Antara Mir'ah dan Mar'ah




Beda tipis hanya “i’ dan “a”nya saja. 
Tapi hati-hati membacanya, artinya beda jauh. 
Yang satu Mir’ah artinya cermin dan “Mar’ah” artinya wanita atau perempuan. Akan tetapi perbedaan arti ini justru unik dan tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya antara mir’ah dan mar’ah. 

Di mana ada mar’ah in shaa Allah di situ harus ada mir’ah,.. kok bisa?? Ya… mar’ah dan mir’ah sangat terikat sekali. Tanpa mir’ah si “mar’ah” ini ga akan PEDE (percaya diri) keluar rumah atau bergaul dengan manusia. 

Saking terikatnya dengan ‘mir’ah si Mar’ah ini bisa berjam-jam memandangi mir’ah untuk mendapatkan kepercayaan dirinya atau mempercantik dirinya sehingga setelah yakin dengan lamanya ia memandangi si’mir’ah’ barulah si mar’ah ini berani keluar menemui manusia. Ironisnya… ya ironis sekali… jika Mar’ah kuat memandangi mir’ah berlama-lama atau berjam-jam lamanya.. tidak demikian ketika berhadapan dengan Sang pencipta hanya sesaat saja… kalau bisa sesingkat-singkatnya. 

Padahal justru kepadaNyalah mar’ah harus berlama-lama menghadapNya agar ia mendapatkan keindahan ruhani yang sangat mempengaruhi keindahan jasmaninya. Berapa banyak kita lihat wanita (mar’ah) biasa yang wajahnya biasa sekali tetapi karena di poles dengan kecantikan ruhani hasilnya justru ia lebih memikat hati kita daripada wanita yang sibuk mempercantik jasmaninya di depan cermin. Karena ruhaninya kosong tidak dipoles dengan adab dan akhlak islami. 

Wahai, mar atus shalihah (wanita shalihah) marilah kita sekarang berlama-lama menghadap Rabbal ‘Alamiin… agar Allah berkenan memberi kita kecantikan ruhani, kecantikan yang akan kita bawa mati… bekal kita menuju surga abadi… wallahu ‘alam bish-shawwab. 

Copyright by:Ummu Raihanah, Sydney Telah dibaca oleh Ustadzah Arfah di Mekkah **menghadap Rabbal ‘Alamiin: maksudnya adalah ketika shalat, shalatlah kita dengan lama dan khusyu’ dengan kehadiran hati dan merenungi Kebesaran Ilahi yang telah mengaruniai kita kenikmatan yang berlimpah pada diri kita yang lemah dan bodoh ini karena dari shalat yang lama dan khusyu’ efeknya luar biasa,.. mempengaruhi aktifitas kita sehari-hari.Banyak pertolongan Allah akan muncul di saat mendesak tanpa kita sadari.

 **
Baca postingan itu saya sebagai seorang muslimah merasa.... sadar diri. Untuk apa ya saya tak memperlama waktu ibadah saya. Waktu yang luar biasa tercipta untuk manusia agar bisa bercinta dengan Allah SWT dan merasakan adanya getaran cinta yang berbunga-bunga. 

Keep Istiqomah menjaga ahlak saya sebagai Mar'ah. 
Sebarkan copas juga boleh demi kebaikan :)

Sumber : Jilbab Online



Beda tipis hanya “i’ dan “a”nya saja. 
Tapi hati-hati membacanya, artinya beda jauh. 
Yang satu Mir’ah artinya cermin dan “Mar’ah” artinya wanita atau perempuan. Akan tetapi perbedaan arti ini justru unik dan tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya antara mir’ah dan mar’ah. 

Di mana ada mar’ah in shaa Allah di situ harus ada mir’ah,.. kok bisa?? Ya… mar’ah dan mir’ah sangat terikat sekali. Tanpa mir’ah si “mar’ah” ini ga akan PEDE (percaya diri) keluar rumah atau bergaul dengan manusia. 

Saking terikatnya dengan ‘mir’ah si Mar’ah ini bisa berjam-jam memandangi mir’ah untuk mendapatkan kepercayaan dirinya atau mempercantik dirinya sehingga setelah yakin dengan lamanya ia memandangi si’mir’ah’ barulah si mar’ah ini berani keluar menemui manusia. Ironisnya… ya ironis sekali… jika Mar’ah kuat memandangi mir’ah berlama-lama atau berjam-jam lamanya.. tidak demikian ketika berhadapan dengan Sang pencipta hanya sesaat saja… kalau bisa sesingkat-singkatnya. 

Padahal justru kepadaNyalah mar’ah harus berlama-lama menghadapNya agar ia mendapatkan keindahan ruhani yang sangat mempengaruhi keindahan jasmaninya. Berapa banyak kita lihat wanita (mar’ah) biasa yang wajahnya biasa sekali tetapi karena di poles dengan kecantikan ruhani hasilnya justru ia lebih memikat hati kita daripada wanita yang sibuk mempercantik jasmaninya di depan cermin. Karena ruhaninya kosong tidak dipoles dengan adab dan akhlak islami. 

Wahai, mar atus shalihah (wanita shalihah) marilah kita sekarang berlama-lama menghadap Rabbal ‘Alamiin… agar Allah berkenan memberi kita kecantikan ruhani, kecantikan yang akan kita bawa mati… bekal kita menuju surga abadi… wallahu ‘alam bish-shawwab. 

Copyright by:Ummu Raihanah, Sydney Telah dibaca oleh Ustadzah Arfah di Mekkah **menghadap Rabbal ‘Alamiin: maksudnya adalah ketika shalat, shalatlah kita dengan lama dan khusyu’ dengan kehadiran hati dan merenungi Kebesaran Ilahi yang telah mengaruniai kita kenikmatan yang berlimpah pada diri kita yang lemah dan bodoh ini karena dari shalat yang lama dan khusyu’ efeknya luar biasa,.. mempengaruhi aktifitas kita sehari-hari.Banyak pertolongan Allah akan muncul di saat mendesak tanpa kita sadari.

 **
Baca postingan itu saya sebagai seorang muslimah merasa.... sadar diri. Untuk apa ya saya tak memperlama waktu ibadah saya. Waktu yang luar biasa tercipta untuk manusia agar bisa bercinta dengan Allah SWT dan merasakan adanya getaran cinta yang berbunga-bunga. 

Keep Istiqomah menjaga ahlak saya sebagai Mar'ah. 
Sebarkan copas juga boleh demi kebaikan :)

Sumber : Jilbab Online

Mengubah Bentuk Ciptaan-Nya



Tadi pagi saya berleha-leha duduk santai. Biasanya banyak kerjaan. Entah menyapu atau mencuci baju. Tapi berhubung rumah sedang mau direhab saya merasa lebih baik menonton TV, siapa tahu ada tanyangan islami. 

Eh beneran ada di MNC. Hmm tak kuduga pembahasan mengerecut pada soal wanita. Lagi-lagi pembahasan yang tak kunjung usai. Nah, kali ini kulihat kok beda ya? Maaf tak mengikuti dari awal dan salurannya sangat buram dihinggapi semut-semut berisik hehehe..
Para dai akhwat kok pada diam, alias kalah sama si dari ikhwan. 

Tapi ditelisik lagi … saya nonton udah mau habis. Pembahasan tentang mengubah ciptaan manusia. Sesama dai nggak kompak rupanya… kalau dipikir-pikir kelihatannya ada yang gak sependapat. Lho? Mereka bukan ulama besar tapi yang pasti kesimpulannya diakhir tayangan emang udah fix. Kalau para dai dan daiyah udah nggak bisa sepaham dan sependapat atau kurang sedikit tidak sreg, bahasanya apa sih. Bingung, pasti jangan dibuat susah. Saya melihatnya mereka kok kayak berdebat ya? 
Padahal udah jelas hadistnya kalau saya percaya mengubah bentuk apapun untuk mempercantik dan menarik perhatian orang lain itu sama sajanya haram. 
Kecuali aib memang harus dihilangkan, kecelakaan dan lain-lain. Fix gampang kok. Iya gak? Mereka malah adu argument nyebutin hadist ini hadist itu, ayat ini ayat itu. 
Ada yang bilang gak masalah… wow kalau untuk mempercantik tidak apa ada yang kudengar. Semoga aku salah dengar sih. 


Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,
 “Allah melaknat tukang tato, orang yang ditato, al-mutanamishah, dan orang yang merenggangkan gigi, untuk kecantikan, yang mengubah ciptaan Allah.” (HR. Bukhari 4886, Muslim 2125, dan lainnya).

Makna Al-Mutanamishah

Al-Mutanamishah adalah para wanita yang minta dicukur bulu di wajahnya. Sedangkan wanita yang menjadi tukang cukurnya namanya An-Namishah. (Syarh Muslim An-Nawawi, 14/106).


An-Nawawi juga menegaskan, bahwa larangan dalam hadis ini tertuju untuk bulu alis,
 “Larangan tersebut adalah untuk alis dan ujung-ujung wajah..” (Sharh Shahih Muslim, 14/106).
Ibnul Atsir mengatakan,

 “An-Namsh adalah menipiskan bulu alis untuk tujuan kecantikan…”
Ibnul Allan mengatakan dalam Syarh Riyadhus Shalihin,

 “An-Namishah adalah wanita yang mencukur bulu alis wanita lain atau menipiskannya agar kelihatan lebih cantik. Sedangkan Al-Mutanamishah adalah wanita yang menyuruh orang lain untuk mencukur bulu alisnya.” (Dalil al-Falihin, 8:482).
"Allah melaknat wanita-wanita yang mencabut bulu, Allah melaknat orang yang menyambung rambut, dan yang minta disambung rambutnya"

Disebutkan dalam As-Shahih bahwa ada seorang wanita datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan mengatakan bahwa anaknya telah dinikahi oleh seorang laki-laki tapi kemudian rontok rambutnya. Wanita tersebut bertanya bolehkah anaknya menyambung rambut dengan rambut lain ? Lalu beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata.

لَعَنَ اللَّهُ الوَاصِلاَتِ وَالْمُسْتَوْ صِلاَتِ 
"Allah melaknat wanita yang menyambung rambut, dan yang minta disambung rambutnya"
Beberapa ulama yang mengarang kitab kumpulan dosa-dosa besar, seperti Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Al-Kabair, demikian pula Al-Haitami dalam kitabnya Az-Zawajir ‘an Irtikab Al-Kabair menyebutkan bahwa salah satu diantara dosa yang masuk daftar dosa besar adalah mencukur atau menipiskan bulu alis. Karena terdapat hadis yang menyebutkan bahwa Allah melaknat para wanita yang mencukur bulu asli di wajahnya, seperti bulu alis, meskipun itu untuk tujuan kecantikan.
Allahu a’lam

Saya sisipkan sumber dari konsultasi syariah.

sumber gambar : google


Tadi pagi saya berleha-leha duduk santai. Biasanya banyak kerjaan. Entah menyapu atau mencuci baju. Tapi berhubung rumah sedang mau direhab saya merasa lebih baik menonton TV, siapa tahu ada tanyangan islami. 

Eh beneran ada di MNC. Hmm tak kuduga pembahasan mengerecut pada soal wanita. Lagi-lagi pembahasan yang tak kunjung usai. Nah, kali ini kulihat kok beda ya? Maaf tak mengikuti dari awal dan salurannya sangat buram dihinggapi semut-semut berisik hehehe..
Para dai akhwat kok pada diam, alias kalah sama si dari ikhwan. 

