Agar Anak Tak Hobi Jajan


Abu dan Ummu mungkin dibuat kewalahan menghadapi buah hati yang suka jajan. Jika memang benar demikian, jangan keburu menyalahkan anak dan orang lain. Sebab, bisa jadi Abu dan Ummu sendiri yang menyebabkan mereka gemar jajan!

Berdasarkan hasil survei Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada 2007, dari 4.500 sekolah di Indonesia ada 45% jajanan yang dijual di sekitar sekolah tercemar bahaya pangan mikrobiologis dan kimia. Bahaya utama berasal dari cemaran fisik mikrobiologi dan kimia seperti pewarna tekstil. Jenis jajanan berbahaya ini meliputi makanan utama, makanan ringan, dan minuman.

Peran orang tua
Jika ditelusuri, ternyata penyebab anak jajan boleh jadi adalah orang tua sendiri. Mungkin Anda bertanya-tanya, mengapa bisa begitu? Saat lahir, anak tidak mengenal kata jajan sampai ada beberapa tindakan orang tua yang akhirnya membuat anak mengenal kata itu dan menjadikannya kebiasaan.
Berikut ini, beberapa hal yang membuat anak “mengenal” jajan pada usia dini:
- Beberapa orang tua bila anak rewel akhirnya mengajak anak jajan untuk mendiamkan anak.
- Beberapa orang tua punya kebiasaan jajan yang akhirnya ditiru oleh anak.
- Orang tua sengaja mengajak anak jajan.
- Orang tua memberi jajanan yang berlebihan untuk bekal sekolah.

Jadi, sebenarnya jika keempat hal tersebut dihindari, anak tidak akan tahu tentang jajan. Ketika anak rewel, sebenarnya yang dia butuhkan adalah perhatian orang tua. Apabila anak rewel tersebut kita ajak bicara, kita dengarkan keluhannya, kita ajak bermain, kita ajak bercanda, kita ajak bercerita, anak tidak akan ingat lagi dengan jajan. Jadi, mulailah menghilangkan solusi jajan untuk mendiamkan anak sementara, tapi merusak mentalnya di masa depan menjadi anak yang konsumtif.

Bagaimana mencegahnya?
Untuk mencegah kebiasaan jajan anak, harus dimulai dari pola makan keluarga. Salah satu cara adalah membuat “kudapan tandingan” yang tidak kalah enak dari jajanan yang dapat dibeli di luar rumah.
Sebagai upaya preventif, anak harus dikenalkan pada pola makan sehat dan orangtua harus dapat dijadikan contoh atau panutan. Tidak ada gunanya melarang anak jajan kalau orangtuanya juga sering jajan dengan alasan tidak sempat memasak karena kesibukannya.

Selain itu, sebagai upaya kuratif, Abu dan Ummu harus dapat menata kegiatan makan, membuat camilan bersama dengan anak, dan memperkenalkan anak pada berbagai jenis makanan. Abu dan Ummu juga harus bertindak tegas terhadap kebiasaan kurang baik itu. Bertindak tegas bukan berarti harus dengan cara kekerasan membentak atau lainnya, tetapi anak dibatasi untuk jajan. kebiasaan jajan dapat mengurangi nafsu makan anak di rumah, apalagi makanan yang ia beli belum tentu bergizi dan sehat. Bahkan, meski masih balita biarkan anak menangis kalau mau minta jajan. Sampai menangis berguling-guling pun, biarkan dia. Ini sebagai pembelajaran.

Jajan boleh, asal…
Anak adalah peniru yang baik. Oleh karena itu, orang tua juga harus memperlihatkan contoh tidak jajan kepada anaknya. Apalagi sengaja mengajak anak jajan secara teratur, sehingga anak terbiasa jajan. Sebenarnya, jajan itu boleh. Tapi, ada beberapa syaratnya, yaitu :
1. Tidak untuk jadi satu kebiasaan (hanya sesekali)
2. Tidak berlebihan
3. Pilih jajanan yang sehat

Selain itu, akan lebih baik, bila konsep hemat itu tertanam pada diri anak. Ketika dia memilih jajanan untuk bekal sekolahnya, sebaiknya diberi batasan jumlah uang. Hal ini, membuat anak berpikir bahwa jumlah uang ada batasnya.

Baiklah Abu dan Ummu, sebagai penutup bersabarlah untuk konsisten dalam hal ini, karena betapa besar penghematan yang orang tua akan dapatkan karena memiliki anak yang shalih, yang tidak hobi jajan. (***)

Sumber gambar : Google
sumber artikel : Majalah Sakinah

Abu dan Ummu mungkin dibuat kewalahan menghadapi buah hati yang suka jajan. Jika memang benar demikian, jangan keburu menyalahkan anak dan orang lain. Sebab, bisa jadi Abu dan Ummu sendiri yang menyebabkan mereka gemar jajan!

Berdasarkan hasil survei Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada 2007, dari 4.500 sekolah di Indonesia ada 45% jajanan yang dijual di sekitar sekolah tercemar bahaya pangan mikrobiologis dan kimia. Bahaya utama berasal dari cemaran fisik mikrobiologi dan kimia seperti pewarna tekstil. Jenis jajanan berbahaya ini meliputi makanan utama, makanan ringan, dan minuman.

Peran orang tua
Jika ditelusuri, ternyata penyebab anak jajan boleh jadi adalah orang tua sendiri. Mungkin Anda bertanya-tanya, mengapa bisa begitu? Saat lahir, anak tidak mengenal kata jajan sampai ada beberapa tindakan orang tua yang akhirnya membuat anak mengenal kata itu dan menjadikannya kebiasaan.
Berikut ini, beberapa hal yang membuat anak “mengenal” jajan pada usia dini:
- Beberapa orang tua bila anak rewel akhirnya mengajak anak jajan untuk mendiamkan anak.
- Beberapa orang tua punya kebiasaan jajan yang akhirnya ditiru oleh anak.
- Orang tua sengaja mengajak anak jajan.
- Orang tua memberi jajanan yang berlebihan untuk bekal sekolah.

Jadi, sebenarnya jika keempat hal tersebut dihindari, anak tidak akan tahu tentang jajan. Ketika anak rewel, sebenarnya yang dia butuhkan adalah perhatian orang tua. Apabila anak rewel tersebut kita ajak bicara, kita dengarkan keluhannya, kita ajak bermain, kita ajak bercanda, kita ajak bercerita, anak tidak akan ingat lagi dengan jajan. Jadi, mulailah menghilangkan solusi jajan untuk mendiamkan anak sementara, tapi merusak mentalnya di masa depan menjadi anak yang konsumtif.

Bagaimana mencegahnya?
Untuk mencegah kebiasaan jajan anak, harus dimulai dari pola makan keluarga. Salah satu cara adalah membuat “kudapan tandingan” yang tidak kalah enak dari jajanan yang dapat dibeli di luar rumah.
Sebagai upaya preventif, anak harus dikenalkan pada pola makan sehat dan orangtua harus dapat dijadikan contoh atau panutan. Tidak ada gunanya melarang anak jajan kalau orangtuanya juga sering jajan dengan alasan tidak sempat memasak karena kesibukannya.

Selain itu, sebagai upaya kuratif, Abu dan Ummu harus dapat menata kegiatan makan, membuat camilan bersama dengan anak, dan memperkenalkan anak pada berbagai jenis makanan. Abu dan Ummu juga harus bertindak tegas terhadap kebiasaan kurang baik itu. Bertindak tegas bukan berarti harus dengan cara kekerasan membentak atau lainnya, tetapi anak dibatasi untuk jajan. kebiasaan jajan dapat mengurangi nafsu makan anak di rumah, apalagi makanan yang ia beli belum tentu bergizi dan sehat. Bahkan, meski masih balita biarkan anak menangis kalau mau minta jajan. Sampai menangis berguling-guling pun, biarkan dia. Ini sebagai pembelajaran.

Jajan boleh, asal…
Anak adalah peniru yang baik. Oleh karena itu, orang tua juga harus memperlihatkan contoh tidak jajan kepada anaknya. Apalagi sengaja mengajak anak jajan secara teratur, sehingga anak terbiasa jajan. Sebenarnya, jajan itu boleh. Tapi, ada beberapa syaratnya, yaitu :
1. Tidak untuk jadi satu kebiasaan (hanya sesekali)
2. Tidak berlebihan
3. Pilih jajanan yang sehat

Selain itu, akan lebih baik, bila konsep hemat itu tertanam pada diri anak. Ketika dia memilih jajanan untuk bekal sekolahnya, sebaiknya diberi batasan jumlah uang. Hal ini, membuat anak berpikir bahwa jumlah uang ada batasnya.

Baiklah Abu dan Ummu, sebagai penutup bersabarlah untuk konsisten dalam hal ini, karena betapa besar penghematan yang orang tua akan dapatkan karena memiliki anak yang shalih, yang tidak hobi jajan. (***)

Sumber gambar : Google
sumber artikel : Majalah Sakinah

ISTIQOMAH HATI DAN LISAN

Yuk Istiqomah
Tak ada alasan untuk tidak istiqomah yah. Pertama kali mengenal kata istiqomah kita harus benar-benar tahu artinya dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari secara terus menerus.
Karena pada hakikatnya istiqomah itu mengandung dua unsur
Komitmen dan konsisten. 
Menurut bahasa artinya adalah al-I’tidal (lurus). Dikatakan aqamasyu syai-a was taqama artinya lurus dan mapan. Sedangkan menurut syari’at, istiqomah adalah meniti jalan lurus. Yaitu agama yang lurus (ISLAM) tanpa menyimpang ke kanan atau ke kiri. 

Berapa banyak kita memohon kepada Allah agar kita senantiasa istiqomah?
Pada surat Al-fatihah surat pembuka plus wajib. Banyak kalau dihitung sholat wajibnya 5 waktu dikalian berapa rokaat. Hitung deh sendiri. Alangkah bahagianya kalau kita bisa sadar cepat.
Komitmen dan konsiten harus dijaga melalui sikap dan perbuatan lebih tepatnya istiqomah hati dan lisan. 

Istiqomah hati 

Hati dan Lisan 
Selalu berkesinambungan 
Salah niat akan salah tujuan 
Istiqomah hati (Annurshah)

Diam lebih baik daripada berbicara atau berprasangka buruk. Tapi diamnya di sini hati kita terjaga dan mampu berbicara menegakkan kebenaran. Dan berpesanlah dengan kebenaran dan berpesanlah dalam kesabaran. Seusai qur'an Al-Asr ayat 3.

Hati adalah bagian tubuh yang paling penting. Seorang hamba hendaknya berusaha dengan sungguh-sungguh agar hatinya tetap istiqomah. Karena hati adalah RAJA bagi seluruh anggota tubuhnya, yang lainnya adalah PASUKAN. Jika Raja istiqomah, maka pasukan dan rakyatnya juga mematuhi istiqomah. Cek kebenaran melalui pikiran! Jika hati istiqomah, maka seluruh anggota tubuhnya pun In sya Allah akan ikut istiqomah. 

Istiqomah Lisan
a. Hindari Ghibah 
Ghibah sama dengan memakan bangkai saudaranya. Ih, jijik… kita kan bukan kanibal.
Bahkan disinggung Allah dalam Al-quran:
"Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti kalian membencinya. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih". [Al Hujurat :12]

b. Hindari Tontonan Gosip dan Lawakan.
Gosip sama saja ghibah apalagi ditambah fitnah kalau beritanya bukan tentang kebenaran. Nah, berapa lama dan seberapa sukanya para perempuan terutama mulai kepo tentang artis? 
Lawakan apalagi. Kalau salah ceplas ceplos terus kamu tertawa seakan enak merendahkan harga diri manusia buat olok-olokan. Hemm.. ini lebih parah lho.
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra': 36)

c. Hindari Debat Kusir. 
“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah keluar sedangkan mereka (sebagian shahabat-pent.) sedang berselisih tentang taqdir, maka memerahlah wajah beliau bagaikan merahnya buah rumman karena marah, maka beliau bersabda : “Apakah dengan ini kalian diperintah?! Atau untuk inikah kalian diciptakan?! Kalian membenturkan sebagian Al-Qur’an dengan sebagiannya!! Karena inilah umat-umat sebelum kalian binasa”.
Bahkan telah datang hadits (yang menyatakan) bahwa perdebatan adalah termasuk dari siksaan Allah kepada sebuah ummat.

Debat yang menyesatkan / tercela harus dihindari.

