Jangan biarkan ibuku menghakimi temanku,

Jangan biarkan ibuku menghakimi temanku, 

Sad



Di pagi hari saat Zarina sedang asyik tidur terlelap ia mendengarkan Hpnya berdering ia segera mengangkat telepon tanpa nama di memori kartunya.

"Assalaamu'alaikum?"
"Wa'alaikumussalam. Ini Zarina?"
"iya saya sendiri"
"kamu jangan ngajak-ngajak anak saya Vinda main dan keluyuran malam-malam yah! lalu membawa anak lelaki-laki! 
"astaghfirullah" lirihnya sambil memikirkan jawaban yang tepat seperti mendengar kilatan petir.

"kamu kalau mau pergi jangan bawa-bawa Vinda lagi!"
"Bu, siapa yang mengajak Vinda main? Vinda yang mengajak saya dan dia datang kesini membawa motornya sendiri. saya sendiri tidak bisa naik motor. Dan untuk apa saya mengajak Vinda keluar jalan-jalan dan membawa anak laki-laki. Saya sendiri tak pernah berbuat itu sebelumnya"
"Tapi Vinda itu kan anak pesantren dia tidak mungkin dan tidak pernah berbuat seperti itu kalau tidak ada yang mengajarkan!"
"ibu kenapa menuduh saya? tanyakan saja pada Vinda. Saya tidak pernah mengajak malah sebaliknya! Teman saya banyak bukan hanya dia!"

Tut...tut....tut.

Sambungan terputus Zarina meradang rasanya ia kebakaran jenggot antara sabar dan emosi yang tak bisa diatur oleh nafasnya sendiri. Kemudian Zarina melemparkan bantal ke lantai sambil memikirkan sesuatu.
Ia segera bercerita kepada sahabatnya yang malam itu juga keluar bersama-sama dan pulang pukul 9 malam. 
Dina gadis kecil ini juga merasa keberatan ketika Zarina menceritakan tuduhan itu, Dina juga ikut marah dan tidak terima temannya di tuduh.

Lalu pagi harinya vinda mengirimkan pesan singkat 
"Maafin aku yah teman-teman"

"tanpa merasa bersalah ia begitu saja meminta maaf dengan seenaknya" gerutu Zarina. 

Kepercayaan Zarina memudar seketika, Zarina yakin betul jika ia akan menutup memori kelam yang membuat masa-masa remajanya itu membuatnya tertekan.
Ia bukan sudah berusaha menyimpulkan tentang perbuatan yang seharusnya ia katakan kepada sang ibu. 
Sang ibu tak pernah tahu apa yang dilakukan sang anak dibelakangmu.
Dia memang baik, tapi dia sudah mengenal laki-laki bahkan sering bertemu. 
usia yang belum genap 16 tahun itu membuat Zarina kian berhati-hati.

Diary Zarina, 
Wahai ibu, bukan cerita di atas saja yang pernah ku dengar. 
Wahai ibu, aku tahu aku ini anak yang masih lugu yang tak tahu menahu
Tapi apa kau percaya jika anakmu berkata dusta padaku?
Ibu, jika itu terjadi padaku, aku pasti tak tenang seumur hidup
Jika ibuku mengalami hal sebalikya.
Ibuku pasti akan memukuliku hingga memerah dan biru lebam disekujur tubuhku jika keadaannya aku malah menuduh orang lain
Tapi tidak denganmu ibu temanku,
Layangkanlah tuduhan itu terhadap putrimu dahulu sebelum engkau menuduhku, 


Suara Zarina mungkin beberapa masalah kecil. Saya sendiri sering mendengar berita seperti ini. Terkadang ada anak orang kaya yang terlalu sombong membawa anak tetangganya bermain. Tapi anak orang kaya tersebut malah menuduh anak tetangganya yang miskin itu yang mengajak ke arah buruk. 
Situasi pun genting, si anak miskin ini gusar dan hanya bisa berkaca-kaca dengan menahan air mata. Ia tak berani membela diri karena dirinya merasa menyesal bahkan merasakan sama-sama salah.
Tapi kenapa ibu seperti itu mengajari rasa ketidakadilan?

Mereka itu anak-anak kecil, anak-anak yang masih dibawah umur. Tidak seharusnya menghakimi bahkan memarahinya dengan sembarangan. Naluri sebagai ibu memang melindungi putra putrinya tapi bukan cara seperti ini mengajarkan kebaikan demi putrinya. 
Nasehatilah dia, putra putrimu dulu sebelum berpikir untuk menasehati orang lain. 
Jika kau menjadi ibu, Anakku menuduh orang lain apa yang harusnya kulakukan?
Menghakimi dan langsung menanyakan kepada anak orang lain sebagai tertuduhkah?
Apakah anak anda berkata jujur?
Saya yakin anak saya jujur. dia anak yang baik.
Tapi bukankah kita sebagai orang tua yang baik mampu menjadi contoh yang baik. Menasehati bukan menghakimi atau menuduh juga sepakat dengan sang putra putri?

