Niatan Qurban untuk orang telah mati

1 komentar


Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa hukum qurban adalah sunnah atau sunnah muakkad (yang amat dianjurkan) bagi orang yang hidup dan mampu, itu pun boleh diniatkan untuk keluarganya. Hukum sunnah ini menjadi pendapat mayoritas ulama. Sebagian ulama mengatakan hukum qurban itu wajib. Sedangkan qurban untuk mayit (secara khusus), tidaklah dituntunkan selama bukan karena wasiat atau nadzar sebelum meninggal dunia. Serial keempat kali ini akan mengkaji mengenai niatan qurban untuk mayit.
Para ulama berselisih pendapat mengenai kesahan qurban untuk mayit jika bukan karena wasiat. Dalam madzhab Syafi’i, qurbannya tidak sah kecuali jika ada wasiat dari mayit. Imam Nawawi rahimahullah berkata dalam Al Minhaj,
وَلَا تَضْحِيَةَ عَنْ الْغَيْرِ بِغَيْرِ إذْنِهِ، وَلَا عَنْ الْمَيِّتِ إذَا لَمْ يُوصِ بِهَا
“Tidak sah qurban untuk orang lain selain dengan izinnya. Tidak sah pula qurban untuk mayit jika ia tidak memberi wasiat untuk qurban tersebut.”

Kita dapat membagi berqurban untuk mayit menjadi tiga rincian sebagai berikut:
Pertama: Berqurban untuk mayit hanya sebagai ikutan. Misalnya seseorang berqurban untuk dirinya dan keluarganya termasuk yang masih hidup atau yang telah meninggal dunia. Dasar dari bolehnya hal ini adalah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berqurban untuk dirinya dan keluarganya, termasuk di dalamnya yang telah meninggal dunia.

Bahkan jika seseorang berqurban untuk dirinya, seluruh keluarganya baik yang masih hidup maupun yang telah mati, bisa termasuk dalam niatan qurbannya. Dalilnya,
كَانَ الرَّجُلُ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُضَحِّى بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ
“Pada masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ada seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan keluarganya.”[1]

Asy Syaukani mengatakan, “(Dari berbagai perselisihan ulama yang ada), yang benar, qurban kambing boleh diniatkan untuk satu keluarga walaupun dalam keluarga tersebut ada 100 jiwa atau lebih.”[2]
Kedua: Berqurban untuk mayit atas dasar wasiatnya (sebelum meninggal dunia). Hal ini dibolehkan berdasarkan firman Allah Ta’ala,
فَمَنْ بَدَّلَهُ بَعْدَمَا سَمِعَهُ فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى الَّذِينَ يُبَدِّلُونَهُ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Maka barangsiapa yang mengubah wasiat itu, setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 181).

Ketiga: Berqurban dengan niatan khusus untuk mayit, bukan sebagai ikutan, maka seperti ini tidak ada sunnahnya (tidak ada contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berqurban untuk salah satu orang yang telah meninggal dunia dengan niatan khusus. Beliau tidak pernah berqurban atas nama pamannya, Hamzah -radhiyallahu ‘anhu-, padahal ia termasuk kerabat terdekat beliau. Tidak diketahui pula kalau beliau berqurban atas nama anak-anak beliau yang telah meninggal dunia, yaitu tiga anak perempuan beliau yang telah menikah dan dua anak laki-laki yang masih kecil. Tidak diketahui pula beliau pernah berqurban atas nama istri tercinta beliau, Khodijah -radhiyallahu ‘anha-. Begitu pula, tidak diketahui dari para sahabat ada yang pernah berqurban atas nama orang yang telah meninggal dunia di antara mereka.[3]

Syaikh Muhammad bin Rosyid bin ‘Abdillah Al Ghofiliy dalam buku kecil beliau yang menjelaskan tentang kesalahan-kesalahan di sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Di antaranya beliau menerangkan mengenai kesalahan yang dilakukan oleh orang yang berqurban. Beliau berkata,