KECUALI DEBAT SYAR’I
Contoh-Contoh Perdebatan Syar’i:

Allah Ta’ala mengkhabarkan tentang perdebatan Ibrahim ‘alaihis shalatu wassalam melawan kaumnya dan (juga) Musa ‘alaihis shalatu wassalam melawan Fir’aun.
Dan dalam As-Sunnah disebutkan tentang perdebatan antara Adam dan Musa ‘alaihimas shalatu wassalam. Dan telah dinukil dari salafus shaleh banyak perdebatan yang semuanya termasuk perdebatan yang terpuji yang terpenuhi di dalamnya (syarat-syarat berikut) :
1.    Ilmu (tentang masalah yang diperdebatkan-pent.).
2.    Niat (yang baik-pent.).
3.    Mutaba’ah.
4.    Adab dalam perdebatan.


Istiqomah adalah konsisten yang takkan pernah tergoyahkan. Annurshah

Annurshah 

Yuk Istiqomah
Tak ada alasan untuk tidak istiqomah yah. Pertama kali mengenal kata istiqomah kita harus benar-benar tahu artinya dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari secara terus menerus.
Karena pada hakikatnya istiqomah itu mengandung dua unsur
Komitmen dan konsisten. 
Menurut bahasa artinya adalah al-I’tidal (lurus). Dikatakan aqamasyu syai-a was taqama artinya lurus dan mapan. Sedangkan menurut syari’at, istiqomah adalah meniti jalan lurus. Yaitu agama yang lurus (ISLAM) tanpa menyimpang ke kanan atau ke kiri. 

Berapa banyak kita memohon kepada Allah agar kita senantiasa istiqomah?
Pada surat Al-fatihah surat pembuka plus wajib. Banyak kalau dihitung sholat wajibnya 5 waktu dikalian berapa rokaat. Hitung deh sendiri. Alangkah bahagianya kalau kita bisa sadar cepat.
Komitmen dan konsiten harus dijaga melalui sikap dan perbuatan lebih tepatnya istiqomah hati dan lisan. 

Istiqomah hati 

Hati dan Lisan 
Selalu berkesinambungan 
Salah niat akan salah tujuan 
Istiqomah hati (Annurshah)

Diam lebih baik daripada berbicara atau berprasangka buruk. Tapi diamnya di sini hati kita terjaga dan mampu berbicara menegakkan kebenaran. Dan berpesanlah dengan kebenaran dan berpesanlah dalam kesabaran. Seusai qur'an Al-Asr ayat 3.

Hati adalah bagian tubuh yang paling penting. Seorang hamba hendaknya berusaha dengan sungguh-sungguh agar hatinya tetap istiqomah. Karena hati adalah RAJA bagi seluruh anggota tubuhnya, yang lainnya adalah PASUKAN. Jika Raja istiqomah, maka pasukan dan rakyatnya juga mematuhi istiqomah. Cek kebenaran melalui pikiran! Jika hati istiqomah, maka seluruh anggota tubuhnya pun In sya Allah akan ikut istiqomah. 

Istiqomah Lisan
a. Hindari Ghibah 
Ghibah sama dengan memakan bangkai saudaranya. Ih, jijik… kita kan bukan kanibal.
Bahkan disinggung Allah dalam Al-quran:
"Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti kalian membencinya. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih". [Al Hujurat :12]

b. Hindari Tontonan Gosip dan Lawakan.
Gosip sama saja ghibah apalagi ditambah fitnah kalau beritanya bukan tentang kebenaran. Nah, berapa lama dan seberapa sukanya para perempuan terutama mulai kepo tentang artis? 
Lawakan apalagi. Kalau salah ceplas ceplos terus kamu tertawa seakan enak merendahkan harga diri manusia buat olok-olokan. Hemm.. ini lebih parah lho.
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra': 36)

c. Hindari Debat Kusir. 
“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah keluar sedangkan mereka (sebagian shahabat-pent.) sedang berselisih tentang taqdir, maka memerahlah wajah beliau bagaikan merahnya buah rumman karena marah, maka beliau bersabda : “Apakah dengan ini kalian diperintah?! Atau untuk inikah kalian diciptakan?! Kalian membenturkan sebagian Al-Qur’an dengan sebagiannya!! Karena inilah umat-umat sebelum kalian binasa”.
Bahkan telah datang hadits (yang menyatakan) bahwa perdebatan adalah termasuk dari siksaan Allah kepada sebuah ummat.

Debat yang menyesatkan / tercela harus dihindari.

KECUALI DEBAT SYAR’I
Contoh-Contoh Perdebatan Syar’i:

Allah Ta’ala mengkhabarkan tentang perdebatan Ibrahim ‘alaihis shalatu wassalam melawan kaumnya dan (juga) Musa ‘alaihis shalatu wassalam melawan Fir’aun.
Dan dalam As-Sunnah disebutkan tentang perdebatan antara Adam dan Musa ‘alaihimas shalatu wassalam. Dan telah dinukil dari salafus shaleh banyak perdebatan yang semuanya termasuk perdebatan yang terpuji yang terpenuhi di dalamnya (syarat-syarat berikut) :
1.    Ilmu (tentang masalah yang diperdebatkan-pent.).
2.    Niat (yang baik-pent.).
3.    Mutaba’ah.
4.    Adab dalam perdebatan.


Istiqomah adalah konsisten yang takkan pernah tergoyahkan. Annurshah

Annurshah 

5 Hal yang Boleh Tergesa-Gesa


Ada lima hal yang boleh segera atau tergesa-gesa dilakukan padahal asal tergesa-gesa adalah dari setan. Namun karena ini ada kebaikan, maka boleh tergesa-gesa atau meminta segera untuk dilakukan.
Dalam Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim Al Ashbahani disebutkan perkataan berikut ini dari Hatim Al Ashom,
“Ketergesa-gesaan biasa dikatakan dari setan kecuali dalam lima perkara:

1- Menyajikan makanan ketika ada tamu
ini harus dilakukan cepat. Tamu datang lalu kita memberi kode adik / kita sendiri masuk ke dapur untuk membuatkan minuman. Entah itu minuman sekedar air putih. Tidak perlu dipaksakan harus seadanya. Jangan sampai pinjam gula tetangga  :p
Nanti tamu bisa pergi duluan karena menunggu terlalu lama.
2- Mengurus mayit ketika ia mati
Disyariatkan untuk menyegerakan penguburan jenazah, jika memungkinkan. Tidak dibenarkan ika ada seorang muslim yang telah diketahui akan kematiannya lalu keluarganya menunda-nunda penguburannya hanya dengan alasan untuk menunggu keluarga atau kerabatnya yang belum datang, masih menunggu diotopsi, masih menantikan persiapan upacara adat atau tradisi dan lain sebagainya.  Hal tersebut sebagaimana tertera di dalam dalil berikut ini,

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Bersegeralah di dalam (mengurus) jenazah. Jika ia orang shalih maka kebaikanlah yang kalian persembahkan kepadanya, tetapi jika ia tidak seperti itu maka keburukanlah yang kalian letakkan dari atas pundak-pundak kalian”. [HR al-Bukhoriy: 1315, Muslim: 944, an-Nasa’iy: II: 42, Abu Dawud: 3181, Ibnu Majah: 1477 dan Ahmad: II/ 240, 280, 488. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. 

Hadits berikutnya. 
 Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Apabila jenazah diletakkan dan digotong oleh kaum pria di atas pundak-pundak mereka. Jika ia (yakni jenazah itu) orang shalih, maka ia berkata, segerakan aku!, segerakan aku!”. Jika ia tidak shalih, maka ia berkata, “Duhai celakalah aku, kemanakah gerangan kalian hendak membawaku?”. Segala sesuatu dapat mendengar perkataannya kecuali manusia, seandainya ia dapat mendengarnya niscaya ia akan pingsan. [HR an-Nasa’iy: IV/ 41, al-Bukhoriy: 1314, 1316, 1380 dan Ahmad: III/ 41, 58. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. 

3- Menikahkan seorang gadis jika sudah bertemu jodohnya
Menikahkan anak perempuan jika sudah berumur dan sudah ketemu jodohnya. Sebagai orangtua memiliki kewajiban untuk segera menikahkan anak-anaknya yang sudah berumur dan ketemu jodohnya.

4- Melunasi utang ketika sudah jatuh tempo
Membayar hutang kalau sudah jatuh tempo. Kalau sudah jatuh tempo, hutang kita harus segera dibayarkan. 
“Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah no. 2414. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

5- Segera bertaubat jika berbuat dosa. 
Taubat dari setiap dosa yang telah diperbuat. Kita diperintahkan untuk segera bertaubat atas dosa yang telah kita perbuat. Ketika kita berdosa, kita jangan santai, diam, slow atau apalah bahasanya sehingga kita lupa memohon ampun. Lama kelamaan, kalau dosa itu sudah menumpuk akan susah dihapus.  

Sumber tulisan : http://rumaysho.com
dan beberapa hadist tambahan  lainya.

Ada lima hal yang boleh segera atau tergesa-gesa dilakukan padahal asal tergesa-gesa adalah dari setan. Namun karena ini ada kebaikan, maka boleh tergesa-gesa atau meminta segera untuk dilakukan.
Dalam Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim Al Ashbahani disebutkan perkataan berikut ini dari Hatim Al Ashom,
“Ketergesa-gesaan biasa dikatakan dari setan kecuali dalam lima perkara:

1- Menyajikan makanan ketika ada tamu
ini harus dilakukan cepat. Tamu datang lalu kita memberi kode adik / kita sendiri masuk ke dapur untuk membuatkan minuman. Entah itu minuman sekedar air putih. Tidak perlu dipaksakan harus seadanya. Jangan sampai pinjam gula tetangga  :p
Nanti tamu bisa pergi duluan karena menunggu terlalu lama.
2- Mengurus mayit ketika ia mati
Disyariatkan untuk menyegerakan penguburan jenazah, jika memungkinkan. Tidak dibenarkan ika ada seorang muslim yang telah diketahui akan kematiannya lalu keluarganya menunda-nunda penguburannya hanya dengan alasan untuk menunggu keluarga atau kerabatnya yang belum datang, masih menunggu diotopsi, masih menantikan persiapan upacara adat atau tradisi dan lain sebagainya.  Hal tersebut sebagaimana tertera di dalam dalil berikut ini,

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Bersegeralah di dalam (mengurus) jenazah. Jika ia orang shalih maka kebaikanlah yang kalian persembahkan kepadanya, tetapi jika ia tidak seperti itu maka keburukanlah yang kalian letakkan dari atas pundak-pundak kalian”. [HR al-Bukhoriy: 1315, Muslim: 944, an-Nasa’iy: II: 42, Abu Dawud: 3181, Ibnu Majah: 1477 dan Ahmad: II/ 240, 280, 488. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. 

Hadits berikutnya. 
 Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Apabila jenazah diletakkan dan digotong oleh kaum pria di atas pundak-pundak mereka. Jika ia (yakni jenazah itu) orang shalih, maka ia berkata, segerakan aku!, segerakan aku!”. Jika ia tidak shalih, maka ia berkata, “Duhai celakalah aku, kemanakah gerangan kalian hendak membawaku?”. Segala sesuatu dapat mendengar perkataannya kecuali manusia, seandainya ia dapat mendengarnya niscaya ia akan pingsan. [HR an-Nasa’iy: IV/ 41, al-Bukhoriy: 1314, 1316, 1380 dan Ahmad: III/ 41, 58. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. 

3- Menikahkan seorang gadis jika sudah bertemu jodohnya
Menikahkan anak perempuan jika sudah berumur dan sudah ketemu jodohnya. Sebagai orangtua memiliki kewajiban untuk segera menikahkan anak-anaknya yang sudah berumur dan ketemu jodohnya.

4- Melunasi utang ketika sudah jatuh tempo
Membayar hutang kalau sudah jatuh tempo. Kalau sudah jatuh tempo, hutang kita harus segera dibayarkan. 
“Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah no. 2414. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

5- Segera bertaubat jika berbuat dosa. 
Taubat dari setiap dosa yang telah diperbuat. Kita diperintahkan untuk segera bertaubat atas dosa yang telah kita perbuat. Ketika kita berdosa, kita jangan santai, diam, slow atau apalah bahasanya sehingga kita lupa memohon ampun. Lama kelamaan, kalau dosa itu sudah menumpuk akan susah dihapus.  

Sumber tulisan : http://rumaysho.com
dan beberapa hadist tambahan  lainya.