Tapi ditelisik lagi … saya nonton udah mau habis. Pembahasan tentang mengubah ciptaan manusia. Sesama dai nggak kompak rupanya… kalau dipikir-pikir kelihatannya ada yang gak sependapat. Lho? Mereka bukan ulama besar tapi yang pasti kesimpulannya diakhir tayangan emang udah fix. Kalau para dai dan daiyah udah nggak bisa sepaham dan sependapat atau kurang sedikit tidak sreg, bahasanya apa sih. Bingung, pasti jangan dibuat susah. Saya melihatnya mereka kok kayak berdebat ya? 
Padahal udah jelas hadistnya kalau saya percaya mengubah bentuk apapun untuk mempercantik dan menarik perhatian orang lain itu sama sajanya haram. 
Kecuali aib memang harus dihilangkan, kecelakaan dan lain-lain. Fix gampang kok. Iya gak? Mereka malah adu argument nyebutin hadist ini hadist itu, ayat ini ayat itu. 
Ada yang bilang gak masalah… wow kalau untuk mempercantik tidak apa ada yang kudengar. Semoga aku salah dengar sih. 


Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,
 “Allah melaknat tukang tato, orang yang ditato, al-mutanamishah, dan orang yang merenggangkan gigi, untuk kecantikan, yang mengubah ciptaan Allah.” (HR. Bukhari 4886, Muslim 2125, dan lainnya).

Makna Al-Mutanamishah

Al-Mutanamishah adalah para wanita yang minta dicukur bulu di wajahnya. Sedangkan wanita yang menjadi tukang cukurnya namanya An-Namishah. (Syarh Muslim An-Nawawi, 14/106).


An-Nawawi juga menegaskan, bahwa larangan dalam hadis ini tertuju untuk bulu alis,
 “Larangan tersebut adalah untuk alis dan ujung-ujung wajah..” (Sharh Shahih Muslim, 14/106).
Ibnul Atsir mengatakan,

 “An-Namsh adalah menipiskan bulu alis untuk tujuan kecantikan…”
Ibnul Allan mengatakan dalam Syarh Riyadhus Shalihin,

 “An-Namishah adalah wanita yang mencukur bulu alis wanita lain atau menipiskannya agar kelihatan lebih cantik. Sedangkan Al-Mutanamishah adalah wanita yang menyuruh orang lain untuk mencukur bulu alisnya.” (Dalil al-Falihin, 8:482).
"Allah melaknat wanita-wanita yang mencabut bulu, Allah melaknat orang yang menyambung rambut, dan yang minta disambung rambutnya"

Disebutkan dalam As-Shahih bahwa ada seorang wanita datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan mengatakan bahwa anaknya telah dinikahi oleh seorang laki-laki tapi kemudian rontok rambutnya. Wanita tersebut bertanya bolehkah anaknya menyambung rambut dengan rambut lain ? Lalu beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata.

لَعَنَ اللَّهُ الوَاصِلاَتِ وَالْمُسْتَوْ صِلاَتِ 
"Allah melaknat wanita yang menyambung rambut, dan yang minta disambung rambutnya"
Beberapa ulama yang mengarang kitab kumpulan dosa-dosa besar, seperti Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Al-Kabair, demikian pula Al-Haitami dalam kitabnya Az-Zawajir ‘an Irtikab Al-Kabair menyebutkan bahwa salah satu diantara dosa yang masuk daftar dosa besar adalah mencukur atau menipiskan bulu alis. Karena terdapat hadis yang menyebutkan bahwa Allah melaknat para wanita yang mencukur bulu asli di wajahnya, seperti bulu alis, meskipun itu untuk tujuan kecantikan.
Allahu a’lam

Saya sisipkan sumber dari konsultasi syariah.

sumber gambar : google

Emosi Rindu


Manusia memang sekali pandai mengolah rasa, apalagi emosi rindunya. Seakan lupa ada yang perlu disisakan, sebuah cinta kepada sesama bukan kegoisan hati yang selalu tertata, semata.

Kamu hanya mampu berdo’a
Meminta bulir-bulir hujan 
Dan menengadah, harapan

#Ramah
Rindu itu terlalu ramah, 
datangnya dengan senyuman 
hilangangnya dengan kenangan
Kau pun terkadang marah?

Uh...Uh...
Nostalgia dengan irama rindu menghujan dan menghujam.

Kutipanku di hari Jum'at.

Manusia memang sekali pandai mengolah rasa, apalagi emosi rindunya. Seakan lupa ada yang perlu disisakan, sebuah cinta kepada sesama bukan kegoisan hati yang selalu tertata, semata.

Kamu hanya mampu berdo’a
Meminta bulir-bulir hujan 
Dan menengadah, harapan

#Ramah
Rindu itu terlalu ramah, 
datangnya dengan senyuman 
hilangangnya dengan kenangan
Kau pun terkadang marah?

Uh...Uh...
Nostalgia dengan irama rindu menghujan dan menghujam.

Kutipanku di hari Jum'at.

Ketika Lupa TUHAN





Bismillahirrohmaanirrohiim
Alhamdulillah masih ada napas dalam jejak petualangan hidup. Lakon-lakon manusia berwajah dua selalu hadir dalam selingan diam kita. Lalu siapa?

Ah, entahlah. Aku tak mau menebak siapa. Bisa jadi aku? Nunjuk pakai jari. (Oh no)
Begini, aku ingin merasakan hal yang sama. Semoga yang membaca tulisanku ini tersadar sama juga dengan diriku. Untuk nasehatku sendiri agar aku cepat pulih. Bahwa dunia bukanlah milikku dan aku takkan pernah bisa memeluknya.

Bicara Hijrah pasti terngiang bulan Muharram. Bulan ini masih bulan muharram. Apa saja visi dan misi di tahun baru Islam yang masih baru bagi antum / antunna? 
Jangan-jangan cuma bisa meriahkannya dengan pawai taaruf atau mengucapkan selamat! Oh no. Jangan dong. 
Sebenarnya, hari ini aku gemes banget. Bukan untuk hari ini saja sebenarnya. Tapi semenjak iklan yang ada hubungannya dengan “L***” tentang itu lho yang lagi hits. Ada apa denganmu.
Eh salah dengan cinta. Tapi enakan diganti denganmu deh. 
Soalnya penikmat film kan yang merasakan getar-getaran itu hadir kembali :P

Gak mau munafik. JUJUR Asli gak bohong. Sebagai muslimah yang belum lama hijrahnya saya gerah. Gerah sekali melihat iklan ini berseliweran. Kata orang yang baca Masbuloh. 
Lah, emang. 

Nah, yang menjadi masalah sebagai muslim yang ngaku suka banget sifat Rosulullah, ngaku ngabdi alias berbakti, takwa, rajin sholat. Gemar shodaqah melakukan banyak hal dakwah dan lain-lain. Tapi tetap gak mau dibilang munafik kan sama orang lain? Atau punya topeng?.
Kalau aku juga gak maulah. Capek deh. 

Sudah bela-bela pakai kerudung syar’i nutup dada, bicara belajar sopan, menghindar dari teman-teman no shalih/shalihah tapi masih aja mantengin K-POP, Film Korea, bikini-bikino belum lagi wajah putih dan mata sipit yang rambutnya berwarna coklat dengan trend hidup orang asing banget gak keIslaman. Pacaran, pegangan tangan, senyum-senyuman curi pandang. Lama-lama… rrrrrr gubrak. Bikin ketagihan nontonnya. Dan mengelu-elukan jadi idola. 
Oke, no prob tinggalin itu semua. 
Tapi aku gak bicara bohong. Karena masih ada kok budaya seperti itu. Yeay Annur moso budaya? Iyalah sekarang udah menjamur. #terserah aku lho.


Al Firar ila Allah  yang berati berlari menuju Allah. 
Hijrah bukan sekedar dari yang tidak mengenal sholat jadi sholat. Dari yang syirik jauh dari syirik, dari yang tidak menutup aurat jadi menutup. Tapi hijrah adalah kekuatan hati kita untuk memperbaharui Islam. Kapan islam akan maju kalau yang ngaku islam gak mau menonjolkan keislamannya malah berleha-leha dengan dunia yang ditarik sana-sini biar jadi follower yang arahnya gak jelas. 
Makannya kalau mau hijrah harus jelas, bukan sekedar oke aku berlari menuju Allah, tapinya?
”Tidak ada hijrah setelah Fathu Makkah, tetapi (yang ada adalah) jihad dan niat. Maka apabila kalian diperintahkan jihad, maka berangkatlah” [HR. Bukhari 3077 dan Muslim 1353]. 
“Sesungguhnya aku akan berpindah ke Rabb-ku” [QS. Al-Ankabut : 26].

MACAM-MACAM HIJRAH 
1. Hijrah tempat. 
2. Hijrah 'amal (perbuatan) 
3. Hijrah 'amil (orang yang berbuat) 

Nah, aku rasa cape juga bicara penting atau tidak penting. Bicara selera atau masalah buat loh yang menurut kebanyakan orang inilah hidup gue. You punya style gak usah komen-komen ke Ai.. heem…
Sebagai muslim atau muslimah yang paling anti sama namanya syirik, ana rasa lebih baik kita belajar lagi deh seperti bayi. Merangkak, berbicara, menangis dengan teratur. Nah loe buat apa?
Buat menyadari bahwa susahnya meraih tingkat kemandirian yang sempurna. 
Antum/antunna udah mandiri belum? Mandiri dalam arti sebenarnya. Mandiri dalam berpikir.
Buatku hijrah, jihad, dan jujur adalah satu kesatuan dalam pemikiran kritis. 

Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata : ”Hijrah bermakna meninggalkan, dan dalam syara’ adalah meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah. Hijrah dalam Islam itu ada dua : 
Pertama : Berpindah dari kampung yang tidak aman menuju kampung yang aman, seperti dalam hijrah ke Habasyah atau awal hijrah dari Makkah ke Madinah. 

Kedua : Berpindah dari negeri kafir menuju negeri Iman. Hal ini setelah Nabi menetap di Madinah dan kaum muslimin yang mampu telah berhijrah ke sana. Waktu itu, hijrah hanya khusus ke Madinah sampai kota Makkah ditaklukkan maka kekhususan itu tidak berarti lagi, sehingga hijrah menjadi umum dari setiap negeri kafir bagi yang mampu”. 


Manusia paling buruk menurut hadist
PERTAMA, orang yang bermuka dua.
Rasulullah bersabda, “Kalian akan mendapati seburuk-buruk manusia adalah orang-orang yang bermuka dua. Dia mendatangi kelompok yang ini dengan satu wajah, dan mendatangi kelompok lainnya dengan wajah lain pula.” (Riwayat Bukhari-Muslim, dari Abu Hurairah).
 “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” [QS. an-Nisa’: 145]

Jujur, jangan bermuka dua. Jujur jangan suka terlena, jujur jangan suka ngaku beriman dan bertakwa, jujur kalau masih suka nonton AADC?

Siapa yang bisa mengangkat derajat islam sesungguhnya? Apakah orang-orang bermuka dua? Naudzubillahi mindzalik. 

Istiqomah itu sampai hari kiamat lho. Hari akhir napas kita. 
Semangat ukhuwah. Dari pada nonton gak jelas, mendingan dengerin syair kajian islam. 

Mata jangan buat maksiat melulu. Jangan-jangan sudah lupa Tuhan untuk waktu senggang.

Salam Ukhuwah. 
Aku anak Islam, harus kritis. Bukan ikut-ikutan produk jahiliyah yang sok manis. :P

Ayo sadarkan diri. #SAVE ISLAM





Bismillahirrohmaanirrohiim
Alhamdulillah masih ada napas dalam jejak petualangan hidup. Lakon-lakon manusia berwajah dua selalu hadir dalam selingan diam kita. Lalu siapa?

