diberlakukan ketika pergi mengurusi sesuatu di Kelurahan. Oh NO... duniaku Indonesiaku??? 

Acara ini penting atau mementingkan diri sendiri?
Tegurlah yang memang berbuat salah, 
Mana yang selalu membawa nama orang islam harus DAKWAH??
Mana acungkan tangan yang tak setuju!!!! jangan tinggi-tinggi. 

Aturan yang tak penting begitu di penting-pentingkan???
INDONESIA Masih di hatiku kok, gak bakalan lupa kecuali Amnesia.
Pembenaran lagu Indonesia Raya dibaca Endonesia raya saja masih banyak yang salah. 
Koreksi yang penting dulu. Pusatkan sebarkan yang terbaik, bukan yang mengatakan untuk terbaik. 

Indonesia Muslim terbesar, mari cerdaskan pikiran pemerintah. eh....

Derap Langkah mu


13th lalu, ada kebersamaan, ada pula perpisahan

Keajaiban itu datang dariNya, membawaku mengenal sejatinya dirimu,
Keikhlasan selalu tersambut hangat
Buliran keringat menyapu air matamu yang berbaur dengan derasnya hujan
Rasa cinta, kasih sayang kan terus berpendar dalam mengarungi bahtera ini
Ada senyuman terteduh ku lihat
Ragamu bagai baja, dan hatimu bagaikan karang.
Setiap jejak yang kau pijak
Setiap sudut mata memandang
Setiap kata yang kau tuturkan
Derap langkahmu tetap terpadu dalam lembaran yang mewarni baiti keluargaku



“ayah, aku rangking Satu… aku gak pernah minta apapun dari ayah. Aku ingin diberikan hadiah”
“ya, nanti kalau ayah punya rezeki”
“hem,… dari dulu aku ingin rangking satu sekarang saat kelas 3 aku sudah rangking 1 tapi tak dapat apa-apa” gerutuku.

Padahal senyuman diwajah ayah sekelebat di sudut penglihatanku begitu hangat kurasakan. Belum lagi, aku tak pernah melihat wajahnya yang benderang menatap nilai raportku. Hari itu, hari terakhir ia melihat rangking 1 yang tertulis jelas dalam raport bersampul merah. Saat itu ayah masih menjalani rawat jalan di rumah.

Kalau kau diam, ibu yang cerewet.
Kalau ibu yang diam, kau yang bertindak
Selalu ada serta – menyertai

Salah satu kenikmatan Allah atas seorang ialah dijadikan anaknya mirip dengan ayahnya (dalam kebaikan). (HR. Ath-Thahawi)
Walau wajah ayah tak mirip denganku, tapi ada kemiripan dalam mencintai buku bacaanmu. Namun satu kebaikanmu selalu terngiang dan mendarah daging dalam diriku, sepanjang hidup.

Aku menemani ibuku yang sudah lelah di kamar Bugenvil, tempat ayah di rawat di rumah sakit. Hari-hariku akhir-akhir ini hanya di habiskan untuk menunggu dan menunggu. Menunggu kesembuhanmu, menunggu mendengar suaramu yang selalu membuatku merinding ketika kau melantunkan ayat-ayat suciNya. Ku bersandar di dinding bercat putih, dimana dihadapanku bukan hanya satu pasien yang terbaring lemah, melainkan 3 orang pasien yang membuatku semakin terpuruk melihat keadaanmu.

Aku masih ingat ketika terakhir kau meminta ku untuk membuangkan air seni yang ada di botol plastik, karena tak bisa berjalan, tubuhmu lemah. Aku dengan lantang menolaknya karena aku sudah mengambil air wudlu, dan ku jijik memegangnya. Wajah ayahpun semakin memandangku dengan penuh kemarahan dan tangannya tak bisa menahan terlalu lama botol plastik yang berisikan air seni, dan terlepas dari genggamannya terpelanting ke bawah dan jatuh berceceran.

Dalam sekejap aku merasa sakit, ulu hati ku terasa tersayat-sayat, hampir saja ku menangis dihadapanmu atas rasa sesalku yang kulakukan padamu. Betapa kejamnya aku yang membiarkan kau menderita dan semakin menderita, tak ada yang bisa membantu, sedangkan ketika ibu sakit kau yang menjadi ibu rumah tangganya.