JANGAN MENYALAHKAN!!


JANGAN MENYALAHKAN UNTUK YANG SUDAH MENIKAH



Ini bukan sekedar buat yang sudah menikah saja, melainkan yang masih single untuk calon istri atau suami.
Sebaiknya kita bisa menempatkan diri dalam berbicara. Perempuan shalihah terbiasa dan saya yakin ia akan menjaga hati dan lisan dengan baik.
Meskipun terkadang namanya permasalahan kecil dalam rumah tangga selalu hadir. Cobalah menjadi orang yang selalu bersikap dewasa saat berhadapan dengan para pasanganmu.
Tapi kata-kata yang akan terucap jika saat keputusan sang suami/istrimusalah dan tak mau menerima tanpa musyawarah, kita jangan dongkol atau lebay. Marah-marah tak jelas lalu mengambek dan cerewet ngomel-ngomel sampai suami/istri stress dengar celotehan kita.
Syaratnya satu, mau menerima kekurangan dan kesalahan-kesalahannya. Kesalahannya tanpa musyawarah atau sudah musyawarah terlebih dahulu harus dimaklumi.

Contoh 
“Bi, dompetku hilang di pasar. Pas mau bayar belanjaan udah gak ada di kantong! Hiks”
Suami menjawab dengan kesal. 
“Kamu dibilangin ngeyel. Salahmu sendiri, disuruh bawa tas slempang buat naruh dompet malah taruh dikantong. Kan bisa jadi jatuh tuh dompet!”
“Abang bukannya bantuin aku nyari ke pasar. Malah marahin aku! Biasanya juga gak papa kok!”
Ributlah.

Contoh yang baik.
Ganti dengan kalimat yang baik ketika istri panik.
“Umi, kan abi sudah bilang jangan taruh dikantong barangkali saja jatuh. Namanya kesenggol orang dipasar kan banyak. Yasudah lain kali dengerin abi ya? Yuk kita cari lagi ke pasar. 

Contoh lagi yang sering menyalahkan.
“Ini semua gara-gara abang! Coba abang kasih aku seratus ribu, gak bakalan aku sampai pinjem tetangga. Sekarang mana tetangganya yang dipinjemin duit ketus lagi sama aku!”

Ini ada kutipan menarik dari sebuah buku sebenarnya buku ini untuk remaja. Sudah lama sekali terbit. Penulisnya Ustad Burhan Shodiq. 
Dan saya merasa banyak belajar dari buku ini. Meski bacanya Cuma di googlereads. hehe...

Kalau cinta jangan katakan “Ini salahmu!” tapi “Maafkan aku ya?”Bukan “Kau di mana?!” melainkan “Aku di sini kenapa?”Tidak “Kok bisa sih kau begitu!” tapi “Aku ngerti”.Dan juga tidak “Coba, seandainya ka…” akan tetapi “Terima kasih ya, kau begitu…. .

Sebenarnya bukan berlaku untuk pasangan suami istri saja, melainkan dengan keluarga dan teman serta lingkungan sekitar. Karena bagaimanapun kita ini mahluk biasa yang harus banyak belajar dari kesalahan. 
Hal yang sering terjadi kecoplasan jaman SMA.

"Amii... minumnya tumpah." temanku berteriak.
"Oh iya, wah kamu Ti, bukannya bilang dari tadi"
Titi marah. "Bukannya bilang gimana? itu barusan aku bilang! aneh!"
Ribut deh....
"Minta maaf ya. minta maaf." Ami mulai merasa bersalah.
Titi tetap diam tak melirik. Berceloteh sendiri dengan kesal.

Sifat dan hati manusia itu berbeda-beda loh. Hati-hati ya dalam mengutarakan sesuatu. Salah ucap sedikit bisa jadi petaka. Cekcok tak ada penyelesaian. Egois ini harus dihindari. 

Salam Annurshah.

Lihat sini yuk kata-kata romantis dalam bahasa arab.


Gambar sumber google

JANGAN MENYALAHKAN UNTUK YANG SUDAH MENIKAH



Ini bukan sekedar buat yang sudah menikah saja, melainkan yang masih single untuk calon istri atau suami.
Sebaiknya kita bisa menempatkan diri dalam berbicara. Perempuan shalihah terbiasa dan saya yakin ia akan menjaga hati dan lisan dengan baik.
Meskipun terkadang namanya permasalahan kecil dalam rumah tangga selalu hadir. Cobalah menjadi orang yang selalu bersikap dewasa saat berhadapan dengan para pasanganmu.
Tapi kata-kata yang akan terucap jika saat keputusan sang suami/istrimusalah dan tak mau menerima tanpa musyawarah, kita jangan dongkol atau lebay. Marah-marah tak jelas lalu mengambek dan cerewet ngomel-ngomel sampai suami/istri stress dengar celotehan kita.
Syaratnya satu, mau menerima kekurangan dan kesalahan-kesalahannya. Kesalahannya tanpa musyawarah atau sudah musyawarah terlebih dahulu harus dimaklumi.

Contoh 
“Bi, dompetku hilang di pasar. Pas mau bayar belanjaan udah gak ada di kantong! Hiks”
Suami menjawab dengan kesal. 
“Kamu dibilangin ngeyel. Salahmu sendiri, disuruh bawa tas slempang buat naruh dompet malah taruh dikantong. Kan bisa jadi jatuh tuh dompet!”
“Abang bukannya bantuin aku nyari ke pasar. Malah marahin aku! Biasanya juga gak papa kok!”
Ributlah.

Contoh yang baik.
Ganti dengan kalimat yang baik ketika istri panik.
“Umi, kan abi sudah bilang jangan taruh dikantong barangkali saja jatuh. Namanya kesenggol orang dipasar kan banyak. Yasudah lain kali dengerin abi ya? Yuk kita cari lagi ke pasar. 

Contoh lagi yang sering menyalahkan.
“Ini semua gara-gara abang! Coba abang kasih aku seratus ribu, gak bakalan aku sampai pinjem tetangga. Sekarang mana tetangganya yang dipinjemin duit ketus lagi sama aku!”

Ini ada kutipan menarik dari sebuah buku sebenarnya buku ini untuk remaja. Sudah lama sekali terbit. Penulisnya Ustad Burhan Shodiq. 
Dan saya merasa banyak belajar dari buku ini. Meski bacanya Cuma di googlereads. hehe...

Kalau cinta jangan katakan “Ini salahmu!” tapi “Maafkan aku ya?”Bukan “Kau di mana?!” melainkan “Aku di sini kenapa?”Tidak “Kok bisa sih kau begitu!” tapi “Aku ngerti”.Dan juga tidak “Coba, seandainya ka…” akan tetapi “Terima kasih ya, kau begitu…. .

Sebenarnya bukan berlaku untuk pasangan suami istri saja, melainkan dengan keluarga dan teman serta lingkungan sekitar. Karena bagaimanapun kita ini mahluk biasa yang harus banyak belajar dari kesalahan. 
Hal yang sering terjadi kecoplasan jaman SMA.

"Amii... minumnya tumpah." temanku berteriak.
"Oh iya, wah kamu Ti, bukannya bilang dari tadi"
Titi marah. "Bukannya bilang gimana? itu barusan aku bilang! aneh!"
Ribut deh....
"Minta maaf ya. minta maaf." Ami mulai merasa bersalah.
Titi tetap diam tak melirik. Berceloteh sendiri dengan kesal.

Sifat dan hati manusia itu berbeda-beda loh. Hati-hati ya dalam mengutarakan sesuatu. Salah ucap sedikit bisa jadi petaka. Cekcok tak ada penyelesaian. Egois ini harus dihindari. 

Salam Annurshah.

Lihat sini yuk kata-kata romantis dalam bahasa arab.


Gambar sumber google

Antara Mir'ah dan Mar'ah




Beda tipis hanya “i’ dan “a”nya saja. 
Tapi hati-hati membacanya, artinya beda jauh. 
Yang satu Mir’ah artinya cermin dan “Mar’ah” artinya wanita atau perempuan. Akan tetapi perbedaan arti ini justru unik dan tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya antara mir’ah dan mar’ah. 

Di mana ada mar’ah in shaa Allah di situ harus ada mir’ah,.. kok bisa?? Ya… mar’ah dan mir’ah sangat terikat sekali. Tanpa mir’ah si “mar’ah” ini ga akan PEDE (percaya diri) keluar rumah atau bergaul dengan manusia. 

Saking terikatnya dengan ‘mir’ah si Mar’ah ini bisa berjam-jam memandangi mir’ah untuk mendapatkan kepercayaan dirinya atau mempercantik dirinya sehingga setelah yakin dengan lamanya ia memandangi si’mir’ah’ barulah si mar’ah ini berani keluar menemui manusia. Ironisnya… ya ironis sekali… jika Mar’ah kuat memandangi mir’ah berlama-lama atau berjam-jam lamanya.. tidak demikian ketika berhadapan dengan Sang pencipta hanya sesaat saja… kalau bisa sesingkat-singkatnya. 

Padahal justru kepadaNyalah mar’ah harus berlama-lama menghadapNya agar ia mendapatkan keindahan ruhani yang sangat mempengaruhi keindahan jasmaninya. Berapa banyak kita lihat wanita (mar’ah) biasa yang wajahnya biasa sekali tetapi karena di poles dengan kecantikan ruhani hasilnya justru ia lebih memikat hati kita daripada wanita yang sibuk mempercantik jasmaninya di depan cermin. Karena ruhaninya kosong tidak dipoles dengan adab dan akhlak islami. 

Wahai, mar atus shalihah (wanita shalihah) marilah kita sekarang berlama-lama menghadap Rabbal ‘Alamiin… agar Allah berkenan memberi kita kecantikan ruhani, kecantikan yang akan kita bawa mati… bekal kita menuju surga abadi… wallahu ‘alam bish-shawwab. 

Copyright by:Ummu Raihanah, Sydney Telah dibaca oleh Ustadzah Arfah di Mekkah **menghadap Rabbal ‘Alamiin: maksudnya adalah ketika shalat, shalatlah kita dengan lama dan khusyu’ dengan kehadiran hati dan merenungi Kebesaran Ilahi yang telah mengaruniai kita kenikmatan yang berlimpah pada diri kita yang lemah dan bodoh ini karena dari shalat yang lama dan khusyu’ efeknya luar biasa,.. mempengaruhi aktifitas kita sehari-hari.Banyak pertolongan Allah akan muncul di saat mendesak tanpa kita sadari.

 **
Baca postingan itu saya sebagai seorang muslimah merasa.... sadar diri. Untuk apa ya saya tak memperlama waktu ibadah saya. Waktu yang luar biasa tercipta untuk manusia agar bisa bercinta dengan Allah SWT dan merasakan adanya getaran cinta yang berbunga-bunga. 

Keep Istiqomah menjaga ahlak saya sebagai Mar'ah. 
Sebarkan copas juga boleh demi kebaikan :)

Sumber : Jilbab Online



Beda tipis hanya “i’ dan “a”nya saja. 
Tapi hati-hati membacanya, artinya beda jauh. 
Yang satu Mir’ah artinya cermin dan “Mar’ah” artinya wanita atau perempuan. Akan tetapi perbedaan arti ini justru unik dan tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya antara mir’ah dan mar’ah. 

Di mana ada mar’ah in shaa Allah di situ harus ada mir’ah,.. kok bisa?? Ya… mar’ah dan mir’ah sangat terikat sekali. Tanpa mir’ah si “mar’ah” ini ga akan PEDE (percaya diri) keluar rumah atau bergaul dengan manusia. 

Saking terikatnya dengan ‘mir’ah si Mar’ah ini bisa berjam-jam memandangi mir’ah untuk mendapatkan kepercayaan dirinya atau mempercantik dirinya sehingga setelah yakin dengan lamanya ia memandangi si’mir’ah’ barulah si mar’ah ini berani keluar menemui manusia. Ironisnya… ya ironis sekali… jika Mar’ah kuat memandangi mir’ah berlama-lama atau berjam-jam lamanya.. tidak demikian ketika berhadapan dengan Sang pencipta hanya sesaat saja… kalau bisa sesingkat-singkatnya. 

Padahal justru kepadaNyalah mar’ah harus berlama-lama menghadapNya agar ia mendapatkan keindahan ruhani yang sangat mempengaruhi keindahan jasmaninya. Berapa banyak kita lihat wanita (mar’ah) biasa yang wajahnya biasa sekali tetapi karena di poles dengan kecantikan ruhani hasilnya justru ia lebih memikat hati kita daripada wanita yang sibuk mempercantik jasmaninya di depan cermin. Karena ruhaninya kosong tidak dipoles dengan adab dan akhlak islami. 

