Kerudung bukan milik Islam saja


 

Jilbab bukan milik islam saja. Meski cara pemakaiannya berbeda dan hamper sama. Lalu mengapa masih dianggap teroris, ekstrim dan dipecat hanya karena penutup kepala?
Sebenarnya saya ingin share ini sebelum ramadhan tetapi mood saya sedang berkurang karena beberapa hal. Hemm…

Yang menjengkelkan adalah ketika ada komentar umat non muslim mengatakan kalau jilbab dan pakaian muslimah itu yang dianut umat islam hanyalah Ikut-ikutan pakaian mereka Kristen, katolik dsb.
Jadi saya agak geram. Akhirnya saya mencari tahu kebenarannya. Dan tak berapa lama banyak yang menemui hal serupa. Ibu-ibu berkerudung memakai kaos kaki tetapi hanya rapat tetapi lengan bajunya pendek. Mereka adalah pelanggan jahitan seorang muslimah. Namun ternyata mereka Kristen.
Jadi sebenarnya sudah tak heran lagi. Bahkan kita hampir sulit membedakannya.

Dan saya juga pernah dibuat kesal. Bapak-bapak sekitar usia 60 tahunan. Dia bertanya kepada saya.
“Anda muslim?”
Hia… desig. Kesel bin jengkel. Bapaknya gimana sih? Udah pakai baju muslimah dan kaos kaki masih dibilang Kristen? Hehe.. tapi saya nyengir dan menjawab dengan tegas.
“ISLAMLAH”   Hehee.. maklum bapak-bapak ini kan sudah tua, mungkin dikiranya sama muslim jadi-jadian. Eh emang ada? Ada kok banyak hehehe….


Dan paling terbaru adalah Muslim Rohingnya.
Mengapa mereka harus diusir? Apakah mereka membuat kerusakan? lalu bagaimana mereka membuatmu ketakutkan? sedangkan di luar sana banyak yang memakai kerudung, berpuasa juga meskipun bukan Islam.
Mengapa harus disalahkan?


Kerudung dalam Tradisi Kristen
Hingga saat ini para Biarawati Katolik menutup kepalanya secara keseluruhan. Di Indonesia sebelum tahun 80-an pakai-an biarawati adalah jilbab, pakaian pan-jang longgar dari leher hingga menutup kaki serta berkerudung yang menutup leher dan dada (masih ingat telenovela Brazil, Dolcemaria). Namun era 80-an ke atas, jubah biarawati berubah menjadi pakaian panjang hanya sampai betis. Kerudung panjang menutup dada ber-ubah menjadi kerudung hanya penutup rambut dan leher terbuka.

Padahal menutup kepala atau ber-kerudung, adalah sebuah tuntunan dalam Bibel yang sudah ada sejak zaman sebe-lum Nabi Muhammad SAW.

Dari berbagai sumber yang saya peroleh.
1 Korintus 11:5 Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak berkerudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya.
 11:6 Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka HARUSLAH IA MENUDUNGI KEPALANYA.
 11:7 Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya: ia menyinarkan gambaran dan kemuliaan Allah. Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki.
 11:8 Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki.
 11:9 Dan laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan diciptakan karena laki-laki.
 11:10 Sebab itu, PEREMPUAN HARUS MEMAKAI TANDA WIBAWA DI KEPALANYA oleh karena para malaikat.
 11:11 Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan.
 11:12 Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki, demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan; dan segala sesuatu berasal dari Allah.
 11:13 Pertimbangkanlah sendiri: PATUTKAH PEREMPUAN BERDOA KEPADA ALLAH DENGAN KEPALA TIDAK BERKERUDUNG?

Tertulianus (198 M)
"... Kenapa kamu tidak berkerudung di hadapan Tuhan padahal kamu berkerudung di depan manusia? Akankah kamu lebih sederhana di hadapan umum daripada di Gereja? Berhijablah hai perawan!"

Martin Luther (1483 - 1546)

"Kerudung adalah perlindungan agar tidak berada di luar hubungan dengan Allah yaitu dengan taat memenuhi perintah, para wanita memiliki rasa damai dan kasih dalam hubungan mereka dengan Allah.."

John Wesley (1703 - 1791)
jika seorang wanita tidak berkerudung -  dia akan membuang materai ketaatan, ... biarkanlah dia, untuk alasan yang sama, terus menggunakan kerudungnya! "

Menteri Dalam Negeri Italia (2012) mengatakan:
“Jika Bunda Maria selalu memakai kerudung dalam semua gambarnya, bagaimana bisa kalian menyuruhku untuk menandatangani Undang-undang Pelarangan Jilbab?”





Dan pernyataan ini yang akhirnya membuat saya merasa yakin, bahwa mengapa banyak perempuan Kristen yang jaman sekarang tak berkerudung dan mengingkarinya.

(Yang terpenting): Pribadi yang saleh

Meskipun jelas bahwa tidak ada kewajiban kanonik maupun moral bagi para wanita untuk mengenakan tutup kepala di gereja, para wanita tetap bebas untuk melakukannya sebagai ungkapan devosi pribadi. Mereka harus melihatnya sebagai tanda ketaatan/ tunduk kepada Tuhan… Mereka yang mengenakan tudung dan mereka yang tidak mengenakannya, tidak perlu menghakimi satu sama lain, tetapi membiarkan setiap wanita untuk memutuskannya karena jelas hal ini tidak menjadi kewajiban. (pernyataan seseorang dalam website katolik)

Pernyataan ini nggak beda kayak orang islam yang ndableg bin bandel. Jilbab wajib udah ada dalilnya, tapi pengennya bebas ria bisa nyalon rambut, nyemir dan mengibaskan ala iklan shampoo.
Bahkan jika ada pernyataan. Orang islam repot, kudu berjilbab, berkerudung, kaos kaki, apalah-apalah.
Fuiih… ribet mana sih sama orang yang sukanya ngeyel?
Jika, seaindanya mereka tahu ilmunya.

 In sya Allah saya akan membuat bulletin mengenai kewajiban hijab. Yang bisa di download dan diprint out lalu dibagikan semua manusia. Meskipun bukan islam. Karena memang sudah ketahuan kok isi kitab-kitab sebelumnya yang sekarang sudah dipalsukan.
Allahu alam bishowab.

Annurshah
Dari berbagai sumber.

 

Jilbab bukan milik islam saja. Meski cara pemakaiannya berbeda dan hamper sama. Lalu mengapa masih dianggap teroris, ekstrim dan dipecat hanya karena penutup kepala?
Sebenarnya saya ingin share ini sebelum ramadhan tetapi mood saya sedang berkurang karena beberapa hal. Hemm…

Yang menjengkelkan adalah ketika ada komentar umat non muslim mengatakan kalau jilbab dan pakaian muslimah itu yang dianut umat islam hanyalah Ikut-ikutan pakaian mereka Kristen, katolik dsb.
Jadi saya agak geram. Akhirnya saya mencari tahu kebenarannya. Dan tak berapa lama banyak yang menemui hal serupa. Ibu-ibu berkerudung memakai kaos kaki tetapi hanya rapat tetapi lengan bajunya pendek. Mereka adalah pelanggan jahitan seorang muslimah. Namun ternyata mereka Kristen.
Jadi sebenarnya sudah tak heran lagi. Bahkan kita hampir sulit membedakannya.

Dan saya juga pernah dibuat kesal. Bapak-bapak sekitar usia 60 tahunan. Dia bertanya kepada saya.
“Anda muslim?”
Hia… desig. Kesel bin jengkel. Bapaknya gimana sih? Udah pakai baju muslimah dan kaos kaki masih dibilang Kristen? Hehe.. tapi saya nyengir dan menjawab dengan tegas.
“ISLAMLAH”   Hehee.. maklum bapak-bapak ini kan sudah tua, mungkin dikiranya sama muslim jadi-jadian. Eh emang ada? Ada kok banyak hehehe….


Dan paling terbaru adalah Muslim Rohingnya.
Mengapa mereka harus diusir? Apakah mereka membuat kerusakan? lalu bagaimana mereka membuatmu ketakutkan? sedangkan di luar sana banyak yang memakai kerudung, berpuasa juga meskipun bukan Islam.
Mengapa harus disalahkan?


Kerudung dalam Tradisi Kristen
Hingga saat ini para Biarawati Katolik menutup kepalanya secara keseluruhan. Di Indonesia sebelum tahun 80-an pakai-an biarawati adalah jilbab, pakaian pan-jang longgar dari leher hingga menutup kaki serta berkerudung yang menutup leher dan dada (masih ingat telenovela Brazil, Dolcemaria). Namun era 80-an ke atas, jubah biarawati berubah menjadi pakaian panjang hanya sampai betis. Kerudung panjang menutup dada ber-ubah menjadi kerudung hanya penutup rambut dan leher terbuka.

Padahal menutup kepala atau ber-kerudung, adalah sebuah tuntunan dalam Bibel yang sudah ada sejak zaman sebe-lum Nabi Muhammad SAW.

Dari berbagai sumber yang saya peroleh.
1 Korintus 11:5 Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak berkerudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya.
 11:6 Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka HARUSLAH IA MENUDUNGI KEPALANYA.
 11:7 Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya: ia menyinarkan gambaran dan kemuliaan Allah. Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki.
 11:8 Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki.
 11:9 Dan laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan diciptakan karena laki-laki.
 11:10 Sebab itu, PEREMPUAN HARUS MEMAKAI TANDA WIBAWA DI KEPALANYA oleh karena para malaikat.
 11:11 Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan.
 11:12 Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki, demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan; dan segala sesuatu berasal dari Allah.
 11:13 Pertimbangkanlah sendiri: PATUTKAH PEREMPUAN BERDOA KEPADA ALLAH DENGAN KEPALA TIDAK BERKERUDUNG?

Tertulianus (198 M)
"... Kenapa kamu tidak berkerudung di hadapan Tuhan padahal kamu berkerudung di depan manusia? Akankah kamu lebih sederhana di hadapan umum daripada di Gereja? Berhijablah hai perawan!"

Martin Luther (1483 - 1546)

"Kerudung adalah perlindungan agar tidak berada di luar hubungan dengan Allah yaitu dengan taat memenuhi perintah, para wanita memiliki rasa damai dan kasih dalam hubungan mereka dengan Allah.."

John Wesley (1703 - 1791)
jika seorang wanita tidak berkerudung -  dia akan membuang materai ketaatan, ... biarkanlah dia, untuk alasan yang sama, terus menggunakan kerudungnya! "

Menteri Dalam Negeri Italia (2012) mengatakan:
“Jika Bunda Maria selalu memakai kerudung dalam semua gambarnya, bagaimana bisa kalian menyuruhku untuk menandatangani Undang-undang Pelarangan Jilbab?”





Dan pernyataan ini yang akhirnya membuat saya merasa yakin, bahwa mengapa banyak perempuan Kristen yang jaman sekarang tak berkerudung dan mengingkarinya.

(Yang terpenting): Pribadi yang saleh

Meskipun jelas bahwa tidak ada kewajiban kanonik maupun moral bagi para wanita untuk mengenakan tutup kepala di gereja, para wanita tetap bebas untuk melakukannya sebagai ungkapan devosi pribadi. Mereka harus melihatnya sebagai tanda ketaatan/ tunduk kepada Tuhan… Mereka yang mengenakan tudung dan mereka yang tidak mengenakannya, tidak perlu menghakimi satu sama lain, tetapi membiarkan setiap wanita untuk memutuskannya karena jelas hal ini tidak menjadi kewajiban. (pernyataan seseorang dalam website katolik)

Pernyataan ini nggak beda kayak orang islam yang ndableg bin bandel. Jilbab wajib udah ada dalilnya, tapi pengennya bebas ria bisa nyalon rambut, nyemir dan mengibaskan ala iklan shampoo.
Bahkan jika ada pernyataan. Orang islam repot, kudu berjilbab, berkerudung, kaos kaki, apalah-apalah.
Fuiih… ribet mana sih sama orang yang sukanya ngeyel?
Jika, seaindanya mereka tahu ilmunya.

 In sya Allah saya akan membuat bulletin mengenai kewajiban hijab. Yang bisa di download dan diprint out lalu dibagikan semua manusia. Meskipun bukan islam. Karena memang sudah ketahuan kok isi kitab-kitab sebelumnya yang sekarang sudah dipalsukan.
Allahu alam bishowab.

Annurshah
Dari berbagai sumber.

Pakem Busana Muslimah



Bismillah
Lama sudah tak kembali mengunjungi blog cantik ini. Banyak sekali yang ingin saya share. Termasuk kasus baru-baru ini. Mengenai mukenah berlambang salib. Mukenah ini berenda namun kesannya seperti salib. Saya sendiri tidak pernah suka melihat model dan motif renda-renda yang ada. Karena sebaik-baik pakaian adalah sederhana.
Bahkan Sajadah yang dulu hanya kain biasanya polos sekarang dibuat model bermacam-macam gambar dan corak. Bahkan dengan gambar yang mengundang banyak kontroversi.