"Beruat baiklah pada orangtua kalian, niscaya anak-anak kalian akan berbuat baik pada kalian." (HR.Thabrani)

“Wahai orang yang beriman, jika orang fasik membawa berita kepadamu maka periksalah.” (QS. al-Hujurat: 6

Allah berfirman, artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan prasangka, (karena) sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.”(QS. al-Hujurat:12)

Berterimakasihlah pada orang-orang yang telah melukai dan menyakitimu, karena mereka telah memberikan pelajaran yang paling berharga dalam hidupmu.
Bukan malah tidak terima lalu menghakimi dan membenci, bencilah sewajarnya jika ia memang patut dibenci. Tapi bencilah sifatnya bukan orangnya. Memang sulit jika diaplikasikan. 
Tapi berusaha lebih baik itu dari hari kemarin adalah kemenangan luar biasa, bukanlah pengulangan yang tidak baik.

Yuk ajarkan kebaikan. Bukan keburukan.

Kita tidak tahu seberapa tinggi langit di atas sana, tetapi sudah  selayaknyalah kita tahu seberapa TINGGI kita mampu menghargai orang yang kita cinta (Mutiara hati)


Alhamdulillah masih mendapatkan kepercayaan untuk memoboyong award dari 
Terima kasih Anna



45 komentar:

  1. kalo ingin dihargai org lain, hargailah org lain terlebih dahulu.
    jadikanlah suatu hal atau pengalaman itu sebagai pembelajaran.

    sangat menarik ceritanya.penuh makna yg dlm.

    BalasHapus
  2. intinya kita yang pertama menasihati putri kita aga tidak orang lain yang menasihati

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener,smw hars bisa kita telaah kembali. karena bersaha membuatnya jujur dan memberi kesempatan utk menahan emosi kita.

      Hapus
  3. Assalamu'alaykum mbak ^^
    >> Kalau aku nangkapnya : Muhasabah diri sendiri, lihat apa yang salah dengan diri kita atau orang terdekat kita, baru kemudian menginstrokpeksi orang lain, yang belum tentu apa yang kita pikir tentang orang itu benar.

    BalasHapus
  4. menasehati adalah sesuatu yang dianjurkan dalam agama,namun nasihatilah dengan baik demikian juga hindarilah ber su'udzan kepada sesama, bener ga yah?

    BalasHapus
  5. super sekali postingannya..
    I like it..
    and i like kata "Kita tidak tahu seberapa tinggi langit di atas sana, tetapi sudah selayaknyalah kita tahu seberapa TINGGI kita mampu menghargai orang yang kita cinta:

    BalasHapus
  6. ...atau... nasehati diri sendiri dulu sebelum kita nasehatin orang lain :) selamat buat awardnya :)

    BalasHapus
  7. hmmm.... Zarina....
    tak sekadar cerita, tapi saya memetik banyak pelajaran darinya
    sungguh, makasih banyak ya, Mbak....

    BalasHapus
  8. saya idem dengan komentar nya penghuni60.. :)

    BalasHapus
  9. Hi keluarga blogger ku...

    sungguh aku merindu kamu....

    Seorang indigo lagi buntu karena otak terlalu kacau...
    Nggak bisa berkisah di rumah moody dulu...
    Sedang mencoba berkisah dengan cara yang lebih ringan..

    kunjungi rumahku yang lain yaaaa...

    yang berminat sama urusan kecantikan:
    plumblush

    yang berminat sama urusan fotografi:
    mofoto


    -N-

    BalasHapus
  10. Cerita yang menarik... penuh dengan pelajaran... terimakasih ya mba.... akan berusaha diingat terus agar kita ga semena-mena sama orang lain..

    -N-

    BalasHapus
  11. cerita yang sama pernah saya lihat dengan mata kepala saya sendiri mungkin beda latar dan seting hanya temanya saja yang sama.
    terima kasih untuk ceritanya ada hikmah yang dapat di petik

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang hars seperti itu. Karena kbnyakn salah pemahaman

      Hapus
  12. Saya sendiri sering mendengar berita seperti ini. Terkadang ada anak orang kaya yang terlalu sombong membawa anak tetangganya bermain. Tapi anak orang kaya tersebut malah menuduh anak tetangganya yang miskin itu yang mengajak ke arah buruk.

    kira aku ini hanya ada di televisi atau dilayar lebar saja ternyata sudah merambah di kehidupan nyata

    o... kasihan kalau jadi miskin tapi lebih kasihan lagi untuk orang kaya tersebut yang berpikiran sempit menuduh tetangga yang miskin mengajak ke hal yang buruk
    :)

    dunia-dunia ada2 saja ceritamu

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, yg ngada-ngadain manusianya sih ehhee...
      Sampe skrang juga kadang para ortu suka Lupa suka ga suka klo anaknya dinakali langsung marahin.
      Padahal kadang anak2 jga gtu itu jg masih ada.
      ntar para ortunya yg musuhan kwkwkwk
      anaknya sih biasa aja. yah dunia yah. hehe
      diakhirat ga ada sih.