Wahai, mar atus shalihah (wanita shalihah) marilah kita sekarang berlama-lama menghadap Rabbal ‘Alamiin… agar Allah berkenan memberi kita kecantikan ruhani, kecantikan yang akan kita bawa mati… bekal kita menuju surga abadi… wallahu ‘alam bish-shawwab. 

Copyright by:Ummu Raihanah, Sydney Telah dibaca oleh Ustadzah Arfah di Mekkah **menghadap Rabbal ‘Alamiin: maksudnya adalah ketika shalat, shalatlah kita dengan lama dan khusyu’ dengan kehadiran hati dan merenungi Kebesaran Ilahi yang telah mengaruniai kita kenikmatan yang berlimpah pada diri kita yang lemah dan bodoh ini karena dari shalat yang lama dan khusyu’ efeknya luar biasa,.. mempengaruhi aktifitas kita sehari-hari.Banyak pertolongan Allah akan muncul di saat mendesak tanpa kita sadari.

 **
Baca postingan itu saya sebagai seorang muslimah merasa.... sadar diri. Untuk apa ya saya tak memperlama waktu ibadah saya. Waktu yang luar biasa tercipta untuk manusia agar bisa bercinta dengan Allah SWT dan merasakan adanya getaran cinta yang berbunga-bunga. 

Keep Istiqomah menjaga ahlak saya sebagai Mar'ah. 
Sebarkan copas juga boleh demi kebaikan :)

Sumber : Jilbab Online

Mengubah Bentuk Ciptaan-Nya



Tadi pagi saya berleha-leha duduk santai. Biasanya banyak kerjaan. Entah menyapu atau mencuci baju. Tapi berhubung rumah sedang mau direhab saya merasa lebih baik menonton TV, siapa tahu ada tanyangan islami. 

Eh beneran ada di MNC. Hmm tak kuduga pembahasan mengerecut pada soal wanita. Lagi-lagi pembahasan yang tak kunjung usai. Nah, kali ini kulihat kok beda ya? Maaf tak mengikuti dari awal dan salurannya sangat buram dihinggapi semut-semut berisik hehehe..
Para dai akhwat kok pada diam, alias kalah sama si dari ikhwan. 

Tapi ditelisik lagi … saya nonton udah mau habis. Pembahasan tentang mengubah ciptaan manusia. Sesama dai nggak kompak rupanya… kalau dipikir-pikir kelihatannya ada yang gak sependapat. Lho? Mereka bukan ulama besar tapi yang pasti kesimpulannya diakhir tayangan emang udah fix. Kalau para dai dan daiyah udah nggak bisa sepaham dan sependapat atau kurang sedikit tidak sreg, bahasanya apa sih. Bingung, pasti jangan dibuat susah. Saya melihatnya mereka kok kayak berdebat ya? 
Padahal udah jelas hadistnya kalau saya percaya mengubah bentuk apapun untuk mempercantik dan menarik perhatian orang lain itu sama sajanya haram. 
Kecuali aib memang harus dihilangkan, kecelakaan dan lain-lain. Fix gampang kok. Iya gak? Mereka malah adu argument nyebutin hadist ini hadist itu, ayat ini ayat itu. 
Ada yang bilang gak masalah… wow kalau untuk mempercantik tidak apa ada yang kudengar. Semoga aku salah dengar sih. 


Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,
 “Allah melaknat tukang tato, orang yang ditato, al-mutanamishah, dan orang yang merenggangkan gigi, untuk kecantikan, yang mengubah ciptaan Allah.” (HR. Bukhari 4886, Muslim 2125, dan lainnya).

Makna Al-Mutanamishah

Al-Mutanamishah adalah para wanita yang minta dicukur bulu di wajahnya. Sedangkan wanita yang menjadi tukang cukurnya namanya An-Namishah. (Syarh Muslim An-Nawawi, 14/106).


An-Nawawi juga menegaskan, bahwa larangan dalam hadis ini tertuju untuk bulu alis,
 “Larangan tersebut adalah untuk alis dan ujung-ujung wajah..” (Sharh Shahih Muslim, 14/106).
Ibnul Atsir mengatakan,

 “An-Namsh adalah menipiskan bulu alis untuk tujuan kecantikan…”
Ibnul Allan mengatakan dalam Syarh Riyadhus Shalihin,

 “An-Namishah adalah wanita yang mencukur bulu alis wanita lain atau menipiskannya agar kelihatan lebih cantik. Sedangkan Al-Mutanamishah adalah wanita yang menyuruh orang lain untuk mencukur bulu alisnya.” (Dalil al-Falihin, 8:482).
"Allah melaknat wanita-wanita yang mencabut bulu, Allah melaknat orang yang menyambung rambut, dan yang minta disambung rambutnya"

Disebutkan dalam As-Shahih bahwa ada seorang wanita datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan mengatakan bahwa anaknya telah dinikahi oleh seorang laki-laki tapi kemudian rontok rambutnya. Wanita tersebut bertanya bolehkah anaknya menyambung rambut dengan rambut lain ? Lalu beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata.

لَعَنَ اللَّهُ الوَاصِلاَتِ وَالْمُسْتَوْ صِلاَتِ 
"Allah melaknat wanita yang menyambung rambut, dan yang minta disambung rambutnya"
Beberapa ulama yang mengarang kitab kumpulan dosa-dosa besar, seperti Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Al-Kabair, demikian pula Al-Haitami dalam kitabnya Az-Zawajir ‘an Irtikab Al-Kabair menyebutkan bahwa salah satu diantara dosa yang masuk daftar dosa besar adalah mencukur atau menipiskan bulu alis. Karena terdapat hadis yang menyebutkan bahwa Allah melaknat para wanita yang mencukur bulu asli di wajahnya, seperti bulu alis, meskipun itu untuk tujuan kecantikan.
Allahu a’lam

Saya sisipkan sumber dari konsultasi syariah.

sumber gambar : google


Tadi pagi saya berleha-leha duduk santai. Biasanya banyak kerjaan. Entah menyapu atau mencuci baju. Tapi berhubung rumah sedang mau direhab saya merasa lebih baik menonton TV, siapa tahu ada tanyangan islami. 

Eh beneran ada di MNC. Hmm tak kuduga pembahasan mengerecut pada soal wanita. Lagi-lagi pembahasan yang tak kunjung usai. Nah, kali ini kulihat kok beda ya? Maaf tak mengikuti dari awal dan salurannya sangat buram dihinggapi semut-semut berisik hehehe..
Para dai akhwat kok pada diam, alias kalah sama si dari ikhwan. 

Tapi ditelisik lagi … saya nonton udah mau habis. Pembahasan tentang mengubah ciptaan manusia. Sesama dai nggak kompak rupanya… kalau dipikir-pikir kelihatannya ada yang gak sependapat. Lho? Mereka bukan ulama besar tapi yang pasti kesimpulannya diakhir tayangan emang udah fix. Kalau para dai dan daiyah udah nggak bisa sepaham dan sependapat atau kurang sedikit tidak sreg, bahasanya apa sih. Bingung, pasti jangan dibuat susah. Saya melihatnya mereka kok kayak berdebat ya? 
Padahal udah jelas hadistnya kalau saya percaya mengubah bentuk apapun untuk mempercantik dan menarik perhatian orang lain itu sama sajanya haram. 
Kecuali aib memang harus dihilangkan, kecelakaan dan lain-lain. Fix gampang kok. Iya gak? Mereka malah adu argument nyebutin hadist ini hadist itu, ayat ini ayat itu. 
Ada yang bilang gak masalah… wow kalau untuk mempercantik tidak apa ada yang kudengar. Semoga aku salah dengar sih. 


Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,
 “Allah melaknat tukang tato, orang yang ditato, al-mutanamishah, dan orang yang merenggangkan gigi, untuk kecantikan, yang mengubah ciptaan Allah.” (HR. Bukhari 4886, Muslim 2125, dan lainnya).

Makna Al-Mutanamishah

Al-Mutanamishah adalah para wanita yang minta dicukur bulu di wajahnya. Sedangkan wanita yang menjadi tukang cukurnya namanya An-Namishah. (Syarh Muslim An-Nawawi, 14/106).


An-Nawawi juga menegaskan, bahwa larangan dalam hadis ini tertuju untuk bulu alis,
 “Larangan tersebut adalah untuk alis dan ujung-ujung wajah..” (Sharh Shahih Muslim, 14/106).
Ibnul Atsir mengatakan,

 “An-Namsh adalah menipiskan bulu alis untuk tujuan kecantikan…”
Ibnul Allan mengatakan dalam Syarh Riyadhus Shalihin,

 “An-Namishah adalah wanita yang mencukur bulu alis wanita lain atau menipiskannya agar kelihatan lebih cantik. Sedangkan Al-Mutanamishah adalah wanita yang menyuruh orang lain untuk mencukur bulu alisnya.” (Dalil al-Falihin, 8:482).
"Allah melaknat wanita-wanita yang mencabut bulu, Allah melaknat orang yang menyambung rambut, dan yang minta disambung rambutnya"

Disebutkan dalam As-Shahih bahwa ada seorang wanita datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan mengatakan bahwa anaknya telah dinikahi oleh seorang laki-laki tapi kemudian rontok rambutnya. Wanita tersebut bertanya bolehkah anaknya menyambung rambut dengan rambut lain ? Lalu beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata.

لَعَنَ اللَّهُ الوَاصِلاَتِ وَالْمُسْتَوْ صِلاَتِ 
"Allah melaknat wanita yang menyambung rambut, dan yang minta disambung rambutnya"
Beberapa ulama yang mengarang kitab kumpulan dosa-dosa besar, seperti Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Al-Kabair, demikian pula Al-Haitami dalam kitabnya Az-Zawajir ‘an Irtikab Al-Kabair menyebutkan bahwa salah satu diantara dosa yang masuk daftar dosa besar adalah mencukur atau menipiskan bulu alis. Karena terdapat hadis yang menyebutkan bahwa Allah melaknat para wanita yang mencukur bulu asli di wajahnya, seperti bulu alis, meskipun itu untuk tujuan kecantikan.
Allahu a’lam

Saya sisipkan sumber dari konsultasi syariah.

sumber gambar : google

Emosi Rindu


Manusia memang sekali pandai mengolah rasa, apalagi emosi rindunya. Seakan lupa ada yang perlu disisakan, sebuah cinta kepada sesama bukan kegoisan hati yang selalu tertata, semata.

Kamu hanya mampu berdo’a
Meminta bulir-bulir hujan 
Dan menengadah, harapan

#Ramah
Rindu itu terlalu ramah, 
datangnya dengan senyuman 
hilangangnya dengan kenangan
Kau pun terkadang marah?

Uh...Uh...
Nostalgia dengan irama rindu menghujan dan menghujam.

Kutipanku di hari Jum'at.

Manusia memang sekali pandai mengolah rasa, apalagi emosi rindunya. Seakan lupa ada yang perlu disisakan, sebuah cinta kepada sesama bukan kegoisan hati yang selalu tertata, semata.

Kamu hanya mampu berdo’a
Meminta bulir-bulir hujan 
Dan menengadah, harapan

#Ramah
Rindu itu terlalu ramah, 
datangnya dengan senyuman 
hilangangnya dengan kenangan
Kau pun terkadang marah?

Uh...Uh...
Nostalgia dengan irama rindu menghujan dan menghujam.

Kutipanku di hari Jum'at.

Ketika Lupa TUHAN





Bismillahirrohmaanirrohiim
Alhamdulillah masih ada napas dalam jejak petualangan hidup. Lakon-lakon manusia berwajah dua selalu hadir dalam selingan diam kita. Lalu siapa?

Ah, entahlah. Aku tak mau menebak siapa. Bisa jadi aku? Nunjuk pakai jari. (Oh no)
Begini, aku ingin merasakan hal yang sama. Semoga yang membaca tulisanku ini tersadar sama juga dengan diriku. Untuk nasehatku sendiri agar aku cepat pulih. Bahwa dunia bukanlah milikku dan aku takkan pernah bisa memeluknya.