Pakem fashion muslimah.
Pakaian yang menampakkan kemolekan tubuh, misalnya. Ia berangkat dari pandangan bahwa tubuh yang indah adalah kebanggaan yang patut diperlihatkan kepada orang lain. (Badriyah Fayumi)

Ketika Indonesia sedang mencapai puncaknya dari trend hijab. Dan para muslimah dadakan hijrah menutup aurat. Banyak sekali para pendatang desainer khusus hijab. Mereka datang dari berbagai kalangan. Paling hits adalah dari kalangan artis. Karena artis adalah sosok yang paling mudah ditiru. Dari mulai yang syar’i hingga busana muslimah casual nyentrik ala anak hip hop.

Para sumber daya manusia ini mulai berlomba-lomba menciptakan ide yang sekreatif mungkin agar desain yang dibuat laku dipasaran bahkan menjadi trendsetter terbaik.
Awalnya saya rasa bahagia mendengar kabar pusat fashion muslimah terbaik adalah Indonesia. Karena mayoritas penduduknya muslim. Namun yang sangat disayangkan adalah ketika para penumpuk hijab ini rela merogoh kantong berjuta-juta demi mendapatkan kepuasan berbusana seindah mungkin. Entah itu dari mulai model simple sampai model syar’i.


Kita bisa lihat contohnya dari pakaian syar’i pemain artis KCB. Dari mulai geger gamis jersey hingga para pemburu hijab kian ramai memakai gamis yang ternyata sangat elastis dibadan dan membentuk lekuk tubuh menjadi barang yang tak asing. Dan sekarang si artis yang semakin terkenal itu membuat hijab syari dengan model terbaru dengan harga mahal bagi saya.
Lihat dari modelnya saja saya merasa tak nyaman dimata. Sisi kanan berwarna hijau muda, sisi kiri merah muda. Lalu ada yang tengahnya hijau kanan kiri merah muda. Entalah bagaimana inspirasinya. Di mana letak mata kita saat melihat ini? Indahkah? Anggunkah?

Dan banyak sekali bermunculan gamis yang serupa dan banyak sekali yang menyalahi aturan.
Ah pasti. Karena setiap muslimah yang memakai baju bagus akan terlihat cantik. Tapi ingat “Innamal A’malu Binniyat” semuanya kembali keniat.

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Niat memakai pakaian adalah satu karena Allah  bukan untuk sebuah fashion kepuasan hati yang berlebihan.

Saya tidak bermaksud menjatuhkan Artis A, B, c dan D bahkan siapapun anda para pencipta fashion. Sekedar mengingatkan para muslimah yang sejatinya memiliki bentuk ketaatan dan ingin menghindari dosa.
Ingat kita bukanlah konsumen yang asal pakai. Jadilah konsumen yang cerdas menuntut muslimah menjadi seorang perempuan yang sederhana dan tidak menjadi sasaran empuk perdagangan bebas.
Karena perempuan tak bisa lepas dari belanja.

Ladang dosa banyak sama dengan ladang pahala. Sedikit demi sedikit pasti menuai hasil. Jadi menurut saya mulai dari yang kecil yakni melawan hawa nafsu yang besar dan tak terlihat bisa diendapkan. Bila perlu dikubur sebagai bentuk rasa syukur. Karena masih banyak orang yang ingin berhijab syari namun mereka tidak memiliki biaya. Di desa sana mereka mencari pakaian muslim begitu sulit.

Nilai dan Pakem Pokok

Dalam Islam, pakaian muslimah mengandung seperangkat nilai. Sebagai penutup aurat, perhiasan dan pakaian takwa (QS. Al-A’raf/7: 26); sebagai penanda identitas muslimah dan perlindungan kepadanya agar tidak dilecehkan (QS. al-Ahzab/33: 59); dan sebagai ekspresi penampilan yang terbaik di hadapan Allah (QS. Al-A’raf/7: 31). Pakaian muslimah bukan untuk menonjolkan kemolekan tubuh perempuan, karena tubuh perempuan bukanlah komoditas publik. Karena itulah segala bentuk perilaku berlebihan dan eksploitatif (tabarruj) dan pakaian yang dikenakan dengan keangkuhan, dilarang.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa pakem pokok busana muslimah adalah: menutup aurat, tidak ketat, tidak tipis (transparan), tidak berlebihan/eksploitatif, bersih dan patut, serta tidak menyerupai pakaian laki-laki. 

Tujuan Hijab
Banyak kampanye dan para penulis yang menggembar-gemborkan cantik itu berhijab. Penawaran iklan di tv, tabloid dan berbagai sumber media internet gencar. Bahwa berhijab itu jauh lebih cantik. Entah cantik apa yang dimaksud. Cantik yang secara fisik untuk mengundang kekaguman? Atau sebuah kesederhanaan?
Tujuan berhijab itu bukan untuk MENARIK/ MENGUNDANG SYAHWAT melainkan untuk menutupi mengurangi sebuah kecantikan dan kemolekan yang sesungguhnya.
Syari itu bukan macam-macam corak dan motif. Syari tidak mengundang mata melototi pakaian anda yang berharga mahal atau terlihat keren. Syar’i cukup satu. Taat terhadap Allah tidak mengundang heboh sana sini agar mendapatkan perhatian khusus.

Tulisan ini bukan bentuk kritikan, melainkan nasehat yang menguatkan. Pengingat disaat kita sedang futur. Saling mengingatkan tujuan saya, bukan menjatuhkan. Karena kita sesama muslim. Satu saudara yang sengaja diciptakan untuk menguatkan dan menegakkan Islam.
Semoga menjadi renungan bagi muslimah semuanya. Aaamiin.



Bismillah
Lama sudah tak kembali mengunjungi blog cantik ini. Banyak sekali yang ingin saya share. Termasuk kasus baru-baru ini. Mengenai mukenah berlambang salib. Mukenah ini berenda namun kesannya seperti salib. Saya sendiri tidak pernah suka melihat model dan motif renda-renda yang ada. Karena sebaik-baik pakaian adalah sederhana.
Bahkan Sajadah yang dulu hanya kain biasanya polos sekarang dibuat model bermacam-macam gambar dan corak. Bahkan dengan gambar yang mengundang banyak kontroversi.



Pakem fashion muslimah.
Pakaian yang menampakkan kemolekan tubuh, misalnya. Ia berangkat dari pandangan bahwa tubuh yang indah adalah kebanggaan yang patut diperlihatkan kepada orang lain. (Badriyah Fayumi)

Ketika Indonesia sedang mencapai puncaknya dari trend hijab. Dan para muslimah dadakan hijrah menutup aurat. Banyak sekali para pendatang desainer khusus hijab. Mereka datang dari berbagai kalangan. Paling hits adalah dari kalangan artis. Karena artis adalah sosok yang paling mudah ditiru. Dari mulai yang syar’i hingga busana muslimah casual nyentrik ala anak hip hop.

Para sumber daya manusia ini mulai berlomba-lomba menciptakan ide yang sekreatif mungkin agar desain yang dibuat laku dipasaran bahkan menjadi trendsetter terbaik.
Awalnya saya rasa bahagia mendengar kabar pusat fashion muslimah terbaik adalah Indonesia. Karena mayoritas penduduknya muslim. Namun yang sangat disayangkan adalah ketika para penumpuk hijab ini rela merogoh kantong berjuta-juta demi mendapatkan kepuasan berbusana seindah mungkin. Entah itu dari mulai model simple sampai model syar’i.


Kita bisa lihat contohnya dari pakaian syar’i pemain artis KCB. Dari mulai geger gamis jersey hingga para pemburu hijab kian ramai memakai gamis yang ternyata sangat elastis dibadan dan membentuk lekuk tubuh menjadi barang yang tak asing. Dan sekarang si artis yang semakin terkenal itu membuat hijab syari dengan model terbaru dengan harga mahal bagi saya.
Lihat dari modelnya saja saya merasa tak nyaman dimata. Sisi kanan berwarna hijau muda, sisi kiri merah muda. Lalu ada yang tengahnya hijau kanan kiri merah muda. Entalah bagaimana inspirasinya. Di mana letak mata kita saat melihat ini? Indahkah? Anggunkah?

Dan banyak sekali bermunculan gamis yang serupa dan banyak sekali yang menyalahi aturan.
Ah pasti. Karena setiap muslimah yang memakai baju bagus akan terlihat cantik. Tapi ingat “Innamal A’malu Binniyat” semuanya kembali keniat.

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Niat memakai pakaian adalah satu karena Allah  bukan untuk sebuah fashion kepuasan hati yang berlebihan.

Saya tidak bermaksud menjatuhkan Artis A, B, c dan D bahkan siapapun anda para pencipta fashion. Sekedar mengingatkan para muslimah yang sejatinya memiliki bentuk ketaatan dan ingin menghindari dosa.
Ingat kita bukanlah konsumen yang asal pakai. Jadilah konsumen yang cerdas menuntut muslimah menjadi seorang perempuan yang sederhana dan tidak menjadi sasaran empuk perdagangan bebas.
Karena perempuan tak bisa lepas dari belanja.

Ladang dosa banyak sama dengan ladang pahala. Sedikit demi sedikit pasti menuai hasil. Jadi menurut saya mulai dari yang kecil yakni melawan hawa nafsu yang besar dan tak terlihat bisa diendapkan. Bila perlu dikubur sebagai bentuk rasa syukur. Karena masih banyak orang yang ingin berhijab syari namun mereka tidak memiliki biaya. Di desa sana mereka mencari pakaian muslim begitu sulit.

Nilai dan Pakem Pokok

Dalam Islam, pakaian muslimah mengandung seperangkat nilai. Sebagai penutup aurat, perhiasan dan pakaian takwa (QS. Al-A’raf/7: 26); sebagai penanda identitas muslimah dan perlindungan kepadanya agar tidak dilecehkan (QS. al-Ahzab/33: 59); dan sebagai ekspresi penampilan yang terbaik di hadapan Allah (QS. Al-A’raf/7: 31). Pakaian muslimah bukan untuk menonjolkan kemolekan tubuh perempuan, karena tubuh perempuan bukanlah komoditas publik. Karena itulah segala bentuk perilaku berlebihan dan eksploitatif (tabarruj) dan pakaian yang dikenakan dengan keangkuhan, dilarang.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa pakem pokok busana muslimah adalah: menutup aurat, tidak ketat, tidak tipis (transparan), tidak berlebihan/eksploitatif, bersih dan patut, serta tidak menyerupai pakaian laki-laki. 

Tujuan Hijab
Banyak kampanye dan para penulis yang menggembar-gemborkan cantik itu berhijab. Penawaran iklan di tv, tabloid dan berbagai sumber media internet gencar. Bahwa berhijab itu jauh lebih cantik. Entah cantik apa yang dimaksud. Cantik yang secara fisik untuk mengundang kekaguman? Atau sebuah kesederhanaan?
Tujuan berhijab itu bukan untuk MENARIK/ MENGUNDANG SYAHWAT melainkan untuk menutupi mengurangi sebuah kecantikan dan kemolekan yang sesungguhnya.
Syari itu bukan macam-macam corak dan motif. Syari tidak mengundang mata melototi pakaian anda yang berharga mahal atau terlihat keren. Syar’i cukup satu. Taat terhadap Allah tidak mengundang heboh sana sini agar mendapatkan perhatian khusus.

Tulisan ini bukan bentuk kritikan, melainkan nasehat yang menguatkan. Pengingat disaat kita sedang futur. Saling mengingatkan tujuan saya, bukan menjatuhkan. Karena kita sesama muslim. Satu saudara yang sengaja diciptakan untuk menguatkan dan menegakkan Islam.
Semoga menjadi renungan bagi muslimah semuanya. Aaamiin.

Anak kecil yang takut kepada Allah SWT


Baca kisah ini jadi ingat pertama kali saya mengenal sholat malam dan benar-benar saya lakukan adalah saat belum baligh kelas 4 SD. Tapi disaat pemantapan hatiku menggerakan sholat malam dengan sepenuh hati saat kelas 6 SD. Dimana kondisiku merasa benar-benar terpuruk. Hidup begitu indah mendekatkan diri ketika ada masalah. Wah SD ada masalah? ada  dong. tak perlu dishare sekarang. 

Suatu hari Abu Yazid al-Busthami menunaikan shalat tahajud. Tiba-tiba anaknya yang masih kecil berdiri shalat di sampingnya. Abu Yazid merasa kasihan melihat anaknya yang masih kecil itu ikut shalat bersamanya, karena umumnya anak-anak kecil seusianya tidur di saat malam yang larut, apalagi malam itu udara terasa begitu dingin, orang-orang dewasa pun akan merasa berat meninggalkan tempat tidur mereka.

Abu Yazid berkata pada anaknya, “Tidurlah wahai anakku, malam masih panjang.”

Anaknya menjawab, “Lalu mengapa ayah shalat?”

Abu Yazid mengatakan, “Anakku, aku memang dituntut untuk shalat malam.”

Anaknya malah menjawab dengan hafalan ayat Alquran yang ia hafal, “Aku telah menghafal sebagian firman Allah yang berbunyi ‘Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa kamu berdiri shalat kurang dari dua pertiga malam atau seperdua malam atau sepertiganya dan demikian pula segolongan orang-orang yang bersama kamu (Nabi)’. Lalu siapa orang-orang yang berdiri shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Abu Yazid menjawab, “Tentu saja para sahabat beliau.”