      Hapus
  13. wah,
    selamat ya mbak awardnya :)

    BalasHapus
  14. masyaAllah.. sy suka dgn hikmah kita belajar dr rasa sakit agar tdk menyakiti. jazakillah, ukhti ;)

    BalasHapus
  15. super sekali postingannya.. sungguh bermanfaat sekali..
    saya tertarik dengan bahasa "Nasehatilah dia, putra putrimu dulu sebelum berpikir untuk menasehati orang lain.
    Jika kau menjadi ibu"

    BalasHapus
  16. almaru 'ala dini kholilihi...
    nyambung ga ya..?

    BalasHapus
  17. pulang dari sini selalu dapet oleh-oleh sesuatu :D

    BalasHapus
  18. Begitulah seorang ibu, kadang2 matanya tertutup untuk meneliti kebenaran. Di matanya: anaknya pasti benar.

    Hhhh, mudah2an saya tak menjadi ibu yang seperti itu ...

    BalasHapus
  19. seburuik atau sekejam apapun seorang ibu pasti karna ia masih punya cinta.karna tak seorangpun ingin anak-anaknya menderita....so...sikapilah kekurangan orang tua kita dengan do'a ....ingaaattt biar bagai manapun ada surga di bwh telapak kakinya...

    BalasHapus
  20. orang tua kadang2 suka begitu, merasa kalau anaknya sebaik yang mereka kira, padahal belum tentu. makanya banyak kejadian ortu kaget ketika di laporkan kl anaknya berbuat sesuatu yang tidak baik, mereka pasti mengatakan 'ah ga mungkin, anak saya baik koq, dsb.nya'..

    BalasHapus
    Balasan
    1. BetULLLL mbk, gmna lagi yah.Ortu pasti bgtu. hehhe
      Pelajaran sblum menuduh orang lain.

      ^_^

      Hapus
  21. Judulnya keren, tapi menghargai orang itu lebih keren! Slamat ea buat awardnya... ;-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. HEHE... salam Jempol ae dari kejauhan rebut, eh

      Hapus
  22. Kunjungan balik...
    Postingannya jd pelajaran pntg uat kita, agar tdk mudah menilai org lain sekilas dan dr luarnya saj, lalu dgn mudah menyalahkannya. Harusnya muhasabah ya

    BalasHapus
  23. kadang suka bingung juga kalo nemu masalah begini mah. belum pernah soalnya. pas baca ini, jadi bingung harus gimana kalo ada yang gitu ke saya. hehe *saya laki2

    BalasHapus
  24. aku hadir lagi...
    untuk mensupportmu.. :)
    semangat yahh... ^_^

    BalasHapus
  25. Subhanallah, nice story..:D
    Selamat menjalankan ibadah puasa, Mbak.. :)

    BalasHapus
  26. postingan yang sangat menarik, penuh hikmah dan pembelajaran...
    kadang kala, seorang ibu tertutup mata hati dan batinnya, di matanya, anaknya senantiasa benar, apalagi kenyataan bahwa anaknya adalah anak pesantren, maka kuat keyakinannya bahwa si anak adalah anak yang baik dan tidak 'nyeleneh'. Hingga kemudian, kala dia mendapati hal yang bertolak belakang dari keinginan dan harapannya, dia langsung mencari kambing hitam, bahwa si anak menjadi spt itu karena ulah anak orang lain....

    Hm... semoga diriku tak menjadi ibu yang demikian.... amiin.

    trims for share yaaaa... :), nice post!

    BalasHapus
  27. inilah terkait pepatah buruk rupa cermin dibelah...selamat sambut bulan suci Ramadhan..mohon maaf lahir batin :)

    BalasHapus
  28. Kunjungan perdana salam kenal

    BalasHapus
  29. subhanallh..
    crtany inspirtf.. :)
    keep writing k'.. :D

    BalasHapus
  30. salam sukses gan, bagi2 motivasi .,
    Pikiran yang positiv dan tindakan yang positiv akan membawamu pada hasil yang positiv.,.
    ditunggu kunjungan baliknya gan .,.

    BalasHapus

Komentar yang sopan
Kritiklah bila membangun bukan menjatuhkan
salam persaudaraan ^_^

 
Catatan Annurshah Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template