Ayah, saat ibu melahirkan adikku di rumah sakit. Kaulah orang yang menjadi Ibu. Kau bahu membahu seorang diri tanpa keluh dan kesal. Senyumanmu selalu terpancar indah seperti matahari bersinar dari timur dengan kehangat udara yang selalu ku rasa.

Kau dulu tak hadir lama saat aku ingin memelukmu. Kau berjauhan dari kami karena pekerjaanmu yang sudah menjadi kewajiban untuk menafkahi kami.
Tapi tanpa terasa, kau justru jarang terlihat mondar mandir ke kota dan ke desa.
Kini kau selamanya menjadi ayah yang terbaring dan tergolek lemas tanpa tangan malaikat-malaikat kecilmu ini bisa menjamah sosokmu lebih jauh.
Kejadian itu membuatku semakin terpuruk.

Apalagi matamu yang masih terbuka lebar masih sanggup melihat tapi tak sanggup berbicara sepatah kata pun. Saat yang mendebarkan itu pun datang juga, kau menggerakkan tanganmu ketika ibu mengelap wajahmu yang berpeluh keringat. Kau mengatakan sesuatu yang tak bisa ibu pahami, telinga ibu sudah sangat mendekat dibibirmu.

“Yaaa…..sin……..”
Suaranya membuat bulu roma ku berdiri, aku hampir saja menitihkan air mata ke wajahnya.

Nenek yang sudah tidur pulas di bawah dengan tikar seadanya membuat Ibu enggan membangunkannya. Malam sudah menujukkan pukul 2, Nenek yang akhirnya terbangun segera melantunkan surat yasin.
Tiba-tiba sebelum nenek mengucapkan satu ayat, ayah sudah mendahuluinya. Dengan suara lancar tanpa gagap sedikitpun dia melantunkan surat yasin tanpa melihat bacaannya secara langsung. Ya, ayah memang suka menghafal ayat-ayatnya dengan baik.

Sebelumnya ayah pernah bercerita kepadaku tepat 3 bulan yang lalu, ia bersenda gurau denganku sambil memegangi koreng yang terkelupas di kakinya setelah kecelakaan 4 bulan yang lalu.

“ayo bawa lari, cepat nanti bunyi deh korengnya”

Aku pun menurutinya ku berlari kencang, baru setengah meter ayah berteriak sambil tertawa.

“ada maling bawa daging….ada maling bawa daging……”

Aku segera menghentikan lariku yang hampir mendekati pintu ruang tamu. Ku buang jauh-jauh koreng itu. Dan aku tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perut, aku ingin marah tapi ada tawa dalam wajah ayahku yang tak pernah ku lihat sebelumnya, dia tertawa diatas penderitaannya. Ia menikmati sakitnya yang sudah terlalu lama. Dan kemudian dia mengatakan hal yang membuatku tak bisa tidur semalaman bahkan teringat sampai detik ini.

“kelak jika ayah meninggal, ayah ingin di makamkan di tempat ayah dilahirkan, kuburan milik kakekmu” kata Ayah sambil minum obat.

Ku tatap matanya yang sendu, ku tahu kau sudah patah kaki tapi kau masih saja ingin menjadi imam di masjid.
Kau tak peduli hinaan yang akan menancap bak busur panah itu mengenai dirimu. Dengan posisi duduk dan kau senderkan kedua tongkat kayumu itu di dinding dekat kau sholat. Suara itu masih jelas di ingatanku, ketika kau yang mengimami sholat berjamaah.

Dan malamnya hingga sekarang ia masih terbaring di rumah sakit. Kata-kata itu akan ku pegang dan ku ingat, ku akan berjanji dan memenuhi keinginanmu itu. Tepat jam 2 malam lagi, kau memintaku untuk membaca surat yang lain yaitu Al-waqiah. Kau pun menghafalnya tanpa melihat huruf arab yang sering ku baca. Saat itu saat yang menegangkan kau menghentikan nafas terakhirmu, ketika ibu memegangi tanganmu dengan erat.
“aku siap ya Alloh.. aku siap… aku siap menghadapMu”
ayah terus saja berkomat- kamit tak jelas, pandangannya pun tak terarah menatap apa dan siapa.
Suatu keajaiban lagi bagiku, dia bisa berbicara dengan suara yang jelas dan tak terputus-putus. Walaupun pada akhirnya surat penutupmu al – ikhlas, kalimat penutup terindahmu adalah tahlil “la illa ha illalah”.