Bicara Hijrah pasti terngiang bulan Muharram. Bulan ini masih bulan muharram. Apa saja visi dan misi di tahun baru Islam yang masih baru bagi antum / antunna? 
Jangan-jangan cuma bisa meriahkannya dengan pawai taaruf atau mengucapkan selamat! Oh no. Jangan dong. 
Sebenarnya, hari ini aku gemes banget. Bukan untuk hari ini saja sebenarnya. Tapi semenjak iklan yang ada hubungannya dengan “L***” tentang itu lho yang lagi hits. Ada apa denganmu.
Eh salah dengan cinta. Tapi enakan diganti denganmu deh. 
Soalnya penikmat film kan yang merasakan getar-getaran itu hadir kembali :P

Gak mau munafik. JUJUR Asli gak bohong. Sebagai muslimah yang belum lama hijrahnya saya gerah. Gerah sekali melihat iklan ini berseliweran. Kata orang yang baca Masbuloh. 
Lah, emang. 

Nah, yang menjadi masalah sebagai muslim yang ngaku suka banget sifat Rosulullah, ngaku ngabdi alias berbakti, takwa, rajin sholat. Gemar shodaqah melakukan banyak hal dakwah dan lain-lain. Tapi tetap gak mau dibilang munafik kan sama orang lain? Atau punya topeng?.
Kalau aku juga gak maulah. Capek deh. 

Sudah bela-bela pakai kerudung syar’i nutup dada, bicara belajar sopan, menghindar dari teman-teman no shalih/shalihah tapi masih aja mantengin K-POP, Film Korea, bikini-bikino belum lagi wajah putih dan mata sipit yang rambutnya berwarna coklat dengan trend hidup orang asing banget gak keIslaman. Pacaran, pegangan tangan, senyum-senyuman curi pandang. Lama-lama… rrrrrr gubrak. Bikin ketagihan nontonnya. Dan mengelu-elukan jadi idola. 
Oke, no prob tinggalin itu semua. 
Tapi aku gak bicara bohong. Karena masih ada kok budaya seperti itu. Yeay Annur moso budaya? Iyalah sekarang udah menjamur. #terserah aku lho.


Al Firar ila Allah  yang berati berlari menuju Allah. 
Hijrah bukan sekedar dari yang tidak mengenal sholat jadi sholat. Dari yang syirik jauh dari syirik, dari yang tidak menutup aurat jadi menutup. Tapi hijrah adalah kekuatan hati kita untuk memperbaharui Islam. Kapan islam akan maju kalau yang ngaku islam gak mau menonjolkan keislamannya malah berleha-leha dengan dunia yang ditarik sana-sini biar jadi follower yang arahnya gak jelas. 
Makannya kalau mau hijrah harus jelas, bukan sekedar oke aku berlari menuju Allah, tapinya?
”Tidak ada hijrah setelah Fathu Makkah, tetapi (yang ada adalah) jihad dan niat. Maka apabila kalian diperintahkan jihad, maka berangkatlah” [HR. Bukhari 3077 dan Muslim 1353]. 
“Sesungguhnya aku akan berpindah ke Rabb-ku” [QS. Al-Ankabut : 26].

MACAM-MACAM HIJRAH 
1. Hijrah tempat. 
2. Hijrah 'amal (perbuatan) 
3. Hijrah 'amil (orang yang berbuat) 

Nah, aku rasa cape juga bicara penting atau tidak penting. Bicara selera atau masalah buat loh yang menurut kebanyakan orang inilah hidup gue. You punya style gak usah komen-komen ke Ai.. heem…
Sebagai muslim atau muslimah yang paling anti sama namanya syirik, ana rasa lebih baik kita belajar lagi deh seperti bayi. Merangkak, berbicara, menangis dengan teratur. Nah loe buat apa?
Buat menyadari bahwa susahnya meraih tingkat kemandirian yang sempurna. 
Antum/antunna udah mandiri belum? Mandiri dalam arti sebenarnya. Mandiri dalam berpikir.
Buatku hijrah, jihad, dan jujur adalah satu kesatuan dalam pemikiran kritis. 

Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata : ”Hijrah bermakna meninggalkan, dan dalam syara’ adalah meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah. Hijrah dalam Islam itu ada dua : 
Pertama : Berpindah dari kampung yang tidak aman menuju kampung yang aman, seperti dalam hijrah ke Habasyah atau awal hijrah dari Makkah ke Madinah. 

Kedua : Berpindah dari negeri kafir menuju negeri Iman. Hal ini setelah Nabi menetap di Madinah dan kaum muslimin yang mampu telah berhijrah ke sana. Waktu itu, hijrah hanya khusus ke Madinah sampai kota Makkah ditaklukkan maka kekhususan itu tidak berarti lagi, sehingga hijrah menjadi umum dari setiap negeri kafir bagi yang mampu”. 


Manusia paling buruk menurut hadist
PERTAMA, orang yang bermuka dua.
Rasulullah bersabda, “Kalian akan mendapati seburuk-buruk manusia adalah orang-orang yang bermuka dua. Dia mendatangi kelompok yang ini dengan satu wajah, dan mendatangi kelompok lainnya dengan wajah lain pula.” (Riwayat Bukhari-Muslim, dari Abu Hurairah).
 “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” [QS. an-Nisa’: 145]

Jujur, jangan bermuka dua. Jujur jangan suka terlena, jujur jangan suka ngaku beriman dan bertakwa, jujur kalau masih suka nonton AADC?

Siapa yang bisa mengangkat derajat islam sesungguhnya? Apakah orang-orang bermuka dua? Naudzubillahi mindzalik. 

Istiqomah itu sampai hari kiamat lho. Hari akhir napas kita. 
Semangat ukhuwah. Dari pada nonton gak jelas, mendingan dengerin syair kajian islam. 

Mata jangan buat maksiat melulu. Jangan-jangan sudah lupa Tuhan untuk waktu senggang.

Salam Ukhuwah. 
Aku anak Islam, harus kritis. Bukan ikut-ikutan produk jahiliyah yang sok manis. :P

Ayo sadarkan diri. #SAVE ISLAM





Bismillahirrohmaanirrohiim
Alhamdulillah masih ada napas dalam jejak petualangan hidup. Lakon-lakon manusia berwajah dua selalu hadir dalam selingan diam kita. Lalu siapa?

Ah, entahlah. Aku tak mau menebak siapa. Bisa jadi aku? Nunjuk pakai jari. (Oh no)
Begini, aku ingin merasakan hal yang sama. Semoga yang membaca tulisanku ini tersadar sama juga dengan diriku. Untuk nasehatku sendiri agar aku cepat pulih. Bahwa dunia bukanlah milikku dan aku takkan pernah bisa memeluknya.

Bicara Hijrah pasti terngiang bulan Muharram. Bulan ini masih bulan muharram. Apa saja visi dan misi di tahun baru Islam yang masih baru bagi antum / antunna? 
Jangan-jangan cuma bisa meriahkannya dengan pawai taaruf atau mengucapkan selamat! Oh no. Jangan dong. 
Sebenarnya, hari ini aku gemes banget. Bukan untuk hari ini saja sebenarnya. Tapi semenjak iklan yang ada hubungannya dengan “L***” tentang itu lho yang lagi hits. Ada apa denganmu.
Eh salah dengan cinta. Tapi enakan diganti denganmu deh. 
Soalnya penikmat film kan yang merasakan getar-getaran itu hadir kembali :P

Gak mau munafik. JUJUR Asli gak bohong. Sebagai muslimah yang belum lama hijrahnya saya gerah. Gerah sekali melihat iklan ini berseliweran. Kata orang yang baca Masbuloh. 
Lah, emang. 

Nah, yang menjadi masalah sebagai muslim yang ngaku suka banget sifat Rosulullah, ngaku ngabdi alias berbakti, takwa, rajin sholat. Gemar shodaqah melakukan banyak hal dakwah dan lain-lain. Tapi tetap gak mau dibilang munafik kan sama orang lain? Atau punya topeng?.
Kalau aku juga gak maulah. Capek deh. 

Sudah bela-bela pakai kerudung syar’i nutup dada, bicara belajar sopan, menghindar dari teman-teman no shalih/shalihah tapi masih aja mantengin K-POP, Film Korea, bikini-bikino belum lagi wajah putih dan mata sipit yang rambutnya berwarna coklat dengan trend hidup orang asing banget gak keIslaman. Pacaran, pegangan tangan, senyum-senyuman curi pandang. Lama-lama… rrrrrr gubrak. Bikin ketagihan nontonnya. Dan mengelu-elukan jadi idola. 
Oke, no prob tinggalin itu semua. 
Tapi aku gak bicara bohong. Karena masih ada kok budaya seperti itu. Yeay Annur moso budaya? Iyalah sekarang udah menjamur. #terserah aku lho.


Al Firar ila Allah  yang berati berlari menuju Allah. 
Hijrah bukan sekedar dari yang tidak mengenal sholat jadi sholat. Dari yang syirik jauh dari syirik, dari yang tidak menutup aurat jadi menutup. Tapi hijrah adalah kekuatan hati kita untuk memperbaharui Islam. Kapan islam akan maju kalau yang ngaku islam gak mau menonjolkan keislamannya malah berleha-leha dengan dunia yang ditarik sana-sini biar jadi follower yang arahnya gak jelas. 
Makannya kalau mau hijrah harus jelas, bukan sekedar oke aku berlari menuju Allah, tapinya?
”Tidak ada hijrah setelah Fathu Makkah, tetapi (yang ada adalah) jihad dan niat. Maka apabila kalian diperintahkan jihad, maka berangkatlah” [HR. Bukhari 3077 dan Muslim 1353]. 
“Sesungguhnya aku akan berpindah ke Rabb-ku” [QS. Al-Ankabut : 26].

MACAM-MACAM HIJRAH 
1. Hijrah tempat. 
2. Hijrah 'amal (perbuatan) 
3. Hijrah 'amil (orang yang berbuat) 

Nah, aku rasa cape juga bicara penting atau tidak penting. Bicara selera atau masalah buat loh yang menurut kebanyakan orang inilah hidup gue. You punya style gak usah komen-komen ke Ai.. heem…
Sebagai muslim atau muslimah yang paling anti sama namanya syirik, ana rasa lebih baik kita belajar lagi deh seperti bayi. Merangkak, berbicara, menangis dengan teratur. Nah loe buat apa?
Buat menyadari bahwa susahnya meraih tingkat kemandirian yang sempurna. 
Antum/antunna udah mandiri belum? Mandiri dalam arti sebenarnya. Mandiri dalam berpikir.
Buatku hijrah, jihad, dan jujur adalah satu kesatuan dalam pemikiran kritis. 

Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata : ”Hijrah bermakna meninggalkan, dan dalam syara’ adalah meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah. Hijrah dalam Islam itu ada dua : 
Pertama : Berpindah dari kampung yang tidak aman menuju kampung yang aman, seperti dalam hijrah ke Habasyah atau awal hijrah dari Makkah ke Madinah. 

Kedua : Berpindah dari negeri kafir menuju negeri Iman. Hal ini setelah Nabi menetap di Madinah dan kaum muslimin yang mampu telah berhijrah ke sana. Waktu itu, hijrah hanya khusus ke Madinah sampai kota Makkah ditaklukkan maka kekhususan itu tidak berarti lagi, sehingga hijrah menjadi umum dari setiap negeri kafir bagi yang mampu”. 


Manusia paling buruk menurut hadist
PERTAMA, orang yang bermuka dua.
Rasulullah bersabda, “Kalian akan mendapati seburuk-buruk manusia adalah orang-orang yang bermuka dua. Dia mendatangi kelompok yang ini dengan satu wajah, dan mendatangi kelompok lainnya dengan wajah lain pula.” (Riwayat Bukhari-Muslim, dari Abu Hurairah).
 “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” [QS. an-Nisa’: 145]

Jujur, jangan bermuka dua. Jujur jangan suka terlena, jujur jangan suka ngaku beriman dan bertakwa, jujur kalau masih suka nonton AADC?

Siapa yang bisa mengangkat derajat islam sesungguhnya? Apakah orang-orang bermuka dua? Naudzubillahi mindzalik. 

Istiqomah itu sampai hari kiamat lho. Hari akhir napas kita. 
Semangat ukhuwah. Dari pada nonton gak jelas, mendingan dengerin syair kajian islam. 

Mata jangan buat maksiat melulu. Jangan-jangan sudah lupa Tuhan untuk waktu senggang.