Ah, entahlah. Aku tak mau menebak siapa. Bisa jadi aku? Nunjuk pakai jari. (Oh no)
Begini, aku ingin merasakan hal yang sama. Semoga yang membaca tulisanku ini tersadar sama juga dengan diriku. Untuk nasehatku sendiri agar aku cepat pulih. Bahwa dunia bukanlah milikku dan aku takkan pernah bisa memeluknya.

Bicara Hijrah pasti terngiang bulan Muharram. Bulan ini masih bulan muharram. Apa saja visi dan misi di tahun baru Islam yang masih baru bagi antum / antunna? 
Jangan-jangan cuma bisa meriahkannya dengan pawai taaruf atau mengucapkan selamat! Oh no. Jangan dong. 
Sebenarnya, hari ini aku gemes banget. Bukan untuk hari ini saja sebenarnya. Tapi semenjak iklan yang ada hubungannya dengan “L***” tentang itu lho yang lagi hits. Ada apa denganmu.
Eh salah dengan cinta. Tapi enakan diganti denganmu deh. 
Soalnya penikmat film kan yang merasakan getar-getaran itu hadir kembali :P

Gak mau munafik. JUJUR Asli gak bohong. Sebagai muslimah yang belum lama hijrahnya saya gerah. Gerah sekali melihat iklan ini berseliweran. Kata orang yang baca Masbuloh. 
Lah, emang. 

Nah, yang menjadi masalah sebagai muslim yang ngaku suka banget sifat Rosulullah, ngaku ngabdi alias berbakti, takwa, rajin sholat. Gemar shodaqah melakukan banyak hal dakwah dan lain-lain. Tapi tetap gak mau dibilang munafik kan sama orang lain? Atau punya topeng?.
Kalau aku juga gak maulah. Capek deh. 

Sudah bela-bela pakai kerudung syar’i nutup dada, bicara belajar sopan, menghindar dari teman-teman no shalih/shalihah tapi masih aja mantengin K-POP, Film Korea, bikini-bikino belum lagi wajah putih dan mata sipit yang rambutnya berwarna coklat dengan trend hidup orang asing banget gak keIslaman. Pacaran, pegangan tangan, senyum-senyuman curi pandang. Lama-lama… rrrrrr gubrak. Bikin ketagihan nontonnya. Dan mengelu-elukan jadi idola. 
Oke, no prob tinggalin itu semua. 
Tapi aku gak bicara bohong. Karena masih ada kok budaya seperti itu. Yeay Annur moso budaya? Iyalah sekarang udah menjamur. #terserah aku lho.


Al Firar ila Allah  yang berati berlari menuju Allah. 
Hijrah bukan sekedar dari yang tidak mengenal sholat jadi sholat. Dari yang syirik jauh dari syirik, dari yang tidak menutup aurat jadi menutup. Tapi hijrah adalah kekuatan hati kita untuk memperbaharui Islam. Kapan islam akan maju kalau yang ngaku islam gak mau menonjolkan keislamannya malah berleha-leha dengan dunia yang ditarik sana-sini biar jadi follower yang arahnya gak jelas. 
Makannya kalau mau hijrah harus jelas, bukan sekedar oke aku berlari menuju Allah, tapinya?
”Tidak ada hijrah setelah Fathu Makkah, tetapi (yang ada adalah) jihad dan niat. Maka apabila kalian diperintahkan jihad, maka berangkatlah” [HR. Bukhari 3077 dan Muslim 1353]. 
“Sesungguhnya aku akan berpindah ke Rabb-ku” [QS. Al-Ankabut : 26].

MACAM-MACAM HIJRAH 
1. Hijrah tempat. 
2. Hijrah 'amal (perbuatan) 
3. Hijrah 'amil (orang yang berbuat) 

Nah, aku rasa cape juga bicara penting atau tidak penting. Bicara selera atau masalah buat loh yang menurut kebanyakan orang inilah hidup gue. You punya style gak usah komen-komen ke Ai.. heem…
Sebagai muslim atau muslimah yang paling anti sama namanya syirik, ana rasa lebih baik kita belajar lagi deh seperti bayi. Merangkak, berbicara, menangis dengan teratur. Nah loe buat apa?
Buat menyadari bahwa susahnya meraih tingkat kemandirian yang sempurna. 
Antum/antunna udah mandiri belum? Mandiri dalam arti sebenarnya. Mandiri dalam berpikir.
Buatku hijrah, jihad, dan jujur adalah satu kesatuan dalam pemikiran kritis. 

Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata : ”Hijrah bermakna meninggalkan, dan dalam syara’ adalah meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah. Hijrah dalam Islam itu ada dua : 
Pertama : Berpindah dari kampung yang tidak aman menuju kampung yang aman, seperti dalam hijrah ke Habasyah atau awal hijrah dari Makkah ke Madinah. 

Kedua : Berpindah dari negeri kafir menuju negeri Iman. Hal ini setelah Nabi menetap di Madinah dan kaum muslimin yang mampu telah berhijrah ke sana. Waktu itu, hijrah hanya khusus ke Madinah sampai kota Makkah ditaklukkan maka kekhususan itu tidak berarti lagi, sehingga hijrah menjadi umum dari setiap negeri kafir bagi yang mampu”. 


Manusia paling buruk menurut hadist
PERTAMA, orang yang bermuka dua.
Rasulullah bersabda, “Kalian akan mendapati seburuk-buruk manusia adalah orang-orang yang bermuka dua. Dia mendatangi kelompok yang ini dengan satu wajah, dan mendatangi kelompok lainnya dengan wajah lain pula.” (Riwayat Bukhari-Muslim, dari Abu Hurairah).
 “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” [QS. an-Nisa’: 145]

Jujur, jangan bermuka dua. Jujur jangan suka terlena, jujur jangan suka ngaku beriman dan bertakwa, jujur kalau masih suka nonton AADC?

Siapa yang bisa mengangkat derajat islam sesungguhnya? Apakah orang-orang bermuka dua? Naudzubillahi mindzalik. 

Istiqomah itu sampai hari kiamat lho. Hari akhir napas kita. 
Semangat ukhuwah. Dari pada nonton gak jelas, mendingan dengerin syair kajian islam. 

Mata jangan buat maksiat melulu. Jangan-jangan sudah lupa Tuhan untuk waktu senggang.

Salam Ukhuwah. 
Aku anak Islam, harus kritis. Bukan ikut-ikutan produk jahiliyah yang sok manis. :P

Ayo sadarkan diri. #SAVE ISLAM

Berharap RidhoMU





Jodoh itu antara rezeki dan usaha. Aku beranggapan seperti itu. Entah apakah orang lain sama?
Ya, ketika kita mampu berdoa kenapa tidak? Yang pasti diiringi dengan usaha. Banyak yang berusaha mencari sendiri dan banyak juga yang minta ditaarufkan melalui perantara teman. Atau bahkan tak ingin dicari tapi datang sendiri. Wallahu’alam.


Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik bagi putra-putrinya. Ada yang beranggapan status pekerjaan jauh lebih baik, ada yang derajat keluarga bahkan tak banyak beranggapan agama jauh lebih baik.
Aku tak pernah meragukan tentang ini. Karena belajar dari pengalaman dan kajian yang sering kudengar. Agama adalah sumber utama, meski begitu ada beberapa factor lainnya.
Tapi kenapa orang menikah takut miskin? Sedangkan miskin datang tak mungkin begitu saja tanpa sebab. Bukankah kehendakNya jauh lebih ajaib? Ya, ketakutan inilah yang mendera semua orang tua. Mungkin.

Jika, kita sudah berharap lelaki terbaik adalah dia, tapi ibu bapakmu tak pernah menyetujui apa daya. Ridho Allah tergantung ridho orang tua.
Percayalah, bahagia itu selalu ada. Dengan bersyukur dan bagaimana kita mau menyadari setiap pemberiannya meski sedikit. Secara sederhana kita mendefinisikan cinta adalah urusan hati. Tapi bagiku, cinta adalah rasa yang berserak terbagi-bagi dalam jumlah tak terhitung. Mencintai bukanlah satu ditambah satu sama dengan dua.
Mencintai adalah satu dibagi satu juta jiwa. Meski mencintai sejatinya 1 dibanding 1. Allah dan Allah. Maka akan terjadi cinta yang besar tak terhingga.
Perasaanmu dan perasaanku mungkin sama. Tapi takdir berkata beda, kita pun tak lagi sama. Kita berbeda. Dalam hati yang tegar.

Lalu, apakah harus menujumu? Mempercayaimu? Meninggalkan ridho terbaik Mu?
Kita tak boleh menyalahkan takdir, meski harapan yang datang nun jauh di sana berjuang mendatangi kita dengan segenap hati. Dengan tangan terbuka memberi harapan indah. Dengan memikul jawaban yang kelak dipertanggungjawabkan.

Hanya ada sabar. Bukan benci terhadap seseorang yang tak menyetujui keputusan.
Dan aku sadar, otakku bukanlah wadah angan-angan tempat menabung masa depan. Hingga aku tak mampu merengkuh semua harapan. Ini hanya ekspetasiku saja yang terlalu berlebihan menyikapi sebuah rasa yang hadir tiba-tiba.
Biarlah resah ini tergusar, tak berserak dan akulah yang jadi pemenangnya. Memenangkan atas KuasaMu bukan mengelukan resah yang tak berpenghuni.

Kekuatan doa adalah yang paling mujarab. Meski tidak semua do’a selalu dikabulkan.
Busana yang tertutup melindungi diriku, adalah bentuk kepatuhanku kepada Tuhan dan kedua orang tuaku. Orang tua adalah pintu utama menuju ridhoMu. Menjaga kehormatan diriku sendiri, bahkan keluarga. Bukan sebuah pencitraan untuk menutupi kekurangan. Tetapi menutupi kesempurnaan yang telah diberikan.
Aku yakin, setiap keyakinan yang kuharapkan bukan semata-mata berujung akal pendek. Melainkan proses menuju kebaikan. Kita memang tak boleh terlalu berharap pada manusia. Tetapi kita diwajibkan berharap kepada Allah meski kita tinggal menunggu KuasaNya.

Sabarlah, saat langkah semakin jauh dari jerih payahmu itu bukanlah titik henti, melainkan perhentian yang tertunda.
Selamat datang di negeri yang penuh kelapangan hati. Semoga ikhtiar dan keistiqomahan kita menjadi jalan terbaik menuju masa depan.
Ridho ALLAH tergantung kepada ridho orang tua, sesuai sabda Rosululloh: "Ridho ALLAH tergantung kepada keridhoan orang tua dan murka ALLAH tergantung kepada kemurkaan orang tua" (HR Bukhori, Ibnu Hibban, Tirmidzi, Hakim)
“ Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:2

"Ketika banyak orang mengidolakan ibu karena kasih sayangnya yang tiada tara, saya justru mengagumi ibu saya karena beberapa kekurangan dan kelebihan padanya yang membuatku selalu ON FIRE" <-- searchgoogle.="" span="">

@AnnurShah
Sedang menunggu.... ^_^ uhuhuhuhu






Jodoh itu antara rezeki dan usaha. Aku beranggapan seperti itu. Entah apakah orang lain sama?
Ya, ketika kita mampu berdoa kenapa tidak? Yang pasti diiringi dengan usaha. Banyak yang berusaha mencari sendiri dan banyak juga yang minta ditaarufkan melalui perantara teman. Atau bahkan tak ingin dicari tapi datang sendiri. Wallahu’alam.


Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik bagi putra-putrinya. Ada yang beranggapan status pekerjaan jauh lebih baik, ada yang derajat keluarga bahkan tak banyak beranggapan agama jauh lebih baik.
Aku tak pernah meragukan tentang ini. Karena belajar dari pengalaman dan kajian yang sering kudengar. Agama adalah sumber utama, meski begitu ada beberapa factor lainnya.
Tapi kenapa orang menikah takut miskin? Sedangkan miskin datang tak mungkin begitu saja tanpa sebab. Bukankah kehendakNya jauh lebih ajaib? Ya, ketakutan inilah yang mendera semua orang tua. Mungkin.

Jika, kita sudah berharap lelaki terbaik adalah dia, tapi ibu bapakmu tak pernah menyetujui apa daya. Ridho Allah tergantung ridho orang tua.
Percayalah, bahagia itu selalu ada. Dengan bersyukur dan bagaimana kita mau menyadari setiap pemberiannya meski sedikit. Secara sederhana kita mendefinisikan cinta adalah urusan hati. Tapi bagiku, cinta adalah rasa yang berserak terbagi-bagi dalam jumlah tak terhitung. Mencintai bukanlah satu ditambah satu sama dengan dua.
Mencintai adalah satu dibagi satu juta jiwa. Meski mencintai sejatinya 1 dibanding 1. Allah dan Allah. Maka akan terjadi cinta yang besar tak terhingga.
Perasaanmu dan perasaanku mungkin sama. Tapi takdir berkata beda, kita pun tak lagi sama. Kita berbeda. Dalam hati yang tegar.

Lalu, apakah harus menujumu? Mempercayaimu? Meninggalkan ridho terbaik Mu?
Kita tak boleh menyalahkan takdir, meski harapan yang datang nun jauh di sana berjuang mendatangi kita dengan segenap hati. Dengan tangan terbuka memberi harapan indah. Dengan memikul jawaban yang kelak dipertanggungjawabkan.

Hanya ada sabar. Bukan benci terhadap seseorang yang tak menyetujui keputusan.
Dan aku sadar, otakku bukanlah wadah angan-angan tempat menabung masa depan. Hingga aku tak mampu merengkuh semua harapan. Ini hanya ekspetasiku saja yang terlalu berlebihan menyikapi sebuah rasa yang hadir tiba-tiba.
Biarlah resah ini tergusar, tak berserak dan akulah yang jadi pemenangnya. Memenangkan atas KuasaMu bukan mengelukan resah yang tak berpenghuni.

Kekuatan doa adalah yang paling mujarab. Meski tidak semua do’a selalu dikabulkan.
Busana yang tertutup melindungi diriku, adalah bentuk kepatuhanku kepada Tuhan dan kedua orang tuaku. Orang tua adalah pintu utama menuju ridhoMu. Menjaga kehormatan diriku sendiri, bahkan keluarga. Bukan sebuah pencitraan untuk menutupi kekurangan. Tetapi menutupi kesempurnaan yang telah diberikan.
Aku yakin, setiap keyakinan yang kuharapkan bukan semata-mata berujung akal pendek. Melainkan proses menuju kebaikan. Kita memang tak boleh terlalu berharap pada manusia. Tetapi kita diwajibkan berharap kepada Allah meski kita tinggal menunggu KuasaNya.

Sabarlah, saat langkah semakin jauh dari jerih payahmu itu bukanlah titik henti, melainkan perhentian yang tertunda.
Selamat datang di negeri yang penuh kelapangan hati. Semoga ikhtiar dan keistiqomahan kita menjadi jalan terbaik menuju masa depan.
Ridho ALLAH tergantung kepada ridho orang tua, sesuai sabda Rosululloh: "Ridho ALLAH tergantung kepada keridhoan orang tua dan murka ALLAH tergantung kepada kemurkaan orang tua" (HR Bukhori, Ibnu Hibban, Tirmidzi, Hakim)
“ Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:2

"Ketika banyak orang mengidolakan ibu karena kasih sayangnya yang tiada tara, saya justru mengagumi ibu saya karena beberapa kekurangan dan kelebihan padanya yang membuatku selalu ON FIRE" <-- searchgoogle.="" span="">

@AnnurShah
Sedang menunggu.... ^_^ uhuhuhuhu


Review Buku Diary Pra Nikah Muslimah





1.   Judul              : Diary pra nikah Muslimah
2.    Penulis           : Shobrina Al Latif – Layla An Nibras
3.    Penerbit         : Gazza Media
4.    Tahun terbit   : 2013
5.    Jumlah Hlm   : 184

Baca Judul Saja sudah terlihat jelas untuk seorang akhwat muslimah. Buku yang membuatku penasaran ini akhirnya terjawab sudah setelah membaca.

Diary. Ya, diary adalah BUKU HARIAN. Lebih tepatnya catatan kejadian yang kita alami sehari-hari.
Di dalam buku ini selain mengajak untuk mengerti melalui membaca juga mengajak muslimah untuk mencatat dan mempelajari tentang Agenda harian yang dilakukan sebelum / pra nikah. Lebih tepatnya persiapan menuju pernikahan.

Di buku ini sudah disediakan beberapa data yang diberi titik-titik yang bertujuan untuk diisi oleh pemilik buku. (yang pinjem gak boleh corat-coret) ehhee..

   
Diantaranya beberapa isinya terlihat seperti foto di bawah ini.

Tentang data yang memenuhi rukun taaruf isinya ya seperti biodata taaruf yang akan diajukan kepada calon ikhwan. Belajar mengisi agenda persiapan memasak, bahkan Yaumul bidh. Nah, yang paling berkesan jarang beberapa teman muslimah tahu adalah tentang siklus haid. Contoh memahami siklus haid dan masa subur.
Sayangnya si penulis lupa memberikan aturan main dari contoh penghitungan masa subur. Saya yang merasa kepo berulang kali garuk-garuk kepala. Dan akhirnya paham juga, meski begitu di sini seharusnya diberikan keterangan contoh yang detail.
Misalnya perhitungannya yang tepat cara mengetahui pada diagramnya bagaimana. Paling penting peletakan cara pengisian kolom siklus haid dan keterangan cara pengisian harusnya bersebelahan lebih tepatnya tidak berjauhan, jadi tidak bingung.

Kita lanjut ke dalam isinya lebih dalam.
Sebuah dokumentasi catatan awal menuju pernikahan.

Di sini sudah tepat sekali dijelaskan cara-cara menuju pernikahan. Dimulai dari Niat. Berhubung sampai sekarang masih banyak seorang wanita yang menginginkan atau berniat mencari suami yang kaya raya, jadi hati-hati kita ini nyari suami bukan perusahaan yang bakalan tambah kaya.
So, apapun resiko pernikahan harus siap sedia. Tujuan, visi dan misi kudu jelas dari niatan Lillahi Ta’ala.
Buku ini juga mengajak kita untuk memahami arti persiapan. Bukan sekedar siap di lisan tapi di jasad dan hati gak! Itu namanya belum sempurna persiapan seorang muslimah untuk menikah.
Persiapan di sini pasti sudah harus membekali ilmu. Ilmu fiqih, parenting. Intinya siap lahir batin dengan segala resiko. Supaya kita cerdas memahami keadaan dan memposisikan diri kita dalam situasi apapun.

1.    Persiapan Ruhiyah (Spiritual)
Kesiapan untuk menata diri mendekatkan kepadaNya.
•    Siap menerima orang lain menjadi pemimpin
•    siap untuk mengurangi sebagian agenda atas dirinya karena kepatuhan terhadap suami.
•    Siap untuk menyusui, hamil, merawat anak.
•    Siap untuk menanggung beban akibat adanya anak.

2.    Persiapan Jasadiyah (Fisik)
Lebih tepatnya siap fisik adalah menyehatkan badan kita. Memahami dan menerapkan pola hidup yang sehat.
Rajin olah raga, makan-manakan yang bergizi. Kasus yang sering terjadi adalah masalah kista. Teman saya ada yang mau menikah tapi kena kista. Loh jadi curhat. Tapi ya kita memang harus sering mengkondisikan menjaga kesehatan. Gak usah makan-makanan yang gak sehat. Pedes berlebihan, es terlalu dingin, ngemil yang tidak sehat. Makan mie instan berlebihan.
Karena di dalam jiwa yang sehat terdapat tubuh yang kuat. Setuju?


3.    Persiapan Fikriyah (Pengetahuan)
Lebih tepatnya kita sebagai muslimah harus memiliki “ILMU”
Memahami apa yang harusnya dilakukan sebagai istri
Parenting, ilmu fiqih, management hati, komunikasi lancar.

4.    Persiapan Maliyah ( Finansial) 
Untuk seorang suami lebih tepatnya mampu menafkahi, bukan masalah harta, mobil, rumah dan lain-lain. 
Kita lihat orang tua kita dulu. Dari mulai kontrak hingga akhirnya mampu beli rumah. Bukan berarti pelit juga demi menumpuk harta buat beli rumah tapi istri diharuskan berpikir jernih agar uang suami bisa dikelola dengan baik.
Untuk calon ibu pastinya akan menjadi seorang manager, bagi rumah tangganya. Terutama mampu belajar mengelola keuangan sendiri.
belajar cara menyisihkan uang untuk infaq, investasi kecil-kecilan, dan hutang tidak boleh melebihi 30%. Sekiranya harus hidup sederhana tidak boleh berlebih-lebihan. Qona’ah.                         
Kita akan melihat kejutan dariNYA

6.    Persiapan Ijtimaiyah (SOSIAL KEMASYARAKATAN)
Jibril terus-menerus berwasiat kepadaku (untuk berbuat baik) terhadap tentangga, hingga aku yakin ia (seorang tetangga) akan mewariskan harta kepadanya (tetangganya).

Aku tambahin juga yah penulis. Eh

Berkaitan makna berbuat ihsan (baik) kepada tetangga, Syaikh Nazhim Sulthan menerangkan: "(Yaitu) dengan melakukan beragam perbuatan baik kepada tetangga, sesuai dengan kadar kemampuan. Misalnya berupa pemberian hadiah, mengucapkan salam, tersenyum ketika bertemu dengannya, mengamati keadaannya, membantunya dalam perkara yang ia butuhkan, serta menjauhi segala perkara yang menyebabkan ia merasa tersakiti, baik secara fisik atau moril. Tetangga yang paling berhak mendapatkankan perlakuan baik dari kita adalah tetangga yang paling dekat rumahnya dengan kita, disusul tetangga selanjutnya yang lebih dekat. 'Aisyah pernah bertanya,"Wahai Rasulullah, aku memiliki dua orang tetangga. Maka kepada siapakah aku memberikan hadiah diantara mereka berdua?". Beliau menjawab.

إلى أقْرَبَهُمَا مِنْكِ بَابًا


Kepada tetangga yang lebih dekat pintu rumahnya denganmu

Dalam buku ini berlanjut agar para muslimah bisa menentukan tata cara proses pernikahan yang baik, dari ta’aruf, nadzor, hingga proses akad dan walimah.
Diberikan gambaran juga tentang tempat walimah yang baik tanpa ikhtilat, undangan yang bagus tanpa bersifat mubadzir, souvenir. meringankan mahar,  tafsir do’a pengantin. Bahkan hingga tahapan pengurusan surat-surat nikah.  #Repot menuju kedamaian. Paling penting adalah disaat setelah halalnya menjadi pasangan suami isteri. Hal-hal yang pertama yang harus dilakukan.

Penulis di sini ingin mengajak kepada muslimah menuju jalan syariat Islam. 
Karena sekarang sudah jarang sekali kita temukan hal-hal yang berkaitan dengan sesuai kode-kode islam yang baik.                                                                                      

Saya kurang sreg sama gambar cara menyetrika dan undangan yang kurang jelas. Tapi ya memang sudah diperjelas mungkin. Finally, bukunya lumayan dikantong dan untuk mereka yang butuh banget.