Tanpa beban semua terasa sekejap ku rasa. Binar-binar kebahagiaan yang tak lama ku rasa hanya sembilan tahun saja. Begitu juga dengan si kecil yang tak mendapatkan sosok sejatimu saat usia 2 tahun itu belum bisa mengenali siapa sosokmu sesungguhnya.

Tetesan air matamu yang tersembunyi, kini meluap dari hati keturunanmu. Kini menyadari betapa pentingnya seorang pemimpin dalam rumah tangga.
Tapi tanpamu,…. ibu yang akan menjadi ayah
Kakak yang akan menjadi ayah
Dan kita disiplin seperti ayah..
Mengenal ayah bukan cerita fiktif yang ku lupakan
Mencintai ayah adalah anugerah terindah yang wajib ku syukuri.

Wahai pemimpin rumah tangga,
Wahai imam yang baik di mataku,
Ayah,
aku masih beruntung tak seperti Baginda Nabi Muhammad SAW, yang masih di dalam kandungan sudah menjadi yatim.
Ayah,

aku masih beruntung tak seperti Nabi Isa as, yang memiliki ibu tapi tak memiliki ayah.

Ayah,
aku masih beruntung bisa memelukmu, mencium pipimu, merasakan kehangatan uluran tanganmu…
Tak seperti mereka yang dibuang di tempat sampah atau di titipkan di panti asuhan padahal mereka memiliki ayah yang utuh.
Ayah,
sejuta harapan masih terpendam dalam ingatanku, walau kau tak ada di bumi ini. Walau ku tak sempat membalas jasa besarmu mengarungi samudra, mengais rezeki dengan jalan berliku.
Namun kekuatan punggungmu mampu menjadikan semangat jihad bagiku.


Do’ku harapanku

Tak lagi akan ku lupakan satu do’a anak sholeh dan sholehah terhadap bapak ibunya.
Dan harapanku kelak, aku ingin bertemu di surgaNYA. Aamin.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway The Fairy and Me yang diselenggarakan oleh Nurmayanti Zain".





13th lalu, ada kebersamaan, ada pula perpisahan

Keajaiban itu datang dariNya, membawaku mengenal sejatinya dirimu,
Keikhlasan selalu tersambut hangat
Buliran keringat menyapu air matamu yang berbaur dengan derasnya hujan
Rasa cinta, kasih sayang kan terus berpendar dalam mengarungi bahtera ini
Ada senyuman terteduh ku lihat
Ragamu bagai baja, dan hatimu bagaikan karang.
Setiap jejak yang kau pijak
Setiap sudut mata memandang
Setiap kata yang kau tuturkan
Derap langkahmu tetap terpadu dalam lembaran yang mewarni baiti keluargaku



“ayah, aku rangking Satu… aku gak pernah minta apapun dari ayah. Aku ingin diberikan hadiah”
“ya, nanti kalau ayah punya rezeki”
“hem,… dari dulu aku ingin rangking satu sekarang saat kelas 3 aku sudah rangking 1 tapi tak dapat apa-apa” gerutuku.

Padahal senyuman diwajah ayah sekelebat di sudut penglihatanku begitu hangat kurasakan. Belum lagi, aku tak pernah melihat wajahnya yang benderang menatap nilai raportku. Hari itu, hari terakhir ia melihat rangking 1 yang tertulis jelas dalam raport bersampul merah. Saat itu ayah masih menjalani rawat jalan di rumah.

Kalau kau diam, ibu yang cerewet.
Kalau ibu yang diam, kau yang bertindak
Selalu ada serta – menyertai

Salah satu kenikmatan Allah atas seorang ialah dijadikan anaknya mirip dengan ayahnya (dalam kebaikan). (HR. Ath-Thahawi)
Walau wajah ayah tak mirip denganku, tapi ada kemiripan dalam mencintai buku bacaanmu. Namun satu kebaikanmu selalu terngiang dan mendarah daging dalam diriku, sepanjang hidup.