7 – Di antara kekeliruan yang dilakukan oleh orang yang berqurban adalah bersengaja menjadikan (niat) qurban untuk mayit (orang yang telah tiada). Ini jelas keliru karena asalnya qurban diperintahkan bagi orang yang hidup (artinya yang memiliki qurban tadi adalah orang yang hidup, pen). Namun dalam masalah pahala boleh saja berserikat dengan orang yang telah tiada (mayit). Yang terakhir ini tidaklah masalah. Adapun menjadikan niat qurban tadi untuk si mayit seluruhnya, ini jelas tidak ada dalil yang mendukungnya.
Dalam penjelasan di halaman selanjutnya beliau hafizhohullah menjelaskan,

Jika yang berdo’a dengan do’a, “Ya Allah jadikanlah pahala qurban ini seluruhnya untuk kedua orang tuaku yang telah tiada”, ini sama sekali tidak ada dalil yang mendukungnya, ini termasuk perkara (amalan) yang mengada-ada. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa mengada-ada dalam urusan (agama) kami yang tidak ada dasarnya, maka amalannya tertolak” (Muttafaqun ‘alaih)[4]

Sebagian ulama membolehkan niatan qurban untuk mayit secara khusus karena dianggap seperti sedekah. Di antara yang membolehkan adalah Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, Al Lajnah Ad Daimah, dan fatwa Syaikh Sholih Al Fauzan yang kami dengar secara langsung di majelis beliau. Jadi masalah ini masih ada perselisihan, namun kami lebih tentram dengan alasan-alasan yang melarang di atas. Wallahu a’lam.
Lihat pula bahasan yang pernah dikaji oleh Rumaysho.com mengenai “Berniat Qurban atas Nama Ibu yang Telah Tiada” di sini.


Kemarin saya dengerin ceramah di TV kalau gak salah, tanpa dalil yang jelas membolehkan. Saya bingung sebingung-bingungnya. Lha wong sudah mati kok, pahalanya ya lari ke mana coba?
Wallahu'alam bishowab.

Sumber :Rumaysho


Baca Selengkapnya →

Cukup di hati

3 komentar



Bila ada komentar buruk di sosial media, santai saja | cukup dalam hati kita berujar, "oh, begitulah isi kepalanya, itulah kadar agamanya" (uztd Felix Siaw)


Rasulullah bersabda, "agama (Islam) itu akhlak yang baik" (HR Ahmad)
Baca Selengkapnya →

Bukan Titik Henti

4 komentar


Judul tulisanku kok berasa menjanggal hehee...
Hari gini bekerja tanpa syarat? huuuhhu... mungkin ada bagi seorang buruh lepas, wirausahawan? tapi ini bekerja dengan perusahaan pasti dan harus membutuhkan syarat.

Sebelum peristiwa pahit itu, kutahu ia sempat bercerita tentang kondisi pekerjaannya. Semula memang baik-baik saja, tapi endingnya ia dipecat. Gugur tugas dan harus mencari nafkah di tempat lain.
Aku sempat tidak pernah mengerti dengan para atasan. Entah itu majikan, bos, manager dan direktur. Tapi yang pasti rasa kehadiran mereka adalah memegang amanat yang cukup kuat dalam pekerjaan.
Awalnya teman adikku bernama A** sering bercerita bosnya yang sudah mulai mengajak untuk taklim/ kajian. Respon positif dong kalau ada atasan mengajak kebaikan. Tapi satu hal yang aneh sebelum mengajaknya adalah membicarakan sesuatu yang menyeramkan. Membandingkan-bandingkan golongan islam lain dan islam lainnya. Ya, sampai sekarang kita tahu Negara Indonesia banyak sekali menganut agama islam yang dilandasi dengan pilihannnya masing-masing. Berbeda harakoh itu wajar, yang tidak wajar adalah mengkafirkan dan merasa sok benar ini dan ini.

Kuyakin semua tidak lain dari upaya mengajak (dakwah). 
Tapi anehnya, sikap bosnya yang mengaku pengajiannya yang baik tidak dilandasi dengan ahlakul karimah. Melainkan sikap yang terkesan egois. 
Mendadak memecat karyawannya usai lebaran. Alasannya klise, kamu pendidikan SMA, kita butuh yang D3. 
Oh? Begitukah? Bukankah dari dulu dia sudah lama menjadi karyawan di situ? Dengan pendidikan yang sesuai standar yang diharapkan?
mmm.. mungkin ada alasan lain, tapi ya sudahlah. 
Padahal pekerjaannya itu tidak seberat pikiran orang kuliah yang harus mengejar title D3, dan bisa dikerjakan oleh lulusan SMA.
Finally, sadar ambil pikiran positif saja. Tidak semua orang yang memiliki kekuasaan itu berhati mulia. 
Kisah ini membuatnya sedih, dan menyadari kalau pekerjaan harus dicari cepat.
Belum terlambat, daftar lowongan kerja tertera pada Koran lokal. Memilah dan memilih dengan baik dan mencoba datang langsung ke TKP. Tapi Allah belum berkehendak, alamat yang dituju nihil tak ada di tempat alias palsu. Alamat palsu.
Belum lagi kabar ayahmu sakit keras dan harus dilarikan ke rumah sakit lagi karena penyakitnya kambuh.