Anak Abu Yazid kembali mengatakan, “Jangan menghalangiku untuk meraih kemuliaan menyertaimu dalam ketaatan kepada Allah.”

Abu Yazid dengan penuh kekaguman berkata, “Anakku kamu masih bocah dan belum mencapai usia dewasa.”

Anaknya menjawab, “Ayah, aku melihat ibu sewaktu menyalakan api dia memulai dengan potongan-potongan kayu kecil untuk menyalakan kayu-kayu yang besar. Maka aku takut Allah memulai dengan kami para anak kecil sebelum orang-orang dewasa pada hari kiamat nanti, jika kita lalai dari ketaatan kepada-Nya.”

Abu Yazid pun tersentak dengan ucapa anaknya itu dan kagum dengan rasa takut kepada Allah yang dimiliki anaknya walaupun masih sangat kecil. Abu Yazid berkata, “Anakku berdirilah. Kamu lebih berhak dengan Allah daripada bapakmu.”
Maha Suci Allah, yang mengubah keadaan. Hari ini anak-anak kita jauh dari Allah, mereka sibuk dengan hal-hal yang menjauhkan mereka dari Allah dan terbiasa dengan akhlak dan budi pekerti yang rendah. Kalau generasi dahulu sejak kecil mereka telah mengenal ketaatan, mungkin tidak berlebihan apabila kita katakan anak-anak sekarang sejak kecil telah mengenal kemaksiatan kecuali yang diselamatkan oleh Allah. Oleh karena itu, para orang tua hendaknya menjadi teladan bagi anak-anak mereka, mencontohkan perbuatan ketaatan, dan menjauhkan mereka dari acara-acara dan program yang memuat akhlak yang hina, karena anak-anak meniru apa yang mereka saksikan.

Mudah-mudahan Allah memberi taufik kepada kita dan keluarga kita untuk selalu menaatinya.


Sumber: Ensiklopedi Kisah Generasi Salaf

Sumber gambar : google gambar.



Baca kisah ini jadi ingat pertama kali saya mengenal sholat malam dan benar-benar saya lakukan adalah saat belum baligh kelas 4 SD. Tapi disaat pemantapan hatiku menggerakan sholat malam dengan sepenuh hati saat kelas 6 SD. Dimana kondisiku merasa benar-benar terpuruk. Hidup begitu indah mendekatkan diri ketika ada masalah. Wah SD ada masalah? ada  dong. tak perlu dishare sekarang. 

Suatu hari Abu Yazid al-Busthami menunaikan shalat tahajud. Tiba-tiba anaknya yang masih kecil berdiri shalat di sampingnya. Abu Yazid merasa kasihan melihat anaknya yang masih kecil itu ikut shalat bersamanya, karena umumnya anak-anak kecil seusianya tidur di saat malam yang larut, apalagi malam itu udara terasa begitu dingin, orang-orang dewasa pun akan merasa berat meninggalkan tempat tidur mereka.

Abu Yazid berkata pada anaknya, “Tidurlah wahai anakku, malam masih panjang.”

Anaknya menjawab, “Lalu mengapa ayah shalat?”

Abu Yazid mengatakan, “Anakku, aku memang dituntut untuk shalat malam.”

Anaknya malah menjawab dengan hafalan ayat Alquran yang ia hafal, “Aku telah menghafal sebagian firman Allah yang berbunyi ‘Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa kamu berdiri shalat kurang dari dua pertiga malam atau seperdua malam atau sepertiganya dan demikian pula segolongan orang-orang yang bersama kamu (Nabi)’. Lalu siapa orang-orang yang berdiri shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Abu Yazid menjawab, “Tentu saja para sahabat beliau.”

Anak Abu Yazid kembali mengatakan, “Jangan menghalangiku untuk meraih kemuliaan menyertaimu dalam ketaatan kepada Allah.”

Abu Yazid dengan penuh kekaguman berkata, “Anakku kamu masih bocah dan belum mencapai usia dewasa.”

Anaknya menjawab, “Ayah, aku melihat ibu sewaktu menyalakan api dia memulai dengan potongan-potongan kayu kecil untuk menyalakan kayu-kayu yang besar. Maka aku takut Allah memulai dengan kami para anak kecil sebelum orang-orang dewasa pada hari kiamat nanti, jika kita lalai dari ketaatan kepada-Nya.”

Abu Yazid pun tersentak dengan ucapa anaknya itu dan kagum dengan rasa takut kepada Allah yang dimiliki anaknya walaupun masih sangat kecil. Abu Yazid berkata, “Anakku berdirilah. Kamu lebih berhak dengan Allah daripada bapakmu.”
Maha Suci Allah, yang mengubah keadaan. Hari ini anak-anak kita jauh dari Allah, mereka sibuk dengan hal-hal yang menjauhkan mereka dari Allah dan terbiasa dengan akhlak dan budi pekerti yang rendah. Kalau generasi dahulu sejak kecil mereka telah mengenal ketaatan, mungkin tidak berlebihan apabila kita katakan anak-anak sekarang sejak kecil telah mengenal kemaksiatan kecuali yang diselamatkan oleh Allah. Oleh karena itu, para orang tua hendaknya menjadi teladan bagi anak-anak mereka, mencontohkan perbuatan ketaatan, dan menjauhkan mereka dari acara-acara dan program yang memuat akhlak yang hina, karena anak-anak meniru apa yang mereka saksikan.

Mudah-mudahan Allah memberi taufik kepada kita dan keluarga kita untuk selalu menaatinya.


Sumber: Ensiklopedi Kisah Generasi Salaf

Sumber gambar : google gambar.


Kuku tidak boleh dipanjangkan

Memanjangkan kuku termasuk perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan as-Sunnah, di mana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda;


“Hal yang fitrah itu ada lima atau lima hal merupakan fitrah, yaitu khitan, mencukur rambut kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur kumis.” (HR. Al-Bukhari, bab pakaian (5889); Muslim, bab bersuci (257))

Kuku tidak boleh dibiarkan panjang hingga 40 (empat puluh) hari. Hal itu berdasarkan keterangan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu , seraya berkata;

“Telah ditentukan bagi kita (kaum muslimin) batas waktu mencukur kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur rambut kemaluan, bahwa tidak boleh membiarkannya lebih dari 40 (empat puluh) malam.” (HR. Muslim, bab bersuci (258)). Memanjangkan kuku dikategorikan menyerupai binatang dan sebagai orang kafir.
Kuku yang melebihi ujung jari, karena dapat menyimpan kotoran yang menjijikkan dibawahnya, dan bahkan bisa menghalangi masuknya air tatkala berwudhu’ atau mandi.

• Waktunya ?

Tidak ada ketentuan hari atau waktu tertentu yang shahih dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam untuk memotong kuku. Semua hadits yang menceritakan tentang perbuatan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam atau perintah beliau untuk memotong kuku pada hari atau waktu tertentu adalah lemah (dho’if).

Hadist tentang memotong kuku hari Jumat yang sering dilakukan Rosulullah juga hadist lemah, sebagaimana diterangkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (10/346). Atas dasar ini, tidak ada keterangan hari tertentu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam yang shahih untuk memotong kuku. Semakin sering seseorang membersihkannya, itulah yang utama.

• Mencuci Ujung Jemari Setelahnya ?

Demikian pula halnya dengan mencuci ujung jemari setelah memotong kuku, tidak ada keterangan yang shahih dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Hanya saja sebagian ulama’ menyarankan bagi orang yang telah memotong kuku agar membilasnya dengan air. Dengan alasan bahwa seseorang yang memotong kukunya kemudian menggaruk badannya dengan kuku tersebut sebelum dicuci dapat berakibat tidak baik.

Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan, “Dan disukai mencuci ujung jemari setelah memotong kuku. Karena ada yang mengatakan, bahwa menggaruk badan dengan kuku (yang baru dipotong) sebelum di cuci, dapat berdampak negatif.” (Al-Mughni 1/100)

Asy-Syaikh Abu Hasyim rahimahullah mengomentari pendapat di atas, “Mungkin saja hal itu berdasarkan pengalaman yang mereka alami.” (Syarhu Khishalil Fithrah hal. 10)

• Tata caranya

Diutamakan mendahulukan tangan atau kakinya yang kanan. ‘Aisyah radliyallahu ‘anha mengabarkan,

“Dahulu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam senang mendahulukan sisi yang kanan dalam memakai sandal, bersisir, bersuci, dan dalam semua urusannya (yang baik).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Namun tidak ada awalan kuku mana yang harus dipotong. Melainkan bebas. Begitu pula tidak ada keterangan yang shahih dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam tentang mendahulukan tangan sebelum kaki. 

Sebagai kesimpulan, Al-Imam Syamsuddin As-Sakhawi rahimahullah mengatakan, “Tidak ada (hadits yang shahih) tentang tata cara memotong kuku atau penentuan harinya dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam.” (Al-Maqashidul Hasanah hal. 489)

• Berwudhu Setelahnya ?

Al-Imam Mujahid, Al-Hakam bin ‘Utbah, dan Hammad rahimahumullah berkata, “Barangsiapa memotong kukunya atau memendekkan kumisnya maka wajib atasnya berwudhu’.” (Fathul Bari 1/281) Pendapat mereka ini dikomentari oleh Ibnu Qudamah rahimahullah, kata beliau, “Pendapat mayoritas ulama’ menyelisihi mereka. Dan kami tidak mengetahui mereka memiliki hujjah (dalil) atas pendapatnya itu. Wallahu subhanahu wa ta’ala a’lam.” (Al-Mughni 1/227)

• Memendam Potongan Kuku

Sebagian ulama salaf, seperti Abdullah bin ‘Umar radliyallahu ‘anhuma, Muhammad bin Sirin, Ahmad bin Hanbal rahimahullah, dan selain mereka menyukai memendam potongan kuku atau rambut. Muhannan rahimahullah berkata, “Aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal rahimahullah tentang seseorang yang memotong rambut dan kukunya, apakah (potongan rambut dan kukunya itu) dipendam ataukah dibuang begitu saja?” beliau menjawab, “Dipendam”, aku bertanya lagi, “Apakah sampai kepadamu dalil tentang hal ini?” Imam Ahmad menjawab, “Ibnu ‘Umar memendamnya.”

Oleh karena itu, boleh bagi seseorang memendam potongan rambut dan kuku-kukunya, terlebih jika dikhawatirkan akan dijadikan permainan oleh para tukang sihir. Dengan catatan jangan sampai meyakininya sebagai sunnah, karena tidak ada dalil yang shahih tentang hal itu. Dalam memotong kuku boleh meminta bantuan orang lain. Terlebih, bila seseorang tidak bisa memotong kuku kanannya dengan baik. Karena kebanyakan orang tidak dapat menggunakan tangan kirinya dengan baik untuk memotong kuku, sehingga lebih utama baginya meminta orang lain melakukannya agar tidak melukai dan menyakiti tangannya. (Tharhut Tatsrïb fï Syarhit Taqrïb 1/243)
Wallahu a'lam.

Dirangkum oleh Annurshah

Sumber : http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=1820
http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com/2010/06/larangan-memanjangkan-kuku-hukum.html

Memanjangkan kuku termasuk perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan as-Sunnah, di mana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda;


“Hal yang fitrah itu ada lima atau lima hal merupakan fitrah, yaitu khitan, mencukur rambut kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur kumis.” (HR. Al-Bukhari, bab pakaian (5889); Muslim, bab bersuci (257))

Kuku tidak boleh dibiarkan panjang hingga 40 (empat puluh) hari. Hal itu berdasarkan keterangan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu , seraya berkata;

“Telah ditentukan bagi kita (kaum muslimin) batas waktu mencukur kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur rambut kemaluan, bahwa tidak boleh membiarkannya lebih dari 40 (empat puluh) malam.” (HR. Muslim, bab bersuci (258)). Memanjangkan kuku dikategorikan menyerupai binatang dan sebagai orang kafir.
Kuku yang melebihi ujung jari, karena dapat menyimpan kotoran yang menjijikkan dibawahnya, dan bahkan bisa menghalangi masuknya air tatkala berwudhu’ atau mandi.

• Waktunya ?

Tidak ada ketentuan hari atau waktu tertentu yang shahih dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam untuk memotong kuku. Semua hadits yang menceritakan tentang perbuatan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam atau perintah beliau untuk memotong kuku pada hari atau waktu tertentu adalah lemah (dho’if).

Hadist tentang memotong kuku hari Jumat yang sering dilakukan Rosulullah juga hadist lemah, sebagaimana diterangkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (10/346). Atas dasar ini, tidak ada keterangan hari tertentu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam yang shahih untuk memotong kuku. Semakin sering seseorang membersihkannya, itulah yang utama.

• Mencuci Ujung Jemari Setelahnya ?

Demikian pula halnya dengan mencuci ujung jemari setelah memotong kuku, tidak ada keterangan yang shahih dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Hanya saja sebagian ulama’ menyarankan bagi orang yang telah memotong kuku agar membilasnya dengan air. Dengan alasan bahwa seseorang yang memotong kukunya kemudian menggaruk badannya dengan kuku tersebut sebelum dicuci dapat berakibat tidak baik.

Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan, “Dan disukai mencuci ujung jemari setelah memotong kuku. Karena ada yang mengatakan, bahwa menggaruk badan dengan kuku (yang baru dipotong) sebelum di cuci, dapat berdampak negatif.” (Al-Mughni 1/100)

Asy-Syaikh Abu Hasyim rahimahullah mengomentari pendapat di atas, “Mungkin saja hal itu berdasarkan pengalaman yang mereka alami.” (Syarhu Khishalil Fithrah hal. 10)

• Tata caranya

Diutamakan mendahulukan tangan atau kakinya yang kanan. ‘Aisyah radliyallahu ‘anha mengabarkan,

“Dahulu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam senang mendahulukan sisi yang kanan dalam memakai sandal, bersisir, bersuci, dan dalam semua urusannya (yang baik).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Namun tidak ada awalan kuku mana yang harus dipotong. Melainkan bebas. Begitu pula tidak ada keterangan yang shahih dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam tentang mendahulukan tangan sebelum kaki. 

Sebagai kesimpulan, Al-Imam Syamsuddin As-Sakhawi rahimahullah mengatakan, “Tidak ada (hadits yang shahih) tentang tata cara memotong kuku atau penentuan harinya dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam.” (Al-Maqashidul Hasanah hal. 489)

• Berwudhu Setelahnya ?

Al-Imam Mujahid, Al-Hakam bin ‘Utbah, dan Hammad rahimahumullah berkata, “Barangsiapa memotong kukunya atau memendekkan kumisnya maka wajib atasnya berwudhu’.” (Fathul Bari 1/281) Pendapat mereka ini dikomentari oleh Ibnu Qudamah rahimahullah, kata beliau, “Pendapat mayoritas ulama’ menyelisihi mereka. Dan kami tidak mengetahui mereka memiliki hujjah (dalil) atas pendapatnya itu. Wallahu subhanahu wa ta’ala a’lam.” (Al-Mughni 1/227)

• Memendam Potongan Kuku

Sebagian ulama salaf, seperti Abdullah bin ‘Umar radliyallahu ‘anhuma, Muhammad bin Sirin, Ahmad bin Hanbal rahimahullah, dan selain mereka menyukai memendam potongan kuku atau rambut. Muhannan rahimahullah berkata, “Aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal rahimahullah tentang seseorang yang memotong rambut dan kukunya, apakah (potongan rambut dan kukunya itu) dipendam ataukah dibuang begitu saja?” beliau menjawab, “Dipendam”, aku bertanya lagi, “Apakah sampai kepadamu dalil tentang hal ini?” Imam Ahmad menjawab, “Ibnu ‘Umar memendamnya.”

Oleh karena itu, boleh bagi seseorang memendam potongan rambut dan kuku-kukunya, terlebih jika dikhawatirkan akan dijadikan permainan oleh para tukang sihir. Dengan catatan jangan sampai meyakininya sebagai sunnah, karena tidak ada dalil yang shahih tentang hal itu. Dalam memotong kuku boleh meminta bantuan orang lain. Terlebih, bila seseorang tidak bisa memotong kuku kanannya dengan baik. Karena kebanyakan orang tidak dapat menggunakan tangan kirinya dengan baik untuk memotong kuku, sehingga lebih utama baginya meminta orang lain melakukannya agar tidak melukai dan menyakiti tangannya. (Tharhut Tatsrïb fï Syarhit Taqrïb 1/243)
Wallahu a'lam.

Dirangkum oleh Annurshah

Sumber : http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=1820
http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com/2010/06/larangan-memanjangkan-kuku-hukum.html

Agar Anak Tak Hobi Jajan


Abu dan Ummu mungkin dibuat kewalahan menghadapi buah hati yang suka jajan. Jika memang benar demikian, jangan keburu menyalahkan anak dan orang lain. Sebab, bisa jadi Abu dan Ummu sendiri yang menyebabkan mereka gemar jajan!

Berdasarkan hasil survei Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada 2007, dari 4.500 sekolah di Indonesia ada 45% jajanan yang dijual di sekitar sekolah tercemar bahaya pangan mikrobiologis dan kimia. Bahaya utama berasal dari cemaran fisik mikrobiologi dan kimia seperti pewarna tekstil. Jenis jajanan berbahaya ini meliputi makanan utama, makanan ringan, dan minuman.

Peran orang tua
Jika ditelusuri, ternyata penyebab anak jajan boleh jadi adalah orang tua sendiri. Mungkin Anda bertanya-tanya, mengapa bisa begitu? Saat lahir, anak tidak mengenal kata jajan sampai ada beberapa tindakan orang tua yang akhirnya membuat anak mengenal kata itu dan menjadikannya kebiasaan.
Berikut ini, beberapa hal yang membuat anak “mengenal” jajan pada usia dini:
- Beberapa orang tua bila anak rewel akhirnya mengajak anak jajan untuk mendiamkan anak.
- Beberapa orang tua punya kebiasaan jajan yang akhirnya ditiru oleh anak.
- Orang tua sengaja mengajak anak jajan.
- Orang tua memberi jajanan yang berlebihan untuk bekal sekolah.

Jadi, sebenarnya jika keempat hal tersebut dihindari, anak tidak akan tahu tentang jajan. Ketika anak rewel, sebenarnya yang dia butuhkan adalah perhatian orang tua. Apabila anak rewel tersebut kita ajak bicara, kita dengarkan keluhannya, kita ajak bermain, kita ajak bercanda, kita ajak bercerita, anak tidak akan ingat lagi dengan jajan. Jadi, mulailah menghilangkan solusi jajan untuk mendiamkan anak sementara, tapi merusak mentalnya di masa depan menjadi anak yang konsumtif.

Bagaimana mencegahnya?
Untuk mencegah kebiasaan jajan anak, harus dimulai dari pola makan keluarga. Salah satu cara adalah membuat “kudapan tandingan” yang tidak kalah enak dari jajanan yang dapat dibeli di luar rumah.
Sebagai upaya preventif, anak harus dikenalkan pada pola makan sehat dan orangtua harus dapat dijadikan contoh atau panutan. Tidak ada gunanya melarang anak jajan kalau orangtuanya juga sering jajan dengan alasan tidak sempat memasak karena kesibukannya.

Selain itu, sebagai upaya kuratif, Abu dan Ummu harus dapat menata kegiatan makan, membuat camilan bersama dengan anak, dan memperkenalkan anak pada berbagai jenis makanan. Abu dan Ummu juga harus bertindak tegas terhadap kebiasaan kurang baik itu. Bertindak tegas bukan berarti harus dengan cara kekerasan membentak atau lainnya, tetapi anak dibatasi untuk jajan. kebiasaan jajan dapat mengurangi nafsu makan anak di rumah, apalagi makanan yang ia beli belum tentu bergizi dan sehat. Bahkan, meski masih balita biarkan anak menangis kalau mau minta jajan. Sampai menangis berguling-guling pun, biarkan dia. Ini sebagai pembelajaran.

Jajan boleh, asal…
Anak adalah peniru yang baik. Oleh karena itu, orang tua juga harus memperlihatkan contoh tidak jajan kepada anaknya. Apalagi sengaja mengajak anak jajan secara teratur, sehingga anak terbiasa jajan. Sebenarnya, jajan itu boleh. Tapi, ada beberapa syaratnya, yaitu :
1. Tidak untuk jadi satu kebiasaan (hanya sesekali)
2. Tidak berlebihan
3. Pilih jajanan yang sehat

Selain itu, akan lebih baik, bila konsep hemat itu tertanam pada diri anak. Ketika dia memilih jajanan untuk bekal sekolahnya, sebaiknya diberi batasan jumlah uang. Hal ini, membuat anak berpikir bahwa jumlah uang ada batasnya.

Baiklah Abu dan Ummu, sebagai penutup bersabarlah untuk konsisten dalam hal ini, karena betapa besar penghematan yang orang tua akan dapatkan karena memiliki anak yang shalih, yang tidak hobi jajan. (***)

Sumber gambar : Google
sumber artikel : Majalah Sakinah

Abu dan Ummu mungkin dibuat kewalahan menghadapi buah hati yang suka jajan. Jika memang benar demikian, jangan keburu menyalahkan anak dan orang lain. Sebab, bisa jadi Abu dan Ummu sendiri yang menyebabkan mereka gemar jajan!

Berdasarkan hasil survei Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada 2007, dari 4.500 sekolah di Indonesia ada 45% jajanan yang dijual di sekitar sekolah tercemar bahaya pangan mikrobiologis dan kimia. Bahaya utama berasal dari cemaran fisik mikrobiologi dan kimia seperti pewarna tekstil. Jenis jajanan berbahaya ini meliputi makanan utama, makanan ringan, dan minuman.

Peran orang tua
Jika ditelusuri, ternyata penyebab anak jajan boleh jadi adalah orang tua sendiri. Mungkin Anda bertanya-tanya, mengapa bisa begitu? Saat lahir, anak tidak mengenal kata jajan sampai ada beberapa tindakan orang tua yang akhirnya membuat anak mengenal kata itu dan menjadikannya kebiasaan.
Berikut ini, beberapa hal yang membuat anak “mengenal” jajan pada usia dini:
- Beberapa orang tua bila anak rewel akhirnya mengajak anak jajan untuk mendiamkan anak.
- Beberapa orang tua punya kebiasaan jajan yang akhirnya ditiru oleh anak.
- Orang tua sengaja mengajak anak jajan.
- Orang tua memberi jajanan yang berlebihan untuk bekal sekolah.

Jadi, sebenarnya jika keempat hal tersebut dihindari, anak tidak akan tahu tentang jajan. Ketika anak rewel, sebenarnya yang dia butuhkan adalah perhatian orang tua. Apabila anak rewel tersebut kita ajak bicara, kita dengarkan keluhannya, kita ajak bermain, kita ajak bercanda, kita ajak bercerita, anak tidak akan ingat lagi dengan jajan. Jadi, mulailah menghilangkan solusi jajan untuk mendiamkan anak sementara, tapi merusak mentalnya di masa depan menjadi anak yang konsumtif.

Bagaimana mencegahnya?
Untuk mencegah kebiasaan jajan anak, harus dimulai dari pola makan keluarga. Salah satu cara adalah membuat “kudapan tandingan” yang tidak kalah enak dari jajanan yang dapat dibeli di luar rumah.
Sebagai upaya preventif, anak harus dikenalkan pada pola makan sehat dan orangtua harus dapat dijadikan contoh atau panutan. Tidak ada gunanya melarang anak jajan kalau orangtuanya juga sering jajan dengan alasan tidak sempat memasak karena kesibukannya.

Selain itu, sebagai upaya kuratif, Abu dan Ummu harus dapat menata kegiatan makan, membuat camilan bersama dengan anak, dan memperkenalkan anak pada berbagai jenis makanan. Abu dan Ummu juga harus bertindak tegas terhadap kebiasaan kurang baik itu. Bertindak tegas bukan berarti harus dengan cara kekerasan membentak atau lainnya, tetapi anak dibatasi untuk jajan. kebiasaan jajan dapat mengurangi nafsu makan anak di rumah, apalagi makanan yang ia beli belum tentu bergizi dan sehat. Bahkan, meski masih balita biarkan anak menangis kalau mau minta jajan. Sampai menangis berguling-guling pun, biarkan dia. Ini sebagai pembelajaran.

Jajan boleh, asal…
Anak adalah peniru yang baik. Oleh karena itu, orang tua juga harus memperlihatkan contoh tidak jajan kepada anaknya. Apalagi sengaja mengajak anak jajan secara teratur, sehingga anak terbiasa jajan. Sebenarnya, jajan itu boleh. Tapi, ada beberapa syaratnya, yaitu :
1. Tidak untuk jadi satu kebiasaan (hanya sesekali)
2. Tidak berlebihan
3. Pilih jajanan yang sehat

Selain itu, akan lebih baik, bila konsep hemat itu tertanam pada diri anak. Ketika dia memilih jajanan untuk bekal sekolahnya, sebaiknya diberi batasan jumlah uang. Hal ini, membuat anak berpikir bahwa jumlah uang ada batasnya.

Baiklah Abu dan Ummu, sebagai penutup bersabarlah untuk konsisten dalam hal ini, karena betapa besar penghematan yang orang tua akan dapatkan karena memiliki anak yang shalih, yang tidak hobi jajan. (***)

Sumber gambar : Google
sumber artikel : Majalah Sakinah

5 Hal yang Boleh Tergesa-Gesa


Ada lima hal yang boleh segera atau tergesa-gesa dilakukan padahal asal tergesa-gesa adalah dari setan. Namun karena ini ada kebaikan, maka boleh tergesa-gesa atau meminta segera untuk dilakukan.
Dalam Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim Al Ashbahani disebutkan perkataan berikut ini dari Hatim Al Ashom,
“Ketergesa-gesaan biasa dikatakan dari setan kecuali dalam lima perkara:

1- Menyajikan makanan ketika ada tamu
ini harus dilakukan cepat. Tamu datang lalu kita memberi kode adik / kita sendiri masuk ke dapur untuk membuatkan minuman. Entah itu minuman sekedar air putih. Tidak perlu dipaksakan harus seadanya. Jangan sampai pinjam gula tetangga  :p
Nanti tamu bisa pergi duluan karena menunggu terlalu lama.
2- Mengurus mayit ketika ia mati
Disyariatkan untuk menyegerakan penguburan jenazah, jika memungkinkan. Tidak dibenarkan ika ada seorang muslim yang telah diketahui akan kematiannya lalu keluarganya menunda-nunda penguburannya hanya dengan alasan untuk menunggu keluarga atau kerabatnya yang belum datang, masih menunggu diotopsi, masih menantikan persiapan upacara adat atau tradisi dan lain sebagainya.  Hal tersebut sebagaimana tertera di dalam dalil berikut ini,

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Bersegeralah di dalam (mengurus) jenazah. Jika ia orang shalih maka kebaikanlah yang kalian persembahkan kepadanya, tetapi jika ia tidak seperti itu maka keburukanlah yang kalian letakkan dari atas pundak-pundak kalian”. [HR al-Bukhoriy: 1315, Muslim: 944, an-Nasa’iy: II: 42, Abu Dawud: 3181, Ibnu Majah: 1477 dan Ahmad: II/ 240, 280, 488. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. 