Aku menemani ibuku yang sudah lelah di kamar Bugenvil, tempat ayah di rawat di rumah sakit. Hari-hariku akhir-akhir ini hanya di habiskan untuk menunggu dan menunggu. Menunggu kesembuhanmu, menunggu mendengar suaramu yang selalu membuatku merinding ketika kau melantunkan ayat-ayat suciNya. Ku bersandar di dinding bercat putih, dimana dihadapanku bukan hanya satu pasien yang terbaring lemah, melainkan 3 orang pasien yang membuatku semakin terpuruk melihat keadaanmu.

Aku masih ingat ketika terakhir kau meminta ku untuk membuangkan air seni yang ada di botol plastik, karena tak bisa berjalan, tubuhmu lemah. Aku dengan lantang menolaknya karena aku sudah mengambil air wudlu, dan ku jijik memegangnya. Wajah ayahpun semakin memandangku dengan penuh kemarahan dan tangannya tak bisa menahan terlalu lama botol plastik yang berisikan air seni, dan terlepas dari genggamannya terpelanting ke bawah dan jatuh berceceran.

Dalam sekejap aku merasa sakit, ulu hati ku terasa tersayat-sayat, hampir saja ku menangis dihadapanmu atas rasa sesalku yang kulakukan padamu. Betapa kejamnya aku yang membiarkan kau menderita dan semakin menderita, tak ada yang bisa membantu, sedangkan ketika ibu sakit kau yang menjadi ibu rumah tangganya.

Ayah, saat ibu melahirkan adikku di rumah sakit. Kaulah orang yang menjadi Ibu. Kau bahu membahu seorang diri tanpa keluh dan kesal. Senyumanmu selalu terpancar indah seperti matahari bersinar dari timur dengan kehangat udara yang selalu ku rasa.

Kau dulu tak hadir lama saat aku ingin memelukmu. Kau berjauhan dari kami karena pekerjaanmu yang sudah menjadi kewajiban untuk menafkahi kami.
Tapi tanpa terasa, kau justru jarang terlihat mondar mandir ke kota dan ke desa.
Kini kau selamanya menjadi ayah yang terbaring dan tergolek lemas tanpa tangan malaikat-malaikat kecilmu ini bisa menjamah sosokmu lebih jauh.
Kejadian itu membuatku semakin terpuruk.

Apalagi matamu yang masih terbuka lebar masih sanggup melihat tapi tak sanggup berbicara sepatah kata pun. Saat yang mendebarkan itu pun datang juga, kau menggerakkan tanganmu ketika ibu mengelap wajahmu yang berpeluh keringat. Kau mengatakan sesuatu yang tak bisa ibu pahami, telinga ibu sudah sangat mendekat dibibirmu.

“Yaaa…..sin……..”
Suaranya membuat bulu roma ku berdiri, aku hampir saja menitihkan air mata ke wajahnya.

Nenek yang sudah tidur pulas di bawah dengan tikar seadanya membuat Ibu enggan membangunkannya. Malam sudah menujukkan pukul 2, Nenek yang akhirnya terbangun segera melantunkan surat yasin.
Tiba-tiba sebelum nenek mengucapkan satu ayat, ayah sudah mendahuluinya. Dengan suara lancar tanpa gagap sedikitpun dia melantunkan surat yasin tanpa melihat bacaannya secara langsung. Ya, ayah memang suka menghafal ayat-ayatnya dengan baik.

Sebelumnya ayah pernah bercerita kepadaku tepat 3 bulan yang lalu, ia bersenda gurau denganku sambil memegangi koreng yang terkelupas di kakinya setelah kecelakaan 4 bulan yang lalu.

“ayo bawa lari, cepat nanti bunyi deh korengnya”

Aku pun menurutinya ku berlari kencang, baru setengah meter ayah berteriak sambil tertawa.