Bersabarlah hati, 
Saat kamu mengalami keputusaan itu jauh lebih menakutkan.  
Ketika Allah sedang mengujimu dengan pemecatan dan ditipu orang ini belum seberapa yang lebih sulit. Ambil hikmahnya kawan.
Ini bukan soal kegagalan dan kekalahan tapi ini soal awal. Awal dan mengawali sebuah cerita baru lagi.
Perjuangan baru akan dimulai, bukalah kelopak matamu, lihat awan yang cerah. Di sana masih ada harapan yang tak sia-sia. 

Ini bukan titik henti, barangkali ada kesempatan yang sedang menunggumu mengawali dan mengakhiri ini semua dengan senyuman. 


Baca Selengkapnya →

Beberapa Kata Kata Romantis dalam Bahasa Arab

5 komentar


Bismillah
Beberapa tahun yang lalu saudari saya menulis status di FB bgini: “Everything sound so romantic in Portuguese” “..segalanya terdengar romantiss dalam bahasa Portugis..” Bagaimana dengan Bahasa tercinta kita bahasa arab? ternyata sama sekali gak kalah lho.. Setidaknya ada hampir 60 kata dalam bahasa arab yang merupakan sinonim dari kata al-hubb (cinta). Beberapa yang mungkin familiar kita dengar misalnya, al-hawaa (kecenderungan hati), al-‘isyq (kasmaran), as-syauq (rindu), al-junuun (yang membuat gila), al-khullah (kekasih) dan banyak lagi [1]. Apalagi jika diantara kata kata cinta itu terselip doa tulus kepada sang terkasih. Whuih.. Bukankah tali iman yang terkuat adalah (berkasih sayang) karena Allah?!

Beberapa contoh kalimat yang bisa diucapkan oleh wanita (kepada orang yang telah dihalalkan, tentunya) disalin dari bukunya Dr. Najla’ As-Sayyid Nayil [2]:
زَوْجَتِي أَنْتِ حَبِيْبَتِي أَنْتِ
ZAUJATI (ISTRIKU) ENGKAULAH KEKASIHKU…

أُحِبُّكِ مِثْلَمَا أَنْتِ ………..أُحِبُّكِ كَيْفَمَا كُنْتِ
Istriku…, aku mencintaimu apa adanya dirimu…aku mencintaimu bagaimanapun juga kondisimu

وَمَهْمَا كَانَ مَهْمَا صَارَ …أَنْتِ حَبِيْبَتِي أَنِت ..
Apapun yang terjadi engkau tetaplah kekasihku

زَوْجَتِي …أَنْتِ حَبِيْبَتِي أَنْتِ ..
Istriku…, engkaulah kasih dan cintaku

حَلاَلِي أَنْتِ لاَ أَخْشَى عَذُوْلاً هَمُّهُ مَقْتِي….لَقَدْ أَذِنَ الزَّمَانُ لَنَا بِوَصْلٍ غَيْرِ مُنْبَتِّ
Kekasihku aku tidak pernah khawatir dirimu adalah seorang istri yang hobinya hanya memarahiku…
Sungguh zaman telah mengizinkan kita untuk bersatu dengan sambungan yang tidak terputuskan…


سَقَيْتِ الْحُبَّ فِى قَلْبِي بِحُسْنِ الْفَعْلِ وَالسَّمْتِ….يَغِيْبُ السَّعْدُ إِنْ غِبْتِ وَيَصْفُو الْعَيْشُ إِنْ جِئْت
Engkau menyiram hatiku dengan indahnya akhlak dan perangaimu…
Sungguh kebahagiaan sirna tatkala engkau pergi dan kehidupan menjadi indah jika engkau datang….