Banyak pelajaran yang kudapat dari buku ini meski simple, tapi setidaknya sudah ada gambaran apa dan bagaimana mesti yang kita lakukan. :) 
Riska, jangan berhenti berkarya melalui tulisan.





1.   Judul              : Diary pra nikah Muslimah
2.    Penulis           : Shobrina Al Latif – Layla An Nibras
3.    Penerbit         : Gazza Media
4.    Tahun terbit   : 2013
5.    Jumlah Hlm   : 184

Baca Judul Saja sudah terlihat jelas untuk seorang akhwat muslimah. Buku yang membuatku penasaran ini akhirnya terjawab sudah setelah membaca.

Diary. Ya, diary adalah BUKU HARIAN. Lebih tepatnya catatan kejadian yang kita alami sehari-hari.
Di dalam buku ini selain mengajak untuk mengerti melalui membaca juga mengajak muslimah untuk mencatat dan mempelajari tentang Agenda harian yang dilakukan sebelum / pra nikah. Lebih tepatnya persiapan menuju pernikahan.

Di buku ini sudah disediakan beberapa data yang diberi titik-titik yang bertujuan untuk diisi oleh pemilik buku. (yang pinjem gak boleh corat-coret) ehhee..

   
Diantaranya beberapa isinya terlihat seperti foto di bawah ini.

Tentang data yang memenuhi rukun taaruf isinya ya seperti biodata taaruf yang akan diajukan kepada calon ikhwan. Belajar mengisi agenda persiapan memasak, bahkan Yaumul bidh. Nah, yang paling berkesan jarang beberapa teman muslimah tahu adalah tentang siklus haid. Contoh memahami siklus haid dan masa subur.
Sayangnya si penulis lupa memberikan aturan main dari contoh penghitungan masa subur. Saya yang merasa kepo berulang kali garuk-garuk kepala. Dan akhirnya paham juga, meski begitu di sini seharusnya diberikan keterangan contoh yang detail.
Misalnya perhitungannya yang tepat cara mengetahui pada diagramnya bagaimana. Paling penting peletakan cara pengisian kolom siklus haid dan keterangan cara pengisian harusnya bersebelahan lebih tepatnya tidak berjauhan, jadi tidak bingung.

Kita lanjut ke dalam isinya lebih dalam.
Sebuah dokumentasi catatan awal menuju pernikahan.

Di sini sudah tepat sekali dijelaskan cara-cara menuju pernikahan. Dimulai dari Niat. Berhubung sampai sekarang masih banyak seorang wanita yang menginginkan atau berniat mencari suami yang kaya raya, jadi hati-hati kita ini nyari suami bukan perusahaan yang bakalan tambah kaya.
So, apapun resiko pernikahan harus siap sedia. Tujuan, visi dan misi kudu jelas dari niatan Lillahi Ta’ala.
Buku ini juga mengajak kita untuk memahami arti persiapan. Bukan sekedar siap di lisan tapi di jasad dan hati gak! Itu namanya belum sempurna persiapan seorang muslimah untuk menikah.
Persiapan di sini pasti sudah harus membekali ilmu. Ilmu fiqih, parenting. Intinya siap lahir batin dengan segala resiko. Supaya kita cerdas memahami keadaan dan memposisikan diri kita dalam situasi apapun.

1.    Persiapan Ruhiyah (Spiritual)
Kesiapan untuk menata diri mendekatkan kepadaNya.
•    Siap menerima orang lain menjadi pemimpin
•    siap untuk mengurangi sebagian agenda atas dirinya karena kepatuhan terhadap suami.
•    Siap untuk menyusui, hamil, merawat anak.
•    Siap untuk menanggung beban akibat adanya anak.

2.    Persiapan Jasadiyah (Fisik)
Lebih tepatnya siap fisik adalah menyehatkan badan kita. Memahami dan menerapkan pola hidup yang sehat.
Rajin olah raga, makan-manakan yang bergizi. Kasus yang sering terjadi adalah masalah kista. Teman saya ada yang mau menikah tapi kena kista. Loh jadi curhat. Tapi ya kita memang harus sering mengkondisikan menjaga kesehatan. Gak usah makan-makanan yang gak sehat. Pedes berlebihan, es terlalu dingin, ngemil yang tidak sehat. Makan mie instan berlebihan.
Karena di dalam jiwa yang sehat terdapat tubuh yang kuat. Setuju?


3.    Persiapan Fikriyah (Pengetahuan)
Lebih tepatnya kita sebagai muslimah harus memiliki “ILMU”
Memahami apa yang harusnya dilakukan sebagai istri
Parenting, ilmu fiqih, management hati, komunikasi lancar.

4.    Persiapan Maliyah ( Finansial) 
Untuk seorang suami lebih tepatnya mampu menafkahi, bukan masalah harta, mobil, rumah dan lain-lain. 
Kita lihat orang tua kita dulu. Dari mulai kontrak hingga akhirnya mampu beli rumah. Bukan berarti pelit juga demi menumpuk harta buat beli rumah tapi istri diharuskan berpikir jernih agar uang suami bisa dikelola dengan baik.
Untuk calon ibu pastinya akan menjadi seorang manager, bagi rumah tangganya. Terutama mampu belajar mengelola keuangan sendiri.
belajar cara menyisihkan uang untuk infaq, investasi kecil-kecilan, dan hutang tidak boleh melebihi 30%. Sekiranya harus hidup sederhana tidak boleh berlebih-lebihan. Qona’ah.                         
Kita akan melihat kejutan dariNYA

6.    Persiapan Ijtimaiyah (SOSIAL KEMASYARAKATAN)
Jibril terus-menerus berwasiat kepadaku (untuk berbuat baik) terhadap tentangga, hingga aku yakin ia (seorang tetangga) akan mewariskan harta kepadanya (tetangganya).

Aku tambahin juga yah penulis. Eh

Berkaitan makna berbuat ihsan (baik) kepada tetangga, Syaikh Nazhim Sulthan menerangkan: "(Yaitu) dengan melakukan beragam perbuatan baik kepada tetangga, sesuai dengan kadar kemampuan. Misalnya berupa pemberian hadiah, mengucapkan salam, tersenyum ketika bertemu dengannya, mengamati keadaannya, membantunya dalam perkara yang ia butuhkan, serta menjauhi segala perkara yang menyebabkan ia merasa tersakiti, baik secara fisik atau moril. Tetangga yang paling berhak mendapatkankan perlakuan baik dari kita adalah tetangga yang paling dekat rumahnya dengan kita, disusul tetangga selanjutnya yang lebih dekat. 'Aisyah pernah bertanya,"Wahai Rasulullah, aku memiliki dua orang tetangga. Maka kepada siapakah aku memberikan hadiah diantara mereka berdua?". Beliau menjawab.

إلى أقْرَبَهُمَا مِنْكِ بَابًا


Kepada tetangga yang lebih dekat pintu rumahnya denganmu

Dalam buku ini berlanjut agar para muslimah bisa menentukan tata cara proses pernikahan yang baik, dari ta’aruf, nadzor, hingga proses akad dan walimah.
Diberikan gambaran juga tentang tempat walimah yang baik tanpa ikhtilat, undangan yang bagus tanpa bersifat mubadzir, souvenir. meringankan mahar,  tafsir do’a pengantin. Bahkan hingga tahapan pengurusan surat-surat nikah.  #Repot menuju kedamaian. Paling penting adalah disaat setelah halalnya menjadi pasangan suami isteri. Hal-hal yang pertama yang harus dilakukan.

Penulis di sini ingin mengajak kepada muslimah menuju jalan syariat Islam. 
Karena sekarang sudah jarang sekali kita temukan hal-hal yang berkaitan dengan sesuai kode-kode islam yang baik.                                                                                      

Saya kurang sreg sama gambar cara menyetrika dan undangan yang kurang jelas. Tapi ya memang sudah diperjelas mungkin. Finally, bukunya lumayan dikantong dan untuk mereka yang butuh banget.

Banyak pelajaran yang kudapat dari buku ini meski simple, tapi setidaknya sudah ada gambaran apa dan bagaimana mesti yang kita lakukan. :) 
Riska, jangan berhenti berkarya melalui tulisan.

Niatan Qurban untuk orang telah mati



Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa hukum qurban adalah sunnah atau sunnah muakkad (yang amat dianjurkan) bagi orang yang hidup dan mampu, itu pun boleh diniatkan untuk keluarganya. Hukum sunnah ini menjadi pendapat mayoritas ulama. Sebagian ulama mengatakan hukum qurban itu wajib. Sedangkan qurban untuk mayit (secara khusus), tidaklah dituntunkan selama bukan karena wasiat atau nadzar sebelum meninggal dunia. Serial keempat kali ini akan mengkaji mengenai niatan qurban untuk mayit.
Para ulama berselisih pendapat mengenai kesahan qurban untuk mayit jika bukan karena wasiat. Dalam madzhab Syafi’i, qurbannya tidak sah kecuali jika ada wasiat dari mayit. Imam Nawawi rahimahullah berkata dalam Al Minhaj,
وَلَا تَضْحِيَةَ عَنْ الْغَيْرِ بِغَيْرِ إذْنِهِ، وَلَا عَنْ الْمَيِّتِ إذَا لَمْ يُوصِ بِهَا
“Tidak sah qurban untuk orang lain selain dengan izinnya. Tidak sah pula qurban untuk mayit jika ia tidak memberi wasiat untuk qurban tersebut.”

Kita dapat membagi berqurban untuk mayit menjadi tiga rincian sebagai berikut:
Pertama: Berqurban untuk mayit hanya sebagai ikutan. Misalnya seseorang berqurban untuk dirinya dan keluarganya termasuk yang masih hidup atau yang telah meninggal dunia. Dasar dari bolehnya hal ini adalah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berqurban untuk dirinya dan keluarganya, termasuk di dalamnya yang telah meninggal dunia.

Bahkan jika seseorang berqurban untuk dirinya, seluruh keluarganya baik yang masih hidup maupun yang telah mati, bisa termasuk dalam niatan qurbannya. Dalilnya,
كَانَ الرَّجُلُ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُضَحِّى بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ
“Pada masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ada seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan keluarganya.”[1]

Asy Syaukani mengatakan, “(Dari berbagai perselisihan ulama yang ada), yang benar, qurban kambing boleh diniatkan untuk satu keluarga walaupun dalam keluarga tersebut ada 100 jiwa atau lebih.”[2]
Kedua: Berqurban untuk mayit atas dasar wasiatnya (sebelum meninggal dunia). Hal ini dibolehkan berdasarkan firman Allah Ta’ala,
فَمَنْ بَدَّلَهُ بَعْدَمَا سَمِعَهُ فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى الَّذِينَ يُبَدِّلُونَهُ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Maka barangsiapa yang mengubah wasiat itu, setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 181).