“ada maling bawa daging….ada maling bawa daging……”

Aku segera menghentikan lariku yang hampir mendekati pintu ruang tamu. Ku buang jauh-jauh koreng itu. Dan aku tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perut, aku ingin marah tapi ada tawa dalam wajah ayahku yang tak pernah ku lihat sebelumnya, dia tertawa diatas penderitaannya. Ia menikmati sakitnya yang sudah terlalu lama. Dan kemudian dia mengatakan hal yang membuatku tak bisa tidur semalaman bahkan teringat sampai detik ini.

“kelak jika ayah meninggal, ayah ingin di makamkan di tempat ayah dilahirkan, kuburan milik kakekmu” kata Ayah sambil minum obat.

Ku tatap matanya yang sendu, ku tahu kau sudah patah kaki tapi kau masih saja ingin menjadi imam di masjid.
Kau tak peduli hinaan yang akan menancap bak busur panah itu mengenai dirimu. Dengan posisi duduk dan kau senderkan kedua tongkat kayumu itu di dinding dekat kau sholat. Suara itu masih jelas di ingatanku, ketika kau yang mengimami sholat berjamaah.

Dan malamnya hingga sekarang ia masih terbaring di rumah sakit. Kata-kata itu akan ku pegang dan ku ingat, ku akan berjanji dan memenuhi keinginanmu itu. Tepat jam 2 malam lagi, kau memintaku untuk membaca surat yang lain yaitu Al-waqiah. Kau pun menghafalnya tanpa melihat huruf arab yang sering ku baca. Saat itu saat yang menegangkan kau menghentikan nafas terakhirmu, ketika ibu memegangi tanganmu dengan erat.
“aku siap ya Alloh.. aku siap… aku siap menghadapMu”
ayah terus saja berkomat- kamit tak jelas, pandangannya pun tak terarah menatap apa dan siapa.
Suatu keajaiban lagi bagiku, dia bisa berbicara dengan suara yang jelas dan tak terputus-putus. Walaupun pada akhirnya surat penutupmu al – ikhlas, kalimat penutup terindahmu adalah tahlil “la illa ha illalah”.

Tanpa beban semua terasa sekejap ku rasa. Binar-binar kebahagiaan yang tak lama ku rasa hanya sembilan tahun saja. Begitu juga dengan si kecil yang tak mendapatkan sosok sejatimu saat usia 2 tahun itu belum bisa mengenali siapa sosokmu sesungguhnya.

Tetesan air matamu yang tersembunyi, kini meluap dari hati keturunanmu. Kini menyadari betapa pentingnya seorang pemimpin dalam rumah tangga.
Tapi tanpamu,…. ibu yang akan menjadi ayah
Kakak yang akan menjadi ayah
Dan kita disiplin seperti ayah..
Mengenal ayah bukan cerita fiktif yang ku lupakan
Mencintai ayah adalah anugerah terindah yang wajib ku syukuri.

Wahai pemimpin rumah tangga,
Wahai imam yang baik di mataku,
Ayah,
aku masih beruntung tak seperti Baginda Nabi Muhammad SAW, yang masih di dalam kandungan sudah menjadi yatim.
Ayah,

aku masih beruntung tak seperti Nabi Isa as, yang memiliki ibu tapi tak memiliki ayah.

Ayah,
aku masih beruntung bisa memelukmu, mencium pipimu, merasakan kehangatan uluran tanganmu…
Tak seperti mereka yang dibuang di tempat sampah atau di titipkan di panti asuhan padahal mereka memiliki ayah yang utuh.
Ayah,
sejuta harapan masih terpendam dalam ingatanku, walau kau tak ada di bumi ini. Walau ku tak sempat membalas jasa besarmu mengarungi samudra, mengais rezeki dengan jalan berliku.
Namun kekuatan punggungmu mampu menjadikan semangat jihad bagiku.


Do’ku harapanku

Tak lagi akan ku lupakan satu do’a anak sholeh dan sholehah terhadap bapak ibunya.
Dan harapanku kelak, aku ingin bertemu di surgaNYA. Aamin.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway The Fairy and Me yang diselenggarakan oleh Nurmayanti Zain".




Internet untuk jihad


Tubuhku yang mungil bertahanlah sebentar, kehidupanmu tak akan lama. Tak ada yang kekal, tak ada yang bisa membuatmu merasa bahagia melebihi impianmu.

