Kisah sejati




“Keterlaluan, dia pikir dia siapa? Huh….”

“Sudah, sabar… sabar... Cerita dulu, baru marah-marah,” Nadin mencoba menenangkanku lewat ponsel.

Suara kekalahanku ini belum kutuangkan semua dalam diary harian bersama Nadin. Ia bukan lagi sekadar sahabat atau teman curhat, tapi sudah seperti sandaran hatiku di saat aku membutuhkannya. Dia selalu menemani menyelesaikan masalah yang kudera. Mungkin sudah ratusan atau ribuan sms yang kukirim kepada Nadin, namun sayang ia tak bisa hadir menunjukkan tubuh mungilnya di hadapanku. Dan jika sehari saja aku tak berujar menyapa, esok pagi sepertinya hampa.

***

Ana. Wanita yang usianya sama denganku menghadirkan suasana baru dalam kehadiranku bersama pula dengan kawan lain. Sudah hampir satu tahun aku mengenalnya, pertemuan seminggu sekali efektif membuatku bertemu dan bersilaturahim dalam forum liqo. Entah bagaimana aku bisa dekat dan merasa nyaman saat berkomunikasi dengannya, sampai sms yang kukirim terkadang sampai menjurus kepada curahan hatiku.

Sampai suatu kali, ada sesuatu yang tiba-tiba ingin kutanyakan kepadanya. Tapi lama-kelamaan sms kita berlanjut pada sesuatu yang membuatku tersinggung. Entah bagaimana aku bisa menyikapinya. Atau hanya sebuah tulisan yang salah eja hingga membuatku salah paham. Tapi tidak, smsnya terlihat seperti sedang mengkritik sifat asliku. Ya, aku memang bukan manusia sempurna, apalagi wanita shalihah yang begitu dipuji dan didambakan seperti Siti Aisyah ataupun Siti Khadijah.

Aku ingat sekali sms itu berisi tulisan yang selalu teringat dan terngiang akan kedahsyatan rasa sakitku mengenal seorang teman Islam. Ya, mereka kusebut teman Islam, teman seperjuangan, teman satu akidah, teman jihad dan dakwah yang menjadi pedoman hidup kita. Tapi bagaimana bisa aku berusaha menutup telinga dan mata untuknya, sepertinya tidak adil dengan motto atau pedoman hidup yang sudah kuambil.

Intensitas pertemuan kami bukan sekadar sms saja sehingga membuat kami mengenal perwatakan pada diri masing-masing. Apalagi kami sudah sangat dekat: tertawa bersama, mendengarkan tausiyah bersama, menjalan visi dan misi bersama.

“Mungkin karena kau galak, makanya nggak mau cerita.”

Benar-benar aku membolak-balikkan kata-kata sms dari Ana dari atas hingga ke bawah. Begitu kututup ponsel, aku buka kembali demi ingin menengok beberapa kosakata yang tersusun menjadi kalimat kebencian hingga kemarahan. Sampai-sampai kubanting ponselku di atas kasur sambil memikirkan kata-katanya.

“Okeh… kalau begitu terima kasih atas waktunya,” balasku singkat.

Minggu kemarin aku bertemu dengan Ana, wajahnya tampak berbeda terhadapku. Ya, ada yang berbeda di mataku atau sekedar penglihatan mata hatiku yang tak seimbang karena keburuksangkaanku terhadapnya?

Aku duduk dekat dengan Ina, wanita yang lebih tua empat tahun dariku, ini membuatku nyaman setiap saat. Mungkin karena ia lebih dewasa dariku dan lebih memahami keadaanku.

Di kelompok liqo-an, kami biasanya mendengarkan tausiyah dengan santai bahkan dengan obralan ringan diselingi candaan. Sampai tiba-tiba ada topik yang menyimpang ketika temanku Levi mencurahkan perasaannya. Saat itu satu persatu tak luput dari ucapannya. Mereka saling melempar argumen bahkan aku tak mau ketinggalan ingin membuat lelucon kecil. Tanpa kusadari, Ana menanggapi ucapanku.