Hadits berikutnya. 
 Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Apabila jenazah diletakkan dan digotong oleh kaum pria di atas pundak-pundak mereka. Jika ia (yakni jenazah itu) orang shalih, maka ia berkata, segerakan aku!, segerakan aku!”. Jika ia tidak shalih, maka ia berkata, “Duhai celakalah aku, kemanakah gerangan kalian hendak membawaku?”. Segala sesuatu dapat mendengar perkataannya kecuali manusia, seandainya ia dapat mendengarnya niscaya ia akan pingsan. [HR an-Nasa’iy: IV/ 41, al-Bukhoriy: 1314, 1316, 1380 dan Ahmad: III/ 41, 58. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. 

3- Menikahkan seorang gadis jika sudah bertemu jodohnya
Menikahkan anak perempuan jika sudah berumur dan sudah ketemu jodohnya. Sebagai orangtua memiliki kewajiban untuk segera menikahkan anak-anaknya yang sudah berumur dan ketemu jodohnya.

4- Melunasi utang ketika sudah jatuh tempo
Membayar hutang kalau sudah jatuh tempo. Kalau sudah jatuh tempo, hutang kita harus segera dibayarkan. 
“Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah no. 2414. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

5- Segera bertaubat jika berbuat dosa. 
Taubat dari setiap dosa yang telah diperbuat. Kita diperintahkan untuk segera bertaubat atas dosa yang telah kita perbuat. Ketika kita berdosa, kita jangan santai, diam, slow atau apalah bahasanya sehingga kita lupa memohon ampun. Lama kelamaan, kalau dosa itu sudah menumpuk akan susah dihapus.  

Sumber tulisan : http://rumaysho.com
dan beberapa hadist tambahan  lainya.

Ada lima hal yang boleh segera atau tergesa-gesa dilakukan padahal asal tergesa-gesa adalah dari setan. Namun karena ini ada kebaikan, maka boleh tergesa-gesa atau meminta segera untuk dilakukan.
Dalam Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim Al Ashbahani disebutkan perkataan berikut ini dari Hatim Al Ashom,
“Ketergesa-gesaan biasa dikatakan dari setan kecuali dalam lima perkara:

1- Menyajikan makanan ketika ada tamu
ini harus dilakukan cepat. Tamu datang lalu kita memberi kode adik / kita sendiri masuk ke dapur untuk membuatkan minuman. Entah itu minuman sekedar air putih. Tidak perlu dipaksakan harus seadanya. Jangan sampai pinjam gula tetangga  :p
Nanti tamu bisa pergi duluan karena menunggu terlalu lama.
2- Mengurus mayit ketika ia mati
Disyariatkan untuk menyegerakan penguburan jenazah, jika memungkinkan. Tidak dibenarkan ika ada seorang muslim yang telah diketahui akan kematiannya lalu keluarganya menunda-nunda penguburannya hanya dengan alasan untuk menunggu keluarga atau kerabatnya yang belum datang, masih menunggu diotopsi, masih menantikan persiapan upacara adat atau tradisi dan lain sebagainya.  Hal tersebut sebagaimana tertera di dalam dalil berikut ini,

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Bersegeralah di dalam (mengurus) jenazah. Jika ia orang shalih maka kebaikanlah yang kalian persembahkan kepadanya, tetapi jika ia tidak seperti itu maka keburukanlah yang kalian letakkan dari atas pundak-pundak kalian”. [HR al-Bukhoriy: 1315, Muslim: 944, an-Nasa’iy: II: 42, Abu Dawud: 3181, Ibnu Majah: 1477 dan Ahmad: II/ 240, 280, 488. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. 

Hadits berikutnya. 
 Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Apabila jenazah diletakkan dan digotong oleh kaum pria di atas pundak-pundak mereka. Jika ia (yakni jenazah itu) orang shalih, maka ia berkata, segerakan aku!, segerakan aku!”. Jika ia tidak shalih, maka ia berkata, “Duhai celakalah aku, kemanakah gerangan kalian hendak membawaku?”. Segala sesuatu dapat mendengar perkataannya kecuali manusia, seandainya ia dapat mendengarnya niscaya ia akan pingsan. [HR an-Nasa’iy: IV/ 41, al-Bukhoriy: 1314, 1316, 1380 dan Ahmad: III/ 41, 58. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. 

3- Menikahkan seorang gadis jika sudah bertemu jodohnya
Menikahkan anak perempuan jika sudah berumur dan sudah ketemu jodohnya. Sebagai orangtua memiliki kewajiban untuk segera menikahkan anak-anaknya yang sudah berumur dan ketemu jodohnya.

4- Melunasi utang ketika sudah jatuh tempo
Membayar hutang kalau sudah jatuh tempo. Kalau sudah jatuh tempo, hutang kita harus segera dibayarkan. 
“Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah no. 2414. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

5- Segera bertaubat jika berbuat dosa. 
Taubat dari setiap dosa yang telah diperbuat. Kita diperintahkan untuk segera bertaubat atas dosa yang telah kita perbuat. Ketika kita berdosa, kita jangan santai, diam, slow atau apalah bahasanya sehingga kita lupa memohon ampun. Lama kelamaan, kalau dosa itu sudah menumpuk akan susah dihapus.  

Sumber tulisan : http://rumaysho.com
dan beberapa hadist tambahan  lainya.

JANGAN MENYALAHKAN!!


JANGAN MENYALAHKAN UNTUK YANG SUDAH MENIKAH



Ini bukan sekedar buat yang sudah menikah saja, melainkan yang masih single untuk calon istri atau suami.
Sebaiknya kita bisa menempatkan diri dalam berbicara. Perempuan shalihah terbiasa dan saya yakin ia akan menjaga hati dan lisan dengan baik.
Meskipun terkadang namanya permasalahan kecil dalam rumah tangga selalu hadir. Cobalah menjadi orang yang selalu bersikap dewasa saat berhadapan dengan para pasanganmu.
Tapi kata-kata yang akan terucap jika saat keputusan sang suami/istrimusalah dan tak mau menerima tanpa musyawarah, kita jangan dongkol atau lebay. Marah-marah tak jelas lalu mengambek dan cerewet ngomel-ngomel sampai suami/istri stress dengar celotehan kita.
Syaratnya satu, mau menerima kekurangan dan kesalahan-kesalahannya. Kesalahannya tanpa musyawarah atau sudah musyawarah terlebih dahulu harus dimaklumi.

Contoh 
“Bi, dompetku hilang di pasar. Pas mau bayar belanjaan udah gak ada di kantong! Hiks”
Suami menjawab dengan kesal. 
“Kamu dibilangin ngeyel. Salahmu sendiri, disuruh bawa tas slempang buat naruh dompet malah taruh dikantong. Kan bisa jadi jatuh tuh dompet!”
“Abang bukannya bantuin aku nyari ke pasar. Malah marahin aku! Biasanya juga gak papa kok!”
Ributlah.

Contoh yang baik.
Ganti dengan kalimat yang baik ketika istri panik.
“Umi, kan abi sudah bilang jangan taruh dikantong barangkali saja jatuh. Namanya kesenggol orang dipasar kan banyak. Yasudah lain kali dengerin abi ya? Yuk kita cari lagi ke pasar. 

Contoh lagi yang sering menyalahkan.
“Ini semua gara-gara abang! Coba abang kasih aku seratus ribu, gak bakalan aku sampai pinjem tetangga. Sekarang mana tetangganya yang dipinjemin duit ketus lagi sama aku!”

Ini ada kutipan menarik dari sebuah buku sebenarnya buku ini untuk remaja. Sudah lama sekali terbit. Penulisnya Ustad Burhan Shodiq. 
Dan saya merasa banyak belajar dari buku ini. Meski bacanya Cuma di googlereads. hehe...

Kalau cinta jangan katakan “Ini salahmu!” tapi “Maafkan aku ya?”Bukan “Kau di mana?!” melainkan “Aku di sini kenapa?”Tidak “Kok bisa sih kau begitu!” tapi “Aku ngerti”.Dan juga tidak “Coba, seandainya ka…” akan tetapi “Terima kasih ya, kau begitu…. .

Sebenarnya bukan berlaku untuk pasangan suami istri saja, melainkan dengan keluarga dan teman serta lingkungan sekitar. Karena bagaimanapun kita ini mahluk biasa yang harus banyak belajar dari kesalahan. 
Hal yang sering terjadi kecoplasan jaman SMA.

"Amii... minumnya tumpah." temanku berteriak.
"Oh iya, wah kamu Ti, bukannya bilang dari tadi"
Titi marah. "Bukannya bilang gimana? itu barusan aku bilang! aneh!"
Ribut deh....
"Minta maaf ya. minta maaf." Ami mulai merasa bersalah.
Titi tetap diam tak melirik. Berceloteh sendiri dengan kesal.

Sifat dan hati manusia itu berbeda-beda loh. Hati-hati ya dalam mengutarakan sesuatu. Salah ucap sedikit bisa jadi petaka. Cekcok tak ada penyelesaian. Egois ini harus dihindari. 

Salam Annurshah.

Lihat sini yuk kata-kata romantis dalam bahasa arab.


Gambar sumber google

JANGAN MENYALAHKAN UNTUK YANG SUDAH MENIKAH



Ini bukan sekedar buat yang sudah menikah saja, melainkan yang masih single untuk calon istri atau suami.
Sebaiknya kita bisa menempatkan diri dalam berbicara. Perempuan shalihah terbiasa dan saya yakin ia akan menjaga hati dan lisan dengan baik.
Meskipun terkadang namanya permasalahan kecil dalam rumah tangga selalu hadir. Cobalah menjadi orang yang selalu bersikap dewasa saat berhadapan dengan para pasanganmu.
Tapi kata-kata yang akan terucap jika saat keputusan sang suami/istrimusalah dan tak mau menerima tanpa musyawarah, kita jangan dongkol atau lebay. Marah-marah tak jelas lalu mengambek dan cerewet ngomel-ngomel sampai suami/istri stress dengar celotehan kita.
Syaratnya satu, mau menerima kekurangan dan kesalahan-kesalahannya. Kesalahannya tanpa musyawarah atau sudah musyawarah terlebih dahulu harus dimaklumi.

Contoh 
“Bi, dompetku hilang di pasar. Pas mau bayar belanjaan udah gak ada di kantong! Hiks”
Suami menjawab dengan kesal. 
“Kamu dibilangin ngeyel. Salahmu sendiri, disuruh bawa tas slempang buat naruh dompet malah taruh dikantong. Kan bisa jadi jatuh tuh dompet!”
“Abang bukannya bantuin aku nyari ke pasar. Malah marahin aku! Biasanya juga gak papa kok!”
Ributlah.

Contoh yang baik.
Ganti dengan kalimat yang baik ketika istri panik.
“Umi, kan abi sudah bilang jangan taruh dikantong barangkali saja jatuh. Namanya kesenggol orang dipasar kan banyak. Yasudah lain kali dengerin abi ya? Yuk kita cari lagi ke pasar. 

Contoh lagi yang sering menyalahkan.
“Ini semua gara-gara abang! Coba abang kasih aku seratus ribu, gak bakalan aku sampai pinjem tetangga. Sekarang mana tetangganya yang dipinjemin duit ketus lagi sama aku!”

Ini ada kutipan menarik dari sebuah buku sebenarnya buku ini untuk remaja. Sudah lama sekali terbit. Penulisnya Ustad Burhan Shodiq. 
Dan saya merasa banyak belajar dari buku ini. Meski bacanya Cuma di googlereads. hehe...

Kalau cinta jangan katakan “Ini salahmu!” tapi “Maafkan aku ya?”Bukan “Kau di mana?!” melainkan “Aku di sini kenapa?”Tidak “Kok bisa sih kau begitu!” tapi “Aku ngerti”.Dan juga tidak “Coba, seandainya ka…” akan tetapi “Terima kasih ya, kau begitu…. .

Sebenarnya bukan berlaku untuk pasangan suami istri saja, melainkan dengan keluarga dan teman serta lingkungan sekitar. Karena bagaimanapun kita ini mahluk biasa yang harus banyak belajar dari kesalahan. 
Hal yang sering terjadi kecoplasan jaman SMA.