Tubuhku yang kian menguning bukan mengitam karena dilindungi kain tebal yang mengharuskanmu.
Maka haruskanlah kau membiasakan hatimu tak mengumbar tentang keburukanmu.
Dunia mayamu sudah menjadi suatu pekerjaan yang tak bisa lepas dari jari -jemarimu.
Karena Jihad bukan sekedar di dunia nyata, namun di dunia maya.

Masih ingatkah kau ketika kau membaca artikel tentang Seorang mualaf warga asing yang langsung memanjangkan jilbabnya tanpa banyak tanya. Karena ia sudah yakin terhadap Islam.


Al Baqarah : 218 Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.







Tubuhku yang mungil bertahanlah sebentar, kehidupanmu tak akan lama. Tak ada yang kekal, tak ada yang bisa membuatmu merasa bahagia melebihi impianmu.

Tubuhku yang kian menguning bukan mengitam karena dilindungi kain tebal yang mengharuskanmu.
Maka haruskanlah kau membiasakan hatimu tak mengumbar tentang keburukanmu.
Dunia mayamu sudah menjadi suatu pekerjaan yang tak bisa lepas dari jari -jemarimu.
Karena Jihad bukan sekedar di dunia nyata, namun di dunia maya.

Masih ingatkah kau ketika kau membaca artikel tentang Seorang mualaf warga asing yang langsung memanjangkan jilbabnya tanpa banyak tanya. Karena ia sudah yakin terhadap Islam.


Al Baqarah : 218 Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.






Takjub melihat pesawat



Teringat masa kecilku
Ku lebay atau kampungan??
Pesawatku pesawatku terbang ke awan ….
Semasa kecil ku punya cerita yang unik atau ndeso? Hehehe gak tahulah yang pasti ini cerita indah yang patut ku bagikan kepada yang membaca.

Saat aku kecil, yah kira-kira Tk, aku masih ingat cerita tentang pesawat yang selalu terbang melintasi atap rumahku.
Saat itu terdengar suara pesawat yang besar… yah tahu sendiri lah suara pesawat kayak apa kalo lagi terbang.
Saking pensarannya aku keluar rumah melihat dari bawah. Dengan rasa kagum yang begitu takjub.
“Wah pesawat…. Dan anehnya entah kenapa bukan Cuma aku saja, melainkan tetanggaku atau teman kecilku semua ikut-ikutan teriak memanggil pesawat-pesawat.
Dan paling konyol alias lugunya anak kecil.
“Pesawat , Presiden njaluk duite sing akeh !!!” yang artinya (Pesawat minta uangnya yang banyak )
Sambil melambai-lambaikan tangan.

Tak sampai itu saja, setiap ada suara pesawat yang terdengar melintasi kota Tegal, aku langsung keluar untuk melihatnya, entah itu sedang sibuk mengerjakan sesuatu pasti berlari terbirit-birit karena penasarannya aku, aku berlari – lari menaiki anak tangga di rumahku untuk melihat lebih dekat dari atap genteng rumahku.

Lagi dan lagi selalu bahagia, serasa beban menjadi hilang. Mungkin waktu aku kecil pesawat adalah kendaraan yang Ruar biasa, dan yang menaiki pesawat pasti Presiden, jadi aku selalu mengatakan presiden njaluk duite, sekarung sehahahahaha…. Hehhehhee
Anak kecil yang aneh selalu dan selalu tertawa jika ku mengingatnya.
Jadi malu ingat masa lalu kampungan banget. Sampai sekrang masih melekat di hati.




catatan cahaya_amie masa kecil.


Teringat masa kecilku
Ku lebay atau kampungan??
Pesawatku pesawatku terbang ke awan ….
Semasa kecil ku punya cerita yang unik atau ndeso? Hehehe gak tahulah yang pasti ini cerita indah yang patut ku bagikan kepada yang membaca.