Ketiga: Berqurban dengan niatan khusus untuk mayit, bukan sebagai ikutan, maka seperti ini tidak ada sunnahnya (tidak ada contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berqurban untuk salah satu orang yang telah meninggal dunia dengan niatan khusus. Beliau tidak pernah berqurban atas nama pamannya, Hamzah -radhiyallahu ‘anhu-, padahal ia termasuk kerabat terdekat beliau. Tidak diketahui pula kalau beliau berqurban atas nama anak-anak beliau yang telah meninggal dunia, yaitu tiga anak perempuan beliau yang telah menikah dan dua anak laki-laki yang masih kecil. Tidak diketahui pula beliau pernah berqurban atas nama istri tercinta beliau, Khodijah -radhiyallahu ‘anha-. Begitu pula, tidak diketahui dari para sahabat ada yang pernah berqurban atas nama orang yang telah meninggal dunia di antara mereka.[3]

Syaikh Muhammad bin Rosyid bin ‘Abdillah Al Ghofiliy dalam buku kecil beliau yang menjelaskan tentang kesalahan-kesalahan di sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Di antaranya beliau menerangkan mengenai kesalahan yang dilakukan oleh orang yang berqurban. Beliau berkata,

7 – Di antara kekeliruan yang dilakukan oleh orang yang berqurban adalah bersengaja menjadikan (niat) qurban untuk mayit (orang yang telah tiada). Ini jelas keliru karena asalnya qurban diperintahkan bagi orang yang hidup (artinya yang memiliki qurban tadi adalah orang yang hidup, pen). Namun dalam masalah pahala boleh saja berserikat dengan orang yang telah tiada (mayit). Yang terakhir ini tidaklah masalah. Adapun menjadikan niat qurban tadi untuk si mayit seluruhnya, ini jelas tidak ada dalil yang mendukungnya.
Dalam penjelasan di halaman selanjutnya beliau hafizhohullah menjelaskan,

Jika yang berdo’a dengan do’a, “Ya Allah jadikanlah pahala qurban ini seluruhnya untuk kedua orang tuaku yang telah tiada”, ini sama sekali tidak ada dalil yang mendukungnya, ini termasuk perkara (amalan) yang mengada-ada. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa mengada-ada dalam urusan (agama) kami yang tidak ada dasarnya, maka amalannya tertolak” (Muttafaqun ‘alaih)[4]

Sebagian ulama membolehkan niatan qurban untuk mayit secara khusus karena dianggap seperti sedekah. Di antara yang membolehkan adalah Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, Al Lajnah Ad Daimah, dan fatwa Syaikh Sholih Al Fauzan yang kami dengar secara langsung di majelis beliau. Jadi masalah ini masih ada perselisihan, namun kami lebih tentram dengan alasan-alasan yang melarang di atas. Wallahu a’lam.
Lihat pula bahasan yang pernah dikaji oleh Rumaysho.com mengenai “Berniat Qurban atas Nama Ibu yang Telah Tiada” di sini.


Kemarin saya dengerin ceramah di TV kalau gak salah, tanpa dalil yang jelas membolehkan. Saya bingung sebingung-bingungnya. Lha wong sudah mati kok, pahalanya ya lari ke mana coba?
Wallahu'alam bishowab.

Sumber :Rumaysho




Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa hukum qurban adalah sunnah atau sunnah muakkad (yang amat dianjurkan) bagi orang yang hidup dan mampu, itu pun boleh diniatkan untuk keluarganya. Hukum sunnah ini menjadi pendapat mayoritas ulama. Sebagian ulama mengatakan hukum qurban itu wajib. Sedangkan qurban untuk mayit (secara khusus), tidaklah dituntunkan selama bukan karena wasiat atau nadzar sebelum meninggal dunia. Serial keempat kali ini akan mengkaji mengenai niatan qurban untuk mayit.
Para ulama berselisih pendapat mengenai kesahan qurban untuk mayit jika bukan karena wasiat. Dalam madzhab Syafi’i, qurbannya tidak sah kecuali jika ada wasiat dari mayit. Imam Nawawi rahimahullah berkata dalam Al Minhaj,
وَلَا تَضْحِيَةَ عَنْ الْغَيْرِ بِغَيْرِ إذْنِهِ، وَلَا عَنْ الْمَيِّتِ إذَا لَمْ يُوصِ بِهَا
“Tidak sah qurban untuk orang lain selain dengan izinnya. Tidak sah pula qurban untuk mayit jika ia tidak memberi wasiat untuk qurban tersebut.”

Kita dapat membagi berqurban untuk mayit menjadi tiga rincian sebagai berikut:
Pertama: Berqurban untuk mayit hanya sebagai ikutan. Misalnya seseorang berqurban untuk dirinya dan keluarganya termasuk yang masih hidup atau yang telah meninggal dunia. Dasar dari bolehnya hal ini adalah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berqurban untuk dirinya dan keluarganya, termasuk di dalamnya yang telah meninggal dunia.

Bahkan jika seseorang berqurban untuk dirinya, seluruh keluarganya baik yang masih hidup maupun yang telah mati, bisa termasuk dalam niatan qurbannya. Dalilnya,
كَانَ الرَّجُلُ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُضَحِّى بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ
“Pada masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ada seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan keluarganya.”[1]

Asy Syaukani mengatakan, “(Dari berbagai perselisihan ulama yang ada), yang benar, qurban kambing boleh diniatkan untuk satu keluarga walaupun dalam keluarga tersebut ada 100 jiwa atau lebih.”[2]
Kedua: Berqurban untuk mayit atas dasar wasiatnya (sebelum meninggal dunia). Hal ini dibolehkan berdasarkan firman Allah Ta’ala,
فَمَنْ بَدَّلَهُ بَعْدَمَا سَمِعَهُ فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى الَّذِينَ يُبَدِّلُونَهُ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Maka barangsiapa yang mengubah wasiat itu, setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 181).

Ketiga: Berqurban dengan niatan khusus untuk mayit, bukan sebagai ikutan, maka seperti ini tidak ada sunnahnya (tidak ada contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berqurban untuk salah satu orang yang telah meninggal dunia dengan niatan khusus. Beliau tidak pernah berqurban atas nama pamannya, Hamzah -radhiyallahu ‘anhu-, padahal ia termasuk kerabat terdekat beliau. Tidak diketahui pula kalau beliau berqurban atas nama anak-anak beliau yang telah meninggal dunia, yaitu tiga anak perempuan beliau yang telah menikah dan dua anak laki-laki yang masih kecil. Tidak diketahui pula beliau pernah berqurban atas nama istri tercinta beliau, Khodijah -radhiyallahu ‘anha-. Begitu pula, tidak diketahui dari para sahabat ada yang pernah berqurban atas nama orang yang telah meninggal dunia di antara mereka.[3]

Syaikh Muhammad bin Rosyid bin ‘Abdillah Al Ghofiliy dalam buku kecil beliau yang menjelaskan tentang kesalahan-kesalahan di sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Di antaranya beliau menerangkan mengenai kesalahan yang dilakukan oleh orang yang berqurban. Beliau berkata,

7 – Di antara kekeliruan yang dilakukan oleh orang yang berqurban adalah bersengaja menjadikan (niat) qurban untuk mayit (orang yang telah tiada). Ini jelas keliru karena asalnya qurban diperintahkan bagi orang yang hidup (artinya yang memiliki qurban tadi adalah orang yang hidup, pen). Namun dalam masalah pahala boleh saja berserikat dengan orang yang telah tiada (mayit). Yang terakhir ini tidaklah masalah. Adapun menjadikan niat qurban tadi untuk si mayit seluruhnya, ini jelas tidak ada dalil yang mendukungnya.
Dalam penjelasan di halaman selanjutnya beliau hafizhohullah menjelaskan,

Jika yang berdo’a dengan do’a, “Ya Allah jadikanlah pahala qurban ini seluruhnya untuk kedua orang tuaku yang telah tiada”, ini sama sekali tidak ada dalil yang mendukungnya, ini termasuk perkara (amalan) yang mengada-ada. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa mengada-ada dalam urusan (agama) kami yang tidak ada dasarnya, maka amalannya tertolak” (Muttafaqun ‘alaih)[4]

Sebagian ulama membolehkan niatan qurban untuk mayit secara khusus karena dianggap seperti sedekah. Di antara yang membolehkan adalah Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, Al Lajnah Ad Daimah, dan fatwa Syaikh Sholih Al Fauzan yang kami dengar secara langsung di majelis beliau. Jadi masalah ini masih ada perselisihan, namun kami lebih tentram dengan alasan-alasan yang melarang di atas. Wallahu a’lam.
Lihat pula bahasan yang pernah dikaji oleh Rumaysho.com mengenai “Berniat Qurban atas Nama Ibu yang Telah Tiada” di sini.


Kemarin saya dengerin ceramah di TV kalau gak salah, tanpa dalil yang jelas membolehkan. Saya bingung sebingung-bingungnya. Lha wong sudah mati kok, pahalanya ya lari ke mana coba?
Wallahu'alam bishowab.

Sumber :Rumaysho


Cukup di hati




Bila ada komentar buruk di sosial media, santai saja | cukup dalam hati kita berujar, "oh, begitulah isi kepalanya, itulah kadar agamanya" (uztd Felix Siaw)


Rasulullah bersabda, "agama (Islam) itu akhlak yang baik" (HR Ahmad)



Bila ada komentar buruk di sosial media, santai saja | cukup dalam hati kita berujar, "oh, begitulah isi kepalanya, itulah kadar agamanya" (uztd Felix Siaw)


Rasulullah bersabda, "agama (Islam) itu akhlak yang baik" (HR Ahmad)

Bukan Titik Henti



Judul tulisanku kok berasa menjanggal hehee...
Hari gini bekerja tanpa syarat? huuuhhu... mungkin ada bagi seorang buruh lepas, wirausahawan? tapi ini bekerja dengan perusahaan pasti dan harus membutuhkan syarat.

Sebelum peristiwa pahit itu, kutahu ia sempat bercerita tentang kondisi pekerjaannya. Semula memang baik-baik saja, tapi endingnya ia dipecat. Gugur tugas dan harus mencari nafkah di tempat lain.
Aku sempat tidak pernah mengerti dengan para atasan. Entah itu majikan, bos, manager dan direktur. Tapi yang pasti rasa kehadiran mereka adalah memegang amanat yang cukup kuat dalam pekerjaan.
Awalnya teman adikku bernama A** sering bercerita bosnya yang sudah mulai mengajak untuk taklim/ kajian. Respon positif dong kalau ada atasan mengajak kebaikan. Tapi satu hal yang aneh sebelum mengajaknya adalah membicarakan sesuatu yang menyeramkan. Membandingkan-bandingkan golongan islam lain dan islam lainnya. Ya, sampai sekarang kita tahu Negara Indonesia banyak sekali menganut agama islam yang dilandasi dengan pilihannnya masing-masing. Berbeda harakoh itu wajar, yang tidak wajar adalah mengkafirkan dan merasa sok benar ini dan ini.

Kuyakin semua tidak lain dari upaya mengajak (dakwah). 
Tapi anehnya, sikap bosnya yang mengaku pengajiannya yang baik tidak dilandasi dengan ahlakul karimah. Melainkan sikap yang terkesan egois. 
Mendadak memecat karyawannya usai lebaran. Alasannya klise, kamu pendidikan SMA, kita butuh yang D3. 
Oh? Begitukah? Bukankah dari dulu dia sudah lama menjadi karyawan di situ? Dengan pendidikan yang sesuai standar yang diharapkan?
mmm.. mungkin ada alasan lain, tapi ya sudahlah. 
Padahal pekerjaannya itu tidak seberat pikiran orang kuliah yang harus mengejar title D3, dan bisa dikerjakan oleh lulusan SMA.
Finally, sadar ambil pikiran positif saja. Tidak semua orang yang memiliki kekuasaan itu berhati mulia. 
Kisah ini membuatnya sedih, dan menyadari kalau pekerjaan harus dicari cepat.
Belum terlambat, daftar lowongan kerja tertera pada Koran lokal. Memilah dan memilih dengan baik dan mencoba datang langsung ke TKP. Tapi Allah belum berkehendak, alamat yang dituju nihil tak ada di tempat alias palsu. Alamat palsu.
Belum lagi kabar ayahmu sakit keras dan harus dilarikan ke rumah sakit lagi karena penyakitnya kambuh.