نَهَارِي كَادِحٌ حَتَّى إِذَا مَا عُدْتُ لِلْبَيْتِ…لَقِيْتُكِ فَانْجَلَى عَنِّي ضَنَايَ إِذَا تَبَسَّمْتِ ..
Siang hariku terasa kacau hingga tatkala aku kembali ke rumah..
dan tatkala melihatmu maka dengan senyumanmu sirnalah semua gundah gulana dan kegelisahanku…


أُحِبُّكِ مِثْلَمَا أَنْتِ …أُحِبُّكِ كَيْفَمَا كُنْتِ
Istriku…, aku mencintaimu apa adanya dirimu…aku mencintaimu bagaimanapun juga kondisimu


تَضِيْقُ بِيَ الْحَيَاةُ إِذَا بِهَا يَوْماً تَبَرَّمْتِ …فَأَسْعَى جَاهِداً حَتَّى أُحَقِّقَ مَا تَمَنَّيْتِ
Terasa sempit kehidupan ini jika sehari saja engkau gelisah …
Maka aku akan berusaha untuk bisa mewujudkan impianmu


هَنَائِي أَنْتِ فَلْتَهْنِئي بِدِفْءِ الْحُبِّ مَا عِشْتِ ….فَرُوْحَانَا قَدِ ائْتَلَفَا كَمِثْلِ الْأَرْضِ وَالنَّبَتِ
Kebahagiaanku adalah engkau maka berbahagialah engkau dengan hangatnya cintaku selama hidupmu…
Maka sungguh kedua ruh kita telah bersatu sebagaimana bersatunya tanah dan tanaman…


فَيَا أَمَلِي وَيَا سَكَنِي وَيَا أُنْسِي وَمُلْهِمَتِي ….يَطِيْبُ الْعَيْشُ مَهْمَا ضَاقَتِ الْأَيَّامُ إِنْ طِبْتِ
Wahai harapanku…wahai ketenanganku…wahai ketentramanku dan pemberi ilham dalam hidupku…
Kehidupanku menjadi indah meskipun bagaimanapun sulitnya hari-hari jika engkau baik
————————————————————————————-

Sumber :
Oleh Uztad Firanda
http://irilaslogo.wordpress.com/2012/09/14/beberapa-kata-kata-romantis-dalam-bahasa-arab/



Cek, aku butuh semua ini.. meski masih single :P

Baca Selengkapnya →

Tak ingin daun berserak

2 komentar
Bertemanlah kawan.
Teman, cukup sudahi sindiranmu

Dear, seseorang...
gak seharusnya curhat itu lewat fb benar? ah retoris sekali pernyataanku.
Tak ada yang ingin melihat daun berserak, daun berserak itu selalu dibersihkan lalu dibuang pada tong sampah.
sama halnya denganku. masalah hidup hanya ada dalam satu tempat bernama hati. tak perlu kau sebar melalui virus internet. Apalagi untuk konsumsi publik.
Kita bukan artis, kita bukan fenomena infotainment yang sembarangan buang daun hingga daun itu bertebangan.
Meskipun ku mengenalmu hanya sebatas teman biasa, bukan karena kita satu harokah atau beda harokah. Kau masih muda atau labil. 
Inilah masa menghargai. 
Kuharap dengar dan tenang. Meski dalam pertemanan selalu ada perselisihan kecil. Tapi ingat, sampaikan apa yang membuatmu benci dan merasa tindakanku bodoh. Katakanlah pada seseorang yang bersangkutan, bukan sembunyi tangan lempar batu dari belakang. 

“Teman-teman dekat pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)

“Perumpamaan teman yang saleh dengan teman yang buruk bagaikan penjual minyak wangi dengan pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, maka bisa jadi dia menghadiahkan parfumnya kepadamu atau kamu membeli darinya atau kamu akan mendapatkan bau wangi darinya. Sedangkan pandai besi, jika apinya tidak membakar bajumu maka kamu akan mendapatkan bau yang tidak sedap darinya.” (HR. Al-Bukhari no. 5534 dan Muslim no. 2628)

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Keadaan seseorang itu sangat terkait dengan agama teman dekatnya, karenanya hendaklah kalian melihat siapa yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud no. 4833, At-Tirmizi no. 2397, dan dinyatakan hasan olehnya)


Baca Selengkapnya →
 

Catatan Annur Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template