Salam Ukhuwah. 
Aku anak Islam, harus kritis. Bukan ikut-ikutan produk jahiliyah yang sok manis. :P

Ayo sadarkan diri. #SAVE ISLAM

Berharap RidhoMU





Jodoh itu antara rezeki dan usaha. Aku beranggapan seperti itu. Entah apakah orang lain sama?
Ya, ketika kita mampu berdoa kenapa tidak? Yang pasti diiringi dengan usaha. Banyak yang berusaha mencari sendiri dan banyak juga yang minta ditaarufkan melalui perantara teman. Atau bahkan tak ingin dicari tapi datang sendiri. Wallahu’alam.


Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik bagi putra-putrinya. Ada yang beranggapan status pekerjaan jauh lebih baik, ada yang derajat keluarga bahkan tak banyak beranggapan agama jauh lebih baik.
Aku tak pernah meragukan tentang ini. Karena belajar dari pengalaman dan kajian yang sering kudengar. Agama adalah sumber utama, meski begitu ada beberapa factor lainnya.
Tapi kenapa orang menikah takut miskin? Sedangkan miskin datang tak mungkin begitu saja tanpa sebab. Bukankah kehendakNya jauh lebih ajaib? Ya, ketakutan inilah yang mendera semua orang tua. Mungkin.

Jika, kita sudah berharap lelaki terbaik adalah dia, tapi ibu bapakmu tak pernah menyetujui apa daya. Ridho Allah tergantung ridho orang tua.
Percayalah, bahagia itu selalu ada. Dengan bersyukur dan bagaimana kita mau menyadari setiap pemberiannya meski sedikit. Secara sederhana kita mendefinisikan cinta adalah urusan hati. Tapi bagiku, cinta adalah rasa yang berserak terbagi-bagi dalam jumlah tak terhitung. Mencintai bukanlah satu ditambah satu sama dengan dua.
Mencintai adalah satu dibagi satu juta jiwa. Meski mencintai sejatinya 1 dibanding 1. Allah dan Allah. Maka akan terjadi cinta yang besar tak terhingga.
Perasaanmu dan perasaanku mungkin sama. Tapi takdir berkata beda, kita pun tak lagi sama. Kita berbeda. Dalam hati yang tegar.

Lalu, apakah harus menujumu? Mempercayaimu? Meninggalkan ridho terbaik Mu?
Kita tak boleh menyalahkan takdir, meski harapan yang datang nun jauh di sana berjuang mendatangi kita dengan segenap hati. Dengan tangan terbuka memberi harapan indah. Dengan memikul jawaban yang kelak dipertanggungjawabkan.

Hanya ada sabar. Bukan benci terhadap seseorang yang tak menyetujui keputusan.
Dan aku sadar, otakku bukanlah wadah angan-angan tempat menabung masa depan. Hingga aku tak mampu merengkuh semua harapan. Ini hanya ekspetasiku saja yang terlalu berlebihan menyikapi sebuah rasa yang hadir tiba-tiba.
Biarlah resah ini tergusar, tak berserak dan akulah yang jadi pemenangnya. Memenangkan atas KuasaMu bukan mengelukan resah yang tak berpenghuni.

Kekuatan doa adalah yang paling mujarab. Meski tidak semua do’a selalu dikabulkan.
Busana yang tertutup melindungi diriku, adalah bentuk kepatuhanku kepada Tuhan dan kedua orang tuaku. Orang tua adalah pintu utama menuju ridhoMu. Menjaga kehormatan diriku sendiri, bahkan keluarga. Bukan sebuah pencitraan untuk menutupi kekurangan. Tetapi menutupi kesempurnaan yang telah diberikan.
Aku yakin, setiap keyakinan yang kuharapkan bukan semata-mata berujung akal pendek. Melainkan proses menuju kebaikan. Kita memang tak boleh terlalu berharap pada manusia. Tetapi kita diwajibkan berharap kepada Allah meski kita tinggal menunggu KuasaNya.

Sabarlah, saat langkah semakin jauh dari jerih payahmu itu bukanlah titik henti, melainkan perhentian yang tertunda.
Selamat datang di negeri yang penuh kelapangan hati. Semoga ikhtiar dan keistiqomahan kita menjadi jalan terbaik menuju masa depan.
Ridho ALLAH tergantung kepada ridho orang tua, sesuai sabda Rosululloh: "Ridho ALLAH tergantung kepada keridhoan orang tua dan murka ALLAH tergantung kepada kemurkaan orang tua" (HR Bukhori, Ibnu Hibban, Tirmidzi, Hakim)
“ Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:2

"Ketika banyak orang mengidolakan ibu karena kasih sayangnya yang tiada tara, saya justru mengagumi ibu saya karena beberapa kekurangan dan kelebihan padanya yang membuatku selalu ON FIRE" <-- searchgoogle.="" span="">

@AnnurShah
Sedang menunggu.... ^_^ uhuhuhuhu






Jodoh itu antara rezeki dan usaha. Aku beranggapan seperti itu. Entah apakah orang lain sama?
Ya, ketika kita mampu berdoa kenapa tidak? Yang pasti diiringi dengan usaha. Banyak yang berusaha mencari sendiri dan banyak juga yang minta ditaarufkan melalui perantara teman. Atau bahkan tak ingin dicari tapi datang sendiri. Wallahu’alam.


Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik bagi putra-putrinya. Ada yang beranggapan status pekerjaan jauh lebih baik, ada yang derajat keluarga bahkan tak banyak beranggapan agama jauh lebih baik.
Aku tak pernah meragukan tentang ini. Karena belajar dari pengalaman dan kajian yang sering kudengar. Agama adalah sumber utama, meski begitu ada beberapa factor lainnya.
Tapi kenapa orang menikah takut miskin? Sedangkan miskin datang tak mungkin begitu saja tanpa sebab. Bukankah kehendakNya jauh lebih ajaib? Ya, ketakutan inilah yang mendera semua orang tua. Mungkin.

Jika, kita sudah berharap lelaki terbaik adalah dia, tapi ibu bapakmu tak pernah menyetujui apa daya. Ridho Allah tergantung ridho orang tua.
Percayalah, bahagia itu selalu ada. Dengan bersyukur dan bagaimana kita mau menyadari setiap pemberiannya meski sedikit. Secara sederhana kita mendefinisikan cinta adalah urusan hati. Tapi bagiku, cinta adalah rasa yang berserak terbagi-bagi dalam jumlah tak terhitung. Mencintai bukanlah satu ditambah satu sama dengan dua.
Mencintai adalah satu dibagi satu juta jiwa. Meski mencintai sejatinya 1 dibanding 1. Allah dan Allah. Maka akan terjadi cinta yang besar tak terhingga.
Perasaanmu dan perasaanku mungkin sama. Tapi takdir berkata beda, kita pun tak lagi sama. Kita berbeda. Dalam hati yang tegar.

Lalu, apakah harus menujumu? Mempercayaimu? Meninggalkan ridho terbaik Mu?
Kita tak boleh menyalahkan takdir, meski harapan yang datang nun jauh di sana berjuang mendatangi kita dengan segenap hati. Dengan tangan terbuka memberi harapan indah. Dengan memikul jawaban yang kelak dipertanggungjawabkan.

Hanya ada sabar. Bukan benci terhadap seseorang yang tak menyetujui keputusan.
Dan aku sadar, otakku bukanlah wadah angan-angan tempat menabung masa depan. Hingga aku tak mampu merengkuh semua harapan. Ini hanya ekspetasiku saja yang terlalu berlebihan menyikapi sebuah rasa yang hadir tiba-tiba.
Biarlah resah ini tergusar, tak berserak dan akulah yang jadi pemenangnya. Memenangkan atas KuasaMu bukan mengelukan resah yang tak berpenghuni.

Kekuatan doa adalah yang paling mujarab. Meski tidak semua do’a selalu dikabulkan.
Busana yang tertutup melindungi diriku, adalah bentuk kepatuhanku kepada Tuhan dan kedua orang tuaku. Orang tua adalah pintu utama menuju ridhoMu. Menjaga kehormatan diriku sendiri, bahkan keluarga. Bukan sebuah pencitraan untuk menutupi kekurangan. Tetapi menutupi kesempurnaan yang telah diberikan.
Aku yakin, setiap keyakinan yang kuharapkan bukan semata-mata berujung akal pendek. Melainkan proses menuju kebaikan. Kita memang tak boleh terlalu berharap pada manusia. Tetapi kita diwajibkan berharap kepada Allah meski kita tinggal menunggu KuasaNya.

Sabarlah, saat langkah semakin jauh dari jerih payahmu itu bukanlah titik henti, melainkan perhentian yang tertunda.
Selamat datang di negeri yang penuh kelapangan hati. Semoga ikhtiar dan keistiqomahan kita menjadi jalan terbaik menuju masa depan.
Ridho ALLAH tergantung kepada ridho orang tua, sesuai sabda Rosululloh: "Ridho ALLAH tergantung kepada keridhoan orang tua dan murka ALLAH tergantung kepada kemurkaan orang tua" (HR Bukhori, Ibnu Hibban, Tirmidzi, Hakim)
“ Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:2

"Ketika banyak orang mengidolakan ibu karena kasih sayangnya yang tiada tara, saya justru mengagumi ibu saya karena beberapa kekurangan dan kelebihan padanya yang membuatku selalu ON FIRE" <-- searchgoogle.="" span="">

@AnnurShah
Sedang menunggu.... ^_^ uhuhuhuhu


Review Buku Diary Pra Nikah Muslimah





1.   Judul              : Diary pra nikah Muslimah
2.    Penulis           : Shobrina Al Latif – Layla An Nibras
3.    Penerbit         : Gazza Media
4.    Tahun terbit   : 2013
5.    Jumlah Hlm   : 184

Baca Judul Saja sudah terlihat jelas untuk seorang akhwat muslimah. Buku yang membuatku penasaran ini akhirnya terjawab sudah setelah membaca.

Diary. Ya, diary adalah BUKU HARIAN. Lebih tepatnya catatan kejadian yang kita alami sehari-hari.
Di dalam buku ini selain mengajak untuk mengerti melalui membaca juga mengajak muslimah untuk mencatat dan mempelajari tentang Agenda harian yang dilakukan sebelum / pra nikah. Lebih tepatnya persiapan menuju pernikahan.

Di buku ini sudah disediakan beberapa data yang diberi titik-titik yang bertujuan untuk diisi oleh pemilik buku. (yang pinjem gak boleh corat-coret) ehhee..

   
Diantaranya beberapa isinya terlihat seperti foto di bawah ini.

Tentang data yang memenuhi rukun taaruf isinya ya seperti biodata taaruf yang akan diajukan kepada calon ikhwan. Belajar mengisi agenda persiapan memasak, bahkan Yaumul bidh. Nah, yang paling berkesan jarang beberapa teman muslimah tahu adalah tentang siklus haid. Contoh memahami siklus haid dan masa subur.
Sayangnya si penulis lupa memberikan aturan main dari contoh penghitungan masa subur. Saya yang merasa kepo berulang kali garuk-garuk kepala. Dan akhirnya paham juga, meski begitu di sini seharusnya diberikan keterangan contoh yang detail.
Misalnya perhitungannya yang tepat cara mengetahui pada diagramnya bagaimana. Paling penting peletakan cara pengisian kolom siklus haid dan keterangan cara pengisian harusnya bersebelahan lebih tepatnya tidak berjauhan, jadi tidak bingung.

Kita lanjut ke dalam isinya lebih dalam.
Sebuah dokumentasi catatan awal menuju pernikahan.

Di sini sudah tepat sekali dijelaskan cara-cara menuju pernikahan. Dimulai dari Niat. Berhubung sampai sekarang masih banyak seorang wanita yang menginginkan atau berniat mencari suami yang kaya raya, jadi hati-hati kita ini nyari suami bukan perusahaan yang bakalan tambah kaya.
So, apapun resiko pernikahan harus siap sedia. Tujuan, visi dan misi kudu jelas dari niatan Lillahi Ta’ala.
Buku ini juga mengajak kita untuk memahami arti persiapan. Bukan sekedar siap di lisan tapi di jasad dan hati gak! Itu namanya belum sempurna persiapan seorang muslimah untuk menikah.
Persiapan di sini pasti sudah harus membekali ilmu. Ilmu fiqih, parenting. Intinya siap lahir batin dengan segala resiko. Supaya kita cerdas memahami keadaan dan memposisikan diri kita dalam situasi apapun.

1.    Persiapan Ruhiyah (Spiritual)
Kesiapan untuk menata diri mendekatkan kepadaNya.
•    Siap menerima orang lain menjadi pemimpin
•    siap untuk mengurangi sebagian agenda atas dirinya karena kepatuhan terhadap suami.
•    Siap untuk menyusui, hamil, merawat anak.
•    Siap untuk menanggung beban akibat adanya anak.