Saat aku kecil, yah kira-kira Tk, aku masih ingat cerita tentang pesawat yang selalu terbang melintasi atap rumahku.
Saat itu terdengar suara pesawat yang besar… yah tahu sendiri lah suara pesawat kayak apa kalo lagi terbang.
Saking pensarannya aku keluar rumah melihat dari bawah. Dengan rasa kagum yang begitu takjub.
“Wah pesawat…. Dan anehnya entah kenapa bukan Cuma aku saja, melainkan tetanggaku atau teman kecilku semua ikut-ikutan teriak memanggil pesawat-pesawat.
Dan paling konyol alias lugunya anak kecil.
“Pesawat , Presiden njaluk duite sing akeh !!!” yang artinya (Pesawat minta uangnya yang banyak )
Sambil melambai-lambaikan tangan.

Tak sampai itu saja, setiap ada suara pesawat yang terdengar melintasi kota Tegal, aku langsung keluar untuk melihatnya, entah itu sedang sibuk mengerjakan sesuatu pasti berlari terbirit-birit karena penasarannya aku, aku berlari – lari menaiki anak tangga di rumahku untuk melihat lebih dekat dari atap genteng rumahku.

Lagi dan lagi selalu bahagia, serasa beban menjadi hilang. Mungkin waktu aku kecil pesawat adalah kendaraan yang Ruar biasa, dan yang menaiki pesawat pasti Presiden, jadi aku selalu mengatakan presiden njaluk duite, sekarung sehahahahaha…. Hehhehhee
Anak kecil yang aneh selalu dan selalu tertawa jika ku mengingatnya.
Jadi malu ingat masa lalu kampungan banget. Sampai sekrang masih melekat di hati.




catatan cahaya_amie masa kecil.

Hilang

Yups... maaf buat teman-teman yang sudah bosen melihat postinganku yang kurang menarik dan males bacanya hehhee.. aku lagi banyak pikiran nieh (hemm kayak orang tua aje!) mikirin apa sih? sampe-sampe hidup jadi gak bernuansa indah. Satu titik hitam yang ingin ku enyahkan. keadaan yang kuharapkan tak sebanding dengan apa yang ku inginkan. (upz aku gak mau ngeluh) tiba-tiba saja suasana lingkungan membuatku bisu saat ini. banyak salah tingkah dan serba gugup. aku menyadari semakin diriku mendekatkan diri kepadaNYA. Semakin banyak lingkungan yang menganggapku aneh.... ....
aku selalu berusaha tegar dan tegar dan tak peduli siapapun.
aku hidup karena ALLAH matipun karena AlLAH... seburuk apapun mereka kepadaku. tak akan ku rasakan dan ku pikirkan dan ku takuti. Memang benar hidup itu bersosialisasi dan mementingkan individu lain. tapi bukan individu yang menghina, yang memusuhi. lebih baik mencari kawan dari pada lawan tapi jujur saja aku tak rugi jika banyak yang seperti itu, tokh saudaraku muslimin dia pada posisi yang sangat menghargai aku.
saudaraku ukhti semua aku beruntung dipertemukan denganmu, yang baik hati yang mengerti tak perlu ke Psikolog atau dokter kau sudah menangani itu semua,
Subahanallah.... tak perlu ku pikirkan lagi siapa-siapa di sekitarku. ku sudahi saja rasa marah, benciku yang timbul.
maaf kawan ini sekedar diary tak bermanfaat, lagi belajar menjadi ikhlas walau sulit bukan main. sambil menyelam minum air .... jangan sedih ami senyumanmu ibadah tak tertolak walau ada yang menolaknya... keep smile *_*

ada award dari sun's

dan akhirnya ku berikan kepada : Saa
aku ingin membuat dia semngad menampilkan sebuah postingan yang membuatku lebh takut lagi terhadap siksa akhirat.
ada postingan yang sangat menyentuhku....