“Hahaha… Iya, itu kan kamu yang terlalu keberatan badan,” ucapku.

“Wah keterlaluan. Hahaha, tidaklah... jika ada yang seperti itu, wuih, pasti akan kutindas!” Ana berusaha menanggapi ucapanku.

“Iya, maksudku aku sedang bercanda, jadi hanya sebuah perumpamaan saja, Na.”

“Iya…. Aku ngerti, kok,” sambil melirik Levi seolah ingin menjelaskan aku yang tak mau kalah atau aku yang salah menanggapinya.

Azan berkumandang, aku langsung melepas kaos kakiku dan mulai bergantian mengambil air wudhu. Ada perasaan yang mengganjal dalam diriku, aku berprasangka buruk terhadap Ana. Saat aku pergi berjalan belum cukup jauh, aku sedikit melihat tingkah Ana yang aneh dan mendengar suaranya yang berbicara tentangku. Dan aku kali ini benar, ia sedang menceritakan watak asliku yang baru saja terlihat olehnya. Ia menceritakan ini kepada Levi, wanita yang duduk bersebelahan dengannya. Apalagi saat kudatang untuk mengambil sandal yang tertinggal, suara Ana benar-benar membuatku semakin yakin.

“Dia itu orangnya nggak mau kalah, galak pula!” Ana tak menyadari suaranya sudah sampai ke telingaku. Telinga yang penuh dosa mendengar ucapan yang buruk dan sekaligus mendengar suara–suara indah.

Seusai sholat maghrib, justru semakin tak karuan. Hatiku kian membuncah memikirkan kata-kata Ana. Bukannya semakin tenang, aku malah menjadi-jadi. Tak lama aku sholat secara bergantian dengan mereka, kamipun duduk bersama berkumpul kembali. Kali ini aku terdiam, bisu membeku namun ponsel sudah siap di tangan. Aku sudah mengganggu ketenangan Nadin di seberang sana yang tengah sibuk di depan monitor mengerjakan Tugas Akhir untuk kuliahnya. Aku menceritakan semua gerutuan yang membuatku benar-benar ingin menyatakan kebencianku pada Ana.

“Sin… dengarin aku yang sedang bicara, donk. Kau malah sms-an!” Ilmi yang sedang memberi masukan tentang program rencana minggu depan, pun tak suka melihat kesibukanku.

Padahal aku sangat kesal dengan wanita yang berada di dekatku. Kenapa ia tak bisa menjaga perasaanku? Menutupi keburukanku yang sudah ia ketahui. Jika masalah tadi memang menunjukkan kesalahanku, tak perlulah dia membuatku marah seperti ini.

“Mbak Nadin… Bukankah kita harus menjaga aib saudara, karena jika kita bisa menutupi aib saudara, maka aib kita akan tertutup di akhirat kelak?” sms kukirim untuk Nadin mewakili perasaanku yang tengah sakit hati.

“Iya, benar, kenapa adikku?” balas Nadin singkat.

“Aku kesal saja dengan perumpaan saudara tidak diindahkan. Ucapannya saja mengaku saudara, padahal dia hanya menganggap sekadar teman yang ketika salah menjadi bahan perbincangan hangat bak gosip yang sudap siap diulas secara tajam setajam pisau!”

“wuiz… Sabar… Ada yang membuka aibmu?” Nadin bertanya lagi.

Kemudian aku berusaha tak membalas smsnya. Kuperhatikan mbak Ina yang tengah sibuk membahas masalah paling pelik seorang akhwat: virus merah jambu. Aku benar-benar kacau dalam diam dan melamun, tak kugubris ucapannya. Hanya seolah sedang menjadi pendengar yang setia dalam diam, tapi tak memerhatikan wajahnya.

Aku pun tak berani menegur Ana atau sekadar iseng menanyakan apa yang telah ia lakukan kepada orang lain di belakangku. Aku berusaha tenang dan akhirnya tersenyum sembari memasukkan ponsel.