2.    Persiapan Jasadiyah (Fisik)
Lebih tepatnya siap fisik adalah menyehatkan badan kita. Memahami dan menerapkan pola hidup yang sehat.
Rajin olah raga, makan-manakan yang bergizi. Kasus yang sering terjadi adalah masalah kista. Teman saya ada yang mau menikah tapi kena kista. Loh jadi curhat. Tapi ya kita memang harus sering mengkondisikan menjaga kesehatan. Gak usah makan-makanan yang gak sehat. Pedes berlebihan, es terlalu dingin, ngemil yang tidak sehat. Makan mie instan berlebihan.
Karena di dalam jiwa yang sehat terdapat tubuh yang kuat. Setuju?


3.    Persiapan Fikriyah (Pengetahuan)
Lebih tepatnya kita sebagai muslimah harus memiliki “ILMU”
Memahami apa yang harusnya dilakukan sebagai istri
Parenting, ilmu fiqih, management hati, komunikasi lancar.

4.    Persiapan Maliyah ( Finansial) 
Untuk seorang suami lebih tepatnya mampu menafkahi, bukan masalah harta, mobil, rumah dan lain-lain. 
Kita lihat orang tua kita dulu. Dari mulai kontrak hingga akhirnya mampu beli rumah. Bukan berarti pelit juga demi menumpuk harta buat beli rumah tapi istri diharuskan berpikir jernih agar uang suami bisa dikelola dengan baik.
Untuk calon ibu pastinya akan menjadi seorang manager, bagi rumah tangganya. Terutama mampu belajar mengelola keuangan sendiri.
belajar cara menyisihkan uang untuk infaq, investasi kecil-kecilan, dan hutang tidak boleh melebihi 30%. Sekiranya harus hidup sederhana tidak boleh berlebih-lebihan. Qona’ah.                         
Kita akan melihat kejutan dariNYA

6.    Persiapan Ijtimaiyah (SOSIAL KEMASYARAKATAN)
Jibril terus-menerus berwasiat kepadaku (untuk berbuat baik) terhadap tentangga, hingga aku yakin ia (seorang tetangga) akan mewariskan harta kepadanya (tetangganya).

Aku tambahin juga yah penulis. Eh

Berkaitan makna berbuat ihsan (baik) kepada tetangga, Syaikh Nazhim Sulthan menerangkan: "(Yaitu) dengan melakukan beragam perbuatan baik kepada tetangga, sesuai dengan kadar kemampuan. Misalnya berupa pemberian hadiah, mengucapkan salam, tersenyum ketika bertemu dengannya, mengamati keadaannya, membantunya dalam perkara yang ia butuhkan, serta menjauhi segala perkara yang menyebabkan ia merasa tersakiti, baik secara fisik atau moril. Tetangga yang paling berhak mendapatkankan perlakuan baik dari kita adalah tetangga yang paling dekat rumahnya dengan kita, disusul tetangga selanjutnya yang lebih dekat. 'Aisyah pernah bertanya,"Wahai Rasulullah, aku memiliki dua orang tetangga. Maka kepada siapakah aku memberikan hadiah diantara mereka berdua?". Beliau menjawab.

إلى أقْرَبَهُمَا مِنْكِ بَابًا


Kepada tetangga yang lebih dekat pintu rumahnya denganmu

Dalam buku ini berlanjut agar para muslimah bisa menentukan tata cara proses pernikahan yang baik, dari ta’aruf, nadzor, hingga proses akad dan walimah.
Diberikan gambaran juga tentang tempat walimah yang baik tanpa ikhtilat, undangan yang bagus tanpa bersifat mubadzir, souvenir. meringankan mahar,  tafsir do’a pengantin. Bahkan hingga tahapan pengurusan surat-surat nikah.  #Repot menuju kedamaian. Paling penting adalah disaat setelah halalnya menjadi pasangan suami isteri. Hal-hal yang pertama yang harus dilakukan.

Penulis di sini ingin mengajak kepada muslimah menuju jalan syariat Islam. 
Karena sekarang sudah jarang sekali kita temukan hal-hal yang berkaitan dengan sesuai kode-kode islam yang baik.                                                                                      

Saya kurang sreg sama gambar cara menyetrika dan undangan yang kurang jelas. Tapi ya memang sudah diperjelas mungkin. Finally, bukunya lumayan dikantong dan untuk mereka yang butuh banget.

Banyak pelajaran yang kudapat dari buku ini meski simple, tapi setidaknya sudah ada gambaran apa dan bagaimana mesti yang kita lakukan. :) 
Riska, jangan berhenti berkarya melalui tulisan.





1.   Judul              : Diary pra nikah Muslimah
2.    Penulis           : Shobrina Al Latif – Layla An Nibras
3.    Penerbit         : Gazza Media
4.    Tahun terbit   : 2013
5.    Jumlah Hlm   : 184

Baca Judul Saja sudah terlihat jelas untuk seorang akhwat muslimah. Buku yang membuatku penasaran ini akhirnya terjawab sudah setelah membaca.

Diary. Ya, diary adalah BUKU HARIAN. Lebih tepatnya catatan kejadian yang kita alami sehari-hari.
Di dalam buku ini selain mengajak untuk mengerti melalui membaca juga mengajak muslimah untuk mencatat dan mempelajari tentang Agenda harian yang dilakukan sebelum / pra nikah. Lebih tepatnya persiapan menuju pernikahan.

Di buku ini sudah disediakan beberapa data yang diberi titik-titik yang bertujuan untuk diisi oleh pemilik buku. (yang pinjem gak boleh corat-coret) ehhee..

   
Diantaranya beberapa isinya terlihat seperti foto di bawah ini.

Tentang data yang memenuhi rukun taaruf isinya ya seperti biodata taaruf yang akan diajukan kepada calon ikhwan. Belajar mengisi agenda persiapan memasak, bahkan Yaumul bidh. Nah, yang paling berkesan jarang beberapa teman muslimah tahu adalah tentang siklus haid. Contoh memahami siklus haid dan masa subur.
Sayangnya si penulis lupa memberikan aturan main dari contoh penghitungan masa subur. Saya yang merasa kepo berulang kali garuk-garuk kepala. Dan akhirnya paham juga, meski begitu di sini seharusnya diberikan keterangan contoh yang detail.
Misalnya perhitungannya yang tepat cara mengetahui pada diagramnya bagaimana. Paling penting peletakan cara pengisian kolom siklus haid dan keterangan cara pengisian harusnya bersebelahan lebih tepatnya tidak berjauhan, jadi tidak bingung.

Kita lanjut ke dalam isinya lebih dalam.
Sebuah dokumentasi catatan awal menuju pernikahan.

Di sini sudah tepat sekali dijelaskan cara-cara menuju pernikahan. Dimulai dari Niat. Berhubung sampai sekarang masih banyak seorang wanita yang menginginkan atau berniat mencari suami yang kaya raya, jadi hati-hati kita ini nyari suami bukan perusahaan yang bakalan tambah kaya.
So, apapun resiko pernikahan harus siap sedia. Tujuan, visi dan misi kudu jelas dari niatan Lillahi Ta’ala.
Buku ini juga mengajak kita untuk memahami arti persiapan. Bukan sekedar siap di lisan tapi di jasad dan hati gak! Itu namanya belum sempurna persiapan seorang muslimah untuk menikah.
Persiapan di sini pasti sudah harus membekali ilmu. Ilmu fiqih, parenting. Intinya siap lahir batin dengan segala resiko. Supaya kita cerdas memahami keadaan dan memposisikan diri kita dalam situasi apapun.

1.    Persiapan Ruhiyah (Spiritual)
Kesiapan untuk menata diri mendekatkan kepadaNya.
•    Siap menerima orang lain menjadi pemimpin
•    siap untuk mengurangi sebagian agenda atas dirinya karena kepatuhan terhadap suami.
•    Siap untuk menyusui, hamil, merawat anak.
•    Siap untuk menanggung beban akibat adanya anak.

2.    Persiapan Jasadiyah (Fisik)
Lebih tepatnya siap fisik adalah menyehatkan badan kita. Memahami dan menerapkan pola hidup yang sehat.
Rajin olah raga, makan-manakan yang bergizi. Kasus yang sering terjadi adalah masalah kista. Teman saya ada yang mau menikah tapi kena kista. Loh jadi curhat. Tapi ya kita memang harus sering mengkondisikan menjaga kesehatan. Gak usah makan-makanan yang gak sehat. Pedes berlebihan, es terlalu dingin, ngemil yang tidak sehat. Makan mie instan berlebihan.
Karena di dalam jiwa yang sehat terdapat tubuh yang kuat. Setuju?


3.    Persiapan Fikriyah (Pengetahuan)
Lebih tepatnya kita sebagai muslimah harus memiliki “ILMU”
Memahami apa yang harusnya dilakukan sebagai istri
Parenting, ilmu fiqih, management hati, komunikasi lancar.

4.    Persiapan Maliyah ( Finansial) 
Untuk seorang suami lebih tepatnya mampu menafkahi, bukan masalah harta, mobil, rumah dan lain-lain. 
Kita lihat orang tua kita dulu. Dari mulai kontrak hingga akhirnya mampu beli rumah. Bukan berarti pelit juga demi menumpuk harta buat beli rumah tapi istri diharuskan berpikir jernih agar uang suami bisa dikelola dengan baik.
Untuk calon ibu pastinya akan menjadi seorang manager, bagi rumah tangganya. Terutama mampu belajar mengelola keuangan sendiri.
belajar cara menyisihkan uang untuk infaq, investasi kecil-kecilan, dan hutang tidak boleh melebihi 30%. Sekiranya harus hidup sederhana tidak boleh berlebih-lebihan. Qona’ah.                         
Kita akan melihat kejutan dariNYA

6.    Persiapan Ijtimaiyah (SOSIAL KEMASYARAKATAN)
Jibril terus-menerus berwasiat kepadaku (untuk berbuat baik) terhadap tentangga, hingga aku yakin ia (seorang tetangga) akan mewariskan harta kepadanya (tetangganya).

Aku tambahin juga yah penulis. Eh

Berkaitan makna berbuat ihsan (baik) kepada tetangga, Syaikh Nazhim Sulthan menerangkan: "(Yaitu) dengan melakukan beragam perbuatan baik kepada tetangga, sesuai dengan kadar kemampuan. Misalnya berupa pemberian hadiah, mengucapkan salam, tersenyum ketika bertemu dengannya, mengamati keadaannya, membantunya dalam perkara yang ia butuhkan, serta menjauhi segala perkara yang menyebabkan ia merasa tersakiti, baik secara fisik atau moril. Tetangga yang paling berhak mendapatkankan perlakuan baik dari kita adalah tetangga yang paling dekat rumahnya dengan kita, disusul tetangga selanjutnya yang lebih dekat. 'Aisyah pernah bertanya,"Wahai Rasulullah, aku memiliki dua orang tetangga. Maka kepada siapakah aku memberikan hadiah diantara mereka berdua?". Beliau menjawab.

إلى أقْرَبَهُمَا مِنْكِ بَابًا


Kepada tetangga yang lebih dekat pintu rumahnya denganmu

Dalam buku ini berlanjut agar para muslimah bisa menentukan tata cara proses pernikahan yang baik, dari ta’aruf, nadzor, hingga proses akad dan walimah.
Diberikan gambaran juga tentang tempat walimah yang baik tanpa ikhtilat, undangan yang bagus tanpa bersifat mubadzir, souvenir. meringankan mahar,  tafsir do’a pengantin. Bahkan hingga tahapan pengurusan surat-surat nikah.  #Repot menuju kedamaian. Paling penting adalah disaat setelah halalnya menjadi pasangan suami isteri. Hal-hal yang pertama yang harus dilakukan.

Penulis di sini ingin mengajak kepada muslimah menuju jalan syariat Islam. 
Karena sekarang sudah jarang sekali kita temukan hal-hal yang berkaitan dengan sesuai kode-kode islam yang baik.                                                                                      

Saya kurang sreg sama gambar cara menyetrika dan undangan yang kurang jelas. Tapi ya memang sudah diperjelas mungkin. Finally, bukunya lumayan dikantong dan untuk mereka yang butuh banget.