Bersabarlah hati, 
Saat kamu mengalami keputusaan itu jauh lebih menakutkan.  
Ketika Allah sedang mengujimu dengan pemecatan dan ditipu orang ini belum seberapa yang lebih sulit. Ambil hikmahnya kawan.
Ini bukan soal kegagalan dan kekalahan tapi ini soal awal. Awal dan mengawali sebuah cerita baru lagi.
Perjuangan baru akan dimulai, bukalah kelopak matamu, lihat awan yang cerah. Di sana masih ada harapan yang tak sia-sia. 

Ini bukan titik henti, barangkali ada kesempatan yang sedang menunggumu mengawali dan mengakhiri ini semua dengan senyuman. 




Judul tulisanku kok berasa menjanggal hehee...
Hari gini bekerja tanpa syarat? huuuhhu... mungkin ada bagi seorang buruh lepas, wirausahawan? tapi ini bekerja dengan perusahaan pasti dan harus membutuhkan syarat.

Sebelum peristiwa pahit itu, kutahu ia sempat bercerita tentang kondisi pekerjaannya. Semula memang baik-baik saja, tapi endingnya ia dipecat. Gugur tugas dan harus mencari nafkah di tempat lain.
Aku sempat tidak pernah mengerti dengan para atasan. Entah itu majikan, bos, manager dan direktur. Tapi yang pasti rasa kehadiran mereka adalah memegang amanat yang cukup kuat dalam pekerjaan.
Awalnya teman adikku bernama A** sering bercerita bosnya yang sudah mulai mengajak untuk taklim/ kajian. Respon positif dong kalau ada atasan mengajak kebaikan. Tapi satu hal yang aneh sebelum mengajaknya adalah membicarakan sesuatu yang menyeramkan. Membandingkan-bandingkan golongan islam lain dan islam lainnya. Ya, sampai sekarang kita tahu Negara Indonesia banyak sekali menganut agama islam yang dilandasi dengan pilihannnya masing-masing. Berbeda harakoh itu wajar, yang tidak wajar adalah mengkafirkan dan merasa sok benar ini dan ini.

Kuyakin semua tidak lain dari upaya mengajak (dakwah). 
Tapi anehnya, sikap bosnya yang mengaku pengajiannya yang baik tidak dilandasi dengan ahlakul karimah. Melainkan sikap yang terkesan egois. 
Mendadak memecat karyawannya usai lebaran. Alasannya klise, kamu pendidikan SMA, kita butuh yang D3. 
Oh? Begitukah? Bukankah dari dulu dia sudah lama menjadi karyawan di situ? Dengan pendidikan yang sesuai standar yang diharapkan?
mmm.. mungkin ada alasan lain, tapi ya sudahlah. 
Padahal pekerjaannya itu tidak seberat pikiran orang kuliah yang harus mengejar title D3, dan bisa dikerjakan oleh lulusan SMA.
Finally, sadar ambil pikiran positif saja. Tidak semua orang yang memiliki kekuasaan itu berhati mulia. 
Kisah ini membuatnya sedih, dan menyadari kalau pekerjaan harus dicari cepat.
Belum terlambat, daftar lowongan kerja tertera pada Koran lokal. Memilah dan memilih dengan baik dan mencoba datang langsung ke TKP. Tapi Allah belum berkehendak, alamat yang dituju nihil tak ada di tempat alias palsu. Alamat palsu.
Belum lagi kabar ayahmu sakit keras dan harus dilarikan ke rumah sakit lagi karena penyakitnya kambuh.

Bersabarlah hati, 
Saat kamu mengalami keputusaan itu jauh lebih menakutkan.  
Ketika Allah sedang mengujimu dengan pemecatan dan ditipu orang ini belum seberapa yang lebih sulit. Ambil hikmahnya kawan.
Ini bukan soal kegagalan dan kekalahan tapi ini soal awal. Awal dan mengawali sebuah cerita baru lagi.
Perjuangan baru akan dimulai, bukalah kelopak matamu, lihat awan yang cerah. Di sana masih ada harapan yang tak sia-sia. 

Ini bukan titik henti, barangkali ada kesempatan yang sedang menunggumu mengawali dan mengakhiri ini semua dengan senyuman. 


Beberapa Kata Kata Romantis dalam Bahasa Arab



Bismillah
Beberapa tahun yang lalu saudari saya menulis status di FB bgini: “Everything sound so romantic in Portuguese” “..segalanya terdengar romantiss dalam bahasa Portugis..” Bagaimana dengan Bahasa tercinta kita bahasa arab? ternyata sama sekali gak kalah lho.. Setidaknya ada hampir 60 kata dalam bahasa arab yang merupakan sinonim dari kata al-hubb (cinta). Beberapa yang mungkin familiar kita dengar misalnya, al-hawaa (kecenderungan hati), al-‘isyq (kasmaran), as-syauq (rindu), al-junuun (yang membuat gila), al-khullah (kekasih) dan banyak lagi [1]. Apalagi jika diantara kata kata cinta itu terselip doa tulus kepada sang terkasih. Whuih.. Bukankah tali iman yang terkuat adalah (berkasih sayang) karena Allah?!

Beberapa contoh kalimat yang bisa diucapkan oleh wanita (kepada orang yang telah dihalalkan, tentunya) disalin dari bukunya Dr. Najla’ As-Sayyid Nayil [2]:
زَوْجَتِي أَنْتِ حَبِيْبَتِي أَنْتِ
ZAUJATI (ISTRIKU) ENGKAULAH KEKASIHKU…

أُحِبُّكِ مِثْلَمَا أَنْتِ ………..أُحِبُّكِ كَيْفَمَا كُنْتِ
Istriku…, aku mencintaimu apa adanya dirimu…aku mencintaimu bagaimanapun juga kondisimu

وَمَهْمَا كَانَ مَهْمَا صَارَ …أَنْتِ حَبِيْبَتِي أَنِت ..
Apapun yang terjadi engkau tetaplah kekasihku

زَوْجَتِي …أَنْتِ حَبِيْبَتِي أَنْتِ ..
Istriku…, engkaulah kasih dan cintaku

حَلاَلِي أَنْتِ لاَ أَخْشَى عَذُوْلاً هَمُّهُ مَقْتِي….لَقَدْ أَذِنَ الزَّمَانُ لَنَا بِوَصْلٍ غَيْرِ مُنْبَتِّ
Kekasihku aku tidak pernah khawatir dirimu adalah seorang istri yang hobinya hanya memarahiku…
Sungguh zaman telah mengizinkan kita untuk bersatu dengan sambungan yang tidak terputuskan…


سَقَيْتِ الْحُبَّ فِى قَلْبِي بِحُسْنِ الْفَعْلِ وَالسَّمْتِ….يَغِيْبُ السَّعْدُ إِنْ غِبْتِ وَيَصْفُو الْعَيْشُ إِنْ جِئْت
Engkau menyiram hatiku dengan indahnya akhlak dan perangaimu…
Sungguh kebahagiaan sirna tatkala engkau pergi dan kehidupan menjadi indah jika engkau datang….


نَهَارِي كَادِحٌ حَتَّى إِذَا مَا عُدْتُ لِلْبَيْتِ…لَقِيْتُكِ فَانْجَلَى عَنِّي ضَنَايَ إِذَا تَبَسَّمْتِ ..
Siang hariku terasa kacau hingga tatkala aku kembali ke rumah..
dan tatkala melihatmu maka dengan senyumanmu sirnalah semua gundah gulana dan kegelisahanku…


أُحِبُّكِ مِثْلَمَا أَنْتِ …أُحِبُّكِ كَيْفَمَا كُنْتِ
Istriku…, aku mencintaimu apa adanya dirimu…aku mencintaimu bagaimanapun juga kondisimu


تَضِيْقُ بِيَ الْحَيَاةُ إِذَا بِهَا يَوْماً تَبَرَّمْتِ …فَأَسْعَى جَاهِداً حَتَّى أُحَقِّقَ مَا تَمَنَّيْتِ
Terasa sempit kehidupan ini jika sehari saja engkau gelisah …
Maka aku akan berusaha untuk bisa mewujudkan impianmu


هَنَائِي أَنْتِ فَلْتَهْنِئي بِدِفْءِ الْحُبِّ مَا عِشْتِ ….فَرُوْحَانَا قَدِ ائْتَلَفَا كَمِثْلِ الْأَرْضِ وَالنَّبَتِ
Kebahagiaanku adalah engkau maka berbahagialah engkau dengan hangatnya cintaku selama hidupmu…
Maka sungguh kedua ruh kita telah bersatu sebagaimana bersatunya tanah dan tanaman…


فَيَا أَمَلِي وَيَا سَكَنِي وَيَا أُنْسِي وَمُلْهِمَتِي ….يَطِيْبُ الْعَيْشُ مَهْمَا ضَاقَتِ الْأَيَّامُ إِنْ طِبْتِ
Wahai harapanku…wahai ketenanganku…wahai ketentramanku dan pemberi ilham dalam hidupku…
Kehidupanku menjadi indah meskipun bagaimanapun sulitnya hari-hari jika engkau baik
————————————————————————————-

Sumber :
Oleh Uztad Firanda
http://irilaslogo.wordpress.com/2012/09/14/beberapa-kata-kata-romantis-dalam-bahasa-arab/



Cek, aku butuh semua ini.. meski masih single :P



Bismillah
Beberapa tahun yang lalu saudari saya menulis status di FB bgini: “Everything sound so romantic in Portuguese” “..segalanya terdengar romantiss dalam bahasa Portugis..” Bagaimana dengan Bahasa tercinta kita bahasa arab? ternyata sama sekali gak kalah lho.. Setidaknya ada hampir 60 kata dalam bahasa arab yang merupakan sinonim dari kata al-hubb (cinta). Beberapa yang mungkin familiar kita dengar misalnya, al-hawaa (kecenderungan hati), al-‘isyq (kasmaran), as-syauq (rindu), al-junuun (yang membuat gila), al-khullah (kekasih) dan banyak lagi [1]. Apalagi jika diantara kata kata cinta itu terselip doa tulus kepada sang terkasih. Whuih.. Bukankah tali iman yang terkuat adalah (berkasih sayang) karena Allah?!

Beberapa contoh kalimat yang bisa diucapkan oleh wanita (kepada orang yang telah dihalalkan, tentunya) disalin dari bukunya Dr. Najla’ As-Sayyid Nayil [2]:
زَوْجَتِي أَنْتِ حَبِيْبَتِي أَنْتِ
ZAUJATI (ISTRIKU) ENGKAULAH KEKASIHKU…

أُحِبُّكِ مِثْلَمَا أَنْتِ ………..أُحِبُّكِ كَيْفَمَا كُنْتِ
Istriku…, aku mencintaimu apa adanya dirimu…aku mencintaimu bagaimanapun juga kondisimu

وَمَهْمَا كَانَ مَهْمَا صَارَ …أَنْتِ حَبِيْبَتِي أَنِت ..
Apapun yang terjadi engkau tetaplah kekasihku

زَوْجَتِي …أَنْتِ حَبِيْبَتِي أَنْتِ ..
Istriku…, engkaulah kasih dan cintaku

حَلاَلِي أَنْتِ لاَ أَخْشَى عَذُوْلاً هَمُّهُ مَقْتِي….لَقَدْ أَذِنَ الزَّمَانُ لَنَا بِوَصْلٍ غَيْرِ مُنْبَتِّ
Kekasihku aku tidak pernah khawatir dirimu adalah seorang istri yang hobinya hanya memarahiku…
Sungguh zaman telah mengizinkan kita untuk bersatu dengan sambungan yang tidak terputuskan…


سَقَيْتِ الْحُبَّ فِى قَلْبِي بِحُسْنِ الْفَعْلِ وَالسَّمْتِ….يَغِيْبُ السَّعْدُ إِنْ غِبْتِ وَيَصْفُو الْعَيْشُ إِنْ جِئْت
Engkau menyiram hatiku dengan indahnya akhlak dan perangaimu…
Sungguh kebahagiaan sirna tatkala engkau pergi dan kehidupan menjadi indah jika engkau datang….