"Amii... minumnya tumpah." temanku berteriak.
"Oh iya, wah kamu Ti, bukannya bilang dari tadi"
Titi marah. "Bukannya bilang gimana? itu barusan aku bilang! aneh!"
Ribut deh....
"Minta maaf ya. minta maaf." Ami mulai merasa bersalah.
Titi tetap diam tak melirik. Berceloteh sendiri dengan kesal.

Sifat dan hati manusia itu berbeda-beda loh. Hati-hati ya dalam mengutarakan sesuatu. Salah ucap sedikit bisa jadi petaka. Cekcok tak ada penyelesaian. Egois ini harus dihindari. 

Salam Annurshah.

Lihat sini yuk kata-kata romantis dalam bahasa arab.


Gambar sumber google

Antara Mir'ah dan Mar'ah




Beda tipis hanya “i’ dan “a”nya saja. 
Tapi hati-hati membacanya, artinya beda jauh. 
Yang satu Mir’ah artinya cermin dan “Mar’ah” artinya wanita atau perempuan. Akan tetapi perbedaan arti ini justru unik dan tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya antara mir’ah dan mar’ah. 

Di mana ada mar’ah in shaa Allah di situ harus ada mir’ah,.. kok bisa?? Ya… mar’ah dan mir’ah sangat terikat sekali. Tanpa mir’ah si “mar’ah” ini ga akan PEDE (percaya diri) keluar rumah atau bergaul dengan manusia. 

Saking terikatnya dengan ‘mir’ah si Mar’ah ini bisa berjam-jam memandangi mir’ah untuk mendapatkan kepercayaan dirinya atau mempercantik dirinya sehingga setelah yakin dengan lamanya ia memandangi si’mir’ah’ barulah si mar’ah ini berani keluar menemui manusia. Ironisnya… ya ironis sekali… jika Mar’ah kuat memandangi mir’ah berlama-lama atau berjam-jam lamanya.. tidak demikian ketika berhadapan dengan Sang pencipta hanya sesaat saja… kalau bisa sesingkat-singkatnya. 

Padahal justru kepadaNyalah mar’ah harus berlama-lama menghadapNya agar ia mendapatkan keindahan ruhani yang sangat mempengaruhi keindahan jasmaninya. Berapa banyak kita lihat wanita (mar’ah) biasa yang wajahnya biasa sekali tetapi karena di poles dengan kecantikan ruhani hasilnya justru ia lebih memikat hati kita daripada wanita yang sibuk mempercantik jasmaninya di depan cermin. Karena ruhaninya kosong tidak dipoles dengan adab dan akhlak islami. 

Wahai, mar atus shalihah (wanita shalihah) marilah kita sekarang berlama-lama menghadap Rabbal ‘Alamiin… agar Allah berkenan memberi kita kecantikan ruhani, kecantikan yang akan kita bawa mati… bekal kita menuju surga abadi… wallahu ‘alam bish-shawwab. 

Copyright by:Ummu Raihanah, Sydney Telah dibaca oleh Ustadzah Arfah di Mekkah **menghadap Rabbal ‘Alamiin: maksudnya adalah ketika shalat, shalatlah kita dengan lama dan khusyu’ dengan kehadiran hati dan merenungi Kebesaran Ilahi yang telah mengaruniai kita kenikmatan yang berlimpah pada diri kita yang lemah dan bodoh ini karena dari shalat yang lama dan khusyu’ efeknya luar biasa,.. mempengaruhi aktifitas kita sehari-hari.Banyak pertolongan Allah akan muncul di saat mendesak tanpa kita sadari.

 **
Baca postingan itu saya sebagai seorang muslimah merasa.... sadar diri. Untuk apa ya saya tak memperlama waktu ibadah saya. Waktu yang luar biasa tercipta untuk manusia agar bisa bercinta dengan Allah SWT dan merasakan adanya getaran cinta yang berbunga-bunga. 

Keep Istiqomah menjaga ahlak saya sebagai Mar'ah. 
Sebarkan copas juga boleh demi kebaikan :)

Sumber : Jilbab Online



Beda tipis hanya “i’ dan “a”nya saja. 
Tapi hati-hati membacanya, artinya beda jauh. 
Yang satu Mir’ah artinya cermin dan “Mar’ah” artinya wanita atau perempuan. Akan tetapi perbedaan arti ini justru unik dan tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya antara mir’ah dan mar’ah. 

Di mana ada mar’ah in shaa Allah di situ harus ada mir’ah,.. kok bisa?? Ya… mar’ah dan mir’ah sangat terikat sekali. Tanpa mir’ah si “mar’ah” ini ga akan PEDE (percaya diri) keluar rumah atau bergaul dengan manusia. 

Saking terikatnya dengan ‘mir’ah si Mar’ah ini bisa berjam-jam memandangi mir’ah untuk mendapatkan kepercayaan dirinya atau mempercantik dirinya sehingga setelah yakin dengan lamanya ia memandangi si’mir’ah’ barulah si mar’ah ini berani keluar menemui manusia. Ironisnya… ya ironis sekali… jika Mar’ah kuat memandangi mir’ah berlama-lama atau berjam-jam lamanya.. tidak demikian ketika berhadapan dengan Sang pencipta hanya sesaat saja… kalau bisa sesingkat-singkatnya. 

Padahal justru kepadaNyalah mar’ah harus berlama-lama menghadapNya agar ia mendapatkan keindahan ruhani yang sangat mempengaruhi keindahan jasmaninya. Berapa banyak kita lihat wanita (mar’ah) biasa yang wajahnya biasa sekali tetapi karena di poles dengan kecantikan ruhani hasilnya justru ia lebih memikat hati kita daripada wanita yang sibuk mempercantik jasmaninya di depan cermin. Karena ruhaninya kosong tidak dipoles dengan adab dan akhlak islami. 

Wahai, mar atus shalihah (wanita shalihah) marilah kita sekarang berlama-lama menghadap Rabbal ‘Alamiin… agar Allah berkenan memberi kita kecantikan ruhani, kecantikan yang akan kita bawa mati… bekal kita menuju surga abadi… wallahu ‘alam bish-shawwab. 

Copyright by:Ummu Raihanah, Sydney Telah dibaca oleh Ustadzah Arfah di Mekkah **menghadap Rabbal ‘Alamiin: maksudnya adalah ketika shalat, shalatlah kita dengan lama dan khusyu’ dengan kehadiran hati dan merenungi Kebesaran Ilahi yang telah mengaruniai kita kenikmatan yang berlimpah pada diri kita yang lemah dan bodoh ini karena dari shalat yang lama dan khusyu’ efeknya luar biasa,.. mempengaruhi aktifitas kita sehari-hari.Banyak pertolongan Allah akan muncul di saat mendesak tanpa kita sadari.

 **
Baca postingan itu saya sebagai seorang muslimah merasa.... sadar diri. Untuk apa ya saya tak memperlama waktu ibadah saya. Waktu yang luar biasa tercipta untuk manusia agar bisa bercinta dengan Allah SWT dan merasakan adanya getaran cinta yang berbunga-bunga. 

Keep Istiqomah menjaga ahlak saya sebagai Mar'ah. 
Sebarkan copas juga boleh demi kebaikan :)

Sumber : Jilbab Online

Mengubah Bentuk Ciptaan-Nya



Tadi pagi saya berleha-leha duduk santai. Biasanya banyak kerjaan. Entah menyapu atau mencuci baju. Tapi berhubung rumah sedang mau direhab saya merasa lebih baik menonton TV, siapa tahu ada tanyangan islami. 

Eh beneran ada di MNC. Hmm tak kuduga pembahasan mengerecut pada soal wanita. Lagi-lagi pembahasan yang tak kunjung usai. Nah, kali ini kulihat kok beda ya? Maaf tak mengikuti dari awal dan salurannya sangat buram dihinggapi semut-semut berisik hehehe..
Para dai akhwat kok pada diam, alias kalah sama si dari ikhwan. 

Tapi ditelisik lagi … saya nonton udah mau habis. Pembahasan tentang mengubah ciptaan manusia. Sesama dai nggak kompak rupanya… kalau dipikir-pikir kelihatannya ada yang gak sependapat. Lho? Mereka bukan ulama besar tapi yang pasti kesimpulannya diakhir tayangan emang udah fix. Kalau para dai dan daiyah udah nggak bisa sepaham dan sependapat atau kurang sedikit tidak sreg, bahasanya apa sih. Bingung, pasti jangan dibuat susah. Saya melihatnya mereka kok kayak berdebat ya? 
Padahal udah jelas hadistnya kalau saya percaya mengubah bentuk apapun untuk mempercantik dan menarik perhatian orang lain itu sama sajanya haram. 
Kecuali aib memang harus dihilangkan, kecelakaan dan lain-lain. Fix gampang kok. Iya gak? Mereka malah adu argument nyebutin hadist ini hadist itu, ayat ini ayat itu. 
Ada yang bilang gak masalah… wow kalau untuk mempercantik tidak apa ada yang kudengar. Semoga aku salah dengar sih. 


Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,
 “Allah melaknat tukang tato, orang yang ditato, al-mutanamishah, dan orang yang merenggangkan gigi, untuk kecantikan, yang mengubah ciptaan Allah.” (HR. Bukhari 4886, Muslim 2125, dan lainnya).

Makna Al-Mutanamishah

Al-Mutanamishah adalah para wanita yang minta dicukur bulu di wajahnya. Sedangkan wanita yang menjadi tukang cukurnya namanya An-Namishah. (Syarh Muslim An-Nawawi, 14/106).


An-Nawawi juga menegaskan, bahwa larangan dalam hadis ini tertuju untuk bulu alis,
 “Larangan tersebut adalah untuk alis dan ujung-ujung wajah..” (Sharh Shahih Muslim, 14/106).
Ibnul Atsir mengatakan,

 “An-Namsh adalah menipiskan bulu alis untuk tujuan kecantikan…”
Ibnul Allan mengatakan dalam Syarh Riyadhus Shalihin,

 “An-Namishah adalah wanita yang mencukur bulu alis wanita lain atau menipiskannya agar kelihatan lebih cantik. Sedangkan Al-Mutanamishah adalah wanita yang menyuruh orang lain untuk mencukur bulu alisnya.” (Dalil al-Falihin, 8:482).
"Allah melaknat wanita-wanita yang mencabut bulu, Allah melaknat orang yang menyambung rambut, dan yang minta disambung rambutnya"

Disebutkan dalam As-Shahih bahwa ada seorang wanita datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan mengatakan bahwa anaknya telah dinikahi oleh seorang laki-laki tapi kemudian rontok rambutnya. Wanita tersebut bertanya bolehkah anaknya menyambung rambut dengan rambut lain ? Lalu beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata.

لَعَنَ اللَّهُ الوَاصِلاَتِ وَالْمُسْتَوْ صِلاَتِ 
"Allah melaknat wanita yang menyambung rambut, dan yang minta disambung rambutnya"
Beberapa ulama yang mengarang kitab kumpulan dosa-dosa besar, seperti Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Al-Kabair, demikian pula Al-Haitami dalam kitabnya Az-Zawajir ‘an Irtikab Al-Kabair menyebutkan bahwa salah satu diantara dosa yang masuk daftar dosa besar adalah mencukur atau menipiskan bulu alis. Karena terdapat hadis yang menyebutkan bahwa Allah melaknat para wanita yang mencukur bulu asli di wajahnya, seperti bulu alis, meskipun itu untuk tujuan kecantikan.
Allahu a’lam

Saya sisipkan sumber dari konsultasi syariah.

sumber gambar : google


Tadi pagi saya berleha-leha duduk santai. Biasanya banyak kerjaan. Entah menyapu atau mencuci baju. Tapi berhubung rumah sedang mau direhab saya merasa lebih baik menonton TV, siapa tahu ada tanyangan islami. 

Eh beneran ada di MNC. Hmm tak kuduga pembahasan mengerecut pada soal wanita. Lagi-lagi pembahasan yang tak kunjung usai. Nah, kali ini kulihat kok beda ya? Maaf tak mengikuti dari awal dan salurannya sangat buram dihinggapi semut-semut berisik hehehe..
Para dai akhwat kok pada diam, alias kalah sama si dari ikhwan. 

Tapi ditelisik lagi … saya nonton udah mau habis. Pembahasan tentang mengubah ciptaan manusia. Sesama dai nggak kompak rupanya… kalau dipikir-pikir kelihatannya ada yang gak sependapat. Lho? Mereka bukan ulama besar tapi yang pasti kesimpulannya diakhir tayangan emang udah fix. Kalau para dai dan daiyah udah nggak bisa sepaham dan sependapat atau kurang sedikit tidak sreg, bahasanya apa sih. Bingung, pasti jangan dibuat susah. Saya melihatnya mereka kok kayak berdebat ya? 
Padahal udah jelas hadistnya kalau saya percaya mengubah bentuk apapun untuk mempercantik dan menarik perhatian orang lain itu sama sajanya haram. 
Kecuali aib memang harus dihilangkan, kecelakaan dan lain-lain. Fix gampang kok. Iya gak? Mereka malah adu argument nyebutin hadist ini hadist itu, ayat ini ayat itu. 
Ada yang bilang gak masalah… wow kalau untuk mempercantik tidak apa ada yang kudengar. Semoga aku salah dengar sih. 


Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,
 “Allah melaknat tukang tato, orang yang ditato, al-mutanamishah, dan orang yang merenggangkan gigi, untuk kecantikan, yang mengubah ciptaan Allah.” (HR. Bukhari 4886, Muslim 2125, dan lainnya).

Makna Al-Mutanamishah

Al-Mutanamishah adalah para wanita yang minta dicukur bulu di wajahnya. Sedangkan wanita yang menjadi tukang cukurnya namanya An-Namishah. (Syarh Muslim An-Nawawi, 14/106).


An-Nawawi juga menegaskan, bahwa larangan dalam hadis ini tertuju untuk bulu alis,
 “Larangan tersebut adalah untuk alis dan ujung-ujung wajah..” (Sharh Shahih Muslim, 14/106).
Ibnul Atsir mengatakan,

 “An-Namsh adalah menipiskan bulu alis untuk tujuan kecantikan…”
Ibnul Allan mengatakan dalam Syarh Riyadhus Shalihin,

 “An-Namishah adalah wanita yang mencukur bulu alis wanita lain atau menipiskannya agar kelihatan lebih cantik. Sedangkan Al-Mutanamishah adalah wanita yang menyuruh orang lain untuk mencukur bulu alisnya.” (Dalil al-Falihin, 8:482).
"Allah melaknat wanita-wanita yang mencabut bulu, Allah melaknat orang yang menyambung rambut, dan yang minta disambung rambutnya"

Disebutkan dalam As-Shahih bahwa ada seorang wanita datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan mengatakan bahwa anaknya telah dinikahi oleh seorang laki-laki tapi kemudian rontok rambutnya. Wanita tersebut bertanya bolehkah anaknya menyambung rambut dengan rambut lain ? Lalu beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata.

لَعَنَ اللَّهُ الوَاصِلاَتِ وَالْمُسْتَوْ صِلاَتِ 
"Allah melaknat wanita yang menyambung rambut, dan yang minta disambung rambutnya"
Beberapa ulama yang mengarang kitab kumpulan dosa-dosa besar, seperti Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Al-Kabair, demikian pula Al-Haitami dalam kitabnya Az-Zawajir ‘an Irtikab Al-Kabair menyebutkan bahwa salah satu diantara dosa yang masuk daftar dosa besar adalah mencukur atau menipiskan bulu alis. Karena terdapat hadis yang menyebutkan bahwa Allah melaknat para wanita yang mencukur bulu asli di wajahnya, seperti bulu alis, meskipun itu untuk tujuan kecantikan.
Allahu a’lam

Saya sisipkan sumber dari konsultasi syariah.

sumber gambar : google

Emosi Rindu


Manusia memang sekali pandai mengolah rasa, apalagi emosi rindunya. Seakan lupa ada yang perlu disisakan, sebuah cinta kepada sesama bukan kegoisan hati yang selalu tertata, semata.

Kamu hanya mampu berdo’a
Meminta bulir-bulir hujan 
Dan menengadah, harapan

#Ramah
Rindu itu terlalu ramah, 
datangnya dengan senyuman 
hilangangnya dengan kenangan
Kau pun terkadang marah?

Uh...Uh...
Nostalgia dengan irama rindu menghujan dan menghujam.

Kutipanku di hari Jum'at.

Manusia memang sekali pandai mengolah rasa, apalagi emosi rindunya. Seakan lupa ada yang perlu disisakan, sebuah cinta kepada sesama bukan kegoisan hati yang selalu tertata, semata.

Kamu hanya mampu berdo’a
Meminta bulir-bulir hujan 
Dan menengadah, harapan

#Ramah
Rindu itu terlalu ramah, 
datangnya dengan senyuman 
hilangangnya dengan kenangan
Kau pun terkadang marah?

Uh...Uh...
Nostalgia dengan irama rindu menghujan dan menghujam.

Kutipanku di hari Jum'at.

Ketika Lupa TUHAN





Bismillahirrohmaanirrohiim
Alhamdulillah masih ada napas dalam jejak petualangan hidup. Lakon-lakon manusia berwajah dua selalu hadir dalam selingan diam kita. Lalu siapa?

Ah, entahlah. Aku tak mau menebak siapa. Bisa jadi aku? Nunjuk pakai jari. (Oh no)
Begini, aku ingin merasakan hal yang sama. Semoga yang membaca tulisanku ini tersadar sama juga dengan diriku. Untuk nasehatku sendiri agar aku cepat pulih. Bahwa dunia bukanlah milikku dan aku takkan pernah bisa memeluknya.

Bicara Hijrah pasti terngiang bulan Muharram. Bulan ini masih bulan muharram. Apa saja visi dan misi di tahun baru Islam yang masih baru bagi antum / antunna? 
Jangan-jangan cuma bisa meriahkannya dengan pawai taaruf atau mengucapkan selamat! Oh no. Jangan dong. 
Sebenarnya, hari ini aku gemes banget. Bukan untuk hari ini saja sebenarnya. Tapi semenjak iklan yang ada hubungannya dengan “L***” tentang itu lho yang lagi hits. Ada apa denganmu.
Eh salah dengan cinta. Tapi enakan diganti denganmu deh. 
Soalnya penikmat film kan yang merasakan getar-getaran itu hadir kembali :P

Gak mau munafik. JUJUR Asli gak bohong. Sebagai muslimah yang belum lama hijrahnya saya gerah. Gerah sekali melihat iklan ini berseliweran. Kata orang yang baca Masbuloh. 
Lah, emang. 

Nah, yang menjadi masalah sebagai muslim yang ngaku suka banget sifat Rosulullah, ngaku ngabdi alias berbakti, takwa, rajin sholat. Gemar shodaqah melakukan banyak hal dakwah dan lain-lain. Tapi tetap gak mau dibilang munafik kan sama orang lain? Atau punya topeng?.
Kalau aku juga gak maulah. Capek deh. 

Sudah bela-bela pakai kerudung syar’i nutup dada, bicara belajar sopan, menghindar dari teman-teman no shalih/shalihah tapi masih aja mantengin K-POP, Film Korea, bikini-bikino belum lagi wajah putih dan mata sipit yang rambutnya berwarna coklat dengan trend hidup orang asing banget gak keIslaman. Pacaran, pegangan tangan, senyum-senyuman curi pandang. Lama-lama… rrrrrr gubrak. Bikin ketagihan nontonnya. Dan mengelu-elukan jadi idola. 
Oke, no prob tinggalin itu semua. 
Tapi aku gak bicara bohong. Karena masih ada kok budaya seperti itu. Yeay Annur moso budaya? Iyalah sekarang udah menjamur. #terserah aku lho.


Al Firar ila Allah  yang berati berlari menuju Allah. 
Hijrah bukan sekedar dari yang tidak mengenal sholat jadi sholat. Dari yang syirik jauh dari syirik, dari yang tidak menutup aurat jadi menutup. Tapi hijrah adalah kekuatan hati kita untuk memperbaharui Islam. Kapan islam akan maju kalau yang ngaku islam gak mau menonjolkan keislamannya malah berleha-leha dengan dunia yang ditarik sana-sini biar jadi follower yang arahnya gak jelas. 
Makannya kalau mau hijrah harus jelas, bukan sekedar oke aku berlari menuju Allah, tapinya?
”Tidak ada hijrah setelah Fathu Makkah, tetapi (yang ada adalah) jihad dan niat. Maka apabila kalian diperintahkan jihad, maka berangkatlah” [HR. Bukhari 3077 dan Muslim 1353]. 
“Sesungguhnya aku akan berpindah ke Rabb-ku” [QS. Al-Ankabut : 26].

MACAM-MACAM HIJRAH 
1. Hijrah tempat. 
2. Hijrah 'amal (perbuatan) 
3. Hijrah 'amil (orang yang berbuat) 

Nah, aku rasa cape juga bicara penting atau tidak penting. Bicara selera atau masalah buat loh yang menurut kebanyakan orang inilah hidup gue. You punya style gak usah komen-komen ke Ai.. heem…
Sebagai muslim atau muslimah yang paling anti sama namanya syirik, ana rasa lebih baik kita belajar lagi deh seperti bayi. Merangkak, berbicara, menangis dengan teratur. Nah loe buat apa?
Buat menyadari bahwa susahnya meraih tingkat kemandirian yang sempurna. 
Antum/antunna udah mandiri belum? Mandiri dalam arti sebenarnya. Mandiri dalam berpikir.
Buatku hijrah, jihad, dan jujur adalah satu kesatuan dalam pemikiran kritis. 

Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata : ”Hijrah bermakna meninggalkan, dan dalam syara’ adalah meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah. Hijrah dalam Islam itu ada dua : 
Pertama : Berpindah dari kampung yang tidak aman menuju kampung yang aman, seperti dalam hijrah ke Habasyah atau awal hijrah dari Makkah ke Madinah. 

Kedua : Berpindah dari negeri kafir menuju negeri Iman. Hal ini setelah Nabi menetap di Madinah dan kaum muslimin yang mampu telah berhijrah ke sana. Waktu itu, hijrah hanya khusus ke Madinah sampai kota Makkah ditaklukkan maka kekhususan itu tidak berarti lagi, sehingga hijrah menjadi umum dari setiap negeri kafir bagi yang mampu”. 


Manusia paling buruk menurut hadist
PERTAMA, orang yang bermuka dua.
Rasulullah bersabda, “Kalian akan mendapati seburuk-buruk manusia adalah orang-orang yang bermuka dua. Dia mendatangi kelompok yang ini dengan satu wajah, dan mendatangi kelompok lainnya dengan wajah lain pula.” (Riwayat Bukhari-Muslim, dari Abu Hurairah).
 “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” [QS. an-Nisa’: 145]

Jujur, jangan bermuka dua. Jujur jangan suka terlena, jujur jangan suka ngaku beriman dan bertakwa, jujur kalau masih suka nonton AADC?

Siapa yang bisa mengangkat derajat islam sesungguhnya? Apakah orang-orang bermuka dua? Naudzubillahi mindzalik. 

Istiqomah itu sampai hari kiamat lho. Hari akhir napas kita. 
Semangat ukhuwah. Dari pada nonton gak jelas, mendingan dengerin syair kajian islam. 

Mata jangan buat maksiat melulu. Jangan-jangan sudah lupa Tuhan untuk waktu senggang.

Salam Ukhuwah. 
Aku anak Islam, harus kritis. Bukan ikut-ikutan produk jahiliyah yang sok manis. :P

Ayo sadarkan diri. #SAVE ISLAM





Bismillahirrohmaanirrohiim
Alhamdulillah masih ada napas dalam jejak petualangan hidup. Lakon-lakon manusia berwajah dua selalu hadir dalam selingan diam kita. Lalu siapa?

Ah, entahlah. Aku tak mau menebak siapa. Bisa jadi aku? Nunjuk pakai jari. (Oh no)
Begini, aku ingin merasakan hal yang sama. Semoga yang membaca tulisanku ini tersadar sama juga dengan diriku. Untuk nasehatku sendiri agar aku cepat pulih. Bahwa dunia bukanlah milikku dan aku takkan pernah bisa memeluknya.

Bicara Hijrah pasti terngiang bulan Muharram. Bulan ini masih bulan muharram. Apa saja visi dan misi di tahun baru Islam yang masih baru bagi antum / antunna? 
Jangan-jangan cuma bisa meriahkannya dengan pawai taaruf atau mengucapkan selamat! Oh no. Jangan dong. 
Sebenarnya, hari ini aku gemes banget. Bukan untuk hari ini saja sebenarnya. Tapi semenjak iklan yang ada hubungannya dengan “L***” tentang itu lho yang lagi hits. Ada apa denganmu.
Eh salah dengan cinta. Tapi enakan diganti denganmu deh. 
Soalnya penikmat film kan yang merasakan getar-getaran itu hadir kembali :P

Gak mau munafik. JUJUR Asli gak bohong. Sebagai muslimah yang belum lama hijrahnya saya gerah. Gerah sekali melihat iklan ini berseliweran. Kata orang yang baca Masbuloh. 
Lah, emang. 

Nah, yang menjadi masalah sebagai muslim yang ngaku suka banget sifat Rosulullah, ngaku ngabdi alias berbakti, takwa, rajin sholat. Gemar shodaqah melakukan banyak hal dakwah dan lain-lain. Tapi tetap gak mau dibilang munafik kan sama orang lain? Atau punya topeng?.
Kalau aku juga gak maulah. Capek deh. 

Sudah bela-bela pakai kerudung syar’i nutup dada, bicara belajar sopan, menghindar dari teman-teman no shalih/shalihah tapi masih aja mantengin K-POP, Film Korea, bikini-bikino belum lagi wajah putih dan mata sipit yang rambutnya berwarna coklat dengan trend hidup orang asing banget gak keIslaman. Pacaran, pegangan tangan, senyum-senyuman curi pandang. Lama-lama… rrrrrr gubrak. Bikin ketagihan nontonnya. Dan mengelu-elukan jadi idola. 
Oke, no prob tinggalin itu semua. 
Tapi aku gak bicara bohong. Karena masih ada kok budaya seperti itu. Yeay Annur moso budaya? Iyalah sekarang udah menjamur. #terserah aku lho.