Nah award ini juga ada syaratnya lhoo,,,,,

Syaratnya:
  • Memberikan award ini ke teman blogger lainnya, minimal satu orang sebagai bentuk jalinan persahabatan antar sesama blogger.
  • Menulis minimal satu kalimat motivasi atau kalimat penyemangat atau nassihat yang memacu pikiran positif untuk kita semua.
Motivasi tuk terus kedepan:
" tetaplah seperti padi makin berisi makin merunduk
"dan tetap semngat ngEBLog, keluarkan kreativitasmu dan selalu memberikan yang terbaik.


puisi ini udah pernah di posting


di sini

dan yang pasti minta maaf kalo jelek banget. aku sekedar iseng.
sambil menuangkan emosi pikiran ini hehehhehe


Hilang

guruh menyambar
petir menggetarkan jantungku
seakan badai akan menerjangku
ku coba meredamkan hatiku


terselipkan kepahitan
yang memilukan hati
seakan
teriris perangmu
meremukan batinku


ternoda tapi tak membekas
hancur tapi bersih
kau sirnakan semua
lenyap enyah namun pasti

jauh ..................
nun jauh
terdesir dalam kata
terhanyut dalam suasana
rintihanku seakan mati
seketika kau pun menghilang



Yups... maaf buat teman-teman yang sudah bosen melihat postinganku yang kurang menarik dan males bacanya hehhee.. aku lagi banyak pikiran nieh (hemm kayak orang tua aje!) mikirin apa sih? sampe-sampe hidup jadi gak bernuansa indah. Satu titik hitam yang ingin ku enyahkan. keadaan yang kuharapkan tak sebanding dengan apa yang ku inginkan. (upz aku gak mau ngeluh) tiba-tiba saja suasana lingkungan membuatku bisu saat ini. banyak salah tingkah dan serba gugup. aku menyadari semakin diriku mendekatkan diri kepadaNYA. Semakin banyak lingkungan yang menganggapku aneh.... ....
aku selalu berusaha tegar dan tegar dan tak peduli siapapun.
aku hidup karena ALLAH matipun karena AlLAH... seburuk apapun mereka kepadaku. tak akan ku rasakan dan ku pikirkan dan ku takuti. Memang benar hidup itu bersosialisasi dan mementingkan individu lain. tapi bukan individu yang menghina, yang memusuhi. lebih baik mencari kawan dari pada lawan tapi jujur saja aku tak rugi jika banyak yang seperti itu, tokh saudaraku muslimin dia pada posisi yang sangat menghargai aku.
saudaraku ukhti semua aku beruntung dipertemukan denganmu, yang baik hati yang mengerti tak perlu ke Psikolog atau dokter kau sudah menangani itu semua,
Subahanallah.... tak perlu ku pikirkan lagi siapa-siapa di sekitarku. ku sudahi saja rasa marah, benciku yang timbul.
maaf kawan ini sekedar diary tak bermanfaat, lagi belajar menjadi ikhlas walau sulit bukan main. sambil menyelam minum air .... jangan sedih ami senyumanmu ibadah tak tertolak walau ada yang menolaknya... keep smile *_*

ada award dari sun's

dan akhirnya ku berikan kepada : Saa
aku ingin membuat dia semngad menampilkan sebuah postingan yang membuatku lebh takut lagi terhadap siksa akhirat.
ada postingan yang sangat menyentuhku....


Nah award ini juga ada syaratnya lhoo,,,,,

Syaratnya:
  • Memberikan award ini ke teman blogger lainnya, minimal satu orang sebagai bentuk jalinan persahabatan antar sesama blogger.
  • Menulis minimal satu kalimat motivasi atau kalimat penyemangat atau nassihat yang memacu pikiran positif untuk kita semua.
Motivasi tuk terus kedepan:
" tetaplah seperti padi makin berisi makin merunduk
"dan tetap semngat ngEBLog, keluarkan kreativitasmu dan selalu memberikan yang terbaik.


puisi ini udah pernah di posting


di sini

dan yang pasti minta maaf kalo jelek banget. aku sekedar iseng.
sambil menuangkan emosi pikiran ini hehehhehe


Hilang

guruh menyambar
petir menggetarkan jantungku
seakan badai akan menerjangku
ku coba meredamkan hatiku


terselipkan kepahitan
yang memilukan hati
seakan
teriris perangmu
meremukan batinku


ternoda tapi tak membekas
hancur tapi bersih
kau sirnakan semua
lenyap enyah namun pasti

jauh ..................
nun jauh
terdesir dalam kata
terhanyut dalam suasana
rintihanku seakan mati
seketika kau pun menghilang



 
Catatan Annurshah Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template