Aku melirik Ana yang tengah memerhatikan ucapan mbak Ina dengan seksama. Aku pandangi wajahnya pura-pura memperhatikan ke sana ke mari atas bawah, padahal kuhanya ingin melihat wajahnya. Wajah asli yang tidak pernah kusangka dari balutan jilbab luwes syar’i serta celana panjang hitam longgar yang sering ia kenakan.

Dua jam berlalu, kami kembali ke rumah masing-masing, tak lupa salam hangat cipika-cipiki yang selalu dilakukan saat bertemu dan saat kembali pulang. Aku berusaha menepuk bahu Ana. Kemudian kusunggingkan senyuman lebar seraya menatap wajahnya.

“Semoga kita semua berjumpa di Surga-Nya.”

“Aamiin... jaga kondisimu baik-baik yah! Kau kan sering sakit, jangan lupa minum madu,” ujar Ana dengan wajah berseri-seri.

Kemudian kusalami Levi. Entahlah, aku masih melihat sosok Levi berbeda dari Ana. Levi pendiam namun wajahnya sering sekali muram dan tidak murah senyum. Jika sedang marah, terlihat sekali mata dan bibir mungilnya saling mengkerut. Aku pun kembali ke rumah dengan perasaan yang campur aduk. Dan aku langsung mengirim pesan lagi dengan Nadin. Aku memang butuh tempat curhat yang benar-benar mengerti seperti Nadin, bahkan aku beruntung, karena Liqo aku bertemu dengannya. Namun karena Nadin berjauhan denganku, kini hanya sms dan telepon yang dapat kami lakukan.

Aku mencurahkan segala kekesalan dan semua keburukan yang dapat kulihat dari Ana. Ana memang tidak lebih dari sekedar kerikil kecil, namun bisa membahayakan. Hari itu aku menumpahkan segala kekesalanku dan kuceritakan permasalahan tentang kebencian dan ketidaksukaanku terhadap wanita-wanita yang mengaku saudara. Jika bertemu teman di jalan menanyakan siapa wanita yang bersamaku, aku jawab dia saudaraku. Lagi dan lagi aku selalu menjawab saudara. Bukankah semua muslim bersaudara?

Hari itu aku dan Nadin asyik menceritakan siapa-siapa yang membuat aku rapuh hingga tak sengaja aku mengatakan, “Inilah mereka wanita berparas munafik!”

Tatkala hatiku merasa tenang ketika sudah menceritakan satu persatu sifat teman Liqo baruku kepada Nadin. Gayung bersambut, tak lama Nadin ikut menceritakan tentang ketidaksukaannya dengan seseorang yang sudah kukenal. Kami sama-sama tidak menyukainya karena sifatnya yang terkadang membuat kami tak dapat mengertinya.

“Ups…,” Aku mendengar suara azan berkumandang, dan memutuskan untuk menghentikan smsan dengan Nadin.

Setelah selesai azan, aku mengambil air wudlu. Tak sadar aku malah terpeleset di kamar mandi. Sakit sekali hingga membuat kakiku terkilir dan membengkak. Entah kenapa saat aku duduk sambil mengipas-kipas kakiku, aku mengingat Nadin dan orang-orang yang ramai kusebut dalam smsku barusan. Aku merasakan musibah ini adalah sentilan dari Allah karena aku sudah terlalu banyak membuat noda hitam pada hatiku.

Dan aku ingat akan hadist yang mengatakan:

"Janganlah kalian menyakiti kaum Muslim, janganlah menjelekkan mereka, janganlah mencari-cari aurat mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat saudara sesama Muslim, Allah akan mencari-cari auratnya. Dan, siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya walaupun ia berada di tengah tempat tinggalnya." (dari Abdullah bin 'Umar)

Ya, aku dan Ana adalah muslim. Walaupun dia bertindak tidak baik denganku dan mengguncingku, aku bisa apa? Selain mengingatkan atau berdo’a memohon ampun mungkin aku memang memunyai kesalahan. Tapi setidaknya aku sama saja sedang membongkar aib keburukannya. Ketika dia membongkar keburukanku aku malah terbawa hanyut ikut dengan arus ombak yang tengah menerpaku. Aku ikut lalai bahkan saling membuka aib. Namun bedanya aku membukakan aib seseorang kepada orang lain yang tak mengenalnya. Tapi tetap saja kesalahan orang lain aku dapat melihtanya, namun kesalahanku yang menggunung tak dapat dilihat, sekalipun itu hanya bayangannya saja.