Al Firar ila Allah  yang berati berlari menuju Allah. 
Hijrah bukan sekedar dari yang tidak mengenal sholat jadi sholat. Dari yang syirik jauh dari syirik, dari yang tidak menutup aurat jadi menutup. Tapi hijrah adalah kekuatan hati kita untuk memperbaharui Islam. Kapan islam akan maju kalau yang ngaku islam gak mau menonjolkan keislamannya malah berleha-leha dengan dunia yang ditarik sana-sini biar jadi follower yang arahnya gak jelas. 
Makannya kalau mau hijrah harus jelas, bukan sekedar oke aku berlari menuju Allah, tapinya?
”Tidak ada hijrah setelah Fathu Makkah, tetapi (yang ada adalah) jihad dan niat. Maka apabila kalian diperintahkan jihad, maka berangkatlah” [HR. Bukhari 3077 dan Muslim 1353]. 
“Sesungguhnya aku akan berpindah ke Rabb-ku” [QS. Al-Ankabut : 26].

MACAM-MACAM HIJRAH 
1. Hijrah tempat. 
2. Hijrah 'amal (perbuatan) 
3. Hijrah 'amil (orang yang berbuat) 

Nah, aku rasa cape juga bicara penting atau tidak penting. Bicara selera atau masalah buat loh yang menurut kebanyakan orang inilah hidup gue. You punya style gak usah komen-komen ke Ai.. heem…
Sebagai muslim atau muslimah yang paling anti sama namanya syirik, ana rasa lebih baik kita belajar lagi deh seperti bayi. Merangkak, berbicara, menangis dengan teratur. Nah loe buat apa?
Buat menyadari bahwa susahnya meraih tingkat kemandirian yang sempurna. 
Antum/antunna udah mandiri belum? Mandiri dalam arti sebenarnya. Mandiri dalam berpikir.
Buatku hijrah, jihad, dan jujur adalah satu kesatuan dalam pemikiran kritis. 

Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata : ”Hijrah bermakna meninggalkan, dan dalam syara’ adalah meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah. Hijrah dalam Islam itu ada dua : 
Pertama : Berpindah dari kampung yang tidak aman menuju kampung yang aman, seperti dalam hijrah ke Habasyah atau awal hijrah dari Makkah ke Madinah. 

Kedua : Berpindah dari negeri kafir menuju negeri Iman. Hal ini setelah Nabi menetap di Madinah dan kaum muslimin yang mampu telah berhijrah ke sana. Waktu itu, hijrah hanya khusus ke Madinah sampai kota Makkah ditaklukkan maka kekhususan itu tidak berarti lagi, sehingga hijrah menjadi umum dari setiap negeri kafir bagi yang mampu”. 


Manusia paling buruk menurut hadist
PERTAMA, orang yang bermuka dua.
Rasulullah bersabda, “Kalian akan mendapati seburuk-buruk manusia adalah orang-orang yang bermuka dua. Dia mendatangi kelompok yang ini dengan satu wajah, dan mendatangi kelompok lainnya dengan wajah lain pula.” (Riwayat Bukhari-Muslim, dari Abu Hurairah).
 “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” [QS. an-Nisa’: 145]

Jujur, jangan bermuka dua. Jujur jangan suka terlena, jujur jangan suka ngaku beriman dan bertakwa, jujur kalau masih suka nonton AADC?

Siapa yang bisa mengangkat derajat islam sesungguhnya? Apakah orang-orang bermuka dua? Naudzubillahi mindzalik. 

Istiqomah itu sampai hari kiamat lho. Hari akhir napas kita. 
Semangat ukhuwah. Dari pada nonton gak jelas, mendingan dengerin syair kajian islam. 

Mata jangan buat maksiat melulu. Jangan-jangan sudah lupa Tuhan untuk waktu senggang.

Salam Ukhuwah. 
Aku anak Islam, harus kritis. Bukan ikut-ikutan produk jahiliyah yang sok manis. :P

Ayo sadarkan diri. #SAVE ISLAM

Berharap RidhoMU





Jodoh itu antara rezeki dan usaha. Aku beranggapan seperti itu. Entah apakah orang lain sama?
Ya, ketika kita mampu berdoa kenapa tidak? Yang pasti diiringi dengan usaha. Banyak yang berusaha mencari sendiri dan banyak juga yang minta ditaarufkan melalui perantara teman. Atau bahkan tak ingin dicari tapi datang sendiri. Wallahu’alam.


Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik bagi putra-putrinya. Ada yang beranggapan status pekerjaan jauh lebih baik, ada yang derajat keluarga bahkan tak banyak beranggapan agama jauh lebih baik.
Aku tak pernah meragukan tentang ini. Karena belajar dari pengalaman dan kajian yang sering kudengar. Agama adalah sumber utama, meski begitu ada beberapa factor lainnya.
Tapi kenapa orang menikah takut miskin? Sedangkan miskin datang tak mungkin begitu saja tanpa sebab. Bukankah kehendakNya jauh lebih ajaib? Ya, ketakutan inilah yang mendera semua orang tua. Mungkin.

Jika, kita sudah berharap lelaki terbaik adalah dia, tapi ibu bapakmu tak pernah menyetujui apa daya. Ridho Allah tergantung ridho orang tua.
Percayalah, bahagia itu selalu ada. Dengan bersyukur dan bagaimana kita mau menyadari setiap pemberiannya meski sedikit. Secara sederhana kita mendefinisikan cinta adalah urusan hati. Tapi bagiku, cinta adalah rasa yang berserak terbagi-bagi dalam jumlah tak terhitung. Mencintai bukanlah satu ditambah satu sama dengan dua.
Mencintai adalah satu dibagi satu juta jiwa. Meski mencintai sejatinya 1 dibanding 1. Allah dan Allah. Maka akan terjadi cinta yang besar tak terhingga.
Perasaanmu dan perasaanku mungkin sama. Tapi takdir berkata beda, kita pun tak lagi sama. Kita berbeda. Dalam hati yang tegar.

Lalu, apakah harus menujumu? Mempercayaimu? Meninggalkan ridho terbaik Mu?
Kita tak boleh menyalahkan takdir, meski harapan yang datang nun jauh di sana berjuang mendatangi kita dengan segenap hati. Dengan tangan terbuka memberi harapan indah. Dengan memikul jawaban yang kelak dipertanggungjawabkan.

Hanya ada sabar. Bukan benci terhadap seseorang yang tak menyetujui keputusan.
Dan aku sadar, otakku bukanlah wadah angan-angan tempat menabung masa depan. Hingga aku tak mampu merengkuh semua harapan. Ini hanya ekspetasiku saja yang terlalu berlebihan menyikapi sebuah rasa yang hadir tiba-tiba.
Biarlah resah ini tergusar, tak berserak dan akulah yang jadi pemenangnya. Memenangkan atas KuasaMu bukan mengelukan resah yang tak berpenghuni.

Kekuatan doa adalah yang paling mujarab. Meski tidak semua do’a selalu dikabulkan.
Busana yang tertutup melindungi diriku, adalah bentuk kepatuhanku kepada Tuhan dan kedua orang tuaku. Orang tua adalah pintu utama menuju ridhoMu. Menjaga kehormatan diriku sendiri, bahkan keluarga. Bukan sebuah pencitraan untuk menutupi kekurangan. Tetapi menutupi kesempurnaan yang telah diberikan.
Aku yakin, setiap keyakinan yang kuharapkan bukan semata-mata berujung akal pendek. Melainkan proses menuju kebaikan. Kita memang tak boleh terlalu berharap pada manusia. Tetapi kita diwajibkan berharap kepada Allah meski kita tinggal menunggu KuasaNya.

Sabarlah, saat langkah semakin jauh dari jerih payahmu itu bukanlah titik henti, melainkan perhentian yang tertunda.
Selamat datang di negeri yang penuh kelapangan hati. Semoga ikhtiar dan keistiqomahan kita menjadi jalan terbaik menuju masa depan.
Ridho ALLAH tergantung kepada ridho orang tua, sesuai sabda Rosululloh: "Ridho ALLAH tergantung kepada keridhoan orang tua dan murka ALLAH tergantung kepada kemurkaan orang tua" (HR Bukhori, Ibnu Hibban, Tirmidzi, Hakim)
“ Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:2

"Ketika banyak orang mengidolakan ibu karena kasih sayangnya yang tiada tara, saya justru mengagumi ibu saya karena beberapa kekurangan dan kelebihan padanya yang membuatku selalu ON FIRE" <-- searchgoogle.="" span="">

@AnnurShah
Sedang menunggu.... ^_^ uhuhuhuhu






Jodoh itu antara rezeki dan usaha. Aku beranggapan seperti itu. Entah apakah orang lain sama?
Ya, ketika kita mampu berdoa kenapa tidak? Yang pasti diiringi dengan usaha. Banyak yang berusaha mencari sendiri dan banyak juga yang minta ditaarufkan melalui perantara teman. Atau bahkan tak ingin dicari tapi datang sendiri. Wallahu’alam.


Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik bagi putra-putrinya. Ada yang beranggapan status pekerjaan jauh lebih baik, ada yang derajat keluarga bahkan tak banyak beranggapan agama jauh lebih baik.
Aku tak pernah meragukan tentang ini. Karena belajar dari pengalaman dan kajian yang sering kudengar. Agama adalah sumber utama, meski begitu ada beberapa factor lainnya.
Tapi kenapa orang menikah takut miskin? Sedangkan miskin datang tak mungkin begitu saja tanpa sebab. Bukankah kehendakNya jauh lebih ajaib? Ya, ketakutan inilah yang mendera semua orang tua. Mungkin.

Jika, kita sudah berharap lelaki terbaik adalah dia, tapi ibu bapakmu tak pernah menyetujui apa daya. Ridho Allah tergantung ridho orang tua.
Percayalah, bahagia itu selalu ada. Dengan bersyukur dan bagaimana kita mau menyadari setiap pemberiannya meski sedikit. Secara sederhana kita mendefinisikan cinta adalah urusan hati. Tapi bagiku, cinta adalah rasa yang berserak terbagi-bagi dalam jumlah tak terhitung. Mencintai bukanlah satu ditambah satu sama dengan dua.
Mencintai adalah satu dibagi satu juta jiwa. Meski mencintai sejatinya 1 dibanding 1. Allah dan Allah. Maka akan terjadi cinta yang besar tak terhingga.
Perasaanmu dan perasaanku mungkin sama. Tapi takdir berkata beda, kita pun tak lagi sama. Kita berbeda. Dalam hati yang tegar.

Lalu, apakah harus menujumu? Mempercayaimu? Meninggalkan ridho terbaik Mu?
Kita tak boleh menyalahkan takdir, meski harapan yang datang nun jauh di sana berjuang mendatangi kita dengan segenap hati. Dengan tangan terbuka memberi harapan indah. Dengan memikul jawaban yang kelak dipertanggungjawabkan.

Hanya ada sabar. Bukan benci terhadap seseorang yang tak menyetujui keputusan.
Dan aku sadar, otakku bukanlah wadah angan-angan tempat menabung masa depan. Hingga aku tak mampu merengkuh semua harapan. Ini hanya ekspetasiku saja yang terlalu berlebihan menyikapi sebuah rasa yang hadir tiba-tiba.
Biarlah resah ini tergusar, tak berserak dan akulah yang jadi pemenangnya. Memenangkan atas KuasaMu bukan mengelukan resah yang tak berpenghuni.

Kekuatan doa adalah yang paling mujarab. Meski tidak semua do’a selalu dikabulkan.
Busana yang tertutup melindungi diriku, adalah bentuk kepatuhanku kepada Tuhan dan kedua orang tuaku. Orang tua adalah pintu utama menuju ridhoMu. Menjaga kehormatan diriku sendiri, bahkan keluarga. Bukan sebuah pencitraan untuk menutupi kekurangan. Tetapi menutupi kesempurnaan yang telah diberikan.
Aku yakin, setiap keyakinan yang kuharapkan bukan semata-mata berujung akal pendek. Melainkan proses menuju kebaikan. Kita memang tak boleh terlalu berharap pada manusia. Tetapi kita diwajibkan berharap kepada Allah meski kita tinggal menunggu KuasaNya.

Sabarlah, saat langkah semakin jauh dari jerih payahmu itu bukanlah titik henti, melainkan perhentian yang tertunda.
Selamat datang di negeri yang penuh kelapangan hati. Semoga ikhtiar dan keistiqomahan kita menjadi jalan terbaik menuju masa depan.
Ridho ALLAH tergantung kepada ridho orang tua, sesuai sabda Rosululloh: "Ridho ALLAH tergantung kepada keridhoan orang tua dan murka ALLAH tergantung kepada kemurkaan orang tua" (HR Bukhori, Ibnu Hibban, Tirmidzi, Hakim)
“ Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:2

"Ketika banyak orang mengidolakan ibu karena kasih sayangnya yang tiada tara, saya justru mengagumi ibu saya karena beberapa kekurangan dan kelebihan padanya yang membuatku selalu ON FIRE" <-- searchgoogle.="" span="">

@AnnurShah
Sedang menunggu.... ^_^ uhuhuhuhu


 
Catatan Annurshah Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template