نَهَارِي كَادِحٌ حَتَّى إِذَا مَا عُدْتُ لِلْبَيْتِ…لَقِيْتُكِ فَانْجَلَى عَنِّي ضَنَايَ إِذَا تَبَسَّمْتِ ..
Siang hariku terasa kacau hingga tatkala aku kembali ke rumah..
dan tatkala melihatmu maka dengan senyumanmu sirnalah semua gundah gulana dan kegelisahanku…


أُحِبُّكِ مِثْلَمَا أَنْتِ …أُحِبُّكِ كَيْفَمَا كُنْتِ
Istriku…, aku mencintaimu apa adanya dirimu…aku mencintaimu bagaimanapun juga kondisimu


تَضِيْقُ بِيَ الْحَيَاةُ إِذَا بِهَا يَوْماً تَبَرَّمْتِ …فَأَسْعَى جَاهِداً حَتَّى أُحَقِّقَ مَا تَمَنَّيْتِ
Terasa sempit kehidupan ini jika sehari saja engkau gelisah …
Maka aku akan berusaha untuk bisa mewujudkan impianmu


هَنَائِي أَنْتِ فَلْتَهْنِئي بِدِفْءِ الْحُبِّ مَا عِشْتِ ….فَرُوْحَانَا قَدِ ائْتَلَفَا كَمِثْلِ الْأَرْضِ وَالنَّبَتِ
Kebahagiaanku adalah engkau maka berbahagialah engkau dengan hangatnya cintaku selama hidupmu…
Maka sungguh kedua ruh kita telah bersatu sebagaimana bersatunya tanah dan tanaman…


فَيَا أَمَلِي وَيَا سَكَنِي وَيَا أُنْسِي وَمُلْهِمَتِي ….يَطِيْبُ الْعَيْشُ مَهْمَا ضَاقَتِ الْأَيَّامُ إِنْ طِبْتِ
Wahai harapanku…wahai ketenanganku…wahai ketentramanku dan pemberi ilham dalam hidupku…
Kehidupanku menjadi indah meskipun bagaimanapun sulitnya hari-hari jika engkau baik
————————————————————————————-

Sumber :
Oleh Uztad Firanda
http://irilaslogo.wordpress.com/2012/09/14/beberapa-kata-kata-romantis-dalam-bahasa-arab/



Cek, aku butuh semua ini.. meski masih single :P

Tak ingin daun berserak

Bertemanlah kawan.
Teman, cukup sudahi sindiranmu

Dear, seseorang...
gak seharusnya curhat itu lewat fb benar? ah retoris sekali pernyataanku.
Tak ada yang ingin melihat daun berserak, daun berserak itu selalu dibersihkan lalu dibuang pada tong sampah.
sama halnya denganku. masalah hidup hanya ada dalam satu tempat bernama hati. tak perlu kau sebar melalui virus internet. Apalagi untuk konsumsi publik.
Kita bukan artis, kita bukan fenomena infotainment yang sembarangan buang daun hingga daun itu bertebangan.
Meskipun ku mengenalmu hanya sebatas teman biasa, bukan karena kita satu harokah atau beda harokah. Kau masih muda atau labil. 
Inilah masa menghargai. 
Kuharap dengar dan tenang. Meski dalam pertemanan selalu ada perselisihan kecil. Tapi ingat, sampaikan apa yang membuatmu benci dan merasa tindakanku bodoh. Katakanlah pada seseorang yang bersangkutan, bukan sembunyi tangan lempar batu dari belakang. 

“Teman-teman dekat pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)

“Perumpamaan teman yang saleh dengan teman yang buruk bagaikan penjual minyak wangi dengan pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, maka bisa jadi dia menghadiahkan parfumnya kepadamu atau kamu membeli darinya atau kamu akan mendapatkan bau wangi darinya. Sedangkan pandai besi, jika apinya tidak membakar bajumu maka kamu akan mendapatkan bau yang tidak sedap darinya.” (HR. Al-Bukhari no. 5534 dan Muslim no. 2628)

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Keadaan seseorang itu sangat terkait dengan agama teman dekatnya, karenanya hendaklah kalian melihat siapa yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud no. 4833, At-Tirmizi no. 2397, dan dinyatakan hasan olehnya)


Bertemanlah kawan.
Teman, cukup sudahi sindiranmu

Dear, seseorang...
gak seharusnya curhat itu lewat fb benar? ah retoris sekali pernyataanku.
Tak ada yang ingin melihat daun berserak, daun berserak itu selalu dibersihkan lalu dibuang pada tong sampah.
sama halnya denganku. masalah hidup hanya ada dalam satu tempat bernama hati. tak perlu kau sebar melalui virus internet. Apalagi untuk konsumsi publik.
Kita bukan artis, kita bukan fenomena infotainment yang sembarangan buang daun hingga daun itu bertebangan.
Meskipun ku mengenalmu hanya sebatas teman biasa, bukan karena kita satu harokah atau beda harokah. Kau masih muda atau labil. 
Inilah masa menghargai. 
Kuharap dengar dan tenang. Meski dalam pertemanan selalu ada perselisihan kecil. Tapi ingat, sampaikan apa yang membuatmu benci dan merasa tindakanku bodoh. Katakanlah pada seseorang yang bersangkutan, bukan sembunyi tangan lempar batu dari belakang. 

“Teman-teman dekat pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)

“Perumpamaan teman yang saleh dengan teman yang buruk bagaikan penjual minyak wangi dengan pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, maka bisa jadi dia menghadiahkan parfumnya kepadamu atau kamu membeli darinya atau kamu akan mendapatkan bau wangi darinya. Sedangkan pandai besi, jika apinya tidak membakar bajumu maka kamu akan mendapatkan bau yang tidak sedap darinya.” (HR. Al-Bukhari no. 5534 dan Muslim no. 2628)

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Keadaan seseorang itu sangat terkait dengan agama teman dekatnya, karenanya hendaklah kalian melihat siapa yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud no. 4833, At-Tirmizi no. 2397, dan dinyatakan hasan olehnya)


Cerita Lebaran




Seperti biasanya, tak ada yang beda di kampungku Desa Mejasem Barat RW 01, Setelah sholat Idul Fitri di lapangan di dekat Masjid Baitussalam kami senantiasa berkumpul di halaman masjid untuk saling berjabatan tangan. Biasanya sekitar pukul 8.30 Wib. 
Enaknya saya tak perlu mampir dari rumah ke rumah tetangga. Langsung ngumpul jadi satu. Hal ini tidak dilakukan di RW lainnya kecuali RWku deh. 
Senangnya ya. Tapi tetap untuk yang bukan mahrom ana tidak salaman. :)
Meski kadang ada yang aneh ngeliatin ana gak mau salaman. Ah masalah banget sih :) 

Tak ada yang berubah sebelum salam-salaman banyak sekali para wanita bertabaruj ria, berhijab dengan gayanya masing-masing. Warna-warni dengan baju baru. Hem... aku tetap saja memakai baju lama, karena masih bagus. Menurutku baju lebaran itu hanya tradisi yang terlalu melenakan hingga lupa ibadah utamanya. 
Aku malah memilih membeli baju kapanpun kalau kumau dengan menggunakan uang gajiku. Sebelum lebaran aku memang sudah membeli kain lalu kujahit ke penjahit saja ada beberapa gamis untuk harian. Aku tak pernah membedakan mana yang untuk pergi dan untuk di rumah, asal nyaman dan sesuai dengan kebaikan sunnah yakni menutup aurat ini dan ini.

Ada berita bahagia pula karena sebentar lagi banyak yang walimah, termasuk sahabatku. Entahlah aku kapan :D

Aneh juga temanku yang menyusui sembarangan tak puasa dan tak membayar fidyah, apalagi menggantinya. 
Ada yang tetangga yang membayar fidyah tapi tak dihitung sesuai ilmu syari. Haduh....
Padahal kalau membyar fidyah tak mampu ya lebih baik mengganti, ini boro-boro mengganti mencari tahu ilmunya saja tak mau. Susah jadi Islam tak berilmu ya. 

Ada cerita menarik pula, puasa Ramadhan kali ini aku senang tidak diberi halangan oleh Allah SWT, Qadarullah 29 hari full. Wah kok bisa? banyak yang bertanya-tanya.
Bisa dong, kalau sudah takdir Allah? saya tinggal menyibukkan diri puasa sunnah lainnya tak memikirkan membayar puasa. Alhamdulillah.

Selamat IDUL FITRI 1435 H, TAQABALLAHU MINNA WA MINKUM... 





Seperti biasanya, tak ada yang beda di kampungku Desa Mejasem Barat RW 01, Setelah sholat Idul Fitri di lapangan di dekat Masjid Baitussalam kami senantiasa berkumpul di halaman masjid untuk saling berjabatan tangan. Biasanya sekitar pukul 8.30 Wib. 
Enaknya saya tak perlu mampir dari rumah ke rumah tetangga. Langsung ngumpul jadi satu. Hal ini tidak dilakukan di RW lainnya kecuali RWku deh. 
Senangnya ya. Tapi tetap untuk yang bukan mahrom ana tidak salaman. :)
Meski kadang ada yang aneh ngeliatin ana gak mau salaman. Ah masalah banget sih :) 

Tak ada yang berubah sebelum salam-salaman banyak sekali para wanita bertabaruj ria, berhijab dengan gayanya masing-masing. Warna-warni dengan baju baru. Hem... aku tetap saja memakai baju lama, karena masih bagus. Menurutku baju lebaran itu hanya tradisi yang terlalu melenakan hingga lupa ibadah utamanya. 
Aku malah memilih membeli baju kapanpun kalau kumau dengan menggunakan uang gajiku. Sebelum lebaran aku memang sudah membeli kain lalu kujahit ke penjahit saja ada beberapa gamis untuk harian. Aku tak pernah membedakan mana yang untuk pergi dan untuk di rumah, asal nyaman dan sesuai dengan kebaikan sunnah yakni menutup aurat ini dan ini.

Ada berita bahagia pula karena sebentar lagi banyak yang walimah, termasuk sahabatku. Entahlah aku kapan :D

Aneh juga temanku yang menyusui sembarangan tak puasa dan tak membayar fidyah, apalagi menggantinya. 
Ada yang tetangga yang membayar fidyah tapi tak dihitung sesuai ilmu syari. Haduh....
Padahal kalau membyar fidyah tak mampu ya lebih baik mengganti, ini boro-boro mengganti mencari tahu ilmunya saja tak mau. Susah jadi Islam tak berilmu ya. 

Ada cerita menarik pula, puasa Ramadhan kali ini aku senang tidak diberi halangan oleh Allah SWT, Qadarullah 29 hari full. Wah kok bisa? banyak yang bertanya-tanya.
Bisa dong, kalau sudah takdir Allah? saya tinggal menyibukkan diri puasa sunnah lainnya tak memikirkan membayar puasa. Alhamdulillah.

Selamat IDUL FITRI 1435 H, TAQABALLAHU MINNA WA MINKUM... 


 
Catatan Cahaya Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template