Seorang sahabat muslim memang harus menjaga ucapan dan perilakunya agar tak menyakiti orang lain. Dan apabila salah satu di antaranya saling membenci dalam sangkar dan tak terlihat, haruslah ada sahabat yang bisa membimbing ke jalan yang benar. Beruntung aku cepat menyadarinya ketika kakiku terkilir. Alhamdulillah, Allah cepat membuatku sadar hingga kumalu dan ingin menangis di hadapan-Nya.

Bukankah komunikasi yang baik sesama saudara adalah saling mengingatkan bila sunyi, merindukan bila jauh, memahami bila keliru, menasehati bila lalai, dan memaafkan bila terluka? Alangkah indahnya ukhuwah jika semua karena Allah... "Uhibbukum fillahi ta'ala, ya Ukhtiy... Aku mencintai kalian karena Allah Subhanahu wa Ta'ala, wahai saudai-saudariku."

Seketika aku tersadar dan berusaha mengingatkan Nadin juga untuk tidak membahas perkara yang membuat kita hina di hadapan-Nya. Hari itu juga, di antara kami banyak perubahan. Nadin lebih dewasa menyikapinya. Jika di antara kami ada yang ”bablas” ketika curhat tentang seseorang atau sebaliknya, kami berusaha mencari keindahan di sela-sela kegundahan dan kegalauan hati. Dan solusi terbaik yaitu sikap bijak dan membawa perubahan yang lebih baik.

"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mengasihi dan menyayangi adalah bagaikan satu tubuh, jika salah satunya merasa sakit maka seluruh tubuh (merasakan sakit) menjadi demam dan tidak bisa tidur'' (HR. Muslim).

tulisanku di muat di Annida online

cuba kunjungi kesana kawan... banyak info yang membuatmu semakin menambah pintar dalam menulis maupun yang lainnya.

10 komentar:

  1. postingan yang bagus sob :D
    salam kenal ya

    BalasHapus
  2. waw... ketemu bleggernya sang penulis nie... minta tutor donk

    BalasHapus
  3. Bismillah,..
    good job, tulisan yang bagus,.. ^_^

    BalasHapus
  4. @benniantoni : sukron jiddan..salam kenal juja....

    @Yaqin...: Tuutor? ya Allah Ya RObb aku tuh gaptek bgd.. ga tahu apa tuh tutor.. kekekke.. pasti ketwa dh baca komentrQ...#malu2in*glekkk..


    @Rio :alhamdulillah... smw sdg dalam proses belajaran... mdahan kta smw bisa menulis bukan sekedar menulis yg tak ada manfaatnya. tapi harus bermafaat tuk byak orang..

    BalasHapus
  5. salam sahabat
    ehm jadi menyibakkan sebuah teman yang baik akan membawa sebuah kesan dan kenangan yang baik tanpa ada dusta diantara keduanya

    BalasHapus
  6. Subhanalloh...indahnya Ukhuwah Islam

    BalasHapus
  7. salam sejahtera
    kata-kata itu ibarat pedang. Yang bisa kita lakukan hanya mengkoreksi diri terhadap kritikan orang lain, kalau itu tidak benar ngapain marah. iya ga ?

    BalasHapus
  8. follow juga yo
    hehehe :)

    http://islahuddinp.blogspot.com/

    BalasHapus
  9. sip sob
    btw, bener nih ga mau di kasih award sob ... ??
    hehehe

    BalasHapus

Komentar yang sopan
Kritiklah bila membangun bukan menjatuhkan
salam persaudaraan ^_^

 
Catatan Annurshah Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template