Banyak pelajaran yang kudapat dari buku ini meski simple, tapi setidaknya sudah ada gambaran apa dan bagaimana mesti yang kita lakukan. :) 
Riska, jangan berhenti berkarya melalui tulisan.

Niatan Qurban untuk orang telah mati



Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa hukum qurban adalah sunnah atau sunnah muakkad (yang amat dianjurkan) bagi orang yang hidup dan mampu, itu pun boleh diniatkan untuk keluarganya. Hukum sunnah ini menjadi pendapat mayoritas ulama. Sebagian ulama mengatakan hukum qurban itu wajib. Sedangkan qurban untuk mayit (secara khusus), tidaklah dituntunkan selama bukan karena wasiat atau nadzar sebelum meninggal dunia. Serial keempat kali ini akan mengkaji mengenai niatan qurban untuk mayit.
Para ulama berselisih pendapat mengenai kesahan qurban untuk mayit jika bukan karena wasiat. Dalam madzhab Syafi’i, qurbannya tidak sah kecuali jika ada wasiat dari mayit. Imam Nawawi rahimahullah berkata dalam Al Minhaj,
وَلَا تَضْحِيَةَ عَنْ الْغَيْرِ بِغَيْرِ إذْنِهِ، وَلَا عَنْ الْمَيِّتِ إذَا لَمْ يُوصِ بِهَا
“Tidak sah qurban untuk orang lain selain dengan izinnya. Tidak sah pula qurban untuk mayit jika ia tidak memberi wasiat untuk qurban tersebut.”

Kita dapat membagi berqurban untuk mayit menjadi tiga rincian sebagai berikut:
Pertama: Berqurban untuk mayit hanya sebagai ikutan. Misalnya seseorang berqurban untuk dirinya dan keluarganya termasuk yang masih hidup atau yang telah meninggal dunia. Dasar dari bolehnya hal ini adalah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berqurban untuk dirinya dan keluarganya, termasuk di dalamnya yang telah meninggal dunia.

Bahkan jika seseorang berqurban untuk dirinya, seluruh keluarganya baik yang masih hidup maupun yang telah mati, bisa termasuk dalam niatan qurbannya. Dalilnya,
كَانَ الرَّجُلُ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُضَحِّى بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ
“Pada masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ada seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan keluarganya.”[1]

Asy Syaukani mengatakan, “(Dari berbagai perselisihan ulama yang ada), yang benar, qurban kambing boleh diniatkan untuk satu keluarga walaupun dalam keluarga tersebut ada 100 jiwa atau lebih.”[2]
Kedua: Berqurban untuk mayit atas dasar wasiatnya (sebelum meninggal dunia). Hal ini dibolehkan berdasarkan firman Allah Ta’ala,
فَمَنْ بَدَّلَهُ بَعْدَمَا سَمِعَهُ فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى الَّذِينَ يُبَدِّلُونَهُ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Maka barangsiapa yang mengubah wasiat itu, setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 181).

Ketiga: Berqurban dengan niatan khusus untuk mayit, bukan sebagai ikutan, maka seperti ini tidak ada sunnahnya (tidak ada contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berqurban untuk salah satu orang yang telah meninggal dunia dengan niatan khusus. Beliau tidak pernah berqurban atas nama pamannya, Hamzah -radhiyallahu ‘anhu-, padahal ia termasuk kerabat terdekat beliau. Tidak diketahui pula kalau beliau berqurban atas nama anak-anak beliau yang telah meninggal dunia, yaitu tiga anak perempuan beliau yang telah menikah dan dua anak laki-laki yang masih kecil. Tidak diketahui pula beliau pernah berqurban atas nama istri tercinta beliau, Khodijah -radhiyallahu ‘anha-. Begitu pula, tidak diketahui dari para sahabat ada yang pernah berqurban atas nama orang yang telah meninggal dunia di antara mereka.[3]

Syaikh Muhammad bin Rosyid bin ‘Abdillah Al Ghofiliy dalam buku kecil beliau yang menjelaskan tentang kesalahan-kesalahan di sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Di antaranya beliau menerangkan mengenai kesalahan yang dilakukan oleh orang yang berqurban. Beliau berkata,

7 – Di antara kekeliruan yang dilakukan oleh orang yang berqurban adalah bersengaja menjadikan (niat) qurban untuk mayit (orang yang telah tiada). Ini jelas keliru karena asalnya qurban diperintahkan bagi orang yang hidup (artinya yang memiliki qurban tadi adalah orang yang hidup, pen). Namun dalam masalah pahala boleh saja berserikat dengan orang yang telah tiada (mayit). Yang terakhir ini tidaklah masalah. Adapun menjadikan niat qurban tadi untuk si mayit seluruhnya, ini jelas tidak ada dalil yang mendukungnya.
Dalam penjelasan di halaman selanjutnya beliau hafizhohullah menjelaskan,

Jika yang berdo’a dengan do’a, “Ya Allah jadikanlah pahala qurban ini seluruhnya untuk kedua orang tuaku yang telah tiada”, ini sama sekali tidak ada dalil yang mendukungnya, ini termasuk perkara (amalan) yang mengada-ada. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa mengada-ada dalam urusan (agama) kami yang tidak ada dasarnya, maka amalannya tertolak” (Muttafaqun ‘alaih)[4]

Sebagian ulama membolehkan niatan qurban untuk mayit secara khusus karena dianggap seperti sedekah. Di antara yang membolehkan adalah Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, Al Lajnah Ad Daimah, dan fatwa Syaikh Sholih Al Fauzan yang kami dengar secara langsung di majelis beliau. Jadi masalah ini masih ada perselisihan, namun kami lebih tentram dengan alasan-alasan yang melarang di atas. Wallahu a’lam.
Lihat pula bahasan yang pernah dikaji oleh Rumaysho.com mengenai “Berniat Qurban atas Nama Ibu yang Telah Tiada” di sini.


Kemarin saya dengerin ceramah di TV kalau gak salah, tanpa dalil yang jelas membolehkan. Saya bingung sebingung-bingungnya. Lha wong sudah mati kok, pahalanya ya lari ke mana coba?
Wallahu'alam bishowab.

Sumber :Rumaysho




Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa hukum qurban adalah sunnah atau sunnah muakkad (yang amat dianjurkan) bagi orang yang hidup dan mampu, itu pun boleh diniatkan untuk keluarganya. Hukum sunnah ini menjadi pendapat mayoritas ulama. Sebagian ulama mengatakan hukum qurban itu wajib. Sedangkan qurban untuk mayit (secara khusus), tidaklah dituntunkan selama bukan karena wasiat atau nadzar sebelum meninggal dunia. Serial keempat kali ini akan mengkaji mengenai niatan qurban untuk mayit.
Para ulama berselisih pendapat mengenai kesahan qurban untuk mayit jika bukan karena wasiat. Dalam madzhab Syafi’i, qurbannya tidak sah kecuali jika ada wasiat dari mayit. Imam Nawawi rahimahullah berkata dalam Al Minhaj,
وَلَا تَضْحِيَةَ عَنْ الْغَيْرِ بِغَيْرِ إذْنِهِ، وَلَا عَنْ الْمَيِّتِ إذَا لَمْ يُوصِ بِهَا
“Tidak sah qurban untuk orang lain selain dengan izinnya. Tidak sah pula qurban untuk mayit jika ia tidak memberi wasiat untuk qurban tersebut.”

Kita dapat membagi berqurban untuk mayit menjadi tiga rincian sebagai berikut:
Pertama: Berqurban untuk mayit hanya sebagai ikutan. Misalnya seseorang berqurban untuk dirinya dan keluarganya termasuk yang masih hidup atau yang telah meninggal dunia. Dasar dari bolehnya hal ini adalah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berqurban untuk dirinya dan keluarganya, termasuk di dalamnya yang telah meninggal dunia.

Bahkan jika seseorang berqurban untuk dirinya, seluruh keluarganya baik yang masih hidup maupun yang telah mati, bisa termasuk dalam niatan qurbannya. Dalilnya,
كَانَ الرَّجُلُ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُضَحِّى بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ
“Pada masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ada seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan keluarganya.”[1]

Asy Syaukani mengatakan, “(Dari berbagai perselisihan ulama yang ada), yang benar, qurban kambing boleh diniatkan untuk satu keluarga walaupun dalam keluarga tersebut ada 100 jiwa atau lebih.”[2]
Kedua: Berqurban untuk mayit atas dasar wasiatnya (sebelum meninggal dunia). Hal ini dibolehkan berdasarkan firman Allah Ta’ala,
فَمَنْ بَدَّلَهُ بَعْدَمَا سَمِعَهُ فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى الَّذِينَ يُبَدِّلُونَهُ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Maka barangsiapa yang mengubah wasiat itu, setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 181).

Ketiga: Berqurban dengan niatan khusus untuk mayit, bukan sebagai ikutan, maka seperti ini tidak ada sunnahnya (tidak ada contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berqurban untuk salah satu orang yang telah meninggal dunia dengan niatan khusus. Beliau tidak pernah berqurban atas nama pamannya, Hamzah -radhiyallahu ‘anhu-, padahal ia termasuk kerabat terdekat beliau. Tidak diketahui pula kalau beliau berqurban atas nama anak-anak beliau yang telah meninggal dunia, yaitu tiga anak perempuan beliau yang telah menikah dan dua anak laki-laki yang masih kecil. Tidak diketahui pula beliau pernah berqurban atas nama istri tercinta beliau, Khodijah -radhiyallahu ‘anha-. Begitu pula, tidak diketahui dari para sahabat ada yang pernah berqurban atas nama orang yang telah meninggal dunia di antara mereka.[3]

Syaikh Muhammad bin Rosyid bin ‘Abdillah Al Ghofiliy dalam buku kecil beliau yang menjelaskan tentang kesalahan-kesalahan di sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Di antaranya beliau menerangkan mengenai kesalahan yang dilakukan oleh orang yang berqurban. Beliau berkata,

7 – Di antara kekeliruan yang dilakukan oleh orang yang berqurban adalah bersengaja menjadikan (niat) qurban untuk mayit (orang yang telah tiada). Ini jelas keliru karena asalnya qurban diperintahkan bagi orang yang hidup (artinya yang memiliki qurban tadi adalah orang yang hidup, pen). Namun dalam masalah pahala boleh saja berserikat dengan orang yang telah tiada (mayit). Yang terakhir ini tidaklah masalah. Adapun menjadikan niat qurban tadi untuk si mayit seluruhnya, ini jelas tidak ada dalil yang mendukungnya.
Dalam penjelasan di halaman selanjutnya beliau hafizhohullah menjelaskan,

Jika yang berdo’a dengan do’a, “Ya Allah jadikanlah pahala qurban ini seluruhnya untuk kedua orang tuaku yang telah tiada”, ini sama sekali tidak ada dalil yang mendukungnya, ini termasuk perkara (amalan) yang mengada-ada. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa mengada-ada dalam urusan (agama) kami yang tidak ada dasarnya, maka amalannya tertolak” (Muttafaqun ‘alaih)[4]

Sebagian ulama membolehkan niatan qurban untuk mayit secara khusus karena dianggap seperti sedekah. Di antara yang membolehkan adalah Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, Al Lajnah Ad Daimah, dan fatwa Syaikh Sholih Al Fauzan yang kami dengar secara langsung di majelis beliau. Jadi masalah ini masih ada perselisihan, namun kami lebih tentram dengan alasan-alasan yang melarang di atas. Wallahu a’lam.
Lihat pula bahasan yang pernah dikaji oleh Rumaysho.com mengenai “Berniat Qurban atas Nama Ibu yang Telah Tiada” di sini.


Kemarin saya dengerin ceramah di TV kalau gak salah, tanpa dalil yang jelas membolehkan. Saya bingung sebingung-bingungnya. Lha wong sudah mati kok, pahalanya ya lari ke mana coba?
Wallahu'alam bishowab.

Sumber :Rumaysho


Cukup di hati




Bila ada komentar buruk di sosial media, santai saja | cukup dalam hati kita berujar, "oh, begitulah isi kepalanya, itulah kadar agamanya" (uztd Felix Siaw)


Rasulullah bersabda, "agama (Islam) itu akhlak yang baik" (HR Ahmad)



Bila ada komentar buruk di sosial media, santai saja | cukup dalam hati kita berujar, "oh, begitulah isi kepalanya, itulah kadar agamanya" (uztd Felix Siaw)


Rasulullah bersabda, "agama (Islam) itu akhlak yang baik" (HR Ahmad)
 
Catatan Cahaya Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template