Naik pohon masa kecil



Masa yang luar biasa. Aku dilahirkan sebagai anak kelima dan perempuan pertama dikeluargaku. Harapan yang selalu didambakan akhirnya terwujud oleh ibu dan bapak. 

Aku selalu mengikuti kakak-kakakku yang lelaki. Tapi aku selalu mengakrabkan diri dengan kakakku yang ke empat. Karena dia orang satu-satunya yang paling dekat denganku, usia kita terpaut tiga tahun saja.
Setiap kali kakakku naik pohon aku berusaha ikut-ikutan. Parahnya nggak peduli aku ini anak perempuan. Naik pohon depan rumah sekalipun, sampai ada ular besar dan kakiku nyaris terjepit tak bisa turun. Kesal, nangis dan berteriak. Alhasil Allah masih memberikanku kesempatan tak digigit oleh ular buas itu. Huff…
Tapi bukan Nur namanya kalau ia tidak kapok. He…

Meski sudah hampir digigit ular, aku tetap berusaha mengikuti jejak kakakku seperti halnya tayangan jaman sekarang SI BOLANG. Biasanya kalau minggu pagi setelah sholat subuh aku, kakakku dan ditambah adikku yang lelaki juga he… beserta tetanggaku yang usianya sama denganku kebanyakan perempuan, kita beramai-ramai jalan-jalan menuju perumahan dan melewati beberapa jalan raya dan melihat pohon ceri yang besar. Kami pun naik dan aku sempat terjatuh juga. Tak kapoklah. Dasar perempuan tomboy.

Tetanggaku juga punya pohon jambu aku sempat hampir terjatuh pula. Intinya setiap ada buah jambu yang kelihatannya matang. Aku langsung beranikan diri mendatangi rumahnya tanpa malu, karena dulu di lingkungan kami itu sudah seperti saudara, meski pemilik pohon bukanlah seorang muslim. Naik pohon sambil makan di atas pula. Haduh, nanti ngobrol lama. Kadang-kadang pohon belimbing. Hihihi… tak terhitung berapa banyak aku naik pohon. 

Dan nakalnya diriku ini kalau ada pohon ceri pokoknya aku tuh gatel. Pengen metik. Ya sudah temanku yang pendiam itu merasa khawatir karena paksaanku. Meski saat itu aku sudah mandiri. Jika bermain tanpa ditemani Masku. 

Herannya ibuku sepertinya pasrah melihat kelakuanku. Ia sudah lelah juga. Aku ini perempuan yang keras kepala memang. Sering sakit-sakitan tapi disuruh minum obat tak mau. Sukanya melanggar aturan makan. Nggak boleh makan mie, es, coklat dan lain-lain, tapi tetap ngeyel. Perempuan tomboy yang sekarang ini sudah berubah. 

Aku pernah berpikir, apa iya jika sekarang aku sangat perempuan? Selalu memakai gamis rapi tak pernah naik pohon lagi. Atau sesekali aku ingin merasakan naik gunung dan panjat tebing dengan celana panjang.
Oh tidak, aku bersyukur sekarang ini.
Setidaknya aku masih berani melakukan semua tantangan saat masa kecil. Sehingga aku bisa memetik hikmahnya untuk anakku kelak. 

Melihat tayangan vidio ini, aku jadi ingin melakukan hal yang sama. Tapi tanpa terlihat seorang lelaki yang bukan mahrom bisakah? hahaha.. sungguh penasaran ingin mencobanya.

Mengigat masa lalu.

4 komentar:

  1. Ya besok Out Bound ma suami kalau udah berkeluarga. Siapa tahu anaknya juga tomboy, bisa jadi teman buat panjat tebing. he..:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. yea :(... jangan dong. masa tomboy. Rrrr..

      Hapus
  2. Ahhhh kita samaaa... Hihihihi.. aku suka naik gunung dan main motor trail... Tapi senengnya, jadi banyak pengalamannya....

    Great post btw...
    Main-main ke blog aku juga yaaa...
    Have a great week...

    www.ninneta.com

    BalasHapus

Komentar yang sopan
Kritiklah bila membangun bukan menjatuhkan
salam persaudaraan ^_^

 
Catatan Annurshah Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template